Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Janganlah Menjadi Orang Yang Beribadah Kepada Allah Di Tepi Jurang

Allah Ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi; maka jika ia memperoleh kesenangan, tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata..” (Al Hajj: 11)

Terkait ayat di atas, seorang tabi’in yang bernama Abdurrahman bin Zaid bin Aslam rohimahumullah berkata,

هو المنافق ، إن صلحت له دنياه أقام على العبادة ، وإن فسدت عليه دنياه وتغيرت ، انقلب فلا يقيم على العبادة إلا لما صلح من دنياه ، فإن أصابته فتنة أو شدة أو اختبار أو ضيق ، ترك دينه ورجع إلى الكفر .

“Ia adalah munafik. Jika dunianya baik maka ia menegakkan ibadah dengan benar. Jika dunianya berkurang ia pun berubah.

Ia tidak menegakkan ibadah kecuali yang menguntungkan dunianya. Jika ia ditimpa fitnah atau bencana atau ujian atau kesempitan rezeki ia tinggalkan agamanya dan kembali kepada kekufuran..”

(Tafsir Ath Thobari)

Kita berlindung kepada Allah dari melaksanakan ubudiyah kepada Allah saat senang saja..
Namun kita beribadah kepada-Nya di setiap keadaan.. baik senang maupun susah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kadar Keimanan

Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang merasa takut kepada Robbnya saat ghoib, bagi mereka ampunan dan pahala yang besar..” (Al Mulk: 12)

Imam Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

يقول تعالى مخبرا عمن يخاف مقام ربه فيما بينه وبينه إذا كان غائبا عن الناس ، فينكف عن المعاصي ويقوم بالطاعات ، حيث لا يراه أحد إلا الله ، بأنه له مغفرة وأجر كبير ، أي : يكفر عنه ذنوبه ، ويجازى بالثواب الجزيل

“Allah Ta’ala mengabarkan tentang orang yang takut kepada kedudukan Robbnya saat ia sendirian (ghoib) dari manusia. Ia meninggalkan maksiat dan melakukan ketaatan saat tidak ada seorangpun melihatnya kecuali Allah.

Bahwasanya bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. Artinya dosa-dosanya dihapus dan diberikan pahala yang banyak..”

(Tafsir Ibnu Katsir)

Mungkin di hadapan manusia kita terlihat alim dan takut kepada Allah..
Namun saat sendiri kita tidak takut kepada-Nya..

Itulah kadar keimanan kita..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Orang Yang Faqih

Mujahid bin Jabr rohimahullah berkata,

‏ﺍﻟﻔﻘﻴﻪ ﻣَﻦ ﻳﺨﺎﻑ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻥ ﻗَﻞّ ﻋِﻠْﻤﻪ،
‏ﻭﺍﻟﺠﺎﻫﻞ ﻣَﻦ ﻋﺼﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺇﻥ ﻛﺜﺮ ﻋِﻠْﻤﻪ.

“Orang yang faqih adalah yang takut
kepada Allah walaupun ilmunya sedikit, dan orang bodoh adalah yang suka
memaksiati Allah walaupun ilmunya amat banyak..”

(Al Bidayah wan Nihayah 9/255)

Tujuan berilmu adalah agar menjadi hamba Allah yang takut kepada-Nya..
Bukan untuk bersombong dan merasa ujub..
Tidak juga agar diakui keilmuannya..
Apalagi untuk mencari ketenaran..

Itu semua bukanlah sifat orang yang berilmu..
Namun sifat kaum yang bodoh..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Diantara Musibah Yang Paling Besar

Musibah itu ketika mengetahui aib dan kekurangan diri, tapi kita tidak peduli dan tidak berusaha memperbaiki diri.

Abdullah Ibnul Mubarok rohimahullah berkata,

ﻣﻦ ﺃﻋﻈﻢ اﻟﻤﺼﺎﺋﺐ ﻟﻠﺮﺟﻞ ﺃﻥ ﻳﻌﻠﻢ ﻣﻦ ﻧﻔﺴﻪ ﺗﻘﺼﻴﺮاً ﺛﻢ ﻻ ﻳﺒﺎﻟﻲ ﻭﻻ ﻳﺤﺰﻥ ﻋﻠﻴﻪ

“Diantara musibah yang paling besar adalah seseorang menyadari akan kekurangannya pada dirinya namun ia tidak peduli dan tidak bersedih karenanya..”

(Syu’abul Iman, 867)

Karena mukmin seharusnya belomba lomba dalam kebaikan..

Dengan memperbaiki diri dan beramal sholeh..
Ia selalu muhasabah adakah kekurangan pada diri dan amalnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Tiga Hiasan Seseorang

Imam Asy Syafi’i rohimahullah berkata,

جوهر المرء في ثلاث: كتمان الفقر: حتّى يظن
‏النّاس من عفتك أنّك غني، وكتمان الغضب:
‏حتّى يظن النّاس أنّك راضٍ، وكتمان الشدة:
‏حتّى يظن النّاس أنّك مُتنعم.

Hiasan seseorang itu tiga :

● menyembunyikan kefakiran hingga orang mengira ia kaya,

● menyembunyikan marah hingga orang mengira ia ridho,

● mnyembunyikan kesusahan hingga orang mengira ia senang.

(Manaqib Asy Syafi’i karya Al Baihaqi 2/188)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mereka Yang Dikagumi Oleh Allah

Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إن ربك يعجبُ من عبده إذا قال : اغفر لي ذنوبي ، يعلم أنه لا يغفرُ الذنوب غيري .

“Sesungguhnya Allah kagum kepada hamba-Nya apabila ia berkata, ‘ya Allah Ampuni dosa-dosaku..’ Karena ia yakin bahwa tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Aku..”
(HR Abu Dawud)

Dikagumi oleh Allah adalah keberuntungan yang besar..

Adapun dikagumi oleh manusia..
Tidak memberikan apa apa..
Bahkan seringkali menimbulkan penyakit hati..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

Tujuan Pertemanan

Al Hafidz Ibnu Hajar Al Asqolani rohimahullah berkata,

‏”الانسان إذا رأى صاحبه مهموماً اسْتُحِبَّ له أن يحدِّثه بما يُزيل همَّه ويُطَيِّب نفسه؛
‏لقول عمر بن الخطاب رضي الله عنه:
‏(لأقولنَّ شيئًا يضحك النبي ﷺ)”.

“Seorang insan apabila melihat temannya sedih maka disunnahkan untuk menghiburnya dengan ucapan (yang menyenangkan) dan menghilangkan kesedihannya.

Sebagaimana ucapan Umar bin Khothob rodhiyallahu ‘anhu, “Sungguh, aku akan mengucapkan sesuatu yang membuat nabi shollallahu ‘alayhi wasallam tertawa..”

(Fathul Bari 9/363)

Karena tujuan pertemanan adalah..
Untuk saling menguatkan dan mengingatkan..
Agar tegar di atas jalan Allah Azza wajalla..
Bukan sebatas karena urusan dunia…
Atau kepentingan harta..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Makna Sabar

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“الصبر:
حبس اللسان عن الشكوى إلى غير الله،
والقلب عن التسخط،
والجوارح عن اللطم وشق الثياب ونحوها”.

عدة الصابرين ص: ٢٣١.

“Sabar adalah :
– menahan lisan dari mengadu kepada selain Allah.
– menahan hati dari merasa kesal, dan
– menahan anggota badan menampar pipi, menyobek baju dsb..”

(‘Uddatush Shoobiriin – 231)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ref : https://twitter.com/UB_CintaSunnah/status/1711260149246239186?t=qq4038hUKNnFWNR946btAQ&s=19

Ibadah Yang Paling Utama

Ibnus Sammak menulis surat kepada saudaranya,

‏أَفْضَلُ العبادة الإمساك عن المعصية ، والوقوف عند الشهوة ، وَأَقْبَحُ الرغبة أَنْ تطلب الدُّنْيَا بعمل الآخرة

‏الآداب الشرعية (1/153)

“Ibadah yang paling utama adalah menahan diri dari maksiat dan berhenti saat syahwat.. dan seburuk-buruk keinginan adalah mencari dunia dengan melalui amalan akherat..”

(Al Adab Asy Syar’iyah 1/153)

Karena maksiat itu disukai oleh syahwat..
Meninggalkannya amat berat terlebih saat syahwat bergejolak..
Semakin membituhkan perjuangan maka semakin besar pahalanya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tiga Perkara

Yahya bin Muadz rohimahullah berkata,

ليكن حظ المؤمن منك ثلاثة :
‏إن لم تنفعــه فلا تضـره
‏وإن لم تفرحـه فلا تغمه
‏وإن لم تمدحه فلا تذمه.

“Hendaklah sikapmu kepada mukmin lain tiga perkara:

● Jika kamu tidak bisa memberinya manfaat, maka jangan memberinya mudhorot.

● Jika kamu tidak bisa membuatnya gembira, maka jangan membuatnya bersedih.

● Jika kamu tidak bisa memujinya, maka jangan mencelanya..”

(Jami’ul Ulum wal Hikam 2/283)

Memasukkan kegembiraan ke dalam hati mukmin..
Adalah termasuk amal yang dicintai Ar Rohman..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى