All posts by BBG Al Ilmu

Mana Bekal Anda..?

Kita hidup di dunia, tidak lama..

Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah bersabda:

“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yang bisa melampui umur tersebut.”

Dan ternyata dalam waktu yang sebentar itu, kita memerlukan bekal yang banyak untuk mengarunginya.. BAHKAN kadang kita harus BANTING TULANG demi mencari bekal untuk kehidupan ini.

Jika untuk waktu +-70 tahun saja kita harus BANTING TULANG untuk mencari bekalnya, lalu sudahkah kita banting tulang untuk kehidupan alam barzakh yang mngkin bisa sampai RIBUAN TAHUN ?!

Setelah alam barzakh juga kita harus dibangkitkan dan hidup dalam waktu yang sangat lama, SATU HARINYA = 50 RIBU TAHUN..

Ingat, ketika itu tak ada yang berguna kecuali amal baik kita.. Tak ada pakaian, tak ada sandal, matahari hanya berjarak 1 mil dan tak ada naungan kecuali naungan-Nya.

Sungguh, kehidupan setelah kehidupan dunia ini jauh lebih lama, dan jauh lebih berat… tentu itu memerlukan usaha mengumpulkan BEKAL yang jauh lebih banyak dan jauh lebih intens.

Oleh karena itu, lihatlah diri Anda, sudahkah dia mempersiapkannya…?!

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan LIHATLAH DIRI MASING-MASING apakah yang sudah dia PERSIAPKAN untuk KEHIDUPAN ESOK..” [Al-Hasyr:18]

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Waah, Tambah Muda Saja Anda!

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Sobat! Apa dan bagaimana perasaan anda tatkala mendapat pujian semisal di atas? Teman yang telah sekian lama berpisah, lalu ketika berjumpa ia dengan sungguh-sungguh berkata: waah, engkau awet muda atau bahkan lebih muda daripada dulu?

Anda Merasa senang? anda merasa tersanjung? Dan ketika anda mendapatkan cermin, segera anda bercermin memperhatikan dengan seksama wajah anda. Sambil senyam senyum, dan tersipu dengan penuh rasa girang atau bangga. Anda terbuai oleh sanjungan : lebih muda atau awet muda, apalagi bila yang memuji anda adalah lawan jenis yang tampan atau cantik jelita. Waah, bisa klepek klepek dan salah tingkah.

Sobat! Percayalah, bahwa siapapun yang mengatakan sanjungan tersebut kepada anda sejatinya ia telah salah atau bahkan dusta. Dan lebih mengherankan lagi, anda yang sepenuhnya mengetahui bahwa sanjungan itu adalah dusta dan menyelisihi fakta, namun ternyata bangga. Bangga ditipu atau bangga dibodohi?

Sobat! Sadarilah bahwa urusan tua atau muda yang menentukan bukanlah persepsi atau pujian orang, namun umur anda. Dan anda pasti menyadari bahwa umur anda tiada pernah berputar mundur. Alih alih mundur, sekedar berhenti saja tidak mungkin, sehingga dapat dipastikan pujian di atas adalah dusta dan membodohi.

Bila demikian halnya, mengapa anda merasa senang dan kadang kala hingga lupa daratan dengan pujian dusta tersebut?

Sobat, ketahuilah bangga atau senang dengan pujian dusta semacam di atas adalah salah satu penyakit kronis yang harus segera diobati. Sikap pandir semacam ini adalah salah satu indikasi nyata bahwa diri kita sedang dijangkiti penyakit pandir yang telah membelenggu orang orang Yahudi .

Allah Ta’ala berfirman:

لَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَوا وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلَا تَحْسَبَنَّهُم بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Jangan engkau kira bahwa orang orang yang girang dengan perbuatan mereka dan senang untuk dipuji dengan sesuatu yang tidak mereka lakukan, maka janganlah engkau mengira bahwa mereka dapat selamat dari siksa, dan mereka itu pastilah mendapat siksa yang pedih.” (Ali Imran 188)

Amar Ma’ruf Nahi Munkar

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulilah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;

Sesungguhnya kemungkaran jika sering melintas di hati, terpandang di mata, niscaya akan tercabut cahaya hati, dan tertutup pintu hidayah pada nya.

Sementara manusia tatkala mengarungi kehidupan duniawi, senantiasa akan menjumpai banyak godaan dan ajakan untuk berbuat keburukan, sehingga disana sangat dibutuhkan uluran tangan agar seseorang selamat dari keterpurukan dan ketergelinciran dan tidak menjadi tawanan syaitan.

Puncak kebaikan adalah seseorang berbuat ketaatan serta mengajak sekitarnya agar turut menjalankan ketaatan.

Sesungguhnya amar makruf nahi munkar merupakan pondasi agama islam yang paling utama dan mulia, sehingga sifat sempurna ini ada dalam jiwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam agar menjadi teladan bagi umat nya.

Allah Ta`ala berfirman, ” (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung “. (QS.Al A`raf 157).

Umat ini diberikan limpahan ampunan dan keselamatan dikarenakan menjalankan ibadah mulia ini.

Allah Ta`ala berfirman, “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik “. (QS Al Imran 110).
……….

Kemuliaan Yang Hakiki

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, Lc, MA حفظه الله تعالى

Tidak ada yang bisa mengangkat derajatmu di dunia, seperti agama dan imanmu.

Maka, barangsiapa silau dengan kedudukannya; ingatlah Raja Fir’aun.

Barangsiapa silau dengan hartanya, maka ingatlah Qarun dan hartanya.

Barangsiapa silau dengan nasabnya, maka ingatlah, putra Nabi Nuh yang durhaka, ayah Nabi Ibrohim yang musyrik, dan Abu Lahab paman Nabi kita -shollallohu ‘alaihi wasallam-.

Kemuliaanmu yang hakiki hanyalah ada pada agamamu. Semakin tinggi agamamu, semakin tinggi kemualiaanmu.

Allah taala berfirman (yang artinya):

“Sungguh orang yang paling mulia dari kalian adalah orang yang paling bertakwa” [Hujurot: 13].

Allah juga berfirman (yang artinya):

“Barangsiapa ingin kemuliaan, maka hanya milik Allah semua kemuliaan” [Fathir:10]

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Mengusap Ubun-Ubun Sorban & Khuff

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Dari Al Mughirah bin Syu’bah sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berwudlu, beliau mengusap ubun-ubunnya, sorban dan dua khuffnya.” (HR Muslim).

Fawaid hadits:
1. Hadits ini tidak menunjukkan bolehnya hanya mengusap ubun-ubun saja, sebagaimana yang dilakukan banyak kaum muslimin di indonesia, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengusap ubun-ubun ketika beliau memakai sorban.

2. Ibnu Qayyim berkata: “tidak shahih Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam hanya mengusap sebagian kepalanya saja.

3. Bolehnya mengusap sorban.

4. Bolehnya mengusap dua khuff.

5. Wajibnya mengusap seluruh kepala bila tidak mengenakan sorban, sebagaimana dalam hadits yang telah berlalu.

Wallahu a’lam

Nyanyian

Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Syaikhul Islam berkata, “Kamu akan mendapati orang yang mendengarkan qasidah untuk memperbaiki hati, berkurang keinginannya untuk mendengarkan Al Qur’an.”
(Al Iqtidla hal 327).

Nyanyian bukan obat hati..
Bukan pula pelipur lara..
Justru seringkali menambah penyakit hati..

Cukuplah Al Qur’an sebagai air penyejuk qolbu..

Siapa yang tidak merasa cukup dengan Al Qur’an bukan dari golongan kami..
demikian sabda Nabi..

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Cemburu Buta

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc حفظه الله تعالى

Beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghindari perasaan cemburu buta :

1. Selalu mengikatkan hati, lisan dan perbuatan pada aturan Allah. Ucapkan hanya kalimat-kalimat yang baik pada pasangan sekalipun sedang cemburu, sebab ucapan pun adalah doa. Hindari dari lisan yang mencaci maki, menghujat apalagi menghinakan, karena pasti akan menyakiti hati pasangan.

2. Perbanyaklah berdzikir untuk menenangkan hati. Sibukkan diri dengan membaca alquran, dan kalimah dzikrullah yang dituntunkan seperti subhanallah alhamdulillah laa illaha illallah Allahu Akbar.

3. Memilih sabar dalam mengendalikan cemburu. Sesungguhnya sabar adalah penolong dan memiliki pahala tanpa batas.

4. Berdoa memohon pertolongan Allah Subhana Wata’ala dan membasahi hati serta lisan dengan istighfar. Pahami bahwa tanpa Allah, kita tak punya daya apa-apa.

5. Selalu mengingat mati. Ini akan menjaga kita dari memilih perbuatan dosa dan mendholimi pasangan.

6. Bersikap qona’ah, menerima segala ketentuan Allah dengan lapang dada. Cemburulah hanya jika Allah pun cemburu.

7. Bersyukur pada pasangan. Ingatlah segala kebaikannya dan maafkan kekhilafannya yang tidak disengaja. Sadari seutuhnya pasangan pun manusia biasa yang tidak luput dari kekurangan dan keterbatasan.

8. Membangun kepercayaan dan keterbukaan dengan pasangan. Panggillah pasangan dengan kata-kata yang indah dan penuh cinta, seperti rasulullah memanggil humaira pada ibunda Aisyah.

9. Jauhi sifat dan perilaku dendam, apalagi dengan memanfaatkan kelembutan dan kebaikan hati pasangan. Jauhi mengandalkan bisikan setan seperti ini, “Sedendam apapun aku, sedholim apapun aku….suatu saat nanti, beberapa tahun lagi…ia pasti akan memaafkanku dan membuka pintu hati untukku…karena cintanya padaku..selalu ada cara ia tak bisa melupakanku….ia akan kembali padaku.” Hemm sayang kita hidup di dunia nyata, bukan sinetron. Jadi berhentilah bermimpi dan berangan-angan.

10. Jadilah manusia yang kuat, yang mampu menundukkan diri sendiri. Sederas apapun angin menerpa, sekuat apapun tekanan menghujam, sebesar apapun badai dan gelombang menghantam jangan pernah bawa dan menceritakan masalah pribadi dan pasangan pada orang lain, dunia luar yang sejatinya tak tahu apa-apa tentang kehidupan kita. Kita adalah pakaian bagi pasangan. Menyebarkan aib pasangan sama saja dengan mempertontonkan aib diri sendiri. Jangan salahkan siapapun jika suatu saat nanti bisa menusuk balik pada diri kita. Ingatlah sebuah peribahasa, “mulutmu adalah harimaumu..” mulut kita sendiri yang justru akan menerkam diri.

11. Senantiasa melakukan introspeksi diri. Jujurlah untuk menilai diri sendiri dengan patokan hukum syara. Katakan benar jika memang benar, dan berbesar hatilah mengakui jika memang salah. Jangan pernah menjadikan orang lain sebagai kambing hitam atas pilihan perbuatan kita, atas apa yang terjadi pada kita atau atas maksiat/ketidaktaatan yang pernah kita lakukan. Ali bin Abu Tholib menasihati, ” kalau lupa dengan kesalahan diri, maka kesalahan orang lain akan lebih besar terlihat.” Wallohu’alam

Keimanan Sumber Kebahagiaan

Ustadz Fuad Hamzah Baraba’, Lc, حفظه الله تعالى

Kebahagian adalah dambaan setiap orang. Tak seorangpun yang ingin hidup sengsara.

Kebahagiaan merupakan sebuah cita-cita yang semua orang berusaha untuk meraihnya.

Lalu bagaimana meraih kebahagian yang hakiki?

Keimanan kepada Allah merupakan faktor utama dalam meraih kebahagiaan.

Imam Ibnu Qayyim Rahimahullah menjelaskan 3 tanda kebahagian:
1. Bersyukur
2. Sabar
3. Beristighfar

Keadaan seseorang akan selalu berputar, antara mendapat karunia yang melimpah, di timpa musibah atau terjerumus dalam lubang dosa.

Seorang yang beriman tatkala memperoleh sebuah kenikmatan, ia mengetahui bahwa itu semua datangnya dari Allah ‘Azza wa jalla, kemudian dia memuji Allah dan bersyukur kepada-Nya.

Jika ditimpa musibah, dia yakin
bahwa itu semua atas kehendak Allah ‘Azza wa jalla, lalu dirinya ridha dan sabar.

Dan bila pada suatu waktu ia terkalahkan oleh nafsunya dan terjatuh ke dalam jurang dosa, ia menyadari bahwa dirinya telah melanggar batasan-batasan Allah ‘Azza wa jalla dan kemudian segera bertaubat dan beristighfar.

Ketiga hal tersebut menunjukan, bahwa kebahagian hanya dapat diraih dengan beriman kepada Allah ‘Azza wa jalla.

Keimanan merupakan tempat bersandar seorang Muslim pada setiap keadaan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
” Sungguh sangat menakjubkan perkara (kondisi) seorang Mukmin. Seluruh perkara (kondisinya) baik, dan itu tidak ada pada seseorang kecuali pada seorang Mukmin. Jika mendapat nikmat, ia pun bersyukur dan itu adalah terbaik baginya. Jika ditimpa musibah, ia bersabar dan itulah yang terbaik bagi dirinya. (HR. Muslim)

Semoga kita dapat meraih kebahagian yang hakiki.