All posts by BBG Al Ilmu

Hukum Dan Hakekat Mencintai RASULULLAH Shallallahu ‘Alaihi Wassalam MELEBIHI Ortu, Anak, Istri, Harta, Dan Segalanya…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Bismillah. Mencintai Nabi shallallahu alaihi wassalam dengan kecintaan yang benar-benar melekat di hati yang mengalahkan kecintaan kita terhadap apapun dan siapapun di dunia ini adalah hukumnya WAJIB (Fardhu ‘Ain) atas setiap individu muslim dan muslimah. Bahkan meskipun terhadap orang-orang yang paling dekat dengan kita, seperti anak-anak dan orang tua dan harta benda kita. Bahkan mencintai Rasulullah itu harus pula mengalahkan kecintaan kita terhadap diri kita sendiri.

» Di dalam Shohih Al-Bukhari diriwayatkan, bahwa Umar bin Khathab radhiyallahu anhu pernah berkata kepada Nabi shallallahu alaihi wassalam:

لأَنْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلاَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : لاَ وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ . فَقَالَ : لَهُ عُمَرُ : فَإِنَّكَ اْلآنَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِيْ . فَقَالَ : اْلآنَ يَا عُمَرُ

“Sesungguhnya engkau wahai Rasulullah, adalah orang yang paling aku cintai daripada segala sesuatu selain diriku sendiri.” Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Tidak, demi Dzat yang jiwaku ada di Tangan-Nya, sehingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri’. Maka Umar berkata kepada beliau, ‘Sekarang ini engkau lebih aku cintai daripada diriku sendiri.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wasalam bersabda, ‘Sekarang (telah sempurna kecintaanmu (imanmu) padaku, wahai Umar.” (HR. Al-Bukhari VI/2445 no.6257).

» Dan diriwayatkan dari Anas radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wassalam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah (sempurna) iman salah seorang di antara kalian sehingga aku lebih dicintainya daripada orangtuanya, anaknya dan segenap umat manusia.” (HR. Al-Bukhari I/14 no.15, dan Muslim I/167 no.70, An-Nasai VIII/114 no.5013, Ibnu Majah I/26 no.67, dan Ahmad III/177 no.12837).

» Diriwayatkan pula dari Anas radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wassalam bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ عَبْدٌ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَهْلِهِ وَمَالِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Tidaklah (sempurna) iman seorang hamba sehingga aku lebih dicintainya daripada keluarganya, hartanya dan segenap umat manusia.” (HR. Muslim I/67 no.69, An-Nasai VIII/115 no.5014).

(*) MAKNA mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wassalam melebihi segalanya ialah: Lebih mendahulukan dan mengutamakan cinta kita kepada beliau dari pada cinta kepada ortu, istri/suami, anak, guru, kerabat, harta, jabatan, pekerjaan, dan segalanya.

# Sebagai contoh apabila bertentangan dalam suatu keadaan antara perintah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam dengan perintah ortu, ustadz/kiyai:

» Nabi shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kita agar senantiasa mentauhidkan Allah dalam beribadah kepada-Nya, namun di sisi lain ortu atau guru/ustadz/kiyai kita menyuruh kita agar melakukan kemusyrikan kepada Allah, seperti ngalap berkah di kuburan wali atau orang sholeh, berdoa dan minta kesembuhan atau rezeki yang lapang kepada mereka, mempercayai perdukunan, dan selainnya.

» Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kita agar beribadah kpd Allah sesuai dgn petunjuk dan tuntunan beliau di dlm Al-Quran dan As-Sunnah, serta meninggalkan segala macam amalan yg baru dan diada-adakan dlm agama Islam. Sementara di sisi lain guru ngaji atau ustadz atau kiyai kita menyuruh kita agar mengamalkan ritual atau amalan tertentu yg tidak ada syari’atnya di dlm Al-Quran dan As-Sunnah, seperti peringatan Maulid Nabi, isro mi’roj, berkumpul di rumah mayit untuk membaca Al-Quran dan dzikir, dan selainnya.

» Rasulullah shallallahu alaihi wassalam memerintahkan kita agar meninggalkan perbuatan dosa dan maksiat, seperti berinteraksi dengan riba dlm hutang piutang dan jual beli, membuka dan memamerkan aurat kpd orang lain yg tidak halal baginya, berdusta, mengurangi takaran n timbangan, iri dengki, sombong, dan selainnya. Sementara di sisi lain ortu atau suami atau atasan kita menyuruh kita agar melakukan perkara-perkara terlarang tersebut di atas.

» Maka, sikap yang WAJIB dan benar pada saat itu ialah kita melakukan dan mendahulukan perintah Rasulullah shallallahu alaihi wassalam daripada perintah ortu, suami, ustadz/ kiyai kita. Hal ini sebagai tanda dan bukti akan kesempurnaan iman dan cinta kepada Rasulullah shallallahu alaihi wassalam.

Demikian pelajaran ilmiyah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Dan Semoga Allah memberikan taufik dan pertolongan kepada kita semua agar dapat mencintai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam melebihi segalanya. Amiin. (Klaten, 16 Januari 2015).

 

Ekonom Ulung…

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA,  حفظه الله تعالى

Sobat !

Ketahuilah bahwa siroh Nabi shallallahu alaihi wa sallam adalah salah satu sumber ilmu dan inspirasi. Karena itu Allah Taala memerintahkan kita untuk senantiasa meneladaninya dalam setiap sendi kehidupannya.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

“Sungguh bagi kalian pada diri Rasulullah terdapat keteladanan yang indah,mbagi orang orang yang mengharapkan keridhaan Allah,mkehidupan di hari akhir dan banyak mengingat Allah.” ( Al Ahzab 21)

Salah satu kejadian besar dalam sirah Nabi shallallahu alaihi wa sallam ialah kisah hijrah dari kota Makkah ke kota Madinah. Banyak pelajaran yang bisa diambil di kisah tersebut, yang sepatutnya terus kita pelajari untuk kemudian kita amalkan dalam kehidupan kita beragama, bermasyarakat dan lainnya.

Anda bisa bayangkan, kaum Muhajirin berhijrah dengan meninggalkan harta kekayaannya di kota Makkah. Kebanyakan mereka berprofesi sebagai pedagang, sedangkan kota Madinah adalah kota agraris. Dengan demikian, kaum Muhajirin datang ke kota Madinah tanpa bekal skil pertanian. Kondisi ini tentu menjadi masalah tersendiri yang berpotensi menimbulkan bencana sosial. Yaitu terjadinya ledakan penduduk/konsumen sedangkan produksi tetap tidak bertambah.

Kaum Anshar sebagai penduduk lokal, menyadari akan potensi masalah ini, karena itu mereka dengan kebesaran jiwanya dan suka rela menawarkan solusi. Mereka mengusulkan kepada Nabi shallallahu alaihi wa sallam agar membagi ladang dan harta kekayaan mereka menjadi dua bagian. Satu bagian untuk kaum Anshar sedangkan bagian kedua diberikan kepada kaum Muhajirin.

Sekilas usulan ini adalah solusi jitu untuk menyelesaikan masalah sosial dan ekonomi yang mengancam kaum Muhajirin.

Namun ternyata Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menolak usulan ini. Karena beliau menyadari bahwa bila separoh ladang milik kaum Anshar diserahkan kepada Muhajirin, maka petaka sosial benar benar terjadi, mengingat kaum Muhajirin tidak memiliki keahlian dalam bercocok tanam. Akibatnya, bukannya produksi pertanian meningkat namun malah menurun drastis.

Sebagai gantinya, kaum Anshar mengusulkan ide baru, mereka berkata:

تَكْفُونَا المَئُونَةَ، وَنَشْرَكْكُمْ فِي الثَّمَرَةِ

“Bila demikian, kalian ( kaum Muhajirin) membantu pekerjaan kami, dan kami akan memberi kalian sebagian dari hasil panennya . Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menyetujui usulan kedua ini, dan kaum Muhajirin dan Anshar pun patuh menjalankan solusi ini.”

Solusi yang beliau setujui ini menggambarkan akan kecerdasan beliau dan optimisme yang luar biasa.

Betapa tidak, dengan solusi ini, maka Kaum Muhajirin mendapat keahlian baru, yaitu bercocok tanam, karena mereka bekerja dibawah arahan kaum Anshar. Produksi tetap dan bahkan bisa meningkat, dan lahan pertanian kaum Anshar juga tetap tidak berkurang sedikitpun.

Pada saat yang sama, keahlian kaum Muhajirin yaitu berdagang tetap melekat, sehingga pada saat pekerjaan di ladang telah selesai, mereka bisa kembali melanjutkan profesinya berdagang, dengan berbekalkan bagi hasil yang mereka dapatkan dari bekerja di ladang kaum milik Anshar.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menolak usulan solusi pertama, karena beliau optimis bahwa sesaat lagi, di Madinah akan terjadi ledakan jumlah lahan pertanian. Prediksi ini benar benar terwujud ketika Rasulullah shallallah alaihi wa sallam mengusir Bani Quraidhah, Nadhir dan Qainuqa. Ketiga kabilah Yahudi ini diusir dari kota Madinah, sehingga lahan pertanian mereka dikuasai oleh Ummat Islam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam membagikan lahan pertanian yang ditinggalkan oleh ketiga kabilah Yahudi itu kepada para sahabat, terutama kaum Muhajirin.

Dan pada saat mendapat pembagian lahan pertanian, kaum Muhajirin telah memiliki keahlian bercocok tanam. Walaupun terjadi ledakan lahan pertanian, tidak sejengkalpun dari lahan lahan pertanian tersebut yang terbengkalai.

Di sisi lain, ledakan lahan pertanian tentunya diikuti oleh ledakan hasil pertanian. Namun demikian, tidak terjadi diflasi (penurunan nilai jual barang) di kota Madinah. Yang demikian itu, karena di Madinah telah siap para pedagang handal yaitu kaum Muhajirin. Berkat keahlian perdagangan yang mengalir pada diri mereka sejak kecil, hasil pertanian kota Madinah bisa dipasarkan dengan baik.

Sehingga kaum Muhajirin yang Hijrah ke Madinah dengan meninggalkan seluruh harta kekayaan mereka, dalam waktu yang singkat banyak dari kaum muhajirin yang kembali menjadi kaya raya, diantaranya sahabat Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Az Zubair bin Awwam, dan lainnya.

Shobat! Andai pelajaran pelajaran ekonomi dan lainnya yang banyak tersurat dan tersirat pada setiap lembaran sirah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam , niscaya kemakmuran dan kejayaan ummat Islam segera terwujud kembali.

 

Adakah Hubungan Antara Puasanya Nabi Di Hari Senin Dengan Hari Kelahiran Beliau ?

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى

Hadits berikut dijadikan sebagai dalil bolehnya Maulid bagi mereka yang gemar merayakannya.

Dari Abu Qatadah al-Anshari radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang hari senin dan bersabda,

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ، وَيَوْمٌ بُعِثْتُ

Itu adalah hari dimana  aku dilahirkan dan hari aku diutus.” (HR. Muslim).

Lalu, benarkah hadits ini menunjukkan bolehnya merayakan Maulid Nabi ?

Simak jawaban Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى   berikut ini :

MUTIARA SALAF : Koreksi Diri Anda.. Mengapa Malas Membaca Al Qur’an

Syeikh al-Utsaimin -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kamu melihat dirimu berpaling dari sebagian (tuntunan) Agama Allah, atau kamu melihat dirimu berpaling dari kitabullah azza wajall, baik berpaling dari membaca hurufnya, atau membaca dengan perenungan, atau membaca dengan pengamalan

Maka harusnya kamu mengobati dirimu, dan ingatlah bahwa sebab ‘berpaling’-mu ini adalah kemaksiatan-kemaksiatan (yang kamu lakukan)”.

[Tafsir Surat Alma’idah 1/348].

Diterjemahkan oleh
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Kiat Menyembuhkan Hati Yang Terbiasa Dengan Riyaa’…

Ustadz Abu Haidar As Sundawy, حفظه الله تعالى

Pertanyaan yang sungguh berat karena penyakit ini menjangkiti orang-orang yang berilmu. Namun ada beberapa hal yang kita bisa laukan untuk mengurangi dan insya-Allah menghindarkan diri dari sifat tersebut.

Simak jawaban Ustadz Abu Haidar As Sundawy  حفظه الله تعالى   berikut ini :

Awas! Jangan Makan Telor…

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Kira kira demikian bunyi himbauan yang disampaikan oleh Khalifah Umar bin Al Khatthab radhiallahu ‘anhu pada masa kekhilafahan beliau.

Mungkin anda keheranan, ada apa gerangan seorang khalifah melarang masyarakatnya dari memakan telor? Mungkinkah perekonomian pada zaman beliau begitu susah, sampai sampai telor menjadi barang mewah, yang mahal harganya? Atau mungkinkah telor hukumnya haram?

Sama sekali tidak demikian sobatku! Di zaman khalifah Umar bin Al Khatthab, kemakmuran benar benar telah tercapai. Betapa tidak, perbendaharan Persia dan Romawi telah dikuasai oleh pasukan Khalifah Umar bin Al Khatthab, dan dibelanjakan untuk ummat Islam. Dan memakan telor halal, tanpa ada perselisihan sedikitpun dari para ulama’ tentang kehalalannya.

Bila demikian, apa gerangan alasan beliau melarang kaum muslimin dari mengkonsumsi telor? Anda penasaran? Temukan jawabannya pada ucapan beliau sendiri berikut ini:

ولا تأكلوا البيض ، فإنما البيضة لقمة ، فإذا تركت صارت دجاجة ثمن درهم

“Janganlah kalian mengkonsumsi telor, karena telor itu akan habis dengan sekali suap. Namun bila engkau tetaskan, maka akan berubah menjadi seekor ayam yang nilai jualnya sebesar satu dirham.” (Ibnu Abi Ad Dunya dll)

Cermatilah sobat, bagaimana seorang kholifah yang sedang berada pada puncak kejayaannya memiliki kepekaan akan pentingnya perilaku ekonomi yang cerdas . Mengembangkan sumber daya alam, dan menjadi pelaku ekonomi (konsumen dan produsen) yang bijak.

Andai ummat Islam mengilhami dan kemudian mengamalkan petuah ekonomi yang disampaikan oleh Kholifah Umar bin Al Khatthab di atas, niscaya -dengan izin Allah- kemakmuran terwujud.

Namun sayang, ummat Islam saat ini kurang pandai dalam mengelola sumber daya alamnya, sehingga berbagai pkekayaan alam kita punah. Budaya konsumtif yang merusak terus dikembangkan, pukat harimau, dinamit, racun, strum dan lainnya telah terbukti memusnahkan banyak sumber daya alam kita. Sebagaimana budaya konsumsi yang kurang bijak terus dikembangkan, sehingga ada tren: sate BALIBUL (baru lima bulan), berbelanja hanya karena merek, dan tren bukan karena kebutuhan dan masih banyak lagi perilaku ekonomi yang tidak islamy.

Semoga Allah Ta’ala kembali membangkitkan syari’at Islam dalam jiwa jiwa ummat Islam, sehingga kejayaan Islam segera terwujud di negri ummat Islam. Amiin