All posts by BBG Al Ilmu

Ketika Cobaan Datang Bertubi-Tubi….

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Terkadang seseorang ditimpa ujian dan musibah datang bertubi-tubi…silih berganti…hilang yang satu datang lagi yang lain semisalnya…
Terkadang seseorang tidak melihat kegembiraan kecuali sangat jarang sekali.

Sungguh indah perkataan Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah tatkala beliau berbicara tentang banyaknya kesedihan dan sedikitnya kegembiraan.

مِحَنُ الزَّماَنِ كَثِيْرَةٌ لاَ تَنْقَضِي … وَسُرُوْرُهَا يَأْتِيْكَ كَالأَعْيَادِ
“Ujian zaman banyak dan tidak berhenti menimpa….
Dan kegembiraannya mendatangimu sesekali seperti hari raya yang datang sesekali…”

Bahkan terkadang ujian dan musibah terkadang datang tidak satu persatu akan tetapi datang bergerombol…

Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata :

تَأْتِي الْمَكَارِهُ حِيْنَ تَأْتِي جُمْلَةً … وَأَرَى السُّرُوْرَ يَجِيْءُ فِي الْفَلَتَاتِ
“Hal-hal yang dibenci tatkala menimpa datang secara bergerombol…
Dan aku memandang kesenangan datangnya sesekali…”

Memang benar, terkadang musibah dan ujian menimpa seseorang secara bergerombol…sampai-sampai terkadang seseorang tidak bisa berfikir dan bersikap yang waras..

Akan tetapi seorang mukmin bagaimanapun kesulitan dan ujian yang dihadapinya maka ia akan tetap percaya dan yakin dengan rahmat Allah dan bertawakkal kepada Allah. Ia yakin bahwasanya akan ada jalan keluar…akan terurai ikatan-ikatan kesulitan tersebut….bahkan justru keyakinan ini muncul dan nampak dalam kondisi yang amat sangat genting !!!

Al-Imam Asy-Syafii rahimahullah berkata :

وَلَرُبَّ نَازِلَةٍ يَضِيْقُ بِهَا الْفَتَى — ذَرْعاً وَعِنْدَ اللهِ مِنْهَا الْمَخْرَجُ
ضَاقَتْ فَلَمَّا اسْتَحْكَمَتْ حَلَقَاتُهَا — فَرُجَتْ وَكُنْتُ أَظُنُّهَا لاَ تَفْرَجُ

“Betapa sering musibah yang menjadikan sesak dada seorang pemuda… padahal di sisi Allah ada jalan keluarnya…
Menjadi sempit…bahkan tatkala telah semakin kokoh rantai-rantai pengikat… terbukalah…padahal aku telah menyangka bahwasanya tidak akan terbuka ikatan tersebut…”

Seorang muslim janganlah lupa bahwasanya terkadang karunia Allah bisa jadi datang dalam musibah tersebut…bahwasanya :

أَنَّ وَرَاءَ كُلِّ مِحْنَةٍ مِنْحَةً

“Dibalik setiap ujian ada pemberian dan karunia Allah.”

Kita yakin bahwasanya Allah tidak menguji kita untuk mengadzab kita, akan tetapi untuk meramati kita. Seberat apapun juga suatu ujian maka pasti dibaliknya ada kebaikan yang banyak.

Bisa jadi kita tidak akan tahu hikmah dibalik ujian dan musibah tersebut kecuali setelah perginya ujian dan musibah tersebut.

Jika kita tidak bisa melihat keindahan dan hikmah pada musibah maka hendaknya kita merenungkan kisah yang terjadi antara Nabi Musa ‘alaihis salam bersama Khodir dalam surat Al-Kahfi. Lihatlah bagaimana Musa memandang bahwasanya perbuatan Khodir yang membocorkan perahu, membunuh anak muda, dan menegakkan dinding merupakan murni keburukan, sehingga akhirnya iapun mengingkarnya. Akan tetapi… ternyata dibalik perkara-perkara tersebut ada kebaikan dan hikmah.

Ternyata dibocorkannya perahu tersebut merupakan sebab selamatnya perahu agar tidak diambil oleh raja yang dzolim, dibunuhnya anak tersebut ternyata merupakan rahmat dari Allah terhadap kedua orang tuanya, yang ternyata jika sang anak besar maka akan menjerumuskan kedua orang tuanya dalam kekufuran. Dan dengan menegakkan tembok yang menyebabkan ditangguhkannya rejeki kedua anak yatim, ternyata merupakan rahmat dari Allah.

Sebagaimana pepatah :

رُبَّ أَمْرٍ تَتَّقِيْهِ، جَرَّ أَمْرًا تَرْتَجِيْهِ

“Betapa sering perkara yang kau jauhi/tidak sukai, ternyata mendatangkan perkara yang kau harapkan.”

Allah berfirman :

فَعَسَى أَن تَكرَهُوا شَيئاً وَيَجعَلَ اللهُ فِيهِ خَيراً كَثِيراً

“Maka bisa jadi engkau membenci suatu perkara dan Allah menjadikan pada perkara tersebut banyak kebaikan.” (QS An-Nisaa : 19)

Seorang penyair berkata :

إِذَا أَرْهَقَتْكَ هُمُوْمُ الْحَيَاِة ….وَمَسَّكَ مِنْهَا عَظِيْمُ الضَّرَرِ..

“Jika kesedihan hidup sungguh telah melelahkanmu…
Kau telah ditimpa dengan kemudorotan yang besar.”

وَذُقْتَ الْأَمْرَيْنِ حَتَّى بَكَيْتَ…وَضَجَّ فُؤَادُكَ حَتَّى انْفَجَرَ..

“Dua perkara tersebut telah kau rasakan hingga membuatmu menangis…
Hatimu telah bergeliak hingga meledak.”

وَسُدَّتْ بِوَجْهِكَ كُلُّ الدُّرُوْبَ…وَأَوْشَكْتَ أَنْ تَسْقُطَ بَيْنَ الْحُفَرِ..

“Telah tertutup seluruh jalan dihadapanmu…
Engkau hampir terjungkal diantara lobang-lobang…”

فَيَمِّمْ إِلَى اللهِ فِي لَهْفَةٍ…وَبُثَّ الشَّكَاةَ لِرَبِّ الْبَشَرِ

“Maka menujulah kepada Allah dalam kesedihan…dan curahkanlah keluhanmu kepada Penguasa manusia”

(Diringkas oleh Firanda Andirja)

Derita Seindah Ni’mat

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Dinamika kehidupan dunia menjadikan kita harus melalui berbagai hal-hal yang menyenangkan sebagaimana kita juga harus melalui berbagai derita dan cobaan.

Tiada kiatnya alias mustahil anda dapat menghindari salah seluruh derita atau semua kesenangan. Keduanya pasti anda lalui secara silih berganti.

Namun demikian, sadarkah anda bahwa kedua hal yang saling bergantian tersebut adalah kunci keindahan hidup di dunia ini? Nikmat bagi siapapun nampak indah dan terasa menyenangkan.

Di saat yang sama, derita walau nampak menakutkan dan menyakitkan, namun sejatinya indah dan menyenangkan. Walaupun pada kenyataannya anda salah persepsi sehingga memaki dan mencela derita atau cobaan.

Puasa ramadhan mengajarkan kepada kita bahwa bagi ORANG YANG BERIMAN sejatinya derita semisal rasa lapar dan dahaga dapat mendatangkan kebahagiaan sebagaimana rasa kenyang juga mendatangkan kegembiraan.

Tiada seorangpun dari ummat Islam yang menangisi atau menyesali rasa lapar dan dahaga yang ia rasakan di siang ramadhan. Sebagaimana tiada seorangpun yang memaki rasa kenyang di malam ramadhan. Setiap orang yang beriman saat ini pasti mensyukuri keduanya tanpa ada bedanya sedikitpun. Allah Taala berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
“Setiap jiwa pastilah merasakan kematian. Dan Kami menguji kalian dengan kejelekan / musibah dan dengan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada Kami-lah kalian semua kembali.” (al Anbiya’ 35)

Cermatilah sobatku! Pada ayat ini Allah Azza wa Jalla menyamakan kebaikan dengan kejelekan. Keduanya adalah ujian dan cobaan yang menimpa anda. Bila anda merasa senang lalu bersyukur maka sepatutnya anda juga merasa senang lalu bersyukur atas kejelekan yang menimpa anda.

Bila anda merasa harus bersabar ketika ditimpa kejelekan, maka demikian pula sepatutnya anda bersabar sehingga tidak lupa daratan disaat mendapat kenikmatan.

Demikianlah dahulu yang diamalkan Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Bila mendapat kenikmatan beliau berkata:

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات
“Segala puji bagi Allah, atas kenikmatannya segala kebaikan dapat terwujud.”

Dan bila mendapatkan sesuatu yang beliau benci, maka beliau berkata:

الحمد لله على كل حال
“Segala puji hanya milik Allah atas segala kondisi yang terjadi.”

Bagaimana dengan anda sobat?

1221. Apakah Pemakaian Betadin Di Luka Menghalangi Wudhu ?

1221. BBG Al Ilmu

Tanya:
Jika tangan saya terluka dan saya kasi betadin, apakah ketika wudhu, bagian luka yang kena betadin itu harus dibersihkan dahulu ? Maksud saya apakah pemakaian betadin menghalangi wudhu yang sempurna ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Betadin tidak menghalangi wudhu, jadi tidak mengapa sholat dan sah.
والله أعلم بالصواب

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Bolehkah Sholat Dhuha Pada Hari Raya ‘Ied..?

Tanya:
Setelah sholat Eid kemarin, saya pulang ke rumah dan melaksanakan sholat dhuha, tapi ada teman yang mengatakan bahwa khusus hari raya, sholat dhuha sudah terwakilkan oleh sholat hari raya/sholat eid, apakah benar demikian ?

Jawab:
Sholat dhuha boleh di kerjakan walaupun hari raya. Karena beda hukum dan sebab.

والله أعلم بالصواب

Ustadz Rochmad Supriyadi Lc, حفظه الله تعالى

 

1219. Benarkah Shodaqoh Memapankan Kemiskinan ?

1219. BBG Al Ilmu

Tanya:
Belakangan ini, banyak pihak mengatakan “shodaqoh memapankan kemiskinan dan melegalkan kemalasan yang berkelanjutan.” Mohon tanggapannya.

Jawab:
Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Bismillah. Pernyataan tersebut TIDAK BENAR. Hal ini dikarenakan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam tidaklah mensyari’atkan shodaqoh, infaq dan zakat melainkan di dalamnya terdapat keutamaan yang banyak dan hikmah yang sangat agung bagi pemberi maupun penerimanya. Diantara hikmahnya bagi pemberi:

1. Membersihkan harta dari kotoran-kotoran.

2. Menumbuhkan rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang dilimpahkan kepadanya.

3. Menumbuhkan ras belas kasih kepada orang-orang yang diuji oleh Allah dengan kefakiran dan kemiskinan.

4. Mensucikan jiwa dari sifat-sifat kotor dan tercela seperti kikir, sombong, kufur nikmt dsb.

5. Mendatangkan pahala, berkah dan ridho Allah.

Sedangkan hikmah bagi penerima shodaqoh, infaq dan zakat:

1. Meringankan beban berat karena sempitnya rezeki.

2. Menghilangkan kedengkian dan kebencian di tengah masyarakat muslim.

3. Mencegah dan mengurangi tingkat kriminalitas atau kejahatan.

Sedangkan meninggalkan shodaqoh, infaq dan zakat justru akan memberikan dampak negatif dan pengaruh buruk yang merupakan kebalikan dari hikmah-hikmah di atas.

Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Tanda-Tanda Diterimanya Amal Ibadah Dan Taubat

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA, حفظه الله تعالى

Sesungguhnya setiap muslim dan muslimah sudah pasti senantiasa berharap agar amalan-amalan kebaikannya menjadi sah dan diterima Allah ta’ala, dan keburukan-keburukannya dimaafkan dan dihapuskan oleh-Nya. Sebab dengan demikian ia akan menjadi hamba Allah yang hidup selamat dan bahagia di dunia dan akhirat.

Jika amalan kebaikan seorang hamba telah diterima Allah, maka itu sebagai tanda bahwa amalan yang dikerjakannya telah benar dan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah Ta’ala berfirman:
{ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنْ الْمُتَّقِينَ }

Artinya: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Maidah: 27).

» Al-Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Sesungguhnya amalan (ibadah) itu jika dikerjakan dengan ikhlas karena Allah, namun caranya tidak benar, maka amalan ibadah teresbut tidak diterima Allah. Demikian pula sebaliknya, amalan (ibadah) jika dikerjakan dengan cara yang benar, namun niatnya tidak ikhlas karena Allah, maka amalan (ibadah) itu juga tidak diterima Allah, sehingga amalan ibadah tersebut dikerjakan dengan ikhlas karena mengharap wajah Allah semata, dan benar karena sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

(*) Lalu, bagaimana dan apa saja tanda-tanda suatu amal ibadah dan taubat seorang hamba telah diterima Allah ta’ala, dan jerih payahnya telah membuahkan hasil?

Berikut ini kami akan sebutkan sebagian tanda dan ciri diterimanya amal ibadah dan taubat seorang hamba sebagaimana dijelaskan oleh para ulama sunnah.

(*) TANDA PERTAMA:
Tidak Mengulangi Lagi Perbuatan Dosa dan Maksiatnya.

Apabila seorang hamba merasa benci terhadap dosa-dosa, dan ia benci untuk mengulangi lagi perbuatan dosa dan maksiat yang pernah dilakukannya, maka ketahuilah bahwa ia termasuk orang yang diterima Allah taubat dan amal ibadahnya.

» Imam Ibnul Qoyyim Al-Jauziyah rahimahullah berkata: “Adapun jika seorang hamba ingat akan perbuatan dosanya, lalu ia merasa senang dan menikmatinya, maka (taubatnya) tidak akan diterima Allah meskipun ia hidup selama 40 (empat puluh) tahun dalam keadaan demikian.” (Lihat Madaariju As-Saalikiin, karya Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah).

» Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata: “Barangsiapa meminta ampunan (kepada Allah) dengan ucapan lisannya, sementara hatinya merasa terikat dengan perbuatan maksiat, dan bahkan ia berkeinginan kuat untuk mengulangi lagi perbuatan maksiatnya, maka puasanya ditolak Allah, dan pintu diterimanya (amal dan taubat) tertutup baginya.”

(*) TANDA KEDUA:
Semakin Bertambah Semangat Dalam Melaksanakan Amal Kebaikan Dan Ketaatan Kepada Allah.

» Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata: “Sesungguhnya diantara balasan amalan kebaikan ialah (dimudahkan Allah) melaksanakan kebaikan setelahnya. Dan diantara hukuman atas perbuatan buruk ialah melakukan keburukan setelahnya. Maka, apabila Allah telah menerima (amalan dan taubat) seorang hamba, niscaya Allah akan memberinya taufiq untuk melaksanakan ketaatan (kepada-Nya), dan memalingkannya dari perbuatan maksiat (kepada-Nya).”

» Beliau (Hasan Al-Bashri rahimahullah) juga pernah berkata:

“يا ابن آدم إن لم تكن فى زيادة فأنت فى نقصان”.

“Wahai anak cucu Adam, jika engkau tidak dalam keadaan bertambah (amalan kebaikanmu), berarti engkau benar-benar dalam keadaan berkurang (ketaatanmu kepada Allah, pent).”

(*) TANDA KETIGA:
Sabar dan Tegar Dalam Melaksanakan Ketataatan Kepada Allah Ta’ala.

Tegar dan istiqomah dalam melaksanakan ketaatan memiliki buah yang sangat agung sbgmn dikatakan oleh Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah: “Sungguh Allah yang Maha Mulia telah memberlakukan hukum kebiasaan dengan kemuliaan-Nya bahwa barangsiapa hidupnya di atas suatu kebiasaan, niscaya ia akan mati di atas kebiasaan tersebut. Dan barangsiapa yang mati dalam suatu keadaan, maka ia akan dibangkitkan Allah pada hari Kiamat di atas keadaan tersebut.”

Maka, barangsiapa terbiasa melaksanakan ketaatan kepada Allah di dalam hidupnya di dunia, niscaya Allah akan mewafatkannya dalam keadaan berbuat taat.

Hal ini sebagaimana disebutkan di dlm hadits:
بينما رجلٌ يحجُّ مع النبي صلى الله عليه وسلم فوكزته الناقة فمات فقال النبيّ صلى الله عليه وسلم: ( كفنوه بثوبيه فإنه يبعث يوم القيامة ملبّياً )

Artinya: “Tatkala ada seseorang yang menunaikan haji bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka ia terjatuh dari seekor onta (yang ditungganginya), lalu ia pun mati. Maka, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (kepada sebagian para sahabat): “Kafanilah orang ini dengan menggunakan kedua bajunya (maksudnya 2 kain ihromnya), karena sesungguhnya ia akan dibangkitkan (oleh Allah) pada hari Kiamat dalam keadaan bertalbiyah.”(HR. Imam Al-Bukhari dan Muslim).

Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda tentang seseorang yang mencuri sebagian harta rampasan perang; “Sesungguhnya benda rampasan perang yang ia curi akan ada api yang menyala padanya (pada hari Kiamat, pent).” (HR. Imam Al-Bukhari).

(*) TANDA KEEMPAT:
Bersihnya hati dari noda-noda syirik, kufur, maksiat dan penyakit-penyakit hati, seperti iri dengki, sombong, bangga diri, riya, dsb.

Tanda orang yang diterima amalnya senantiasa mengutamakan apa yang dicintai dan diridhoi Allah daripada kecintaan dan keridhoan manusia, mendahulukan perintah-perintah-Nya daripada perintah siapapun selain-Nya, dan ia mencintai orang lain karena Allah.

Ia juga sangat Jauh dari sifat hasad (iri dan dengki), kebencian dan permusuhan dengan orang lain karena urusan dunia. Ia selalu merasa yakin bahwa segala urusan berada di tangan Allah, sehingga hatinya merasa tentram dan ridho dengan keputusan-Nya. Ia juga meyakini bahwa apapun yang telah ditakdirkan oleh Alah untuk “meleset” dari dirinya, maka hal itu tidak akan menimpa dirinya. Dan apa saja yang ditakdirkan Allah akan menimpa dirinya, maka hal itu tidak akan bisa dihindari.

Yang jelas dan pasti, sikap orang yang diterima Allah amal dan taubatnya ialah selalu merasa ridho dengan takdir dan keputusan Allah dalam bentuk apapun, serta ia berbaik sangka keapda-Nya.

(*) TANDA KELIMA:
Selalu Mengingat Kehidupan Akhirat Yang Hakiki nan Abadi.

Pada suatu hari Al-Fudhoil bin ‘Iyadh rahimahullah (seorang ulama salaf dari generasi atba’ut tabi’in) bertanya kepada seorang lelaki (tua): “Berapa tahun umur yang telah kau lalui?” Ia jawab: “Sudah 60 (enam puluh) tahun.” Maka Al-Fudhoil bin ‘Iyadh berkata kepadanya: “Subhanallah, sejak 60 (enam puluh) tahun engkau masih dalam perjalananmu menuju Allah! Sebentar lagi engkau akan sampai (baca: akan mati). Ketahuilah, bahwa engkau akan diminta pertanggung jawaban oleh Allah (atas umurmu di dunia, pent). Oleh karena itu, persiapkanlah jawaban atas pertanyaan-Nya.” Maka lelaki tua itu bertanya kepadanya: “Apa yang mesti aku lakukan sekarang?” Jawab Al-Fudhoil bin ‘Iyadh: “Berbuat baiklah di sisa umurmu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu. Namun, jika engkau berbuat keburukan (dosa dan maksiat) di sisa umurmu, niscaya Allah akan menyiksamu atas dosa-dosamu yang telah lalu maupun yang akan datang.”

(*) TANDA KEENAM:
Selalu Menjaga Keikhlasan Dalam Setiap Amal Dan Kebaikan.

Pernah ada seseorang laki-laki menyampaikan suatu nasehat di hadapan imam Hasan Al-Bashri (seorang ulama tabi’in) rahimahullah. Maka imam Hasan Al-Basri berkata kepadanya: “Wahai si fulan, saya belum bisa mengambil faedah dan pelajaran dari nasehatmu. Ini bisa jadi dikarenakan hatiku yang “berpenyakit”, atau bisa jadi karena niatmu (dalam menyampaikan nasehat) yang kurang ikhlas.”

Demikianlah beberapa tanda diterimanya amal ibadah dan taubat seorang hamba. Ini hanyalah sebuah tanda atau ciri diterimanya amal. Sedangkan kepastiannya, hanya Allah Ta’ala saja yang mengetahuinya.

Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Allah menerima seluruh amal ibadah kita dan mengampuni dosa-dosa yg pernah kita lakukan. Amiin. (Cirebon, 30 Juli 2014).

» BBG Majlis Hadits, chat room Bening Hati.

Bagaimana Setelah Romadhon ?

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Tidak diragukan lagi setiap orang yang berpuasa dan menghidupkan malam Romadhon pasti berharap dan memanjatkan doa agar semua amal shalehnya diterima dan mendapat pahala.

Diterimanya amal memiliki ciri-ciri dan sifat yang dapat diharapkan, diantaranya:

** Menjumpai dirinya terdapat kebaikan dan istiqomah dalam ketaatan setelah sepeninggal bulan Romadhon dan lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

** Senantiasa mementingkan ibadah, dengan suka dan cita, menjaga amalan-amalan faridhoh atau kewajiban, seperti senantiasa menjaga sholat lima waktu di masjid dengan tetap berjamaah, cinta kema’rufan, mengamalkan dan mengajaknya, membenci munkar, menjauhi dan melarangnya.

Adapun jika seseorang tersebut setelah bulan Romadhon keadaannya sama seperti sebelumnya, bahkan lebih buruk, terus menerus dalam kubangan dosa dan kesesatan, malas dalam menjalankan kewajiban, tertawan dalam jeratan maksiat, maka semacam ini adalah alamat kesengsaraan dan tidak menggapai keuntungan. Ia tidak mampu menggunakan kesempatan emas yang sangat berharga dikarenakan tidak meminta kepada Allah magfiroh dan menjalani sebab-sebab magfiroh di bulan nan penuh keridhoan.
Maka alangkah meruginya ia dan betapa besar musibah yang ia tanggung.

Romadhon yang penuh berkah merupakan musim untuk membiasakan diri menjalankan ketaatan dan berjuang dalam ibadah dan berlomba dalam kebaikan. Dan sangatlah mengecewakan bagi seorang muslim meninggalkan ibadah selepas perginya bulan Romadhon, yang mana ia tak kenal ibadah kecuali di bulan itu saja, dan seperti mereka itu pantas untuk dikatakan:

* Wahai orang yang kenal kepada Allah di bulan Romadhon, kenapa kalian lupa terhadap Tuhan sepeninggal Romadhon ?!

* Wahai orang-orang yang mengetahui Allah memfardhukan sholat lima waktu di bulan Romadhon, kenapa kalian berubah setelah Romadhon pergi ?!

* Wahai orang-orang yang sadar bahwa Allah mengharamkan maksiat di bulan Romadhon, kenapa kalian berpura-pura lupa setelah Romadhon?!

* Wahai orang-orang yang sadar disana ada neraka dan surga di bulan Romadhon, apa sebabnya kalian berpura-pura tidak ingat setelah Romadhon?!

Maka alangkah mengherankan manusia-manusia tidak kenal agama kecuali di bulan puasa saja. Dan sebagian salaf mencela orang semacam ini seraya berkata, “Celaka suatu kaum yang tidak kenal Allah kecuali di bulan Romadhon saja”.

Sesungguhnya yang menjadi Tuhan baik di bulan Romadhon, Syawal, atau Sya’ban hakikatnya sama. Sebaiknya seorang muslim menjalankan ibadah, menjauhi maksiat adalah di setiap waktu.

Allah Ta’ala memerintahkan para hamba dalam firman-Nya: “Dan beribadahlah kalian kepada Tuhanmu hingga datang pada kalian Yakin”. (QS Al Hijr: 99). Yaitu, terus meneruslah beribadah dan berinabah kepada Allah diseluruh kehidupanmu hingga ajal menjemputmu. Karena kehidupan manusia semata-mata milik Allah dan Allah menghendaki kalian agar menghabiskan umur dalam ketaatan.

Allah berfirman: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya sholatku, berkorbanku, hidupku, matiku hanyalah milik Allah Robb Semesta Alam”. (QS. Al an’am: 162). Allah Ta’ala berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan jangan sekali-kali mati kecuali kalian islam berserah diri”. (QS Al Imron: 102).

Berkata Ibnu Katsir, “Yaitu jagalah diri kalian di atas ajaran islam di waktu sehat kalian agar ketika wafat kalian tetap dalam kondisi islam, sesungguhnya Allah akan membalas sesuai apa yang ada padanya. Dan barangsiapa hidup dalam keadaan tertentu, pasti ia mati dalam keadaan tersebut, dan barangsiapa mati dalam keadaan tertentu, ia akan dibangkitkan padanya, maka kita berlindung dari menyelisihi islam.”

Diantara doa yang mencakup segala kebaikan adalah ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, “Wahai Allah, Engkau adalah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkan aku dalam keadaan islam dan pertemukan aku dengan orang-orang shalih”. (QS. Yusuf: 101).

Sesungguhnya tiada kebaikan dan ketentraman di dunia dan akhirat kecuali dengan cara istiqomah terhadap agama dan syariatnya, bahkan baiknya perkara dunia tergantung pada baiknya urusan agama. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, perbaiki untukku perkara Agamaku, yang menjadi tonggak segala urusanku, dan perbaikilah urusan duniaku, yang menjadi ladang kehidupanku, dan dan perbaikilah perkara akhirotku yang menjadi tempat kembaliku, jadikanlah dunia sebagai bekal bagiku disetiap kebaikan, dan jadikan matiku peristirahatan dari segala keburukan”. (HR Muslim).

Maka barang siapa berkehendak hidup dengan kenyamanan di seluruh sisa umurnya wajib baginya agar berpegang teguh dengan islam dan iman, menjauh dari syirik, kufur, bid’ah dan maksiat. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhanku adalah Allah kemudian ia istiqomah, maka para malaikat turun menghampirinya seraya berkata, ‘Janganlah kalian takut dan bersedih, bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kami adalah kekasih kalian di dunia dan di akhirat,….”. (QS Fushilat: 30-33).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Barangsiapa menginginkan agar dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga, maka hendaknya di saat kematian menjemputnya, ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan memperlakukan manusia dengan apa yang ia sukai untuk dirinya diperlakukan”. (HR.muslim).

Kita memohon agar dihidupkan istiqomah diatas islam, dan diwafatkan dalam keadaan iman, dan diberi istiqomah dalam kebenaran dan petunjuk hingga kita diwafatkan.

~ disarikan dari tulisan Syaikh Abdurrozaq hafidzahullah di www.al-badr. net ~

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Halal Bihalal Antara Budaya Dan Tuntunan

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri, Lc, MA حفظه الله تعالى

Di setiap hari lebaran atau iedul fitri, ummat Islam Indonesia biasa mengadakan acara halal bihalal. Saling memaafkan dan meminta maaf, dan tentu saja diiringi dengan acara makan makan.

Meriah, semarak dan sarat dengan arti kekeluargaan. Namun demikian meriahnya acara halal bihalal sering kali menjadikan kita lalai, campur baur pria dan wanita walau tanpa hubungan mahram, bernyanyi bersama.

Seakan ied adalah alasan untuk melampiaskan hawa nafsu, makan minum sebanyak mungkin, menunda shalat, meninggalkan masjid dan melakukan apapun yang kita suka.

Seakan kewajiban menahan hawa nafsu hanya berlaku sebulan saja, sedangkan di bulan lainnya bebas kembali melampiaskannya.

Harta kekayaan hasil kerja satu tahun dihambur-hamburkan dalam rangka perayaan ied. Budaya mudik, baju baru, aneka ragam makanan, renovasi rumah, perabotan baru dan masih banyak lagi lainnya.

Pesta pora dalam rangka perayaan iedul fitri berlangsung hingga sepekan atau bahkan lebih.

Padahal sejatinya iedul fitri semasa Hidup Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam hanya sehari dan berlangsung dengan sederhana.

Sahabat Anas mengisahkan:

قدم رسول الله صلى الله عليه وسلم المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما، فقال: ” ما هذان اليومان؟ “، قالوا: كنا نلعب فيهما في الجاهلية، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ” إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما: يوم الأضحى ويوم الفطر»

“Pada awal-awal kedatangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di kota Madinah, beliau mendapatkan masyarakat setempat biasa merayakan dua hari dengan cara bermain main.

Beliau bertanya kepada penuduk setempat: ada apa dengan kedua hari kalian ini ? Mereka menjawab: dua hari ini adalah dua hari yang padanya kami biasa bermain main sejak zaman jahiliyah.

Rasulullah menimpali keterangan mereka dengan bersabda:
Sejatinya Allah telah menggantikan kedua hari permainan kalian ini dengan dua hari yang lebih baik, yaitu iedul adhha dan iedul fitri.” (Abu Dawud)

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Perusak Moral Bangsa

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

Moral bangsa Indonesia sedang diporak-porandakan oleh kaum Liberal, kaum munafiq pecinta kebebasan syahwat…

Mencampakan syari’at Islam cita-cita mereka.

KTP mereka muslim, akan tetapi hati mereka membenci syari’at Islam. Selalu berjuang untuk menolak syari’at Islam. Memperolok syari’at Islam gurauan mereka.

Selalu berjuang membela kelompok yang menyimpang.

Berbahagia jika pornografi tersebar…
Bangga jika jilbab ditanggalkan….
Bangga…jika homoseksual dilegalkan…

Gembira jika pernikahan sejenis diperjuangkan…
Ngotot agar non muslim tidak dikafirkan…
Berjuang agar non muslim juga masuk surga meskipun menyembah makhluk…

Sungguh kaum munafik yang digelari cendekiawan muslim…
Mereka adalah musibah besar bagi kaum muslimin Indonesia….
Mereka adalah anugrah besar bagi musuh-musuh Islam…
Tidak heran jika mereka disponsori oleh musuh-musuh Islam…

Kiat Istiqomah Setelah Ramadhan

Ustadz Djazuli, حفظه الله تعالى

Tobat sesaat itu mudah. Sadar sebentar itu gampang. Akan tetapi, untuk mempertahankan ketaatan, butuh perjuangan.

Istiqomah itu tidak mudah. Romadhon membimbing kita untuk menjadi orang yang istiqomah sepanjang tahun.

Namun, sudahkah istiqomah kita raih selepas Romadhon ini ? Bagaimana kiat untuk istiqomah sepanjang tahun ?

Simak penjelasan Ust Djazuli,Lc

Klik
http://m.salamdakwah.com/videos-detail/kiat-istiqomah-setelah-ramadhan.html