All posts by BBG Al Ilmu

Faedah Ilmu Hari ke-3 Dauroh Syar’iyyah ke-3 : GUGUSAN BINTANG | Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily, حفظه الله تعالى…

Hari ke-3 Dauroh Syar’iyyah ke-3 | Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily | Surakarta, 25-27 Rabi’ul Akhir 1438 H
➖➖➖➖➖

1. Penghentian sebagian da’i yang dinilai dapat menimbulkan fitnah, sebagaimana yang dilakukan oleh raja Saudi, termasuk bab “perintah penguasa untuk meninggalkan yang mustahab atau mengerjakan yang makruh karena suatu mashlahat”
Sebagian orang yang tidak mengerti, berkata dengan perasaannya: Bagaimana raja itu, melarang orang berdakwah, memenjarakan para da’i, melarang orang belajar agama.
Kami katakan: Tidak demikian, penguasa tidak melarang orang berdakwah dan belajar agama. Tapi penguasa menghentikan dakwah individu, bukan semua orang, itupun karena memandang suatu mashalat.

2. Kita sering menukil perkataan Imam Malik: setiap orang perkataannya bisa diterima bisa ditolak. Tapi pada realitanya, terkadang itu hanya sebatas ucapan. Misalnya, ketika ada orang mentabdi’ ahli ilmu, kita mengikuti tabdi’ tersebut tanpa menimbang dengan dalil. Agama kita adalah agama ittiba’. Kembalikan perkataan setiap orang kepada dalil.

Ingat bahwa takfir dan tabdi’  termasuk hukum Allah. Jangan sampai kita menerapkan kedua hukum tersebut, tanpa mengetahui landasannya, karena itu akan dimintai pertanggungjawaban di hari kiamat. Sebagian orang mengatakan, si fulan mubtadi’. Ketika ditanya mengapa, dia tidak dapat menjelaskannya dengan dalil.

3. Sekalipun pemerintah mengizinkan rakyat untuk menyelisihi keputusan mereka dalam itsbat Ramadhan atau Id, selayaknya rakyat mengikuti pemerintah, karena yang demikian itu menghilangkan perselisihan.

4. Pengasuh pesantren/sekolah tidak boleh mewajibkan santri melaksanakan ibadah yang sunnah seperti i’tikaf dan puasa sunnah, lantas menghukum mereka yang meninggalkannya. Termasuk memerintahkan para pengajar untuk melakukan ibadah sunnah lantas memotong gaji mereka yang meninggalkannya. Yang boleh hanya sekedar memotivasi mereka.

5. Mematuhi isyarat lampu merah hendaknya diniatkan dalam rangka mentaati pemerintah, yang mana mentaati mereka dalam perkara mubah sekalipun adalah bagian dari perintah Allah dan Rasul-Nya.

6. 31 tahun Syaikh mengajar, tidak sekalipun datang surat, baik resmi maupun tidak, dari kerajaan yang memerintahkan Syaikh untuk mengatakan ini dan itu, maupun melarang beliau mengatakan begini dan begitu. Ini termasuk nikmat dari Allah dalam berdakwah.

7. Di sebagian negara, pemerintah menjalin hubungan politik dengan negara lain, yang latar belakangnya dipahami oleh pimpinan negara dan jajaran pemerintahannya, tapi tidak oleh rakyatnya. Jangan tergesa-gesa menilai negatif hubungan politik tersebut.

8. Semoga kunjungan Raja Salman ke Indonesia akan membawa kebaikan yang banyak untuk kedua negara. Kita doakan demikian.

9. Orang Indonesia jika masuk ke negara lain, wajib mentaati peraturan pemerintah setempat, selama tidak melanggar ketentuan-ketentuan dalam syari’at Islam.

10. Bila seorang pegawai dapat menyelesaikan tugas sebelum jam istirahat/jam kantor selesai, maka boleh baginya untuk shalat sunnah, membaca Al-Qur’an atau membaca buku agama, selama tetap di dalam area kantor agar atasan atau teman kantor dapat menemuinya ketika mereka membutuhkannya.

11. Hendaknya saling menasehati sesama da’i jika ditemukan kekurangan dan kesalahan. Jangan saling menjauhkan. Bersikap keras akan menjauhkan manusia dari sunnah dan telah banyak contoh kejelekan yang ditimbulkannya.

12. Adalah kegembiraan melihat ikhwah ahlussunnah bertemu dalam suasana persaudaraan, saling merindukan dan bertemu dengan wajah gembira.

Diselesaikan sambil lihat asatidzah pulang 1-1. Tapi ana pun langsung ke Jogja setelah selesai mengetik ringkasan ini.
_________________________
Muflih Safitra,  حفظه الله تعالى  | Surakarta

Jihad Yang Paling Dasar..

Saudaraku..
Berjihad melawan hawa nafsu dan syahwat adalah jihad yang paling dasar. Tak mungkin kita dapat menjihadi musuh bila kita tak mampu menjihadi hawa nafsu sendiri.

Oleh karena itu Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

“Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad [berjuang] melawan dirinya dan hawa nafsunya.”
Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr.

Simaklah faidah indah yang disampaikan oleh ibnu Qayyim ketika menjelaskan surat al ankabut ayat 69:
Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

“Dan orang orang yang berjihad di jalan Kami, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan Kami.” (Al Ankabut: 69).

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,
“Dalam ayat ini Allah mengaitkan hidayah dengan jihad. Orang yang paling sempurna hidayahnya adalah yang paling sempurna jihadnya.

Jihad yang paling wajib adalah menjihadi diri sendiri, menjihadi hawa nafsu, menjihadi setan dan menjihadi dunia.
Siapa yang menjihadi empat perkara ini karena Allah, maka Allah akan memberinya hidayah kepada jalan jalan keridloanNya yang akan menyampaikannya ke surga.

Siapa yang meninggalkan jihad maka ia akan kehilangan hidayah sejumlah jihad yang ia tinggalkan.

Al Junaid berkata, “(Maknanya) Dan orang orang yang menjihadi hawa nafsunya di jalan Kami dengan cara bertaubat, Kami akan memberikan kepada mereka hidayah kepada jalan jalan ikhlas.

Tidak mungkin ia menjihadi musuhnya yang lahiriyah kecuali dengan menjihadi musuhnya yang batin. Barang siapa yang menang melawan musuhnya yang batin, ia akan menang melawan musuhnya yang lahiriyah. Dan siapa yang kalah oleh musuhnya yang batin, ia akan dikalahkan oleh musuhnya yang lahiriyah.”
(Fawaidul Fawaid hal. 177)

Badru Salamm, حفظه الله تعالى

Berusaha Untuk Mendapatkan Yang Lebih Baik dan Abadi…

bismillah
Akhi ukhti…

Ketika engkau bersama menyantap makanan lezat, apa yang kau ingat pada waktu itu?
Sebagian orang mungkin aku termasuk di dalamnya, akan mengingat makanan yang lebih enak dari ini, restoran yang menyajikan lebih lezat dari yang ini, dsb

Dan bila kau melihat sebuah bangunan yang mewah, kiranya engkau akan mengingat bangunan lain yang lebih indah dan lebih mewah

Dan bila kau menaiki atau melihat kendaraan yang menakjubkan engkau akan membandingkan dengan mobil yang lebih wah yang mungkin pernah kau lihat walaupun hanya gambarnya

Sehingga dunia benar-benar menjadi visi dan misimu

Akhi Ukhti…

Pernahkah tatkala engkau melihat sesuatu yang menakjubkan, lalu dirimu ingat kepada surga Allah, sehingga adrenalinmu berkobar untuk meraihnya,
Berusaha untuk mendapatkan yang lebih baik dan abadi
Atau hal itu tidak pernah terjadi Padamu ?

Anas radhiyallahu ‘anhu pernah bercerita, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah diberikan hadiah jubah sutera yang halus. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari memakai sutera. Orang-orang takjub ketika itu dengan kelembutan kain Sutera tersebut A, Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« وَالَّذِى نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَمَنَادِيلُ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فِى الْجَنَّةِ أَحْسَنُ مِنْ هَذَا »

“Demi Dzat Yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sungguh sapu tangan Saad bin Muadz di surga, lebih baik dari ini.” (HR. Bukhari)

Semua kenikmatan di dunia ini seharusnya membuatmu ingat pada kenikmatan surga, segala kenikmatan yang kau pikirkan akan kau dapatkan bahkan lebih dari yang kau pikirkan

Atau kalau engkau tidak mengingat ingat surga, engkau ingat

anak-anak yatim di Aleppo

janda-janda miskin yang rumahnya hancur

mereka yang timpa banjir dan gempa
mengingat orang- orang yang ahli ibadah dan akhirnya mati dalam kondisi miskin
sehingga membuatmu melihat makanan itu menjadi tidak lezat dan enak untuk santap

Lihatlah sahabat yang kaya raya Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu, Suatu saat pernah dihidangkan makanan kepadanya berupa roti dan daging yang lezat, Tetapi waktu itu ia sedang berpuasa.
‘Abdurrahman ketika itu berkata, “Mush’ab bin ‘Umair adalah orang yang lebih baik dariku. Ia meninggal dunia pada perang uhud dikafani dengan kain, bila kepalanya ditutup, maka terbukalah kakinya. Jika kakinya ditutup terbukalah kepalanya
Begitu pula Hamzah demikian adanya, ia pun lebih baik dariku. Sedangkan kami diberi kekayaan dunia yang banyak.” Kami khawatir, jikalau kebaikan kami telas dibalas dengan kekayaan ini.” Kemudian ia terus menangis dan meninggalkan makanan itu.” (HR. Bukhari)

Subhanallah, kita tidak lebih baik dari mereka dan mereka hidup serba kekurangan

 Syafiq Riza Basalamah, حفظه الله تعالى

Faedah Ilmu Hari 2 Dauroh Syar’iyyah ke-3 : TAMBANG EMAS | Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily, حفظه الله تعالى…

Hari ke-2 Dauroh Syar’iyyah ke-3 | Syaikh Ibrahim Ar-Ruhaily | Surakarta, 25-27 Rabi’ul Akhir 1438 H
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

1. Mendengar dan taat kepada pemerintah adalah masalah yang jelas dalil-dalilnya dari nash, bukan sekedar ijtihadiyyah. Kaidah yang dipegang ulama: Tidak ada ijtihad jika sudah ada nash.

2. Ada yang mengatakan Salafiyyun (orang-orang yang memegang prinsip manhaj salaf) adalah penjilat penguasa, karena masih mau mendengar dan taat kepada pemerintah (yang zhalim) demi mendapatkan keuntungan dunia seperti harta, jabatan, kursi, dll.

Ini hanyalah tuduhan kosong dan fitnah, karena Salafiyyun justru sangat jauh dari tujuan-tujuan seperti itu (bahkan mengajak orang menjauhi ketamakan pada dunia). Apa pentingnya kursi untuk seorang salafi ?

Yang benar, mereka mentaati pemerintah dalam hal-hal tidak bertentangan dengan syariat, dan itu semata-mata karena menjalankan perintah Allah dan Rasul-Nya dalam nushush syar’iyyah (Al-Qur’an dan sunnah), bukan sama sekali untuk menyenangkan hati pemerintah.

3. Jika seseorang tidak memberikan hak kita, maka jangan dibalas dengan tidak memberikan hak mereka. Semisal seorang istri yang tidak memberikan hak suami karena merasa tidak mendapatkan haknya dari suaminya. Begitu pula jika pemerintah tidak memberikan hak rakyatnya. Nabi ditanya tentang pemerintah yang yas-alûnâ haqqahum wa yamna’ûnâ haqqanâ (mereka menuntut hak mereka/penguasa namun menghalangi hak kami/rakyat), maka Nabi memerintahkan untuk tetap mendengar dan taat (HR. Muslim).

4. Mengajak rakyat untuk memberontak bermakna menghancurkan kesatuan jamaah kaum muslimin.

5. Mengapa mentaati pemerintah yang menang dalam pemilu demokrasi ? Karena semata-mata menjalankan perintah Allah & Rasul-Nya, bukan karena menyetujui demokrasi ataupun menjilat sang pemenang.

6. Demonstrasi sejatinya tidak memiliki mashlahat yang rajihah. Bahkan kadang tidak memiliki mashlahat sama sekali. Kalaupun ada, umumnya ditimbang dengan kepentingan duniawi dan diwujudkan dengan menimbulkan madharat yang lebih besar daripada mashlahatnya.

7. Ada yang berkata: Kewajiban mentaati pemerintah itu hanya berlaku apabila pemerintah itu berhukum dengan hukum Allah. Ini adalah perkataan orang-orang khawarij. Itu menjadi slogan yang dari dulu mereka dengungkan. Perkataan itu bertentangan dengan dalil-dalil. Bahkan para ulama di zaman dahulu tetap mentaati pemerintah mereka yang tidak berhukum dengan syari’at. Yang berkata demikian adalah orang yang jahil.

8. Tidak mengapa pemerintah membangun istana dengan perabot dan kendaraan mereka yang bagus, selama tidak menyombongkan diri dan mendapatkannya dengan cara yang halal. Sebagian orang mencela pemerintah karena sebab masalah mubah seperti di atas, bahkan mempertanyakan satu per satu dapat dari mana uangnya. Tidak jarang mereka menuduh tanpa bukti, bahwa pemerintah mendapatkannya dengan jalan yang haram. Padahal banyak pula manusia yang bukan dari kalangan pemerintah memiliki kekayaan yang sama. Maka, jangan mencela pemerintah pada hal-hal yang hukum asalnya adalah mubah, tanpa hujjah sama sekali untuk mengharamkannya. Syaikh bawakan cerita lucu tentang orang Madinah yang mencela Syaikh dan mengkafirkan raja Saudi karena membangun istana di atas gunung sementara kubur Nabi di dalam bumi.
Syaikh membawakan hadits Nabi, atsar Ibnu Abbas dan perkataan Umar kepada Muawiyah tentang perangkat pemerintahannya yang menunjukkan kehebatan dan kebesaran Muawiyah di daerah kekuasaannya.

9. Tidak boleh mengkafirkan seorang muslim sebelum ditegakkan hujjah atas dirinya. Dan mengkafirkan pemerintah lebih berat daripada mengkafirkan orang biasa, karena kafirnya pemerintah dengan kekafiran yang nyata adalah 1 dari 7 syarat (yang harus terpenuhi dan tidak boleh hilang salah satunya –pen) untuk dapat memberontak kepada penguasa.
Catatan: Silakan merujuk 7 syarat tersebut kepada kitab Syaikh: Al-Ihkam fii Sabri Ahwaalil Hukkam. Penulis sengaja tidak menyebutkannya karena rincian penjelasan Syaikh atas 7 syarat tersebut sangat penting untuk dipahami, khususnya untuk orang awam.

10. Sebagian orang yang membawa pemikiran khawarij  menyebarkan pemikiran mereka di masyarakat awam. Dengan tergesa-gesa mereka ajak masyarakat memberontak, karena menganggap kafirnya pemerintah, tanpa memperhatikan 6 syarat lain seperti harus ada kemampuan dan kekuatan yang jelas untuk melakukannya. Mereka memfatwakan jihad di atas kejahilan. Setelah masyarakat memberontak, negeri mereka hancur, banyak kaum muslimin yang terbunuh, ternyata pemerintah tetap berkuasa dan tidak juga bisa digulingkan, karena masyarakat memang tidak punya kemampuan untuk menggulingkannya. Ironinya, orang-orang yang menyesatkan itupun akhirnya pindah begitu saja ke negeri lain setelah menyisakan kehancuran. Ini sebagaimana yang terjadi di beberapa negeri Arab dalam tahun-tahun belakangan ini.

11.. Syaikh menjawab perkataan: Ruhailiyyun fin Naar, dengan cool, keren.

Seandainya saja shohibul kalam mendengar, niscaya bergetar hati mereka, biidznillah, kecuali kalau orangnya tidak yakin akan datangnya hari pembalasan.

12. Bisa jadi ada sebagian individu dari kalangan salafush shalih yang melakukan atau mengatakan sesuatu yang menyelisihi aqidah ahlussunnah. Perbuatan dan perkataan mereka tidak bisa dinisbatkan sebagai aqidah salaf, melainkan dianggap sebagai ijtihad yang salah dari mereka, tanpa mengeluarkan mereka dari lingkaran ahlussunnah.

13. Orang Indonesia adalah orang-orang yang pada dasarnya baik. Maka Syaikh menasehatkan agar mereka mendengar dan taat kepada pemerintah Indonesia. Jika ada penyimpangan dan kekurangan pada pemerintah  yang mereka ingkari, selama tidak dicari-cari, maka hendaknya bersabar dan berusaha menasehati pemerintahnya.

Diketik semampunya di meja dauroh – semoga Allah berikan surga untuk penulis, keluarganya & yang mensharenya.

_________________________

Muflih Safitra, حفظه الله تعالى | Surakarta

 

Beramal Karena Dunia

Allah Ta’ala berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ ۖ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali Neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [Huud: 15-16]

Ayat ini menunjukkan tercelanya orang yang beramal karena berharap dunia. Namun orang yang berharap dunia dari amalnya ada beberapa macam :

PERTAMA: Orang yang beramal sholeh berupa sedekah, puasa, sholat dan sebagainya dengan niat agar rezekinya dilancarkan dan ditambah hartanya. Ia tak mengaharapkan pahala dari Allah dan keridhoan-Nya. Maka yang seperti ini hanya akan diberikan di dunia saja jika Allah berkehendak. Adapun di akherat ia tidak mendapat pahala, yang akan ia dapatkan adalah siksa api Neraka.

Abul Abbas Al Qurthubi berkata, “Jika pendorong untuk beramalnya adalah dunia maka tidak menjadi ibadah, tetapi ia adalah maksiat. Bahkan bisa menjadi kufur yaitu syirik besar atau riya yaitu syirik kecil. Ini bila pendorongnya hanya dunia semata, bila tidak mendapat dunia tentu ia tidak akan beramal..” (Al Mufhim 12/50)

KEDUA: Orang yang beramal sholeh mengharapkan pahala dari Allah dan keridhoanNya, tetapi iapun mengharapkan dunia dari amalannya.

Maka yang seperti dilihat mana yang lebih dominan.

Jika yang lebih dominan adalah niat akheratnya, maka ia mendapat pahala.. jika yang lebih dominan adalah harapan dunia, maka ia mendapatkan dosa, dan amalnya tidak diterima..

dan jika sama sama kuat maka saling berguguran dan tidak mendapat pahala dan tidak juga dosa. Sebagaimana yang dikatakan oleh Syaikh al-‘Utsaimin rohimahullah dalam majmu fatawa beliau (1/99).

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى