Category Archives: Abu Riyadl Nurcholis

Kisah Pencuri Di Rumah ‘Ulama… Sungguh Mengharukan…

Ustadz Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

SUBHANALLAH INDAHNYA AKHLAQ ORANG YANG BERILMU…

Akhlak yang mulia dan budi pekerti luhur itu memang lebih menyentuh daripada untaian kalimat. Nasihat dengan keteladanan lebih mengena daripada ucapan lisan. Itulah yang dipraktikkan oleh seorang ulama Rabbani, Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz rahimahullah. Selain menasihati umat dengan lisan dan tulisan, beliau juga membuat hati manusia tunduk dan jiwa-jiwa terketuk dengan keteladanan. Di antara contoh yang sangat mengagumkan dari keteladanan beliau adalah bagaimana beliau memperlakukan seorang pencuri yang tertangkap basah menyatroni rumahnya.

Salah seorang penuntut ilmu menceritakan:

Saat aku beri’tikaf di Masjid al-Haram di 10 hari terakhir bulan Ramadhan, aku menghadiri majelisnya Syaikh Ibnu Utsaimin yang diadakan setelah shalat subuh usai. Ada seseorang bertanya kepada beliau tentang suatu permasalahan yang menurutnya terdapat kerancuan dan bagaimana pandangan Syaikh Ibnu Baz terhadap kasus tersebut. Syaikh Ibnu Utsaimin pun menanggapi si penanya dan memuji Syaikh Ibnu Baz rahimahumallahu jami’an.

Saat aku sedang hanyut dalam pembahasan pelajaran, tiba-tiba seorang laki-laki di sampingku –mungkin usianya akhir 30-an- sedang berurai air mata. Kemudian isak tangisnya mulai merambat ke telinga para peserta kuliah subuh itu.

Ketika pelajaran usai, kulemparkan pandanganku kepada laki-laki yang menangis tadi. Kulihat ia tengah memegang mush-haf dan tenggelam dalam kesedihannya. Kudekati dia meskipun terlihat ia tampak menghindar. Kuucapkan salam padanya dan kemudian aku bertanya, “Kaifa haaluka yaa akhi? Maa yubkiika?” (Apa kabarmu saudaraku? Apa yang membuatmu menangis?) Ia menjawab dengan suara parau yang tidak jelas. Terdengar hanya jazaakallahu khair (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan).

Aku pun mengulangi pertanyaanku, “Maa yubkiika akhi?” (Apa yang membuatmu menangis?).

Dengan wajah bersunggut-sunggut kesedihan ia menjawab, “Laa laa syai-a, innama tadzakkartu Ibnu Baz, fabakaitu” (Tidak, tidak ada apa-apa. Aku hanya teringat Ibnu Baz. Kemudian aku pun menangis.).

Aku menangkap logatnya, aku tahu ia adalah seorang yang berasal dari Pakistan walaupun ia mengenakan pakaian Saudi. Akhirnya ia pun bercerita:

Dulu aku mengalami sebuah kejadian bersama beliau. Sekitar 10 tahun yang lalu, aku bekerja sebagai seorang satpam di salah satu pabrik di Kota Thaif. Kemudian sepucuk surat dari Pakistan sampai kepadaku. Surat ini membawa kabar bahwa ibuku dalam keadaan sekarat/koma. Dokter menyatakan harus segera dilakukan operasi transplantasi ginjal. Dan biayanya sebesar 7.000 Riyal Saudi. Sedangkan aku hanya memiliki 1.000 Riyal. Tidak kutemui seorang pun yang dapat membantuku demikian juga dari perusahaan.

Jika operasi tidak dilakukan dalam waktu satu pekan, kemungkinan ibuku akan meninggal. Keadaannya benar-benar tinggal menghitung hari. Aku menangisi ibuku. Karena dialah yang mengasuhku. Yang bergadang di malam hari untuk menjagaku. Situasi kepepet ini pun membuatku nekad. Akhirnya aku melompat masuk ke salah satu rumah di dekat pabrik tempatku bekerja. Kumasuki tempat itu pukul dua dini hari.

Setelah aku berhasil meloncati pagar rumah itu, beberapa saat kemudian tanpa kusadari petugas keamanan telah menangkapku. Mereka melemparku ke dalam mobil. Saat itu, betapa gelap dunia ini kurasakan.

Kemudian, menjelang shalat subuh, datanglah seorang polisi. Ia mengembalikanku ke rumah yang kusatroni tadi. Yang hendak kujarah barangnya. Polisi itu menempatkanku di suatu tempat, lalu ia pergi berlalu.

Beberapa saat kemudian datang seorang pemuda dengan membawa makanan. Ia berkata, “Kul! Bismillah” (Makanlah dengan menyebut nama Allah).

Aku heran dan bingung. Sebenarnya aku sedang berada dimana?

Saat adzan fajar berkumandang, orang-orang di rumah itu berkata kepadaku, “Tawadhdha’ lish shalah” (Wudhulah untuk shalat). Rasa khawatir dan takut menggerayangi tubuhku.

Lalu muncullah seorang laki-laki yang sudah sepuh. Ia dituntun oleh seorang pemuda menuju padaku. Laki-laki tua itu menyalamiku kemudian mengucapkan salam. “Hal akalta?” (Sudah makan?) tanyanya. “Na’am” jawabku. Ia pun meraih tangan kananku lalu menggandengku pergi bersama ke masjid untuk shalat subuh berjamaah.

Setelah shalat, kulihat laki-laki tua yang memegang tanganku itu duduk di sebuah kursi di baris depan masjid. Para jamaah dan pelajar pun mendekat, duduk di sekelilingnya. Mulailah Syaikh itu menyampaikan pelajaran.

Seketika itu kuletakkan kedua tanganku di kepala. Aku malu dan aku juga takut. “Ya Allaaah.. apa yang sudah aku lakukan??? Aku mencoba mencuri di rumah Syaikh Ibnu Baz” gumamku. Aku tahu, nama Syaikh Ibnu Baz karena beliau begitu tenar di negaraku Pakistan.

Setelah pelajaran usai, Syaikh kembali membawaku ke rumahnya. Dengan hangat, ia kembali menggapai tanganku dan mengajakku sarapan pagi. Sarapan yang dihadiri banyak orang-orang. Ia dudukkan aku di sampingnya. Sambil menyantap sarapan beliau bertanya, “Masmuka?” (Siapa namamu?) “Murtadha.” Jawabku.

Aku pun menceritakan kisahku kepadanya. Beliau menanggapi, “Hasanan.. sanu’thika 9.000 Riyal.” (Baik, akan kami berikan 9.000 Riyal untukmu). “Al-mathlub 7.000 Riyal” (Yang dibutuhkan hanya 7.000 Riyal).

Beliau menanggapi, “Sisanya ambillah untukmu. Tetapi jangan kau ulangi lagi perbuatan mencuri itu wahai anakku”. Aku pun mengambil uang itu. Kuucapkan terima kasih kepadanya. Dan kudoakan kebaikan untuknya.

Setelah itu aku pulang ke Pakistan untuk membiayai operasi ibuku. Alhamdulillah ibuku bisa kembali sembuh.

Lima bulan kemudian, aku kembali ke Saudi. Dan langsung menuju Riyadh. Aku mencari Syaikh dan kukunjungi kediamannya. Aku sudah mengenalnya sekarang. Begitu pula beliau, tidak lupa padaku. Beliau bertanya tentang ibuku. Lalu aku berikan kepada beliau 1500 Riyal. Segera beliau bertanya, “Maa hadza?” (Apa ini?) “Al-Baaqi” (Sisanya) jawabku. Lalu beliau berkata, “Huwa laka” (Uang itu untukmu).

Aku kembali mengajukan permintaan kepada Syaikh, “Syaikh, aku ada permintaan”. “Apa itu wahai anakku?” katanya.

“Aku ingin bekerja padamu. Jadi pembantu atau yang lainnya. Aku mohon Syaikh, jangan tolak permintaanku. Semoga Allah senantiasa menjagamu”. Pintaku. “Hasanan” (Baiklah) jawabnya.

Lalu aku pun bekerja di rumah Syaikh hingga beliau rahimahullah wafat.

Salah seorang yang dekat dengan Syaikh mengabarkan kepadaku, “Tahukah engkau, saat kau melompati pagar rumah beliau. Beliau sedang shalat malam dan mendengar suara gaduh di halaman rumahnya. Lalu beliau menekan bel yang biasa ia gunakan untuk membangunkan orang-orang di rumahnya saat-saat shalat wajib saja. Mereka semua terbangun dan merasakan ada suatu kejanggalan. Lalu beliau memberi tahu bahwa ada suara ribut-ribut di halaman. Mereka pun menyampaikannya ke satpam, lalu satpam menelpon polisi. Tanpa menunggu lama mereka pun menangkapmu.

Syaikh pun bertanya apa yang terjadi. Orang-orang di rumahnya mengatakan ada pencuri, dan polisi telah menggelandangnya. Syaikh pun marah, lalu berkata, “Jangan, jangan.. bebaskan dia sekarang dari kantor polisi. Aku yakin dia tidak mencuri kecuali karena sangat terdesak. Kemudian kejadiannya sebagaimana yang sudah engkau ketahui”.

Aku (yang bertanya) berkata kepada sahabatku (yang bercerita), “Sekarang matahari telah terbit (sudah pagi). Seluruh umat ini terasa berat dan menangisi perpisahan dengan beliau. Berdirilah sekarang, marilah kita shalat dua rakaat dan berdoa untuk Syaikh rahimahullah.
—–

Semoga Allah senantiasa merahmati Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan menempatkannya di surga yang penuh dengan kenikmatan.. Amin..

Sumber:
http://forum.islamstory.com/

Menjual Barang Yang Tidak Dimiliki…

Ustadz Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Termasuk jual beli yang dilarang, yaitu menjual barang yang tidak ia miliki.

Misalnya, seorang pembeli datang kepada seorang pedagang mencari barang tertentu. Sedangkan barang yang dicari tersebut tidak ada pada pedagang itu. Kemudian antara pedagang dan pembeli saling sepakat untuk melakukan akad dan menentukan harga dengan dibayar sekarang ataupun nanti, sementara itu barang belum menjadi hak milik pedagang atau si penjual. Pedagang tadi kemudian pergi membeli barang dimaksud dan menyerahkan kepada si pembeli.

Jual beli seperti ini HUKUM-NYA HARAM, karena si pedagang menjual sesuatu yang barangnya tidak ada padanya, dan menjual sesuatu yang belum menjadi miliknya, jika barang yang diinginkan itu sudah ditentukan. Dan termasuk menjual hutang dengan hutang, jika barang yang diinginkan tidak jelas harganya dibayar di belakang.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang cara berjual beli seperti ini. Dalam suatu riwayat, ada seorang sahabat bernama Hakim bin Hazam Radhiyallahu ‘anhu berkata kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salalm : “Wahai, Rasulullah. Seseorang datang kepadaku. Dia ingin membeli sesuatu dariku, sementara barang yang dicari tidak ada padaku. Kemudian aku pergi ke pasar dan membelikan barang itu.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

لَا تَبِعْ مَا لَيْسَ عِنْدَكَ

“Jangan menjual sesuatu yang tidak ada padamu.” [HR Tirmidzi].

Demikian ini menunjukkan adanya larangan yang tegas, bahwa seseorang tidak boleh menjual sesuatu kecuali telah dimiliki sebelum akad, baik dijual cash ataupun tempo. Masalah ini tidak boleh diremehkan. Pedagang yang hendak menjual sesuatu kepada seseorang, hendaknya dia menjamin keberadaan barangnya di tempatnya atau di tokonya, gudangnya, show roomnya atau di tokonya. Kemudian jika ada orang yang mau membelinya, dia bisa menjualnya cash atau tempo.

Nah.. gimana reseller? Gimana jual beli online yang lagi marak? Tentu pedagang harus ada barang.

Tanda-Tanda Hati Yang Sakit (Rusak) Dan Sekarat Dalam Pandangan Allah Ta’ala…

Ustadz Abu Riyadl, Lc, حفظه الله تعالى

Tanda-tanda hati yang sakit(rusak) dan sekarat dalam pandangan Allah Ta’ala .

Hati seorang hamba bisa sakit dan terkadang sakitnya parah, sedangkan ia sendiri tidak menyadarinya. Bahkan hatinya telah mati namun pemiliknya tidak tahu bahwa hatinya telah mati.

Dan tanda sakitnya atau kematian hati adalah:
Si pemiliknya tidak merasa sakit dengan kemaksiatan yang ia perbuatan, tidak merasa pedih dengan kebodohannya terhadap kebenaran, serta tidak merasa menyesal dengan keyakinannya yang salah dan batil.

Karena sesungguhnya apabila hati itu memang hidup, ia akan merasa sakit dengan keburukan-keburukan yang hinggap pada dirinya. Dan menangisi kebodohannya terhadap kebenaran

Jenis hati yang rusak: adalah yang merasa tidak nyaman dan terasa berat saat diobati. Ia lebih memilih untuk menderita hati sekarat daripada menahan pahitnya obat.

Di antara tanda-tanda hati yang sakit adalah: berpaling dari perkara-perkara yang bermanfaat dan beralih ke perkara-perkara yang berbahaya. Menghindari dari obat yang mujarab terhadap penyakit yang membahayakannya.

Sedangkan hati yang sehat, ia lebih memilih sesuatu yang bermanfaat lagi menyembuhkan dari pada berbuat sesuatu yang membahayakan agamanya.

Makanan hati yang paling bermanfaat adalah keimanan, dan obat hati yang paling mujarab adalah al-Qur-an dan ilmu

Lihat betapa bayak manusia sepeti biawak padang pasir..

Manamungkin biawak padang pasir akan nyaman dilempar ke air danau yang sejuk..
Ia akan berusaha keluar darinya.
Karena tidak ada kecocokan akan hausnya si biawak dan obat haus yang ada di danau..

Itulah mengapa terkadang kita berat beribadah..beramal..membaca Qur’an.. Menuntut ilmu..

Karena biawak tidak memerlukan itu..

Seperti apa hati kita? Seperti ikan ataukah seperti..????

Sholawat Yang Men-Tuhan-kan Rasulullah Shollallahu ‘Alaihi Wasallam…

Ustadz Abu Riyadl, Lc, حفظه الله تعالى

SHOLAWAT NARIYAH !!

Tidak asing lagi ditelinga kita sholawat berikut ini.

اللهم صل صلاة كاملة، وسلم سلاما تاما على سيدنا محمد الذى تنحل به العقد، وتنفرج به الكرب، وتقضى به الحوائج، وتنال به الرغائب، وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم، وعلى أله وصحبه فى كل لمحة ونفس بعدد كل معلوم لك

Artinya adalah:
“Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat wajahnya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau.”

Hebat bukan?

Dalam shalawat nariyah, terdapat kalimat pen-Tuhanan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam

Lafadz tersebut adalah:

تـُــنْحَلُ بِهِ العُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الكُرَبُ وَتُقْضَى بِهِ الحَوَائِجُ وَ تُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم
Rincian:

(تنحل به العقد)
* Segala ikatan kesulitan bisa lepas karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

(وتنفرج به الكرب)

* Segala bencana bisa lenyap dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

(وتقضى به الحوائج)

* Segala kebutuhan bisa terkabulkan karena Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam

(وتنال به الرغائب وحسن الخواتم وسيتشقى الغمام بوجهه الكريم )

* dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat wajahnya yang mulia hujanpun turun.

Empat kalimat di atas merupakan pujian yang ditujukan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Jika kita perhatikan, empat kemampuan di atas merupakan kemampuan yang HANYA DIMILIKI oleh Allah dan tidak dimiliki oleh makhluk-Nya siapa pun orangnya. Karena yang bisa menghilangkan kesulitan, menghilangkan bencana, memenuhi kebutuhan, dan mengabulkan keinginan serta doa, hanyalah Allah.

Seorang Nabi atau bahkan para malaikat sekalipun, tidak memiliki kemampuan dalam hal ini..

Nah gimana? Siapa Tuhan kalian?

Pelit

Ustadz Abu Riyadl, Lc, حفظه الله تعالى

Betapa banyak seorang lelaki yang pelit kepada orangtuanya…

Wahai para wanita ingatkan suamimu untuk membahagiakan kedua orangtuanya… janganlah dirimu membuat lupa statusnya sebagai anak…

Ingatlah suatu masa engkau akan cemburu disaat putramu hanya bisa memanjakan istrinya sedangkan dirimu dalam keadaan tua renta dilupakan oleh putramu..

Menjaga Lisan

Ustadz Abu Riyadl, Lc, حفظه الله تعالى

Abdullah bin Mas’ud berkata,
“Demi Allah yang tidak ada tuhan yang berhaq selain Dia, tidak ada sesuatupun butuh cukup lama untuk ditahan selain lisanku.”

Dan ia juga pernah berkata, “Wahai lisan, ucapkanlah kebaikan niscaya engkau akan meraih keuntungan, dan diamlah dari perkataan buruk niscaya engkau akan selamat sebelum engkau menyesal nantinya.”

Dari Abu Hurairah dari Ibnu ‘Abbas ia berkata: “Sesungguhnya manusia tidak mengalami kedahsyatan kekesalan dan kemarahannya terhadap salah satu dari anggota tubuhnya pada hari kiamat selain lisannya, kecuali bila seseorang mengucapkan dengan lisannya kebaikan atau mendiktekan suatu kebaikan.”

Al-Hasan berkata, “Tidak dianggap telah paham agama jika seseorang tidak menjaga lisannya.”

Diriwayatkan dari Abu ‘Ubaidah dari al-Hasan ia berkata, “Di antara tanda bahwa Allah ta’ala berpaling dari seorang hamba, Dia menjadikannya menyibukkan diri dalam hal-hal yang tidak bermanfaat baginya, sebagai bentuk penelantaran dari Allah terhadapnya.”

Sahl menuturkan:
“Barangsiapa yang berkata-kata yg tidak berguna baginya, maka sukar baginya untuk jujur.”

*** Lihat saudaraku.. lisan ini bisa merubah air laut jadi tawar.. maka berhematlah dalam bicara. Dan jangan bicara susuatu yang tidak ada manfaatnya untukmu.. ghibah akan merugikanmu..

Beberapa Perkataan Ulama Yang Berkaitan Dengan Ke-ikhlasan

Ustadz Abu Riyadl, Lc, حفظه الله تعالى

Ya’qub berkata, “Orang yang ikhlas ialah seseorang yang menyembunyikan kebaikannya sebagaimana ia menutupi dosa-dosanya.”

As-Suusi berkata, “Ikhlas itu tidak melihat bahwa dirinya telah ikhlas, karena barangsiapa yang melihat bahwa dirinya sudah merasa ikhlas, maka butuh untuk mengikhlaskan keikhlasannya.”

Apa yang disebutkan ini, sebuah bentuk penjernihan rasa ujub dalam sebuah perbuatan. Karena perasaan bahwa dirinya sudah ikhlas dan menganggap seperti maka hal ini sebuah bentuk rasa ujub, dan sifat ini termasuk di antara penghalang keihklasan. Sedangkan orang yang benar-benar ikhlas ialah apabila ia terhindar dari segala jenis penghalang yang ada.

Ayyub berkata, “Mengikhlaskan niat lebih berat bagi para pengamal dari keseluruhan amalan yang ada.”

Sebagian ulama berkata, “Sesaat saja seseorang bisa ikhlas, maka ia akan memperoleh keselamatan yang abadi, namun rasa ikhlas itu sangat jarang dirasakan.”

Ada seseorang berkata kepada Suhail, “Hal apakah yang paling berat bagi jiwa?”, ia menjawab, ‘Ikhlas, karena jiwa itu tidak mampu untuk meraihnya.”

Al-Fudhail berkata, “Meninggalkan suatu amalan karena malu terhadap manusia maka ini disebut riya, beramal karena manusia syirik, sedangkan ikhlas itu ialah Allah menyelamatkanmu dari kedua perbuatan tersebut.”

Salah Satu Kemungkaran Di Hari Idul FIthri

Ustadz Abu Riyadl Nurcholis, Lc, حفظه الله تعالى

Kemungkaran tersebut adalah berjabat tangan dengan pria/wanita yang bukan mahrom.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda (yang artinya) :
“lebih baik kepala salah seorang dari kalian Ditusuk dengan jarum besi daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.”

Hadits ini derajatnya dikatakan oleh syaikh Al-Albani Hasan Shohih.

Adapun teknis menghindari salaman dengan lawan jenis non-mahrom, itu bisa dilakukan dengan memberi isyarat bahwa dia tidak ingin bersalaman dengan lawan jenis non-mahrom, dengan tetap memberi hormat kepada non mahrom yang mengajak salaman tersebut. Seandainya kala itu nasehat dan keterangan hukum diberikan kepada orang yang tidak tahu hukum bersalaman dengan non-mahrom tersebut maka itu lebih baik.

Mahrom bagi wanita adalah para lelaki berikut..

1. Anak lelakimu
2. Cucu laki lakimu kebawah dari jalur apapun
3. Ayahmu
4. Kakekmu keatas dari jalur manapun.
5. Saudara lelaki sekandung
6. Saudara lelaki seayah
7. Saudara lelaki seibu
8. Anak laki dari saudara atau saudarimu sekandung, seayah atau seibu. (Pokoknya keponakan kita yang laki-laki)
9. Pamanmu dari jalur manapun
10. Saudara kakekmu dari jalur kakek manapun.
11. Ayah tirimu atau mantan suami ibumu
12. Anak laki tirimu atau anak laki dari mantan suamimu.
13. Mertuamu atau mantan mertuamu
14. Menantumu atau mantan menantumu.
15. Saudara se-susuanmu dan siapa saja yang jadi mahram saudara sesuanmu dari nasab dia.

Suami bukan mahrom tapi ia adalah SUAMI !!

Karena arti mahrom adalah : seseorang yang haram menikah dengan kamu selamanya.

Namun, SUAMI lebih berhak daripada mahrom-mahrommu… Dalam safar maupun melihat aurat, bahkan seluruh tubuh.

Ref:
http://www.salamdakwah.com/baca-artikel/wahai-wanita-siapakah-mahrammu–.html

Semoga bermanfaat. Baarakallahu fiikum.

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Zakat Fitrah Itu Hendaknya 3 KG Bukan Cuma 2,5 KG

Ustadz Abu Riyadl, Lc حفظه الله تعالى

Jika pakai liter maka 3,5 liter bukan seperti yang beredar hanya 3 liter.

Menurut jumhur ulama madzab rata-rata mereka 2.75 kg atau hampir 3 kg.

Adapun abu hanifah malah 3,8 kg

Maka jalan tengah adalah minimal zakat fitrah 3 kg.

Didukung oleh fatwa lajnah daimah no 12572, dan MUI Jatim juga menganjurkan untuk zakat fitrah 3 KG.

Semoga zakat fitrah kita tidak kurang takarannya..

┈┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈┈

Wahai Anakku…

Ustadz Abu Riyadl, حفظه الله تعالى

Anakku..!!
Ketika aku semakin tua, aku berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku..

Suatu ketika aku..
Memecahkan piring atau menumpahkan sup diatas meja karena penglihatanku berkurang,
Aku harap kamu tidak memarahiku
Orang tua itu sensitif…selalu merasa bersalah jika kamu berteriak..

Ketika pendengaranku semakin memburuk,aku harap kamu tidak berkata: ” TULI..!! ”
Mohon ulangi apa yang kau katakan..

Maaf, anakku…!!
Aku semakin tua….
Aku mohon jangan bosan denganku ketika aku mengulangi apa yang kukatakan, seperti dongeng sebelum tidurmu dulukala, aku harap kamu selalu mendengarkan aku, tolong jangan mengejek ku atau bosan mendengarkanku…

Apakah kamu ingat ketika kamu kecil dan kamu mengulangi apa yang kamu baru bisa ucapkan..
Aku dulu senang mendengarnya..

Maafkan aku wahai anakku tentang bau ku, tercium seperti orang yang tua ya… Aku mohon jangan memaksaku untuk mandi, atau menyinggungku…..
Aku harap aku tidak terlihat kotor bagimu…

Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil? Aku selalu mengejar-ngejar kamu ketika kamu tidak ingin mandi…

Aku sabar dalam memandikanmu..

Aku harap kamu bisa bersabar dengan ku ketika aku rewel…ini semua bagian dari menjadi tua…kamu akan mengerti ketika kamu tua…

Dan jika kamu memiliki waktu luang, aku harap kita bisa bicara bahkan untuk beberapa menit..aku selalu sendiri sepanjang waktu dan tidak memiliki seseorangpun tuk diajak bicara…aku tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu

Ketika saatnya tiba dan aku hanya bisa terbaring…sakit dan sakit, aku harap kamu memiliki kesabaran tuk merawatku..

Semoga kelak kita dapat berkumpul disurga..

Pesan dari ku wahai saudaraku:

Jikalau orang tua kita telah semakin sepuh.. maka hati-hatilah dalam berbicara.. ia merupakan kunci surgamu..

Sensitif dari segala ucapan seorang anak.. entah salah atau benar.. bukan menjadi suatu alasan..

Yang jelas mereka berdua telah menyayangimu..

Jagalah kalimat apapun yang dapat menyinggungnya..

Bila engkau dapat bertutur kata manis kepada atasanmu dan engkau akan murah senyum padanya..itu hanya karena gajimu ada ditangannya..

Maka inilah orang tua kita… mereka berdua memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari sekedar atasanmu..
Jangan karena engkau telah lama hidup bersamanya.. sehingga hormatmu padanya hanya hormat biasa.. atau ketika engkau beda pendapat dengannya.. bantahanmu langsung keluar dengan mudahnya..

Rendahkan sayapmu untuknya..jika engkau bersayap..

Sesungguhnya burung tidak dapat terbang jika mereka merendahkan sayapnya..

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊