All posts by BBG Al Ilmu

1095. Bagaimana Cara Mengusir Jin Dari Tempat Usaha ?

1095. BBG Al Ilmu

Tanya:
Bolehkah kita ruqyah tempat kerja, yaitu dengan membaca ayat-ayat ruqyah di sebuah wadah/tempat yang berisi air kemudian kita siram di tempat usaha kita (siram /mandikan kapal dengan air ruqyah) ? Kalo tidak boleh, bagaimana harusnya “membersihkan” tempat kerja dari aura jahat ?

Jawab:
Ust. Ammi Nur Baits, حفظه الله تعالى

Pada prinsipnya, ruqyah digunakan untuk orang yang sakit, bukan untuk tempat.
Demikian penjelasan As Syaikh DR. Ibrahim Ar-Ruhaili dalam kajian beliau di masjid Nabawi.

Sementara untuk tempat, cara yang paling efektif dalam hal ini adalah membacakan surat Al-Baqarah, satu surat penuh. Ini berdasarkan hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لا تجعلوا بيوتكم مقابر، إن الشيطان ينفر من البيت الذي تقرأ فيه سورة البقرة

“Jangan kalian jadikan rumah kalian seperti kuburan. Sesungguhnya setan lari dari rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah di dalamnya.” (HR. Muslim 780, At-Turmudzi 2877)

Sahabat Ibnu Mas’ud mengatakan:

إِنَّ الشَّيْطَانَ إِذَا سَمِعَ سُورَةَ الْبَقَرَةِ تُقْرَأُ فِي بَيْتٍ، خَرَجَ مِنْهُ

“Sesungguhnya setan, apabila mendengar surat Al-Baqarah dibacakan dalam rumah, maka dia akan keluar dari rumah itu.” (HR. Ad-Darimi 3422, At-thabrani dalam Mu’jam Al-Kabir 8642).

Untuk penjelasan lebih lanjut, silahkan buka link berikut:

http://www.konsultasisyariah.com/cara-mengusir-jin-dari-rumah/

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

1094. Bagaimana Bila Suami Pelupa ?

1094. BBG Al Ilmu

Tanya:
Suami saya waqaf tanah dan gedung untuk sekolah dan kini dalam masa perluasan sekolah. Uang waqaf pembangunan dari suami saya.

Namun kini suami sudah sakit-sakitan, mudah marah dan pelupa. Jika diminta dana untuk pembangunan sekolah bilangnya nanti-nanti, dan bila dapat uang langsung minta dimasukkan ke rekeningnya dan tidak pernah keluar lagi. Padahal pembangunan sekolah perlu dana.

Terakhir suami dapat uang cukup besar (warisan keluarganya), namun saya tidak kasi tahu suami dan saya simpan di satu rekening khusus (atas nama saya) dan saya kasi tahu ke anak-anak kami (sudah dewasa semua) bahwa uang ini untuk selesaikan sekolah. Niat saya baik yaitu agar pembangunan sekolah bisa lancar. Jika saya kasi tahu suami pasti dia akan minta uangnya di simpan di rekeningnya dan tidak dikeluarkan meskipun kita ingatkan soal sekolah. Jawabnya nanti-nanti dan terus lupa.

Mohon nasehatnya:

1. Apakah yang saya lakukan ini benar ?

2. Jika ajal suami datang, apakah semua hartanya jadi waris ? Atau kita sisihkan dulu sebagian untuk selesaikan sekolah ?

Jawab:
Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Uang waris yang anda simpan tanpa pemberitahuan kepada suami adalah salah. Hendaknya di beri tahu, dan di serahkan kepada nya. Karena wakaf pembangunan gedung membutuhkan izin dan kerelaan sang suami. Jika tidak mendapat izin maka tidak di wakafkan. Bisa jadi suami memiliki niatan tersendiri/kebutuhan tertentu yang bisa di tanyakan dengan baik-baik. Karena wakaf adalah suatu ibadah mulia yang butuh ke-ikhlasan.

Harta akan menjadi warisan jika setelah dikurangi hal ini: kebutuhan keperluan jenazah, hutang, wasiat. Jika tidak ada wasiat untuk wakaf maka akan menjadi harta waris.

Menyisihkan harta tanpa izin dan kerelaan maka tidak di benarkan. Anda bisa mengembangkan sekolah itu dengan membuka sumbangan wakaf dari pihak lain, baik luar/dalam negeri dari para donatur yang ada.

والله أعلم بالصواب

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Menyingkat Salam Atau Menyempurnakannya ?

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله تعالى

Salah satu bentuk ibadah yang terlalaikan, namun dianggap sebagai hal biasa di kalangan kaum muslimin sekarang ini adalah menulis salam dan shalawat dengan disingkat. Padahal telah diketahui bahwa dalam kaidah penggunaan bahasa Arab, kesempurnaan tulisan dan pembacaan lafadz akan mempengaruhi arti dan makna dari sebuah kata dan kalimat.
Lalu, bagaimana jika salam dan shalawat disingkat dalam penulisannya?

Apakah akan merubah arti dan makna kalimat tersebut?

** Adab Menulis Salam

Kata salaam memuat makna keterbebasan dari setiap malapetaka dan perlindungan dari segala bentuk aib dan kekurangan. Salaam juga berarti aman dari segala kejahatan dan terlindung dari peperangan.

Oleh karena itu, Islam memerintahkan supaya menampakkan salam dan menyebarluaskannya (Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali dalam kitab Bahjatun Naadzirin Syarah Riyadhush Shalihin, Bab Keutamaan Salam dan Perintah Untuk Menyebarluaskannya).

Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang artinya, “Dan apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (Qs. An-Nisaa’: 86)

Baca lengkap KLIK :

http://klikuk.com/adab-salam-dan-shalawat/

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Jerat-Jerat Setan Dalam Menggoda Manusia

Ust. Abdussalam Busyro, حفظه الله تعالى

Firman اَللّهُ سبحانه وتعالى :
“Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hambaMu yang mukhlis di antara mereka. (Shad: 82-83)

Ibnul Qayyim menyebutkan dalam kitab Al Bada’iul Fawaaid: “Sesungguhnya setan mengajak manusia kepada enam perkara, ia baru melangkah kepada perkara kedua bila perkara pertama tidak berhasil dilakukannya.

Langkah2 setan dalam menggoda manusia:

1. Mengajaknya berbuat syirik dan kekufuran. Jika hal ini berhasil dilakukannya berarti setan telah menang dan tidak sibuk lagi dengannya.

2. Jika tidak berhasil, setan akan mengajaknya berbuat bid’ah. Jika sudah terjerumus ke dalamnya maka setan akan membuat bid’ah itu indah dimatanya hingga ia rela dan setanpun membuatnya puas dgn bid’ah itu.

3. Jika tidak berhasil juga, setan akan menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa besar.

4. Jika tidak berhasil, setan akan menjerumuskannya ke dalam dosa-dosa kecil.

5. Jika ternyata tidak berhasil juga setan akan menyibukkannya dengan perkara-perkara mubah hinggai ia lupa beribadah.

6. Jika tidak mempan juga, setan akan membuainya dengan perkara-perkara kurang penting hingga ia abaikan perkara-perkara terpenting.

7. Jika gagal juga maka setan akan melakukan tipu daya terakhir, yaitu mengerahkan bala tentaranya dari jenis manusia untuk menyerang orang-orang yang berpegang teguh dengan agamanya.

Allah Ta’ala mengabarkan bahwa dikalangan manusia ada juga yang berperan sebagai setan, firman Allah Subhana Wata’ala:
“Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin.
(Al-An’am: 112).

Oleh sebab itu banyak kita temui setan-setan jenis manusia, ada yang menyeru kepada kekufuran, syirik, mengajak orang berbuat dosa baik dosa besar maupun dosa kecil, atau mengajak kepada perbuatan-perbuatan yang melalaikan

(Ust Abdus Salam Busyro, Lc)

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Bersabarlah…

Ust. M Abduuh Tuasikal, حفظه الله تعالى

Fashbir Shobron Jamiilaa Yaa Akhi

Sabarlah dengan sabar yang indah (QS. Al Ma’arij: 5)

Maksudnya?

Bersabarlah tanpa berputus asa. (Tafsir Al Jalalain)

Kita butuh sabar seperti ini supaya bisa ajeg (tetap, rutin, terus-menerus) dalam ibadah dan ketaatan.

Kita butuh sabar seperti ini untuk menghindarkan diri dari yang haram dan maksiat.

Kita butuh sabar seperti ini dalam menghadapi takdir ilahi yang kita rasa menyakitkan.

Sabarlah tanpa berkeluh kesah. Sabarlah tanpa batas.

Pahala bersabar adalah surga.

M. Abduh Tuasikal,
Pengasuh Rumaysho.Com

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Buat Apa Bekerja Keras Sampai Lembur Segala ? Kan Urusan Rejeki Sudah Ditakdirkan Alias Telah Dijamin ? Sedangkan Surga Atau Neraka Harus Diupayakan, Alias Belum Ada Jaminan…

Ust. DR. Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Satu motivasi untuk beribadah dan mengutamakan urusan akhirat yang nampak indah dan menyejukkan hati. Terlebih bagi anda yang telah memahami bahwa urusan dunia begitu hina dina sedangkan akhirat begitu mulia, dan memahami bahwa urusan rejeki benar-benar urusan kodrat ilahy.

(يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْساْ لَنْ تَمُوَت حَتىَّ تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا، فَاتَّقُوا الله وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ، خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرَمَ). رواه ابن ماجة

“Wahai umat manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi, karena sesungguhnya tidaklah seorang hamba akan mati, hingga ia benar-ebnar telah mengenyam seluruh rizqinya, walaupun telat datangnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan tempuhlah jalan yang baik dalam mencari rizqi. Tempuhlah jalan-jalan mencari rizki yang halal dan tinggalkan yang haram.” (Riwayat Ibnu Majah)

Mendengar motivasi ini, anda semakin tergugah untuk meningkatkan ibadah, dan zuhud terhadap urusan dunia. Tentu saja ini adalah sikap yang begus dan patut diapresiasi.

Walau demikian, sadarkah anda bahwa ungkapan di atas walau bertujuan baik, namun disadari atau tidak mengandung kesalahan besar. Karena ternyata urusan surga dan neraka juga telah menjadi bagian dari kodrat ilahy.

Suatu hari Nabi shallallahu alaihi wa sallam menghadiri penguburan seorang jenazah. Sambil menanti proses penggalian selesai, berliau duduk lalu bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلاَّ وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلاَّ وَقَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً ».

“Tiada seorang jiwapun melainkan Allah telah menuliskan tempat kembalinya, baik di surga atau di neraka, dan juga telah dituliskan apakah ia berbahagia atau sengsara.

Tak ayal lagi, pernyataan Nabi shallallahu alaihi wa sallam ini mengejutkan para sahabat, sehingga salah seorang dari mereka segera bertanya: Wahai Rasulullah , bila demikian apa tidak lebih baik kita mengandalkan catatan takdir kami dan meninggalkan segala bentuk amalan (usaha)?

Menanggapi pertanyaan ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ

“Siapapun yang ditakdirkan termasuk dari orang yang berbahagia niscaya ia berhasil mengamalkan amalan orang-orang yang berbahagia. Sebaliknya orang yang ditakdirkan menjadi bagian dari orang-orang serangsara, niscaya ia hanyut dalam amalan orang-orang sengsara.”

“Beramallah kalian, karena setiap orang pastilah mendapat kemudahan. orang-orang yang berbahagia pastilah dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang berbahagia. Sedangkan orang-orang sengsara pasti pula dimudahkan untuk hanyut dalam amalan orang-orang sengsara.”

Selanjutnya beliau membaca ayat berkut:

( فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan memudahkan baginya jalan yang mudah (kebahagiaan). Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan memudahkan baginya (jalan) yang sukar (kesengsaraan).” (Al Lail 5-10)

Semoga bermanfaat.

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Renungan Menjelang Tidur

Ust. Ferry Nasution, حفظه الله تعالى

Saudaraku yang baik hati..
Jangan tertipu dengan usia muda, karena syarat mati tidak harus tua….

Jangan terpedaya dengan badan sehat, karena syarat mati tidak harus sakit…

Tundukkan diri kita diatas hukum Allah Azza wa Jalla, tundukkan pikiran dan logika dibawah Al Qur’an dan sunnah. Karena islam bukan bersumber dari buah pemikiran atau kepandaian merangkai kata, islam bersumber dari Al Qur’an dan hadits Nabi صلى الله عليه وسلم

Teruslah berbuat baik, bertaubat dan beristighfar akan setiap perbuatan dosa yang kita lakukan, bertutur katalah yang baik, serta terus memberikan nasehat yang baik yang bersumber dari alqur’an dan sunnah yang murni, walau tak banyak orang mengenal dirimu.

Cukuplah Allah Azza wa Jalla, mengenalimu lebih dari pada yang lain.

Jadikanlah dirimu seperti jantung yang tidak terlihat, tapi terus berdenyut setiap saat dan bermanfaat dalam kehidupanmu, sehingga membuat kita terus hidup sampai diberhentikan oleh Allah Azza wa Jalla, semoga kita jadi umat yang terbaik dan menjadikan akhir kehidupan kita yang baik

Semoga bermanfaat
بارك الله فيكم

 Ditulis oleh Ustadz Ahmad Ferry Nasution, حفظه الله تعالى

– – – – – •(*)•- – – – –

View

Adab Menebar Berita

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Dan apabila sampai kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka (langsung) menyiarkannya. (Padahal) apabila mereka menyerahkannya kepada Rosul dan Ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya (secara resmi) dari mereka (Rosul dan Ulil Amri). Sekiranya bukan karena karunia dan rahmat Allah kepadamu, tentulah kamu mengikut setan, kecuali sebagian kecil saja (di antara kamu)..” (An Nisaa : 83)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’diy rohimahullah menafsirkan ayat tersebut. Beliau berkata:

“Ini adalah adab dari Allah untuk hamba-hambaNya..

Apabila datang perkara yang penting.. yang berhubungan dengan keamanan dan kegembiraan kaum muslimin..
Atau ketakutan yang ada padanya musibah untuk mereka..

Agar memeriksa dengan teliti..
Dan jangan tergesa gesa menyebarkannya..
Tetapi hendaklah mereka mengembalikan kepada Rosul..
Dan kepada alim ulama..
Yang amat memahami kemashlahatan dan mudhorotnya..

Jika mereka memandang mashlahat untuk disebarkan..
Memberikan kegembiraan kepada kaum muslimin dan terlindung dari musuh mereka..
Mereka lakukan..

Namun jika memandang mudhorotnya lebih besar..
Mereka tidak menyebarkan..”

(Taisir Karimirrohman hal 154).

Buat anda yang suka menshare berita..
Renungkanlah ucapan beliau ini..

Baarakallahu fiikum..

Ditulis oleh,
Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Beginilah Cara Menasehati Diri Kita Sendiri

Ust. M Wasitho, حفظه الله تعالى

قال الفضيل بن عياض –رحمه الله- يعاتب نفسه :
يا مسكين! أنت مسيء، وترى أنك محسن، وأنت جاهل، وترى أنك عالم، وتبخل، وترى أنك كريم، وأحمق، وترى أنك عاقل، أجلك قصير، وأملك طويل. (سير أعلام النبلاء (8/ 440)

» Al-Fudhail bin ‘Iyadh (seorang ulama sunnah dari generasi atba’ut-tabi’in) rahimahullah  pernah mencela dirinya sendiri (sebagai bentuk nasehat dan peringatan) seraya berkata: “Wahai orang yang malang.
** Engkau berbuat buruk sementara engkau memandang dirimu sebagai orang yang berbuat kebaikan.
** Engkau adalah orang yang bodoh sementara engkau justru menilai dirimu sebagai orang berilmu.
** Engkau kikir sementara itu engkau mengira dirimu orang yang pemurah.
** Engkau dungu sementara itu engkau melihat dirimu cerdas.
** Ajalmu sangatlah pendek, sedangkan angan-anganmu sangatlah panjang.”
(Lihat Siyaru A’laami An-Nubalaa’ karya imam Adz Dzahabi  VIII/440, dan Aina Nahnu min Akhlaaqi as-Salaf, karya syaikh Ahmad Farid, hal. 15).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada pagi hari Ahad ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. (Klaten, 11 Mei 2014).

– – – – – •(*)•- – – – –

View