Category Archives: Abu Riyadl Nurcholis

Ikhlas

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Dan beberapa ungkapan ulama’ tempo doeloe tentangnja..

pengertian ikhlash adalah membersihkan niatan hati ketika akan atau sedang dan pasca ibadah dari segala macam godaan baik itu sedikit maupun banyak, sampai niatnya menjadi murni yaitu hanya untuk bertaqarrub (mendekatkan diri kpd Allah) dan tidak ada pendorong lain. Dan hal ini tidak mungkin terjadi kecuali pada diri seseorang yang mencintai karena Allah keinginannya begitu mendalam untuk menuju akhirat. Dimana tidak ada kata di dalam hatinya untuk dunia. Orang semacam ini, apabila ia makan, minum, bahkan melakukan pekerjaan duniawi ia niatkan untuk Ridho Allah Ta’ala, maka akan didapati bahwa ia sosok orang yang ikhlash dalam beramal dan memiliki niat yang benar. Dan barangsiapa yang tidak seperti ini kondisinya, maka pintu untuk meraih keikhlasan sangat sulit baginya.
Ketika seseorang yang kecintaannya kuat terhadap Allah dan cinta akhirat, niscaya seluruh gerak-gerik kebiasaannya merupakan sebuah wujud keikhlasan.. Barangsiapa yang dirinya terkalahkan oleh dunia, kedudukan, tampuk kepemimpinan, dan secara umum urusannya diserahkan kepada selain Allah;_ maka segala macam gerakannya di atasnamakan Dunia belaka, sehingga tidak ada ibadah yang selamat dari niatan kepada selain Allah, baik itu dari puasa, shalat, atau ibadah yang lainnya dan kalau pun selamat maka jarang terjadi.

Sesungguhnya metode untuk mengatasi agar niat itu bisa ikhlas, yaitu dengan menghancurkan segala kesenangan jiwa, membinasakan segala perasaan tamak terhadap dunia, serta hanya berkeinginan untuk meraih akhirat walaupun ia merupakan kerjaan duniawi. Maka dengan melakukan hal-hal di atas maka akan mudah untuk meraih ikhlas.

Betapa banyak suatu amalan yang sudah susah payah dilakukan oleh manusia, dan ia mengira bahwa semua itu dilakukan karena berharap wajah Allah, namun ternyata ia hanyalah orang telah tertipu, sebab ia sendiri belum menemukan aib dan cacat dari niatnya.

Ayyub berkata, “Mengikhlaskan niat lebih berat bagi para pengamal dari keseluruhan amalan yang ada.”

Sebagian ulama berkata, “Sesaat saja seseorang bisa ikhlas, maka ia akan memperoleh keselamatan yang abadi, namun rasa ikhlas itu sangat jarang dirasakan.”

Ada seseorang berkata kepada Suhail, “Hal apakah yang paling berat bagi jiwa?”, ia menjawab, ‘Ikhlas, karena jiwa itu tidak mampu untuk meraihnya.”

Al-Fudhail berkata, “Meninggalkan suatu amalan karena malu terhadap manusia maka ini disebut riya, beramal karena manusia syirik, sedangkan ikhlas itu ialah Allah menyelamatkanmu dari kedua perbuatan tersebut.”

Www.abu-riyadl.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Aman Dari Kematian ?

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Kita sering merasa akan aman dari kematian..

Angan angan membumbung bak gunung himalaya sampai menembus awan dilangit sana..
Tiada pernah terfikir diri jika dicabut nyawa..
Akankah ada selalu terlena terhadap kehidupan dunia yang fana.
Sebenarnya kafan kita telah dirajut dg berkurangnya umur helai demi helai..

Tahukah anda video ini si pejalan kaki yang masih muda terkena kematian padahal disampingya ibunya yang telah renta sedang berjalan bersamanya..

Ingat wahai saudaraku.. berbekalah sebelum kita berangkat safar..

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Kebiasan Orang Yang Hadir Di Majlis Ta’lim Yang Perlu Diwaspadai

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

1. Ngantuk Trus bobo.biasanya bapak bapak..

2. Ngobrol, biasanya para ibu ibu.. apalagi kalo ngobrolin gantengnya ikhwan ini dan ikhwan itu.. atau ustaz ini dan ustadz itu. Atau ngobrolin gadged.. ini mau ngaji ilmu atau arisan..sih..

3. pergi ke ta’lim tapi dg asesoris yang menunjukkan kekayaan masih masing.. dari gaya busana.. asesoris lengkap dari berbagai negara…. apalagi sampai bawa wewangian bagi wanita.. .. wow harumnya seantero masjid bisa seger kalo ibu fulanah datang..

4. Sempet bisa ghibah atau namimah pas lg ikut kajian..padahal pahala ikut kajian belum tentu bisa impas buat nutup dosa ghibah..

5. Kalo para akhwat keluar rumah ikut kajian dandannya lamaaaaaaa.. seperti mau dinadzor aja.. padahal ustadznya juga gak niatan nadzor.. tapi kadang cari kesempatan dalam kesempitan.. makanya.. ghodul bashor.. dan jangan buat bajumu sebagai pemercantikmu di muka umum.. baju gunanya buat nutup aurot.. bukan buat nambahi cantik kalo lg di tempat umum..

6. Sepekan ikut kajian 15 x sampai si suami cemburu.. mana cemburunya sama ustadz pula.. wah gak beres nih istri.. kasihan suaminya dong.. beliau juga punya hak tuk di layani.. kalo para ibu ibu dah ikut kajian.. biasanya pulang dah capek.. Trus bobok aja.. gak ngurus suami mau capek atau enggak.. boro boro mijitin.. eh malah minta pijit.. gawat tuh.. bisa berguman tuh suami.. ini dia tiap hari kerjanya ikut pengajian kok malah nambah gak bakti ama aku ya..

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Mencari Rizki Harus Halal

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Al Qur`an dan Sunnah telah mendorong manusia agar mencari rizki yang halal lagi thayyib. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ

“Wahai manusia, bertakwalah engkau kepada Allah, pakailah cara baik dalam mencari (rizki). Sesungguhnya seseorang tidak akan meninggal sampai ia sudah meraih seluruh (bagian) rizkinya, meskipun tertunda darinya. Bertakwalah kepada Allah dan lakukan cara yang baik dalam mencari (rizki)”. HR Ibnu Majah, kitab at Tijarat, bab al Iqtishad fi Thalabi al Ma’isyah (2/724), dan dishahihkan oleh al Albani.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga mengingatkan manusia, hendaknya berhati-hati dari fitnah harta. Jangan meremehkan pentingnya rizki yang halal, dan harus selektif dalam menghimpun rizki. Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan hadits marfu’ :

َ يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ لَا يُبَالِي الْمَرْءُ مَا أَخَذَ مِنْهُ أَمِنَ الْحَلَالِ أَمْ مِنْ الْحَرَامِ

“Akan datang suatu masa pada manusia, seseorang tidak peduli terhadap apa yang digenggamnya, apakah dari halal atau dari yang haram”. HR al Bukhari, kitab al Buyu’, bab Man Lam Yubali min Haitsu Kasaba al Mal (4/296)

Semoga kita selamat.

Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Buat Yang Tidak Sakit – Pahala Menyempurnakan Wudhu Saat Cuaca Sangat Dingin dan Berat

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قاَلَ : قاَلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ألاَ أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا وَيُكَفِّرُ بِهِ الذُّنُوبَ؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ، قَالَ: إِسْبَاغُ الْوُضُوءِ عَلَى الْمَكْرُوْهَاتِ، وَكَثْرَةُ الْخُطَا إِلَى الْمَسَاجِدِ، وَانْتِظَارُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الصَّلاَةِ .

Dari Jabir bin ‘Abdillah Radhiyallahu ‘anhuma berkata, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“Maukah kalian aku tunjukkan amalan yang dengannya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan dan menghilangkan dosa-dosa?” Para sahabat menjawab, “Tentu saja, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “(Yaitu) menyempurnakan wudhu pada keadaan tidak disukai, banyak melangkah ke masjid, dan menunggu shalat berikutnya setelah mengerjakan shalat.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih-nya (1036), dan asalnya ada pada Muslim (251).

Jangan takut dinginnnn.. Brrrrrr

– – – – – •(*)•- – – – –

Allah Sungguh Sangat Gembira Menerima Taubat Hamba-Nya

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Maha penyayangnya Allah terhadap Hambanya.. Allah Sungguh sangat gembira menerima taubat hamba-Nya.

Mari simak sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini..

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْن مَسْعُوْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: « لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ مِنْ رَجُلٍ فِى أَرْضٍ دَوِيَّةٍ مَهْلَكَةٍ مَعَهُ رَاحِلَتُهُ عَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَنَامَ فَاسْتَيْقَظَ وَقَدْ ذَهَبَتْ فَطَلَبَهَا حَتَّى أَدْرَكَهُ الْعَطَشُ, ثُمَّ قَالَ : أَرْجِعُ إِلَى مَكَانِى الَّذِى كُنْتُ فِيهِ فَأَنَامُ حَتَّى أَمُوتَ. فَوَضَعَ رَأْسَهُ عَلَى سَاعِدِهِ لِيَمُوتَ فَاسْتَيْقَظَ وَعِنْدَهُ رَاحِلَتُهُ وَعَلَيْهَا زَادُهُ وَطَعَامُهُ وَشَرَابُهُ , فَاللَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ الْعَبْدِ الْمُؤْمِنِ مِنْ هَذَا بِرَاحِلَتِهِ وَزَادِهِ ».

Dari Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sungguh Allah sangat gembira menerima taubat hamba-Nya yang beriman, dari seorang di padang sahara tandus yang membinasakan, ia bersama hewan tunggangannya yang membawa perbekalan makan minumnya. Ia tidur, lalu bangun, dijumpainya hewan tunggangannya telah pergi. Maka ia mencarinya hingga kehausan, kemudian berkata, ‘Aku akan kembali ke tempatku berada, lalu aku akan tidur hingga mati.’ Lalu ia meletakkan kepalanya di atas lengannya untuk menghadapi kematian. Maka ia terbangun dan di sisinya terdapat kendaraannya, lengkap dengan perbekalan makan minumnya. Sungguh Allah sangat gembira menerima taubat hamba mukmin, lebih dari kebahagiaan orang ini menemukan kembali kendaraan serta perbekalannya.”

Shahih, diriwayatkan Al-Bukhari (6308) dan Muslim (2744).

Adakah seorang hamba yg enggan bertaubat?

Seberapa bertahan kulitmu jika dibakar api dunia sehingga enggan bertaubat..??

Bagaimana dengan api akhirat…

Semoga Allah ta’ala melindungi kita dan orangtua kita..
آمــين ​اَللّهُمَّ آمــين

– – – – – •(*)•- – – – –

Apakah Membangun Nisan Merupakan Tanda Bakti Anak Terhadap Orang Tuanya ?

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma dia berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya.”(HR. Muslim no. 970)

Dari Abu Al-Hayyaj Al-Asadi dia berkata: Ali bin Abu Thalib berkata kepadaku:
أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ
“Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan gambar-gambar kecuali kamu hapus dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan.” (HR. Muslim no. 969)

Fadhalah bin Ubaid radhiallahu anhu berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا
“Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk meratakannya (kuburan).” (HR. Muslim no. 968)

Kemudian disebutkan dalam sebuah hadits Jabir dengan sanad yang hasan akan dibolehkannya meninggikan kuburan maksimal sejengkal, jika dikhawatirkan dia bisa terinjak atau dihinakan karena tidak diketahui kalau di situ adalah kuburan.
Tp meninggikan hanya dg tanah.. Jangan dg material lainnya lain dari toko besi atau sejenisnya..

Www.abu-riyadl.blogspot.com

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Buruknya Perselisihan

Ust. Abu Riyadl, حفظه الله

عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَسْ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى  اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِه

[رواه البخاري ومسلم]

Terjemah hadits :

Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radiallahuanhu, pembantu Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dari Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam, beliau bersabda: Tidak beriman salah seorang diantara kamu hingga dia mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri.

(Riwayat Bukhori dan Muslim dari hadits arbain nawawi)

Pelajaran yang terdapat dalam hadits :

1.       Seorang mu’min dengan mu’min yang lainnya bagaikan satu jiwa, jika dia mencintai saudaranya maka seakan-akan dia mencintai dirinya sendiri.

2.     Menjauhkan perbuatan hasad (dengki) dan bahwa hal tersebut bertentangan dengan kesempurnaan iman.

3.     Iman dapat bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

4.     Anjuran untuk menyatukan hati. Dan betapa buruknya perselisihan hati dan permusuhan

5. Permusuhan dg seorang mu’min karena urusan duniawi dapat membuat iman tidak sempurna bahkan berkurang.

 Ditulis oleh Ustadz Abu Riyadl Nurcholis Majid, Lc حفظه الله تعالى

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈