Category Archives: Muhammad Arifin Badri

Walapun Biaya Naik…

Walau BBM naik, CABE naik, TD Listrik naik, STNK naik, tapi tenang sobat, hujan tetap saja turun.
Jadi lebih baik menikmati hujan turun daripada meratapi BBM dan lainnya yang naik.

Percaya deh, kalau anda meminta kenaikan rejeki anda kepada Allah Pemilik segala rejeki, akan lebih tentram di hati dibanding meratapi kenaikan kenaikan yang terjadi.
Menggantungkan harapan agar Allah menaikkan rejeki anda lebih realistis dibanding menuntut siapapun untuk menurunkan harga berbagai komoditi di atas.

Daripada waktu dan energi habis untuk diskusi dan meratapi kenaikan tentu lebih bijak bila anda menghabiskannya untuk mendekatkan diri dan memohon tambahan rejeki kepada Allah Ta’ala. Simak janji Allah Ta’ala:

ان الذين تعبدون من دون الله لا يملكون لكم رزقا فابتغوا عند الله الرزق واعبدوه واشكروا له

“Sesungguhnya yang kalian sembah selain Allah tiada memiliki rejeki untuk kalian, karena itu mintalah rejeki kepada Allah, sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya.” ( al Ankabut 17)

Gimana sobat, mau marah-marah mengumpat pemerintah yang menaikkan dan hasilnya hanya kekecewaan, atau milih berdo’a dan fokus beribadah kepada pemilik rejeki yang kuasa menaikkan dan bahkan melipatgandakan rejeki anda ?

Hayo , pilih sendiri, menunya prasmanan kok, asal tahu saja resiko pilihan anda.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى
Status di saat menjadi korban delay penerbangan dan hujan deras di bandara Pangkalpinang ( 8 Januari 2017 )

Mimpi Itu Beda Dari Kenyataan…

Anda bisa saja bermimpi atau menyusun cita cita atau harapan dan rencana sesuka hati anda. Namun fakta dan realita seringkali tidak sesuai dengan impian dan harapan anda. Fakta bisa jadi pahit bukan manis, namun bisa pula lebih manis dari impian anda.

Bila demikian, apakah yang salah? Salah impian anda atau salah faktanya?
Dan layakkah anda menyesali impian atau bahkan menyalahkan impian anda?

Sobat, saya yakin di saat anda menyusun impian, anda telah berusaha untuk menyusun impian yang terindah. Namun Sadari pula bahwa tatkala Fakta telah menjadi kenyataan, maka itu adalah pilihan Allah Ta’ala yang terbaik untuk anda.

Karena itu, sebagaimana kemarin anda belajar dan berusaha menyusun impian terbaik, maka kini sudah saatnya anda belajar dan berusaha menumbuhkan keyakinan bahwa Allah Ta’ala juga telah memilihkan yang terbaik untuk anda.

Susah memang, namun percayalaah bahwa itu lebih mudah dibanding menyusun impian terbaik anda. Hanya butuh satu hal, yaitu :PERCAYA, alias IMAN bahwa Allah lebih sayang kepada anda dibanding diri anda sendiri.

Karena itu betapa sering anda menyusun rencana yang akhirnya terbukti membawa petaka untuk anda sendiri. Dan betapa sering pula anda mencampakkan kebaikan dari diri anda.

Namun Allah Ta’ala tiada pernah mendatangkan kejelekan untuk anda bahkan memaafkan, dan Allah juga tiada pernah menghalangi kebaikan dari diri anda. Andalah sejatinya yang selama ini sering menutup pintu pintu kebaikan dari diri anda sendiri.

Disebutkan dalam sebagian riwayat :

ان الرجل ليحرم الرزق بالذنب يصيبه

Bisa jadi seseorang terhalang dari jatah rizkinya akibat dosa yang ia lakukan.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Tahun Baru, Apa Salahnya..?

Malam pergantian tahun terutama 00.00 adalah momentum yang istimewa bagi banyak orang, dan bisa jadi anda salah satunya.

Kehadiran 00.00 pada malam ini begitu anda nanti-nantikan, namun ijinkan saya saat ini bertanya: sebenarnya apa yang anda dapatkan pada saat tersebut..?

Uang anda bertambah..?
Usaha anda jadi sukses..?
Penyakit anda sembuh..?
Masalah anda selesai..?

Sobat ! Sadarkah anda sejatinya momentum 00.00 bukan hanya anda yang mendapatkannya.. perampok, pencuri, pembunuh, pemerkosa, pengkhianat, penista agama, munafik sampaipun kafir yang paling kafir juga mendapatkannya.

Lalu apa yang membedakan 00.00 anda dari 00.00 mereka..?

Hura-hura..?! mereka juga hura hura.. bertambah umur..?! mereka juga bertambah umur, bahkan hewan-hewanpun juga mendapatkannya.

Yang membedakannya tentu sikap dan amalan anda..

Panjangnya umur, semua bisa mendapatkannya.. namun amal kebajikan, ibadah, dan ketaqwaan hanya orang-orang cerdas dan pilihan yang dapat melakukannya pada setiap detik dari umurnya.

Suatu hari Rosulullah sholallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “siapakah orang yang paling baik..?”  beliau bersabda:

من طال عمره وحسن عمله

“Orang yang panjang umurnya dan baik amalannya..” (HR. Ahmad dll)

Dengan demikian yang istimewa bukan 00.00 nya namun yang istimewa adalah amalan anda. Karena dahulu Fir’aun juga mendapatkan momentum ini, sebagaimana manusia terkutuk lainnya juga mendapatkannya dan merayakannya.

Masihkah anda peduli dengan 00.00 melebihi momentum momentum lainnya..?

Ataukah anda mulai menyadari bahwa yang pantas diperdulikan ialah amalan anda, agar anda menjadi orang yang terbaik..

Selamat berjuang menjadi orang terbaik dengan amal dan karya anda.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Baju Najis…

Memakai baju Najis bagi banyak orang menjadi masalah yang berat dan dianggap larangannya berlaku dalam segala kondisi. Padahal sejatinya tidaklah demikian. Baju Najis hanya terlarang untuk dikenakan bila hendak mendirikan shalat atau ibadah lain yang dipersyaratkan agar dalam kondisi suci semisal thowaf menurut mayoritas ulama.

Dengan demikian bila Anda ditanya: bolehkah mengenakan baju Najis? Maka pertanyaan ini harus dijawab dengan terperinci, tidak bisa dijawab dengan satu jawaban, alias kondisional.

Apalagi bila yang bertanya ternyata dalam kondisi terpaksa, alias tidak ada pilihan selain mengenakan baju Najis atau telanjang bulat.

Fleksibilitas berpikir dan penilaian menjadi salah satu kriteria bagi pelajar ilmu fiqih.

Sebagaimana kemampuan memprediksi berbagai perbedaan kondisi yang ada, sebab dan akibat setiap masalah, juga menjadi kriteria selanjutnya.

Orang yang kaku dalam menerapkan ilmu fiqih, menutup mata dari perbedaan kondisi yang menyelimuti kasus, maka ia tidak layak belajar ilmu fiqih dan kalau tetap memaksakan diri apalagi sampai berfatwa maka berbahaya bisa mencelakakan ummat.

Dahulu ada seorang sahabat yang terluka parah di kepalanya, namun ia bermimpi basah. Oleh sebagian sahabat difatwakan agar ia mandi besar dengan tetap menyiram kepalanya, dan ternyata setelah mandi lelaki tersebut meninggal dunia.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar kasus ini beliau murka dan bersabda:

قتلوه قاتلهم الله الا سألوا اذ لم يعلموا فانما شفاء العي السؤال

Merekalah yang telah membunuh lelaki itu, semoga Allah memerangi mereka. Mengapa mereka tidak bertanya ketika menyadari bahwa dirinya tidak tahu ? Karena sejatinya penawar kebodohan adalah bertanya (kepada yang berilmu). Riwayat Ahmad, Abu Dawud dll.

Fiqih itu membutuhkan keluwesan bukan asal berani bicara lantang suaranya, namun fiqih membutuhkan keteguhan dalam menetapi dalil dengan metode pendalilan yang jelas.

Orang orang yang terjangkiti kemalasan berpikir, atau yang berprinsip: asal mantap atau sebaliknya asal mudah tidak layak belajar fiqih, karena kebenaran tidak diukur dari itu semua namun dari kebenaran dalil dan ketepatan pendalilan.

Sekedar hafal dalil belum cukup sampai ia mampu menerapkan dalil dengan tepat alias menguasai metodologi pendalilan yang benar. Semoga bermanfaat.

Riyaa’ Terselubung…

Syaitan tidak berhenti berusaha menjadikan amalan anak Adam tidak bernilai di sisi Allah. Diantara cara jitu syaitan adalah menjerumuskan anak Adam dalam berbagai model riyaa’. Sehingga sebagian orang “KREATIF” dalam melakukan riyaa’, yaitu riyaa’ yang sangat halus dan terselubung. Diantara contoh kreatif riyaa’ tersebut adalah:

Pertama : Seseorang menceritakan keburukan orang lain, seperti pelitnya orang lain, atau malas sholat malamnya, tidak rajin menuntut ilmu, dengan maksud agar para pendengar paham bahwasanya ia tidaklah demikian. Ia adalah seorang yang dermawan, rajin sholat malam, dan rajin menuntut ilmu. Secara tersirat ia ingin para pendengar mengetahui akan amal ibadahnya.

Model yang pertama ini adalah model riya’ terselubung yang terburuk, dimana ia telah terjerumus dalam dua dosa, yaitu mengghibahi saudaranya dan riyaa’, dan keduanya merupakan dosa besar. Selain itu ia telah menjadikan saudaranya yang ia ghibahi menjadi korban demi memamerkan amalan sholehnya

Kedua : Seseorang menceritakan nikmat dan karunia yang banyak yang telah Allah berikan kepadanya, akan tetapi dengan maksud agar para pendengar paham bahwa ia adalah seorang yang sholeh, karenanya ia berhak untuk dimuliakan oleh Allah dengan memberikan banyak karunia kepadanya.

Ketiga : Memuji gurunya dengan pujian setinggi langit agar ia juga terkena imbas pujian tersebut, karena ia adalah murid sang guru yang ia puji setinggi langit tersebut. Pada hakikatnya ia sedang berusaha untuk memuji dirinya sendiri, bahkan terkadang ia memuji secara langsung tanpa ia sadari. Seperti ia mengatakan, “Syaikh Fulan / Ustadz Fulan…luar biasa ilmunya…, sangat tinggi ilmunya mengalahkan syaikh-syaikh/ustadz-ustadz yang lain. Alhamdulillah saya telah menimba ilmunya tersebut selama sekian tahun…”

Keempat : Merendahkan diri tapi dalam rangka untuk riyaa’, agar dipuji bahwasanya ia adalah seorang yang low profile. Inilah yang disebut dengan “Merendahkan diri demi meninggikan mutu”

Kelima : Menyatakan kegembiraan akan keberhasilan dakwah, seperti banyaknya orang yang menghadiri pengajian, atau banyaknya orang yang mendapatkan hidayah dan sadar, akan tetapi dengan niat untuk menunjukkan bahwasanya keberhasilan tersebut karena kepintaran dia dalam berdakwah

Keenam : Ia menyebutkan bahwasanya orang-orang yang menyelisihinya mendapatkan musibah. Ia ingin menjelaskan bahwasanya ia adalah seorang wali Allah yang barang siapa yang mengganggunya akan disiksa atau diadzab oleh Allah.

Ini adalah bentuk tazkiyah (merekomendasi) diri sendiri yang terselubung.

Ketujuh : Ia menunjukkan dan memamerkan kedekatannya terhadap para dai/ustadz, seakan-akan bahwa dengan dekatnya dia dengan para ustadz menunjukkan ia adalah orang yang sholeh dan disenangi para ustadz. Padahal kemuliaan di sisi Allah bukan diukur dari dekatnya seseorang terhadap ustadz atau syaikh, akan tetapi dari ketakwaan. Ternyata kedekatan terhadap ustadz juga bisa menjadi ajang pamer dan persaingan.

Kedelapan : Seseorang yang berpoligami lalu ia memamerkan poligaminya tersebut. Jika ia berkenalan dengan orang lain, serta merta ia sebutkan bahwasanya istrinya ada 2 atau 3 atau 4. Ia berdalih ingin menyiarkan sunnah, akan tetapi ternyata dalam hatinya ingin pamer. Poligami merupakan ibadah, maka memamerkan ibadah juga termasuk dalam riyaa’.

Para pembaca yang budiman, ini sebagian bentuk riyaa’ terselubung, semoga Allah melindungi kita dari terjerumus dalam bentuk-bentuk riyaa’ terselubung tersebut. Tidak perlu kita menuduh orang terjerumus dalam riyaa’ akan tetapi tujuan kita adalah untuk mengoreksi diri sendiri.

Hanya kepada Allahlah tempat meminta hidayah dan taufiiq.

Ditulis oleh Firanda Andirja, حفظه الله تعالى
Posted by Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Antara Resah, Takut Dan Waspada…

Tiga kata ini sekilas nampak sama, namun sejatinya jauh berbeda.

Anda resah sehingga anda tidak tenang, terus terbebani pikiran anda, sehingga karena resah anda menjauh atau menyendiri, untuk mencari ketenangan.

Dan karena takut, anda menjauh alias tidak berani menghadapi dan bisa jadi karena terlalu takut anda menyerah lalu mengikuti apa saja yang diinginkan oleh orang yang anda takuti.

Sedangkan anda waspada, karena anda menyadari bahwa ada bahaya yang mengancam diri anda, sehingga anda mempersiapkan diri dengan perbekalan yang dapat digunakan untuk mencegah bahaya atau melawan bahaya tersebut. Tidak ada rasa gentar atau takut, bahkan sebaliknya anda optimis mampu mengalahkan mara bahaya yang mengancam diri anda.

Bagaikan hujan anda tidak takut hujan yang akan turun, dan tidak pula resah, karenanya anda tetap beraktifitas seperti sedia kala, pergi ke pasar, ke kantor, menghadiri pengajian dan lainnya, Hanya saja anda bersikap waspada dengan sedia payung sebelum datangnya hujan, atau anda mengendarai kendaraan dan tidak mengendarai sepeda motor.
Dan kalaupun anda bersepeda motor maka anda persediaan mantel hujan, guna melindungi diri anda agar tidak basah kuyub terkena air hujan.

Paham komunis dan syi’ah sedang gencar-gencarnya dijajakan di negri ini, indikatornya jelas dan bukti-buktinya nyata, hanya orang yang menutup mata saja yang tidak dapat melihatnya atau menutup telinganya yang tidak dapat mendengarnya.

Sebagai orang yang beriman anda gentar ? Tentu saja tidak, karena anda percaya bahwa ajaran mereka adalah sesat sedangkan anda berjiwa mujahid, siap mengorbankan jiwa, raga harta dan segala isi dunia demi tegaknya Islam dan runtuhnya kekufuran.

Namun salahkah bila anda merasa resah dan kemudian mewaspadai penyebaran paham komunis dan syi;ah di tengah tengah ummat Islam. Karena resah maka selanjutnya anda bersikap waspada, dengan mengajarkan Islam yang benar agar masyarakat imun alias kebal dan tidak mudah terpengaruh dengan kedua paham sesat tersebut.

Setiap muslim wajib resah dengan menyebarnya kemungkaran apalagi kekufuran. Pengamen yang gumbrang gambreng di depan rumah saja meresahkan anda apalagi para penjaja kekufuran. Pemulung yang suka mencuri barang masyarakat saja menyebabkan anda resah, masak anda tidak resah dengan merajalelanya komunisme dan syi’ah? aneh bin ajaib itu namanya.

Sebagai orang yang beriman, anda perlu waspada, karena bisa jadi kedua paham sesat nan kufur tersbeut mengancam diri anda, keluarga anda, kerabat anda atau masyarakat anda. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه و ذلك أضعف الإيمان . رواه مسلم

Barang siapa dari kalian melihat kemungkaran, hendaknya ia merubahnya (mencegahnya) dengan kekuasaannya ; jika ia tak kuasa, maka ia merubahnya dengan lisannya (ucapannya) ; dan jika ia tak kiasa , maka ia merubahnya dengan hatinya (membenci dan menjauhinya) , dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman”. (Muslim)

Namun keresahan anda dan kewaspadaan anda tidak sepatutnya berlebihan, menjadikan anda panik, hingga keluar dari aturan agama anda atau menghalalkan segala macam cara.

Resah dan waspada bukan berarti takut atau gentar dan layak menjadi alasan untuk berubah haluan dari syari’at Islam atau sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semuanya dilaksanakan secara proporsional, karena tidak bijak bila mewaspadai hujan dengan membawa tenda, namun bawalah payung, atau mewaspadai sengatan nyamuk dengan membawa senapan otomatis atau meriam. Sebaliknya juga demikian salah besar bila mewaspadai serangan srigala bila anda bersenjatakan raket penepuk nyamuk atau lalat, mewaspadai banjir bandang namun anda hanya berbekalkan balon udara.

Resah dan waspada adalah cambuk untuk berjuang mengingkari kemungkaran dan menebarkan kebenaran. Wallahu Ta’ala A’alam bisshowab

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Kapan Anda MATI…?

Sobat, apa sikap anda bila secara mendadak mendapat pertanyaan seperti di atas? Terlebih bila yang bertanya adalah orang yang tidak anda kenal?

Anda marah? Anda tesinggung? Atau anda menduga bahwa penanya menginginkan kematian untuk anda.?

Tenang sobat! Anda marah atau tidak, tetap saja anda pasti mati, cepat atau lambat tetap saja mati. Namun sadarkah anda bahwa kematian anda telah ada saatnya? Tidak dapat disegerakan dan tidak pula dapat ditunda walau hanya sesaat? Allah Ta’ala berfirman:

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ

Setiap orang memiliki batas waktu (ajal) dan bila batas waktu yang ditetapkan telah tiba, maka mereka tiada kuasa menunda atau mengajukannya walau hanya sesaat. (Al A’raf 34)

Atau barang kali anda tersnggung karena anda menduga bahwa kematian adalah bencana dan petaka buruk bahkan paling buruk yang menimpa manusia.

Tidak sepenuhnya demikian sobat, bagi orang yang beriman kematian adalah awal dari kebahagiaan yang sebenarnya.

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ

Sesungguhnya orang orang yang mengatakan bahwa Rab kami adalah Allah lalu mereka istiqamah di atasnya, maka akan turun kepada mereka para malaikat yang berkata kepada mereka: janganlah engkau takut atau bersedih dan bergembiralah dengan surga yang telah dijanjikan untuk kalian. (Fusshilat 30)

Hanya saja, benarkah anda termasuk orang yang akan mendapatkan kabar gembira dari para malaikat di saat menghadapi ajal ?

Sobat! Mumpung masih ada kesempatan, berusahalah dengan sungguh sungguh , pelajari ilmu agama, perbanyak doa, amal sholeh, dan jauhi kemaksiatan,semoga Allah berkenan meneguhkan iman anda hingga akhir hayat, amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Kiat Merasa Lezat Membaca Ayat…

Sobat, bisa jadi anda senasib dengan saya, betapa sering membaca Al Qur’an namun ayat ayat yang anda baca terasa hampa dan hambar. Seakan semuanya hanya berlalu di lisan, sedangkan jiwa atau hati tetap saja tertutup bahkan sekedar terketuk saja tidak.

Mengkhatamkan Al Qur’an berkali-kali, namun tetap saja iman tidak bertambah, amal tetap malas, dan akhlaq tetap saja buruk.

Padahal setiap orang yang benar benar beriman, setiap kali dibacakan atau membaca Al Qur’an, jiwa mereka terguncang, hati mereka bergetar, dan semangat mereka untuk beramal berkobar-kobar. Allah Taala berfirman:

ِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” (Al Anfaal 2)

Anda menyadari bahwa saat ini diri atau tepatnya jiwa anda sedang sakit ? Anda mau obatnya ?

Mudah kok, dan tentu saja murah, obatnya ada pada ayat ketiga dan keempat dari surat Al Anfaal:

الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ {3} أُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُؤْمِنُونَ حَقًّا لَّهُمْ دَرَجَاتٌ عِندَ رَبِّهِمْ وَمَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ

“(yaitu) orang-orang yang mendirikan salat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.” (Al Anfaal 3-4)

Dan untuk menyempurnakan kesembuhan jiwa anda, maka setiap kali anda membaca ayat Al Qur’an, ajak jiwa anda untuk ikut membaca, bukan hanya lisan anda. Hadirkan jiwa anda, pusatkan pikiran anda pada ayat ayat yang anda baca, apalagi bila anda memahami artinya, maka camkan dan renungkan maknanya, niscaya iman segera merasuk ke dalam jiwa anda dan semangat beramalpun berkobar. Karena ketahuilah bahwa hanya orang-orang yang demikian itu yang dapat mengambil peringatan dari Al Qur’an: Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَذِكْرَى لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ أَوْ أَلْقَى السَّمْعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf 37)

Selamat mencoba, semoga bertambah iman dan bertambah semangat anda untuk beramal lillah Azza wa Jalla.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Orang Bodoh Mentahzir Orang Berilmu, Bukan Hal Baru…

Suatu hari Imam Syafii bersenandung dengan beberapa bait-bait sya’ir:

ومنزلة السفيه من الفقيه
كمنزلة الفقيه من السفيه
فهذا زاهد في قرب هذا
وهذا فيه أزهد منه فيه
إذا غلب الشقاء على سفيه
تنطع في مخالفة الفقيه

“Kedudukan orang pandir di hadapan ulama’
serupa dengan kedudukan ulama’ di hadapan orang pandir.
Orang pandir merasa tiada perlu mendekat kepada ulama’
dan ulama’ lebih tidak perlu tuk mendekat kepada orang pandir.
Bila sial telah kelewat batas pada diri orang pandir.
ia kan memaksakan diri untuk slalu menyelisihi ulama’.”

Ya demikianlah bumbunya kehidupan, orang pandir merasa rugi bila berdekatan dengan orang berilmu, padahal sejatinya yang paling sering merugi atau susah tuh ulama’ bila hidup dekat dekat dengan orang pandir.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى

Tikus Mati Di Lumbung Padi…

Pepatah ini mungkin pernah anda ucapkan, atau paling kurang anda dengarkan.

Sobat, andai tikus bisa bercerita atau minimal menuliskan perasaannya. Kira kira apa dan bagaimana perasaannya di saat menghadapi ajal di lumbung padi, yang penuh dengan “sumber penghidupan” ?

Namun sayangnya tikus tidak dapat bercerita atau menuliskan pengalamannya. Karena itu izinkan saya bertanya kepada anda, andai anda yang mengalami hal tersebut. Ajal menjemput ditempat yang selama ini anda duga menjadi “sumber penghidupan”. Kira kira apa dan bagaimana perasaan anda ? Pesan atau wasiat apa yang hendak anda sampaikan kepada orang di sekitar anda ?

Sobat, ketahuilah bahwa dunia beserta isinya inilah tak ubahnya bak lumbung padi itu. Dunia tempat anda hidup ini, barang kali telah mencuri simpati anda, sehingga anda terperdaya. Anda bejuang, banting tulang, peras keringat, pergi pagi pulang petang, semua itu demi meluaskan “lumbung padi” anda. Namun toh demikian, cepat atau lambat, ajal pasti menjemput anda, walaupun anda sedang menikmati kekayaan dunia yang anda kumpulkan.

Bisa jadi ajal menjemput anda di saat anda menyantap makanan lezat atau meneguk minuman segar nan bergizi atau minuman suplemen, atau bisa pula ketika anda sedang asyik bercumbu rayu dengan bidadari pujaan hati anda. Bila ajal benar benar telah menjemput maka semua kilau dan gemerlap dunia kan sirna. Di depan mata anda hanya terbentang dua jalan; jalan ke surga dan jalan ke neraka.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

Kalian semua telah dilalaikan oleh perlombaan memperbanyak harta kekayaan

حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

Hingga tiba saatnya nanti ketika kalian masuk ke dalam kuburan. ( At Takatsur 1-2)

Sobat! Silahkan anda memilih, akankah suatu saat nanti anda meninggal dengan mengenaskan karena ternyata kekayaan dunia yang anda puja tidak dapat melindungi anda. Ataukah anda memilih untuk menghadapi kematian dngan senyuman bahagia yang terkulum di bibir, karena anda mendapat kabar gembira bahwa anda segera memulai perjalanan abadi di alam surga.

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ

Wahai jiwa yang damai ( mutmainnah)

ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً

Kembalilah engkau kepada Tuhanmu dalam keadaan ridho dan diridhoi.

فَادْخُلِي فِي عِبَادِي

Masuklah engkau ke dalam barisan hamba-hamba-Ku.

وَادْخُلِي جَنَّتِي

Dan silahkan engkau masuk ke dalam surga-Ku.
( Al Fajer 27-30)

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk golongan yang mendapatkan kabar gembira ini ketika ajal menjemput kami. Amiin.

Muhammad Arifin Badri, حفظه الله تعالى