Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Akbat Maksiat…

Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
Sesungguhnya ketaatan itu adalah cahaya..
Sedangkan kemaksiatan adalah kegelapan..
Semakin kuat kegelapan..
Semakin kuat kebingungan..
Sehingga iapun jatuh dalam bid’ah dan kesesatan serta perkara yang membinasakan..
Dalam keadaan ia tidak merasakan..
Bagaikan orang buta yang keluar di kegelapan malam..
Ia berjalan sendirian..

(Al Jawabul Kaafi hal 83-84)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Faidah Ayat…

Allah Ta’ala berfirman:

خذ العفو وأمر بالعرف وأعرض عن الجاهلين. وإما ينزغنك من الشيطان نزغ فاستعذ بالله إنه سميع عليم
Ambillah maaf, perintahkan kepada yang ma’ruf, dan berpalinglah dari orang orang yang bodoh.
Dan apabila kamu tertimpa gangguan setan, maka berlindunglah kepada Allah. Sesungguhnya Dia Maha mendengar dan Maha melihat. (Al A’raaf: 199-200)

Syaikh Muhamad Amin Asy Syanqithi rahimahullah berkata:
Dalam ayat yang mulia ini Allah menjelaskan bagaimana menghadapi yang bodoh dari kalangan manusia dan jin.
Allah menjelaskan bahwa menghadapi yang bodoh dari manusia adalah dengan sikap berlemah lembut, memaafkan, dan berpaling dari perbuatan bodohnya dan perbuatan jahatnya.
Adapun yang bodoh dari kalangan jinn, tidak ada jalan selamat darinya kecuali dengan berlindung kepada Allah dari godaannya.
(Adlwaul bayan 2/341)

Perbuatan bodoh adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan ilmu..
Terkadang seseorang berkata dan berbuat dengan emosinya..
Berkata sebatas dengan akal dan pandangan yang tak berdasarkan dalil dan hujjah..
Disaat kita sampaikan dalil, dia ngeyel dan membantah..
Bukan karena mencari kebenaran tapi karena mengikuti hawa nafsu..
Di medsos, banyak kita temui sikap dan komentar emosional..
Membuat kita emosi, geram dan lainnya..
Maka berpalinglah dan hindari berdebat dalam keadaan seperti itu..
Karena kita sedang menghadapi sikap bodoh agar tidak terseret kepada kebodohan..
Allahul Musta’an..

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Musibah Besar…

Imam ibnul Jauzi rahimahullah berkata..
Musibah besar adalah..
Seorang insan merasa rela dengan keadaan dirinya..
Merasa cukup dengan ilmunya..
Ini adalah badai yang menerpa kebanyakan manusia..
Kamu lihat orang yahudi dan nashrani..
Menganggap dirinya di atas kebenaran..
Tidak mau melihat dan memperhatikan bukti kebenaran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam…
Apabila ia mendengar al qur’an..
Ia malah lari agar tidak mendengarnya..
Demikian pula setiap pengikut hawa nafsu..
Ia merasa betah dengan hawa nafsunya..
Karena itu adalah keyakinan nenek moyangnya..
Atau ia mempunyai pendapat yang ia pandang benar..
Tetapi tidak mau melihat dalil kebalikannya..
(Shaidul khathir hal 374)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Faidah : Allah Mencela Perselisihan…

Imam Al Muzaniy rahimahullah berkata:

فذم الله الاختلاف وأمر عنده بالرجوع إلى الكتاب والسنة فلو كان الاختلاف من دينه ما ذمه ولو كان التنازع من حكمه ما أمرهم بالرجوع عنده إلى الكتاب والسنة

Allah mencela perselisihan dan menyuruh kembali kepada al qur’an dan hadits di saat terjadi perselisihan. Kalaulah perselisihan itu termasuk agamaNya, tentu Allah tidak akan mencelanya. Kalaulah perselisihan itu termasuk hukumNya tentu Allah tidak akan menyuruh untuk mengembalikannya kepada al qur’an dan sunnah.
(Jami’ bayanil ‘ilmi wafadlihi 2/910)

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 7 : Cara Penetapan Kenabian…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 7 :

Tata cara al qur’an dalam menetapkan kenabian Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

Al qur’an mejelaskan bahwa beliau adalah nabi yang ummiy tdak dapat membaca dan menulis. Maka sangat tidak mungkin al qur’an  ini berasal dari pemikiran beliau semata sementara Allah menantang para ahli bahasa arab untuk membuat uang seperti al qur’an, dan mereka tidak mungkin dapat membuatnya.

Al qura’an menceritakan kisah kisah para Nabi terdahulu secra panjang sesuai dengan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri akan kebenarannya. Memastikan bahwa beliau mendapat wahyu dari Allah Ta’ala.

Al qur’an menetapkan kesempurnaan hikmah Allah dan kekuasaanNya. Maka orang yang meragukan risalah beliau berarti telah meragukan hikmah Allah dan kekuasaanNya.

Al qur’an menyifati beliau dengan sifat yang sempurna berupa akhlak yang indah. Akhlak dan sifat yang tidak dapat disaingi oleh manusia manapun sebagai bukti bahwa beliau adalah utusan Rabbul ‘alamin.

Al qur’an menyebutkan bahwa kitab kitab suci sebelumnya telah memberikan kabar gembira akan kedatangan Rasulullah dengan menyebutkan namanya, sifatnya dan sifat umatnya.

Al qur’an mengabarkan tentang kejadian kejadian yang telah berlalu dan yang akan terjadi di masa depan sebagai penguatan bahwa beliau diberikan wahyu.

Al qur’an menetapkan risalah beliau dengan mukjizat yang luar biasa yang manusia manapun akan lemah di hadapannya.
Dan cara cara lain dari al qur’an dalam menetapkan risalah kenabian beliau shallallahu alaihi wasallam.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 8 : Penetapan Hari Kebangkitan…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Faidah : Jangan Merasa Rendah Karena Usia Muda…

Imam Az Zuhri rahimahullah berkata:

فإن عُمَر كان إذا نزل به الأمر المعضل دعا الشباب فاستشارهم يبتغي حدَّة عقولهم
Adalah Umar bin Al Khathab apabila terdapat perkara yang sulit beliau memanggil para pemuda untuk diajak musyawarah mengharapkan ketajaman akal mereka.” Diriwayatkan oleh ibnu Abi Syaibah.

Maka janganlah para penuntut ilmu merasa rendah karena usianya yang muda. Gunakanlah ketajaman otak dan pemahaman untuk memahami ayat ayat dan hadits hadits Nabi shallallahu alahi wasallam..

Namun bukan untuk meremehkan para ulama dan berbangga dengan kecerdasan.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid

Kaidah Memahami Al Qur’an Ke 6 : Tata Cara Al Qur’an Dalam Menetapkan Tauhid…

Kaidah-kaidah memahami Al Qur’an yang diambil dari kitab Qowa’idul Hisaan yang ditulis oleh Syaikh Abdurrohman As Sa’diy.

Kaidah ke 6 :

Tata Cara Al Qur’an dalam menetapkan tauhid.

– Al Qur’an hampir seluruhnya berbicara tentang tauhid dan meniadakan kebalikannya.

– kebanyakan ayat menetapkan tauhid uluhiyah dan mengikhlaskan ibadah kepada Allah semata.

– Mengabarkan bahwa semua rosul mendakwahi kaumnya agar hanya beribadah kepada Allah dan tidak mempersekutukanNya.

– Allah menciptakan jin dan manusia untuk tujuan beribadah hanya kepadaNya.

– Menyeru manusia bahwa yang bersendirian dalam menciptakan, mengatur dsn memberikan ni’mat yang zahir maupun yang batin Dialah yang berhak untuk diibadahi.

– Semua makhluk tidak dapat menciptakan, tidak dapat memberikan mudlorot dan manfaat. Semuanya butuh kepada Allah.

– Menyeru mereka bahwa Dialah satu satunya Dzat yang memiliki keagungan, kemuliaan dan kesempurnaan. Dan bahwa yang memiliki kesempurnaan yang pari purna yang tidak dapat ditandingi oleh siapapun Dialah yang berhak untuk diibadahi.

– Menetapkan bahwa Dialah satu satunya hakim yang berhak membuat syari’at
إن الحكم إلا لله أمر ألا تعبدوا إلا إياه

“Sesungguhnya hukum itu hanya milik Allah. Dia memerintahkan agar kamu tidak menyembah kecuali Dia saja.” (Yusuf: 40)

– Menjelaskan keistimewaan keistimewaan tauhid dan bahwa ia yang wajib dijadikan sebagai agama – secara syariat, akal dan fitrah- untuk seluruh hamba.

-Menyebutkan keburukan keburukan tauhid dan rusaknya akal orang yang berbuat syirik selain rusaknya agama mereka dan terbaliknya hati mereka dan bahwasanya mereka sendiri berada dalam keraguan.

– Menyebutkan balasan tauhid yang baik di dunia dan akhirat. Sedang kesyirikan menyebabkan datangnya siksa di dunia dan akhirat. Dan menjelaskan bagaimana akibat perbuatan buruk mereka tersebut.

Semua kebaikan di dunia dan akhirat adalah buah dari tauhid. Dan semua keburukan adalah buah dari syirik.

Badru Salam,  حفظه الله تعالى

Kaidah Ke 7 : Cara Penetapan Kenabian…

KAIDAH MEMAHAMI Al QUR’AN – Daftar Isi LENGKAP

Bolehkah Sholat Tahajjud Setelah Taraweh Dan Witir..?

PERTANYAAN:
Ustadz, apabila kita telah sholat taraweh bolehkah kita tahajjud lagi..?

JAWABAN:
Para ulama berbeda pendapat apakah boleh sholat malam melebihi sebelas roka’at atau tidak.

Mayoritas ulama berpendapat boleh berdasarkan hadits Ibnu Umar rodhiyallahu ‘anhumaa: “Sholat malam itu dua roka’at dua roka’at.” diriwayatkan oleh Abu Dawud dan yang lainnya.
Hadits tersebut tidak memberikan batasan jumlah.

Bahkan diantara ulama menyatakan bahwa tidak ada perselisihan dalam masalah ini.

Al Qadli Iyadl rohimahullah berkata, “Tidak ada perselisihan bahwa tidak ada batasan dalam sholat malam..”

Ibnu Abdil Barr rohimahullah berkata, “Tidak ada perselisihan diantara kaum muslimin bahwa sholat malam tidak ada batasannya..” (shohih fiqih sunnah 1/414)

ini juga yang dirojihkan oleh syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah. dan inilah pendapat yang kuat.

atas dasar itu, boleh melakukan sholat tahajjud bila telah taraweh dan witir, dengan syarat tidak boleh witir dua kali. berdasarkan hadits: “Tidak ada dua witir dalam satu malam..” (HR Ahmad).

Namun bila mencukupkan dengan sholat taraweh bersama imam itu sudah mencukupi, berdasarkan hadits Abu Dzarr rodhiyallahu ‘anhu tentang kisah sholat tarawih Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam, Abu Dzarr berkata:

Lalu kami berkata: “Wahai Rosulullah, bagaimana bila sisa malam ini kita gunakan untuk sholat sunnah..?” Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barang siapa yang sholat bersama imam sampai selesai, maka dituliskan untuknya sholat semalam suntuk..” HR At Tirmidzi dan ia berkata, “Hadits hasan shohih..”

Dalam hadits tersebut Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam mencukupkan dengan sholat bersama imam.

wallahu a’lam

Dijawab oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Courtesy of Al Fawaid