Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Yang Ajaib

Syaikh Utsaimin rohimahullah berkata,

والعجيب أن من طلب عيش الآخرة
‏طاب له عيش الدنيا
‏ومن طلب عيش الدنيا
‏ضاعت عليه الدنيا والآخر .

“Yang ajaib adalah orang yang mencari kehidupan akherat, maka menjadi baik juga kehidupan dunianya..

Dan orang yang mencari kehidupan dunia saja, hilang untuknya dunia dan akheratnya..”

(Tafsir Syaikh Utsaimin 1/23)

Ya..
Para pencari dunia yang rakus itu berpaling dari akherat..
Tak peduli halal dan haram..
Tak peduli dengan batasan batasan agama-Nya..
Sehingga ia tidak mendapat akherat dan dunia pun belum tentu mendapatkannya..

Kalaupun ia meraih dunia, maka menjadi adzab untuknya..
Hatinya dipalingkan dari ketaatan..
Hatinya makmur dengan cinta dunia..

Sebaliknya..
Orang yang mencari akherat..
Ia jadikan dunia untuk kebaikan akheratnya..
Ia tetap mendapat kenikmatan dunia..
Namun ia tidak tertipu dengannya..

Ia tak ingin mengambil harta dengan cara yang haram..
Tak ingin melakukan pengkhianatan terhadap bangsa dan negaranya..

Ia takut akan hari yang setiap manusia berdiri di hadapan Robbnya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Hati Yang Selamat

Rosulullah shollallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إن الذي ليس في جوفه شيء من القرآن كالبيت الخرب

“Sesungguhnya orang yang hatinya kosong dari Al Qur’an bagaikan rumah yang telah usang tak terpakai..”

(HR At Tirmidzi dan ia berkata, Hadits ini hasan shohih)

Cobalah renungkan…

Malam yang diturunkan padanya Al Qur’an…
Menjadi malam yang paling mulia…

Bulan yang diturunkan padanya Al Qur’an…
Menjadi bulan yang paling mulia…

Rosul yang diturunkan kepadanya Al Qur’an…
Menjadi rosul yang paling mulia…

Maka bagaimana jika Al Qur’an itu ada di hatimu..?

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : ENAM Tempat Peredaran Hati

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Hati mempunyai enam tempat beredar, tidak ada yang ketujuhnya..

Tiga rendah dan tiga lagi mulia..

Adapun yang rendah:
– Dunia yang berhias untuknya..
– Hawa nafsu yang mengajaknya berbicara..
– Dan musuh yang memberinya was was…

Inilah tempat jiwa-jiwa yang rendah yang selalu berkutat padanya..

Adapun tiga yang mulia:
– Ilmu yang memberinya kejelasan..
– Akal yang yang membimbingnya..
– Dan Ilah yang ia sembah..

Dan ini tempat peredaran hati sesungguhnya..

(Al Fawaid hal 130)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Berbaik Sangka Kepada Allah

Al Hasan Al Bashri rohimahullah berkata,

إن المؤمن أحسن الظن بربه، فأحسن العمل. وإن الفاجر أساء الظن بربه، فأساء العمل

“Sesungguhnya mukmin berbaik sangka kepada Allah sehingga ia pun memperbaiki amalnya. Sedangkan orang yang buruk berburuk sangka kepada Allah sehingga ia pun berbuat buruk..”

(Diriwayatkan oleh Ahmad dalam kitab Az Zuhd no 1652)

Yang mendorong seorang insan beramal adalah husnuzhon kepada Allah..
Ia berhusnuzhon bahwa Allah akan memberinya pahala dan menerima amalnya..

Sebaliknya..
Orang yang berbuat keburukan..
Ia menyangka Allah tidak mengawasinya..
Atau tidak kuasa untuk mengadzabnya..
Sehingga ia berani berbuat keburukan..

Kalaupun ia yakin..
Namun keyakinannya lemah sehingga tak mampu menahan hawa nafsunya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Pahala Yang Lebih Baik

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

“Tidaklah Allah memberikan nikmat kepada seorang hamba kemudian ia berkata ‘Alhamdulillah..’ kecuali apa yang Allah berikan kepadanya (berupa pahala) lebih baik daripada kenikmatan yang ia ambil..”

(HR. Ibnu Majah no. 3805)

Saat hamba mengucapkan alhamdulillah ketika diberi nikmat..
Maka pahala mengucapkan alhamdulillah itu..
Lebih utama dan lebih baik dari kenikmatan yang ia dapatkan..

Itulah kemuliaan seorang mukmin yang diberi taufik oleh Allah..
Sehingga setiap nikmat yang ia rasakan..
Mendapatkan pahala yang besar dengan ucapan alhamdulillah…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Bersyukurlah Kepada Allah Atas Karunia Ilmu Yang Bermanfaat

Ketika Abdul Mughits bin Zuhair Al Harbi telah meninggal, ada orang yang bermimpi bertemu dengannya.

Ia bertanya kepadanya, ‘apa yang Allah lakukan terhadapmu..?’

Abdul Mughits menjawab, ‘ilmu itu menghidupkan manusia di kuburnya, dan kebodohan menjadikan orang hidup bagaikan mayat..’

(Dzail Thobaqot Hanabilah 2/354)

Saat kita susah lalu ada yang memberi harta..
Kita akan sangat berterima kasih kepadanya..

Maka bersyukurlah jika kita diberi oleh Allah ilmu yang bermanfaat..
Karena pemberian ilmu jauh lebih baik dari pemberian harta..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akibat Dari Banyak Bicara

Ibnu Hazm rohimahullah berkata,

فكم شاهدنا ممن أهلكه كلامه، ولم نر قط أحدا بلغنا أنه أهلكه سكوته”.

“Berapa banyak kita menyaksikan orang yang dihancurkan oleh ucapannya. Namun belum pernah kita melihat orang yang hancur karena diamnya..”

‏ابن حزم (الرسائل: 402/1)

Banyak bicara seringkali menjatuhkan pelakunya kepada kesalahan..
Sedangkan banyak diam adalah keselamatan..

Kecuali diam dari kemungkaran padahal ia mampu mengingkarinya..


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Menggapai Kemuliaan Dengan Iman Dan Ilmu

Yahya bin Mu’adz rohimahullah berkata,

على قدر خوفك من الله يهابك الخلق، وعلى قدر حبك لله يحبك الخلق، وعلى قدر شغلك بالله يشتغل الخلق بأمرك

– Semakin kamu takut kepada Allah, manusiapun semakin segan kepadamu..

– Semakin kamu mencintai Allah, manusiapun semakin mencintaimu..

– Semakin kamu sibuk dengan Allah, manusiapun semakin sibuk dengan urusanmu..

(Sifatush-Shofwah 3/343)

Disegani manusia itu biasanya karena kedudukan..
Atau karena keberanian dan kekuatan badan..
Atau karena kepintaran..
Itu semua tidak menjadikan pelakunya mulia..

Tetapi ketika disegani manusia karena rasa takut yang kuat kepada Allah..
Adalah kemuliaan yang Allah berikan di dunia..
Sebelum kemuliaan akherat..

Lihatlah Muhammad bin Al Auqash..
Badannya buruk, tengkuknya menonjol dan lehernya masuk..
Namun ia amat disegani karena keilmuan dan ketaqwaannya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

NB :
Ibrahim Al-Harbi rohimahullah pernah berkata,

“Muhammad bin Abdirrahman Al-Auqash adalah seorang yang lehernya sangat pendek sampai masuk ke badannya sehingga kedua bahunya menonjol keluar, seakan-akan dua mata tombak. Lalu dengan penuh perhatian dan kasih sayang ibunya berpesan,

يَا بُنَيَّ، لَا تَكُونُ فِي قَومٍ إِلَّا كُنْتَ المَضْحُوكَ مِنْهُ المَسْخُورَ بِهِ، فَعَلَيْكَ بِطَلَبِ العِلْمِ؛ فَإِنَّهُ يَرْفَعُكَ

“Wahai anakku sayang, tidaklah engkau berada di suatu kaum melainkan engkau akan selalu ditertawakan dan direndahkan, maka hendaklah engkau menuntut ilmu karena ilmu akan mengangkat derajatmu..”

Ia pun mematuhi pesan ibunya, ia bersungguh-sungguh menuntut ilmu agama sehingga ia pun menjadi hakim agung di Makkah selama 20 tahun. Karena kemuliaannya, ketika seorang yang sedang berperkara duduk di hadapannya, orang itu akan menggigil hingga ia bangkit dari tempatnya..”

(Miftah Daris Sa’adah – Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah – 1: 501-502)

Modal Pertemanan

Ibnu Batthol rohimahullah berkata,

“Mudaroh adalah akhlak kaum mukminin, yaitu :

– rendah hati
– ucapan yang santun, dan
– tidak bersikap kasar

Itulah penyebab semakin kuat pertemanan dan hilangnya kebencian..”

(Syarah Al Bukhori 9/305)

Jiwa manusia menyukai akhlak yang mulia..
Dan tidak menyukai akhlak yang buruk..

Tawadhu..
Kata-kata yang baik dan tidak kasar..
Saling membantu dan bahu membahu..
Tidak mudah suuzhon..
Mudah memaafkan..

Itulah modal dalam pertemanan..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى