All posts by BBG Al Ilmu

1116. Sikap Terhadap Suami Yang Tidak Memberi Nafkah

1116. BBG Al Ilmu – 397

Tanya:
Bagaimana menyikapi suami yang tidak memberi nafkah ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Wanita berhak untuk mendapatkan nafkah walaupun dengan cara mengambil harta suami tanpa sepengetahuan suami. Ini di boleh kan sebagaimana sabda Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam , “ambil harta suami mu, untuk nafkah diri mu, dan anak anak mu, secukupnya”.

Hal ini di lakukan jikalau ia sudah meminta dengan cara yang baik tetapi di abaikan.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

Bagi Yang Bersedekah…

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Jika engkau bersedekah pada orang fakir, maka jangan engkau menilai bahwa engkau yang mulia sedangkan ia yang butuh.

Kalian berdua sebenarnya adalah orang yang butuh.

Namun hajatnya dia (orang fakir itu-pen) ada padamu….
Sedangkan hajatmu ada pada Allah…

@DrHamad_AlTuwaj

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View

Perangai Palsu

Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Sahabat…

Hari ini kita selalu dihadapkan dengan dunia yang berlumur gincu dan menyatu dalam perangai-perangai palsu. Nyaris tak ada keaslian. Kepintaran masa kini selalu saja melahirkan eksperimen-eksperimen baru tentang keindahan. Semua carapun ditempuh, dimulai dengan pemaknaan yang sering dipaksakan, atau imajinasi-imajinasi keindahan yang liar dan ilusif. Perlahan-lahan semua mengarah secara masif ataupun personal pada fase hidup yang menyukai kepalsuan.

Keadaan semakin keruh ketika sebagian orang mengejar ke’aku’annya dalam pujian-pujian manusia atas apa yang tak pernah diraihnya. Bersikaplah jujur dan apa adanya.

Karena kesederhanaan hidup adalah sebuah pilihan.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Nasehat Syaikh Abdul Muhsin Al Abbad, حفظه الله تعالى

Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Penanya:
Wahai Syaikh.. Dinegeri kami banyak tersebar bid’ah dan tashawwuf. Bila hari raya tiba sebagian saudara kami dari ahlussunnah tidak ikut bersenang-senang sebagaimana yang lain. Mereka sibuk dengan menyelenggarakan dauroh ini dan itu, ceramah ini dan itu untuk memanfaatkan momen. Apakah ini dibenarkan wahai Syekh…?

Syaikh:
Hal itu tidak seharusnya dilakukan.

Penanya:
Berarti mereka itu termasuk mubta’di (ahli bid’ah)…??

Syaikh:
Apakah semua harus dihukumi dengan bid’ah..?? Katakan bahwa hal tersebut tidak layak dilakukan dihari ied, katakan juga bahwa tidak ada sunnah yg menunjukkan hal tersebut.

Aku nasehatkan (ditempat seperti itu) tinggalkan kebiasaan, sedikit-sedikit bid’ah, sedikit-sedikit bid’ah.

Tinggalkan dan jauhi istilah bid’ah itu. Katakan bahwa hal tersebut tidak ada contohnya. Hal tersebut juga tidak selayaknya dilakukan pada hari ied.

Jangan bermudah-mudah dalam memvonis bid’ah.”

Penanya:
Terima kasih Syaikh, ahsanallahu ilaikum.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Mereka Akan Menjadi Saksi

Janganlah engkau memusuhi syaitan tatkala di hadapan manusia, namun engkau menjadi sahabatnya tatkala bersendirian.

Tatkala engkau menutup pintu kamar, lalu menengok ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihatmu, tatkala itu ingatlah :

1)  Allah Maha Melihat dan Mendengar..

2)  Jangankan gerakan tubuhmu, bahkan lirikan dan jelalatan matamu diketahui oleh Allah bahkan telah dicatat oleh Allah sebelum engkau mengedip matamu, bahkan isi hatimu diketahui oleh Allah..

3)  Allah mengadakan pengawasan yang ketat dengan menugaskan para malaikat untuk mencatat segala gerak-gerikmu. Bahkan malaikat Raqib dan ‘Atid senantiasa menyertaimu..

4)  Bukan hanya buku catatan amalanmu yang akan menjadi saksi kelak pada hari kiamat, bahkan tanganmu dan kakimu akan menjadi saksi, sementara mulutmu ditutup, maka bagaimana engkau bisa membela dirimu..?

5) Bahkan kulitmu akan berbicara membeberkan aib-aibmu yang kau lakukan tatkala bersendirian …

6) Demikian juga bumi tempat pijakmu tatkala engkau bermaksiat akan ikut pula menjadi saksi …

7)  Lantas bagaimana lagi jika ternyata yang memaparkan files aib-aibmu dan yang akan mengadilimu adalah Allah..

8)  Lantas bagaimana lagi jika pengumbaran aib-aibmu ternyata di hadapan khalayak ramai, di hadapan kedua orang tuamu, istrimu, anak-anakmu, para sahabatmu, & murid-muridmu yang selama ini hanya mengenal penampilanmu sebagai orang baik di hadapan mereka..?

Ya Allah anugrahkanlah kepada kami rasa khosyah kepada-Mu tatkala kami bersendirian.

Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

 

Bukan Menolak…

Ustadz Aan Chandra Thalib حفظه الله تعالى

Bukan menolak poligami, hanya saja sampanku terlalu kecil untuk bertiga. Lagipula aku tak bisa melukis wajah lain diatas kanvas hidupku.

Karena dia terlalu indah untuk diduakan.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Ibarat Pena

Manusia dan amal perbuatannya itu ibarat pena yang terus menulis hingga habislah tintanya, setelah itu yang tersisa hanyalah tulisannya.

Terkadang sang pena menulis kebaikan akan tetapi banyak pena yang lebih sering menulis keburukan.

Manusia adalah makhluk yang aktif, hampir setiap detik yang ia lewati pasti aktif dalam amal perbuatan.. hingga akhirnya iapun sirna..

Yang tersisa hanyalah amal perbuatannya yang akan dijadikan bahan bukti persidangan dalam persidangan akhirat kelak.

Ditulis oleh,
Ustadz Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Andakah Pemilik Agama Islam ?

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

Sobat! Betapa banyak tokoh ummat Islam yang telah mengukirkan sejarah perjuangan dan pengorbanannya untuk kejayaan Islam. Jiwa, raga, tenaga dan segala yang mereka miliki dicurahkan untuk Islam. Tiada pamrih yang mereka nantikan dari perjuangan dan pengorbanan itu selain kejayaan Islam.

Mereka berjuang, bukan untuk dikenang atau dianggap pahlawan.

Mereka berkorban bukan karena menanti imbalan selain imbalan dari Allah.

Mereka berperang bukan karena Islam adalah agama warisan nenek moyang yang harus diperebutkan atau dilestarikan agar tetap menguntungkan.

Semua itu mereka lakukan demi menuruti tuntutan suara iman dan panggilan Islam.

Suatu hari ada seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam:

يَا رَسُولَ اللهِ، الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُذْكَرَ، وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ، فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللهِ؟

“Ya Rasulullah, ada lelaki yang berperang demi mendapatkan rampasan perang, ada pula yang berperang agar dikenang, dan ada pula lelaki yang berperang agar dikenal perjuangan/keberaniannya, siapakah dari mereka yang pantas disebut berperang di jalan Allah ?”

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab:

«مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللهِ أَعْلَى، فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللهِ»

“Siapapun yang berperang guna menegakkan kalimatullah / agama Allah, maka dialah yang pantas disebut berperang di jalan Allah.” (Muttafaqun Alaih)

Mengilhami hadits ini, Imam Syafii rahimahullah berkata:

وددت أن الناس تعلموا هذا العلم ولا ينسب لي منه شيء

“Aku mendambakan, andai semua manusia mempelajari ilmu-ilmuku ini, walaupun tiada satupun yang mereka akui sebagai ilmuku.”

Perkataan Imam Syafii ini menggambarkan betapa sempurnanya keikhlasan beliau. Berdakwah dan mengajarkan ilmu bukan agar diakui sebagai ulama’ atau dianggap sebagai penemu atau yang disebut dengan “YANG BABAT ALAS” alias perintis.

Hanya ada satu harapan beliau, dicatat di sisi Allah telah berjuang dan menyebarkan dan mengajarkan kebenaran kepada orang lain.

Beliau berjuang dan berdakwah bukan karena merasa sebagai pemilik agama Islam atau penguasa ummat Islam. beliau melakukan semua itu demi mendapatkan keridhoan Allah Azza wa Jalla.

Islam adalah milik Allah Azza wa Jalla, sedangkan kita adalah penerima anugrah islam. Kalaulah bukan anugrah dari Allah, niscaya hati kita tidak pernah terbuka untuk menerima Islam.

فَمَن يُرِدِ اللهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

“Maka barang siapa yang Allah kehendaki untuk mendapatkan petunjuk, maka Allah pasti melapangkan dadanya untuk menerima Islam. Namun orang yang Allah kehendaki agar tersesat, maka Allah jadikan dadanya terasa sempit dan terhimpit (susah menerima kebenaran), seakan akan ia naik menuju ke atas langit. Demikianlah Allah menjadikan kehinaan/ kesesatan menimpa orang orang yang tidak beriman.” (Al an’am 125)

Sobat! Jangan pernah anda sibuk memperebutkan klaim islam adalah milik anda, dan anda adalah penguasa atau pemimpin Islam. Namun menjeritlah dalam batin anda: apa yang telah saya perbuat untuk kejayaan Islam?

Islam senantiasa memanggil anda.

Islam senantiasa menanti bukti keislaman anda.

Islam senantiasa menanti pengorbanan dan kesungguhan anda membela dan memperjuangkan Islam.

Sampai kapankah anda terus menunda dan menunda pengorbanan untuk Islam ?

View

Hukum Jama’ Qoshor

Ustadz Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Pertanyaan :
Bismillah, Ustadz, ana safar lebih dari tiga hari di suatu tempat. Apakah lebih utama ana sholat fardu berjamaah bersama imam di masjid untuk setiap waktu sholat atau lebih utama ana menjalankan jama’ dan qoshor?

Penanya : Mubarok – Semarang
Email: mubaroxxx@plasa.com

Jawaban :
Seorang musafir yang bepergian disyari’atkan mengqashar sholat. Artinya meringkas sholat yang empat rakaat menjadi dua rakaat sedangkan yang tiga rakaat tetap seperti sedia kala. Selama berada dalam hukum safar maka diperbolehkan melakukannya apabila sholat sendiri atau menjadi imam tanpa dibatasi jumlah hari tertentu.

Namun bila menjadi makmum kepada imam yang mukim maka menyempurnakannya empat rakaat sama dengan imamnya. Demikian juga ketika ia menjadi masbuq dan hanya menjumpai imam dua rakaat, mak ia harus menyempurnakannya menjadi empat rakaat sama dengan imamnya.

Sedangkan jama’ tidak harus dilakukan bersama qashar, karena keduanya berbeda hukum. Memang kadang keduanya berkumpul pada musafir yang membutuhkan untuk menjama’ sholat. Menjama’ dua sholat disyari’atkan kalau ada kebutuhan atau masyaqqah (kesusahan) untuk melaksanakan sholat pada setiap waktunya. Jadi tidak terbatas hanya pada musafir.

Tentang permasalahan yang saudara kemukakan, perlu melihat kepada keadaan saudara ketika dalam safar tersebut. Bila tidak ada kesusahan atau masyaqqah untuk hadir dimasjid berjamaah maka berjamaah bersama imam di Masjid lebih utama. Apabila ada kebutuhan atau keperluan dan merasakan kesusahan (masaqqah) bila sholat setiap waktu bersama imam masjid maka lebih baik menjama’nya. Hal ini karena Allah taala menginginkan kemudahan kepada hamba-Nya.

http://klikuk.com/hukum-jamaqoshor/

View

Jangan Sampai Terlupa Amalan Berikut

Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal, MSc, حفظه الله تعالى

Betapa banyak orang lalai dari amalan yang satu ini ketika malam Jum’at atau hari Jum’at, yaitu membaca surat Al Kahfi.

Atau mungkin sebagian orang belum mengetahui amalan ini. Padahal membaca surat Al Kahfi adalah suatu yang dianjurkan (mustahab) di hari Jum’at karena pahala yang begitu besar sebagaimana berita yang dikabarkan oleh orang yang benar dan membawa ajaran yang benar yaitu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadits pertama:
“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada malam Jum’at, dia akan disinari cahaya antara dia dan Ka’bah.” (HR. Ad Darimi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6471)

Hadits kedua:
“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi pada hari Jum’at, dia akan disinari cahaya di antara dua Jum’at.” (HR. An Nasa’i dan Baihaqi. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shohih sebagaimana dalam Shohihul Jami’ no. 6470)

Inilah salah satu amalan di hari Jum’at dan keutamaan yang sangat besar di dalamnya. Akankah kita melewatkan begitu saja ?

Semoga Allah selalu memberikan kita ilmu yang bermanfaat dan dimudahkan untuk beramal sholeh sesuai tuntunan Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shollallahu ‘ala nabiyyiina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

Ref:
http://rumaysho.com/amalan/jangan-lupakan-membaca-surat-al-kahfi-di-hari-jumat-202

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

View