All posts by BBG Al Ilmu

Allah Lebih Tahu Yang Baik Bagi Hamba-Nya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

وَإِذَا عَرَتْكَ بَلِيَّةٌ فَاصْبِرْ لَهَا ** صَبْرَ الْكَرِيمِ فَإِنَّهُ بِكَ أَعْلَمُ

وَإِذَا شَكَوْتَ إِلَى ابْنِ آدَمَ إِنَّمَا ** تَشْكُو الرَّحِيمَ إِلَى الَّذِي لَا يَرْحَمُ

“Jika engkau tertimpa musibah, maka bersabarlah dengan kesabaran yang mulia, karena Allah lebih tahu yang baik bagimu..

Jika engkau mengeluh kepada Bani Adam (manusia), sesungguhnya engkau telah mengadukan Allah Ar Rohiim kepada makhluk yang tidak bisa memberi rahmah..”

[ Madarijus Salikin, 2/160 ]

Syarah Kitab Tauhid : 224 – 225 – 226

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

224.

225.

226.

ARTIKEL TERKAIT

Syarah Kitab Tauhid : KUMPULAN ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Orang Yang Paling Mengenal Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah  berkata,

“Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, ‘cukuplah rasa takut kepada Allah sebagai bukti keilmuan..’

Kurangnya rasa takut kepada Allah itu muncul akibat kurangnya pengenalan/ma’rifah yang dimiliki seorang hamba kepada-Nya..

Oleh sebab itu, orang yang paling mengenal Allah ialah yang paling takut kepada Allah di antara mereka..

Barangsiapa yang mengenal Allah, niscaya akan menebal rasa malu kepada-Nya, semakin dalam rasa takut kepada-Nya, dan semakin kuat cinta kepada-Nya..

Semakin pengenalan itu bertambah, maka semakin bertambah pula rasa malu, takut dan cinta tersebut..”

[ Thoriq al-Hijrotain ]
Adh-Dhau’ al-Muniir ‘alat-Tafsiir  5/97

MUTIARA SALAF : Membaca Sholawat Saat Berdo’a

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan,

الصلاة على النبي صلى الله عليه و سلم قبل الدعاء وفي وسطه وفي آخره من أقوى الأسباب التي يرجى بها إجابة سائر الدعاء

“Membaca sholawat atas Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam sebelum berdo’a, di tengah do’a, dan di akhir do’a, termasuk sebab terkuat yang diharapkan dengannya akan terkabul seluruh doa..”

[ Iqtidho’ ash-Shiroth 2/249 ]

Sombong Dan Dengki

Ibnu Taimiyah rohimahullahu Ta’ala berkata,

والكبر والحسد هما داءان أهلكا الأولين والآخرين وهما أعظم الذنوب التي بها عصى الله أولا فإن إبليس استكبر وحسد آدم وكذلك ابن آدم الذي قتل أخاه حسد أخاه

“Sombong dan dengki adalah dua penyakit yang membinasakan generasi pertama sampai terakhir. Keduanya dosa terbesar yang Allah dimaksiati dengannya. Karena Iblis sombong dan dengki kepada Adam. Demikian juga anak Adam membunuh saudaranya akibat dengki..”

(Jami’ur Rosail hal. 233)

Akibat kesombongan, ia menolak kebenaran..
Lebih memilih kesesatan dibanding kebenaran..

Akibat kedengkian ia berusaha mencelakakan orang lain..
Tak peduli apakah Allah akan murka atau tidak..

Na’uudzu billaah min dzaalik..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Was-Was Riya’ Dalam Beramal Kebaikan

Ketika seseorang berkeinginan untuk beramal kebaikan, syaithon datang memberikan was-was kepadanya dengan mengatakan, “Engkau melakukan itu karena riya dan sum’ah..” Karena omongan ini, akhirnya ia urung melakukan amalan kebaikan. Bagaimanakah cara menjauhi was-was semacam ini..?

Syaikh al-Utsaimin rohimahullah menjawab,

“Caranya adalah memohon perlindungan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dari syaithon yang terkutuk dan terus melanjutkan beramal kebaikan, tanpa menoleh kepada was-was yang menghalangi/mencegahnya dari berbuat kebaikan tersebut..

Jika ia berpaling dan tidak memperdulikan omongan (syaithon) itu, serta berlindung kepada Allah subhanahu wa ta’ala  dari syaithon yang terkutuk, niscaya akan hilang darinya was-was tersebut dengan izin Allah subhanahu wa ta’ala..”

[ Fatawa Syaikh al-Utsaimin rohimahullah – 2/209 no. 277 ]

Terkait masalah yang sama, Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah berkata,

“Meninggalkan amal karena manusia termasuk riya’.. dan beramal karena manusia termasuk syirik..”

[ Majmu’ al-Fatawa – 23:174 ]

NOTE: Jika hendak mengerjakan suatu amal kebaikan, namun khawatir riya’, maka hendaknya istighfar, ta’awudz (berlindung kepada Allah), perbaharui niat, dan tetaplah lanjutkan amal kebaikan tersebut.. Allahu a’lam

MUTIARA SALAF : Beberapa Hal Yang Wajib Diperhatikan Sebelum Menjalin Pertemanan

Abu Hatim Muhammad bin Hibban al-Busti rohimahullah memberikan tips hal-hal yang wajib untuk diperhatikan sebelum menjalin pertemanan dengan seseorang.

Beliau rohimahullah mengatakan,

من علامات الحمق التي يجب للعاقل نفقدها ممن خفي عليه أمره: سرعة الجواب، وترك التثبت، والإفراط في الضحك، وكثرة الالتفات، والوقيعة في الأخيار، والإختلاط بالأشرار.‌‌

“Beberapa tanda kebodohan yang wajib bagi orang yang cerdas untuk memperhatikan (ada atau tidaknya tanda-tanda kebodohan tsb) pada diri orang yang statusnya masih samar baginya ..

1. Cepat menjawab
2. Tidak mengklarifikasi (suatu permasalahan)
3. Tertawa berlebihan
4. Sering menoleh
5. Menjatuhkan orang-orang yang baik
6. Bergaul dengan orang-orang yang buruk..”

[Roudhatul Uqola’ wa Nuzhatul Fudhola’ – 119]

MUTIARA SALAF : Amalan Tergantung Akhirnya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

من أحدث قبل السلام بطل ما مضى من صلاته، ومن أفطر قبل غروب الشمس ذهب صيانه ضائعا، ومن آساء في آخر عمره لقي ربه بذلك الوجه.

– siapa yang berhadats sebelum salam, maka sholatnya batal.

– siapa yang berbuka sebelum terbenamnya matahari, maka puasanya hilang sia-sia, dan

– barangsiapa melakukan keburukan di akhir hidupnya, maka dia bertemu Robbnya semisal itu (merugi, tidak berguna amalannya)..

[ Al-Fawaid, hlm. 71 ]

Mendo’akan Hidayah Bagi Anak

Kisah ini disampaikan oleh seorang pensiunan penjaga Ka’bah di bagian Hajar Aswad.

Syaikh Abdurrozzaq bin Abdil Muhsin Al Badr حفظه الله تعالى bertanya padanya,

“Selama puluhan tahun engkau bertugas, adakah kisah yang menakjubkan yang engkau alami..?”

Lelaki itu kemudian menjawab,

“Ada.. suatu hari, ketika itu aku baru bertugas selama beberapa bulan lamanya. Tiba-tiba aku mendengar di antara jama’ah umroh, seorang lelaki dari Afrika Barat bagian Utara ( Maroko, Aljazair, Tunis – beliau lupa tepatnya) sedang berdo’a,

“Ya Allah, teman-temanku seluruhnya telah engkau beri anak. Saudara-saudaraku seluruhnya telah engkau beri anak. Sedangkan aku, belum punya anak. Segala cara telah aku tempuh, namun belum berhasil. Maka berikanlah aku anak ya Allah..”

Lelaki itu berdo’a dengan sungguh-sungguh dan khusyuk. Hingga Allah jadikan aku mengingat wajahnya, dan mengingat suaranya.

Kemudian waktu berlalu hingga belasan atau 20an tahun lamanya. Ketika itu aku sedang kembali bertugas di dekat Ka’bah, dan tiba-tiba aku mendengar suara yang sama dengan 20 tahun lalu yang aku dengar. Lelaki yang sama datang dan kembali berdo’a. Namun do’anya kali ini berbeda.

“Ya Allah, cabutlah nyawa anakku. Matikanlah anakku. Anakku ini memalukan aku dan keluargaku. Dia durhaka kepadaku..” dan lelaki ini terus menyebutkan kenakalan anaknya.

Aku lihat orang itu dan aku sadar, ini adalah orang yang dulu, yang 20 tahun lalu meminta agar ia diberi anak. Maka akupun berjalan kepadanya dan menariknya keluar dari kerumunan.

“Engkau yang 20 tahun lalu berdo’a di sini, berdoa meminta anak. Iya kan..??”

“Iya..” ujarnya dengan penuh kaget.

“Dengar, sungguh engkau telah berbuat zholim pada anakmu 2 kali. Aku mendengar do’amu 20 tahun yang lalu, dan engkau hanya meminta kepada Allah anak. Engkau tidak meminta anak yang sholeh. Engkau hanya bilang ‘semua orang Engkau beri anak, maka berikanlah kepadaku anak..’

Engkau tidak bilang ‘ya Allah berikanlah aku anak yang sholeh..’ Kau telah zholim pada anakmu..

Yang kedua, kenapa engkau tak berdo’a agar Allah memberikan hidayah pada anakmu..?? Ini adalah kezholimanmu yang kedua..”

Dan subhanallah, orang itu terperanjat.

“Sini ikut aku, dan engkau berdo’a lagi kepada Allah agar Allah beri hidayah kepada anakmu..”

Maka lelaki itupun berdo’a dengan sungguh-sungguh hingga menangis, berharap Allah berikan hidayah pada anaknya dan menyesali perbuatannya.

Kemudian keduanya pun berpisah..

Setahun berjalan, maka sang lelaki itupun kembali datang ke tanah suci, dan kali ini ia membawa anaknya.

Kali ini sang anak sudah tampak padanya bahwa ia telah hijrah. Telah menjadi anak yang taat dan penurut, dan telah menjadi anak yang sholeh. Singkat cerita, kami bertiga pun bertemu. Maka akupun bertanya kepadanya,

“Bagaimana ceritanya engkau bisa berubah..?”

Maka pemuda itupun menjawab,

“Suatu ketika aku mendengar adzan di waktu Ashar, dan aku tidak tahu mengapa, Allah jadikan hatiku sangat ingin datang sholat berjama’ah di masjid. Yang biasanya aku malas, tiba-tiba muncul keinginan untuk berubah. tiba-tiba aku ingin ke Masjid..”

“Kapan tepatnya kejadian itu..?”

Pemuda itupun menjawab dengan lebih detail, dan setelah dicocokkan dengan waktu Saudi, itulah hari dan jam yang sama ketika sang ayah berdo’a kepada Allah agar anaknya diberi hidayah.

Maasyallah. Tepat di saat sang ayah berdo’a agar anaknya diberi hidayah, saat itu juga Allah beri hidayah kepada anaknya. Padahal lokasi mereka jauh terpisah..

Inilah di antara kisah menakjubkan dari terkabulnya do’a. Mau anak senakal apapun, atau bagaimanapun, apabila itu maslahat, maka Allah akan kabulkan..”

Dikisahkan oleh,
Ustadz Dr. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Diposting oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bersabar Ketika Sakit

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah pernah memberikan pelajaran yang sangat indah tentang sabar di kala sakit.

Beliau rohimahullah berkata,

“Sabar yang indah (yang baik) adalah seseorang bersabar tanpa mengeluh (merintih) rasa sakit pada makhluk..

Oleh karena itu, pernah dibacakan kepada Imam Ahmad bin Hambal kala ia sakit bahwa Thowus sangat tidak suka merintih tatkala sakit. Setelah itu Imam Ahmad tidak pernah mengeluh lagi (pada makhluk dengan merintih sakit) sampai waktu ia meninggal dunia..

Adapun mengeluh kepada Allah, Sang Kholiq maka itu tidak menafikan sabar yang jamil (yang indah). Bahkan Ya’qub pernah berkata,

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ

“Bersabarlah dengan sabar yang baik..” (Qs Yusuf: 18)

Ya’qub berkata,

إنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إلَى اللَّهِ

“Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku..” (Qs Yusuf: 86)

[Majmu’ al-Fatawa – 10 : 183-184]