Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

MUTIARA SALAF : Jangan Mengikuti Hawa Nafsu

Allah Ta’ala berfirman,

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَـٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَن يَهْدِيهِ مِن بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya di atas ilmu dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya..? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran..?!”

(Al-Jaasiyah – 23)

Syaikh Sholih Fauzan hafizhohullah berkata,

فالهوى إلهٌ آخرُ .
‏وليسَ الشركُ مقصوراً على عبادة الصنم أو الوثن .
‏بل هناك شيءٌ آخرُ وهو الهوى .
‏فقد لا يعبدُ الإنسانُ الأصنام ، والأشجار ، والأحجار ولا يعبد القبور .
‏لكن يتبع هواه ، فهذا عبدٌ لهواه .

“Hawa nafsu adalah tuhan yang lainnya..
Syirik itu tidak terbatas pada menyembah patung atau berhala..
tapi ada sesuatu yang lain yaitu hawa nafsu..

Terkadang seorang insan tidak menyembah patung, pohon, batu atau kuburan..
Tetapi ia mengikuti hawa nafsunya..
Maka ia menjadi hamba hawa nafsu..

Maka hendaklah setiap insan waspada..
Jangan ia ikuti kecuali yang sesuai dengan al qur’an dan sunnah..”

(Ithoful Qori 1/71)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mereka Adalah Keamanan Untuk Ummat Islam

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

النجوم أمنة للسماء فإذا ذهبت النجوم أتى السماء ما توعد وأنا أمنة لأصحابي فإذا ذهبت أتى أصحابي ما يوعدون وأصحابي أمنة لأمتي فإذا ذهب أصحابي أتى أمتي ما يوعدون

“Bintang adalah keamanan untuk langit. Apabila bintang telah pergi maka datanglah kepada langit yang dijanjikan (kiamat).

Aku adalah keamanan untuk para shahabatku. Apabila aku telah pergi, akan datang kepada shahabatku apa yang dijanjikan (berupa fitnah).

Dan para shahabatku adalah keamanan untuk ummatku. Apabila para shahabatku telah pergi, akan datang kepada ummatku apa yang dijanjikan (berupa bid’ah dan kesesatan)..”

(HR Muslim)

Maka ikutilah para shahabat Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam dalam cara beragama..
Mereka adalah keamanan untuk ummat Islam..

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

فعلى كل من انتسب إلى الدين
‏بقول أو عمل أن يكون متبعـــاً
‏للصحابة، مقتديا بهم.

“Atas setiap yang menisbatkan dirinya kepada agama ini baik dengan ucapan maupun perbuatan, hendaklah ia mengikuti para shahabat dan menjadikan mereka sebagai teladan..”

(Jami’ul Masaail 1/193)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Berlindung Dari Segala Fitnah

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, “Aku bermimpi bertemu dengan Allah dan Dia berfirman,

يا محمَّدُ إذا صلَّيتَ فقلِ اللَّهمَّ إنِّي أسألُك الخيراتِ وتركَ المنكراتِ وحبَ المساكينِ ، وإذا أردتَ بعبادِك فتنةً فاقبِضني إليكَ غيرَ مفتونٍ

“Ya Muhammad, apabila kamu berdo’a maka ucapkan, “Ya Allah aku memohon kepadamu kebaikan, dan meninggalkan kemungkaran dan mencintai orang orang miskin. Dan apabila Engkau menghendaki fitnah melanda hamba hamba-Mu maka wafatkanku dalam keadaan tidak terkena fitnah..” (HR Ahmad dan At Tirmidzi)

Fitnah syubhat dan fitnah syahwat yang merajalela..
Merusak keimanan dan agama..
Itulah yang dikhawatirkan oleh seorang mukmin..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Mencintai Kebenaran

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

المؤمن ترضيه كلمة الحق له وعليه وتغضبه كلمة الباطل له وعليه لأن الله تعالى يحب الحق والصدق والعدل ويبغض الكذب والظلم

“Mukmin itu ridho dengan kalimat yang benar, baik menguntungkan atau merugikan dirinya. Dan benci kepada kalimat yang batil, baik menguntungkan atau merugikan dirinya. Karena Allah Ta’ala mencintai kebenaran, kejujuran dan keadilan, dan membenci dusta dan kezaliman..” (Majmu Fatawa 10/600)

Bagi mukmin..
Merujuk kepada kebenaran saat ia salah itu mudah..
Karena kebenaran lebih ia sukai dari mempertahankan ego..
Ia tidak takut kehilangan dunia demi mengikuti kebenaran..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Semua Ada Konsekuensinya

Silahkan kamu berbuat semaumu..
Silahkan kamu hidup sesukamu..
Silahkan kamu cintai siapa yang kamu suka..
Namun semua itu ada konsekuensinya..

Malaikat Jibril berkata kepada Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam,

يا محمد، عش ما شئت فإنك ميت، وأحبب من شئت فإنك مفارقه، واعمل ما شئت فإنك مجزي به، واعلم أن شرف المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن الناس

“Wahai Muhammad,
– silahkan kamu hidup sesukamu, sesungguhnya kamu pasti akan meninggal
– silahkan cintai orang yang kamu suka, sesungguhnya kamu pasti akan berpisah dengannya
– silakan kamu berbuat semaumu, namun kamu pasti akan diberi balasannya.

Ketahuilah.. sesungguhnya kemuliaan mukmin itu ada pada sholat malam, dan keperkasaannya adalah saat ia tidak membutuhkan bantuan manusia..”

(HR Al Hakim dan dishohihkan oleh Syaikh Al Albani)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kedudukanmu Di Sisi Allah

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

جاء عنْ بعْضِ السَّلفِ أَنَّهُ قال: إذا أَحبَّ أَحدُكمْ أنْ يَعْلَم كيف مَنْزِلَتُهُ عِنْدَ اللَّهِ؟ فَلْيَنْظُرْ كَيْفَ مَنْزلَةُ اللَّهِ منْ قَلْبِهِ؟ فإِنَّ اللَّهَ يُنْزِلُ العَبدَ مِنْ نَفْسِهِ حَيْثُ أَنْزَلَهُ العَبْدُ منْ قَلْبِهِ

“Sebagian salaf berkata, “Bila kamu ingin mengetahui bagaimana kedudukanmu di sisi Allah, maka lihatlah bagaimana kedudukan Allah di hatimu. Karena Allah Mendudukkan hamba-Nya sesuai dengan kedudukan Allah di hati hamba..”

(Majmu Fatawa 2/384)

Semakin Allah agung di hati seorang hamba..
Semakin agung si hamba di mata Allah ‘Azza wajalla..
Semakin ia banyak mengingat Allah semakin banyak pula Allah mengingat dia..

Tanda orang yang mengagungkan Allah adalah..
Mengagungkan perintah dan larangan-Nya..
Maka bila seorang hamba meremehkan syari’at-Nya..
Maka ia pun remeh di mata Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Getirnya Ujian Sebelum Datangnya Kenikmatan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

Diantara ihsan Allah yang sempurna kepada hamba-hambaNya adalah memberikan getirnya ujian sebelum diberi kenikmatan.

Ketika Allah hendak menyempurnakan kenikmatan surga kepada Adam, Allah berikan kepadanya pedihnya dikeluarkan dari surga dan merasakan derita kehidupan dunia yang kesenangannya diwarnai oleh kepayahan.

– Tidaklah Allah menguji hamba-Nya kecuali karena Dia ingin memberinya kenikmatan.

– Tidaklah Allah menimpakan bala kepadanya kecuali karena Dia ingin memberinya keselamatan.

– Tidaklah Allah mematikannya kecuali karena Dia ingin menghidupkannya kembali.

– Tidaklah Dia menjadikan dunia penuh kepayahan kecuali agar si hamba berharap kehidupan akherat, dan

– Tidaklah Allah mengujinya dengan sikap manusia yang tidak baik kepadanya, kecuali karena agar si hamba kembali kepada-Nya.

( Mukhtashor Showa’iq Mursalah hal. 844 )

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bagaikan Emas Sepuhan

Al Fudhail bin Iyadh rohimahullah berkata,

إِذَا ظَهَرَتِ الْغِيبَةُ، ارْتَفَعَتِ الْأُخُوَّةُ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، إِنَّمَا مَثَلُكُمْ فِي ذَلِكَ الزَّمَانِ مَثَلُ شَيْءٍ مَطْلِيٍّ بِالذَّهَبِ، أَوْ بِالْفِضَّةِ دَاخِلُهُ خَشَبٌ وَخَارِجُهُ حَسَنٌ

“Apabila telah tampak ghibah maka akan terangkatlah pertemanan karena Allah ‘Azza wajalla.

Dan perumpamaan kalian di zaman tersebut bagaikan sesuatu yang disepuh dengan emas atau perak padahal ia adalah kayu agar terlihat bagus.”

(Attaubikh Wattanbih – karya Abu Syaikh Al Ashbahani no 183)

Seperti halnya di zaman ini..
Sebagian orang terlihat anggun dengan kesolehannya..

Namun saat bersendirian dengan media sosial..
Ia suka meng-ghibah, mengadu domba dan mejelek jelekkan..
Bahkan dibumbui dengan kedustaan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ridho Dengan Ketentuan Allah

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

إنّ الرِّضا من جُمْلةِ ثمراتِ المَعْرِفة، فإذا
‏عَرَفْتَهُ رضِيتَ بِقَضائِه.

“Sesungguhnya ridho adalah termasuk buah dari pengetahuan. Bila kamu mengenal Allah, kamu pasti ridho dengan ketentuan-Nya..”

(Shoidul Khothir 1/109)

Karena Allah tak pernah menzholimi hamba hamba-Nya..
Ketentuan-Nya dipenuhi hikmah dan keadilan..
Ilmu dan kasih sayang-Nya meluasi segala sesuatu..

Dia memberi ujian bukan untuk menzholimi..
Tapi untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat..

Namun…
Semua itu membutuhkan keyakinan..
Lemahnya keyakinan seringkali menimbulkan su-uzhon kepada-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Cita Cita Yang Paling Tinggi

Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

‏مَن لم يكُن لهُ هِمّةٌ إلّا بطنه وفرجه؛ عُد
‏من البهائم، والهمّة تبلغ الرتبة العالية،
‏لأنّ النّاس بِهمتهم.

“Siapa yang keinginannya terbatas pada perut dan kemaluannya maka ia sama dengan binatang ternak.

Karena cita cita itu hendaknya tinggi, dan nilai manusia itu sesuai dengan cita cita dan keinginannya..”

(Roudhotul ‘Uqola hal 253)

Cita cita yang paling tinggi adalah meraih surga Allah Azza wajalla..
Itulah menjadikan keinginan kita selalu kepada kebaikan..

Namun saat cita cita kita sebatas dunia..
Kita sering tak peduli dengan batasan batasan Allah..
Malas kepada ketaatan dan amal salih..
Keinginan pun sebatas kepuasan dunia semata..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى