All posts by BBG Al Ilmu

MUTIARA SALAF : Macam Macam Cinta

قال الإمام ابن القيم رحمه الله :
“فالمحبة النافعة ثلاثة أنواع: محبة الله، محبة في الله، محبة على ما يعين على طاعة الله واجتناب معصيته.
والمحبة الضارة ثلاثة أنواع: المحبة مع الله، محبة ما يبغضه الله، محبة ما تقطع محبته عن محبة الله أو تنقصها.
فهذه ستة أنواع عليها مدار محاب الخلق”
(إغاثة اللهفان ص.٥١٢)

Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan bahwa :

● Cinta yang bermanfaat ada tiga macam:

1. Cinta Allah.
2. Cinta karena Allah.
3. Cinta perkara yang membantu ketaatan kepada Allah dan menjauhi kemaksiatan kepada-Nya.

● Cinta Yang Memudhoratkan ada tiga macam:

1. Cinta selain Allah dengan kecintaan yang sama kepada Allah.
2. Cinta hal-hal yang Allah benci.
3. Cinta perkara yang memutus kecintaan terhadap Allah ataupun menguranginya.

Enam macam cinta inilah yang beredar padanya cinta-cinta makhluk.

(Ighotsatul Lahfan hal. 512)

MUTIARA SALAF : Penyakit Cinta Ketenaran

● Ibrahim bin Adham rohimahullah berkata,

مَا صَدَقَ اللهَ عَبْدٌ أَحَبَّ الشُّهْرَةَ

“Tidaklah jujur kepada Allah, seorang hamba yang mencintai ketenaran..”

● Al Imam adz-Dzahabi rohimahullah berkata,

“Aku katakan,

عَلاَمَةُ المُخْلِصِ الَّذِي قَدْ يُحِبُّ شُهْرَةً، وَلاَ يَشْعُرُ بِهَا أَنَّهُ إِذَا عُوتِبَ فِي ذَلِكَ لاَ يَحْرَدُ (أَيْ: لاَ يَغْضَبُ) وَلاَ يُبَرِّئُ نَفْسَهُ

Tanda seseorang yang ikhlas, (saat ia terjatuh) mencintai ketenaran yang tanpa disadarinya, jika ia ditegur lantaran hal itu (maka) ia tak akan marah dan tidak menganggap dirinya terbebas dari kekurangan tersebut. Ia justru menyadari (atas kekurangannya) dan berkata,

رَحِمَ اللهُ مَنْ أَهْدَى إِلَيَّ عُيُوبِي

“Semoga Allah merahmati orang yang menunjukkan aib-aibku kepadaku.”

وَلاَ يَكُنْ مُعْجَبًا بِنَفْسِهِ؛ لاَ يَشْعُرُ بِعُيُوبِهَا، بَلْ لاَ يَشْعُرُ أَنَّهُ لاَ يَشْعُرُ، فَإِنَّ هَذَا دَاءٌ مُزْمِنٌ

Janganlah ia menjadi orang yang merasa ujub (bangga), tidak menyadari aib-aibnya, bahkan tidak sadar bahwa dirinya tidak menyadari aib-aibnya. Ini adalah penyakit yang kronis..”

(Siyar A’lam an-Nubala – 7/393)

MUTIARA SALAF : Menasehati Diri Sendiri

Al-Fudhail bin ‘Iyadh rohimahullah mencela dirinya sendiri

يا مسكين! أنت مسيء، وترى أنك محسن

“Wahai orang yang pantas dikasihani..! Engkau telah berbuat jelek, namun menyangka bahwa dirimu telah berbuat baik.

وأنت جاهل، وترى أنك عالم

Engkau bodoh, tetapi menyangka bahwa dirimu berilmu.

وتبخل، وترى أنك كريم

Engkau bakhil, tetapi menganggap dirimu dermawan.

وأحمق، وترى أنك عاقل

Engkau dungu, tetapi menganggap dirimu bijaksana.

أجلك قصير، وأملك طويل.

Ajalmu dekat, tetapi angan-anganmu panjang..”

(Siyar A’lamin Nubala 8/440)

MUTIARA SALAF : Perbedaan Antara Harapan Dengan Angan-Angan

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan,

“Ketika seseorang mengharapkan sesuatu, dia harus mengetahui bahwa harapannya itu akan berkonsekuensi pada tiga hal :

1. Mencintai apa yang ia harapkan.
2. Ia merasa kawatir tidak mendapatkan apa yang ia harapkan.
3. Ia berusaha untuk mendapatkan apa yang diharapkan dengan segala kemampuannya.

Harapan yang tidak disertai satupun dari tiga hal di atas maka itu hanya angan-angan belaka. Harapan dan angan-angan adalah dua perkara yang berbeda.

Setiap orang yang mengharapkan sesuatu maka pada dirinya akan muncul :
– perasaan takut kehilangan apa yang ia harapkan,
– akan berusaha menempuh jalan untuk mendapatkan apa yang ia harapkan,
– bila takut kehilangan apa yang ia harapkan maka ia akan segera berupaya agar tidak terluputkan dari apa yang ia harapkan.

Dalam Jami’ At-Tirmidzi disebutkan hadits dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu ia berkata: Nabi shollallahu ’alaihi wasallam bersabda:

مَنْ خَافَ أَدْلَجَ، وَمَنْ أَدْلَجَ بَلَغَ الْمَنْزِلَ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ غَالِيَةٌ، أَلاَ إِنَّ سِلْعَةَ اللهِ الْجَنَّةُ

“Barangsiapa kawatir disergap musuh di waktu sahur, dia akan menghindarkan diri sejak awal malam. Barangsiapa yang berusaha menyelamatkan dirinya sejak awal, ia akan sampai kepada tempat tinggalnya. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, barang dagangan Allah itu adalah surga..”

Sebagaimana Allah Subhanahu wata’ala telah memberi harapan kepada orang-orang yang mengerjakan amal sholih, demikian pula Ia memberi rasa takut kepada mereka. Maka ketahuilah bahwa harapan dan rasa takut yang bermanfaat adalah yang disertai amal sholih. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ هُمْ مِنْ خَشْيَةِ رَبِّهِمْ مُشْفِقُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ بِآيَاتِ رَبِّهِمْ يُؤْمِنُونَ. وَالَّذِينَ هُمْ بِرَبِّهِمْ لَا يُشْرِكُونَ. وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا ءَاتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ. أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan (adzab) Robb mereka. Dan orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Robb mereka. Dan orang-orang yang tidak mempersekutukan dengan Robb mereka (sesuatu apapun). Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Robb mereka. Mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya.” (Al-Mukminun: 57-61)

Al-Imam At-Tirmidzi dalam Jami’-nya menyebutkan hadits dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, ia berkata: Aku bertanya kepada Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam mengenai ayat ini. Aku berkata: “Apakah mereka adalah orang yang meminum minuman keras, berzina, dan mencuri..?”

Rosulullah shollallahu ’alaihi wasallam menjawab:

لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِيْنَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ، وَيَخَافُونَ أَنْ لاَ تُتَقَبَّلَ مِنْهُمْ، أُولَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ

“Tidak wahai putri Ash-Shiddiq. Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, sholat, bersedekah. Namun mereka khawatir kalau amalan yang mereka lakukan itu tidak diterima oleh Allah. Mereka itu orang yang sebenarnya berlomba-lomba berbuat amal kebaikan..”

Allah Subhanahu wata’ala telah menyebutkan sifat orang-orang yang bahagia dengan ihsan (berbuat baik) yang disertai khauf (kawatir).

Sebaliknya, Allah Subhanahu wata’ala menyebutkan sifat orang-orang yang sengsara dengan berbuat keburukan yang disertai perasaan aman..”

(Ad-Daa’ wad Dawaa` karya Ibnul Qoyyim hal. 46)

MUTIARA SALAF : Tanda Kebahagiaan Dan Tanda Kesengsaraan

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

مِنْ عَلَامَاتِ السَّعَادَةِ وَالْفَلَاحِ : أَنَّ الْعَبْدَ كُلَّمَا زِيدَ فِي عِلْمِهِ زِيدَ فِي تَوَاضُعِهِ وَرَحْمَتِهِ وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عَمَلِهِ زِيدٌ فِي خَوْفِهِ وَحَذَرِهِ .وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عُمْرِهِ نَقَصَ مِنْ حِرْصِهِ. وَكُلَّمَا زِيدَ فِي مَالِهِ زِيدَ فِي سَخَائِهِ وَبَذْلِهِ . وَكُلَّمَا زِيدَ فِي قَدْرِهِ وَجَاهَهُ زَيْدٌ فِي قُرْبِهِ مِنْ النَّاسِ وَقَضَاءِ حَوَائِجِهِمْ وَالتَّوَاضُعِ لَهُمْ.

“Di antara tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah:

– ketika hamba bertambah ilmunya, bertambah pula sifat rendah hati dan kasih sayangnya,

– ketika bertambah amalnya, bertambah pula rasa takut dan kewaspadaannya,

– ketika bertambah umurnya, maka berkuranglah semangatnya terhadap dunia,

– ketika bertambah hartanya, bertambah pula kedermawanan dan sikap suka berbagi,

– semakin tinggi kedudukannya, semakin dekat dengan orang lain, semakin (bersemangat) memenuhi kebutuhan mereka, dan semakin rendah hati terhadap mereka.

وَعَلَامَاتُ الشَّقَاوَةِ أَنَّهُ كُلَّمَا زِيدَ فِي عِلْمِهِ زِيدَ فِي كِبَرِهِ وَتِيهِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عَمَلِهِ زَيْدٌ فَخْرُهُ وَاحْتِقَارِهِ لِلنَّاسِ وَحَسُنَ ظَنِّهِ بِنَفْسِهِ ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي عُمُرِهِ زِيدٌ فِي حِرْصِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي مَالِهِ زِيدٌ فِي بُخْلِهِ وَإِمْسَاكِهِ، وَكُلَّمَا زِيدَ فِي قَدْرِهِ وَجَاهَهُ زَيْدٌ فِي كِبَرِهِ وَتَيهِهِ.

Adapun tanda kesengsaraan di antaranya:

– ketika bertambah ilmunya, justru bertambah kesombongan dan kecongkakannya,

– semakin bertambah amalnya, bertambah pula rasa bangga dan peremehan terhadap orang lain serta prasangka baik kepada dirinya,

– semakin umurnya bertambah, semakin meningkat pula semangatnya mengejar dunia,

– ketika bertambah hartanya, maka bertambah pula kikirnya dan sifat menahan hartanya,

– ketika bertambah kedudukannya, bertambah pula kesombongannya dan kecongkakannya.

وَهَذِهِ الْأُمُورُ ابْتِلَاءٌ مِنَ اللَّهِ وَامْتِحَانٌ يَبْتَلِي بِهَا عِبَادَهُ فَيَسْعَدُ بِهَا أَقْوَامٌ وَيَشْقَى بِهَا أَقْوَامٌ.

Hal-hal tersebut merupakan cobaan dari Allah, sebuah ujian yang dengannya Allah menguji para hamba-Nya. Sebagian orang akan mendapatkan kebahagiaan (dengan ujian tersebut), sementara sebagian yang lain akan celaka..”

(Al-Fawa’id, hlm. 227)

MUTIARA SALAF : Jangan Tergesa-Gesa

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

التَّأَنِّي مِنَ اللهِ، وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Ketenangan/kehati-hatian datangnya dari Allah, sedangkan tergesa-gesa datangnya dari setan..”

(HR. Abu Ya’la – Syaikh al-Albani berkata di ash-Shohiihah no. 1795, isnadnya hasan)

● Ibnu Hibban rohimahullah mengatakan,

الواجب على العاقل لزوم الرفق في الأمور كلها وترك العجلة والخفة فيها، إذ الله تعالى يحب الرفق في الأمور كلها، ومن منع الرفق منع الخير، كما أن من أعطي الرفق أعطي الخير، ولا يكاد المرء يتمكن من بغيته في سلوك قصده في شيء من الأشياء على حسب الذي يحب إلا بمقارنة الرفق ومفارقة العجلة

“Seseorang yang berakal wajib senantiasa berhati-hati dan cermat dalam semua urusan, tidak boleh tergesa-gesa, dan tidak bertindak gegabah. Sebab, Allah subhanahu wa ta’ala mencintai kehati-hatian dalam semua urusan. Barangsiapa tidak bisa bertindak hati-hati, dia akan terhalangi dari kebaikan.

Adapun orang yang dianugerahi kecermatan, dia telah diberi kebaikan. Seseorang hampir pasti tidak bisa menggapai tujuannya dalam satu urusan pun sesuai dengan keinginannya kecuali dengan disertai sikap cermat dan meninggalkan ketergesaan..”

(Roudhotul Uqola wa Nuzhatul Fudhola, hlm. 247)

MUTIARA SALAF : Fase Perjalanan Seorang Hamba

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Seorang hamba sejak menginjakkan telapak kakinya di dunia ini, maka ia telah mulai perjalanannya menghadap Tuhannya.

Lama perjalanannya adalah sepanjang usia yang ditetapkan baginya. Umur merupakan waktu perjalanan seseorang dalam dunia ini menghadap kepada Tuhannya. Kemudian Allah Ta’ala menempatkan hari-hari beserta malamnya sebagai fase-fase perjalanannya: setiap hari dan setiap malam merupakan bagian dari fase-fase perjalanan tersebut. Seseorang akan terus menempuh langkahnya fase demi fase hingga perjalanannya berakhir.

Musafir yang cerdik adalah yang dapat mengambil pelajaran dari setiap fase perjalanan yang dilaluinya, sehingga ia berusaha untuk melaluinya dengan selamat dan sehat, serta membuahkan hasil.

Ketika melanjutkan perjalanannya, maka ia pun memandang fase berikutnya dengan seksama. Ia juga tidak membiarkan harapannya terlalu jauh hingga membuat hatinya keras dan menumbuhkan sifat bermalas-malasan seperti :
– taswif (berjanji akan melakukannya nanti atau besok),
– banyak berjanji,
– senang terlambat, dan
– bahkan mengulur-ulur waktu.”

(Fawaidul Fawaid)

MUTIARA SALAF : Empat Tingkatan Orang Yang Terkena Musibah

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ’Utsaimin rohimahullah berkata,

“Keadaan manusia yang tertimpa musibah terbagi dalam beberapa tingkatan:

Pertama: Orang yang Bersyukur
Kedua:  Orang yang Ridho
Ketiga:  Orang yang Bersabar
Keempat: Orang yang Berputus Asa

● Adapun orang yang BERPUTUS ASA, maka hanya akan melakukan suatu perbuatan yang dilarang. Yakni, marah terhadap ketetapan Allah Robb semesta alam, yang di tangan-Nya kekuasaan di langit dan dibumi. Milik-Nya lah segala kekuasaan, dan Ia berbuat sekehendak-Nya.

● Dan adapun orang yang BERSABAR, sungguh dia telah melakukan kewajibannya (yaitu bersabar). Dan yang dimaksud bersabar adalah seseorang menanggung musibah dengan sabar. Yakni dia memandang bahwasanya musibah itu pahit, berat, sulit, dan benci musibah itu menimpanya. Akan tetapi dia menanggungnya dan menahan dirinya dari perbuatan yang haram, dan yang demikian ini adalah kewajiban.

● Dan adapun RIDHO. Yakni, orang yang tidak tersibukkan atas musibah yang menimpanya. Dia memandang bahwa musibah ini datangnya dari sisi Allah dan dia ridho, dengan keridhoan yang sempurna. Dan tidaklah menjadikan di dalam hatinya rasa kecewa dan menyesal atasnya.

Karena dia ridho, yakni dengan keridhoan yang sempurna. Keadaannya yang demikian ini lebih tinggi dari keadaan orang yang bersabar. Keridhoan yang seperti itu adalah lebih utama (mustahab), akan tetapi bukanlah merupakan suatu kewajiban.

● Dan adapun orang yang BERSYUKUR, dia bersyukur kepada Allah atas musibah ini. Akan tetapi bagaimana caranya dia dapat bersyukur kepada Allah..? Sedangkan hal tersebut  adalah suatu musibah.

jawabannya: Dari dua sisi

PERTAMA: Dengan melihat seseorang yang tertimpa musibah yang lebih besar. Kemudian dia bersyukur kepada Allah karena dia tidak tertimpa musibah yang semisalnya.

Dan dalam permasalahan ini, terdapat hadits: “Janganlah kalian melihat orang yang di atas kalian (kenikmatan duniawinya), dan lihatlah orang yang berada di bawah kalian. Karena yang demikian itu, akan menjadikan kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian..”

KEDUA: Dia tahu bahwasanya dengan adanya musibah ini akan diampuni dosa-dosanya. Akan di angkat derajatnya jika dia bersabar. Dan segala sesuatu yang ada di akhirat itu lebih baik dibandingkan dengan apapun yang ada di dunia. Maka diapun bersyukur kepada Allah.

Dan juga, perlu dipahami bahwa,  manusia yang paling berat ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang sholeh, kemudian orang terbaik setelahnya dan terbaik lagi seterusnya.

Maka hendaknya seseorang berharap menjadi bagian dari orang-orang yang sholeh karenanya. Dan bersyukur kepada Allah subhanahu wata’ala atas nikmat ini..”

(Syarah Al-Mumti’)

MUTIARA SALAF : Perbedaan Waro’ Dan Zuhud

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah menjelaskan,

“Zuhud lebih tinggi dari waro’. Bedanya adalah :

– waro’ berarti : meninggalkan sesuatu yang bermudhorot (terhadap kepentingan akhiratnya).

– sedangkan zuhud adalah : meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat (untuk kepentingan akhiratnya).

Kesimpulannya, segala urusan terbagi menjadi tiga :

1. Sesuatu yang memudhorotkan kepentingan akhirat.

2. Sesuatu yang bermanfaat untuk kepentingan akhirat.

3. Tidak bermudhorot, tetapi juga tidak bermanfaat.

Waro’ adalah meninggalkan sesuatu yang mendatangkan mudhorot terhadap kepentingan akhirat, yakni meninggalkan perkara haram.

Adapun zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat. Perkara yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat, ia tinggalkan. Sebaliknya, perkara yang bermanfaat untuk kepentingan akhirat, ia kerjakan. Tentu saja, perkara yang haram, lebih-lebih lagi, pasti ditinggalkan.

Oleh karena itu, zuhud lebih tinggi dari waro’. Setiap orang zuhud, pasti ia waro’. Namun, tidak setiap orang yang waro’ ia zuhud..”

(Syarah Riyadhush Sholihin hlm. 790)

ﺃﻥ اﻟﺰﻫﺪ ﺃﻋﻠﻰ ﻣﻦ اﻟﻮﺭﻉ، ﻭاﻟﻔﺮﻕ ﺑﻴﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ اﻟﻮﺭﻉ ﺗﺮﻙ ﻣﺎ ﻳﻀﺮ، ﻭاﻟﺰﻫﺪ ﺗﺮﻙ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻨﻔﻊ، ﻓﺎﻷﺷﻴﺎء ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﺴﺎﻡ: منها ﻣﺎ ﻳﻀﺮ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ، منها ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻊ، ﻭﻣﻨﻬﺎ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻀﺮ ﻭﻻ ﻳﻨﻔﻊ.

فالورع: ﺃﻥ ﻳﺪﻉ اﻹﻧﺴﺎﻥ ﻣﺎ ﻳﻀﺮﻩ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ، ﻳﻌﻨﻲ ﺃﻥ ﻳﺘﺮﻙ اﻟﺤﺮاﻡ.

ﻭاﻟﺰﻫﺪ: ﺃﻥ ﻳﺪﻉ ﻣﺎ ﻻ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻓﻲ اﻵﺧﺮﺓ، ﻓﺎﻟﺬﻱ ﻻ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻻ ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻪ، ﻭاﻟﺬﻱ ﻳﻨﻔﻌﻪ ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻪ، ﻭاﻟﺬﻱ ﻳﻀﺮﻩ ﻻ ﻳﺄﺧﺬ ﺑﻪ ﻣﻦ ﺑﺎﺏ ﺃﻭﻟﻰ، ﻓﻜﺎﻥ اﻟﺰﻫﺪ ﺃﻋﻠﻰ ﺣﺎﻻ ﻣﻦ اﻟﻮﺭﻉ، ﻓﻜﻞ ﺯاﻫﺪ ﻭﺭﻉ، ﻭﻟﻴﺲ ﻛﻞ ﻭﺭﻉ ﺯاﻫﺪا.

Berpikir Dahulu Sebelum Berbuat

Orang yang berakal sebelum berbuat akan menganalisa terlebih dahulu apakah perbuatan tersebut berakibat baik atau malah berakibat buruk..
Bukan mendahulukan semangat dan perasaan..

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahullah juga mengatakan:

 العواطف عواصف ان لم تقيد بالكتاب والسنة دمرت كل شيء

“Perasaan bagaikan angin topan, jika tidak diikat dengan Alqur’an dan As Sunnah akan merusak segala sesuatu..”

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى