“Hampir hampir langit menjadi pecah, bumi menjadi belah dan gunung gunung hancur, karena mereka mengatakan bahwa Arrahman memiliki anak.” (QS Maryam 90-91)
Bila langit, bumi dan gunung-gunung menjadi pecah, belah dan hancur karena perkataan tersebut. Maka akankah seorang muslim ridho dengan keyakinan bahwa Allah memiliki anak ? Maha suci Allah dan Maha Tinggi Dia.
Ada seseorang datang kepada seorang syeikh, dan dia mengatakan: “Ya syeikh, si fulan telah mencelamu di salah satu majelisnya !”
Syeikh menjawab: “Jika orang itu telah melemparkan panah kepadaku lalu dia tidak mengenaiku, mengapa kamu membawa panah itu dan menancapkannya di hatiku ?!
———
Tidak semua fakta boleh disampaikan kepada orang lain… Tidak semua yang kita dengar dan ketahui boleh kita sebarkan, karena ada timbangan maslahat dan mafsadah yang ditimbulkan.
Rosulullah -shollallohu alaihi wasallam- bersabda: “Jangan kamu sampaikan kabar gembira ini kepada manusia, karena mereka akan bersandar kepadanya.” [HR. Bukhori Muslim].
Jika hadits ini tentang berita kebaikan, begitu pula tentang fakta yang menjadikan masyarakat ketakutan, atau benci penguasa, atau menurunkan kepercayaan diri, atau efek buruk lainnya, wallohu a’lam.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-SEMBILAN bisa disimak di SINI
=====================
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
🌿 DALIL KE-SEPULUH (TERAKHIR) 🌿
Dari Abdullah bin Mas’ud rodhiallahu ‘anhu dia berkata: ‘Aku pernah menjenguk Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah.’ Maka aku berkata:
‘Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat’, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘iya benar, aku sakit sebagimana rasa sakit dua orang kalian (dua kali lipat)’, aku berkata, ‘oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.’ Beliau menjawab, ‘Benar, karena hal itu’. “
Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-DELAPAN bisa disimak di SINI
Dalil berikutnya, yaitu DALIL KE-SEPULUH bisa disimak di SINI =====================
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
🌿 DALIL KE-SEMBILAN 🌿
“Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika turun firman Allah {Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat} –QS asy Syua’roo/26 ayat 214- Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata
’Wahai orang-orang Quraisy –atau kalimat semacamnya- belilah diri-diri kamu, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththolib, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap-mu sedikitpun. Wahai Shofiyyah bibi Rosulullah, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah dari hartaku yang engkau kehendaki, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun’.”
[HR Bukhari, no. 2753; Muslim, no. 206; dan lainnya]
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 21) bisa di baca di SINI
⚉ Tidak mau melihat pendapat orang yang berseberangan dengannya, tidak mau melihat argumen-argumennya dan hujjah-hujjahnya. [عدم النظر في أقوال المخالفين]
Maksudnya ketika seseorang itu tumbuh diatas keyakinan yang bathil, seringkali mereka menganggap bahwa keyakinan yang mereka yakini dari kecil itulah sebuah kebenaran yang tidak boleh ditolak dan tidak mau untuk mencari dalil dan hujjah apakah memang yang diyakini itu sebagai suatu yang haq atau tidak.
Bahkan terkadang mereka, karena sudah menganggap bahwa apa yang diyakini dari kecil itu adalah sesuatu yang haq, mereka akan membela mati-matian dan menganggap dalil-dalil orang yang bertabrakan dengannya itu sebagai dalil yang mereka anggap lemah atau harus di takwil, atau mereka akan berusaha untuk menolaknya dengan berbagai macam cara.
⚉ Berkata Athoohir bin ‘Asyuur rohimahullah dalam kitab Attahriir wattanwir (24/ 277)
وهذا شأن دعاة ا ضلال والبطل
“Dan ini merupakan kebiasaan para da’i kesesatan dan kebathilan”
أن يُكمُّوا أفواه الناطقين بالحق والحجة
“Mereka berusaha supaya menutup mulut orang-orang yang berkata dengan kebenaran dan hujjah”
بِما يستطيعون من تَخويف وتسو يل
“Dengan apa yang mereka mampu dengan cara di takut-takuti atau dengan cara diancam.”
Dan berbagai macam cara supaya para da’i pada kebenaran itu diam, tidak berbicara tentang kebenaran, karena mereka khawatir sekali.
Maksudnya karena para ahli bathil itu takut sekali orang-orang terpengaruh oleh kebenaran yang dibawa oleh seorang da’i… mereka berusaha sekuat tenaga untuk memberikan ancaman atau menakut-nakuti atau yang lainnya, yang terpenting bagaimana supaya si da’i ini diam dan mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keyakinan mereka yang bathil itu dengan berbagai macam cara, diantaranya mencari-cari hujjah/dalil yang sesuai dengannya.
Walaupun dalil tersebut dalil yang lemah bahkan terkadang mereka berani membuat-buat kisah, cerita ataupun perkataan Ulama atau perkataan Sahabat, dan ternyata tidak ada sama sekali sanadnya. Dan itu dalam rangka untuk membela kebathilan mereka dan menghalang-halangi manusia dari kebalikannya.
Oleh karena itulah… kalau kita melihat orang-orang musyrikin quraisy pun demikian.
Ketika Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, misalnya, beliau sholat dihadapan orang-orang sehingga banyak orang yang mendengarkan Alqur’an dan akhirnya masuk Islam, maka mereka berkata,
مُر أبا بكر فليعبد ربَّه فِي دار ه
“Suruh itu Abu Bakar supaya beribadah di rumahnya saja, gak usah baca di depan orang”. Kenapa? Karena takut kata mereka
فإنا نَخشى أن يفتن نساءنا وأبناءنا
“Kami takut istri-istri dan anak-anak kami itu terfitnah” (Dikeluarkan oleh Bukhori dalam kitab Manaaqub ‘Anshor)
⚉ Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata (kitab Al ‘Iymaan halaman 32):
من الناس من لا يعر ف مذاهب أهل العلم، وقد نشأ على قول لا يعر ف غيره
“Diantara manusia ada yang tidak pernah mengenal pendapat-pendapat para Ulama, dimana ia tumbuh hanya diatas pendapat yang ia tidak mengetahui pendapat yang lainnya”
Maksud Beliau bahwa… ada orang yang dari kecil ia tumbuh diatas satu pendapat saja, sehingga akhirnya ia menganggap bahwa pendapat itulah sebagai sebuah kebenaran yang tidak boleh ditolak.
Ketika ada yang menyampaikan sesuatu yang bertabrakan atau baru ia dengar dan ternyata bertentangan dengan apa yang ia yakini selama ini, dia langsung menuduhnya sebagai sebuah kebathilan tanpa melihat hujjah dan argumentasinya. Sebagaimana kita lihat di zaman ini.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
👉🏼 Peniadaan itu pada asalnya :
– meniadakan keberadaan,
– kemudian meniadakan keabsahan,
– kemudian meniadakan kesempurnaan.
Perhatikanlah tingkatan ini.
Dalam bahasa arab, peniadaan itu biasanya dimulai dengan لا (Laa) atau ما (Maa) yang artinya tidak ada. Bila kita menemukan ucapan peniadaan, maka perhatikanlah tingkatan tadi. Yaitu:
⚉ PERTAMA: pada asalnya peniadaan itu wajib dibawa kepada makna meniadakan keberadaan. Contohnya ucapan:
لا خالق إلا الله
“Tidak ada pencipta selain Allah.”Kata ‘Laa’ dalam kalimat tersebut bermakna TIDAK ADA.
⚉ KEDUA: Bila tidak mungkin dibawa kepada makna meniadakan keberadaan, maka wajib dibawa kepada meniadakan keabsahan. Contohnya :
لا صلاة لمنفرد خلف الصف
“Tidak sah sholat orang yang berdiri sendirian di belakang shoff.”
Kata ‘Laa’ dalam hadits tersebut tidak mungkin dibawa kepada makna tidak ada, maka dibawa makna yang kedua yaitu TIDAK SAH.
⚉ KETIGA: Bila tidak mungkin dibawa kepada makna meniadakan keabsahan atau karena adanya dalil, maka dibawa kepada meniadakan kesempurnaan. Contohnya:
لا صلاة بحضرة الطعام ولا هو يدافعه الأخبثان
“Tidak sempurna sholat ketika makanan telah tersaji, tidak juga ketika menahan buang air.”
Hadits tersebut bermakna tidak sempurna, karena sholat dalam keadaan makanan telah tersaji hanya berhubungan dengan ke khusyu’an, sedangkan ke khusyu’an bukan rukun sholat.
.
. Wallahu a’lam 🌴
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page: https://t.me/kaidah_ushul_fiqih https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/ . KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP
Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-TUJUH bisa disimak di SINI
Dalil berikutnya, yaitu DALIL KE-SEMBILAN bisa disimak di SINI =====================
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
🌿 DALIL KE-DELAPAN 🌿
Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, bahwa ia pernah mendengar Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ di roka’at yang terakhir dketika sholat Shubuh, beliau mengucapkan: ‘Allaahummal ‘an fulaanan wa fulaanan wa fulaanan (Wahai Allah laknatlah Si Fulan, Si Fulan, dan Si Fulan)’, setelah beliau mengatakan ‘Sami’allahu liman hamidah Robbanaa walakal hamdu,’
Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya): ‘Sama sekali soal (mereka) itu bukan menjadi urusanmu, apakah Allah akan menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zholim’ (QS Ali Imran/3:128).
Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-ENAM bisa disimak di SINI
Dalil berikutnya, yaitu DALIL KE-DELAPAN bisa disimak di SINI =====================
Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
🌿 DALIL KE-TUJUH 🌿
Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, bahwa gigi geraham Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pecah ketika perang Uhud, dan kepala beliau juga terluka hingga mengalirkan darah, beliau lalu bersabda: “Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung, sedangkan mereka melukai nabinya dan mematahkan gigi gerahamnya.”
Oleh karena itu beliau memohon kepada Allah untuk mengutuk mereka, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat: ‘Kamu tidak memiliki wewenang apa-apa terhadap urusan mereka…’ (Qs. Ali Imran: 128).
Barangsiapa melakukan salat sunnah Enam Roka’at setelah salat Maghrib dan di antara salat-salat itu tidak berkata dengan kata-kata yang buruk, maka salatnya sebanding Ibadah dua belas tahun. (HR.At Tirmidzi no. 435 dan Ibnu Mâjah no. 1374)
Jawaban: Hadits ini dalam sanadnya terdapat perawi yang bernama ‘Umar bin Abdullah bin Abi Khots’am. Ia perawi yang sangat lemah. Sehingga hadits ini statusnya DHO’IF JIDDAN.
👉🏼 TAPI sholat antara Maghrib dan ‘Isya termasuk sunnah namun tanpa bilangan jumlah tertentu. berdasarkan hadits yang dikeluarkan oleh Ahmad dan At-Tirmidzi dari Hudzaifah bin Yaman bahwa beliau pernah sholat Maghrib bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam lalu beliau sholat antara Maghrib dan ‘Isya. Di shohihkan oleh Syaikh Albani.
Dan para shahabatpun mengamalkannya sebagaimana diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud, Ibnu ‘Umar dan lainnya.