Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Waktu Terus Berputar

Waktu terus berputar..
Seperti mentari yang berlari menuju tempat terbenamnya..
Dan ajalpun semakin mendekat..
Namun perbekalan ini terasa amat sedikit..

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, Aku pernah bersama Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, ‘Wahai Rosulullah, mukmin manakah yang paling baik..?’

Beliau bersabda, ‘Yang paling baik akhlaknya..’

Ia kembali bertanya, ‘Lalu mukmin manakah yang paling cerdas..?’

Beliau bersabda, ‘Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas..’

(HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Kekayaan Yang Hakiki

Seorang ahli hikmah berkata,

إذا طلبت العزَّ فاطلبه بالطاعة، وإذا طلبت الغنى فاطلبه بالقناعة، فمن أطاع الله عز وجل عن نصره، ومن لزم القناعة زال فقره.

– Apabila engkau mencari kemuliaan maka carilah dengan cara mentaati Allah, dan

– Jika engkau mencari kekayaan maka carilah dengan cara qona’ah (merasa puas/cukup dengan yang ada)

Karena siapa yang mentaati Allah ia pasti menjadi mulia dengan pertolongan-Nya.. dan siapa yang selalu qona’ah maka akan hilang kefakirannya..”

(Adabuddunya Waddiin – karya imam Al Mawardi hal 226)

Karena kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati..

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menyukai Harta Untuk Beribadah Kepada Allah

Sa’id bin Musayyib rohimahullah -ulama tabi’in- berkata,

لا خير فيمن لا يحب المال:
‏١-يعبد به ربه،
‏٢-ويؤدي به أمانته،
‏٣-ويصون به نفسه،
‏٤-ويستغني به عن الخلق”.

“Tidak ada kebaikan bagi orang yang tidak menyukai harta untuk :

1. Beribadah kepada Robbnya
2. Melaksanakan amanah
3. Menjaga kehormatan diri
4. Agar tidak minta minta kepada manusia

(Dikeluarkan oleh Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata mengomentari,

“Beliau mengabarkan bahwa kewajiban kewajiban ini berupa :

– beribadah kepada Allah,
– membayar hutang,
– menjaga kehormatan diri, dan
– tidak minta minta kepada manusia

tidak akan sempurna kecuali dengan memiliki harta. Sedangkan suatu kewajiban bila tidak sempurna kecuali dengan melakukan sesuatu, maka sesuatu itu menjadi wajib hukumnya.

Siapa yang tidak suka untuk melaksanakan kewajiban kewajiban ini dimana agama tidak tegak kecuali dengannya maka tidak ada kebaikan bagi orang tersebut..”

(Majmu Fatawa 29/280)

Mencintai harta itu baik jika tujuannya untuk beribadah kepada Allah Ta’ala, menjalankan amanah dan menjaga kehormatan diri..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Beribadah Kepada Allah Dalam Keadaan Senang Maupun Susah

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فإن الله لم يبتل عبده ليهلكه، وإنما ابتلاه ليمتحن صبره وعبوديته

“Sesungguhnya Allah tidak menguji hamba-Nya untuk membinasakannya. Akan tetapi untuk menguji kesabaran dan penghambaannya..”

(Al Wabil Ash Shoyyib)

Karena ibadah kepada Allah bukan hanya saat senang saja..
Namun juga saat ditimpa kesusahan..
Agar tidak masuk dalam firman-Nya,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ ۖ فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ ۖ وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Diantara manusia ada yang beribadah kepada Allah di tepi jurang. Jika ia memperoleh kesenangan tetaplah ia dalam keadaan itu, dan jika ia ditimpa ujian berbaliklah ia ke belakang. Rugilah ia di dunia dan akherat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata..” (Al Hajj: 11)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Empat Tonggak Kufur

Ibnul Qoyyim rohimahullah mengatakan bahwa tonggak kufur itu ada empat yaitu,

1. Sombong
2. Hasad (dengki)
3. Marah
4. Syahwat

– sombong mencegah untuk tunduk dan patuh
– hasad mencegah untuk menerima nasehat
– marah dan benci mencegah untuk bersikap adil, dan
– syahwat mencegah untuk bersungguh sungguh dalam ibadah

apabila hancur kesombongan maka ia akan mudah untuk tunduk..

apabila hancur hasad maka ia akan mudah menerima nasehat..

apabila hancur marah dan benci maka akan mudah bersikap adil dan tawadhu..

dan apabila hancur tonggak syahwat maka akan mudah bersabar dan ibadah..

(Al Fawaid hal. 157)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Lisan Yang Istiqomah

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لَا يَسْتَقِيمُ إِيمَانُ عَبْدٍ حَتَّى يَسْتَقِيمَ قَلْبُهُ وَلَا يَسْتَقِيمُ قَلْبُهُ حَتَّى يَسْتَقِيمَ لِسَانُهُ وَلَا يَدْخُلُ رَجُلٌ الْجَنَّةَ لَا يَأْمَنُ جَارُهُ ‏ ‏بَوَائِقَهُ

“Iman tidak dapat istiqomah hingga hati istiqomah.. dan hati tidak akan istiqomah hingga lisan istiqomah.. dan seseorang tidak masuk surga hingga tetangganya aman dari gangguannya..”

(HR Ahmad dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Istiqomah hati itu tak mudah..
Karena hati mudah berbolak balik..
Mudah dipengaruhi oleh ucapan dan perbuatan..

Istiqomah yang hakiki itu adalah istiqomah hati..
Dan hati tidak akan istiqomah bila lisan kita bengkok..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Karena Semua Adalah Milik Allah Semata

Allah Ta’ala berfirman:

قُلِ ادْعُوا الَّذِيْنَ زَعَمْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِۚ لَا يَمْلِكُوْنَ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوٰتِ وَلَا فِى الْاَرْضِ وَمَا لَهُمْ فِيْهِمَا مِنْ شِرْكٍ وَّمَا لَهٗ مِنْهُمْ مِّنْ ظَهِيْرٍ (٢٢)

“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai tuhan) selain Allah..! Mereka tidak memiliki seberat zarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak mempunyai peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi dan tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya

(Qs. Saba’ ayat 22)

وَلَا تَنْفَعُ الشَّفَاعَةُ عِنْدَهٗٓ اِلَّا لِمَنْ اَذِنَ له

Dan syafa’at (pertolongan) di sisi-Nya hanya berguna bagi orang yang telah diizinkan-Nya (memperoleh syafa’at itu)..”

(Qs. Saba’ ayat 23)

Renungkanlah ayat ini..
Allah meniadakan semua perkara yang menjadi sebab dipertuhankan selain Allah..

Ia tidak memiliki sedikitpun di langit dan di bumi..
Karena semua adalah milik Allah semata..
Ia tidak berperan serta dalam menciptakan alam semesta..
Tidak pula dapat membantu..

Sisa yang terakhir yaitu syafa’at..
Dan ternyata syafa’at siapapun tidak akan diterima tanpa izin dari Allah..

Maka semua selain Allah tak berhak dipertuhankan..
Semua yang menyembah selain Allah adalah sesembahan yang batil..

Laa ilaaha illallah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Maafkanlah

Saat Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu bersumpah untuk tidak lagi menafkahi Misthoh karena ia telah ikut menuduh Aisyah rodhiyallahu ‘anha berzina. Allah menurunkan firman-Nya,

وَلَا يَأْتَلِ اُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ اَنْ يُّؤْتُوْٓا اُولِى الْقُرْبٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَالْمُهٰجِرِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۖوَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ (٢٢)

“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kerabat(nya), orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu..? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang..”
(Q.S. An-Nur ayat 22)

Maka Abu Bakar berkata, “Iya, demi Allah kami lebih suka Engkau ampuni dosa kami..”
Lalu beliaupun kembali menafkahi misthoh.

Itulah mukmin..
Ia lebih berharap ampunan Allah saat ia marah kepada orang yang telah menyakiti hatinya..
Maka iapun memaafkan dan mengenyampingkan kemarahannya..

Maka maafkanlah saudaramu niscaya Allah maafkan kesalahanmu..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akibat Berani Melanggar Larangan Allah

Nabi shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لأَعْلَمَنَّ أَقْوَامًا مِنْ أُمَّتِي يَأْتُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِحَسَنَاتٍ أَمْثَالِ جِبَالِ تِهَامَةَ بِيضًا فَيَجْعَلُهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَبَاءً مَنْثُورًا ) قَالَ ثَوْبَانُ : يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا ، جَلِّهِمْ لَنَا أَنْ لاَ نَكُونَ مِنْهُمْ وَنَحْنُ لاَ نَعْلَمُ ، قَالَ : ( أَمَا إِنَّهُمْ إِخْوَانُكُمْ وَمِنْ جِلْدَتِكُمْ وَيَأْخُذُونَ مِنَ اللَّيْلِ كَمَا تَأْخُذُونَ وَلَكِنَّهُمْ أَقْوَامٌ إِذَا خَلَوْا بِمَحَارِمِ اللَّهِ انْتَهَكُوهَا

“Aku benar benar mengetahui kaum kaum dari ummatku yang akan datang pada hari kiamat dengan membawa pahala pahala sebesar gunung tihamah. Lalu Allah menjadikannya hancur lebur..”

Tsauban berkata, “Wahai Rosulullah, sifatkan mereka kepada kami, dan jelaskan siapa mereka, agar kami tidak termasuk dari mereka..”

Beliau bersabda, “Mereka itu dari kalian juga dan dari jenis kalian. Mereka mengambil malam sebagaimana kalian mengambilnya, akan tetapi mereka apabila bersendirian dengan keharaman Allah, mereka berani melanggarnya..”

(HR. Ibnu Majah no 4245)

Saat sendirian berbuat maksiat dan tidak peduli dengan Allah..
Tidak ada rasa takut kepada adzab-Nya..
Ia lebih takut kepada pengawasan manusia dibanding pengawasan Allah..
Tak ada keinginan bertaubat..
Bahkan bila ada kesempatan ia segera melakukannya..

Berbeda dengan orang yang berbuat maksiat saat sendiri karena terdorong syahwat..
Lalu ia menyesal dan bertaubat kepada Allah..
Dan berusaha menjaga taubatnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menjaga Lisan Saat Marah

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

قال رجل: والله لا يغفر الله لفلان، فقال الله: من ذا الذي يتألى عليَّ أن لا أغفر لفلان؟ إني قد غفرت له، وأحبطت عملك

Ada seorang lelaki yang berkata, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan..”

Allah berfirman, “Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak mengampuni si fulan..?  Sesungguhnya Aku telah mengampuni dosanya dan Aku telah menghapuskan amalmu..” (HR Muslim).

Dalam riwayat Ahmad dan Abu Dawud disebutkan bahwa ia mengucapkan itu karena marah kepada temannya yang selalu berbuat maksiat.

Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

“Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, ia telah mengucapkan kata kata yang merusak dunia dan akheratnya..”

Atho’ bin Abi Robah rohimahullah berkata,

إن الرجل ليتكلم في غضبه بكلمة يهدم بها عمل ستين سنة ، أو سبعين سنة .

“Sesungguhnya seseorang berbicara saat marahnya dengan sebuah kalimat yang dapat menghancurkan amalan selama 60 atau 70 tahun..”

(Fathul Bari Ibnu Rojab 1/200)

Saat marah, jagalah lisan agar tidak mengucapkan kalimat yang buruk..
Agar amal kita tidak dibatalkan tanpa terasa..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى