
All posts by BBG Al Ilmu
Lebih Kecil Dari Kutu, Lebih Dahsyat Dari Tentara Sekutu…
Ayah bunda, semoga rahmat dan berkah Allah senantiasa mengairi hidup kalian.
Memang anak adalah buah hati, belahan jiwa dan kebanggaan orang tua, sehingga cinta kasih orang tua tercurah deras bak hujan di bulan januari dan lebih lengket ketimbang perangko.
Sayang…..kadang cinta kasih kita berikan kepada anak berlebihan dan tidak mendidik sehingga menyulut bara fitnah. Akhirnya tanpa sadar kita masuk ke dalam firman Allah,
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ [الأنفال : 28]
“Dan ketahuilah bahwa harta kalian dan anak-anak kalian itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar.”
Kalau mau jujur, kita sebagai orang tua kadang menyayangi anak sering bercampur aduk dengan emosi, nafsu dan perasaan, bahkan sering sibuk dalam hal-hal kurang mendasar karena terbawa perasaan dan melupakan masalah yang fundamental seperti perhatian terhadap aqidah, manhaj, akhlak dan ibadah mereka terutama shalat.
Contoh sederhana, kita sering bingung karena hp anak kita jadul, sepatu sudah usang, kendaraan tidak layak dan laptop tidak cocok zaman now. Namun kita kadang lalai bahaya virus yang lebih dahsyat ketimbang serangan TENTARA SEKUTU meskipun besarnya lebih ringan dan lebih kecil daripada KUTU.
Tahukah wahai ayah bunda, virus apa ?
Ujub dan Sombong!!!
Penyakit itu ternyata sering kali kita tanamkan pada diri anak tanpa beban dosa!!!
Lewat perlakuan keliru atas nama KASIH SAYANG……..
Ya atas nama kasih sayang tapi keliru……yaitu anak serba dilayani……serba dimanja……serba dikasih….. serba dibela…..malah anak serba tidak boleh disalahkan……..
Finalnya sikap itu berujung pada lahirnya sikap sombong dan ujub……
Virus sombong dan ujub akan tambah menjalar ketika sikap orang tua serba kalah dan serba merasa salah di depan anak.
Lebih parah lagi saat orang tua di depan anak menampakkan sikap serba lemah dan tak berdaya……
Serangan virus sombong dan ujub makin ganas dan menggerogoti diri anak kita…….
Kenapa virus itu lebih bahaya daripada serangan TENTARA SEKUTU tapi LEBIH KECIL DARI KUTU ?
Ya karena sanggup melumpuhkan rohani, merusak kepribadian dan menghancurkan pahala kebaikan, meskipun LEBIH KECIL DARI KUTU, bahkan hanya seberat dzarrah (atom) namun daya musnahnya lebih dahsyat dari bom atom dalam merusak kepribadian anak kita maka Rasulullah bersabda,
لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim no. 91)
Oleh karena itu, pendidikan orang tua kepada anak seharusnya mengacu pada pembentukan karakter rendah hati dan mengikis kesombongan.
Rendah hati pasti menghadirkan kebaikan malah mengangkat derajat anak sebagaimana sabda Nabi,
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
“Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakan dirinya. Dan juga tidaklah seseorang memiliki sifat tawadhu’ (rendah diri) karena Allah melainkan Allah akan meninggikannya.” (HR. Muslim no. 2588).
Rendah hati karena Allah, akan mudah menerima kebenaran dan gampang mengambil nasehat serta tidak mudah merendahkan orang lain yang menunjukkan kepada kebenaran dan kebaikan.
Rendah hati dalam beramal, akan membentuk sikap mawas diri dan merasa kurang dalam beramal, bahkan menganggap kecil kebaikan yang besar dan menganggap besar kesalahan yang kecil.
Rendah hati dalam menuntut ilmu, akan meringankan langkah kaki ke majlis ilmu, melahirkan ketulusan mengkaji ilmu…..jarak jauh menjadi dekat demi ilmu…….tahan banting akan pedihnya mencari ilmu, sehingga ilmu menjadi berkah dan pengetahuan makin tambah melimpah.
Rendah hati dalam menerima kebenaran…..mudah ditegur demi kebaikan dirinya dan tidak malu belajar dengan siapapun dan tidak suka merendahkan orang lain.
Rendah hati dalam bergaul, akan senantiasa bersikap sopan….. santun…..senyum….. sapa, dan salam……bahkan sanggup menyayangi yang muda dan menghormati yang tua.
Rendah hati dalam materi akan bersikap sederhana, tidak bersikap mubazir, senang mendahulukan pola hidup daripada gaya hidup dan suka mementingkan kebutuhan daripada keinginan.
Dan yang paling mendasar….. selalu menghargai nikmat Allah sekecil apapun sehingga setiap saat senantiasa bersyukur kepada Allah dengan segala nikmat dan karunia-Nya.
Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin Lc, حفظه الله تعالى.
Wahai SALAFI SEJATI, Bersabarlah.. !
Oleh: Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى
“Wahai orang-orang yang Allah muliakan dengan aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, tegarlah dan bersabarlah !
Janganlah engkau takut karena tidak ada orang yang menolongmu dan karena sedikitnya orang yang berjalan bersamamu ! Sesungguhnya engkau termasuk al-Firqah An-Najiyah (golongan yang selamat), Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang ditolong oleh Allah) dan Ahlussunnah wal Jama’ah. Barangsiapa yang termasuk dari mereka maka dialah imam meskipun dia sendirian dan dia adalah jama’ah meskipun dia seorang diri.“
———————————————–
Diterjemahkan dari telegram fawaaid Syaikh DR.Sulaiman Ar-Ruhaili, حفظه الله تعالى tanggal 11 Februari 2018.
Ustadz Abdurrahman Thoyyib Lc, حفظه الله تعالى
Amalan Ringan dan Singkat Yang Menghapus Dosa…


Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-18
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
KAIDAH SEBELUMNYA (KE-17) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 18 🌼
Ahlussunnah menyeru kepada setiap orang beramar ma’ruf nahi mungkar untuk mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah sesuai dengan timbangan syari’at.
Karena Islam berporos pada 2 perkara,
ANTARA MENDATANGKAN MASLAHAT atau MENOLAK MAFSADAH.
👉🏼 Apabila MASLAHATNYA JAUH LEBIH BESAR DI BANDINGKAN DENGAN MAFSADAHNYA maka itu DIPERINTAHKAN
👉🏼 Sebaliknya apabila MAFSADAHNYA LEBIH BESAR DARI PADA MASLAHATNYA maka DITINGGALKAN.
👉🏼 Dan apabila MASLAHAT dan MAFSADAHNYA SEIMBANG maka ini BUTUH KEPADA IJTIHAD dan BERTANYA KEPADA AHLI ILMU.
👉🏼 TAWAKUF ITU LEBIH SELAMAT.
Diantara dalil yang menunjukkan bahwa penting dalam beramar ma’ruf nahi mungkar mempertimbangkan masalah maslahat dan mufsadah itu diantaranya Hadits yang di riwayatkan Imam Muslim.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dari hadits Aisyah:
“Kalau bukan kaummu itu masuk Islam dan mereka belum lama dari masa jahiliyah, aku akan menginfakkan harta karun ka’bah di jalan Allah. Dan aku akan menjadikan pintunya dekat ke tanah. Dan aku akan masukkan Hijr Isma’il itu ke dalam Ka’bah.”
Lihat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ingin merombak Ka’bah, tapi beliau tidak lakukan.
Karena kaum musyrikin Quraisy. Orang-orang Quraisy pada waktu itu baru masuk Islam dan belum lama dari masa jahiliyah, sehingga keilmuan mereka masih sangat dangkal.
Kalau Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam merombaknya, akibatnya akan dipahami, di khawatirkan akan muncul mudharat yang lebih besar dan di pahami dengan pemahaman yang tidak benar.
Sehingga untuk menghindari mudharat yang lebih besar inilah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggalkan maslahat, memugar Ka’bah tersebut.
Demikian pula disebutkan dalam Hadits Jabir yang di riwayatkan Imam Bukhori dan Muslim, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya:
“Kenapa engkau tidak bunuhi orang munafik itu ?“
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
“Jangan sampai orang-orang berbicara bahwa Muhammad membunuh teman-teman sendiri karena orang-orang munafik itu yang memperlihatkan keislaman, mereka ikut sholat tapi hati mereka penuh dengan kedengkian dan kebencian kepada Islam, dan mereka terus berusaha bermakar.”
Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika di tanya, kenapa tidak membunuhi mereka saja, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak lakukan itu karena takut malah menimbulkan dampak mudharat yang lebih besar.
Yaitu orang-orang kaum arab , orang-orang kafir akan mengaanggap Nabi Muhammad membunuh teman-temannya sendiri.
Maka dari itulah, ini semua hadits-hadits ini menunjukkan wajib mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah.
Demikian pula hadits yang di keluarkan Imam Muslim:
“bahwa ada orang Arab Badui masuk ke masjid untuk kencing.
Maka para sahabat ingin mengingkarinya, ingin menahannya. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kalau di biarkan mengingkarinya akan timbul mudharat yang lebih besar. Maka Rasulullah bersabda: biarkan… biarkan jangan di putus kencingnya.
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang para sahabat untuk mengingkarinya.
Karena mengingkarinya di saat itu malah menimbulkan mudharat yang lebih besar.
Maka inilah kaidah yang harus di pahami bagi siapapun yang ingin beramar ma’ruf nahi mungkar.
Itu penting untuk mempertimbangkan antara maslahat dan mafsadah dan tentunya harus di bimbing oleh para ulama, karena merkalah yang mampu untuk mempertimbangkan masalah itu
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj
Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN
Hati Yang Diberi Cahaya…
Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam bersabda
“Sesungguhnya seorang Mukmin itu melihat dosa-dosanya seolah-olah dia berada di kaki sebuah gunung, dia khawatir gunung itu akan menimpanya. Sebaliknya, orang yang durhaka melihat dosa-dosanya seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya,
dia mengusirnya dengan tangannya –begini–, maka lalat itu terbang”.
(HR. at-Tirmidzi, no. 2497 dan dishahîhkan oleh al-Albâni rahimahullâh)
Ibnu Abi Jamrah rahimahullâh berkata,
“Sebabnya adalah, karena hati seorang Mukmin itu diberi cahaya. Apabila dia melihat pada dirinya ada sesuatu yang menyelisihi hatinya yang diberi cahaya, maka hal itu menjadi berat baginya. Hikmah perumpamaan dengan gunung yaitu apabila musibah yang menimpa manusia itu selain runtuhnya gunung, maka masih ada kemungkinan mereka selamat dari musibah-musibah itu. Lain halnya dengan gunung, jika gunung runtuh dan menimpa seseorang, umumnya dia tidak akan selamat. Kesimpulannya bahwa rasa takut seorang Mukmin (kepada siksa Allâh Ta’ala -pen) itu mendominasinya, karena kekuatan imannya menyebabkan dia tidak merasa aman dari hukuman itu. Inilah keadaan seorang Mukmin, dia selalu takut (kepada siksa Allâh-pen) dan bermurâqabah (mengawasi Allâh). Dia menganggap kecil amal shalihnya dan khawatir terhadap amal buruknya yang kecil”.
(Tuhfatul Ahwadzi, no. 2497)
Ternyata Keshalihan Bisa Diturunkan…
Allah Ta’ala berfirman :
“Dan berikanlah keshalihan kepadaku (dengan juga memberikan keshalihan itu) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)
“Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku termasuk orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah do’aku” (QS. Ibrahim [14]: 40)
Imam al-Bukhari rahimahullah, diantara sebab beliau menjadi anak yang shalih adalah karena keshalihan ayahnya yaitu Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim…
Ahmad bin Hafsh berkata :
“Aku masuk menemui Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata : “Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat” (Taariikh ath-Thabari 19/239 dan Tabaqaat asy-Syaafi’iyyah al-Kubra II/213).
Allah Ta’ala berfirman :
“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang “ayahnya adalah seorang yang shalih”, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu…” (QS. Al-Kahfi [18]: 82)
Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :
“Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas) adalah ayah/kakek ke-7, dan dikatakan juga kakek yang ke-10. Dan apapun pendapatnya (kakek ke-7 atau ke-10), maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang shalih akan dijaga keturunannya” (Al-Bidaayah wan-Nihaayah 1/348).
Lihatlah bagaimana Allah menjaga sampai keturunan yang ke-7 karena keshalihan seseorang…
Sa’iid bin Jubair rahimahullah berkata :
“Sungguh aku menambah shalatku karena putraku ini“
Berkata Hisyam : “Yaitu karena berharap agar Allah menjaga putranya” (Tahdziibul Kamaal X/366 dan Hilyatul Auliyaa’ IV/279)
Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata :
“Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu” (Jami’ al-‘Ulum wal Hikam 1/467)
Sekarang coba renungkan, apakah sudah termasuk orang-orang yang shalih…? Banyak beribadah…? Selalu menjaga diri untuk tidak memakan dan membeli dari harta yang syubhat…?
Maka janganlah seseorang heran jika mendapati anak-anaknya keras kepala dan bandel, masih lalai dengan shalat, tidak mau diajak shalat ke masjid, sulit untuk menghafal al-Qur’an, tidak mau diajak ke taklim, tidak mau menutupi aurat dll…
“Bisa Jadi” sebabnya adalah orang tua itu sendiri yang tidak shalih, durhaka kepada orang tuanya serta memakan atau menggunakan harta haram, sehingga dampaknya kepada anak-anaknya…
Anak yang tumbuh dari makanan yang haram kelak menjadi orang yang tidak peduli akan rambu-rambu halal dan haram dalam agamanya, lalu bagaimana mungkin orang tua akan mendapatkan anak yang shalih…?
Akan tetapi pada asalnya insya Allah jika seorang ayah atau ibu itu shalih dan shalihah, maka Allah Ta’ala pun akan menjaga anak-anaknya…
Wahai Saudaraku…
Inginkah anakmu menjadi shalih dan shalihah…?
Ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berbakti kepada kedua orang tuanya…?
Dan jika engkau menginginkannya…
Lalu sudahkah engkau shalih sebagai orang tua…?
Allah Ta’ala berfirman :
“…Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat…” (QS. Az-Zumar [39]: 15)
Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى
Sudahkah Takut Akan DOSA..?
Abdullah bin Syubrumah rahimahullah berkata :
عجبت للناس يحتمون من الطعام مخافة الداء، ولا يحتمون من الذنوب مخافة النار
“Aku heran kepada manusia, mereka berhati-hati ketika mengkonsumsi makanan karena khawatir penyakit, namun mereka tidak berhati-hati dari dosa karena takut api Neraka” (Siyar A’laamin Nubalaa’ VI/348)
Ibnu Sirin rahimahullah berkata :
“Sungguh aku mengetahui sebuah dosa yang membuatku kini terlilit hutang. 40 tahun yang lalu aku pernah memanggil seseorang dengan ucapan : “Wahai orang yang bangkrut“. Lalu aku menceritakan hal ini kepada Abu Sulaiman ad-Darini, kemudian beliau berkata : “Dosa mereka sedikit, sehingga mereka tahu dosa mana yang menyebabkan musibah yang menimpa mereka, sedangkan dosaku dan dosamu banyak, sehingga kita tidak tahu dosa mana yang menyebabkan musibah menimpa kita” (Shifatus Shofwah III/246).
Suatu hari Kurz bin Wabiroh di dapati sedang menangis, lalu ketika ia ditanya apa sebabnya, maka ia pun berkata : “Tadi malam aku gagal membaca al-Qur’an seperti biasanya, itu semua gara-gara 1 dosa yang telah aku kerjakan” (Shifatus Shofwah III/122).
Ali bin Husain bin Abu Maryam berkata bahwa Riyaah al-Qoisi berkata : “Aku memiliki dosa sebanyak 40 lebih. Sungguh aku telah mohon ampun kepada Allah sebanyak 100rb kali untuk setiap dosa itu” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal 539 oleh Ibnu Rajab).
Wuhaib bin al-Warad ditanya : “Apakah orang yang melakukan maksiat itu bisa merasakan nikmatnya beribadah ?” Dia menjawab : “Tidak“, begitu pula bagi orang yang di dalam hatinya “TERBESIT” keinginan untuk melakukan maksiat” (Dzammul Hawaa hal 196 oleh Ibnul Jauzi).
Oh…..betapa malangnya hati yang buta, yang tidak sabar menahan kepahitan sesaat, dan lebih memilih kehinaan sepanjang abad dengan cara melakukan berbagai maksiat…
Oh…..betapa malangnya hati yang mati, berkelana memburu dunia, padahal dunia kelak pasti sirna, dan malas meniti jalan menuju akhirat, padahal semuanya akan berakhir disana…
اَللَّهُمَّ إِنَّ عَافِيَةَ يَوْمِيْ أَنْ لاَ أَعْصِيْكَ فِيْهِ
Ya Allah, sesungguhnya keselamatan hariku adalah dimana aku sama sekali tidak bermaksiat kepada-Mu pada hari tersebut…
اللهم لين قلبي بالتوبة ولا تجعل قلبي قاسيا كالحجر
Ya Allah, lembutkanlah hatiku dengan taubat, dan janganlah Engkau jadikan hatiku keras seperti batu…
اللهم ارزقني عينين هطالتين تشفيان القلب بذروف الدمع من خشيتك
Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku dua mata yang banyak meneteskan air mata, yang mengobati hati dengan air mata, lantaran rasa takut kepada-Mu…
اللهم انك تحول بين المرء و قلبه فحل بيني و بين معاصيك ان اعمل بشيء منها
Ya Allah, sesungguhnya Engkau memberi tabir di antara seseorang dengan hatinya. Maka tabirilah antara diriku dengan berbagai kemaksiatan kepada-Mu, agar aku tidak melakukan sedikit pun di antara kemaksiatan-kemaksiatan itu…
Aamiin…
Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى
Kebahagiaan Di Akhirat Akan Di Dapat Melalui ISTIGHFAR…
Kebahagiaan di akhirat akan di dapat melalui ISTIGHFAR. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda:
مَن أحَبَّ أنْ تسُرَّه صحيفتُه فلْيُكثِرْ فيها مِن الاستغفارِ
“Barangsiapa yang ingin berbahagia ketika melihat lembaran catatan amalnya, maka perbanyaklah ISTIGHFAR”
(HR. Ath Thabrani dalam Al Ausath, 1/256, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’ no, 5955).
Allah Ta’ala berfirman
“فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّاراً . يُرْسِلِ السَّمَاء عَلَيْكُم مِّدْرَاراً . وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَل لَّكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَل لَّكُمْ أَنْهَاراً”
Artinya: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu” (QS. Nuh: 10-12)
Ayat di atas menjelaskan dengan gamblang bahwa di antara buah istighfar: turunnya hujan, lancarnya rizki, banyaknya keturunan, suburnya kebun serta mengalirnya sungai.
Karenanya, dikisahkan dalam Tafsir al-Qurthubi, bahwa suatu hari ada orang yang mengadu kepada al-Hasan al-Bashri rohimahullah tentang lamanya paceklik, maka beliaupun berkata, “Beristighfarlah kepada Allah”.
Kemudian datang lagi orang yang mengadu tentang kemiskinan, beliaupun memberi solusi, “Beristighfarlah kepada Allah”. Terakhir ada yang meminta agar didoakan punya anak, al-Hasan menimpali, “Beristighfarlah kepada Allah”.
Ar-Rabi’ bin Shabih yang kebetulan hadir di situ bertanya, “Kenapa engkau menyuruh mereka semua untuk beristighfar ?”.
Maka al-Hasan al-Bashri rohimahullah pun menjawab, “Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Namun sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh: “Aku (Nabi Nuh) berkata (pada mereka), “Beristighfarlah kepada Rabb kalian, sungguh Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan kepada kalian hujan yang lebat dari langit. Dan Dia akan memperbanyak harta serta anak-anakmu, juga mengadakan kebun-kebun dan sungai-sungai untukmu”.
Bagi Para Muslimah Yang Memasang Foto Wajahnya Sebagai Profile Di Akun Medsos
Simak penjelasan Ustadz Abu Haidar As Sundawy, حفظه الله تعالى berikut ini :
(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj