Category Archives: Firanda Andirja

Kasihan Orang Yang Riya’…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Kasihan orang yang riya’ :
– ia meninggalkan pujian Allah lantas berharap pujian manusia
– ia meninggalkan Allah Yang Maha Kuasa dan memilih manusia yang penuh kekurangan dan kehinaan
– ia mengagungkan makhluk yang hina dan tidak mengagungkan Allah Yang Maha Agung
– ia memilih ganjaran dunia dan meninggalkan ganjaran akhirat
– ia mengagungkan dunia dan tidak mengagungkan akhirat
– ia tidak mengagungkan hari qiamat dimana seluruh rahasia dan isi hati akan dibongkar oleh Allah
– di akhirat ia disuruh mencari pahala dari orang-orang yang ia harapkan pujian dan penghormatan mereka tatkala di dunia
– di akhirat ia yang pertama kali disiksa di neraka
– di dunia ia selalu gelisah menanti pujian manusia dan komentar indah dari manusia. Lebih gelisah lagi jika ternyata riya’ nya tidak membuat orang memujinya dan menghormatinya
– di dunia ia capek berkreasi demi memamerkan amal ibadanya, capek dalam berkreasi menulis status dan capek berkreasi dalam ber-selfie- untuk meng-share pose ibadahnya. Apalagi yang nge-like- hanya sedikit.

 

Tips Melawan Riya’…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Orang yang terbiasa banyak ibadah biasanya lebih mudah menata hati untuk ikhlas meskipun dihadapan banyak orang. Yang jarang beribadah lebih rawan terkena riya tatkala beribadah dihadapan banyak orang.

Maka lawanlah riya dengan membiasakan diri banyak beribadah, karena dengan kebiasaan banyak beribadah akan muncul sikap cuek terhadap komentar orang lain.
Contoh : yang jarang berzikir atau baca quran di hadapan orang pada awalnya kawatir riya.

Tapi kalau sudah terbiasa dan berusaha melawan riya dan sering melakukannya maka timbul sikap cuek terhadap komentar orang tatkala sedang beribadah

Keutamaan Silaturahim…

Ustadz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Bismillahirrahmanirrahim,
Washshalatu wassalamu ‘ala rasulillah,

Ikhwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala, kita memasuki bagian ke 3 dari pembahasan keutamaan silaturahim.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رسول الله صلى الله عليه و سلم: مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ وَيُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ (أخرجه البخاري)

Dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu berkata: Rasulullāh shallallāhu ‘alayhi wa sallam bersabda: “Barangsiapa senang untuk dilapangkan rizki dan dipanjangkan umurnya, maka jalinlah tali silaturahim (hubungan antar kerabat).”
(HR. Bukhari)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Hadits ini merupakan hadits yang agung yang memotifasi kita untuk menyambung silaturahim.

Ada sebagian amal sholeh yang Allāh tidak hanya memberikan ganjaran di akhirat tetapi juga duniawi, contohnya adalah menyambung silarurahim.

Ganjaran di dunia yang Allāh siapkan bagi orang yang menyambung silaturhim dalam hadits ini yaitu dilapangkan rizikinya dan dipanjangkan umurnya.

Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan, “Siapa yang suka untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya dia menyambung silaturahim.”

Ini adalah motifasi dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yaitu dengan mengiming-imingi ganjaran duniawi.

Oleh karenanya pendapat yang rajih di antara pendapat para ulama, bahwasanya barang siapa beramal sholeh ikhlas karena Allāh Subhanahu wa Ta’ala, tidak mengharap pujian manusia, tidak riya’ kemudian dalam niatnya disertai dengan ingin mendapatkan ganjaran duniawi yang diizinkan oleh syari’at, maka maka hal itu tidak mengapa.

Karena Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang mengiming-imingi dengan mengatakan, “Barang siapa yang mau,” yang artinya: barang siapa yang berminat dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya,maka hendaknya menyambung silaturahim.

Ikwan dan akhwat yang dirahmati Allāh Subhanahu wa Ta’ala,

Makna dari dilapangkan rizki dan dipanjangkan umur secara umum ada 2 pendapat di kalangan para ulama.

Pendapat pertama:

Menyatakan makna majasi, kiasan, karena rizki sudah tercatat dan juga umur tidak mungkin di ubah-ubah lagi.

Oleh karenanya maksud dilapangkan rizki adalah rizkinya diberkahi Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Meskipun rizkinya tidak berubah namun Allāh kasih keberkahan dengan banyaknya manfaat, membawa faidah, digunakan untuk beramal sholih, untuk hal-hal yang di cintai oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala.

Demkian juga dengan maksud dari dipanjangakan umur, artinya umurnya tidak berubah, sessuai dengan yang ditakdirkan.

Akan tetapi Allāh berkahi umurnya, sehingga umurnya bisa dia gunakan untuk banyak kebaikkan, banyak beribadah atau dihindarkan dari sakit yang menggangu keberkahan umurnya sehingga waktunya benar-benar bermanfaat, seakan-akan umurnya panjang.

Karena pernah kita dapati seorang memiliki umur yang panjang namun tidak bermanfaat atau yang bermanfaat hanya sedikit dari umurnya atau sebagian umurnya hilang sia-sia.

Pendapat yang kedua:

Dibawakan  kepada makna yang hakiki, yaitu benar-benar dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rizkinya.

Kita tahu bahwasanya Allāh Subhanahu wa Ta’ala bisa merubah takdir yang berada di tangan para malaikat sebagaimana firman Allāh Subhanahu wa Ta’ala:

يَمْحُوا۟ ٱللَّهُ مَا يَشَآءُ وَيُثْبِتُ ۖ وَعِندَهُۥٓ أُمُّ ٱلْكِتَٰبِ

“Allāh menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh).” (QS: Ar-Ra’d Ayat: 39)

Jadi, malaikat mungkin diperintahkan oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala untuk mencatat umur hamba, misalnya umurnya 60 tahun, kemudian karena hamba ini bersilaturahim maka Allāh Subhanahu wa Ta’ala menyuruh mencatat umurnya menjadi 70 tahun, yang perubaham ini, yaitu  dari 60 menjadi 70, semua sudah tercatat di Lauhul Mahfuzh.

Tidak ada perubahan di Lauhul Mahfuzh.

Allāh mengatakan, “Dan di sisi Allāh ada Ummul Kitab,” dan di Ummul Kitab tidak berubah,

Seakan -akan tertulis di Lauhul Mahfuzh dicatat oleh malaikat awalnya 60 th kemudian karena dia beramal sholih maka Allāh perintahkan menjadi 70 th.

Demikian juag dengan rizki, yang tadinya dicatat tertentu oleh malaikat dan karena dia bersilaturahim maka ditambah rizkinya oleh Allāh Subhanahu wa Ta’ala, dan semuanya telah tercatat  Lauhul Mahfuzh.

Dan Wallahu A’lam bi Showab, saya lebih condong dengan pendapat yang kedua.

Karena kenyataan yang ada silatiurahim benar-benar merupakan sebab dipanjangkan umur dan ditambahkan rizki.

Betapa banyak orang yang menyambung silaturahim kemnudian rizkinya ditambah-tamba oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala, berapa banyak orang yang menyambung silaturahim umurnya ditambah, misalnya dijauhkan dari sakit.

Mungkin harusnya dia celaka tapi dihindarkan dari kecelakaan oleh Allāh  Subhanahu wa Ta’ala sehingga bertambah umurnya.

Semoga Allāh  Subhanahu wa Ta’ala memberkahi harta kita dan umur kita dan semoga Allāh memudahkan kita untuk bersilaturahmi.

Courtesy: BIAS

Kisah Cerdiknya Seorang Pemuda Yang IKHLAS…

Ustaz Firanda Andirja, حفظه الله تعالى

Yang menyaksikan kisah nyata ini berkata :
Suatu hari aku di Mekah, di salah satu supermarket. Setelah aku selesai memilih barang-barang yang hendak aku beli dan aku masukan ke dalam kereta barang maka akupun menuju tempat salah satu kashir untuk antri membayar.

Didepanku ada seorang wanita bersama dua putri kecilnya dan dibelakang mereka ada seorang pemuda yang persis di hadapanku di posisi antrian.

Aku perhatikan ternyata setelah menghitung lalu sang kashir mengatakan, “Totalnya 145 real”. Lalu sang wanitapun memasukan tangannya ke tas kecil utk mencari-cari uang, ternyata ia hanya mendapatkan pecahan 50 real dan beberapa lembar pecahan sepuluhan real. Aku juga melihat kedua putrinya juga sibuk mengumpulkan uang pecahan real miliki mereka berdua hingga akhirnya terkumpulah uang mereka 125 real.

Maka nampaklah ibu mereka berdua kebingungan dan mulailah sang ibu mengembalikan sebagian barang-barang yang telah dibelinya. Salah seorang putrinya berkata, “Bu.., yang ini kami tidak jadi beli, tidak penting bu..”.

Tiba-tiba aku melihat sang pemuda yang berdiri persis di belakang mereka melemparkan selembar uang 50 real di samping sang wanita dengan sembunyi-sembunyi dan cepat.

Lalu sang pemuda tersebut segera berbicara kepada sang wanita dengan penuh kesopanan dan ketenangan seraya berkata, “Ukhti, perhatikan, mungkin uang 50 real ini jatuh dari tas kecilmu…”.

Lalu sang pemuda menunduk dan mengambil uang 50 realan tersebut dari lantai lalu ia berikan kepada sang wanita.

Sang wanitapun berterima kasih kepadanya lalu melanjutkan pembayaran barang ke kashir, kemudian wanita itupun pergi.

Setelah sang pemuda menyelesaikan pembayaran barang belanjaannya di kashir iapun segera pergi tanpa melirik ke belakang seakan-akan ia kabur melarikan diri. Akupun segera menyusulnya lalu aku berkata, “Akhi…sebentar dulu…, aku ingin berbicara denganmu sebentar”.

Lalu aku bertanya kepadanya, “Demi Allah, bagaimana kau punya ide yang cepat dan cemerlang seperti tadi ?”

Tentunya pada mulanya sang pemuda berusaha mengingkari apa yang telah ia lakukan, akan tetapi setelah aku kabarkan kepadanya bahwa aku telah menyaksikan semuanya dan aku menenangkannya serta menjelaskan bahwasanya aku bukanlah penduduk Mekah, aku hanya menunaikan ibadah umroh dan aku akan segera kembali ke negeriku dan kemungkinan besar aku tidak akan melihatnya lagi.

Lalu iapun berkata, “Saudaraku, demi Allah aku tadi bingung juga, apa yang harus aku lakukan, selama dua menit tatkala sang wanita dan kedua putrinya berusaha mengumpulkan uang mereka untuk membayar kashir…, akan tetapi Robmu Allah Subhaanahu wa ta’aala telah mengilhamkan kepadaku apa yang telah aku lakukan tadi, agar aku tidak menjadikan sang wanita malu dihadapan kedua putrinya…

Demi Allah, saya mohon agar engkau tidak bertanya-tanya lagi dan biarkan aku pergi”.

Aku berkata kepadanya, “Wahai saudaraku, aku berharap engkau termasuk dari orang-orang yang Allah berfirman tentang mereka :

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى (٥) وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى (٦) فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى (٧)

“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah” (QS Al-Lail 5-7)

Lalu sang pemuda itupun menangis, lalu meminta izin kepadaku dan berjalan menuju mobilnya sambil menutup wajahnya.

————-###————–

Perkataan “Seandainya…” Membuka Pintu Syaitan

Ustadz Firanda Andirja, MA حفظه الله تعالى

tidak disenangi

 

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata :

لَأَنْ أَعُضَّ عَلَى جَمْرَةٍ حَتَّى تَبْرُدَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَقُوْلَ لِشَيْءٍ قَدْ قَضَاهُ اللهُ : لَيْتَهُ لَمْ يَكُنْ

“Sungguh aku menggigit bara api hingga dingin lebih aku sukai daripada aku berkata kepada suatu perkara yang telah ditetapkan oleh Allah : “Seandainya tidak terjadi”
(Az-Zuhd, Abu Dawud hal 128)

Dalam hadits :

فَإِنَّ لَو تَفتح عمل الشيطان

“Sesungguhnnya perkataan “seandainya” membuka amalan syaitan”

Diantara amalan syaitan :
– Menjadikan pengucapnya sekaan-akan protes terhadap keputusan dan takdir Allah, karena ucapan “seandainya” sering diucapkan tatkala terjadi apa yang tidak disukai

– Menjadikan pengucapnya hanya berangan-angan sesuatu yang mustahil, kata pepatah : “Air susu ibu yang sudah dikeluarkan tidak bisa dimasukan kembali”. Dan syaitan suka seseorang mengangan-angankan sesuatu yang mustahil sehingga terlalaikan dari cita-cita yang mungkin diraih. Mengembalikan masa lalu adalah perkara yang mustahil

– Menjadikan pengucapnya bersedih, dan diantara tujuan syaitan adalah menjadikan seorang mukmin bersedih agar ia futur dan terabaikan dari aktifitas-aktifitasnya yang bermanfaat, atau agar ia tidak bersemangat dalam beraktifitas.

Yang seharusnya diucapkan seorang mukmin tatkala mengalami sesuatu yang dibenci adalah “Qoddarollahu wa maa syaa-a fa’ala”
(ini sudah taqdir Allah, dan Allah melakukan apa yang dikehendakiNya”

Mari semangat beraktifitas…, yang berlalu biarlah berlalu…, jadikan sebagai pelajaran untuk memperbaiki yang ada dihadapan kita…

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊