Category Archives: Muhammad Wasitho

BINGUNG, TUNAIKAN UMROH DULU ATAU HAJI DULU ?

Ust. M Wasitho, حفظه الله

» Tanya:
Ustadz ada yg bertanya seperti ini ke ana, ana takut jawab.

Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh. Bismillah.

Pertanyaannya: Jika kita memiliki rejeki utk menabung, manakah yg sebaiknya didahulukan, menabung haji atau umroh (dengan alasan mengingat waktu pelaksanaan haji bs bertahun2 baru terlaksana)? jazakillahu khoir.

(*) Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Jika keadaan calon jama’ah haji di Indonesia seperti skrg, dimana seseorang yg tlh mempunyai kemampuan utk berangkat ke tanah suci Mekkah Al-Mukarromah, namun ia belum bisa berangkat secara langsung utk menunaikan ibadah haji kecuali setelah bbrp tahun yg cukup lama, karena sangat banyaknya orang yg mendaftarkan diri utk pergi haji, sementara quota jama’ah haji terbatas, maka menurut pandangan kami, hendaknya ia melaksanakan ibadah UMROH terlebih dahulu.

Hal ini dikarenakan hukum menunaikan Umroh adalah WAJIB bagi orang yg telah mampu dan belum pernah menunaikannya sama sekali di dlm hidupnya. Dan ini merupakan pendapat yg rojih (nampak kuat n benar) dari sejumlah sahabat Nabi n ulama sunnah, seperti Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhum, imam Asy-Syafi’i, imam Ahmad bin Hanbal, imam Al-Bukhari, syaikh Bin Baz, syaikh Ibnu ‘Utsaimin rahimahumullah, dan komite tetap utk urusan fatwa n riset ilmiyah di Saudi Arabia.

(*) Berikut ini kami akan sebutkan beberapa dalil syar’i dan perkataan para ulama sunnah yg menunjukkan wajibnya Umroh:
عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلَى النِّسَاءِ جِهَادٌ ؟ قَالَ: نَعَمْ ، عَلَيْهِنَّ جِهَادٌ لا قِتَالَ فِيهِ الْحَجُّ وَالْعُمْرَةُ .  رواه ابن ماجه

1. Dari Aisyah radhiyallahu anha, ia berkata: Aku pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah para wanita WAJIB berjihad?” Beliau jawab: “Iya, para wanita WAJIB berjihad namun tanpa peperangan di dalamnya, yaitu Haji dan Umroh.” (HR. Ibnu Majah no.2901. Hadits ini dinyatakan SHOHIH oleh imam An-Nawawi di dlm kitab Al-Majmu’ IV/7, dan syaikh Al-Albani di dlm Shohih Ibnu Majah).

2. Hadits yg diriwayatkan dari Umar bin Khoththob radhiyallahu anhu tentang malaikat Jibril alaihissalaam yg bertanya kpd Nabi shallallahu tentang hakekat Islam, Iman dan Ihsan, serta tanda-tanda hari Kiamat.

Di dlm riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ad-Daruquthni, Nabi shallallahu alaihi wasallam memberikan jawaban ttg Islam dengan lafazh berikut:
الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله ، وتقيم الصلاة ، وتؤتي الزكاة ، وتحج البيت وتعتمر ، وتغتسل من الجنابة ، وتتم الوضوء ، وتصوم رمضان

“Islam ialah engkau bersaksi bahwa tiada sesembahan yg haq kecuali Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Engkau mendirikan sholat, menunaikan Zakat, menunaikan Haji ke Baitullah (alharom) dan UMROH, mandi karena junub, menyempurnakan wudhu, dan berpuasa di bulan Romadhon.”. (Ad-Daruquthni berkata; ‘Hadits ini sanadnya Shohih).

3. Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata di dlm kitab Shohihnya: “Bab Wajibnya Umroh dan Keutamaannya”. Dan Ibnu Umar radhiyallahu anhuma berkata: “Tiada seorang pun (dr kaum muslimin yg mampu, pent) melainkan WAJIB atasnya menunaikan Haji dan Umroh.”

4. Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah berkata: “Pendapat yg benar bahwa hukum UMROH itu WAJIB seperti Haji, hanya satu kali saja sepanjang umur.” (Lihat Majmu’ Fatawa Ibni Baaz XVI/355).

5. Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: “Para ulama berselisih pendapat tentang hukum Umroh, apakah Wajib atau Sunnah? Dan pendapat yg nampak (rojih) bahwa hukum UMROH itu WAJIB.” (Lihat Asy-Syarhu Al-Mumti’ VII/9).

6. Komite Tetap untuk Urusan Fatwa dan Riset Ilmiyah berkata: “Pendapat yg benar dari dua pendapat para ulama, bahwa UMROH itu WAJIB. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
وَأَتِمُّوا الْحَجَّ وَالْعُمْرَةَ لِلَّهِ

Artinya: “Dan sempurnakan Haji dan Umroh karena Allah.” (QS. Al-Baqarah 166) dan berdasarkan hadits-hadits tentang wajibnya Umroh.” (Lihat Fatawa Lajnah Daimah XI/317).

Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Smg mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Klaten, 26 Oktober 2013)

Hadits Dhoif Seputar Dzulhijjah

حديث :”ما من أيام أحب إلى الله أن يتعبد له فيها من عشر ذي الحجة يعدل صيام كل يوم منها بصيام سنة، وقيام كل ليلة منها بقيام ليلة القدر”.

Artinya: “Tidak ada satu hari yang lebih dicintai Allah untuk dijadikan sebagai waktu beribadah kepada-Nya melebihi sepuluh hari (pertama) bulan Dzulhijjah. Puasa sehari pada hari tersebut (pahalanya) sebanding dengan puasa selama setahun. Sedangkan beribadah di malam hari pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah (pahalanya) sebanding dengan beribadah pada saat malam Lailatul Qadar.”

(Hadits ini diriwayatkan oleh At-Tirmidzi rahimahullah, nomor hadits: 758, dari jalan Mas’ud bin Washil, dari an-Nahas bin Qohm, dari Qotadah, dari Sa’id bin al-Musayyib, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu secara marfu’. Beliau (At-Tirmidzi) berkata: “Hadits ini ghorib (hanya diriwayatkan dari satu jalan), kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalan Mas’ud bin Washil dari An-Nahas.”

(*) DERAJAT HADITS:

Hadits ini derajatnya DHO’IF (Lemah), sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Al-Albani rahimahullah di dalam Dho’if At-Tirmidzi no.758, Silsilah Al-Ahadits Adh-Dho’ifah wa Al-Maudhu’ah no.5145, dan di dalam kitab Dho’if At-Targhib wa At-Tarhib, no. 734.

Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

615. Tj Qurban Atas Nama Istri Karena Niat Berqurban Tapi Dari Uang Suami, Siapakah Yang Terkena Larangan Tidak Potong Rambut dan Kuku..?

615. BBG Al Ilmu – 399

Tanya:
.
Jika qurban atas nama istri, tapi uangnya dari saya/suaminya, siapakah yang menjalankan sunnah tidak cukur/potong rambut/kuku..? Istri atau saya yang punya uang..?

Jawab:

Yang dilarang menggunting kuku dan mencukur rambut sejak tanggal 1 Dzul Hijjah hingga disembelihnya hewan Qurban adalah istri. Karena dia yang berniat untuk ber-qurban.

والله أعلم بالصواب

Dijawab oleh,
Ustadz Abu Fawaz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

BENARKAH SEBURUK-BURUK MANUSIA ADALAH ORANG YANG TIDAK MAU MENIKAH SAMPAI MATI?

Benarkah demikian ? Mari kita baca soal Tanya-Jawab yang diasuh oleh Ust. MWasitho, حفظه الله .

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ustadz…shahihkah hadist dibawah ini:

“Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah” (HR. Bukhari).

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Hadits tsb dikeluarkan oleh Abdurrozzaq di dalam Al-Mushonnaf dan imam Ahmad di dalam Al-Musnad, dari jalan Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu, dengan lafazh:

شراركم عزابكم, وأراذل موتاكم عزابكم

Artinya: “Seburuk-buruk kalian, adalah yang tidak menikah, dan sehina-hina mayat kalian, adalah yang tidak menikah.”

» Derajat hadits tsb DHO’IF (Lemah), sebagaimana dinyatakan oleh syaikh Syu’aib Al-Arnauth rahimahullah.
Sedangkan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolani rahimahullah menyatakan bahwa derajat hadits tsb MUNKAR.

» Hal ini dikarenakan adanya dua cacat di dlm sanadnya, yaitu:
1. Seorang perawi yg meriwayatkan hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari radhiyallahu anhu statusnya MAJHUUL (tidak jelas kredibilitasnya dan tidak dikenal jati dirinya).

2. Adanya IDHTHIROOB (keguncangan dan ketidak pastian) di dlm sanadnya.

» Berdasarkan keterangan ini, maka penisbatan riwayat tsb kpd imam Al-Bukhari rahimahullah adalah suatu kedustaan besar atas nama beliau.

Hendaknya orang yg membuat/menulis/menshare riwayat tsb segera bertaubat kpd Allah atas perbuatan dustanya sebelum datang kepadanya kematian. Karena perbuatan dusta itu merupakan salah satu dosa besar yg akan menjerumuskan pelakunya ke dalam api neraka.

» Meskipun derajat hadits ini DHO’IF, namun tidak sepantas seorang muslim dan muslimah menghabiskan masa hidupnya dlm keadaan membujang padahal ia mempunyai kesempatan n kemampuan utk menikah.

» Hal ini dikarenakan adanya hadits yg diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu alaihi wasallam melarang umatnya dari hidup membujang.

Adapun bagi mereka yg sdh berupaya mencari jodoh tapi belum jg menemukannya hingga ajal menjemputnya. Atau bagi mereka yg mengalami sakit atau cacat yg menghalanginya dari menikah, maka mereka semua tidak tercela.

» Di dalam menikah terdapat hikmah dan manfaat yg sangat banyak, diantaranya:
1. Dapat meneladani Nabi shallallahu alaihi wasallam dlm hal nikah. Dan ini sebagai wujud n bukti nyata akan kecintaan n kesetiaan thdp Rasulullah shallallahu alaihi wasallam n sunnah (tuntunan) beliau.

2. Dapat menjaga pandangan n kemaluan dr perbuatan haram, dengan menyalurkan hasratnya di tempat yg Halal n berpahala.

3. Dapat mendatangkan anak keturunan yg banyak. Karena Nabi shallallahu alaihi wasallam akan merasa berbangga di hadapan para Nabi yg lain dengan banyaknya umat beliau.

4. Dapat mengajarkan ilmu yg bermanfaat kpd anak2 n istrinya. Sehingga ia akan senantiasa mendapat kiriman pahala dr mereka smp hari kiamat, bi idznillah.

5. De eL eL. 🙂

Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Smg mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Surabaya, 6 Oktober 2013).

» SUMBER: BBG Majlis Hadits, room Tanya Jawab.

BEGINILAH RASA TAKUT ULAMA SUNNAH TERHADAP PENYAKIT ‘UJUB (MERASA BANGGA DIRI)

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Diantara penyakit hati yg sangat berbahaya dan membinasakan serta sering menjangkiti hati seorang muslim n muslimah adalah sikap ‘Ujub. Yaitu seseorang merasa terpukau dan bangga terhadap dirinya sendiri. Apakah ia merasa bangga diri dengan ilmunya, amal ibadahnya, popularitasnya, harta bendanya, kedudukannya, banyaknya pengikut, ketampanan atau kecantikannya, atau dengan hal-hal selainnya.

Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
ثلاث مهلكات : شح مطاع ، و هوى متبع ، و إعجاب المرء بنفسه

Artinya: “Ada tiga perkara yg akan membinasakan seseorang, (yaitu): Kekikiran yg sangat yg selalu ditaati, hawa nafsu yg selalu diikuti, dan seseorang merasa bangga thdp dirinya sendiri.” (Diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, dan dinyatakan Hasan oleh syaikh Al-Albani rahimahullah).

Berikut ini kami akan sebutkan beberapa perkataan ulama sunnah dr generasi as-salafus sholih tentang rasa takut mereka thdp penyakit ‘ujub.

1. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata: “Kebinasaan itu ada pada 2 perkara, yaitu: merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa bangga diri thdp diri sendiri.”

2. Diriwayatkan bahwa ada seorang laki2 berkata kpd Abdullah bin Umar bin Khoththob radhiyallahu anhuma: “Wahai orang terbaik, atau anak dr orang terbaik.” Maka Abdullah bin Umar menjawab: “Aku bukanlah orang terbaik, jg bukan anak dr orang terbaik. Tapi aku hanyalah salah seorang hamba Allah yg selalu berharap dan merasa takut kepada-Nya. Demi Allah, kalo kalian senantiasa bersikap seperti itu terhadap seseorang, justru kalian akan membuatnya binasa.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi III/236).

3. Al-Mutharrif bin Abdulllah rahimahullah berkata: “Tidur terlelap (semalam suntuk, pent) untuk kemudian bangun dengan penyesalan lebih aku sukai daripada melakukan sholat tahajjud (qiyamul lail) semalam penuh dan bangun pagi dengan perasaan ‘ujub )bangga diri).” (Lihat Hilyatul Auliya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani II/200).

4. Imam Adz-Dzahabi rahimahullah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan memberikan kemenangan kpd orang yg menganggap suci dirinya sendiri atau bersikap ‘ujub.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/190).

5. Wahb bin Munabbih rahimahullah berkata: “Camkanlah tiga perkara yg akan aku sampaikan ini, (yaitu): Waspadalah terhadap hawa nafsu yg dipertuhankan, teman yg jahat/buruk, dan merasa ‘ujub (bangga diri).” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/549).

6. Abu Wahb bin Al-Marwazi rahimahullah berkata: “Aku pernah bertanya kpd Abdullah bin Al-Mubarok rahimahullah; “Apa yg dimaksud dgn Al-Kibr (kesombongan)?” Beliau jawab: “Melecehkan orang lain.” Lalu aku bertanya lagi ttg apa itu ‘Ujub. Beliau jawab: “‘Ujub ialah perasaan bahwa kita memiliki sesuatu yg dimiliki orang lain. Aku tidak mengetahui sesuatu yg lebih berbahaya daripada sikap ‘ujub bagi orang-orang yg sholat.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi IV/407).

7. Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata: “Kalo kamu merasa khawatir thdp sikap ‘ujub atas amal perbuatanmu, maka ingatlah keridhoan siapakah yg menjadi tujuan amalmu? Di alam kenikmatan siapakah engkau hendak berlabuh? Dan dari siksa yg manakan engkau berupaya menghindarkan dirimu (darinya)?.” (Lihat Siyaru A’laami An-Nubala’ karya imam Adz-Dzahabi X/42).

Demikian perkataan para ulama sunnah dr generasi as-salafus sholih ttg perasaan takut mereka thdp bahaya ‘ujub (bangga diri) atas amal ibadah mereka. Smg Allah ta’ala melindungi kita semua dr bahaya ‘ujub dan penyakit2 hati lainnya spt sombong, iri dengki, riya’, dsb. آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
(Klaten, 3 Oktober 2013).

» BBG Majlis Hadits, chat room Bening Hati.

2 Cara Menuntut Ilmu Agama

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

Syaikh Muhammad bin Sholih Al-‘Utsaimin rahimahullah berkata: “Untuk dapat meraih ilmu (agama) itu ada dua cara, yaitu:

1. Ilmu (agama) diambil (dan dipelajari) dari kitab-kitab terpercaya, yang ditulis oleh para ulama yang telah dikenal tingkat keilmuan mereka, amanah, dan aqidah mereka bersih dari berbagai macam bid’ah dan khurafat.

Mengambil ilmu dari kandungan kitab-kitab, pasti seseorang akan sampai kepada derajat tertentu, tetapi pada jalan ini ada dua halangan.

» Halangan pertama; membutuhkan waktu yang lama dan penderitaan yang berat.

» Halangan kedua; ilmunya lemah, karena tidak dibangun di atas kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip.

2. Ilmu (agama) diambil dari seorang guru (ustadz) yang terpercaya di dalam (kelurusan) ilmu dan agamanya (yakni kelurusan aqidah, manhaj, ibadah, n akhlaknya, pent). Jalan ini lebih cepat dan lebih kokoh untuk meraih ilmu (dengan baik n benar, pent).”

(Dinukil secara ringkas dari Kitab Al-‘Ilmi, karya Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah, hlm. 68-69). (Klaten, 29 September 2013).

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

DILARANG PELAN-PELAN DALAM TIGA KEADAAN

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

قال أبو بكر الواسطي رحمه الله : التأني في كل شيء حسن إلا في ثلاث خصال : عند وقت الصلاة ، وعند دفن الميت ، والتوبة عند المعصية 

Abu Bakar Al-Wasithi rahimahullah berkata: “Sikap hati-hati (pelan-pelan) dalam setiap urusan itu merupakan hal yang BAIK, kecuali dalam tiga perkara (maka sikap pelan-pelan dlm tiga perkara itu menjadi buruk n tercela, pent), yaitu:

1. Ketika telah tiba waktu sholat,
2. Ketika hendak mengubur jenazah (seorang muslim),
3. Dan ketika hendak bertaubat dari perbuatan maksiat (dosa).”

Demikian Faedah ilmiyah dan Mau’izhoh Hasanah yg dapat kami share pada pagi hari ini. Smg menjadi ilmu yg bermanfaat, dan semoga kita dapat mengamalkannya dengan benar. (Klaten, 26 September 2013).

» Artikel BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.

(*) Blog Dakwah Kami:
http://abufawaz.wordpress.com

KEUTAMAAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH

{ Ust Muhammad Wasitho ‘Abu Fawaz’ }

Bersyukur atas segala nikmat Allah merupakan kewajiban bagi setiap hamba yang beriman. Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala :

فاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْنِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْنِ
“Ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku akan ingat kepadamu. Dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu kufur (ingkar) kepada-Ku.” (QS. Al Baqarah : 152).

–» Orang yang bersyukur kepada Allah akan mendapatkan banyak keutamaan dan manfaat, diantaranya :

1. Mendapatkan tambahan nikmat dari Allah.

Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala :

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”. (QS. Ibrahim : 7)

2. Selamat dari siksaan Allah.

Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala :

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا
“Tidaklah Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa’ : 147).

Yang dimaksud Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya ialah Allah memberi pahala terhadap amal-amal hamba-hamba-Nya, mema’afkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya.

3. Mendapatkan pahala yang besar.

Hal ini berdasarkan firman Allah ta’ala:
وَسَيَجْزِ اللهُ الشَاكِرِيْنَ
“Dan Allah akan memberi ganjaran pahala bagi orang-orang yang bersyukur.” (QS. Ali ‘Imran: 144).

(*) Bagaimanakah Cara Mensyukuri nikmat Allah dgn benar sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya ?

–» Bapak/ibu dan saudaraku yg smg dirahmati Allah, bisa membaca penjelasan selengkapnya di Link berikut ini :

KLIK : http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/22/berupaya-menjadi-hamba-allah-yang-selalu-bersyukur-من-فضائل-الشكر-وآدابه/

(Klaten, 22 September 2013).

– – – – – •(*)•- – – – –

MERAIH FADHILAH AMAL DI HARI JUMAT

1. KEUTAMAAN MEMBACA SURAT AL-KAHFI PADA MALAM DAN HARI JUMAT.

» KLIK: http://abufawaz.wordpress.com/2011/12/09/hadits-hadits-shohih-tentang-keutamaan-surat-al-kahfi-الأحاديث-الصحيحة-في-فضل-سور/

2. KEUTAMAAN SHOLAWAT DAN CARA MEMBACANYA YANG BENAR SESUAI TUNTUNAN NABI shallallahu alaihi wasallam.

» KLIK: http://abufawaz.wordpress.com/2012/10/12/keagungan-membaca-sholawat-kepada-nabi-muhammad-berdasarkan-hadits-hadits-shohih/

3. KEUTAMAAN ORANG MUSLIM YANG MENINGGAL DUNIA PADA HARI ATAU MALAM JUMAT.

» KLIK: http://abufawaz.wordpress.com/2013/04/27/keutamaan-orang-muslim-yang-meninggal-dunia-pada-hari-atau-malam-jumat/

Silakan Link-link ilmiyah tsb dishare kpd kaum muslimin. Smg jadi ilmu yg bermanfaat dan amal sholih yg mengalirkan pahala kpd kita hingga hari Kiamat. آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
(Klaten, 19 September 2013).

– – – – – •(*)•- – – – –

WASIAT EMAS IMAM SYAFI’I KEPADA MURIDNYA

Oleh: Muhammad Wasitho Abu Fawaz

» Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberikan beberapa nasehat yang sangat agung nan penuh hikmah kepada salah seorang muridnya yang bernama Al-Muzani rahimahullah dengan mengatakan kepadanya:

1. Bertakwalah engkau kepada Allah,

2. Gambarkan kehidupan AKHIRAT di dalam hatimu,

3. Jadikan kematian ada di depan matamu,

4. Janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah ‘azza wajalla,

5. Takutlah engkau kepada Allah,

6. Jauhilah larangan-larangan-Nya,
7. Tunaikanlah apa-apa yang Dia wajibkan atasmu,

8. Ikutilah KEBENARAN kapan dan dimana pun engkau berada,

9. Janganlah engkau meremehkan nikmat-nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu meskipun sedikit. Tetapi,

10. sikapilah nikmat-nikmat tersebut dengan bersyukur kepada-Nya,

11. Hendaknya engkau jadikan diammu untuk berfikir, ucapanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu kepada sesuatu untuk mengambil pelajaran darinya.

12. Dan hendaknya engkau memohon perlindungan kepada Allah dari siksa api neraka dengan selalu bertakwa kepada-Nya.” (Lihat Manaaqibu Asy-Syafi’i II/294).

(*) Semoga kita semua dapat mengamalkannya dengan istiqomah hingga akhir hayat. آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ
(Jakarta, 15 September 2013).

» Artikel BBG Majlis Hadits, chat room Faedah dan Mau’izhoh Hasanah.