Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Kisah Seteguk Air Di Saat Berbuka..!

Sobat! Setiap kali berbuka, air mineral atau yang sering disebut dengan air putih selalu terasa begitu istimewa bahkan paling menggoda hati anda.

Cleguk, cleguk, haaaah lega, rasa dahaga yang telah sekian jam seakan membakar kerongkongan anda, sekejap sirna.

لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ

Setiap orang yang berpuasa itu pastilah merasakan dua kegirangan: kegirangan di saat ia berbuka puasa, dan kegirangan di saat ia menghadap kepada Tuhan-nya. (Bukhari dan Muslim)

Akan tetapi setelah malam mulai larut, maka seteko apalagi hanya seteguk air mineral kembali menjadi hal yang biasa, bahkan kembali anda memandangnya dengan sebelah mata anda.
Ternyata, puasa mampu memaksa anda menyadari arti air minum. Kenikmatan yang sering anda lupakan, dan al hamdulillah dengan berpuasa anda kembali menyadarinya.

Sobat, coba anda renungkan sesaat, ternyata selama ini banyak kenikmatan yang belum mampu anda sadari kehadirannya. Andai anda mengalami kondisi serupa di saat berpuasa, tertahan dari menikmati hal hal tersebut, niscaya anda terpaksa menyadarinya.

Udara segar, mata sehat, denyut nadi yang terus berjalan tiada henti, pendengaran, lisan anda, dan masih banyak lagi, betapa sering anda lupakan kehadirannya sebagai nikmat dan karunia ilahi. Haruskah Allah Ta’ala menghalangi anda dari kenikmatan kenikmatan tersebut agar anda dapat menyadari kehadirannya?

Semoga ibadah puasa cukup sebagai teguran bagi anda agar segera bertobat dan menyadari segala kenikmatan yang telah Allah karuniakan kepada anda, jangan sampai anda terlambat menyadarinya. Anda terus hanyut dalam kelalain hingga semuanya hilang atau minimal sejenak Allah menahannya dari anda.

Ya Allah ampunilah dosa dosa hamba-Mu ini yang telah lalai dari sekian banyak kenikmatan yang telah Engkau karuniakan kepada hamba.

DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Puasa Perut, Tapi Tidak Puasa Mulut…

Sobat, hari hari ini anda sedang menjalankan puasa, yaitu menahan diri dari makan dan minum, itu wajar, orang lain juga demikian, alias ndak hebat.

Yang hebat tuh, jika selain menahan perut dari makan dan minum, anda juga berhasil menahan mulut anda dari kata kata keji, umpatan, hardikan dan kotor.

Betapa banyak orang yang ketika mulutnya terhalang dari makanan dan minuman ia menggantinya dengan makian dan sumpah serapah. Rasa lapar dan dahaga ternyata sering kali menyebabkan sebagian orang kalap, sehingga mudah mengucapkan umpatan, kata kata keji atau kotor, alias emosinya kacau atau yang disebut dengan bad mood.

Sobat camkan baik-baik, makan dan minum itu semula halal, namun dengan berpuasa anda diwajibkan menahannya, tentu umpatan, makian, kata-kata keji yang sedari awal haram, lebih layak untuk anda tahan mulut anda darinya.
Jangan hanya berjuang menahan mulut anda agar tidak dimasuki oleh makan dan minum, namun anda lupa untuk menahan mulut anda dari umpatan, dan kata kata keji.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ يَوْمَئِذٍ وَلاَ يَسْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى امْرُؤٌ صَائِمٌ

Puasa itu bagaikan perisai, karenanya bila engkau sedang berpuasa, maka janganlah engkau berkata keji, dan jangan pula berteriak-teriak. Bila ada orang yang memakimu atau memusuhimu, maka inspirasilah dirimu dan juga ingatkan dia dengan berkata : “Sesungguhnya saya sedang berpuasa”. (Bukhari dan Muslim)

Selamat menjalankan ibadah puasa semoga benar benar menjadi orang yang bertaqwa.

DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Ngapain Sih Pakai Puasa Segala..?

Anda pernah menjalani operasi ? Atau paling tidak anda memiliki saudara yang pernah menjalaninya?

Bila pernah, coba diingat kembali kenangan yang pernah anda lalui itu. Mungkin saja dokter yang menangani anda, meminta anda agar berpuasa selama beberapa jam, bahkan kadang kala anda harus berpuasa sampai 8 jam lamanya.
Nah, apakah ketika anda menjalani puasa 8 jam itu terbetik di hati anda harapan mendapat pahala dari Allah, walau hanya sedikit ? Atau mungkin juga pahala dari dokter yang menangani anda ?

Apa yang membedakan puasa itu dengan puasa yang sedang anda amalkan sekarang ini? Puasa yang sedang anda amalkan di bulan ini, begitu besar pahalanya:

(الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ) رواه مسلم

Shalat lima waktu, shalat jum’at hingga shalat jum’at selanjutnya, dan puasa bulan ramadhan hingga puasa bulan Ramadhan selanjutnya adalah penghapus dosa-dosa yang terjadi diantaranya, selama pelakunya menghindari dosa-dosa besar.” Riwayat Muslim

Bila demikian, apa yang menjadikan puasa di bulan ini memiliki keutamaan yang begitu besar, Sedangkan puasa yang diperintahkan oleh pak dokter, tidak ?
Coba anda renungkan, apa perbedaan antara keduanya ?
Saya yakin, spontan anda akan berkata: Sangat besar perbedaannya. Tapi coba anda mulai menuliskan perbedaan itu di secarik kertas, ada berapa perbedaankah yang berhasil anda tuliskan ?

Ketahuilah saudaraku! semakin banyak jumlah perbedaan yang berhasil anda tuliskan, berarti semakin besar pula pemahaman anda tentang puasa Ramadhan. Dan semakin besar pengetahuan anda semakin besar pula pahala yang –insya Allah- berhasil anda dapatkan darinya.

Sebaliknya, semakin sedikit perbedaan yang berhasil anda sebutkan, maka itu indikasi bahwa pahala puasa anda juga sedikit.

(رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ) رواه أحمد وحسنه الألباني

Mungkin saja orang yang berpuasa, dari puasanya itu hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja.” Riwayat Ahmad, dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani.

Saudaraku! Apakah anda rela bila perjuangan anda bangun pagi makan sahur, selanjutnya menahan lapar dan haus hingga terbenam matahari, sia-sia begitu saja ? Bukan pahala yang anda dapatkan, akan tetapi yang anda dapatkan hanyalah derita lapar dan haus belaka.
Anda tidak ingin petaka itu menimpa anda? Anda ingin tahu kiatnya ?

Temukan jawabannya pada ucapan Abu Bakar bin Abdillah Al Muzani berikut:

مَا فَضَلَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه النَّاسَ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وِلاَ صَلاَةٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ

Tidaklah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berhasil mengungguli orang lain dikarenakan ia lebih banyak berpuasa dan shalat, akan tetapi ia mengungguli mereka dengan sesuatu yang tertanam di dalam dadanya.”

Inilah jawabannya! Isi hati beliaulah yang menjadikannya berhasil mengungguli seluruh umat Islam.
Beliau tidak pernah berpuasa di bulan ramadhan lebih dari satu bulan, dan dalam satu hari juga shalat fardhu yang beliau lakukan hanya lima waktu dan demikian juga lainnya.
Yang membedakan beliau dari lainnya ialah niatnya. Beliau berpuasa sama dengan kita, akan tetapi niat puasa beliau jauh lebih baik dari niat puasa kita.

Sekedar menggambarkan perincian niat para ulama’ maka berikut saya sebutkan beberapa jenis-jenis niat dalam suatu amalan:

1. Niat menjalankan ibadah kepada Allah dengan berpuasa di bulan Ramadhan, dan ini adalah niat yang paling utama dan paling mendasar. Tanpa niat ini amalan anda tidak akan diterima Allah, dan tidak bernilaikan ibadah, bahkan bisa saja puasa anda berubah menjadi amal kemaksiatan.

(قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ) رواه مسلم

Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman: Aku adalah Dzat Yang paling tidak membutuhkan kepada persekutuan, karenanya barang siapa yang mengamalkan suatu amalan sedangkan padanya ia menyekutukan Aku dengan selain Aku, niscaya Aku meninggalkannya bersama sekutunya itu.” Riwayat Muslim

Niat inilah yang membedakan antara anda sebagai seorang yang beragama islam dengan orang-orang kafir, atau musyrik.
Walaupun niat jenis ini adalah niat yang paling mendasar dan pokok, akan tetapi niat inilah yang paling sering kita lalaikan.
Sudahkah anda senantiasa menghadirkan niat jenis pertama ini dalam ibadah puasa anda?

2. Niat meneladani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah puasanya, atau yang sering disebut dengan ittiba’.
Coba sekarang anda membayangkan, seakan-akan anda
sedang mengamati gerak-gerik dan etika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam selama menjalankan puasa Ramadhan, seakan-akan anda hidup bersama beliau. Apakah perasaan anda kala itu sama dengan perasaan pada hari-hari sebelumnya ?

Niat semacam ini adalah niat kedua yang paling mendasar agar puasa anda bernilai ibadah dan mendatangkan puasa. Walau demikian, ternyata niat semacam ini sering kali terlupakan, bukankah demikian saudaraku ?
Apalah artinya puasa anda bila ternyata anda berpuasa hanya sekedar mengikuti kebiasaan dan perilaku orang lain ?! Berpuasa hanya mengikuti perilaku masyarakat tidaklah ada gunanya di sisi Allah.
Apa yang selama ini anda lakukan, yaitu hanyut dengan perilaku masyarakat tanpa menyadari teladan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah puasa menjadikan puasa anda tidak bernilai ibadah, Sikap anda itu hanyalah menjadikan puasa anda bernilai tradisi belaka.

عِبَادَاتُ أَهْلِ الغَفْلَةِ عَادَاتٌ

Amal ibadah orang-orang yang lalai hanyalah bernilaikan adat istiadat.”

Dan perilaku seperti inilah yang dimaksudkan dalam hadits tanya jawab malaikat Mungkar dan Nakir di alam kubur:

(مَا كُنْتَ تَقُولُ فِى هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم؟ فَيَقُولُ: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيُقَالُ: لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلاَّ الثَّقَلَيْن) رواه البخاري

Apa yang dahulu engkau katakan/yakini tentang orang ini, yaitu Muhammad ? Si mayitpun menjawab: Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang diyakini oleh masyarakat banyak. Maka dikatakan kepadanya: Engkau tidak tahu dan juga tidak pernah membaca ? Selanjutnya ia dipukul dengan palu dari besi tepat di tengah-tengah antara ke dua telinganya, sehingga menjadikannya kesakitan dan menjerit dengan jeritan yang dapat didengarkan oleh seluruh yang ada di sekitarnya selain jin dan manusia. Riwayat Bukhary.
Apakah anda rela tergolong ke dalam orang-orang yang dikisahkan dalam hadits ini ? Tentu tidak.

3. Niat menjalankan kewajiban atau rukun Islam. Niat inilah yang biasanya disebut-sebut oleh para da’i dan penceramah pada setiap bulan ramadhan. Niat jenis ini hanya berfungsi sebagai syarat sah atau tidaknya puasa anda. Niat ini hanya bertujuan menggugurkan kewajiban belaka, akan tetapi niat ini, bila tidak disertai oleh kedua niat di atas, tidak cukup untuk mendatangkan pahala di sisi Allah.

4. Niat mendahulukan keridhaan Allah daripada kesenangan pribadi.
Betapa tidak, ketika anda berpuasa, anda meninggalkan berbagai hal yang anda cintai, makan, minum, bergaul dengna istri, semuanya anda tinggalkan karena mendahulukan perintah Allah. Semua hal yang anda cintai itu, dengan hati yang tulus anda tinggalkan hanya karena mencari keridhaan Allah semata.

(يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى) متفق عليه

Orang yang berpuasa meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya hanya karena Aku. Muttafaqun ‘alaih

Bila anda telah kuasa mendahulukan keridhaan Allah dibanding nafsu anda, maka itulah sejatinya takwa. Dengan senantiasa mendahulukan ridha Allah dibanding seruan nafsu, maka anda sedikit demi sedikit dapat merasakan manisnya iman.

(ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ) متفق عليه

Tiga hal, barang siapa yang ketiganya ada pada dirinya, niscaya ia akan mendapatkan/merasakan manisnya keimanan (ketiga hal itu ialah):
– Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain keduanya, dan
– ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah, dan
– ia membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah ia diselamatkan Allah darinya, bagaikan kebenciannya bila hendak dicampakkan ke dalam api. (Muttafaqun ‘alaih).

Niat ini adalah niat yang sangat tinggi, dan mungkin saja untuk saat ini, niat ini terasa begitu berat untuk kita miliki. Tidak heran, bila kita senantiasa merasa tidak sabar untuk segera berbuka puasa, dan bahkan sekedar matahari terbenam, balas dendam dan pelampiasan diri segera kita lancarkan. Makan dan minum sebanyak-banyaknya, sampai terasa susah untuk berdiri ? Bukankah demikian ?

5. Sebagai upaya membangun benteng pelindung dari sengatan api neraka.
Pada kesempatan yang lalu saya telah menyebutkan bahwa diantara manfaat dan tujuan ibadah puasa ialah menebus benteng atau perisai yang dapat melindungi diri anda dari sengatan panas api neraka.

(الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ ، مَرَّتَيْنِ) رواه البخاري

Puasa adalah perisai, maka orang yang sedang berpuasa hendaknya tidak berkata-kata keji dan berperilaku layaknya orang-orang bodoh (semisal berteriak-teriak-pen). Dan bila ada seseorang yang memerangi atau mencacinya, hendaknya ia membela diri dengan berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa, 2 kali“. Riwayat Bukhari

Dan pada riwayat lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا) متفق عليه

Barang siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan dirinya dari api neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” Muttafaqun ‘alaih

Pernahkah, harapan semacam ini terbetik dalam hati anda selama anda menjalankan ibadah puasa?
Dan masih banyak lagi niat dan harapan yang seyogyanya anda miliki, agar puasa anda semakin sempurna dan pahala yang anda perolehpun semakin besar.

Apa yang saya paparkan di sini hanyalah sekedar upaya saya mengingatkan anda untuk lebih banyak mengkaji berbagai rahasia dan hikmah yang tersimpan di balik ibadah puasa anda.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan kerahmatan dan ilmu yang bermanfaat kepada anda, sehingga anda berhasil menggapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Amiin

Wallahu a’alam bisshawab.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

da280517-0702

Wahabi Haruskah Dimaki..? PART # 2

Pada tulisan pertama (baca disini), telah saya uraikan bahwa wahabi sejatinya adalah sebutan satu sekte sempalan dari sekte Khawarij yang dikenal sangat ekstrim dan hobi bersikap anarkis. Khawarij dikenal sebagai sekte yang hobi mengkafirkan setiap pelaku dosa, dan bahkan dalam banyak kasus mengkafirkan setiap orang yang menyelisihi mereka. Sekte wahabi ini dahulu dikenal banyak menyebar di negri-negri Afrika semisal Maroko dan sekitarnya.

Namun demikian, keberadaan sekte sempalan ini telah jauh hari tidak terdengar lagi kabarnya, dan yang tersisa hanya sekte induknya yaitu khawarij, yang secara data akan terus ada hingga akhir masa kelak.

Adapun orang orang yang saat ini dijuluki sebagai wahabi, maka sejatinya mereka bukanlah sekte khawarij, dan bahkan Syeih Muhammad bin Abdul Wahhab dan anak cucu murid beliau dikenal sangat keras memusuhi sekte Khawarij. Bahkan negri mereka termasuk negri pertama yang menjadi korban ulah para penganut paham Khawarij, pada tahun 1996, kota Khubar Saudi Arabia menjadi saksi aksi pengeboman besar yang menewaskan 19 orang dan melukai 498 orang. Dan selanjutnya terjadi pengeboman pengeboman dan aksi-aksi anarkis lainnya.

Dan semua orang juga mengetahui bahwa Saudi Arabia adalah salah satu negara yang dikenal memusuhi Al Qaedah yang merepresentasikan paham radikal dan sering bertindak anarkis. Kerja keras mereka dalam memerangi paham radikal baik dalam sekala regional ataupun internasional cukuplah sebagai buktinya. Sebagaimana telah berjuta-juta ummat Islam yang menunaikan ibadah Haji dan Umrah menyaksikan betapa berbagai tuduhan yang selama ini dilontarkan kepada Saudi Arabia terbukti salah.

Namun demikian, betapa banyak orang yang masih saja memaksakan anggapan bahwa Saudi, dan semua yang berbau Saudi Arabia, adalah penebar paham Wahabi dan paham radikal? Seakan akan mereka sengaja menutup mata dan telingan dari beribu-ribu bukti, tindak sosial semisal bantuan tanpa pamrih kepada saudara saudara kita korban sunami Aceh, persaksian berjuta juta jamaah Haji dan Umrah, dan lainnya.

Andaipun anggapan mereka benar, maka layakkah bila anda memaki dan mengobarkan api peperangan kepada mereka? Layakkah kobaran api dilawan dengan kobaran api serupa atau bahkan yang lebih besar?

Sobat, tidakkah sepatutnya kita meneladani sikap sahabat Ali bin Abi Thalib yang tergambarkan pada riwayat berikut..?

لما قتل علي رضي الله عنه الحرورية قالوا من هؤلاء يا أمير المؤمنين أكفار هم قال من الكفر فروا قيل فمنافقين قال إن المنافقين لا يذكرون الله إلا قليلا وهؤلاء يذكرون الله كثيرا قيل فما هم قال قوم أصابتهم فتنة فعموا فيها وصموا

Sebagian pasukan sahabat Ali bin Abi Thalib bertanya kepada beliau perihal orang-orang Khowarij yang baru saja berhasil beliau kalahkan:
Wahai Amirul Mukminin, siapakah sejatinya mereka itu, apakah mereka adalah orang-orang kafir ?

Beliau menjawab: Mereka itu menjauhi kekafiran.

Kembali ditanyakan kepada beliau: Apakah mereka itu orang-orang munafik ?

Beliau menjawab: Orang–orang munafik tidaklah mengingat Allah kecuali hanya sedikit, sedangkan mereka itu banyak mengingat Allah.

Kembali penanya berkata: Lalu siapakah sebenarnya mereka itu ?

Beliau menjawab: Mereka adalah orang-orang yang terjerat fitnah (kekacauan berpikir) hingga mereka menjadi buta, dan tuli. (Abdurrazzaq)

Beliau berkata demikian, padahal baru saja beliau selesai berperang melawan orang-orang Khawarij, yang tentunya banyak memakan korban harta bahkan korban jiwa.

Bahkan sebelum berperang beliau masih saja membuka ruang untuk menyelamatkan korban-korban paham radikal yang diajarkan oleh tokoh-tokoh khowarij. Beliau mengutus sahabat Abdullah ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa untuk berdiskusi dengan mereka, dengan harapan mereka terbuka akal pikirannya dan kembali dari kesesatannya. Dan subhanallah, setelah diskusi, sekita 4.000 orang dari korban pemikiran radikal Khowarij sadar dan kembali kepada kebenaran.

Dan perlu dicamkan kembali bahwa Khalifah Ali bin Abi Thalib tidaklah menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan sekte khawarij, kecuali setelah mereka menumpahkan darah sebagian sahabat dan kaum muslimin.

Andai orang-orang yang selama ini tetap bersikukuh bahwa saudara mereka yang mereka anggap berpaham wahabi alias radikal dan anarkis, bersikap bijak seperti yang dicontohan oleh sahabat Ali Bin Abi Thalib dan juga sahabat Ibnu Abbas, niscaya terasa indah.

Namun apa yang terjadi, mereka meyakini saudara mereka bersikap anarkis, dan akhirnya dilawan dengan sikap anarkis, unjuk kekuatan, pengerahan masa, penyegelan masjid, makian, dan perang tuduhan yang tidak berkesudahan. Dan sikap sikap lain yang tidak sejalan dengan status negri kita sebagai negara hukum.

Paham radikal yang kemudian dilanjutkan dengan sikap anarkis, tidak mungkin ditumpas dengan kekuatan, karena pasti memakan banyak energi dan menyebabkan jatuh banyak korban. Paham menyimpang sepatutnya dilawan dengan paham yang benar, dan sikap anarkis dihadapi dengan akhlaq karimah. Dengan demikian kebenaran menjadi semakin nampak dan kebatilan menjadi tersibak. Demikianlah metode dakwah yang diajarkan dalam ayat berikut:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ {33} وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ {34}

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri?” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fusshilat 33-34)

Memang, mengobati sikap anarkis dan kebodohan dengan cara yang bijak dibutuhkan jiwa besar, dan ilmu yang luas.

وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fusshilat 35)

Dan sepanjang sejarah, kekerasan adalah argumen tarakhir yang orang orang bodoh, terlebih ketika telah kalah dalam berargumen, dan merasa memiliki kekuatan atau kekuasaan. Demikian dahulu yang hendak dilakukan oleh kaum nabi SYu’aib alaihi wa sallam:

قَالُواْ يَا شُعَيْبُ مَا نَفْقَهُ كَثِيراً مِّمَّا تَقُولُ وَإِنَّا لَنَرَاكَ فِينَا ضَعِيفًا وَلَوْلاَ رَهْطُكَ لَرَجَمْنَاكَ وَمَا أَنتَ عَلَيْنَا بِعَزِيزٍ

Mereka berkata: “Hai Syuaib, kami tidak banyak mengerti tentang apa yang kamu katakan itu dan sesungguhnya kami benar-benar melihat kamu seorang yang lemah di antara kami; kalau tidaklah karena keluargamu tentulah kami telah merajam kamu, sedang kamu pun bukanlah seorang yang berwibawa di sisi kami. (Huud 91)

Simak pula ucapan Azar ayah nabi Ibrahim ‘alaihi wa sallam setelah kalah berargumentasi:

قَالَ أَرَاغِبٌ أَنتَ عَنْ آلِهَتِي يَا إِبْراهِيمُ لَئِن لَّمْ تَنتَهِ لَأَرْجُمَنَّكَ وَاهْجُرْنِي مَلِيًّا

Berkata bapaknya: “Bencikah kamu kepada tuhan-tuhanku, hai Ibrahim? Jika kamu tidak berhenti, maka niscaya kamu akan kurajam (kulempari batu), dan tinggalkanlah aku buat waktu yang lama”. (Maryam 46)

Tanpa berbekalkan dengan ilmu dan kesabaran, niscaya anda tidak kuasa mengobatinya. Yang terjadi selaiknya, anda terseret dalam tindakan yang serupa, sehingga kekacauan semakin melebar dan kerusakan semakin besar. Anda terusik dengan tindak radikal dan ternyata tanpa disadari anda telah terseret bersama mereka dalam sikap anarkis dan radikal.

Sobat! Kekerasan tidak bisa diobati dengan kekerasan serupa, kebodohan tidak dapat diobati dengan kebodohan serupa. Karena itu bila anda meyakini bahwa ada sebagian dari saudara anda bersikap bodoh, maka obatilah dengan ilmu anda, ajari mereka, beri keteladan kepada mereka. Dan jika dirasa perlu, maka patahkan argumen mereka, melalui diskusi atau korespondensi yang ilmiyah. Dengan demikian orang-orang yang masih memiliki akal pikiran dan hati nurani dapat membandingkan dan kemudian kembali kepada jalan kebenaran sebagaimana yang terjadi pada pengikut paham khowarij yang berhasil disadarkan oleh Sahabat Ibnu Abbas radhiallalhu ‘anhuma.

Eh, bicara banyak tentang radikalisme, tapi kita lupa untuk menyebutkan definisi “radikalisme” yang layak dijadikan acuan dalam penilaian. Untuk urusan satu ini, maka BN-PT yang merupakan lembaga negara yang bertugas menangai masalah ini telah membuat definisi tentangnya. Menurut BN-PT Radikalisme ialah: “Tindakan yang melekat pada seseorang atau kelompok yang menginginkan perubahan, baik sosial, politik, dengan menggunakan paham kekerasan dan bertindak ekstrim”.

Demikian definisi radikalisme yang telah ditetapkan oleh BN-PT, bila demikian adanya, maka sekedar perbedaan sikap dan pendapat dengan budaya atau adat tidak serta merta dapat dianggap sebagai tindak radikal. Bahkan sebaliknya, memaksakan orang lain untuk merubah sikap atau pendapatnya agar sesuai dengan adat sebagian kelompok atau ritual sebagian golongan layak dianggap sebagai tindakan radikal. Wallahu Ta’ala a’alam bisshawab.

DR. Muhammad Arifin Badri, MA,  حفظه الله تعالى

Baca Tulisan PART # 1 Di Sini

Awas! Jangan Ada Wahabi Diantara Kita… PART # 1

Nama wahabi begitu buruk di telinga banyak ummat Islam, identik dengan kekerasan, anarkis, dan kebencian. Namun demikian, kebanyakan ummat Islam tidak tahu apa dan siapakah sebenarnya kelompok wahabi tersebut?

Banyak orang menduga bahwa wahabi adalah kelompok ummat Islam yang mengikuti paham Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi, yang termasuk salah satu pendiri negara Saudi Arabia. Akibatnya, semua yang berbau saudi, tak ayal dianggap sebagai bagian dari wahabi, dan akhirnya dibenci dan dimusuhi.

Namun demikian, pernahkah anda mengkaji seberapa besar kadar akurasi anggapan tersebut?

Berikut beberapa data yang semoga membantu anda meluruskan persepsi tentang “wahabi”.

1. Secara bahasa, penisbatan paham radikal, dan anarkis yang selalu menghantui masyarakat kepada Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab tidaklah tepat, karena nama beliau adalah Muhammad, bukan Abdul Wahhab. Dengan demikian seharusnya penisbatannya adalah “Muhammadi”. Karena secara defacto nama “Abdul Wahhab” adalah nama ayahnya. Sedangkan ayah beliau bersebrangan paham dengan Syeikh Muhammad. Abdul Wahhab sang ayah, termasuk kaum adat, yang berusaha mempertahankan adat yang berkembang di masyarakatnya, walaupun banyak yang terbukti menyimpang dari ajaran Islam, semisal kultus kepada wali, dan arwah orang yang telah meninggal dunia.

Penisbatan ini layak dipermasalahkan, karena banyak yang menduga bahwa orang pertama yang menjuluki beliau sebagai pendiri gerakan “wahabi” adalah saudara beliau sendiri yaitu Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, sebagaimana akan dijelaskan pada akhir tulisan ini.

2. Sejarah saat ini membuktikan bahwa Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam urusan fiqih, menganut mazhab Hambali. Dan itu terbukti dari karya karya tulis beliau, dan juga kondisi negri yang beliau dirikan yaitu Saudi Arabia, yang sampai saat ini menganut mazhab Hambali. Dan anda pasti sadar bahwa menganut mazhab Hambali adalah sah-sah saja, sebagaimana halnya menganut mazhab Syafii.

3. Dan dalam urusan idiologi, beliau tidak megajarkan sikap anarkis dan radikal sebagaimana yang dituduhkan kepada beliau. Yang beliau lakukan hanyalah sebatas upaya pemurnian Islam dari berbagai budaya dan paham yang menyimpang. Beliau berusaha keras menyadarkan masyarakat akan haramnya kultus kepada selain Allah, baik kultus kepada sesama manusia, atau benda, kuburan dan lainnya.

Diantara buktinya, praktek agama di masyarakat dan negri yang beliau dirikan, yaitu Saudi Arabia. Berbagai mazhab di negri tersebut dibiarkan berkembang, dan bahkan sebagian tokoh ulama’ dari berbagai mazhab tersebut direkrut dalam lembaga fatwa “Ha’iah Kibarul Ulama’ .

Sebagai contoh: formasi keanggotaan lembaga ini pada tahun 1391 H diantaranya diisi oleh Syeikh Muhammad Amin As Syinqithy bermazhabkan Maliki, Syeikh Abdurrazzaq Al Afify yang bermazhabkan Hanafi, Syeikh Abdul Majid Hasan bermazhabkan Syafi’i, demikian pula dengan Syiekh Mihdhar ‘Aqiil yang juga bermazhabkan Syafi’i.

Dan keanggotaan lembaga tersebut pada saat ini juga masih diisi oleh perwakilan dari keempat mazhab. Syeikh Muhammad bin Muhammad Al Mukhtar As Syinqiti merepresentasikan mazhab Maliki, Syeikh Abdul Wahhab Abu Sulaiman yang merepresentasikan mazhab Hanafi. Dan Dr. Qais bin Muhammad Alu Mubarak sebagai perwakilan dari penganut mazhab Syafii. Dan saya al hamdulillah mendapat kehormatan karena ketika mempertahankan disertasi doktoral saya, Dr. Qais bin Muhammad Alu Mubarak berkenan menjadi salah satu penguji saya. Dan salah satu hal yang juga patut anda ketahui di sini, bahwa salah satu duta besar Kerajaan Saudi Arabia yang mendapat kesempatan bertugas di Jakarta ialah Dr. Mustofa bin Ibrahim Alu Mubarak yang kebetulan juga sepupu Dr. Qais Muhammad Alu Mubarak, yang tentunya juga seorang penganut mazhab Syafii.

Anda bisa bayangkan, lembaga fatwa tertinggi di negri yang selama ini dituduh sebagai penebar paham wahabi ternyata selalu mengakomodir perwakilan dari keempat Mazhab Fiqih yang ada. Masih layakkah mereka dituduh eksklusif, dan anarkis atau radikal?

4. Tahun 1343 H, menjadi bukti sejarah peran negri yang didirikan oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dalam menyatukan ummat Islam. Telah beruluh puluh tahun di Masjid Haram Makkah dan juga Masjid Nabawi, setiap kali waktu sholat tiba, maka ummat Islam yang ada kala itu terbagi menjadi empat kelompok besar, berdasarkan aliran keempat mazhab fiqih . Masing masing akan mendirikan sholat sendiri sendiri lengkap dengan muazzin dan imamnya. Penganut Mazhab Hanafi akan azan, lalu iqamat dan mendirikan sholat sendiri, sedangkan penganut mazhab yang lain, duduk menanti giliran. Dan selanjutnyasetelah selesai, segera muazzin mazhab Maliki mengumandangkan azan kembali lalu iqamah dan selanjutnya mendirikan sholat sesuai dengan mazhab mereka. Dan demikian seterusnya hingga pengikut keempat mazhab tersebut mengumandangkan azan, iqamah dan sholat sendiri sendiri.

Bisa anda bayangkan, betapa buruknya kondisi saat itu, namun al hamdulillah berkat karunia Allah, lalu jasa Raja Abdul Aziz bin Abdurrahman Alussuud, ummat Islam berhasil disatukan, sehingga mereka dengan berbagai latar belakang mazhabnya, bersatu dengan sekali azan, iqamah dan sholat berjamaah, sehinga persatuan ummat Islampun terwujud kembali.

Bila demikian, siapa sebenarnya wahabi yang selama ini terkesan begitu mengerikan:
Ketahuilah sobat! Wahabi yang begitu mengerikan itu sebenarnya adalah nama salah satu sekte Khawarij yang memang hobi mengakfirkan orang-orang yang bersebrangan dengan mereka, apalagi bila terbukti orang tersebut melakukan dosa besar.

Sekte ini muncul di benua Afrika dibawah pimpinan Abdul Wahhab bin Abdurrahman bin Rustum, yang menganut paham khawarij. Perlu diketahui bahwa paham khawarij yang salah satu pelopor dan tokohnya bernama Ma’dan Al Iyadhi dan Abdullah bin Waheb Ar Rasiby dikenal sebagai sekte yang hobi mengkafirkan kelompok lain, bahkan semua orang yang bersebrangan paham dengan mereka tanpa terkecuali para sahabat. Hingga akhirnya mereka tega membunuh sebagian sahabat diantaranya sahabat Khabbab bin Al Arat radhiallahu ‘anhu.

Paham ini, dikemudian hari menyebar hingga sampai ke negeri negri Andalus, dan Afrika belahan barat. Dan Abdul Wahhab bin Rustum ialah salah satu tokoh sekte ini yang sangat terkenal di negri Afrika, karena ia pernah berkuasa di sebagian daerah di sana dan memiliki pasukan yang cukup kuat.

Karena itu sebutan wahabiyah atau wahbiyah hanya ada di referensi referensi ulama’ ulama’ Afrika, Maroko, dan Andalus, semisal kitab: Al-Mi’yaar al-Mu’rib wa al-Jaami’ al-Mughrib ‘an Fataawaa Ifriiqiyyah wa al-Andalus wa al-Maghrib, karya Ahmad bin Yahya Al-Wansyarisi, dan Tarikh Ibnu Khaldun.

Adapun di negri Islam belahan timur, semisal Mesir, Syam, Iraq dan sekitarnya sekte ini tidak dikenal dengan sebutan wahbiyah atau wahhabi, namun dikenal dengan sebutan khawarij.

Sebagian orang meyakini bahwa orang pertama yang melontarkan sebutan wahhabi kepada murid murid Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah saudara beliau sendiri yaitu Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab. Klaim ini dikuatkan oleh adanya satu kitab yang mereka yakini buah karya beliau, yaitu

الصواعق الإلهية في الرد على الوهابية

Namun demikian, penisbatan buku ini kepada Syeikh Sulaiman sangat meragukan, karena beberapa alasan berikut:

A. Logika dan budaya arab tidak sejalan dengan judul buku ini dan penisbatan sekte dengan nama “wahabiyah” seperti ini. Karena bila bliau benar benar menulis buku ini, maka itu sama saja menjelek jelekkan ayahnya sendiri, bukan hanya saudaranya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab saja. Karena yang bernama “Abdul Wahhab” adalah ayah mereka berdua, dan bukan saudaranya.

Hanya orang yang kurang memahami arti nasab bagi orang arab dengan mudah mempercayai bahwa Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab yang pertama kali memunculkan julukan tersebut.

Dalam budaya arab terbiasa menisbatkan kegagahan, keberhasilan atau kebaikan seseorang kepada orang tuanya atau kakeknya. Sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi shallallah ‘alaihi wa sallam pada saat perang Hunain dengan berkata:

أَنَا النَّبِىُّ لاَ كَذِبْ أَنَا ابْنُ عَبْدِ الْمُطَّلِبْ

Aku adalah seorang nabi bukan pendusta, dan aku adalah Putra Abdul Mutthalib. (Muslim)

Ini salah satu penjelasan mengapa mazhab para ulama’ dinisbatkan kepada orang tua mereka semisal : Mazhab Hanafi, Syafii, Hambali dll.

Namun sebaliknya tidak demikian, pantang bagi mereka untuk menisbatkan kejelekan kepada ayah atau kakeknya. Karena itu, sejelek apapun yang dilakukan oleh orang tua atau kakek seseorang, biasanya mereka akan membela dan meyakininya sebagai kebaikan, inilah yang disebut dengan ‘ashobiyah.

Karena itu dahulu Abu Jahel enggan masuk Islam karena gengsi, bila ada anggapan bahwa kabilahnya lebih rendah dibanding kabilah Nabi Muhammad shallallah ‘alaihi wa sallam. Abu Jahel berkata:

تنازعنا نحن وبنو عبد مناف الشرف أطعموا فأطعمنا وحملوا فحملنا وأعطوا فأعطينا حتى إذا تجاثينا على الركب وكنا كفرسي رهان قالوا منا نبي يأتيه الوحي من السماء فمتى ندرك هذه والله لا نؤمن به أبدا ولا نصدقه

Kami bersaing dengan Bani Abdi Manaf dalam hal kemuliaan, mereka memberi jamuan kepada jamaah haji, maka kamipun mampu memberi, mereka memberi tunggangan kepada orang yang membutuhkan, maka kamipun melakukan hal yang sama, mereka menyantuni orang lemah maka kami juga demikian. Hingga tatkala kami mampu menyamai mereka bagaikan dua kuda pacu yang bersandingan, tiba tiba mereka berkata: “di antara kami ada seorang nabi yang selalu menerima wahyu dari langit”, bila demikian kapan kami bisa menyaingi mereka kembali? (ٍSirah Ibnu Katsir 1/506 )

B. Dalam karya karaya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, tidak pernah ada bantahan atau satu katapun yang mengisyaratkan adanya perseteruan serius apalagi sampai pada level saling menuduh sesat. Andai buku ini benar benar ditulis oleh Syeikh Sulaiman, niscaya kita menemukan bantahan atau minimal sikap syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab terhadap kitab tersebut.

C. Dan kalaupun tulisan itu benar, maka itu tidak cukup sebagai bukti bahwa beliau dan ajaran beliau sesat seperti yang dituduhkan, misalnya hobi mengkafirkan setiap orang yang berbeda pendapat dengannya. Sikap yang tepat dalam menyikapi perbedaan antara dua orang ialah dengan membandingkan dan mengkaji karya karya keduanya secara kritis untuk mengetahui siapakah dari mereka yang lebih berbobot keilmuannya. Walau demikian, fakta di lapangan, baik karya karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab sampai fakta murid dan negri yang beliau bangun semuanya mendustakan berbagai tuduhan keji yang selama ini dituduhkan kepada beliau.

D. Dan kalaupun terbukti saudara beliau yaitu Syeikh Sulaiman memusuhi dan menyelisihi ajaran Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, maka itu bukan hal yang aneh. Dahulu Nabi Ibrahim dimusuhi oleh ayahnya sendiri, Nabi Nuh alaihissalam dimusuhi oleh anaknya sendiri. Nabi Luth alaihissalam juga dimusuhi oleh istrinya sendiri. Dan Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam juga dimusuhi oleh paman dan kerabat beliau sendiri. Karena itu yang menjadi standar penilaian setiap manusia adalah hasil karyanya, bukan tuduhan yang menyebar, apalagi dari orang yang membenci atau memusuhinya.

E. Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab, murid-murid beliau dan juga negara Saudi Arabia hingga saat ini tidak pernah menamakan dirinya sebagai sekte wahabi atau penganut paham wahabi. Sebutan tersebut selalu muncul dari tuduhan sepihak orang-orang yang terbukti membenci mereka. Dengan demikian penamaan ini kurang dapat dipertanggung jawabkan secara ilmiyah. Apalagi dalam banyak kesempatan mereka membantah tuduhan dan penyebutan tersebut.

F. Karya, peran dan jasa negri Saudi Arabia bagi ummat Islam secara umum, baik pembangunan fasilitas ibadah dan penerapan hukum hukum Islam tidak terbantahkan lagi. Diantara karya besar mereka adalah pencetakan karya-karya ulama’ lintas mazhab, dan berbagai kegiatan sosial baik dalam skala regional ataupun internasional terbukti nyata dan dirasakan oleh semua orang termasuk orang-orang yang selama ini lantar membenci dan mendiskreditkan Saudi Arabia dengan tuduhan wahabi. Sepatutnya mereka malu, lidahnya masih mengecapkan manisnya jasa baik pemerintah Saudi Arabia, namun di saat yang sama lisannya tiada lelah menuduh keji saudara mereka sendiri sesama ummat Islam. Anehnya lagi, banyak dari mereka yang tiada lelah membela negara kafir dan agama lain, hasbunallahu wa ni’mal wakil.

5. Orang-orang terpelajar pantang untuk terperdaya dengan tuduhan sepihak seperti yang saat ini banyak beredar tentang dakwah pemurnian agama yang dipelopori oleh Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Hanya orang-orang yang tingkat pendidikannya rendah yang mudah terperdaya oleh klaim klaim sepihak semacam ini. Islam sebagai agama, dan juga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawa agama Islam, bahkan seluruh nabi sebelum beliau ternyata tidak luput dari tuduhan sepihak semisal ini. Allah Ta’ala berfirman:

كَذَلِكَ مَا أَتَى الَّذِينَ مِن قَبْلِهِم مِّن رَّسُولٍ إِلَّا قَالُوا سَاحِرٌ أَوْ مَجْنُونٌ {52} أَتَوَاصَوْا بِهِ بَلْ هُمْ قَوْمٌ طَاغُونَ

Demikianlah tidak seorang rasulpun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila“. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. (Az Dzariyat 52-53)

Sobat, Akankah hingga saat ini anda masih begitu mudah terperdaya oleh klaim sepihak tentang dakwah permurnian Islam yang sering kali dituduh miring dan keji tanpa bukti? Masihkah anda mudah terperdaya dengan tuduhan sepihak bahwa islam yang murni adalah radikal, fundamental atau kepanjangan dari alirah wahabi yang diidentikkan dengan paham dan sikap radikal?.

Sudah saatnya anda bersikap kritis, dan melihat pada fakta dan data. Kalau anda bersikap kritis dan tidak mudah percaya kepada setiap tuduhan sepihak yang dialamatkan kepada penganut agama lain, mengapa anda mudah percaya kepada tuduhan sepihak yang dilemparkan kepada saudara anda sendiri? Lihat dan saksikan betapa indah dan terang fakta yang ada pada saudara saudara anda para penggiat pemurnian Islam? Zaman gini bukan waktunya anda menjadi korban propaganda orang-orang yang benci kepada Islam dan ummat Islam. Wallahu Ta’ala a’lam bisshawab.

DR. Muhammad Arifin Badri, MA, حفظه الله تعالى

Baca PART # 2 Di Sini

Buat Apa Rajin Ibadah dan Pandai Ngaji, Kalau Hidup Miskin..?

Pak Ustadz! Buat apa rajin ibadah dan pandai ngaji, kalau hidup miskin..?

Sebagian orang berpikir, seperti di atas, karenanya ia berusaha sekuat tenaga menjadi orang kaya dan berkuasa, bahkan paling kaya dan paling berkuasa, agar dapat hidup layak dan bahagia.

Sah-sah saja sih, berpikir demikian, karena itu adalah pilihan anda.

Namun izinkan saya bertanya kepada anda: manakah yang lebih anda dahulukan, membeli bunga-bunga indah yang harum semerbak atau memiliki rumah, tempat yang kelak akan anda hiasi dengan bunga ?

Kemakmuran dan kesejahteraan dunia sejatinya bagaikan bunga-bunga yang tentu saja menjadikan rumah anda menjadi indah dan semerbak harum.

Namun apalah artinya memiliki bunga yang indah dan harum semerbak bila ternyata anda hidup di kolong jembatan, beralaskan bumi dan beratapkan langit, bersandingkan sampah yang menebar aroma busuk dan menjijikkan?

Apalah artinya anda mengenakan baju mewah, menyantap hidangan lezat, menghuni rumah megah, menduduki jabatan tinggi, kalau ternyata jiwa anda gersang jauh dari ketenangan dan kedamaian hidup?

Mana mungkin anda bisa tenang dan damai, kalau ternyata anda selalu dirundung kekawatiran kekayaan anda akan habis atau direnggut orang, atau jabatan anda direbut orang?

Mungkinkah anda merasakan kedamaian hidup, bila jiwa anda dipenuhi oleh rasa hasad, iri dan dengki ?

Akankah anda merasakan ketenangan bila ternyata jiwa anda dipenuhi oleh keserakahan sehingga selalu merasa kurang dan kecewa atas apa yang anda dapatkan ?

Sobat, sepatutnya sebelum anda membeli bunga anda membangun rumah, sebagaimana sebelum anda menghiasi raga anda, dengan baju bagus, rumah megah, kendaran mewah, terlebih dahulu kondisikan jiwa anda dengan iman dan takwa. Hanya dengan keduanya anda dapat menikmati semua harta dan jabatan yang anda dapatkan.

Sebelum anda mengumpulkan harta dan menduduki jabatan, persiapkan rasa syukur dalam diri anda, sehingga anda dapat berbahagia atas apapun yang anda dapatkan. Allah Ta’ala berfirman:

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشْقَى (123) وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا

Barang siapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit. (Thaha 123-124)

Selamat menemukan kehidupan bahagia.

DR. Muhammad Arifin Badri, MA حفظه الله تعالى

Awas! Ada Virus Yang Dapat Merusak HP Anda…

Virus ya virus, merusak program atau aplikasi, dan bahkan bisa menyebabkan komputer atau HP anda rusak.

Akibatnya, kadang kala anda perlu untuk mengembalikan perangkat anda ke setingan pabrinya, dan urusan virusnya tuntas. Namun kadang kala anda juga perlu menggunakan program anti virus untuk menumpas virus yang membandel.

Namun pernahkah anda menyadari bila ternyata jiwa anda juga megalami yang sama? banyak virus yang gentayangan di sekitar anda, ada dosa, ada nafsu angkara murka, ada kemunafikan dan ada kekufuran. Bisa jadi tanpa anda ketahui, saat ini jiwa anda telah terkena virus tersebut, hingga tidak responsif terhadap program program Allah Ta’ala.

Sudah berapa banyak dosa yang telah anda lakukan ? dan
sudah berapa lama angkara murka yang telah menghuni jiwa anda ? dan
bisa jadi betapa banyak sifat munafik telah menodai jiwa anda.

Sudahkah anda memiliki program penangkal dan pembasmi virus tersebut? atau sudahkah anda menyadari keberadaan virus virus jiwa tersebut ?

Sobat, mari kita kembalikan jiwa kita ke setingan awalnya, yaitu dengan bertaubat dan beristighfar agar virus virus yang telah merusak jiwa kita musnah dan jiwa kita kembali suci dan responsif kepada setiap perintah Allah Ta’ala.

Astaghfirullah, ya Allah ampunilah dosa dosa kami, amiin.

Muhammad Arifin Badri,  حفظه الله تعالى

Pertanda Cinta…

Ketika namanya disebut, hatiku terasa dag dig dug. Itulah pertanda cinta. he he he

Sobat! pernahkah anda mencintai seorang wanita yang cantik jelita atau seorang lelaki yang tampan rupawan?

Bagaimana perasaan anda saat itu? Selalu merindukanya, namanya selalu menghiasi jiwa anda, dan ketika namanya disebut, sekejap hati anda berbinar binar, dan tentunya anda begitu hanyut dalam rindu kepadanya setiap kali berpisah darinya.

Pernahkah anda mencari tahu, mengapa anda bisa mengalami semua itu?

Karena dia begitu indah? tampan? atau begitu baik kepada anda, hinga akhirnya anda tak kuasa menahan aliran badai cinta kepadanya?

Tenang sobat, wajar kok, dahulu aku juga merasakan hal yang serupa. Tapi pernahkah anda merasakan hal yang serupa kepada Allah Ta’ala? bukankah anda sadar bahwa Allah Ta’ala pemilik segala keindahan? Bukankah anda juga percaya bahwa Allah Ta’ala yang telah memberikan segala kebaikan kepada anda?

Namun mengapa rasa cinta kepada-Nya kok seakan redup di hati anda? Apa sebabnya? ya sebabnya adalah dosa dosa anda yang menjadikan rasa cinta anda kepada-Nya layu.

Andai anda rajin menyirami rasa cinta kepada-Nya dengan amal sholeh dan nama nama-Nya selalu menghiasi hati dan lisan anda, niscaya jiwa anda dipenuhi kecintaan kepada-Nya. Dan setiap kali anda mendengar nama-Nya disebut, niscaya jiwa anda tergetar oleh rasa rindu kepada-Nya berkobar. Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى َربِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ {2} الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia. (Al Anfal 2-4)

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Di Saat Jari-Jemarimu Berkhianat Kepadamu…

Sahabat, saat ini anda bebas menggerakkan jari jemarimu untuk melakukan apa saja yang anda suka. Menulis, menunjuk, mengeser, menyibak dan lainnya. Apapun yang anda lakukan dengan jari-jemarimu tentu saja untuk menyenangkan dan memenuhi keinginanmu.

Namun tahukah anda bahwa suatu saat jari-jemarimu tidak lagi “SETIA” kepada anda, tidak menuruti semua yang anda inginkan.

Ya, hal itu akan terjadi di saat anda menghadap kepada Rabbul ‘Alamin, Allah Penguasa semesta alam, yaitu pada hari qiyamat. Tatkala Allah menghisab anda, maka kulitmu, jari-jemarimu dan kedua kakimu akan bersaksi menceritakan semua yang anda lakukan selama hidup di dunia.

Kepandaian anda berdalih, bersilat lidah tiada lagi gunanya, karena anda akan dibungkam dan anggota tubuh andalah yang akan berbicara menceritakan semua ulah dan perilaku anda.

الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَى أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan. (Yasin 65)

Saudaraku! masihkah anda merasa aman dan bebas menulis, melangkah, menggenggam atau mencopas apa saja yang anda suka ?
Haruskah anda menunggu saat kaki, tangan, kulit anda bersaksi dan mulut anda dibumkam untuk bisa bersikap bijak ?

Sadarlah saudaraku, sebelum anda menyesal esok hari tatkala semua telah berakhir dan yang tersisa hanya pertanggung jawaban atas amalan anda.

Ya Allah, bukakan pintu hati kami untuk bertaubat dan teguhkan hati kami untuk istiqamah di atas agama-Mu. Aamiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Aduuh, Kok Nakut-Nakuti Sih..!

Saudaraku, pernahkah anda merasakan takut dari sesuatu ? Takut proyek anda gagal, takut dimarahi atasan, takut terkena penyakit, takut gangguan orang lain, takut makhluk halus, dan takut-takut lainnya ?

Izinkan saya bertanya, sebenarnya kenapa sih anda kok bisa takut kepada semua itu ?

Ya, karena anda mengira bahwa mereka semua bisa mencelakakan anda atau menghalangi anda dari rejeki anda, bukankah demikian ? Padahal anda tahu bahwa ada orang lain atau banyak cara untuk bisa melawan, atau menghindar dari ulah mereka semua.

Namun anehnya, anda jarang atau bisa jadi belum pernah merasa takut kepada Allah Ta’ala, padahal anda tahu bahkan beriman bahwa Allah Ta’ala kuasa menimpakan petaka apa saja kepada anda bila Ia kehendaki.

Anda juga yakin bahwa Allah juga kuasa menghalangi anda dari segala rejeki anda.

Dan bila Allah telah menghalangi rejeki atau menimpakan petaka kepada anda, maka tiada seorangpun yang kuasa membela anda. Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ فَمَن يَمْلِكُ لَكُم مِّنَ اللهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ بِكُمْ ضَرًّا أَوْ أَرَادَ بِكُمْ نَفْعًا بَلْ كَانَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا

Katakan (wahai Muhammad): siapakah yang kuasa melindungi kalian bila Allah telah menghendaki untuk menimpakan petaka atau menurunkan keberuntungan kepada anda. Bahkan sungguhlah Allah Maha Mengetahui apa apa yang kalian lakukan. ( Al Fateh 11)

Mari saudaraku,tumbuhkan rasa takut kepada Allah melebihi rasa takut anda kepada selain-Nya, bahkan kalau mampu buang jauh jauh rasa takut kepada selain-Nya.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى