Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Bila kita melihat suatu kesalahan atau kemungkaran, bagaimana caranya kita memberitahu atau cara mengingkari kemungkaran tersebut ?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى sebagai berikut :
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Bila kita melihat suatu kesalahan atau kemungkaran, bagaimana caranya kita memberitahu atau cara mengingkari kemungkaran tersebut ?
Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى sebagai berikut :
1259. BBG Al Ilmu – 153b
Tanya:
Pertanyaan lanjutan masih seputar sholat Jum’at:
3. Apakah hukumnya muadzdzin membaca shalawat yang mengiringi naiknya khatib ke atas mimbar ?
4. Apakah hukumnya khatib jum’at menggerak-gerakkan tangan mengikuti apa yang disampaikan dalam khutbahnya?
5. Apakah boleh seorang jama’ah shalat jum’at tiba-tiba menegur khatib yang menggerak-gerakkan tangan padahal khutbah sedang berlangsung ?
6. Apakah hukumnya seorang khatib menyampaikan khutbahnya seratus porsen dengan bahasa Arab ?
Jawab:
Ustadz Abdussalam Busyro, Lc, حفظه الله تعالى
3. Membaca sholawat dengan di keraskan menjelang adzan adalah perkara bid’ah.
4. Khotib berkhotbah menggerakkan tangan hukumnya makruh, sebagaimana di terangkan oleh Syaikh Abdullah Bassaam dalam ‘Taudhihul Ahkam.’
5. Sebaiknya menegur khotib dalam hal ini menunggu sesudah selesai khutbah/ sholat, sekalipun demikian khutbah tetap sah, karena dialog dengan khotib adalah boleh jika di perlukan, tapi menunggu sampai selesai sholat tentunya lebih baik untuk menjaga ketenangan.
6. Khotbah dengan bahasa Arab sah, sepengetahuan kami ini pendapat Malikiyyah.
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى
Saudaraku! Unik memang kehidupan dunia ini, betapa sering manusia merasa dirinya sempurna walaupun nyata-nyata salah dan menyelisihi fakta.
Setiap insan pasti menyadari bahwa hanya ada satu pilihan baginya, yaitu menjadi wanita atau pria. Saya yakin semua yang mengikuti status saya hanya memiliki satu jenis kelamin: pria atau wanta .
Namun demikian, banyak perbedaan, ada yang bilang enak jadi mantan suami ada pula yang berkata enak jadi mantan istri.
Sadarlah! bahwa hanya ada satu yang anda dapatkan yaitu : menerima. Siapapun diri anda, anda tidak berkuasa untuk memilih menjadi wanita atau pria.
Anda hanya menjalani kodrat ilahi, sebagai wanita atau pria, tanpa ada kuasa sedikitpun untuk memilih atau menolak kehendak Allah.
Bisa jadi dahulu orang tua anda berusaha dengan segala cara untuk menjadikan anda wanita atau pria. Namun toh akhirnya ketentuan Allah-lah yang terwujud pada diri anda.
Demikian pula dengan urusan mantan istri atau mantan suami, bisa jadi anda telah berusaha mati-matian untuk memilih pasangan hidup, dan berusaha semaksimal yang bisa anda lakukan untuk membangun rumah tangga yang harmonis. Namun demikian, tetap saja kehendak dan keputusan Allah-lah yang menang dan terwujud pada diri anda. Karena itu terima dan syukurilah apapun keputusan Allah pada diri anda. Dan percayalah bahwa keputusan ALlah yang terbaik untuk anda.
Inilah salah satu hikmah dari sikap Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang selalu memuji Allah dalam segala kondisinya.
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا رَأَى مَا يُحِبُّ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِى بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ ». وَإِذَا رَأَى مَا يَكْرَهُ قَالَ « الْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ ».
“Aisyah, mengisahkan: Dahulu Rasulullah jika mendapatkan hal yang beliau sukai, beliau mengucapkan : Segala puji hanya milik Allah, yang berkat kenikmatan-Nya, kebaikan ini dapat terwujud, Sedangkan jika beliau mendapatkan hal yang tidak menyenangkan, beliau mengucapkan “Segala puji hanya milik ALlah, atas segala kondisi yang terjadi.” (Ibnu Majah).
1258. BBG Al Ilmu – 153b
Tanya:
Ada beberapa masalah seputar tata cara shalat Jum’at:
1. Adzan sebelum khatib naik mimbar itu yang benar menurut pengamalan Rasulullah adzan 2 kali atau 1 kali ?
2. Posisi muadzdzin apakah dekat atau boleh agak jauh atau jauh dari mimbar ? Dan apakah hukumnya penggunaan tongkat oleh muadzdzin yang diserahkan kepada khatib pada saat khatib akan naik mimbar ?
Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى
Adzan hari jumat di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hanya sekali, karena jumlah masyarakat terbatas di sekitar masjid nabawi. Hingga pada masa khalifah Utsman karena banyak penduduk yang tinggal jauh dari lokasi masjid nabawi, maka khilafah Utsman mensunnahkan adzan dua kali, mencontoh Pensyariatan adzan shubuh dua kali dimasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hingga masa sekarang adzan dua kali adalah sunnah. Dahulu adzan pertama diluar masjid yaitu di pasar, dan adzan keduanya di dalam masjid, karena keterbatasan suara, adapun sekarang karena ada pengeras suara maka cukup di masjid, dengan adzan dua kali.
Tongkat dalam khutbah jumat adalah sunnah, akan tetapi tidak boleh berlebih-lebihan, seperti banyak di jumpai di masjid sekarang ini.
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى
Bagaimana hukumnya memberikan salam ke lawan jenis ? Simak penjelasan Ustadz Badru Salam, Lc, حفظه الله تعالى sebagai berikut :
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى
Kalau masih ada di antara orang tua, nenek, saudara, om, tante, dan yang masih punya hubungan kerabat masih hidup, jangan lupakan untuk kunjungi mereka walau sesaat.
Keutamaannya:
1- itu bentuk ibadah dan berbuah pahala
2- umur berkah
3- rezeki bertambah
4- lahan dakwah.
Untuk lengkapnya, silahkan baca :
1257. BBG Al Ilmu – 461
Tanya:
Bagaimana hukumnya pelajaran anak TK mewarnai gambar makhluk bernyawa ?
Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى
Tidak mengapa bila hanya sekedar mewarnai, akan tetapi untuk lebih baiknya (mewarnainya) diarahkan ke sesuatu yang tidak bernyawa supaya tidak memiliki kebiasaan tersebut.
والله أعلم بالصواب
⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊
Ustadz Abdullah Zaen, MA, حفظه الله تعالى
Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam pernah menjelaskan makna ihsan dalam haditsnya,
“أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ”.
“Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu”.HR. Bukhari dan Muslim.
Makna di atas biasa diistilahkan pula dengan murâqabah, atau merasa selalu diawasi Allah ta’ala. Maka kewajiban orang tua adalah mengajarkan kepada anak tentang kedekatan dan pengawasan Allah terhadap hamba-Nya. Dia melihat serta mengetahui segala gerak-gerik dan perbuatan kita, juga mendengar semua ucapan kita. Bahkan Dia mengetahui segala isi hati kita.
Bacakan kepada mereka firman Allah ta’ala,
“أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ”.
Artinya: “Tidakkah engkau perhatikan, bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi? Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitakan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.QS. Al-Mujadilah (58): 7.
Adapun prakteknya, maka cara menanamkan perasaan merasa diawasi tersebut kepada anak, antara lain adalah dengan sering-sering mengingatkan hal tersebut. Saat kita memotivasi dia untuk beribadah atau meninggalkan perilaku yang negatif, selalu berusahalah mengaitkannya dengan pengawasan Allah ta’ala.
Contohnya, ketika ibu melepas anaknya pergi ke masjid ia berpesan, “Shalatnya yang bagus ya nak! Jangan bermain-main ketika shalat! Sungguh Allah Maha Melihat, sekalipun ibu tidak melihat”.
Juga ketika ayah melepas kepergian anaknya ke sekolah, jangan lupa ia mewanti-wanti, “Belajarlah yang baik nak! Jangan berbuat nakal! Allah Maha Melihat segala gerak-gerikmu, walaupun bapak atau ibu guru tidak melihatnya”.
Namun tentunya, supaya penanaman perasaan positif tersebut efektif dan manjur, orang tua harus juga memiliki perasaan yang serupa dalam dirinya.
Logikanya, bagaimana mungkin seseorang mengajarkan membaca, sedangkan dia sendiri tidak bisa membaca?
Ref: http://tunasilmu.com/silsilah-fiqih-pendidikan-anak-no-31-anak-dan-ihsan/
Ada orang tua Anda yang meninggal..?
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- tumbuh besar dalam keadaan yatim piatu, tanpa kedua orang tuanya.
Ada anak Anda yang meninggal..?
Semua anak Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- wafat ketika beliau masih hidup, kecuali Fatimah -rodhiallohu ‘anha- yang meninggal beberapa bulan setelah wafatnya beliau.
Kehormatan Anda pernah dilecehkan..?
Kehormatan Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah dilecehkan, dengan dituduhnya isteri beliau Aisyah -rodhiallohu ‘anha- telah berselingkuh, hingga Allah membebaskannya dari tuduhan keji tersebut dari atas langit ketujuh.
Anda terjerat hutang..?
Ketika Rosulullah -shollallohu ‘alaihi wasallam- wafat, baju perang beliau masih tergadaikan di tangan seorang yahudi
Anda terhimpit dengan keadaan, hingga tidak memiliki apapun untuk makan..?
Api dapur di rumah Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- biasa tidak menyala hingga beberapa bulan.
Ada putri Anda yang ditalak suaminya..?
Dua putri Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah ditalak oleh suaminya.
Anda harus pergi meninggalkan tempat kelahiran anda..? baik karena dipaksa atau terpaksa.
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah diusir oleh kaumnya sendiri dari tempat kelahirannya.
Anda pernah menjadi sasaran rencana pembunuhan..?
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- sering menjadi sasaran rencana pembunuhan dari kaum yahudi dan kaum musyrikin
Ada tetangga yang mengganggu Anda..?
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah diganggu tetangganya yang yahudi, namun demikian beliau tetap mengunjunginya saat dia sakit
Orang yang Anda senangi tidak mau mendengar Anda, tapi malah mendengar musuh-musuh Anda..?
Rosululloh -shollalohu ‘alaihi wasallam- tidak didengar oleh pamannya Abu Tholib, tapi dia malah taat kepada Abu Jahal.
Anda pernah dihina seseorang..?
Rosululloh -shollalohu ‘alaihi wasallam- telah dicela kaumnya, bahkan telah diletakkan kotoran onta di atasnya
Pernah merasakan sempit rezeki dan diboikot orang yang berada di sekitar Anda..?
Rosululloh -shollalohu ‘alaihi wasallam- pernah diboikot kaumnya di sebuah daerah kecil selama 3 tahun.
Anda memiliki beban pikiran..?
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- memiliki beban dakwah dan bagaimana risalah islam bisa menyebar.
Anda pernah didustakan dan perkataan Anda ditolak mentah-mentah..?
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah didustakan dan ditolak perkataannya oleh kaumnya
Gigi Anda sakit..?
Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- telah retak gigi serinya.
Pernah dituduh melakukan sesuatu yang tidak Anda lakukan..?
Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- telah dituduh gila dan melakukan praktek sihir.
Anda lelah dalam beribadah kepada Allah..?
Kedua kaki Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- pernah sampai bengkak, karena lamanya beliau dalam sholat malam.
Mungkin ada satu atau lebih dari masalah-masalah ini pernah menimpa Anda, sehingga Anda merasakan hidup yang sedih, berat, galau, dan cemas… lalu bagaimana jika semua masalah tersebut berkumpul pada satu orang..?
Meskipun demikian, Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- dahulu tetap bahagia dan optimis, karena beliau menemukan kenyamanan hatinya dalam ketaatan kepada Robbnya, sebagaimana beliau isyaratkan dalam sabdanya: “Senangkan hati kami dengan sholat, wahai Bilal..!”
Maka, ini merupakan pesan berharga bagi kita semua, khususnya yang lagi sedih dan ditimpa musibah, tidakkah kita rela dengan musibah tersebut dan mengharap pahala dari Allah… Tidakkah kita menjadikan Rosululloh -shollallohu ‘alaihi wasallam- sebagai teladan dan panutan yang baik.
Marilah kita bersholawat kepada beliau -shollallohu ‘alaihi wasallam-.
[Terjemahan]
Penterjemah,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله تعالى.
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى
Ucapan di atas adalah salah satu semboyan para pejuang yang pantang menyerah dan berjiwa besar rela berkorban demi membela kebenaran. Orang-orang dengan jiwa besar biasa memekikkan semboyan di atas, demi tegaknya kebenaran dan runtuhnya keangkara murkaan.
Dahulu, di saat nenek moyang kita berjuang, semboyan di atas benar benar berhasil mengobarkan semangat juang melawan penjajahan dan kebatilan. Karena itu sebagai generasi penerus, sudah sepatutnya semboyan ini kita warisi dan terus kita kobarkan demi tegaknya kebenaran di atas keangkara murkaan. Penjajah “KOMPENI” dan “Jepang” berhasil diusir dan kemerdekaanpun terwujud.
Namun demikian, -namanya juga manusia- semboyan indah di atas kini banyak disalah pahami dan diamalkan secara menyimpang. Kita sebagai generasi penerus, dengan berkedokkan pekik penjuang di atas, menghalalkan segala macam cara dan memaksakan kehendak demi memenuhi keserakahan atau ambisi walaupun harus mengorbankan kebenaran. Akibatnya, kebenaran terjungkal dan kebatilan meraja lela, kewajiban terabaikan bahkan diingkari sedangkan keserakahan dan syahwat birahi di “SEMBAH” dan dipatuhi.
Berkedokkan semboyan di atas, banyak anak durhaka kepada orang tua, saudara memutus tali silaturrahmi, sahabat saling memusuhi dan keluarga tercerai berai demi menuruti syahwat dan ambisi. Mereka mengira bahwa semboyan di atas dapat menyegerakan rejeki dan melipat gandakan keberuntungan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْساْ لَنْ تَمُوَت حَتىَّ تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرَمَ).
“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-benar telah mengenyam seluruh rizqinya, walaupun telat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi. Tempuhlah jalan-jalan mencari rizki yang halal dan tinggalkan yang haram.” Riwayat Ibnu Majah, Abdurrazzaq, Ibnu Hibban, dan Al Hakim.
Ya Allah, lindungilah kami agar tidak menjadi budak nafsu birahi dan keserakahan ambisi. Amiin.