Category Archives: Abu Yahya Badrusalam

Karena Cinta Yang Tulus Kepada Allah

Rosulullah Shollallaahu ‘alaihi Wa sallam berdoa:

أَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ ، وَأَسْأَلُكَ قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ ، وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ ، وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ ، وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ ، وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ ، فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ ، وَلَا فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ

“Ya Allah aku memohon kepadaMu kenikmatan yang tak pernah habis, aku memohon kepadaMu kesejukan pandangan yang tak pernah putus. Aku memohon kepadaMu keridhoan kepada takdirMu. Aku memohon kepadaMu dinginnya kehidupan setelah mati. Aku memohon kepadaMu kelezatan memandang wajahMu. Aku memohon kepadaMu kerinduan untuk bertemu denganMu bukan karena derita yang menerpa bukan juga karena fitnah yang menyesatkan.” (HR Annasai)

Ibnu Rojab mengatakan bahwa ahli dunia biasanya menginginkan kematian karena derita yang menerpa padahal itu tidak boleh. Dan ahli agama menginginkan kematian karena takut agamanya terfitnah. Maka nabi memohon kepada Allah agar kerinduannya kepada Allah bukan karena itu, namun karena cinta yang tulus kepada-Nya…

(Syarah hadits labaik hal.95)

Di alih-bahasakan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Perbuatan Kebaikan Itu Mencegah Kejadian Yang Buruk

Ada seorang ibu bertanya: “ustadz.. di bulan ramadhan ini kan sangat dianjurkan sedekah. Tapi ana mau sedekah dilarang suami katanya kita nggak tahu kedepannya bagaimana pandemi ini.. apakah ana tetap sedekah ?”

Ana jawab..
Seorang istri tidak boleh menggunakan harta suami kecuali dengan izinnya. Tapi jika itu harta ibu pribadi maka silahkan atas pendapat yang kuat.

Cuma nasehat saya buat suami ibu bahwa justru di zaman seperti ini pahala sedekah lebih besar lagi.

Disebutkan dalam hadits:
ada seorang laki-laki yang datang kepada Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bertanya,“Wahai Rosulullah, sedekah apa yang paling utama..?” Beliau menjawab:

« أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ » .

“Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan, “(andai) Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian. (Andai itu) telah menjadi milik si fulan..” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam hadits ini disebutkan bahwa sedekah yang paling utama adalah saat kita pelit takut kemiskinan. Yakinlah bahwa sedekah itu tidak akan mengurangi harta sebagaimana dikabarkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam.

Adapun kekhawatiran suami ibu tentang masa depan yang tidak jelas adalah berasal dari ketakutan yang ditimbulkan oleh setan.
Barangkali dengan sedekah Allah mengangkat pandemi ini dan menghindarkan kita dari segala macam keburukan. Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits:

صنائع المعروف تقي مصارع السوء

“Perbuatan kebaikan itu mencegah kejadian yang buruk.”(Dihasankan oleh Syaikh al-Albani)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc,  حفظه الله تعالى

Renungan Ayat – 5

Nabi Yusuf saat diuji oleh Allah dengan para wanita yang menginginkannya, beliau berdo’a:

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ ۖ وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الجاهلين

“Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh” (Yusuf:33)

Subhanallah…
Beliau lebih memilih penjara dan kesusahan hidup…
Dari pada memaksiati Allah dengan memenuhi ajakan para wanita itu…
Demikianlah iman bila telah terasa manisnya…
Tiada yang lebih indah dari menaati Allah…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Renungan Ayat – 4

Sifat Sholat Orang Munafik

Allah Ta’ala berfirman:

وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Apabila berdiri menuju sholat, mereka berdiri dengan malas dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit” [Annisa: 142]

Ibnu Katsir rohimahullah berkata:

في صلاتهم لا يخشعون [ فيها ] ولا يدرون ما يقولون ، بل هم في صلاتهم ساهون لاهون ، وعما يراد بهم من الخير معرضون .

“Di dalam sholat mereka tidak khusyu, tidak tahu apa yang mereka ucapkan. Mereka lalai dalam sholat nya dan berpaling dari kebaikan”
[Tafsir ibnu Katsir]

Lihatlah..
Pada ibadah yang amat agung mereka malas dan kalaupun sholat yang ia ingat bukan Allah akibat hati mereka berpaling.

Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam menyifati sholat orang munafik dalam sabdanya:

تلك صلاة المنافق ، تلك صلاة المنافق ، تلك صلاة المنافق : يجلس يرقب الشمس ، حتى إذا كانت بين قرني الشيطان ، قام فنقر أربعا لا يذكر الله فيها إلا قليلا

“Itulah sholat orang munafik 3x : ia duduk menunggu matahari sampai berada diantara dua tanduk setan. Lalu ia sholat empat roka’at dengan cepat. Ia tidak mengingat Allah kecuali sedikit” [HR Malik, Muslim, Tirmidzi, dan Nasai]

Maka wahai muslim…
Janganlah menyerupai kaum munafikin dalam sholat mereka..
Sambutlah sholat dengan kegembiraan dan semangat..
Berusahalah khusyu dalam sholat dengan banyak mengingat Allah padanya…

Ibnu ‘Abbas berkata:

يكره أن يقوم الرجل إلى الصلاة وهو كسلان ، ولكن يقوم إليها طلق الوجه ، عظيم الرغبة ، شديد الفرح ، فإنه يناجي الله [ تعالى ] وإن الله أمامه يغفر له ويجيبه إذا دعاه

“Tidak baik seseorang berdiri menuju sholat dengan malas. Hendaklah ia bangkit kepadanya dengan wajah yang berseri, besar harapan, dan sangat gembira. Karena ia hendak bermunajat dengan Allah. Karena Allah di depannya mengampuni dosa dan mengijabah do’a” [Tafsir Ibnu Katsir]

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Renungan Ayat – 4

Setiap sholat kita selalu membaca ayat

اهدنا الصراط المستقيم

“Tunjukkan kami ke jalan yang lurus”

Ayat ini jika kita tadaburi mengandung banyak faidah. Diantaranya:

1. Hidayah itu hanyalah milik Allah dan berasal dari Allah. Baik hidayah ilmu maupun hidayah taufiq.

2. Kita amat membutuhkan hidayah dalam setiap perbuatan kita. Terkadang ada orang yang mendapat hidayah dalam akidahnya tapi tidak dapat hidayah dalam ibadahnya.

3. Ilmu Allah amat luas sehingga kita diperintahkan memintanya setiap waktu.

4. Penetapan risalah Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Karena hidayah itu dari Allah dan Allah menyampaikan hidayah berupa ilmu melalui lisan rasul rosul-Nya.

5. Bantahan terhadap semua pelaku bidah dan kesesatan. Karena tidak mengikuti hidayah yang dibawa oleh rosulullah.

6. Bantahan terhadap para pengikut nenek moyang. Karena hidayah bukan berasal dari mereka. Akan tetapi yang berasal dari Allah dan rasul-Nya.

7. Bantahan terhadap para pendewa akal dan hawa nafsu. Karena akal bukanlah sumber hidayah namun sebagai alat untuk memahami hidayah.

Maka bila kita minta hidayah kepada Allah berkonsekwensi untuk siap mengikuti hidayah yang berasal dari Allah dan rosul-Nya.
Dan tidak mungkin dapat mengikuti hidayah kecuali dengan menghilangkan tabir penghalang yang dapat menghalangi hati kita dari hidayah berupa kesombongan, cinta dunia berlebihan, hasad, dan sebagainya.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Renungan Ayat – 3

Mengapa Kamu Melakukan Itu..?

Tahukah anda..
Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bila melihat seorang shahabat melakukan kesalahan..
Beliau bertanya, “Apa yang membuatmu melakukan itu..”

Seperti dalam kisah Mu’adz bin Jabal yang pulang dari Syam..
Lalu sujud kepada Rosulullah..
Padahal sujud kepada manusia adalah syirik besar..

Seperti dalam kisah Hathib bin Abi Balta’ah yang hendak membocorkan rahasia Allah dan RosulNya..
Padahal itu adalah pengkhianatan..

Namun..
Apakah Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam langsung memvonisnya sesat…
Tidak..
Sekali-sekali tidak..
Beliau bertanya dahulu, “Apa yang membuatmu melakukan itu…”
Barangkali ia tidak tahu..
Barangkali ia mempunyai alasan..

Subhanallah..
Tidak demikian di zaman ini..
Sebatas melihat saudaranya melakukan perbuatan yang ia anggap salah..
Segera vonis dilancarkan..
Fulan sesat..
Fulan hizbiy..
Fulan sururi..
Lalu segera ia menjauhinya..
Tak ada lagi ucapan salam untuknya..

Subhaanallah..
Telah hilang kasih sayang di hati kita..
seakan..
Bila ia telah berhasil memvonis saudaranya..
Ia telah membela islam dan sunnah..
Sementara setan menyeringai gembira..
Karena ia telah membantunya untuk menyesatkan manusia..

Saudaraku..
Tidakkah kita takut bila vonis itu kembali kepada diri kita..
Bukankah salah dalam memaafkan lebih baik dari pada salah dalam memberikan sanksi..
Iya.. Demi Allah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

WAG Al Fawaid

#COVID_19 : Renungan Ayat – 3

Allah Ta’ala berfirman tentang nabi Yusuf ‘alayhis salam:

وَقَالَ لِلَّذِي ظَنَّ أَنَّهُ نَاجٍ مِّنْهُمَا اذْكُرْنِي عِندَ رَبِّكَ فَأَنسَاهُ الشَّيْطَانُ ذِكْرَ رَبِّهِ فَلَبِثَ فِي السِّجْنِ بِضْعَ سِنِينَ

“Dan Yusuf berkata kepada orang yang diketahuinya akan selamat diantara mereka berdua: “Terangkanlah keadaanku kepada tuanmu”. Maka syaitan menjadikan dia lupa menerangkan (keadaan Yusuf) kepada tuannya. Karena itu tetaplah dia (Yusuf) dalam penjara beberapa tahun lamanya” (Yusuf:42)

Lihatlah…
Nabi Yusuf berkata kepadanya, “Terangkan keadaanku kepada tuanmu.”

Akibatnya apa ?
Setan menjadikannya lupa..
Sehingga Nabi Yusuf tinggal di penjara beberapa tahun lamanya…

Kalaulah beliau meminta kepada Allah saat itu…
Pasti Allah akan segera mengijabah…
Ibnu Jarir Ath Thobari berkata:

وهذا خبرٌ من الله جل ثناؤه عن غفلة عَرَضت ليوسف من قبل الشيطان، نسي لها ذكر ربه الذي لو به استغاث لأسرع بما هو فيه خلاصه ، ولكنه زلَّ بها فأطال من أجلها في السجن حبسَه، وأوجع لها عقوبته

“Ini adalah kabar dari Allah tentang kelalaian nabi Yusuf yang berasal dari setan. Beliau lupa untuk mengingat Allah yang seandainya beliau meminta tolong kepada Allah, pasti Allah segera membebaskannya. Namun beliau tergelincir sehingga beliau menjadi lama di penjara dan sanksi menjadi terasa berat.”
(Tafsir Thobari)

Terkadang…
Saat kita terkena musibah. Kita berharap bantuan manusia dan lupa kepada Allah…
Akibatnya Allah tidak mempedulikan kita…
Ya Rabb..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Renungan Ayat – 2

JANGAN LEWATKAN YANG BERIKUT INI:
Kumpulan Artikel Terkait Covid-19

Renungan Ayat – 2

Allah Ta’ala berfirman tentang munafikin:

وَلَوْ أَرَادُوا۟ ٱلْخُرُوجَ لَأَعَدُّوا۟ لَهُۥ عُدَّةً وَلَٰكِن كَرِهَ ٱللَّهُ ٱنۢبِعَاثَهُمْ فَثَبَّطَهُمْ وَقِيلَ ٱقْعُدُوا۟ مَعَ ٱلْقَٰعِدِينَ

“Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka. dan dikatakan kepada mereka: “Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu” (Attaubah: 46)

Sungguh ini adalah ayat yang membuat merinding dan khawatir…
Lihatlah..
Allah tidak menyukai keberangkatan mereka kaum munafikin kepada kebaikan..
Maka Allah melemahkan keinginan mereka kepada kebaikan tersebut..

Saat hati kita dijadikan lemah menuju kebaikan..
Mau berangkat ke masjid malas..
Mau berangkat menuntut ilmu malas..
Berarti apa ?
Artinya di hati kita ada penyakit..
Semua pasti akibat maksiat..
Maka segeralah bertaubat dan meminta ampun kepada Allah

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Renungan Ayat – 1

Renungan Ayat – 1

Saat membaca Al Maidah, terhenti pada ayat ini

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَيَبْلُوَنَّكُمُ اللَّهُ بِشَيْءٍ مِّنَ الصَّيْدِ تَنَالُهُ أَيْدِيكُمْ وَرِمَاحُكُمْ لِيَعْلَمَ اللَّهُ مَن يَخَافُهُ بِالْغَيْبِ ۚ فَمَنِ اعْتَدَىٰ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَلَهُ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan sesuatu dari binatang buruan yang mudah didapat oleh tangan dan tombakmu supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-Nya, biarpun ia tidak dapat melihat-Nya. Barang siapa yang melanggar batas sesudah itu, maka baginya azab yang pedih.” (Almaidah:94)

Allah menguji para shahabat dengan hewan buruan yang mudah ditangkap saat berihram…
Di zaman ini pun kita diuji dengan maksiat yang dekat dan mudah didapat yaitu dalam handphone…
Supaya Allah mengetahui orang yang takut kepada-nya..
Tapi..
Saat kita sendiri sering tidak takut kepada-Nya..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

WAG Al Fawaid