Category Archives: Muhammad Wasitho

Tiga Hal Penyebab Murka Allah…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA حفظه الله تعالى

قال سفيان الثوري رحمه الله:
احذر سخط الله في ثلاث:
» احذر أن تقصر فيما أمرك،
» احذر أن يراك وأنت لا ترضى بما قسم لك،
» احذر أن تطلب شيئاً من الدنيا فلا تجده ان تسخط على ربك.

» Sufyan Ats-Tsauri (seorang ulama tabi’in) rahimahullah berkata: “Waspadalah engkau terhadap (datangnya) kemurkaan Allah dalam tiga perkara (yaitu):

1. Waspadalah engkau dari melalaikan perintah-perintah-Nya kepadamu.

2. Waspadalah engkau dari merasa tidak ridho (dan tidak puas) dengan rezeki yang Dia berikan kepadamu, sedangkan Dia selalu melihatmu.

3. Waspadalah engkau dari (sikap ambisi) mengejar harta benda dunia, lalu tatkala engkau tidak mendapatkannya, engkau merasa benci dan marah terhadap Robbmu (Allah Ta’ala).”

(Sumber: Siyar A’laam An-Nubala’, karya imam Adz-Dzahabi VII/244).

Bersyukurlah…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

Sungguh betapa banyak nikmat Allah kepada kita. Dari mulai terlahir ke dunia hingga sekarang, nikmat Allah tidak pernah berhenti mengalir kepada kita. Dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, nikmat Allah selalu tercurah. Bahkan, ketika tidur pun nikmat itu tetap ada. Setiap detik yang kita lalui, nikmat Allah tidak pernah putus menghampiri kita. Karena saking banyaknya, mustahil kita mampu menghitungnya.

Kewajiban kita sekarang hanya satu, yaitu mensyukurinya. Dengan bersyukur, hidup kita akan semakin bahagia dan beruntung. Sebaliknya, dengan mengkufuri nikmat, hidup kita akan semakin sengsara dan penuh dengan kesulitan.

A.MAKNA BERSYUKUR
Bersyukur artinya seseorang memuji Allah ta’ala yang telah memberikan berbagai kenikmatan kepadanya. Baik berupa kenikmatan jasmani seperti harta benda, kesehatan, keamanan, anak, istri dan lain sebagainya. Atau yang berupa kenikmatan rohani seperti iman, islam, petunjuk, ilmu yang bermanfaat, pemahaman yang lurus dan benar dalam beragama, selamat dari segala penyimpangan dan kesesatan, rasa senang, lapang dada, hati yang tenang dan lain sebagainya.

Nikmat Allah ta’ala yang dilimpahkan kepada hamba-hamba-Nya itu sangat banyak, sehingga tidak ada seorang pun yang mampu menghitungnya, sebagaimana firman Allah ta’ala:

وَإِنْ تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللهِ لاَ تُحْصُوْهَا

“Apabila kamu menghitung nikmat-nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan bisa menghitungnya”. (QS. An Nahl : 18)

B.HUKUM BERSYUKUR
Bersyukur merupakan kewajiban bagi setiap hamba yang beriman, sebagaimana firman Allah ta’ala:

فاذْكُرُوْنِيْ أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْنِيْ وَلاَ تَكْفُرُوْنِ

“Ingatlah kamu kepadaKu niscaya Aku akan ingat kepadamu, bersyukurlah kepadaKu dan jangan kamu kufur (ingkar)”. (QS. Al Baqarah : 152)

Kenikmatan yang banyak itu wajib disyukuri oleh setiap orang yang mengaku dirinya beriman kepada Allah dan hari Kiamat, karena kesemuanya itu datang dari Allah ta’ala, Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu pun dari para makhluk-Nya, akan tetapi justru merekalah yang sangat membutuhkan Allah. Sebagaimana firman Allah ta’ala:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah dialah yang Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir: 15)

C.KEUTAMAAN BERSYUKUR KEPADA ALLAH
Orang yang bersyukur kepada Allah akan mendapatkan banyak keutamaan dan manfaat, diantaranya:

1.Mendapatkan tambahan nikmat dari Allah.

Allah ta’ala berfirman:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, maka pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu”. (QS. Ibrahim : 7)
2.Selamat dari siksaan Allah.
Allah ta’ala berfirman:
مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

“Tidaklah Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman. dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nisaa’ : 147)

Yang dimaksud Allah mensyukuri hamba-hamba-Nya ialah Allah memberi pahala terhadap amal-amal hamba-hamba-Nya, mema’afkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya.

3.Mendapatkan pahala yang besar.
Allah ta’ala berfirman:
وَسَيَجْزِ اللهُ الشَاكِرِيْنَ
“Dan Allah akan memberi ganjaran pahala bagi orang-orang yang bersyukur ”. (QS. Ali ‘Imran : 144)

D.Bagaimanakah Mensyukuri Nikmat Allah?
Agar dapat mewujudkan rasa syukur kepada Allah ta’ala atas segala limpahan nikmat-Nya, maka ada 3 cara yang harus ditempuh oleh seorang hamba, yaitu:

1.Bersyukur Dengan Hati.
Maksudnya seorang hamba mengetahui dan mengakui bahwa semua kenikmatan yang ada pada dirinya itu datangnya dari Allah ta’ala. Tidak boleh sedikit pun merasa bahwa kenikmatan apapun yang dimilikinya baik berupa harta kekayaan, kedudukuan atau jabatan, kesehatan atau kesuksesan lainnya adalah diperoleh karena hasil jerih payanya sendiri, atau karena ilmu dan ketrampilan yang dimilikinya, bukan karena kehendak Allah ta’ala.

2.Bersyukur Dengan Lisan.
Yaitu lisan seorang hamba yang beriman selalu mengucapkan puji syukur kepada Allah setiap kali mendapatkan suatu kenikmatan, baik dengan ucapan الحمد لله (Alhamdulillah) atau membasahi lidahnya dengan doa dan dzikir yang maknanya mengandung puja-puji syukur kepada-Nya.

3.Bersyukur Dengan Anggota Badan.
Segala nikmat yang dirasakan oleh orang yang beriman, akan dijadikan sebagai pendorong baginya untuk lebih banyak dan bersemangat di dalam beribadah kepada Allah. Sehingga semakin banyak kenikmatan yang diperolehnya, maka semakin meningkat pula ibadahnya kepada Allah.

Dan termasuk dalam makna bersyukur dengan anggota badan ialah menjaga dan menjauhkan anggota badan dari segala perbuatan dosa dan maksiat yang mendatangkan dosa dan kemurkaan dari Allah.

Di antara salah satu cara agar kita mampu menjadi hamba Allah yang selalu bersyukur kepada-Nya ialah dengan melihat kepada orang-orang yang derajatnya dalam urusan dunia di bawah kita, seperti melihat masih banyaknya orang yang lebih miskin daripada kita dalam hal harta benda. Atau kita melihat kepada orang-orang yang kurang sempurna dalam hal fisik (cacat jasmani), sementara kita memiliki fisik atau badan yang sempurna dan sehat. Adapun dalam urusan agama dan akhirat (yakni keimanan dan ketaatan, atau ilmu dan amal ibadah), maka hendaknya kita melihat kepada orang-orang yang kedudukannya lebih tinggi daripada kita. Karena dengan demikian, kita semakin terdorong untuk bersemangat dalam menambah keimanan, ilmu agama, dan amal ibadah, serta semakin sungguh-sungguh untuk menjauhi segala perbuatan dosa dan maksiat yang akan menghancurkan dan menyengsarakan kehidupan kita di dunia dan akhirat.

Kita memohon kepada Allah ta’ala agar menjadikan kita semua sebagai hamba-hamba-Nya yang selalu bersyukur atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya, dan menganugerahkan kepada kita kehidupan yang bahagia di dunia dan akhirat.

Ngapain Sedih Berkepanjangan ?

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Bismillah.

إبراهيم بن أدهم رجلا مهموما فقال له: أيها الرجل إني أسألك عن ثلاث تجيبني قال الرجل: نعم. 

* فقال له إبراهيم بن أدهم: أيجري في هذا الكون شئ لا يريده الله؟ قال : كلا 

* قال إبراهيم : أفينقص من رزقك شئ قدره الله لك؟ قال: لا 

*قال إبراهيم: أفينقص من أجلك لحظة كتبها الله في الحياة؟ قال: كلا 
فقال له إبراهيم بن أدهم: فعلام الهم إذن؟؟!

Pada suatu ketika Ibrahim bin Adham melihat seorang laki-laki yang sedang bersedih. Dia berkata kepada lelaki itu, “Wahai saudara, aku ingin menanyakan kepadamu tiga pertanyaan dan aku harap engkau mau menjawabnya.” Lelaki itu menjawab, “Baiklah.”

Ibrahim pun bertanya kepadanya, “Apakah ada hal yang terjadi di alam ini yang tidak dikehendaki Allah?”

Lelaki itu menjawab, “Tentu tidak ada.”

Ibrahim bertanya lagi, “Apakah rizkimu berkurang dari apa-apa yang telah Allah tetapkan bagimu?”

Lelaki tersebut menjawab: “Tidak berkurang”.

Ibrahim bertanya lagi, “Apakah akan berkurang suatu tempo waktu yang ditetapkan bagimu dalam kehidupan ini.”

Sekali lagi dia menjawab, “Tidak berkurang.”

(Setelah terjawab ketiga pertanyaan itu) Ibrahim bin Adham berkata kepadanya, “Kalau begitu mengapa engkau masih bersedih?”

Disadur dari Link Ilmiyah berikut:
http://www.ahlalhdeeth.com/vb/showthread.php?t=188852

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah pada pagi hari ini. Semoga kita selalu hidup bahagia dan selamat di dunia dan akhirat. Amiin. (Klaten, 19 April 2015)

Juru Dakwah Bukanlah Orang Yang Ma’shum (Bersih Dari Dosa)…

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

طاعة ربها، ولو كان المؤمن لا يَعِظُ أخاه إلا بعد إحكام أمر نفسه، لَعُدِمَ الواعظون، وقلَّ المذكرون، ولما وجد من يدعو إلى الله – عز وجل – ويُرَغِّبَ في طاعته، وينهى عن معصيته، ولكن في اجتماع أهل البصائر، ومذاكرة المؤمنين بعضهم بعضا حياةٌ لقلوب المتقين، وادِّكارٌ من الغفلة، وأمان من النسيان، فالزموا- عافاكم الله- مجالس الذكر، فَرُبَّ كلمة مسموعة، ومُحتقرٍ نافع، ( يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون ).”

» Imam Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata:

“Wahai manusia, sesungguhnya aku senantiasa menasehati kalian, namun bukan berarti aku orang yang terbaik di antara kalian, bukan pula orang yang paling sholih di antara kalian. Sungguh, akupun telah banyak melampaui batas terhadap diriku. Aku tidak sanggup mengekangnya dengan sempurna, tidak pula membawanya untuk melaksanakan kewajiban dalam menaati Rabb-nya. Jika sekiranya seorang muslim tidak memberikan nasihat kepada saudaranya kecuali setelah dirinya menjadi orang yang sempurna, niscaya tidak akan ada para pemberi nasihat. Akan menjadi sedikit jumlah orang yang mau memberi peringatan dan tidak akan ada orang-orang yang berdakwah di jalan Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang memotivasi untuk taat kepada-Nya, tidak pula melarang dari bermaksiat kepada-Nya.

Namun dengan berkumpulnya orang-orang yang berilmu dan beriman, sebagian mereka memperingatkan kepada sebagian yang lain, niscaya hati-hati orang-orang yang bertakwa akan hidup dan mendapat peringatan dari kelalaian serta aman dari lupa dan kekhilafan. Maka terus meneruslah berada pada majelis-majelis dzikir (majelis ilmu), semoga Allah ‘Azza wa Jalla mengampuni kalian. Bisa jadi ada satu kata  yang terdengar dan kata itu merendahkan diri kita namun sangat bermanfaat bagi kita. (Allah berfirman)Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian semua kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim.”

(Lihat Mawai’zh lil Imam Al-Hasan Al-Bashri, hal.185-187).

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami sampaikan pada hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Amiin.

(Klaten, 10 April 2015)

BAHAYA BERHUTANG DI DUNIA DAN AKHIRAT…

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Bismillah.

Di dalam kehidupan sehari-hari ini, kebanyakan manusia tidak terlepas dari yang namanya hutang piutang. Sebab di antara mereka ada yang membutuhkan dan ada pula yang dibutuhkan.

Demikianlah keadaan manusia sebagaimana Allah tetapkan, ada yang dilapangkan rezekinya hingga berlimpah ruah dan ada pula yang dipersempit rezekinya, tidak dapat mencukupi kebutuhan pokoknya sehingga mendorongnya dengan terpaksa untuk berhutang atau mencari pinjaman dari orang-orang yang dipandang mampu dan bersedia memberinya pinjaman.

Dalam ajaran Islam, hutang-piutang adalah termasuk muamalah yang dibolehkan, tapi diharuskan untuk ekstra hati-hati dalam menerapkannya. Karena hutang bisa mengantarkan seseorang ke dalam surga, dan sebaliknya juga bisa menjerumuskan seseorang ke dalam api neraka.

(*) BAHAYA BERHUTANG SAMPAI MATI:

Meskipun berhutang itu boleh, hanya saja Islam menyuruh umatnya agar menghindari hutang semaksimal mungkin jika ia mampu membeli barang kebutuhannya dengan tunai atau ia tidak dalam keadaan kesempitan ekonomi. Karena menurut Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, hutang itu dapat menimbulkan pengaruh buruk dan bencana bagi pelakunya di dunia dan akhirat. Diantaranya:

1. Hutang merupakan penyebab kesedihan di malam hari, dan kehinaan di siang hari.

2. Hutang dapat membahayakan akhlaq. Maksudnya dapat menimbulkan perilaku yang buruk bagi orang yang suka (hoby) berhutang, seperti suka berdusta dan ingkar janji.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam (yang artinya): “Sesungguhnya seseorang apabila berhutang, maka dia sering
berkata lantas berdusta, dan berjanji lantas memungkiri.” (HR. Al-Bukhari).

3. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menolak mensholatkan jenazah seseorang yang diketahui masih memiliki hutang dan tidak meninggalkan harta untuk melunasinya.

4. Tanggungan Hutang Yang Dibawa Mati Tidak Akan Diampuni Oleh Allah Pada Hari Kiamat.

» Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

يُغْفَرُ لِلشَّهِيدِ كُلُّ ذَنْبٍ إِلاَّ الدَّيْنَ

“Semua dosa orang yang mati syahid Akan diampuni (oleh Allah), kecuali hutangnya.” (HR. Muslim III/1502 no.1886, dari jalan Abdullah bin ‘Amr
bin Al-‘Ash radhiyallahu ‘anhu).

» Dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu, bahwasannya Rasulullah pernah berdiri di tengah-tengah para sahabat, lalu Beliau mengingatkan mereka bahwa Jihad di jalan Allah dan iman kepada-Nya adalah amalan yang paling
afdhol (utama).

Kemudian berdirilah seorang sahabat, lalu bertanya,
“Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu jika aku gugur di jalan Allah, apakah dosa-dosaku akan terhapus dariku?” Maka jawab Rasulullah shallallahu alaihi wasallam kepadanya: “Ya, jika engkau gugur di jalan Allah dalam keadaan sabar mengharapkan pahala, maju pantang melarikan diri.” Kemudian Rasulullah bersabda: “Kecuali hutang (tidak akan diampuni/dihapuskan oleh Allah, pent), karena sesungguhnya Jibril ’alaihissalam menyampaikan hal itu kepadaku.” (HR. Muslim III/1501 no: 1885, At-Tirmidzi IV/412 no:1712, dan an-Nasa’i VI: 34 no.3157. dan di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albani dalam Irwa-ul Ghalil no: 1197).

5. Orang Yang Mati Dalam Keadaan Memiliki Hutang Akan Terhalang Dan Tertunda Dari Masuk Surga.

» Hal ini berdasarkan hadits shohih yang diriwayatkan dari Tsauban, mantan budak Rasulullah, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

« مَنْ فَارَقَ الرُّوحُ الْجَسَدَ وَهُوَ بَرِىءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنَ الْكِبْرِ وَالْغُلُولِ وَالدَّيْنِ »

“Barangsiapa yang rohnya berpisah dari jasadnya (baca: meninggal dunia) dalam keadaan terbebas dari tiga hal, niscaya ia akan masuk surga, yaitu:
(1) Bebas dari sombong,
(2) Bebas dari khianat, dan
(3) Bebas dari tanggungan HUTANG.” (HR. Ibnu Majah II/806 no: 2412, dan At-Tirmidzi IV/138 no: 1573. Dan di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albani).

» Dan juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

« نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ »

“Jiwa orang mukmin tergantungkan pada hutangnya hingga dilunasi.” (HR. Ibnu Majah II/806 no.2413, dan At-Tirmidzi III/389 no.1078. dan
di-shahih-kan oleh syaikh Al-Albani).

6. Pahala Kebaikan Orang Yang Mati Dalam Keadaan Berhutang Akan Menjadi Tebusan Bagi Hutangnya Pada Hari Kiamat.

» Hal ini berdasarkan hadits shohih yang diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

« مَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دِينَارٌ أَوْ دِرْهَمٌ قُضِىَ مِنْ حَسَنَاتِهِ لَيْسَ ثَمَّ دِينَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ »

Artinya: “Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan menanggung hutang satu Dinar atau satu Dirham, maka dibayarilah (dengan diambilkan) dari kebaikannya; karena di sana tidak ada lagi uang Dinar dan tidak pula uang Dirham.” (HR. Ibnu Majah II/807 no: 2414. dan di-shohih-kan oleh syaikh Al-Albani).

Demikianlah beberapa pengaruh buruk dan bahaya berhutang yang akan menimpa pelakunya di dunia dan akhirat.

● Dan bahaya berhutang akan semakin dahsyat apabila terkandung di dalamnya unsur riba (baca: bunga) meskipun hanya sedikit, 0,1 %. Atau bilamana seseorang ketika berhutang kepada orang lain, di dalam hatinya ia telah berniat tidak akan melunasi hutangnya, atau bersengaja mengulur-ulur pelunasan hutangnya yang telah jatuh tempo. Karena perbuatan semacam ini adalah bentuk kezholiman kepada orang lain yang akan membinasakan pelakunya dan menjadi kegelapan baginya pada hari Kiamat.

Semoga Allah Ta’ala melindungi kita semua dari bahaya berhutang dan terlilit hutang di dunia dan akhirat. Dan semoga Allah melimpahkan kepada kita rezeki yang lapang, halal dan berkah. Amiin.

(Klaten, 5 April 2015)

Beginilah Cara Memahami Dan Mengamalkan Ajaran Islam Dengan Benar…

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

Bismillah.

Bingung, pusing, heran, itulah yang dirasakan kalau memikirkan banyaknya kelompok dalam Islam.
Bagaimana bisa berbeda dan berpecah belah, padahal katanya sama-sama berpegang teguh pada Al-Quran dan Al-Hadits. Koq bisa beda dalam memberikan jawaban dan menyikapi permasalahan, padahal dalilnya sama dari ayat Al-Quran dan Al-Hadits juga. Apakah tidak ada suatu metode atau cara yang tepat dan benar dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam?

Allah subhanahu wa ta’ala telah berfirman:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Kuridhoi Islam sebagai agama bagimu”. (QS. Al-Maidah: 3).

Kesempurnaan dan kejelasan ajaran Islam pun telah ditegaskan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wasallam di dalam hadits berikut ini:

قَدْ تَرَكْتُكُمْ عَلَى الْبَيْضَاءِ لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا لاَ يَزِيْغُ عَنْهَا بَعْدِيْ إِلاَّ هَالِكٌ

» “Sungguh telah aku tinggalkan bagi kalian (syariat) yang putih cemerlang (jelas), malamnya seperti siangnya. Tidak akan menyeleweng daripadanya sepeninggalku melainkan dia akan binasa”. (HR. Ibnu Majah I/16 no.43, dan Ahmad IV/126 no.17182, dari jalan Al-‘Irbadh bin Sariyah rodhiyallahu anhu).

Juga diriwayatkan dari Muththalib bin Hanthab radhiyallahu anhu, bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

مَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا أَمَرَكُمُ اللهُ بِهِ إِلاَّ قَدْ أَمَرْتُكُمْ بِهِ, وَمَا تَرَكْتُ شَيْئًا مِمَّا نَهَاكُمْ عَنْهُ إِلاَّ قَدْ نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ

» “Tidak kutinggalkan sesuatu pun dari yang Allah perintahkan kecuali telah aku perintahkan kepada kalian, dan tidaklah aku tinggalkan sedikit pun perkara yang Allah larang melainkan sungguh telah aku larang kalian dari padanya”. (HR. Imam Asy-Syafi’i di dalam Musnadnya I/233 no.1153).

Jelas sudah bagi yang mengaku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya bahwa Islam telah sempurna dan lengkap serta tidak membutuhkan perubahan dan penambahan atau pengurangan. Selain itu, Allah sendiri yang menjamin kemurniannya, seperti dalam firman-Nya:

إِنَّا نَحْنُ نزلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

» “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Quran) dan sesungguhnya Kamilah yang menjaganya”. (QS. Al-Hijr: 9).

Sebagaimana Allah telah menjamin keaslian Al-Quran, seperti itu pulalah Allah menjamin kemurnian Islam. Karena itu tidak akan ada pertentangan apapun di antara segala perkara yang terdapat di dalamnya. Sebagaimana firman-Nya:

أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ وَلَوْ كَانَ مِنْ عِنْدِ غَيْرِ اللَّهِ لَوَجَدُوا فِيهِ اخْتِلافًا كَثِيرًا “

» “Apakah mereka tidak memperhatikan Al-Quran? Sekiranya Al-Quran itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka akan mendapatkan pertentangan yang banyak di dalamnya”. (QS. An-Nisa’: 82).

Demikianlah keseluruhan ajaran Islam. Pada asalnya tidak sedikit pun mengandung unsur pertentangan. Pertentangan hingga perpecahan umat Islam di dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam tidaklah terjadi melainkan disebabkan tersendatnya hal-hal berikut ini:
1. Hawa nafsu,
2. Syahwat,
3. Syubhat,
4. Keras hati dalam menerima kebenaran,
5. Kurang atau bahkan tidak mengikuti tuntunan Nabi,
6. Melemah dan hilangnya Sunnah dan tersebarnya bid’ah, dan
7. Mencampuradukkan kebenaran dengan kebatilan seperti mencampur Islam dengan filsafat, ilmu kalam dan lain sebagainya.

Memang berbagai macam manhaj (konsep memahami agama) yang diikuti kebanyakan umat Islam yang tidak sesuai dan tidak berdasarkan Al-Quran dan Sunnah yang shahih, pasti tidak akan membawa manfaat apa pun, kecuali semakin menjauhkan umat ini dari jalan yang benar.

Hal ini sebagaimana dijelaskan Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam di dalam hadits berikut:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ ، قَالَ : خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا ، ثُمَّ قَالَ : هَذَا سَبِيلُ اللهِ ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنْ يَمِينِهِ وَعَنْ شِمَالِهِ ، ثُمَّ قَالَ : هَذِهِ سُبُلٌ عَلَى كُلِّ سَبِيلٍ مِنْهَا شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ ، ثُمَّ قَرَأَ : {وَإِنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلاَ تَتَّبِعُوا السُّبُلَ ، فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}.

» Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu, ia berkata: “Bahwa Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam membuat garis dengan tangannya lalu berkata, “Inilah jalan Allah yang lurus”. Kemudian membuat garis lagi di sebelah kanan dan kirinya, seraya berkata, “Ini adalah jalan-jalan yang lain. Tiada satu pun darinya tersebut kecuali di sana ada setan yang menyeru kepadanya”.

Kemudian beliau membaca firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Sesungguhnya ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia. Dan janganlah engkau mengikuti jalan-jalan lain, karena kan mecerai-beraikanmu dari jalan-Nya. Demikian itulah Allah wasiatkan kepadamu agar kamu bertakwa”. (HR. Ahmad I/435 no.4142).

Jelas dari dalil di atas, bahwa manhaj (metode/pemahaman) yang benar itu hanya satu dan sikap mengikuti manhaj selainnya akan membawa pertentangan, perpecahan, dan kesesatan. Padahal sebelumnya, prinsip-prinsip ajaran Islam sendiri adalah satu sejak zaman Nabi Adam hingga Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Demikian juga halnya dengan kondisi umat yang ada.

Namun karena berbagai penyelewengan itulah akhirnya terjadi pertentangan dan perpecahan. Hal ini dijelaskan Allah di dalam firman-Nya:

وَمَا كَانَ النَّاسُ إِلا أُمَّةً وَاحِدَةً فَاخْتَلَفُوا وَلَوْلا كَلِمَةٌ سَبَقَتْ مِنْ رَبِّكَ لَقُضِيَ بَيْنَهُمْ فِيمَا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

» “Tidaklah manusia itu (dahulu) melainkan umat yang satu, kemudian mereka berselisih. Kalau tidak karena ketetapan yang telah berlalu dari Rabb-mu, niscaya telah diberi keputusan di antara mereka mengenai apa yang mereka perselisihkan”. (QS. Yunus: 19).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat tersebut, bahwa akan ada generasi manusia berikutnya yang beraneka ragam agama, keyakinan, ajaran, kelompok, dasar pijakan, dan pikiran mereka. Sedangkan Ikrimah mengatakan bahwa mereka berselisih dalam petunjuk. Tetapi di antara mereka ada yang dikecualikan, sebagaimana firman-Nya:

وَلا يَزَالُونَ مُخْتَلِفِينَ إِلا مَنْ رَحِمَ رَبُّكَ

“Mereka senantiasa berselisih pendapat kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu”. (QS. Huud: 118-119).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Allah mengabarkan bahwa orang-orang yang dirahmati-Nya tidak akan berselisih. Mereka adalah para pengikut Nabi dengan perkataan dan perbuatan, dan mereka adalah ahli Al-Quran dan hadits dari umat ini”. Yakni mereka yang mendapat rahmat Allah dari setiap pengikut para Nabi yang berpegang teguh dengan segala yang diperintahkan agama. Mereka itu dikenal dengan golongan yang selamat (Al-Firqoh An-Najiyah).

Hal ini diperkuat dengan sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam:

أَلاَ إِنَّ مَنْ قَبْلَكُمْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ افْتَرَقُوْا عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِيْنَ مِلَّةً وَإِنَّ هَذِهِ الْمِلَّةَ سَتَفْتَرِقُ عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِيْنَ, ثِنْتَانِ وَسَبْعِيْنَ فِي النَّارِ وَوَاحِدَةٌ فِي الْجَنَّةِ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ

» “Ketahuilah, sesungguhnya orang sebelum kamu dari ahli kitab telah berpecah belah menjadi 72 kelompok. Dan sungguh umat ini akan berpecah belah menjadi 73 golongan. 72 berada di neraka dan hanya satu dalam surga, yaitu al-jama’ah”. (HR. Ahmad IV/102 no.16979, Abu Dawud II/608 no.4597, Ibnu Majah II/1322 no.3992).

Sekarang, permasalahan yang lebih penting untuk diketahui adalah manhaj (cara/pemahaman) yang bagaimana dan siapa tokoh-tokoh yang harus diikuti dalam mempelajari, memahami, meyakini, dan mengamalkan ajaran Islam tersebut?

(*) Ciri-ciri manhaj mereka adalah berdasarkan pada prinsip-prinsip berikut ini:

1. Al-Quran Al-Karim

Pedoman pertama dan paling tinggi dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam yang paling benar dan selamat, tiada lain adalah Al-Quran Al-Karim yang merupakan wahyu Allah subhanahu wa ta’ala. Barangsiapa yang mengingkari wajibnya berpegang teguh dengan Al-Quran Al-Karim, maka dia itu kafir menurut kesepakatan (ijma’) umat Islam. Wajibnya berpegang teguh dengan Al-Quran Al-Karim tampak dari firman Allah ta’ala berikut ini:

وَهَذَا كِتَابٌ أَنزلْنَاهُ مُبَارَكٌ فَاتَّبِعُوهُ وَاتَّقُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

» “Dan itulah kitab. Kami telah menurunkannya dengan penuh keberkahan, maka ikutilah dan berdakwalah agar kamu mendapat rahmat”. (QS. Al-An’am:155).

Dan dari sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam:

أَلاَ وَإِنِّيْ تَارِكٌ فِيْكُمْ ثِقَلَيْنِ, أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللهِ مَنِ اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلاَلَةٍ

» “Sesungguhnya aku tinggalkan bagimu 2 perkara, salah satunya ialah kitab Allah ‘azza wa jalla, ia itu tali Allah, barangsiapa mengikutinya, maka ia berada di atas hidayah. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia dalam kesesatan”. (HR. Muslim IV/1873 no.2408).

2. Hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam yang shahih.

Pedoman yang kedua adalah Hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam yang shahih. Hal ini dapat dimaklumi dan tidak bisa diingkari. Dalam memahami dan mengamalkan Al-Quran Al-Karim, baik dari segi akidah, ibadah, muamalah, adab dan akhlak tidak dapat dilepaskan dari peranan hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, karena hadits merupakan penjelasan yang rinci dan detail terhadap apa yang dikandung Al-Quran secara global dan umum. Bahkan ini merupakan metode yang ditentukan oleh firman Allah ta’ala:

وَأَنزلْنَا إِلَيْكَ الذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نزلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

» “Dan Kami telah menurunkan Adz-Dzikr (Al-Quran) agar kamu (Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam) menerangkan kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka, dan agar mereka memikirkannya”. (QS. An-Nahl: 44).

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda:

أَلاَ إِنِّيْ أُوْتِيْتُ الْقُرْآنَ وَمِثْلَهُ مَعَهُ

» “Ketahuilah sesungguhnya diturunkan kepadaku Al-Quran dan yang serupa bersamanya (As-Sunnah/hadits Nabi)”. (HR. Ahmad IV/130 no.17213, dan Abu Dawud II/610 no.4604).

Berepegang dengan Al-Quran dan As-Sunnah belumlah cukup. Banyak dijumpai dalam buku atau pengajian-pengajian yang mengupas masalah yang sama, tapi penjelasannya berbeda atau malah berlawanan, hal ini bisa bahaya sebab kalau menyangkut masalah akidah jika salah maka neraka akibatnya. Contohnya golongan Ahmadiyah membelokkan makna sabda Nabi shallallahu ’alaihi wasallam, (لاَ نَبِيَّ بَعْدِيْ ) “Tidak ada Nabi sesudahku”. Dengan mengatakan bahwa, “Bersamaku tidak ada Nabi, akan tetapi jika aku telah mati akan ada Nabi”.

Mereka juga mengartikan makna (خَاتَمَ) khatam dari ayat di bawah ini,

(…وَلَكِنْ رَسُوْلَ اللهِ وَ خَاتَمَ النَّبِيِّيْنَ …)

“Tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi”. (QS. Al-Ahzab: 40). Dengan arti yang berbeda yaitu “perhiasan para nabi”, karena khatamu kalau diterjemahkan adalah perhiasan jari (cincin). Dari sini dapat diketahui bahwa pemahaman terhadap Al-Quran dan As-Sunnah/Al-Hadits tidak boleh dilakukan oleh semua orang, karena bisa menjerumuskan pada kesesatan.

3. Atsar (perkataan atau perbuatan) para sahabat Nabi.

Untuk dapat memahami dan mengamalkan dua pedoman di atas dengan benar, maka haruslah merujuk kepada atsar (riwayat berupa perkataan dan perbuatan) para sahabat. Hal ini jelas terlihat dalam berbagai riwayat hadits iftiraq al-ummah (perpecahan umat) yang jalur periwayatannya banyak sekali. Semuanya menyatakan bahwa hanya satu golongan yang selamat dari perpecahan tersebut, yaitu yang mengikuti jejak Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam dan para sahabat. Allah subhanahu wa ta’ala sendiri telah ridha terhadap mereka, seperti dalam firman-Nya:

لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنزلَ السَّكِينَةَ عَلَيْهِمْ وَأَثَابَهُمْ فَتْحًا قَرِيبًا

» “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang mukmin yang berjanji setia kepadamu di bawah pohon (bai’at al-ridwan). Maka Allah mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan bagi mereka kemenangan yang dekat”. (QS. Al-Fath: 18).

Jabir bin Abdillah radhiyallahu ’anhuma berkata: “Kami (saat itu) berjumlah 1400 orang”. (HR. Bukhari).

Dan di dalam ayat lain Allah berfirman:

وَالسَّابِقُونَ الأوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالأنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

» “Orang-orang terdahulu yang pertama masuk Islam dari orang-orang Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung”. (QS. At-Taubah: 100).

Dalam tafsir Ibnu Katsir dinyatakan bahwa orang yang membenci dan mencela baik sebagian atau semua sahabat Nabi, akan mendapat kecelakaan. Sebagaimana kelompok Syi’ah (Rofidhoh) yang kerjaannya hanya membenci, mencela dan menentang keutamaan para sahabat Nabi. Padahal Nabi sendiri bersabda:

أَكْرِمُوْا أَصْحَابِيْ ، فَأِنَِّهُمْ خِيَارُكُمْ

» “Muliakanlah para sahabatku, karena sesungguhnya mereka adalah orang terbaik di antara kalian”. (Dikeluarkan oleh ‘Abd bin Humaid di dalam Musnadnya no.23, Ibnu Baththoh di dalam Al-Ibanah Al-Kubro no.84, dan selainnya. Dan dinyatakan SHOHIH oleh Syaikh al-Albani di dalam Misykat Al-Mashobih III/308 no.6003).

Dalam hadits lain Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

لاَ تَسُبُّوْا أَ صْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أّحَدَكُمْ أّنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلاَ نَصِيْفَهُ

» “Janganlah kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya”. (HR. Bukhari III/1343 no.3470, dan Muslim IV/1967 no.2540, dan Ahmad III/63 no.11626).

Beliau shallallahu ’alaihi wasallam Juga bersabda:

مَنْ سَبَّ أَصْحَابِيْ فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللهِ

» “Barangsiapa mencela sahabatku, maka ia mendapat laknat Allah”. (HR. Ibnu Abi Syaibah di dalam Al-Mushonnaf no.1741, dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah no.832. Dan dinyatakan HASAN oleh syaikh Al-Abani di dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah V/446 no.2340).

Imam Thahawi berkata: “Benci terhadap sahabat adalah kekafiran, kemunafikan dan tindakan melampaui batas”.

Imam Abu Zur’ah Ar-Razi berkata: “Jika kamu melihat seseorang melecehkan seorang sahabat Nabi, maka ketahuilah bahwa ia seorang zindiq (munafik). Karena menurut kita (umat Islam), Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam adalah benar dan Al-Quran juga benar. Sedangkan yang menyampaikan Al-Quran dan Hadits Nabi shallallahu ’alaihi wasallam kepada kita adalah para sahabat. Mereka hanya ingin mencela para saksi kita untuk menghancurkan Al-Quran dan As-Sunnah (Al-Hadits). Celaan kepada mereka (para pencela sahabat Nabi) lebih pantas, dan mereka adalah zindiq (orang-orang munafik)”.

Mengenai keadilan dan keutamaan para sahabat sudah banyak dijumpai baik di dalam Al-Quran maupun As-Sunnah yang shahih. Keharusan mengikutinya adalah suatu hal yang wajib, masuk akal, bisa diterima serta maklum adanya. Merekalah saksi hidup yang dibimbing langsung oleh Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam, sehingga lebih mengetahui dan paham mengenai ajaran Islam dan pengamalannya.

4. Jejak para tabi’in dan tabiut tabi’in.

Setelah masa sahabat, terdapat suatu generasi yang masih komitmen mengikuti jejaknya. Demikian pula para ulama sesudah generasi mereka. Anjuran untuk senantiasa bersama-sama dengan generasi yang utama dalam memahami dan mengamalkan ajaran Islam didasarkan firman Allah subhanahu wata’ala dalam surat At-Taubah ayat 100 yang telah kita sebutkan di atas.

Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam juga bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ, ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ, ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

» “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian yang sesudah mereka, lalu yang sesudahnya lagi”. (HR. Al-Bukhari II/938 no.2509. lihat pula hadits nomor. 3451, 6065, 6282, dan Muslim IV/1962 no.2533).

Semoga setelah mengetahui cara memahami dan mengamalkan ajaran Islam secara benar, akan lebih memperkokoh dalam menghadapi suara-suara sumbang baik musuh dalam diri Islam (orang munafik dan ahli bid’ah) maupun orang-orang kafir. Jangan mudah tertipu propaganda palsu yang menyesatkan, yang berkedok Al-Quran dan As-Sunnah namun pemahamannya keliru. Yang lebih penting, semoga kita bisa beramal dan berdakwah dengan landasan yang kuat.

(Sumber: Buletin Dakwah Al-Ittiba’ Edisi 1 Tahun I, Pesantren Islam Al-Ittiba’, Klaten – Jawa Tengah).

20 Pelajaran Penting Dan Faedah Ilmiyah Dari Tabligh Akbar Syaikh Abdurrozzaq tanggal 15 Maret 2015 Di Masjid Istiqlal

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

عنوان المحاضرة : توحيد الله تعالى
المحاضر : فضيلة الشيخ الأستاذ الدكتور عبد الرزاق بن عبد المحسن العباد حفظه الله تعالى

(*) TEMA: KEESAAN ALLAH, PENJELASAN AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

(*) Narasumber: Prof. DR. Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-Badr Al-Abbad -hafizhohullah-

١- أن توحيد الله هو أعظم أمر في هذه الدنيا

1. Tauhidullah (mengesakan Allah) merupakan perkara yang paling agung di dunia ini.

٢- وأنه الحكمة العظمى من خلق الإنس والجن
– كما قال تعالى : (وما خلقت الإنس والجن إلا ليعبدون)

2. Tauhid merupakan hikmah teragung dari penciptaan jin dan manusia. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 56).

٣- وأنه الغاية الكبرى من بعثة الرسل
– كما قال تعالى : (ولقد بعثنا في كل أمة رسولا أن اعبدوا الله واجتنبوا الطاغوت)

3. Tauhid merupakan tujuan utama diutusnya para Rosul. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sungguh Kami telah mengutus pada setiap umat seorang Rosul agar menyerukan kepada kaumnya, ‘Beribadahlah kamu hanya kepada Allah dan jauhilah thogut.” (QS. An-Nahl: 36).

٤- وأنه أصل وأساس يبنى عليه دين الإسلام كما كانت الشجرة لا تقوم إلا على أصلها

4. Tauhid adalah prinsip dan landasan dasar agama Islam, sebagaimana pohon tidak akan tegak tanpa akar.

٥- وأنه الفطرة التي فطر الله الناس عليها
– كما قال الله تعالى: (فأقم وجهك للدين حنيفا فطرة الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله ذلك الدين القيم ولكن أكثر الناس لا يعلمون) 
– و كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : ما من مولود إلا يولد على الفطرة فأبواه يهودانه أو ينصرانه أو يمجسانه، 
– وكما قال النبي صلى الله عليه وسلم: قال الله تعالى في الحديث القدسي : خلقت عبادي حنفاء فاجتالتهم الشياطين 

5. Tauhid adalah agama fitroh yang mana Allah menciptakan manusia di atas fitroh tersebut.

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS. Ar Ruum: 30)

– Dan sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Tiada seorang bayi yang terlahir (di dunia ini) melainkan ia terlahir dalam keadaan fitrah. Lalu, kedua orang tuanya lah yang menjadikannya beragama Yahudi atau Nasrani.”

– Dan sebagaimana sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam pula: Allah Ta’ala berfirman: “Aku telah ciptakan hamba-hamba-KU dalam keadaan lurus. Lalu setan-setan itu menyesatkan mereka.”

٦- وأنه شرط أساسي لقبول الأعمال، 
– كما قال قال تعالى ( ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين) 
– وكما قال تعالى ( وما منعهم أن تقبل منهم نفقاتهم إلا أنهم كفروا بالله وبرسوله )

6. Tauhid adalah syarat utama diterimanya semua amal ibadah. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sungguh telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi sebelummu: Apabila kamu berbuat syirik pastilah akan lenyap seluruh amalmu, dan kamu benar-benar akan termasuk golongan orang-orang yang merugi.” (QS. az-Zumar: 65)

– Dan sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidak ada yang menghalangi mereka untuk diterima dari mereka nafkah-nafkahnya melainkan karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya.” (QS. at-Taubah: 54)

٧- وأنه حق الله تعالى على العباد 
– كما قال النبي صلى الله عليه وسلم : يا معاذ، أتدري ما حق الله على العباد وما حق العباد على الله؟ قلت الله ورسوله أعلم، قال: حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا، وحق العباد على الله ألا يعذب من لا يشرك به شيئا

7. Tauhid adalah hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya. 

– Hal ini sebagaiman sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam: “Wahai Mu’adz, tahukah engkau hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya dan hak para hamba atas Allah?” Aku jawab: “Allah dan Rosul-Nya yang lebih mengetahui.” Maka Rasulullah bersabda: “Hak Allah atas para hamba-Nya ialah agar mereka beribadah hanya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Sedangkan hak para hamba atas Allah ialah agar Allah tidak menyiksa siapa saja yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.”

٨- أن من لم يوحد الله فإن أمره فرطا وقلبه متفرق وحاله في ضياع 
– كما قال تعالى ( أأرباب متفرقون خير أم الله الواحد القهار )

8. Barangsiapa tidak mentauhidkan Allah, maka urusannya menjadi sia-sia, hatinya tercerai berai, bimbang dan galau. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Manakah yang lebih baik, Tuhan-Tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.” (QS. Yusuf: 39).

٩- أن العقيدة المنتشرة بين الناس على وجه الأرض نوعان : عقيدة نازلة من السماء بوحي الله، وعقيدة نابتة في الأرض وهذه عقيدة باطلة مردودة

9. Aqidah (keyakinan) yang tersebar di tengah manusia di muka bumi ada dua macam, yaitu:
(1) Aqidah yang turun dari langit berdasarkan wahyu Allah, dan
(2) Aqidah yang tumbuh di bumi (tidak berdasarkan wahyu dari Allah), maka ini adalah Aqidah yang batil dan tertolak.

١٠- أن التوحيد يحقق الأمن والطمأنينة للعبد 
– كما قال تعالى ( الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون)

10. Tauhid akan mewujudkan keamanan dan ketentraman di dalam jiwa seorang hamba. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kedholiman (yakni syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan, dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-An’am: 82)

١١- وأن التوحيد هو أحسن الحسنات، والدليل على ذلك أن وجود الشرك محبط لجميع الأعمال

11. Tauhid merupakan amal kebaikan yang paling baik. Buktinya, bahwa keberadaan Syirik dapat menyebabkan runtuh dan terhapusnya semua amal ibadah.

١٢- وأن التوحيد هو مفتاح الجنة، فمن لم يأتِ به يوم القيامة فإنه لن يدخل الجنة 
كما قال تعالى (إن الذين كذبوا بآياتنا واستكبروا عنها لا تفتح لهم أبواب الجنة ولا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط وكذلك نَجْزِي المجرمين)

12. Tauhid merupakan kunci masuk surga. Maka, barangsiapa datang pada hari Kiamat tanpa membawa tauhid, maka ia tidak akan masuk surga. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum.

Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan.” (QS. Al-A’raaf: 40).

حقيقة التوحيد :
١٣- التوحيد هو إفراد الله في ربوبيته وألوهيته وأسمائه وصفاته

# HAKEKAT TAUHID #
13. Tauhid ialah mengesakan Allah dalam rububiyyah, uluhiyyah dan asma wa sifat (nama-nama dan sifat-Nya).

١٤- ومن خصائص الله تعالى تفضله بأسمائه الحسنى وصفاته العليا 
– كما قال تعالى: (ولله الأسماء الحسنى فادعوه بها) 
– وقال تعالى (هو الله الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة هو الرحمن الرحيم. هو الله الذي لا إله إلا هو الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن العزيز الجبار المتكبر سبحان الله عما يشركون)

14. Diantara kekhususan Allah, Dia memiliki nama-nama yang maha indah dan sifat-sifat yang maha tinggi. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan Allah memiliki nama-nama yang maha indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama-Nya itu.”

– Dan firman-Nya pula: “Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. Al-Hasyr: 22-23).
 
١٥- ومن حقوق الله على عباده أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا 
– كما قال تعالى: ( وما أمروا إلا ليعبدوا الله مخلصين له الدين)
– وقال النبي صلى الله عليه وسلم: حق الله على العباد أن يعبدوه ولا يشركوا به شيئا وحق العباد على الله ألا يعذب من لا يشرك به شيئا. 
– وقال النبي صلى الله عليه وسلم : من مات وهو يدعو من دون الله ندا دخل النار . 

15. Dan diantara hak-hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya ialah agar mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutu-Nya dengan sesuatu apapun. 

– Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala: “Dan tidaklah mereka diperintahkan melainkan agar mereka mengikhlaskan (memurnikan) ketaatan hanya untuk-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5).

– Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Hak Allah yang wajib ditunaikan oleh para hamba-Nya ialah agar mereka beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutu-Nya dengan sesuatu apapun. Dan hak para hamba yang akan dipenuhi oleh Allah ialah agar Allah tidak menyiksa siapa pun yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun.”

– Dan Nabi shallallahu alaihi wasallam juga bersabda: “Barangsiapa yang mati dalam keadaan berdoa kepada selain Allah sebagai tuhan tandingan bagi-Nya, niscaya ia pasti masuk neraka.”

١٦- كلمة التوحيد ( لا إله إلا الله ) تتضمن النفي والإثبات.

16. Kalimat Tauhid  ( لا إله إلا الله ) mengandung (2 rukun), yaitu:
(1) an-nafyu (peniadaan sesembahan yang hak dari selain Allah).
(2) Al-itsbat (penetapan sesembahan yang hak bagi Allah semata).

١٧- أن التوحيد ثلاثة أنواع، وهي: توحيد الربوبية، وتوحيد الأسماء والصفات، وتوحيد الألوهية

17. Tauhid itu ada 3 macam, yaitu: 
(1) Tauhid Rububiyyah.
(2) Tauhid Asma wa Sifat.
(3) Tauhid Uluhiyyah.

١٨- أن مفسدات التوحيد منها ما ينقضه، ومنها ما ينقص كماله

18. Perusak-perusak Tauhid ada yang dapat menyebabkan batalnya Tauhid. Dan ada pula yang dapat mengurangi kesempurnaan Tauhid.

١٩- أن نواقض التوحيد ترجع إلى ثلاثة أمور رئيسة وهي: الشرك الأكبر، والكفر الأكبر، والنفاق الأكبر، 

19. Pembatal-pembatal Tauhid berporos pada 3 perkara utama, yaitu:
(1) Syirik Akbar/besar.
(2) Kufur Akbar/besar.
(3) Nifak Akbar/besar.

٢٠- وأما نواقص التوحيد هي : الشرك الأصغر، والكفر الأصغر، والنفاق الأصغر،  

20. Adapun hal-hal yang mengurangi kesempurnaan Tauhid ialah:
(1) Syirik Ashghor/kecil.
(2) Kufur Ashghor/kecil.
(3) Nifak Ashghor/kecil.

Demikian beberapa pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang dapat kami sampaikan secara ringkas dari Tabligh Akbar dengan Tema “KEESAAN ALLAH TA’ALA” yang disampaikan oleh Prof. DR. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhohullah pada hari ini, Ahad, 15 Maret 2015 di masjid Istiqlal, Jakarta.

Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Hindari Niat Buruk Dan Tujuan Tercela Dalam Menuntut Ilmu Agama

Diriwayatkan dari Zaid bin Aslam rahimahullah, bahwa Luqman Al-Hakim pernah berwasiat kepada putranya: “Wahai anakku, Janganlah engkau mempelajari ilmu (agama) karena tiga perkara. Dan janganlah kau tinggalkan (kewajiban) menuntut ilmu karena tiga perkara pula.

Janganlah kau pelajari ilmu (agama) dengan niat dan tujuan untuk:
1. Berdebat,
2. Berbangga-banggaan, dan
3. Pamer dengan (ilmu)nya.

Dan janganlah kau tinggalkan (kewajiban) menuntut ilmu karena:
1. Zuhud (merasa tidak butuh ilmu),
2. Malu kepada orang lain, dan
3. Merasa ridho dengan kebodohan.

(Lihat Shohih Jami’ Bayan Al-‘Ilmi Wa Fadhlihi, karya Al-Hafizh Ibnu Abdul Barr, hal.123).

(*) Termasuk niat buruk dan tujuan tercela dalam menuntut ilmu agama ialah menuntut ilmu agama dengan tujuan mendapatkan hal-hal berikut:

» Kedudukan dan jabatan yang tinggi.
» Harta benda yang banyak.
» Popularitas.
» Dll.

Di dalam hadits yang shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan bahwa salah satu golongan yang pertama kali diadili oleh Allah pada hari Kiamat kelak, lalu dicampakkan ke dalam api Neraka ialah orang yang menuntut ilmu agama bukan karena Allah, tapi supaya dipuji dan dikenal sebgai seorang yang ‘alim (banyak ilmunya).

Dan di dalam hadits yang lain, Beliau bersabda (yang artinya): “Barangsiapa mempelajari suatu ilmu (agama) yang semestinya diniatkan karena mencari wajah Allah, namun justru ia mempelajarinya karena ingin mendapatkan suatu kepentingan dunia, maka pada hari Kiamat ia tidak akan mencium bau harum Surga.”

Demikian faedah ilmiyah dan mau’izhoh hasanah yang dapat kami share pada hari ini. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Dan semoga Allah menganugerahkan kepada kita keikhlasan dalam menuntut ilmu, mengamalkan dan mendakwahkannya, serta dalam melaksanakan ibadah lainnya.

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Wasitho MA, حفظه الله تعالى

(Klaten, 11 Maret 2015).

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

WASIAT EMAS IMAM ASY-SYAFI’I Kepada Muridnya…

Ustadz Muhammad Wasitho, Lc, MA حفظه الله تعالى

وعظ الشافعي تلميذه المزني فقال له: اتق الله, ومثل الآخرة في قلبك, واجعل الموت نصب عينك, ولا تنس موقفك بين يدي الله، وكن من الله على وجل، واجتنب محارمه, وأد فرائضه, وكن مع الحق حيث كان، ولا تستصغرن نعم الله عليك وإن قلت, وقابلها بالشكر, وليكن صمتك تفكراً، وكلامك ذكراً، ونظرك عبره، واستعذ بالله من النار بالتقوى .(مناقب الشافعي 2/294)

» Imam Asy-Syafi’i rahimahullah pernah memberikan beberapa nasehat yang sangat agung nan penuh hikmah kepada salah seorang muridnya yang bernama Al-Muzani rahimahullah dengan mengatakan kepadanya :

1. Bertakwalah engkau kepada Allah,

2. Gambarkan kehidupan AKHIRAT di dalam hatimu,

3. Jadikan kematian ada di depan matamu,

4. Janganlah lupa bahwa engkau akan berdiri di hadapan Allah ‘azza wajalla,

5. Takutlah engkau kepada Allah,

6. Jauhilah larangan-larangan-Nya,

7. Tunaikanlah apa-apa yang Dia wajibkan atasmu,

8. Ikutilah KEBENARAN kapan dan dimana pun engkau berada,

9. Janganlah engkau meremehkan nikmat-nikmat Allah yang dilimpahkan kepadamu meskipun sedikit. Tetapi,

10. Sikapilah nikmat-nikmat tersebut dengan bersyukur kepada-Nya,

11. Hendaknya engkau jadikan diammu untuk berfikir, ucapanmu sebagai dzikir, dan pandanganmu kepada sesuatu untuk mengambil pelajaran darinya.

12. Dan hendaknya engkau memohon perlindungan kepada Allah dari siksa api neraka dengan selalu bertakwa kepada-Nya.”

(Lihat Manaaqibu Asy-Syafi’i II/294).

Semoga kita semua dapat mengamalkannya dengan istiqomah hingga akhir hayat.

آمِيْنَ يَارَبَّ الْعَالَمِيْنَ

Keutamaan MENGAJAK ORANG LAIN Kepada Ilmu Agama Dan Kebaikan…

Ustadz Muhammad Wasitho, MA, حفظه الله تعالى

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (رواه مسلم)

(*) TERJEMAH HADITS:

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menyeru kepada hidayah (jalan petunjuk dan kebaikan), maka ia akan mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang yang mengikuti (atau mengerjakan)nya tanpa mengurangi
pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan, maka ia mendapatkan dosa sebagaimana dosa orang yang mengikuti (mengerjakan)nya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun.” (HR. Muslim no. 6750).

(*) BIOGRAFI SINGKAT PERAWI HADITS:

Nama Abu Hurairah adalah Abdurrahman bin Shakhr Ad-Dausi Al-Yamani radhiyallahu anhu. Beliau masuk Islam pada tahun ke-7 Hijriyah pada saat terjadinya perang khoibar. Beliau selalu menyertai Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dalam keadaan safar maupun mukim, karena kecintaannya terhadap ilmu agama.

Abu Hurairah radhiyallahu anhu menjadi sahabat Nabi yang paling banyak menghafal dan meriwayatkan hadits melebihi para sahabat yang lain. Hal ini dikarenakan beberapa sebab dan alasan yang tidak mustahil dan bisa diterima akal manusia. Diantaranya:

1. Abu Hurairah radhiyallahu anhu meluangkan waktunya untuk senantiasa ber-mulazamah (bergaul dan berdampingan) dengan Nabi shallallahu alaihi wasallam dalam rangka menimba ilmu, baik di saat Nabi mukim, maupun safar untuk berjihad, menunaikan ibadah Haji dan Umroh atau selainnya. Berbeda dengan sebagian sahabat yang lain menggunakan sebagian waktunya untuk berdagang atau bekerja.

2. Nabi shallallahu alaihi wasallam pernah mendoakan Abu Hurairah radhiyallahu anhu agar diberi oleh Allah hafalan (daya ingat) yang kuat. Dan doa Nabi mustajab (dikabulkan Allah).

3. Abu Hurairah radhiyallahu anhu tidak hanya meriwayatkan hadits yang ia dengar dan lihat langsung dari Nabi shallallahu alaihi wasallam, akan tetapi beliau juga meriwayatkan hadits dari para sahabat lain yang lebih dahulu masuk Islam.

Abu Hurairah wafat pada tahun 59 Hijriyah.

(*) BEBERAPA PELAJARAN PENTING DAN FAEDAH ILMIYAH DARI HADITS INI:

1) Anjuran untuk bersemangat dalam berdakwah (mengajak dan menunjuki orang lain) kepada jalan petunjuk dan kebaikan.

2) Keutamaan para ulama dan penuntut ilmu yang senantiasa berdakwah kepada agama Allah, dan mengajarkan ilmunya kepada orang lain dengan niat ikhlas karena mengharap wajah Allah semata.

3) Anjuran bagi para juru dakwah dan pengajar ilmu untuk mengamalkan apa yang didakwahkan dan diajarkannya agar ia menjadi panutan/ teladan yang baik bagi orang lain.

4) Besarnya pahala orang yang berdakwah kepada agama Allah dan setiap jalan kebaikan, yang mana pahala dakwah tersebut akan selalu mengalir kepada dirinya hingga terjadinya hari kiamat sebanyak pahala orang yang menerima, mengikuti dan mengamalkan ilmu yang di dakwahkan dan diajarkannya.

5) Yang dimaksud Al-Huda (petunjuk) di dalam hadits ini ialah setiap ilmu yang bermanfaat dan amal sholih yang ada dalilnya di dalam Al-Quran Al-Karim dan Al-Hadits yang Shohih.

6) Ancaman keras bagi siapa saja yang mengajarkan dan mendakwahkan kepada orang lain kemusyrikan, kekafiran, kebid’ahan, kesesatan, dan kefasikan. Yaitu ia akan memikul dosa perbuatannya tersebut, dan dosa orang-orang yang mengikuti seruannya tersebut hingga hari Kiamat tanpa mengurangi dosa para pengikut sedikit pun. Dan yang demikian ini dikarenakan ia menjadi sebab penyimpangan manusia dari jalan kebenaran.

7) Keutamaan dan pahala mengajak orang lain kepada kebaikan dan kebenaran ini bisa diraih oleh setiap orang muslim dan muslimah, para ulama dan penuntut ilmu, orang kaya dan orang miskin, penguasa maupun rakyat. Dengan syarat, melakukan dakwah kepada kebaikan dan kebenaran itu dilakukan dengan cara yang benar sesuai tuntunan Nabi shallallahu alaihi wassalam dan sesuai dengan batas kemampuannya.

Diantara cara2 dakwah kepada agama Allah agar meraih pahala yang besar yang mengalir sampai hari Kiamat adalah sbb:

1. Berdakwah secara langsung di hadapan manusia di masjid, sekolah, rumah, tempat kerja, atau selainnya.

2. Berdakwah kepada agama Allah melalui media massa cetak dan elektronik, dan cara pertama dan kedua ini hanya boleh dilakukan oleh orang-orang yang memiliki ilmu dan pemahaman yang benar tentang agama Islam. Adapun orang yang tidak berilmu, maka dilarang keras terjun ke medan dakwah karena ia akan lebih banyak merusak keadaan umat Islam.

3. Membiayai dan menfasilitasi aktifitas dakwah tauhid dan sunnah, membagi-bagikan/menghadiahkan buku2/buletin/majalah/CD dakwah atau selainnya. Dan ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang diberi kelapangan rezeki oleh Allah.

4. Membuat peraturan dan perundang-undangan tentang Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar yang diterapkan dan diwajibkan kepada pemerintah dan rakyat. Dan cara ini bisa dilakukan oleh penguasa atau pemerintah.

Demikian beberapa pelajaran penting dan faedah ilmiyah yang dapat kami simpulkan dari hadits ini. Semoga dapat dipahami dan menjadi ilmu yang bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-taufiq.

(Klaten, 8 Maret 2015)