“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu padahal itu baik untukmu. dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tidak baik untukmu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (Al Baqarah: 216).
Sesuatu yang menurut pandangan kita baik.. belum tentu baik di sisi Allah.. demikian pula sebaliknya..
Maka.. biasakan menilai baik dan buruk dengan pandangan Allah dan rosulNya..
Tuduhlah akal kita bila kita melihat wahyu seakan bertentangan dengan akal..
Karena akal kita terbatas.. sedangkan pencipta akal tidak terbatas..
Perbanyaklah membaca sirah Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, terutama pada fase dakwah di Mekah sebelum hijrah… itu akan menjadikan kita semakin tegar menghadapi cobaan dalam berdakwah.
=====
Karena, biasanya orang yang membawa kebenaran dan memperjuangkannya, dia akan mendapatkan cobaan dan rintangan sebagaimana pendahulunya.
* Jika ada yang diboikot karena dakwahnya, maka ingatlah bahwa beliau dan para sahabat beliau juga pernah diboikot, bahkan hingga TIGA TAHUN lamanya… sampai-sampai mereka harus makan dedaunan. [Lihat: Sirah Ibnu Hisyam 1/388].
* Bila ada yang dituduh pendusta dan tukang sihir, maka ingatlah bahwa Nabi -shallallahu alaihi wasallam- juga pernah dituduh demikian, bahkan Allah abadikan hal itu dalam Alqur’an:
“Mereka (orang² kafir) heran dengan datangnya seorang pemberi peringatan (Rasul) dari kalangan mereka sendiri, dan orang-orang kafir itu mengatakan: ‘orang ini adalah tukang sihir, tukang dusta’.” [QS. Shad: 4].
* Bahkan beliau sampai dikatakan gila oleh para penentang dakwahnya, Allah juga abadikan hal ini dalam kitab-Nya:
“Mereka (orang-orang kafir) itu mengatakan: wahai orang yang diturunkan kepadanya Adz-Dzikr (Alqur’an), sungguh kamu benar-benar gila“. [QS. Al-Hijr: 6].
* Jika ada yang dituduh memecah belah umat, maka beliau juga dahulu telah menerima hal yang sama. Ketika itu ‘Utbah bin Rabi’ah pernah mengatakan kepada beliau:
“Sungguh kamu telah datang kepada kaummu dengan masalah besar, dengannya kamu PECAH BELAH persatuan mereka, kamu rendahkan kedudukan mereka, kamu cela Tuhan dan agama mereka, dan kamu KAFIRKAN nenek moyang mereka“. [Lihat: Sirah Ibnu Hisyam, 1/359].
* Bila ada yang diusir dari tempat tinggalnya, maka ingatlah bahwa beliau juga akhirnya terusir dari kota kelahiran beliau (Mekah) yang sangat beliau cintai… ketika akan berpisan dengan kota suci itu, beliau mengatakan:
“Betapa baiknya engkau sebagai negeri, dan betapa cintanya diriku kepadamu, seandainya bukan karena kaumku mengeluarkanku darimu, tentu aku tidak akan menetap di tempat selainmu“. [HR. Attirmidzi: 3926, shahih].
* Bahkan di banyak kesempatan beliau dan para sahabatnya harus berperang dengan para penentang tersebut… tidak lain, tujuannya adalah agar dakwah tetap bisa berlangsung dengan baik, dan kebenaran bisa sampai kepada umat manusia. Oleh karenanya dalam perang badar beliau bermunajat:
“Ya Allah, jika pasukanku dari kaum muslimin ini binasa; Engkau tidak akan lagi disembah di muka bumi ini“. [HR. Muslim: 1763].
* Dan masih banyak lagi rintangan dan gangguan yang beliau alami.
Meski demikian, beliau tetap saja maju di jalan dakwah yang terjal tersebut, karena itulah jalan kemuliaan di dunia dan di akhirat… Siapa pun yang ingin mendapatkan kemuliaan seperti beliau, maka ikutilah jalan beliau.
Silahkan dishare… semoga bermanfaat.
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
Bahwa mereka memahami Al-Qur’an dan Sunnah tidak berdiri sendiri, tapi mereka memahaminya dengan pemahaman para Salafus Shalih, bukan dengan pemahaman ro’yu-ro’yu sendiri …. tidak.
Ini merupakan kaidah yang sangat penting sekali Akhowat islam a’azzaniyallah waiyakum, di dalam masalah kaidah Tarbiyah dan Ishlah.
Kenapa..?
Karena kita semua yakin bahwa generasi yang paling tau tentang Al Qur’an dan Hadits adalah para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Tidak ada generasi yang langsung di puji oleh Allah kecuali generasi para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Alqur’an telah memuji para sahabat. Allah Ta’ala berfiman [QS At Taubah : 100]
“Dan orang-orang yang pertama kali masuk Islam dari kalangan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan. Maka Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.”
Maka dari itu Allah menyatakan keridhaan kepada kaum Muhajirin dan Anshor. Dan Allah menyatakan ke ridhaan kepada orang-orang yang mengikuti Muhajirin dan Anshor.
Maka Allah mengatakan, Allah ridha kepada nereka, berarti ridha kepada apa? Kepada aqidah mereka, ibadah mereka, tata cara pemahaman mereka, manhaj mereka, dalam tata cara beragama mereka, Allah ridha
Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam :
خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي
“Sebaik-baiknya manusia generasiku“
Sebaik dalam masalah apa..? Dalam seluruh perkara-perkara agama, pemahaman terhadap alqur’an dan hadits terutama.. Maka tentu yang paling paham tentang Alqur’an dan Hadits adalah para sahabat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Abdullah bin Mas’ud berkata:
من كانَ منكم مُتأسياً فليتأسَّ بأصحابِ رسول ِاللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ,
“Siapa yang mengambil sunnah, ambillah sunnahnya para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”
Mereka adalah yang paling baik hatinya, yang paling dalam ilmunya, yang paling ringan bebannya. Dan mereka kaum yang paling lurus petunjuknya.
Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika mengabarkan akan munculnya zaman fitnah.
Apa kata para sahabat.?
“Apa yang harus kami lakukan hai Rasulullah, menghadapi zaman fitnah itu ?“
Apa kata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
تَرْجِعُوْا إِلَى أَمْرِكُمُ الأَوَّلِ
“Kamu kembalilah kepada urusan kamu yang pertama.”
Urusan yang pertama, siapa..? Kalau bukan sahabat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka dari itu setiap orang yang memahami Alqur’an dan Hadits dengan pemahaman sendiri tanpa merujuk pemahaman para Salafus Shalih, Sahabat, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in pastilah ia akan tersesat jalan…..pasti itu!!
Karena para ulamapun telah menyatakan untuk rujuk kepada pemahaman para sahabat terutama Imam Syafi’i rahimahullah yang luar biasa sekali dalam membela pemahaman sahabat Rasulillah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Lihat saja contohnya orang khawarij. Orang khawarij tidak mau merujuk pemahaman para sahabat dalam memahami Al Qur’an dan Hadits. Padahal Rasulullah mensifati orang khawarij itu apa?
“…Mereka hafal Al-Qur’an, tapi tidak sampai kerongkongan mereka.” Artinya pemahaman mereka dangkal.
Mereka mengucapkan ucapan perkataan, sebaik-baiknya manusia yaitu membawakan hadits-hadits Rasul, tapi mereka tersesat. Mereka melesesat dari agama, kata Rasulullah. Kenapa..? Jawabnya satu, karena mereka tidak mau mengikuti pemahaman para sahabat.
Makanya Abdullah bin Umar berkata: “Khawarij itu seburuk-buruk mahluk di sisi Allah.“
Mereka membawakan ayat-ayat tentang orang-orang kafirin tapi kemudian di jadikan orang-orang yang beriman.
Nah ini adalah akibat tidak mengikuti pemahaman para sahabat, salafus shalih.
Wallahu a’lam 🌴
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
“Katakanlah : “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai dan mengampuni dosa-dosamu” (QS. Ali Imran [3]: 31)
Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan surat-surat cinta-Nya tidak pernah engkau baca…?
Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan perintah dan larangan-Nya selalu engkau abaikan…?
Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan kedatangan-Nya di sepertiga malam akhir tidak pernah engkau sambut…?
Bagaimana mungkin engkau mengaku mencintai Allah, sedangkan dosa dan maksiat secara terang-terangan dan sembunyi-sembunyi masih terus engkau lakukan, bahkan berbangga diri saat melakukannya…?
Dimanakah bukti cintamu kepada Allah, wahai diri yang mengaku cinta kepada-Nya…?
Dimanakah bukti ittiba’mu kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم, wahai diri yang mengaku cinta…?
Engkau membangkang kepada-Nya…
Lalu mengaku bahwa engkau cinta…
Inilah pengakuan yang nyata dustanya…
Jika benar engkau mencintai-Nya…
Tentulah engkau mentaati-Nya…
Karena seseorang akan taat kepada kekasihnya…
Berdoalah dengan merintih kepada-Nya…
اللهم اغفرلي مغفرة واقية في الدنيا و الآخرة
Ya Allah, ampuni dosaku dengan ampunan yang dapat melindungiku di dunia dan akhirat…
Dosaku terasa sangat besar bagi diriku, akan tetapi tatkala aku bandingkan dengan ampunan-Mu wahai Rabbku, ternyata ampunan-Mu lebih besar…
اللهم ارزقني طاعتك أبدا ما أبقيتني و ارحمني بترك المعاصى أبدا ما أبقيتني
Ya Allah, karuniakanlah kepadaku rezki untuk selalu dapat mentaati-Mu selama engkau hidupkan aku, dan rahmatilah aku sehingga selalu dapat meninggalkan berbagai maksiat selama Engkau hidupkan aku…
اللهم اني احبك و ان كنت اعصيك
Ya Allah, sungguh aku mencintai-Mu, walaupun aku bermaksiat kepada-Mu…
اللهم اجعل حبك احب الاشياء الي و خشيتك اخوف الاشياء عندي
Ya Allah, jadikanlah cintaku kepada-Mu sesuatu yang paling aku cintai, dan jadikanlah rasa takutku kepada-Mu adalah sesuatu yang paling aku takuti…
و اقطع عني حاجات الدنيا بالشوق الى لقائك
Serta putuskanlah keinginanku atas dunia dengan perasaan rindu untuk berjumpa dengan-Mu…
و إذا اقررت أعين أهل الدنيا من دنياهم فأقر عيني من عبادتك
Dan jika penduduk dunia mata mereka lebih sejuk dengan dunia, maka sejukkanlah pandanganku dengan ibadah kepada-Mu…
“Dahulu bila seseorang melihat saudaranya melakukan sesuatu yang dibenci, dia (mengingatkannya dengan) amar ma’ruf secara rahasia, dan dia (mengingatkannya
dengan) nahi munkar secara rahasia.
Namun sekarang, jika seseorang melihat orang lain melakukan sesuatu yang dibenci, dia membuat marah saudaranya tersebut, dan mengoyak tabir yang menutupinya.”
[Kitab: Roudhotul Uqola’ 1/196]
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى
Az-Zubair bin al-‘Awwaam radhiallau ‘anhu berkata:
من استطـاع أن تكون له خبيئة من عمل صالــح : فليفعل .
“Barang siapa yang mampu untuk memiliki amalan shalih yang tersembunyikan maka lakukanlah” (Az-Zuhd karya Abu Dawud hal 119)
Amalan sholeh yang tidak mengetahuinya kecuali Allah Yang Maha Mengetahui amalan hambanya, bukan amalan yang disiarkan (apalagi dipamerkan) melalui status FB dan BB, atau jadi Display picture, berangan-anganlah engkau umroh, sedekah, i’tikaf, dll dan yang mengetahuinya hanyalah Allah….
Kalau orang lain bahagia tatakala amalannya diketahui orang lain maka berusahalah untuk gembira dan bahagia tatkala tidak ada yang mengetahui amalanmu kecuali Allah…
Status : Lagi i’tikaf, jangan ganggu !!!
Status : Lagi baksos semoga ikhlas ??!
Status : Alhamdulillah hari ini sudah 1 juz…
Status : Mau ke tanah suci nih, ada yang mau nitip doa??, gratis…!!
Status : Lagi khusyuk mendengarkan lantunan bacaan qur’an syaikh fulan…
Status : Puasa hari ini sungguh melelahkan tidak seperti biasanya…
Status : Walaupun lelah yang penting demi umat…
Status : Lagi safari dakwah alhamdulillah sambil pulang kampung….
Status : Alhamdulillah bisa mendoakan saudara- saudaraku dalam sholat malamku…, semoga dikabulkan…
Meskipun para penulis contoh status-status di atas ikhlas, akan tetapi HUKUM ASAL AMALAN YANG TERSEMBUNYI LEBIH BAIK…, dan BERUSAHA MENUTUP PINTU DAN CELAH RIYA’ SANGAT DIANJURKAN, kecuali jika ada kemaslahatan yang sangat diharapkan.