All posts by BBG Al Ilmu

Resep Panjang Umur

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Sobat ! Pernahkah anda mendengar tentang resep atau kiat panjang umur ? Ada yang meyakini bahwa yoga dapat memanjangkan umur, ada pula pernapasan, ada lagi minuman mineral atau jamu atau lainnya.

Dan barang kali anda kini sedang menjalani serangkaian kiat untuk dapat memanjangkan umur anda.

Sobat, ketahuilah bahwa ajal anda adalah urusan takdir ilahi, tidak mungkin diajukan atau ditunda walau hanya sekejap.

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

“Setiap ummat telah memiliki ajal, dan bila ajal mereka telah tiba maka mereka tidak dapat menundanya walau hanya sesaat dan tidak pula menyegerakannya.” (Al-Aaraf 34)

Bila demikian, apa gunanya semua kiat yang anda lakukan untuk memanjangkan umur ?

Bukankan lebih bijak bila anda memikirkan kiat agar dapat mengoptimalkan waktu yang ada dengan melipat gandakan amal dalam waktu atau umur yang ada? Demikianlah dahulu pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وحياتك قبل موتك

“Dan optimalkan hidupmu sebelum tiba ajalmu.” (Al Hakim dll).

Dan kalaupun umur anda benar dapat diperpanjang, apa yang akan anda lakukan ? Bukankah dengan umur yang sekarang benar-benar anda miliki, terlalu sedikit ibadah yang anda lakukan dan sebaliknya terlalu banyak dosa yang anda kerjakan ?

 Ditulis oleh Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri حفظه الله تعالى

https://id-id.facebook.com/DrMuhammadArifinBadri

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1099. Bolehkah Membunuh Nyamuk Dan Serangga Dengan Alat Penyengat (Raket) Listrik..?

1099. BBG Al Ilmu

TANYA
Bagaimana sebenarnya menurut ulama, hukum membunuh serangga, nyamuk dll dengan raket listrik ?

JAWAB
Diperbolehkan memakai alat penyengat listrik untuk membunuh serangga (nyamuk dll).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah dalam Liqo-at Al Bab Al Maftuh (no 59/pertanyaan no. 12) berkata:

“Tidak ada yang salah dengan (memakai alat penyengat listrik) dan bahwa ini tidak masuk dalam perkara “menyiksa dengan api/membakar”

Karena menurut apa yang kita tahu tentang hal itu, serangga mati sebagai akibat dari sengatan listrik dan buktinya adalah jika anda mengambil selembar kertas dan menempelkannya ke alat ini (kertas tersebut) tidak akan terbakar, yang menunjukkan bahwa hal ini tidak masuk dalam perkara “pembakaran” melainkan masuk dalam perkara “sengatan listrik”, sama seperti halnya jika seseorang menyentuh kabel listrik yang rusak/terbuka, ia akan meninggal tanpa terbakar…”

Syaikh Muhammad Al Munajjid hafizhahullah menambahkan:

“Adapun setrum, adalah berbeda dari api, karena membunuh dengan listrik mengacu pada penggunaan arus listrik untuk menghancurkan sel-sel dan memecahkan pembuluh darah secara cepat..

Jika arus listrik ditingkatkan maka panas yang dihasilkan akan tampak pada korban sebagai perubahan warna dan hangus, sehingga tampak seolah-olah ia telah dibakar dengan api, namun kenyataannya adalah listrik dan bukan api…”

والله أعلم بالصواب

Ref:
http://www.islam-qa.com/en/105190

https://bbg-alilmu.com/archives/3356

ARTIKEL TERKAIT
Hukum Membunuh Lalat Dengan Lem

Jenis-Jenis Syukur

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Macam-macam syukur ada tiga:

1. Bersyukur dengan lisan Orang yang bersyukur senantiasa akan memuji Tuhannya, mengucapkan hamdalah jika mendapat nikmat, beristighfar jika melakukan kesalahan, mengucapkan subhanallah jika melihat ciptaan-Nya, menasehati saudaranya yang salah. Sehingga bentuk syukur dengan lisan adalah dengan memuji sang pemberi Nikmat yaitu Allah .

2. Bersyukur dengan hati. maksudnya adalah mengingat dan menggambarkan kenikmatan itu semata karena anugerah Allah yang maha Kuasa. Ditambah dengan menampakkan kecintaan dan pengagungan kepada Allah yang maha pemberi nikmat dengan tanpa menyandarkan kenikmatan tersebut kepada kekuatan diri sendiri.

3. Bersyukur dengan amal perbuatan. Maksudnya membalas kenikmatan sesuai dengan haknya. Hal ini dapat dilakukan dengan melakukan perbuatan ketaatan dan menggunakan kenikmatan tersebut untuk taat kepada Allah dan tidak untuk memaksiati Allah. Diantara bentuknya adalah memberikan banyak kebaikan kepada orang lain. Bersyukur sangat dituntut dilakukan dalam keseharian. perilaku yang baik, santun, jujur, ramah tamah adalah bagian dari rasa syukur itu sendiri.

Hal ketiga inilah yang paling penting dalam kehidupan kita sekarang ini. Sehingga Allah memerintahkan keluarga nabi Dawud untuk beramal sebagai wujud syukurnya dalam firman Allah :

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakiNya dari gedung-gedung yang Tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih. (QS Saba’ : 13).

Para ulama tafsir menafsirkan firman Allah (Bekerjalah Hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah)) dengan pengertian kerjakanlah pekerjaan kalian sebagai wujud syukur kepada Allah. Dalam ayat ini Allah menjelaskan dengan kata bekerjalah (اعملوا) dan tidak menyatakan: (Syukurlah) untuk menjelaskna hubungan erat antara tiga macam syukur yaitu syukur dengan hati, syukur dengan lisan dan syukur dengan seluruh anggota tubuh.

Syukur kepada Allah dengan sempurna adalah perkara sulit, oleh karena itu Allah tidak memuji hamba-hambaNya dengan syukur dalam al-Qur’an kecuali dua orang saja yaitu Nabi Ibrohim –alaihissalam- dalam firman Allah: (lagi) yang mensyukuri nikmat-nikmat Allah. Allah telah memilihnya dan menunjukinya kepada jalan yang lurus. (an-nahl : 121)

Sedangkan orang kedua adalah nabi Nuh –alaihissalam- dalam firman Allah: (yaitu) anak cucu dari orang-orang yang Kami bawa bersama-sama Nuh. Sesungguhnya Dia adalah hamba (Allah) yang banyak bersyukur. (Qs al-Isra’ : 3)

Walaupun syukur itu sukar dilakukan secara sempurna namun kita harus berusaha menyempurnakan rasa syukur kita kepada Allah, semoga berhasil.

http://m.klikuk.com/jenis-jenis-syukur/

– – – – – •(*)•- – – – –

View

 

Kewajiban “Mengaji” Hanya Kepada Ulama Ahli Sunnah

Ust. Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله تعالى

عَنِ ابْنِ عُمَرَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَّ، أَنَّهُ قَالَ : ” يَا ابْنَ عُمَرَ دِينُكَ دِينُكَ، إِنَّمَا هُوَ لَحْمُكَ وَدَمُكَ، فَانْظُرْ عَمَّنْ تَأْخُذُ، خُذْ عَنِ الَّذِينَ اسْتَقَامُوا، وَلا تَأْخُذْ عَنِ الَّذِينَ مَالُوا“

» Diriwayatkan dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Ibnu ‘Umar, (jagalah)agamamu!, (jagalah) agamamu! Sesungguhnya agamamu adalah daging dan darahmu, maka perhatikanlah dari siapa kau mengambilnya. Ambillah (ilmu agamamu) dari orang-orang yang istiqomah (komitmen di atas sunnah, mengikuti tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, pent), dan janganlah kau mengambilnya dari orang-orang yang menyimpang (terhadap sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, pent).”. (Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Khothib Al-Baghdadi di dalam Al-Kifayaatu fii ‘Ilmi Ar-Riwaayah no. 306, dengan sanad yang Dho’if (lemah), namun makna (matan)nya Shohih).

» Hadits ini maknanya sesuai dengan atsar (perkataan ulama sunnah) yang diriwayatkan dari Muhammad bin Sirin (seorang ulama tabi’in) dan imam Malik bin Anas rahimahumallah serta sejumlah ulama as-salafus sholih lainnya, mereka berkata:
إِنَّ هَذَا الْعِلْمَ دِينٌ ، فَانْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ دِينَكُمْ

Artinya: “Sesungguhnya agama (Islam) ini adalah ilmu, maka perhatikanlah darimana kalian mengambil (ilmu) agama kalian.” (Lihat Fadhlul ‘Ilmi Wa Adaabu Tholabihi Wa Thuruqu Tahshiilihi Wa Jam’ihi, karya Abu Abdillah Muhammad bin Sa’id bin Ruslan, hal.128)

» Muhammad bin Siiriin rahimahullah juga pernah berkata:
لَمْ يَكُونُوا يَسْأَلُونَ عَنِ الإِسْنَادِ، فَلَمَّا وَقَعَتِ الْفِتْنَةُ، قَالُوا: سَمُّوا لَنَا رِجَالَكُمْ، فَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ السُّنَّةِ ، فَيُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ، وَيُنْظَرُ إِلَى أَهْلِ الْبِدَعِ، فَلَا يُؤْخَذُ حَدِيثُهُمْ

» Artinya: “Dahulu mereka (para ulama dari generasi sahabat Nabi dan tabi’in, pent) tidak pernah menanyakan tentang isnaad (jalur periwayatan hadits), tetapi ketika munculnya fitnah (pemahaman kelompok bid’ah), maka kami (Ahlus sunnah) berkata (kepada setiap penyampai hadits dan ilmu agama, pent), “Sebutkan nama-nama guru kalian,” Maka jika kami melihatnya dari Ahlus-Sunnah, kami akan mengambil haditsnya. Akan tetapi jika dari golongan Ahli bid’ah, maka kami tidak mengambil haditsnya.”. (Lihat Muqoddimah Shohiih Muslim, karya imam An-Nawawi rahimahullah, I/33)

» Abdullah bin ‘Aun rahimahullah berkata: “Tidak boleh diambil ilmu
(agama) ini melainkan daripada orang yang telah diakui pernah menuntut ilmu (agama) sebelum itu (yakni pernah menimba ilmu dari para ulama Sunnah, pent).” (Lihat Al-Jarhu Wa At-Ta’dil I/ 28).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari ini. Smg mudah dipahami dan diamalkan serta menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat. (Klaten, 15 Mei 2014)

» BBG Majlis Hadits, room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Doa Seorang Muslim Kepada Saudaranya

Ust. Ibnu_Mukhtar, حفظه الله تعالى

Segala puji hanyalah milik اللّـﮧ. Sholawat dan salam untuk Rosululloh. Amma ba’du!

Saudaraku seislam yang saya muliakan, mendoakan ampunan dan kebaikan untuk saudaranya seislam termasuk akhlak mulia yang diajarkan Islam. Ia merupakan salah satu tanda jauhnya hati seorang muslim dari kedengkian dan kebencian kepada saudaranya seislam. Siapa yang dikaruniakan hati demikian sudah semestinya ia memuji Alloh, dan siapa yang merasakan selain itu maka banyak memohon ampun kepada Alloh Ta’aala adalah di antara obatnya yang paling mujarrob.

Amir bin Abdillah at-Tamimi ~rohimahulloh~ mengatakan dalam salah satu doa yang dipanjatkannya :

“Ya اللّـﮧ , waktu Shubuh telah datang, manusia segera bangun dan pergi mencari karunia-Mu. Sesungguhnya masing-masing mereka memiliki keperluan, dan sesungguhnya keperluan Amir di sisi-Mu adalah agar Engkau mengampuninya. Ya اللّـﮧ, kabulkanlah keperluanku dan juga keperluan mereka..” [Mereka adalah Tabi’iin hal. 29-30]

Syaikh Muhammab bin Abdul Wahhab rohimahulloh ~lahir 1115 H n wafat 1206 H~ dalam al-Qowaa’idul arba’ :
 
أسأل الله الكريم رب العرش العظيم أن يتولاك في الدنيا والآخرة، وأن يجعلك مباركا أينما كنت، وأن يجعلك ممن إذا أعطى شكر، وإذا ابتلي صبر، وإذ أذنب استغفر

“Aku memohon kepada Alloh yang Maha Mulia Pemilik ‘Arsy Yang Agung agar memimpinmu dalam  kehidupan di dunia dan di akhirat. Dan menjadikan kamu termasuk orang diberkahi di mana saja kamu berada. Dan semoga Dia menjadikan  kamu termasuk orang yang jika diberikan nikmat ia bersyukur, jika diberikan cobaan ia bersabar dan jika berdosa ia memohon ampun kepada Alloh.”

Aamiin..aamiin..aamiin..

Semoga risalah sangat sederhana ini bermanfaat. Jangan lupakan doa terbaikmu untukku dan untuk seluruh kaum muslimin.

بارك اللّـﮧ فـيكم

Wa shollallohu wa sallama ‘alaa Nabiyyina Muhammad

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Ingat Mati Merupakan Sebab Khusyu’ Di Dalam Sholat

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz, حفظه الله تعالى

Khusyu’ di dalam sholat merupakan salah satu sifat orang-orang beriman dan bertakwa yang telah dipuji dan dijanjikan oleh Allah Ta’ala kepada mereka bahwa mereka akan masuk ke dalam Surga-Nya yang penuh dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang hakiki nan abadi, dan terbebas dari siksa api Neraka-Nya yang sangat pedih dan menakutkan.

Hanya saja, upaya untuk dapat mewujudkan rasa khusyu’ di dalam sholat tersebut merupakan amalan yang sangat berat nan sulit bagi seorang hamba, apalagi bagi orang yang tidak paham aqidah islam yang benar, dan di saat iman melemah serta berbagai godaan dan fitnah dunia semakin kuat dan dahsyat.

SERING MENGINGAT KEMATIAN MERUPAKAN OBAT MUJARAB YANG MEMBANTU KITA UNTUK KHUSYU’ DI DALAM SHOLAT

» Di dalam sebuah hadits, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan umatnya agar banyak mengingat kematian karena ia dapat membantu seorang hamba untuk mewujudkan rasa khusyu’ di dalam sholatnya seraya bersabda:

اذكرِ الموتَ فى صلاتِك فإنَّ الرجلَ إذا ذكر الموتَ فى صلاتِهِ فَحَرِىٌّ أن يحسنَ صلاتَه وصلِّ صلاةَ رجلٍ لا يظن أنه يصلى صلاةً غيرَها وإياك وكلَّ أمرٍ يعتذرُ منه

Artinya: “Ingatlah kematian dalam sholatmu, karena jika seseorang mengingat mati dalam sholatnya, maka ia akan memperbagus sholatnya. Sholatlah seperti sholatnya orang yang tidak menyangka bahwa ia masih punya kesempatan melakukan sholat yang lainnya. Hati-hatilah dengan perkara yang kelak malah engkau meminta udzur (baca: meralatnya atau menyampaikan alasan-alasan) (karena tidak bisa memenuhinya dengan baik dan benar, pent).” (HR. Ad-Dailami di dalam Musnad Al-Firdaus.

Hadits ini Derajatnya dinyatakan HASAN oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah Ta’ala).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yg dpt kami share pd pagi hari ini. Smg bermanfaat bagi kita semua. (Klaten, 12 Mei 2014).

» BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1098. Hukum Seputar Membaca Al-Qur’an Dari Ponsel Dan Mushaf Elektronik

1098. BBG Al Ilmu – 41

Tanya:
Bagaimana hukum membaca al-Qur’an dari ponsel, apakah sama pahala dan hukum dan adab nya dengan membaca dari mushaf ?

Jawab:
Tidak ada perbedaan antara membaca Al-Qur’an dari mushaf atau membaca dari mushaf elektronik, halaman di Internet, atau dari layar ponsel. Yang penting adalah membaca, menggerakkan bibir dan melihat ke kalimat Allah yang tertulis, dan semua itu telah terpenuhi ketika membaca dari sebuah layar elektronik, dan dia juga mendapatkan ‘pahala membaca’ sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut (yang artinya):
” Barang siapa yang membaca satu huruf dari Al-Qur’an maka baginya kebaikan sepuluh kali lipat, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Lam satu huruf, Mim satu huruf.” (HR At-Tirmidzi, 2910. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih at–Tirmidzi).

Berkaitan dengan pertanyaan apakah membaca Al-Qur’an dari ponsel harus berwudhu dahulu, Syaikh Shalih Al -Fauzan hafizhohullahu ta’ala menjawab:

“Ini adalah jenis kemewahan yang muncul di kalangan masyarakat. Mushaf, Alhamdulillah, sudah tersedia di masjid-masjid dan dalam edisi cetak yang bagus, dan tidak perlu membacanya dari ponsel. Tetapi jika itu terjadi maka kami berpendapat  bahwa itu TIDAK masuk dalam hukum yang sama seperti Mushaf …Adapun ponsel , itu tidak dapat disebut Mushaf.”

Oleh karena itu, tidak mengapa membaca Al-Qur’an dari mushaf elektronik, atau dari halaman di Internet, atau dari layar ponsel TANPA wudhu’, dikarenakan tidak menyentuh Al-Qur’an, melainkan seperti membaca dari mushaf tanpa menyentuhnya, sama halnya seperti jika Mushaf berada dihadapan seseorang dan ia membaca darinya tanpa menyentuhnya, dan ini memudahkan bagi perempuan yang sedang menstruasi dan bagi yang tidak bisa membawa Mushaf dengan mudah, atau bagi seseorang yang berada di tempat di mana sulit baginya untuk berwudhu.

والله أعلم بالصواب
Ref:
http://islamqa.info/en/108477

http://islamqa.info/en/106961

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1097. Hukum Menjaga Acara Keagamaan Non-Muslim Sebagai Aparat

1097. BBG Al Ilmu – 207b

Tanya:
Bagaimana hukumnya ketika seorang ikhwan menjadi petugas keamanan (co : TNI, Polisi, dll) mendapatkan tugas untuk menjaga suatu acara yang tidak ada dalam ajaran islam ? atau bahkan mendapatkan tugas untuk menjaga acara-acara agama lain ?

Jawab:
Ust. Muhammad Abduh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Kalau itu karena ingin menjalani tugas, dan ia tidak mendukung ritual keagamaan non-muslim secara langsung, maka boleh.

Alasannya karena itu tugas aparat demi menjaga kestabilan, keamanan dan mereka punya kepentingan. Sedangkan pihak lain yang bukan aparat, tidak boleh turut di dalamnya.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

1096. Apa Yang Harus Dilakukan Bila Imam Melakukan Kesalahan ?

1096. BBG Al Ilmu – 199

Tanya:
Pernah terjadi kepada kami dimana kami shalat berjama’ah 3 orang, pada saat roka’at ketiga imam lupa dan ahirnya membaca tahiyat awal seperti roka’at kedua. Kami para makmum juga ragu-ragu dengan jumlah roka’at, dan kami putuskan ikut imam tanpa menegur kesalahannya.

Disaat masuk roka’at keempat ada keyakinan bahwa tadi memang keliru.

Pertanyaannya:
1, Apa yang harus makmum lakukan disaat ada keyakinan di roka’at keempat itu ?

2. Disaat kejadian itu makmum putuskan tetap ikut imam yang pada ahirnya sholat kelebihan 1 roka,at, sah tidak sholatnya ?

Jawab:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’, Lc حفظه الله تعالى

1. Tetap mengikuti imam. Yang sebetulnya harus dilakukan adalah ketika imam salah maka makmum harus mengingatkan imam dengan mengucapkan: “Subhanallah”.

2. Ketika makmum mengikuti imam, setelah salam maka makmum itu harus menerangkan kepada imam, bahwa shalatnya lebih satu raka’at. Yang mana kemudian imam melakukan sujud sahwi diikuti oleh makmumnya.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Tanda-Tanda Kerasnya Hati

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Hati yang keras memiliki tanda-tanda yang bisa dikenali, di antara yang terpenting sebagai berikut :

1. Malas Melakukan Kataatan dan Amal Kebaikan.

Kita lihat sekarang banyak sekali diantara kita yang malas sholat lima waktu berjamaah dengan alasan kesibukan dunia. Bahkan ada yang meninggalkan sholat jum’at tanpa udzur syar’i. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda:

لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

“Hendaknya kaum tersebut berhenti meninggalkan shalat jum’at atau Allah akan keraskan hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR Muslim).

Juga berapa banyak orang yang enggan berzakat dengan alasan banyak pengeluaran pribadi dan lainnya. Mereka lupa kalau hati mereka telah mengeras dan telah memiliki sifat-sifat munafiqin yang di jelaskan dalam firman-Nya, yang artinya, “Dan mereka tidak mengerjakan shalat, melainkan dengan malas dan tidak (pula) menafkahkan (harta) mereka, melainkan dengan rasa enggan.” (At-Taubah : 54)

2. Tidak Tersentuh Oleh Ayat Al-Qur’an dan tidak dapat mengambil pelajaran.

Berapa banyak kita membaca al-Qur`aan bahkan mengkhatamkannya sekali atau dua kali namun kalbu kita tidak tersentuh dan bergetar sedikitpun. Berbeda dengan hati yang sehat dan lembut Ketika disampaikan ayat-ayat yang berkenaan dengan janji dan ancaman Allah, maka tidak terpengaruh sama sekali, tidak mau khusyu’ atau tunduk, dan juga lalai dari membaca al-Qur’an serta mendengarkannya, bahkan enggan dan berpaling darinya. Sedang kan Allah Subhannahu wa Ta’ala telah memperingatkan, artinya, “Maka beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.” (Qaaf : 45)

3. Tidak Tersentuh dengan Ayat.

Tidak tergerak kalbu kita dengan terjadinya peristiwa dan kejadian alam, seperti kematian, sakit, bencana dan semisalnya. Padahal semua itu menunjukkan kemaha kuasaan Allah atas seluruh makhluknya. Kita memandang kematian atau orang yang sedang diusung ke kubur sebagai sesuatu yang tidak ada apa-apanya, padahal cukuplah kematian itu sebagai nasihat. Lihatlah firman Allah yang artinya: “Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertaubat dan tidak (pula) mengambil pelajaran?” (At-Taubah :126)

4. Mendahulukan kelezatan Dunia dari Akhirat.

Kalbu yang tidak tersentuh dengan ayat-ayat Allah baik berupa al-Qur`an ataupun ayat-ayat kauniyah akan mendahulukan dunia dari akherat. Bahkan kadang semangat dan keinginannya tertumpu untuk urusan dunia semata . Segala sesuatu ditimbang dari sisi dunia dan materi. Cinta, benci dan hubungan dengan sesama manusia hanya untuk urusan dunia saja. Ujungnya, jadilah dia seorang yang dengki, egois dan individualis, bakhil dan tamak terhadap dunia.

Kita lihat banyak orang yang mendengar kumandang adzan tapi tidak segera bersiap ke masjid karena lezatnya tidur dibalik selimut atau mengakhirkan sholat karena menonton pertandingan sepak bola. Padahal Allah telah berfirman yang artinya:

“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS al-A’laa: 16-17).

5. Kurang Mengagungkan.

Kalbu yang mengeras akan kehilangan rasa cemburu, kekuatan iman padanya melemah dan tidak marah ketika larangan Allah diterjang, serta tidak mengingkari kemungkaran.

Setelah itu ia tidak dapat mengenal yang ma’ruf serta tidak peduli terhadap segala kemaksiatan dan dosa. Hal ini mengakibatkan kalbu tidak lagi mengagungkan Allah dan kekuasaanNya.

6. Kemaksiatan dan kezhaliman Berantai karena kezhaliman muncul dari kegelapan kalbu.

Sebagaimana disampaikan ibnu al-jauzi dalam ugkapan beliau: kezhaliman muncul dari kegelapan kalbu, karena seandainya kalbu mengambil cahaya petunjuk (Hidayah), tentulah ia akan memandang akibatnya, (lihat Fathu alBaari 5/100).

Demikian juga kemaksiatan akan melahirkan kemaksiatan baru akibat dari kemaksiatan yang telah dilakukan sebelumnya, sehingga menjadi sebuah lingkaran setan yang sangat sulit bagi seseorang untuk melepaskan.

Inilah sebagian tanda kerasnya hati akibat perbuatan dosa dan kemaksiatan, agar kita semua dapat introspeksi diri dan merubah diri menjadi insan kamil yang didam-idamkan.

Wabillahi taufiq

– – – – – •(*)•- – – – –

http://m.klikuk.com/tanda-tanda-kerasnya-hati/

View