All posts by BBG Al Ilmu

Tj Allah Menginginkan Kebaikan Kepada Manusia

103. Tj – 5

Pertanyaan:

: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz…akhi…tolong sharing ilmu dong..
Td pagi ana dapat pertanyaan spt ini:
“Sebelum wafat Rasulullah pernah berwasiat kpf Abudzar (mgkn Abudzar Al giffar), yaitu bila Allah menginginkan kebaikan kepada manusia, maka Allah akan selalu memberikan bayangan dosa2 manusia tsb, tp bila Allah menginginkan keburukan makan bayangan dosa2 akan ditutup…”

Bagaimana dgn pernyataan ini, apakah ada dalam hadits shahih?  Krn penanya membaca ini dr sebuah buku, ana lupa buka apa td katanya…

Mohon bantuan jawaban?
Syukron…Jazaakumullahu khoyr..

Jawaban:

Mungkin hadits berikut yang dimaksud:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إذا أراد الله بعبده الخير عجل له العقوبة في الدنيا و إذا أراد بعبده الشر أمسك عنه بذنبه حتى يوافي به يوم القيامة

“Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada hambaNya, Allah akan segerakan sanksi untuknya di dunia. Dan apabila Allah menginginkan keburukan kepada hambaNya, Allah akan membiarkan dosanya (di dunia) sampai Allah membalasnya pada hari kiamat.” (HR At Tirmidzi dan Al Hakim dari Anas bin Malik, Dishahihkan oleh Syaikh Al AlBani dalam shahih Jami’ no 308)

http://cintasunnah.com/mereka-yang-diinginkan-kebaikan-oleh-allah/

Jangan Tamak Sementara Tetangga Kelaparan

“Celakalah kita! Apa yang kita perbuat terhadap diri kita sendiri!! Kita telah merendahkan agama kita dan meninggikan dunia, kita membiarkan akhlak kotor dan memperbarui tempat tidur dan pakaian. Salah seorang di antara kita bersandar dengan tangan kirinya dan makan dari harta yang bukan miliknya, makanannya di dapat dari hasil menyerobot, pelayannya dipaksa tanpa upah, meminta yang manis setelah asam, meminta yang panas setelah dingin, dan meminta yang basah setelah kering sehingga ketika dia telah kenyang, menguap karena kepenuhan, kemudian berkata, ‘Wahai pelayan! ambilkan pencerna makanan! Wahai orang bodoh – Demi Allah – Jangan sekali-kali kamu mencerna kecuali agamamu!

Di mana tetanggamu yang mengaharap uluran tanganmu?!!

Di mana anak yatim kaummu yang lapar?!!

Di mana orang miskinmu yang melihatmu?!!

Di mana wasiat yang Allah Azza wa Jalla sampaikan kepadamu?!!

Barangkali kamu mengetahui bahwa kamu berjumlah banyak. Dan bahwasanya setiap matahari hari ini terbenam, maka berkuranglah jumlahmu sementara sebagian kamu pergi bersamanya.’”
(Dari pernyataan Hasan al-Bashri).

Mari kita lihat diri kita semoga bisa memotivasi kita menjadi lebih baik!

 Ditulis oleh Ustadz Kholid Syamhudi Lc حفظه الله تعالى

Kaidah-Kaidah Metode Beragama Aswaja

(1/8)

Kita akan mempelajari secara berkala kaidah2 yg berkaitan dg metode beragama ahlussunnah waljama’ah yg disarikn dr kitab Al Ishbah fi Bayan Manhajis Salaf fitTarbiyati wal Ishlah yg ditulis olh Syeikh Abdullah bin Sholih Al Ubailan&dikoreksi serta diberikan kta pengantar oleh Syeikh Sholih Fauzan.

Kaidah I :
“Agama islam dibangun diatas 2 pondasi, yaitu ikhlas&mutaba’atur rasul.”

——-Pondasi pertama:

Mengikhlaskan niat kita hanya u/ Allah dlm setiap amal ibadah, brdsrkn firman Allah dlm AlBayyinah- 5:

‫‫وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ‬‬

“Padahal merka tdk disuruh kec. spy menyembah Allah dg mengikhlaskn/memurnikn ketaatan kpd-Nya dlm (menjlnkan) agama dg lurus&spy mreka mendirikan salat&menunaikan zakat; &yg demikian itulah agama yg lurus.”

——-Pondasi ke-2:

Mutaba’ah, yaitu akidah serta amal ibadah kita sesuai dg apa yg disyari’atkan Rasulullah  صلى الله عليه وسلم .Hal ini bdsrkn ayat dlm Ali Imran-31:

‫‫قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ‬‬

Katakanlh:”Jika kamu (benar2) mencintai Allah,ikutilah aku,niscaya Allah mengasihi&mengampuni dosa2mu”,& Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang

Dan dua pondasi ini dihimpun Allah ta’ala dlm Al Mulk-2:

‫‫الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ‬‬

“yg menjadikan mati&hidup, spy Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yg paling baik amalnya.& Dia Maha Perkasa lgi Maha Pengampun.”

Fudhail bin ‘Iyadh berkta:“Makna ahsanu ‘amala adlh yg paling ikhlas&yg paling benar.”Lalu beliau ditanya:“Apa yg paling ikhlas&yg paling benar?”Beliau mnjwb:“Ikhlas:apa2 yg dikerjakn u/ Allah,& hal yg benar adlh apa yg sesuai dg assunnah

(Ibnu Abi Dunya dlm kitabnya Al Ikhlas wanNiyyah)

Kaidah ke-2:
“Sumber syari’at,dakwah&ibadah adlh AlQur’an&AsSunnah”

Allah taala brfrman:

‫‫وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ‬‬

“&taatilah Allah&Rasul,spy kmu diberi rahmat.”(QS.Ali Imran:132)
‫‫يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ‬‬

“Hai org2 yg beriman,jngnlh kamu mendahului Allah&Rasul-Nya&bertakwalah kpd Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lgi Maha Mengetahui.”(QS. Al Hujurat:1)Rasulullah   صلى الله عليه وسلم bersabda:
‫‫تَرَكْتُ فِيْكُمْ شَيْئَيْن لَنْ تَضِلُّوْا بَعْدَهُمَا: كِتَابُ الله وَ سُنَّتِي‬‬

“Aku tingglkan u/ kalian 2 hal yg kalian tdk akan tersesat setelahnya, Kitabullah & Sunnahku.”(HR. Hakim)

Ini adlh penyempurnaan dr kaidah seblmx bhw ssngghnya sebuah amal tdk akan diterima di sisi Allah kecuali dg 2 syarat:

a.  dikerjakan dg penuh keikhlasan
b.  & mengikuti syari’at atau tuntunan Rasulullah
Dan u/ mengtahui syariat Rasulullah kita hrs kembali ke sumberx yg otentik yaitu AlQur’an&AsSunnah(hadits2 Nabi yg shahih/valid).

Berangkat dari hal ini,kita memetik sebuah pelajaran berharga bhw keta’atan mutlak hanyalah u/ Allah & u/ Rasul-Nya krn beliau tdk mensyariatkan kecuali dg apa2 yg Allah perintahkan, sebgmn firmanNya:
‫‫وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى (3) إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَى‬‬

“&tiadlh yg diucapkannya (Rasulullah) itu menurut kemauan hawa nafsunya (3)Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yg diwahyukan(kpdnya).”(AnNajm;3-4)

Sedangkan selain Rasulullah,jika kita ta’at kpd mereka mk ketaatan kita kpd mrka jk mrka mengikuti Rasulullah صلى الله عليه وسلم,bukan ketaatan scr mutlak.

Adapun jk mrka salah&menyelisihi Al Qur’an&As Sunnah mk mrka tdk dita’ati,hal ini berdsrkn sabda Nabi  صلى الله عليه وسلم:

‫‫لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوقٍ فِي مَعْصِيَةِ الْخالِق‬‬

“tdk ada ketaatan kpd makhluk dlm kemaksiatan kpd Allah.”(HR. Ahmad)

Oleh : Ust. Muhammad Nuzul, Lc حفظه الله تعالى

Tj Sikap Islam Terhadap Perbudakan

102. Tj – 5

Pertanyaan:
Apakah berarti islam mendukung/memperbolehkan perbudakan? Jika begitu,apa bedanya dengan agama hindu yg jg memisahkan manusia dgn kasta2. sehingga bisa memandang hina manusia lain yg tidak sederajat/seiman? 3 hal terakhir menjelaskan berubahnya nasib seorang budak.bukankah semua tergantung pemiliknya? Bgmn jika pemilik itu seorang kejam dan jahat,yg tdk akan pernah mau memerdekakan,tdk pernah memberi nafkah lahir (cuma makanan doang) dan jika ada yg hendak menebusnya,dia jual sgt mahal spy tdk ada yg mau/bisa? Dan sepengetahuan saya,budak bisa diwariskan kan? Lalu jika itu budak wanita cantik bapaknya,digauli bapaknya,punya anak dr bapaknya,bapaknya mati,diwariskan pd anak laki2nya…digauli pula? Keluar anak pula?..bgmana anak2 tsb?. Mohon penjelasan Terimakasih.

Jawaban:
Syaikh Abu Bakar al-Jazairy berkata dalam Minhajul Muslim hal. 459:

“Jika ada orang yang bertanya: Mengapa Islam tidak mewajibkan pembebasan budak, sehingga seorang muslim tidak memiliki alternatif lain dalam hal ini?

Jawabannya: Sesungguhnya Islam datang pada saat perbudakan telah tersebar dimana-mana, karena itu tidaklah pantas bagi syari’at Islam yang adil, yang yang menjaga jiwa, harta dan kehormatan seseorang manusia untuk mewajibkan kepada manusia agar membuang harta mereka secara sekaligus.

Sebagaimana juga, banyak budak yang tidak layak untuk dimerdekakan, seperti anak-anak kecil, para wanita, dan sebagian kaum laki-laki yang belum mampu mengurusi diri mereka sendiri dikarenakan ketidak mampuan mereka untuk bekerja dan dikarenakan ketidak tahuan mereka tentang cara mencari penghidupan.

Untuk kelanjutan ulasan yang bagus ini, silahkan buka link berikut:

http://almanhaj.or.id/content/3062/slash/0/sikap-islam-terhadap-perbudakan/

Tj Menerima Hadiah Dari Non Muslim

101.Tj – 235

Pertanyaan:
Assalamu alaikum ustadz, ana mau tanya, bagaimana hukumnya menerima sumbangan dari yayasan non muslim, terima kasih,

Jawaban:
Ust. Fuad Hamzah Baraba’ Lc

Selama tdk mengikat untuk hal-hal kepentingan mereka, boleh2 saja. Namun apabila dia tdk menerima sumbangan mereka itu lbh berwibawa dihadapan mereka.

Tambahan tim Tj:
Fatwa Syaikh Muhammad Al Imam hafizhahullah:

Sudah ma’ruf (diketahui bersama) bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam terkadang menerima hadiah dari orang kafir. Dan terkadang beliau menolak hadiah dari sebagian para raja dan pemimin kaum kafirin. Oleh karena itu para ulama memberikan kaidah dalam menerima hadiah dari orang kafir. Demikian juga halnya hadiah dari ahli maksiat dan orang yang menyimpang.

Yaitu, jika hadiah tersebut tidak berpotensi membahayakan bagi si penerima, dari segi syar’i (agama), maka boleh. Namun jika hadiah itu diberikan tujuannya agar si penerima tidak mengatakan kebenaran, atau agar tidak melakukan suatu hal yang merupakan kebenaran, maka hadiah tersebut tidak boleh diterima.

Demikian juga jika hadiah itu diberikan dengan tujuan agar masyarakat bisa menerima orang-orang kafir yang dikenal tipu daya dan makarnya, maka saat itu tidak boleh menerima hadiah. Untuk lengkapnya, silahkan buka link berikut:

http://muslim.or.id/fatwa-ulama/fatwa-ulama-hukum-menerima-hadiah-dari-non-muslim-di-hari-raya-mereka.html

Tj Syariat Umat Terdahulu

100. Tj – 2

Pertanyaan:
Maaf mengganggu, tdi sy di teman saya menanyakan… Bagaimana muslimin di jaman sebelum nabi muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam melaksanakan syariat, sedangkan shalat lima waktu diturunkan pada jaman Nabi Muhammad shollallahu ‘alaihi wasallam ? Seperti apa ibadah mereka, (cara solat mreka)

Jawaban:
Ust. Mukssin Suaidi Lc
وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته
Untuk mengetahui cara beribadah para Nabi alaihimussalam sebelum Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam kita harus memiliki sumber berita yang bisa dipertanggung jawabkan. Sumber yang bisa dipertanggung jawabkan kebenarannya dalam masalah semacam ini adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah, berikut ini beberapa nash yang menyinggung masalah ini:

Pertama: Dalam surat Al-Baqarah ayat 183 disebutkan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Kedua: Dalam surat Ibrahim ayat 40 disebutkan:
رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ
Ya Rabbku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.

Ketiga: Dalam surat Yunus ayat 87 disebutkan:
وَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى وَأَخِيهِ أَنْ تَبَوَّآ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ بُيُوتًا وَاجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قِبْلَةً وَأَقِيمُوا الصَّلاةَ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya: “Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal bagi kaummu dan Jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan dirikanlah olehmu shalat serta gembirakanlah orang-orang yang beriman”.

Keempat: Dalam surat Maryam ayat 31 disebutkan:
وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ وَأَوْصَانِي بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا
Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup;

Kelima: Dalam surat Maryam ayat 58 disebutkan:
أُولَئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا إِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, Yaitu Para Nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. apabila dibacakan ayat-ayat Allah yang Maha Pemurah kepada mereka, Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.

Keenam: Dalam surat Al-Baqarah ayat 125 disebutkan:
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan Jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.

Ketujuh: Dalam surat Ali Imron ayat 43 disebutkan:
يَا مَرْيَمُ اقْنُتِي لِرَبِّكِ وَاسْجُدِي وَارْكَعِي مَعَ الرَّاكِعِينَ
Hai Maryam, taatlah kepada Rabbmu, sujud dan ruku’lah bersama orang-orang yang ruku’

Kedelapan: Dalam surat Shad ayat 18 disebutkan:
إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالإشْرَاقِ
Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama Dia (Daud) di waktu petang dan pagi.

Kesembilan: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda setelah melakukan gerakan wudhu sebanyak tiga kali-tiga kali:
هَكَذَا وُضُوءُ نَبِيِّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَوُضُوءُ النَّبِيِّينَ قَبْلَهُ، أَوْ قَالَ: هَذَا وُضُوئِي وَوُضُوءُ الْأَنْبِيَاءِ قَبْلِي
Beginilah wudhu Nabi kalian shallallahu alaihi wa sallam dan wudhu para Nabi sebelumnya, atau ia berkata ini (model.pen) wudhuku dan wudhu para Nabi sebelumku. HR. Ibnu Syahin di At-Targhib fi Fadhail Al-A’mal no.23  Dihasankan oleh Al-Albani di Silsilah Al- Ahadits Ash-Shahihah 1/524 no.261

Dari Nash-Nash di atas bisa disimpulkan bahwa syariat ibadah yang diturunkan kepada Para Nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam ada yang berupa Shalat, Puasa dan Zakat, wudhu, Bertasbih dll akan tetapi detail dari itu semua tidak kami ketahui karena kami belum mengetahui dalil yang memberikan gambaran rinci ibadah-ibadah tersebut.

Ketika syaikh Ibnu Baz ditanya tentang bentuk shalat para Nabi sebelum Islam Beliau menjawab:
Allah lebih tahu dengan shalat Para Nabi itu. Kita diperintahkan melaksanakan shalat dalam bentuk yang diperintahkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam, maka kita wajib melaksanakan shalat sebagaimana shalatnya Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِي أُصَلِّي
Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihatku melaksanakan shalat. HR. Bukhari. no. 631. Majmu’ Fatawa Ibnu Baz 29/237 no.155

Nasehat kami kepada penanya masalah ini. Sibukkanlah diri Anda dengan mempelajari syariat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, sebab itu lebih penting dibanding mencari perincian ibadah para Nabi sebelum Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam. Setiap Muslim wajib mempelajari syariat Islam yang penting dalam kehidupannya masing-masing, seperti tauhid, shalat, zakat, puasa haji dan lain-lain. Mempelajari perkara-perkara itu membutuhkan waktu yang tidak pendek bila Muslim tersebut sungguh-sungguh dan ingin mendapatkan perincian. Jangan sampai mempelajari perincian ibadah para Nabi sebelum Nabi Muhammad melalaikan kita dari mempelajari apa yang penting dalam agama kita, dan yang akan memberi manfaat untuk dunia dan akhirat kita.

وبالله التوفيق

 

 

Tj Tertinggal Shalat Qobliya Zhuhur

99. Tj – 399

Pertanyaan:
Mau bertanya tentang solat kobliyah. Dalam tata cara solat sunnah kobliyah dzuhur disunnahkan mengerjakan 4 raka’at (2raka’at, 2raka’at). Nah pertanyaanya, apakah boleh solat sunnah kobliyah dzuhur dilakukan sebelum Adzan dzuhur ? Mengingat di masjid rata2 waktu antara adzan dzuhur ke ikomat terlalu cepat atau kadang mustahil kita mengerjakan 4 raka’at di antara andzan dan ikomat.

Jawaban:
A) Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Qudamah: “Setiap sunnah rawatib qobliyah maka waktunya dimulai dari masuknya waktu sholat fardhu hingga sholat fardhu dikerjakan, dan sholat rawatib ba’diyah maka waktunya dimulai dari selesainya sholat fardhu hingga berakhirnya waktu sholat fardhu tersebut “. (Al-Mughni  2/544)

http://muslim.or.id/fiqh-dan-muamalah/tuntunan-shalat-sunnah-rawatib.html/comment-page-1

B) Bagaimana jika tertinggal qobliyah Zuhur ?

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Para ulama berkata, jika anda tertinggal melakukan shalat qabliyah Zuhur dua rakaat, maka lakukanlah shalat tersebut setelah shalat, karena dia terhalang melakukannya sebelum shalat. Hal ini sering terjadi apabila seseorang datang ke masjid sementara iqamah shalat sudah dilakukan. Dalam kondisi ini hendaknya dia mengqadhanya setelah shalat Zuhur.Akan tetapi hendaknya dia melakukan shalat rawatib setelah Zuhur dahulu sebelum melakukan rawatib qabliyah Zuhur.

Dalilnya sebagaimana dijelaskan dalam hadits ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha:
“Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu, bila tidak shalat empat rakaat sebelum Zhuhur, maka beliau lakukan setelahnya.”

HR at-Tirmidzi dalam kitab ash-
Shalat, Bab: Minhu Aakhar, no. 426, dan Ibnu Majah dalam kitab Iqâmatush-Shalat was-Sunnah fîha, Bab: Man Fâtathu al-Arba’ Qablal-Zhuhur, no. 1158; dan dishahîhkan Syaikh al-Albâni dalam Shahîh Sunan at-Tirmidzi (1/134).

http://islamqa.info/id/ref/114233

http://almanhaj.or.id/content/3506/slash/0/shalat-sunah-rawtib-zhuhur/

——————————————-

Tj Hadits Seputar Shalat Shubuh Berjama’ah Di Masjid

98. Tj – 385

Pertanyaan:
Derajad hadistnya bagaimana Ustad dibawah ini :
1. Pergi ke Masjid untuk shalat dalam keadaan bersuci.

Dari Abu Umamah, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang keluar menuju shalat wajib maka pahalanya seperti berhaji. Dan siapa yang keluar menuju sholat dluha dan tidak ada tujuan untuk itu, maka pahalanya seperti pahala umroh”. (HR. Abu Dawud)

2. Pergi ke masjid untuk menuntut atau mengajarkan ilmu.
Dari Abu Umamah, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang pergi ke masjid tidak ada niat kecuali untuk mempelajari ilmu atau mengajarkannya, maka pahalanya seperti pahala haji yang sempurna hajinya”. (HR Thabrani)

3. Shalat shubuh berjama’ah lalu duduk berdzikir sampai matahari terbit kemudian shalat dua raka’at.
Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda: “Siapa yang shalat shubuh berjama’ah lalu duduk berdzikir sampai matahari terbit, kemudian shalat dua raka’at, maka pahalanya seperti pahala haji dan umroh sempurna sempurna sempurna”. (HR Tirmidzi)

Dan dua raka’at tersebut yang zahir adalah dua raka’at dluha, berdasarkan hadits Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda:”Maukah aku beritahukan yang lebih cepat kembalinya dan lebih besar pahalanya? Yaitu seseorang yang berwudlu lalu pergi ke masjid dan shalat shubuh kemudian dilanjutkan dengan shalat dluha..”. (HR. Abu Ya’la dalam shahih targhib no 669)

4. Berumroh di bulan ramadlan.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda: “Umroh di bulan ramadlan sama seperti haji bersamaku”. (HR Thabrani)

Jawaban:
Ust. Badrusalam Lc

Shahih.