Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Ridho Dengan Ketentuan Allah

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

إنّ الرِّضا من جُمْلةِ ثمراتِ المَعْرِفة، فإذا
‏عَرَفْتَهُ رضِيتَ بِقَضائِه.

“Sesungguhnya ridho adalah termasuk buah dari pengetahuan. Bila kamu mengenal Allah, kamu pasti ridho dengan ketentuan-Nya..”

(Shoidul Khothir 1/109)

Karena Allah tak pernah menzholimi hamba hamba-Nya..
Ketentuan-Nya dipenuhi hikmah dan keadilan..
Ilmu dan kasih sayang-Nya meluasi segala sesuatu..

Dia memberi ujian bukan untuk menzholimi..
Tapi untuk menggugurkan dosa dan mengangkat derajat..

Namun…
Semua itu membutuhkan keyakinan..
Lemahnya keyakinan seringkali menimbulkan su-uzhon kepada-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Cita Cita Yang Paling Tinggi

Ibnu Hibban rohimahullah berkata,

‏مَن لم يكُن لهُ هِمّةٌ إلّا بطنه وفرجه؛ عُد
‏من البهائم، والهمّة تبلغ الرتبة العالية،
‏لأنّ النّاس بِهمتهم.

“Siapa yang keinginannya terbatas pada perut dan kemaluannya maka ia sama dengan binatang ternak.

Karena cita cita itu hendaknya tinggi, dan nilai manusia itu sesuai dengan cita cita dan keinginannya..”

(Roudhotul ‘Uqola hal 253)

Cita cita yang paling tinggi adalah meraih surga Allah Azza wajalla..
Itulah menjadikan keinginan kita selalu kepada kebaikan..

Namun saat cita cita kita sebatas dunia..
Kita sering tak peduli dengan batasan batasan Allah..
Malas kepada ketaatan dan amal salih..
Keinginan pun sebatas kepuasan dunia semata..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Keadaan Manusia Di Kuburnya

● Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

حال العبد في القبر كحال القلب في الصدر، نعيماً وعذاباً، وسجناً وانطلاقاً.

“Keadaan hamba di kuburnya seperti keadaan hati di dadanya, dalam kenikmatan, adzab, penjara dan kebebasan..” (Zaadul Ma’ad)

● Allah berfirman:

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا الْحُطَمَةُۗ (٥)

Dan tahukah kamu apakah (neraka) Huthomah itu..?
(Q.S. Al-Humazah ayat 5)

نَارُ اللّٰهِ الْمُوْقَدَةُۙ (٦)

(Yaitu) api (adzab) Allah yang dinyalakan,
(Q.S. Al-Humazah ayat 6)

الَّتِيْ تَطَّلِعُ عَلَى الْاَفْـِٕدَةِۗ (٧)

yang (membakar) sampai ke hati.
(Q.S. Al-Humazah ayat 7)

اِنَّهَا عَلَيْهِمْ مُّؤْصَدَةٌۙ (٨)

Sungguh, api itu ditutup rapat atas (diri) mereka,
(Q.S. Al-Humazah ayat 8)

فِيْ عَمَدٍ مُّمَدَّدَةٍ ࣖ (٩)

(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang.
(Q.S. Al-Humazah ayat 9)

=======

Keadaan manusia di kuburnya mengikuti keadaan hatinya saat hidup di dunia..

Hati yang luas dengan iman dan takwa, diberikan keluasan di alam kuburnya..

Sedangkan hati yang tertutup rapat dari menerima hidayah..
Terikat oleh hawa nafsu dan syahwat..
Ia pun akan di masukkan dalam tempat yang sempit dan tertutup dalam jahannam.
Dalam keadaan diikat di tiang tiang..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Menghancurkan Berhala Yang Ada Di Dalam Hati

Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

التوحيد والهوى متضادان، فإن الهوى صنم ولكل عبد صنم في قلبه بحسب هواه، وإنما بعث رسله لكسر الأصنام وعبادة الله وحده لاشريك له، وليس مراد الله سبحانه كسر الأصنام المجسدة وترك الأصنام التي في القلب، بل المراد كسرها من القلب أولاً

“Tauhid dan hawa nafsu itu saling bertentangan. Karena hawa nafsu adalah berhala yang ada di hati.

Setiap hamba memiliki berhala di hatinya sesuai dengan kekuatan hawa nafsunya. Allah mengutus para rosul untuk menghancurkan berhala dan agar beribadah kepada Allah saja.

Yang diinginkan oleh Allah bukan semata menghancurkan berhala yang nyata dan meninggalkan berhala yang ada di hati. Namun yang pertama kali dihancurkan adalah berhala yang ada di hati..”

(Raudhotul Muhibbin hal 643)

Allah Ta’ala berfirman,

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ فَمَنْ يَّهْدِيْهِ مِنْۢ بَعْدِ اللّٰهِۗ اَفَلَا تَذَكَّرُوْنَ (٢٣)

“Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat dengan sepengetahuan-Nya, dan Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya .. Maka siapa yang mampu memberinya petunjuk setelah Allah (membiarkannya sesat)..?! Mengapa kamu tidak mengambil pelajaran..?!”

(Q.S. Al-Jasiyah ayat 23)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Hendaknya Kita Selalu Berniat Kepada Kebaikan

Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar menulis surat kepada ‘Umar bin ‘Abdil ‘Aziz, rohimahumullah,

كتب سالم بن عبدالله بن عمر لعمر بن عبدالعزيز رحمهم
الله:
*”فإن نويت الحقّ وأردته أعانك الله عليه، وأتاح لك عمالاً، وأتاك بهم من حيث لاتحتسب، فإن عون الله على قدر النيّة، فمن تمت نيته في الخير تم عون الله له، ومن قصرت نيته قصر من العون بقدر ما قصر منه. والسلام”*

“Apabila kamu berniat kebenaran dan menginginkannya, maka Allah akan membantumu kepadanya dan memberimu orang orang yang akan membantumu kepadanya.

Karena bantuan Allah itu sesuai niatmu. Siapa yang berniat kepada kebaikan maka Allah akan membantunya .. dan siapa yang kurang niatnya kepada kebaikan maka berkurang juga bantuan Allah sesuai kekurangan niatnya..”

(Az Zuhud – Imam Ahmad bin Hanbal,)

Menjaga niat adalah perkara yang tak mudah..
Namun pengaruhnya amat besar dalam kehidupan..

Seseorang akan berbuat sesuai dengan niatnya..
Siapa yang niatnya lurus maka akan menimbulkan perbuatan yang baik..

Sebaliknya perbuatan perbuatan yang buruk..
Adalah Akibat niat niat yang buruk..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tanda Sehatnya Iman

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata,

فكل ما وقع في قلب المؤمن من خواطر الكفر والنفاق فكرهه وألقاه ازداد إيمانا ويقينا ، كما أن كل من حدثته نفسه بذنب فكرهه ونفاه عن نفسه وتركه لله ازداد صلاحا وبرا وتقوى .

“Setiap kali muncul di hati mukmin pikiran yang kufur dan nifaq lalu ia membencinya dan membuangnya, akan bertambahlah iman dan keyakinannya.

Sebagaimana orang yang berkeinginan untuk berbuat dosa, lalu ia tepis dan meninggalkannya karena Allah maka bertambah kesalehan, kebaikan dan ketakwaannya..”

(Majmu’ Fatawa 10/767)

Pikiran pikiran yang buruk itu selalu muncul di hati..
Karena setan berusaha menjerumuskan hamba kepada keburukan..

Namun saat hati kita menolak dan membencinya..
Itu tanda masih sehatnya iman kita..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Termasuk Kesalahan Besar

Syaikh Abdurrohman As Sa’diy rohimahullah berkata,

من الغلط الفاحش الخَطِر ؛ قبول قول الناس بعضِهم في بعض ، ثم يبني عليه السامع حُبًّا وبغضًا ومدحًا وذمًا فكم حصل بهذا الغلط أمور صار عاقبتها الندامة .
‏وكم أشاع الناس عن الناس أمورًا لا حقائق لها بالكلية أو لها بعض الحقيقة فنمِّيَت بالكذب والزور ، وخصوصًا مَن عُرفوا بعدم المبالاة بالنقل أو عرف منهم الهوى !
‏فالواجب على العاقل التثبت والتحرز وعدم التسرّع ، وبهذا يُعرف دين العبد ورزانته وعقله .

“Termasuk kesalahan besar dan fatal adalah mudah menerima ucapan seseorang tentang orang lain. Lalu pendengarnya membangun cinta dan benci, pujian dan celaan di atasnya. Akibat kesalahan ini banyak terjadi yang membuat pelakunya menyesal.

Berapa banyak berita yang disebarkan ternyata tidak benar sama sekali. Atau benar sebagiannya lalu dibumbui dengan kedustaan. Terlebih bila pelakunya adalah orang yang tak peduli atau (orang yang) mengikuti hawa nafsu.

Kewajiban orang yang berakal adalah kroscek dan tidak tergesa gesa. Dengan inilah terlihat agama seseorang, kebaikan akhlak dan akalnya..”

(Ar Riyaadhu An Nazhiroh – 209)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Temanmu Yang Hakiki

● Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda tentang alam kubur,

وَيَأْتِيهِ رَجُلٌ حَسَنُ الْوَجْهِ ، حَسَنُ الثِّيَابِ ، طَيِّبُ الرِّيحِ ، فَيَقُولُ : أَبْشِرْ بِالَّذِي يَسُرُّكَ ، هَذَا يَوْمُكَ الَّذِي كُنْتَ تُوعَدُ . فَيَقُولُ لَهُ : مَنْ أَنْتَ ؟ فَوَجْهُكَ الْوَجْهُ يَجِيءُ بِالْخَيْرِ . فَيَقُولُ : أَنَا عَمَلُكَ الصَّالِحُ . فَيَقُولُ : رَبِّ أَقِمْ السَّاعَةَ حَتَّى أَرْجِعَ إِلَى أَهْلِي وَمَالِي

“Lalu datanglah kepadanya seorang laki laki yang wajahnya indah, pakaiannya bagus, dan sangat wangi.

Ia berkata, “Bergembiralah dengan sesuatu yang menyenangkanmu..! Ini adalah hari yang dijanjikan untukmu..”

Ia (mayat) berkata, “Siapakah kamu..? wajahmu membawa kebaikan..”

Ia menjawab, “Aku adalah amalmu yang sholeh..”

Ia (mayat) berkata, “Ya Robb, tegakkanlah hari kiamat agar aku bisa kembali kepada keluarga dan hartaku..”

(HR Ahmad)

● Al Hafizh Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

صاحب مَن تُصاحب، فواللّٰه الذي على العرش اسْتوى لن يُصاحبك في قبرك إلّا صاحبٌ واحد، ألا وهو عملك الصّالح، فأحسن صُحبته، يحسن صُحبتك في قبرك.

“Temanilah yang akan menemanimu.. demi Allah yang ber-istiwa di atas ‘Arasy, tidak akan ada yang menemanimu di kuburmu kecuali satu teman saja. Ia adalah amalmu yang sholeh..

Maka perbaikilah persahabatanmu dengannya. Ia akan menjadi sahabatmu terbaik di kuburmu..”

(Lathoiful Ma’arif hal. 99)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Makna Ridho Kepada Allah

Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan,

“Ridho kepada Allah adalah mencakup ridho kepada uluhiyah-Nya yang mengandung :
– ridho dengan mencintai-Nya,
– takut kepada-Nya,
– berharap dan kembali kepada-Nya..

Juga ridho kepada rububiyah-Nya yang mengandung :
– ridho kepada aturan-Nya, yang berkonsekuensi untuk hanya bertawakkal kepada-Nya,
– memohon pertolongan-Nya,
– yakin dan bersandar kepada-Nya, dan
– ridho kepada semua perbuatan-Nya..

Adapun ridho kepada Nabi-Nya adalah :
– ketundukan yang sempurna kepadanya,
– taslim yang mutlak sehingga ia lebih mendahulukannya di atas kepentingan dirinya,
– Ia hanya mengambil petunjuk darinya dan berhukum kepadanya (petunjuk tersebut) dan tidak ridho dengan hukum selainnya..”

(Madarijus Salikin 2/477-478 secara ringkas)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menyikapi Yang Telah Berlalu

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

‏ما مضى لا يُدفع بالحزن ؛ بل بالرِّضا ، والحمد ، والصَّبر ، والإيمان بالقدر ، وقول العبد :
‏ قدَّر اللَّـه و ما شاء فعل

“Yang telah berlalu jangan disikapi dengan kesedihan tapi dengan :
– keridhoan,
– memuji Allah,
– sabar dan beriman kepada takdir,
– dan ucapan : “semua sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki (*)..”

(Zaadul Ma’ad 2/327)

Karena kesedihan tidak ada gunanya..
Bahkan menimbulkan tidak ridho dengan ketentuan..

Kewajiban hamba adalah bersabar..
Yakin bahwa ketentuan Allah itu baik untuknya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

(*) qoddarallah wa maa syaa-a fa’ala (semua sudah takdir Allah, dan apa yang Dia kehendaki)