Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Paling Buruk Di Sisi Allah

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ (٦٧)

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan..”

(Q.S. Az-Zumar ayat 67)

Langit dan bumi adalah milik Allah..
Mereka semua makhluk yang membutuhkan karunia-Nya..

Maka orang yang mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya..
Adalah orang paling buruk di sisi Allah..
Walaupun ia baik kepada sesama manusia..

Oleh karena itu Allah tidak akan pernah mengampuni orang yang mati di atas kesyirikan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Lima Perkara

Dari Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu,

عن جابر بن عبد الله رضي الله عنهما أنّ النبيَّ صلى الله عليه وسلم قال :

Bahwasanya Nabi shollaallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

*«أُعْطِيتُ خمسا، لم يُعْطَهُنَّ أحد قبلي: نُصِرْتُ بالرعب مسيرة شهر، وجُعِلَت لي الأرض مسجدا وطَهُورا، فأَيَّمَا رجل من أمتي أدركته الصلاة فَلْيُصَلِّ، وأُحِلَّت لي المغانم، ولم تحلَّ لأحد قبلي، وأُعْطِيتُ الشفاعة، وكان النبي يُبْعَثُ إلى قومه خاصة، وبُعِثتُ إلى الناس عامَة».*

“Aku diberikan oleh Allah lima yang tidak pernah diberikan kepada seorangpun dari Nabi sebelumku,

– Yang pertama, aku ditolong oleh Allah dengan rasa takut (di hati musuh) sebulan perjalanan jauhnya.

– Yang ke 2, dijadikan bumi itu sebagai tempat sholat dan sebagai tempat bersuci. Maka siapapun dari ummatku yang mendapatkan waktu sholat hendaklah ia sholat dimanapun.

– Yang ke 3, dihalalkan kepadaku ghonimah dan tidak dihalalkan untuk seorangpun sebelumku.

– Yang ke 4, aku diberikan oleh Allah syafa’at.

– Yang ke 5, Nabi sebelumku diutus hanya kepada kaumnya saja. Sedangkan aku diutus kepada seluruh manusia..”

[HR. Al Bukhori dan Muslim]

=======
Hadits Ini menunjukkan :

1️⃣ Disyari’atkannya menceritakan nikmat-nikmat Allah subhanaahu wata’ala, bukan untuk berbangga-bangga tapi untuk memperlihatkan nikmat Allah subhanaahu wata’ala sebagai rasa syukur.

Sebagaimana Allah ber-firman juga dalam Qs. Dhuha ayat 11,

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Adapun dengan nikmat Robb-Mu maka ceritakanlah..”

2️⃣ Keutamaan Nabi Muhammad shollallaahu ‘alayhi wasallam dan ummatnya dimana diberikan kepada mereka keistimewaan yang tidak diberikan kepada nabi-nabi sebelum Rosulullah shollallaahu ‘alayhi wasallam.

3️⃣ Bahwa diantara wasilah kemenangan yaitu dijadikannya musuh-musuh itu ketakutan di hati mereka sejauh sebulan perjalanan.

4️⃣ Dalil yang menunjukkan bolehnya tayammum dengan tanah apapun yang suci, maka dimana saja kita berada kita boleh tayammum disitu kalau jika tidak mendapatkan air dan kita boleh sholat, kecualikan tentunya tempat yang dilarang padanya untuk sholat. Seperti kuburan, demikian pula kamar mandi, demikian pula kandang unta.

5️⃣ Wajibnya melaksanakan sholat apabila telah masuk waktunya.

6️⃣ Dihalalkannya ghonimah untuk ummat Islam.

7️⃣ Bahwa nabi Muhammad shollallaahu ‘alayhi wasallam diistimewakan dengan syafa’at yang terbesar nanti pada hari kiamat.

8️⃣ Bahwa risalah Nabi Muhammad shollallaahu ‘alayhi wasallam itu umum, untuk seluruh manusia sedangkan para nabi sebelum Rosulullah shollaallahu ‘alayhi wasallam hanya untuk ummatnya saja.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Derajat Hati Yang Paling Tinggi

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

فإن أرفع درجات القلوب فرحها التام بما جاء به الرسول صلى الله عليه وسلم وابتهاجها وسرورها كما قال تعالى: (والذين آتيناهم الكتاب يفرحون بما أنزل إليك) وقال تعالى: (قل بفضل الله وبرحمته فبذلك فليفرحوا) ففضل الله ورحمته القرآن والإيمان من فرح به فقد فرح بأعظم مفروح به”.

“Sesungguhnya derajat hati yang paling tinggi adalah kebanggaan yang sempurna dengan apa yang dibawa oleh Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam. Merasa bahagia dan gembira dengannya sebagaimana firman Allah, ‘Dan orang orang yang Kami berikan al kitab, mereka bergembira dengan apa yang diturunkan kepadamu..’ (Ar Ro’du: 36)

Dan firman Allah, ‘Katakan, dengan karunia Allah dan rahmat-Nya hendaklah mereka bergembira..’ (Yunus: 58)

Karunia Allah dan rahmat-Nya adalah Alqur’an dan keimanan. Siapa yang bergembira dengannya maka ia telah bergembira dengan sesuatu yang amat agung..”

(Majmu Fatawa 16/49)

Bergembira dengan pangkat dan kedudukan..
Bergembira dengan harta dan kenikmatan dunia..
Adalah kegembiraan yang tidak dipuji oleh Allah..

Namun gembira dengan Alqur’an dan hadits…
Gembira dengan keimanan dan ketaatan…
Adalah seindah indah kegembiraan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ref :

Orang Yang Paling Buruk Di Sisi Allah

Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِهٖۖ وَالْاَرْضُ جَمِيْعًا قَبْضَتُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوٰتُ مَطْوِيّٰتٌۢ بِيَمِيْنِهٖۗ سُبْحٰنَهٗ وَتَعٰلٰى عَمَّا يُشْرِكُوْنَ (٦٧)

“Dan mereka tidak mengagungkan Allah sebagaimana mestinya, padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari Kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya. Mahasuci Dia dan Mahatinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan..”

(Q.S. Az-Zumar ayat 67)

Langit dan bumi adalah milik Allah..
Mereka semua makhluk yang membutuhkan karunia-Nya..

Maka orang yang mempersekutukan Allah dengan makhluk-Nya..
Adalah orang paling buruk di sisi Allah..
Walaupun ia baik kepada sesama manusia..

Oleh karena itu Allah tidak akan pernah mengampuni orang yang mati di atas kesyirikan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Memaafkan Yang Dicintai Oleh Allah

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

العفو الذي يحبه الله هو الذي فيه إصلاح لأن الله اشترط ذلك في العفو فقال(فمن عفا وأصلح فأجره على الله)أي كان عفوه مشتملاً على الإصلاح.

“Memaafkan yang dicintai oleh Allah adalah memaafkan yang disertai dengan ishlah (memperbaiki hubungan). Karena Allah mensyaratkan hal itu dalam firman-Nya yang artinya: “Siapa yang memaafkan dan ishlah (memperbaiki hubungan) maka pahalanya dari Allah..” Artinya memaafkannya disertai ishlah..”

(Syarah Kitab Tauhid 2/278)

Sebagian orang ada yang memaafkan namun tidak memperbaiki hubungan..
Padahal memperbaiki hubungan dengan sesama muslim jauh lebih penting dari sekedar memaafkan..
Kecuali jika menimbulkan mudharat yang lebih besar..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Semua Akan Ada Hisabnya

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي قَدْ أَعْجَبَتْهُ جُمَّتُهُ وَبُرْدَاهُ إِذْ خُسِفَ بِهِ الْأَرْضُ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِي الْأَرْضِ حَتَّى تَقُومَ السَّاعَةُ

“Dahulu ketika ada seseorang yang berjalan dan ia merasa bangga dengan rambutnya yang terurai dan mantelnya yang indah, tiba-tiba bumi beserta isinya ditenggelamkan, dan diapun ikut terbenam sambil meronta-ronta ke dalam perut bumi hingga hari kiamat nanti..”

(HR Muslim)

Lihatlah..
Ia diadzab karena merasa bangga dan sombong dengan rambut dan mantelnya yang indah..

Lalu bagaimana dengan:
Motor gede yang mahal..
Mobil ferrari yang mewah..
Sepeda yang berharga ratusan juta..
Seringkali membuat hati pemiliknya berbangga dan bersombong dengannya..

Semua itu akan ada hisabnya yang berat di hari kiamat kelak..

Maka selalulah berintropeksi dan memeriksa hati..
Namun itu amat sulit..
Karena hati sering berkhianat..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Penyebab Datangnya Kehinaan

Di perang Uhud, Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam memerintahkan pasukan pemanah agar jangan turun dari gunung baik menang maupun kalah..

Namun ketika mereka melihat kaum muslimin menang dan banyak ganimah..
Sebagian besar mereka turun dan menyalahi perintah Rosul..

Maka pasukan musyrikin menggunakan kesempatan itu untuk menyerang kaum muslimin dari balik gunung dan berakhir dengan kekalahan kaum muslimin..

Maka Allah mengabadikan itu dalam firman-Nya:

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُم مُّصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُم مِّثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّىٰ هَـٰذَا ۖ قُلْ هُوَ مِنْ عِندِ أَنفُسِكُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini..?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri..” Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

(Aali Imran – 165)

Allah menyebutkan bahwa kekalahan itu bukan karena jumlah musuh yang lebih besar..
Tapi kekalahan itu berasal dari diri mereka sendiri yang menyalahi perintah Rosul..

Pelajaran bagi kita bahwa menyelisihi perintah Rosul pasti mendatangkan kehinaan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Terfitnah Oleh Pujian Manusia

Kholid bin Shofwan berkata kepada Umar bin Abdil Aziz, rohimahumallah,

يا أمير المؤمنين إنّ أقواماً غرهم ستر الله
‏وفتنهم حسن الثناء فلا يغلبن جهل غيرك
‏بك علمك بنفسك
‏أعاذنا الله وإياك أن نكون بالستر مغرورين
‏وبثناء الناس مسرورين
‏وعما افترض الله علينا متخلفين ومقصرين
‏وإلى الأهواء مائلين

“wahai Amirul Mukminin..

banyak orang yang tertipu ketika Allah menutupi aib mereka..
dan terfitnah oleh pujian manusia…

maka ketidak tahuan mereka terhadap aibmu..
jangan sampai mengalahkan pengetahuanmu tentang aibmu..

– semoga Allah melindungi kami dan engkau dari tertipu dengan penutupan Allah terhadap aib kita..

– dan dilindungi dari gembira karena mendapat pujian manusia..

– dan dilindungi dari menyia nyiakan perintah Allah dan mengikuti hawa nafsu..”

(Az Zuhdul Kabiir karya imam Al Baihaqi 1/187)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sanksi Yang Tidak Dirasakan

Diantara makar Allah adalah yang Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam sabdakan,

إذا رأَيتَ اللهَ يُعطي العبدَ من الدُّنيا على مَعاصيهِ ما يُحِبُّ، فإنما هوَ استِدْرَاجٌ، ثُمَّ تَلا رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ: ﴿ فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ﴾ [الأنعام: 44])

“Apabila kamu melihat Allah memberikan kepada seorang hamba kenikmatan dunia akibat maksiatnya maka sesungguhnya ia adalah istidroj (diulur). Lalu beliau membaca firman Allah,

فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّىٰ إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُم بَغْتَةً فَإِذَا هُم مُّبْلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka, sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa..” (Al-An’am – 44)

(HR. Ahmad, no.17349, dishohihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shohihah, no. 414)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan bahwa makna makar Allah kepada hamba-Nya adalah memberikan sanksi akibat dosanya dari arah yang ia tidak merasakannya.

Maka jangan pernah kita merasa aman dari makar Allah..
Jangan merasa aman dari datangnya adzab Allah dengan sekonyong konyong saat kita berbuat dosa..

Karena bagi Allah itu mudah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى