Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Semangatlah Menghadiri Kajian Ilmiah…

Umar bin Khottob -rodhiallohu anhu-:

“Sungguh ada orang yg keluar dari rumahnya dg membawa dosa seperti Gunung Tihamah, maka ketika dia mendengar kajian ilmu, dia menjadi takut, kembali baik, dan bertaubat. Lalu orang itupun kembali ke rumahnya tanpa dosa sedikitpun.

Maka janganlah kalian menjauhi majlis-majlisnya para ulama!”.

[Miftahu daris sa’adah, Ibnul Qoyyim -rohimahulloh-, 1/122].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Kita Semua

Seorang bijak mengatakan:

Kita semua; manusia biasa di mata orang yang tidak kenal dengan kita..

Kita semua; manusia yang teperdaya di mata orang yang hasad kepada kita..

Kita semua; manusia hebat di mata orang yang memahami kita..

Kita semua; manusia istimewa di mata orang yang senang kepada kita..

Setiap orang memiliki pandangan masing-masing, maka jangan menyusahkan diri agar dipandang baik oleh orang lain.

CUKUPLAH BAGIMU RIDHA ALLAH, karena ridha seluruh manusia adalah tujuan yang tidak mungkin dicapai, sedang ridha Allah adalah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan.

Maka tinggalkan tujuan yang tidak mungkin dicapai, dan raihlah tujuan yang tidak boleh ditinggalkan..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Menggunakan Jasa Orang Dalam atau Calo…

Assalamu’alaikum. Afwan ustadz. Mau tanya bagaimana kalau kita mengurus kendaran seperti bayar pajak, ganti STNK dan ganti plat nomor kemudian kita minta diurusin sama orang dalam atau mungkin kasarnya calo, karena ada salah satu syarat yang kurang, apabila pulang lagi tidak memungkinkan karena jarak rumah sangat jauh dan disitu ada tambahan biaya. Bagaimana dengan sikap ana, ana merasa tidak tenang dengan kejadian ini, dan kalau itu dosa bagaimana cara bertobatnya. Syukron.

Jawab:

Waalaikumussalam warohmatulloh.

Kalau calonya orang dalam dan kita memberi imbalan atas bantuannya itu, maka ini tidak boleh, karena masuk dalam hadits Nabi shallallahu alaihi wasallam, “hadiah yang diberikan kepada pekerja adalah harta ghulul (yang diharamkan).”

Kalau calonya orang luar, dan secara aturan tidak melanggar, maka hal itu tidak mengapa, karena itu dia ambil dari jerih payah dia membantu kita, wallohu a’lam.

Mengapa dibedakan antara orang dalam dengan orang luar padahal dua-duanya membantu kita?

Ada dua alasan:

Pertama, karena orang dalam (pegawai), sudah mendapatkan gaji dari atasannya dari layanan yang dia berikan, sehingga kalau dia mengambil dari orang lain, maka berarti dia mengambil dua imbalan dari satu pekerjaan.

Kedua, karena dengan perbuatan orang dalam mengambil upah, maka itu akan mempengaruhi pelayanan dia kepada orang yang tidak memberinya upah, dan ini kezaliman.

Kalau sudah terlanjur memakai orang dalam dan memberinya upah, maka banyaklah beristighfar dan bertobatlah dari perbuatan itu.. Dan jangan diulangi lagi, wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat.

Musyaffa’ Ad Dariny, حفظه الله

Pilihan Ada Di Depanmu

Pilihan ada di depanmu.. Silahkan memilih.. Tapi ingat konsekuensinya.. Harus tanggung-jawab.

=====

Allah ta’ala telah berfirman:

{أَفَمَن يُلْقَىٰ فِي النَّارِ خَيْرٌ أَم مَّن يَأْتِي آمِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۚ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ ۖ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ} [فصلت : 40]

“Apakah orang yang dilemparkan ke neraka itu lebih baik, ataukah orang yang datang pada hari kiamat dengan aman sentosa ?! Lakukanlah apa saja yang kalian kehendaki, karena sesungguhnya Dia maha melihat..” [Fush-shilat: 40].

Dalam ayat lain Allah juga berfirman:

{فَمَن شَاءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَاءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّا أَعْتَدْنَا لِلظَّالِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا} [الكهف : 29]

“Siapa yang ingin, silahkan (memilih) beriman, dan siapa yang ingin, silahkan (memilih) kafir! Sungguh Kami telah persiapkan bagi orang-orang yang zalim itu api neraka yang gejolaknya menyelimuti mereka..” [Al-Kahfi:29].

Setiap pilihan kita akan punya konsekuensi..
Memilih yang baik, konsekuensinya akan baik..
Memilih yang buruk, konsekuensinya juga akan buruk..
Dan semuanya akan kembali kepada diri kita sendiri.

Allah ta’ala berfirman:

{مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ أَسَاءَ فَعَلَيْهَا ۗ وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ} [فصلت : 46]

“Siapa yang beramal saleh, maka itu untuk kebaikan dirinya sendiri. (Sebaliknya) siapa yang beramal kemaksiatan, maka keburukannya akan ditimpakan kepada dirinya sendiri pula. Dan Robbmu tidaklah menzalimi para hamba-Nya..” [Fush-shilat:46]

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Obral Gelar Keagamaan SYEIKH, IMAM, dan SYAHID…

“Sangat disayangkan, bahwa julukan SYAHID sekarang menjadi murah, sebagaimana (murahnya) julukan SYEIKH, makanya kamu dapati orang yang tidak tahu beda antara “ku'” dengan “kursu'” nya saja disebut syeikh.

(ku’ = lengan, kursu’ = tulang luar pergelangan tangan)

Kita juga dapati orang yang duduk di majlis orang awam, kemudian dia berdiri, berbicara dengan fasih, jelas, dan dengan keberanian tinggi, orang-orang akan mengatakan: ini orang ALIM, ini orang hebat yang tiada duanya, bahkan dia menjadi SYEIKHnya para SYEIKH* menurut mereka.

Demikian pula julukan IMAM, sekarang menjadi ringan disematkan, makanya jika ada orang menulis kitab ringkas yang biasa saja dan ringan sekali, orang-orang mengatakan: ini imam, padahal seorang imam itu harusnya seorang yang hebat, ulama besar, dan memiliki pengikut… Kita tidak boleh memberikan sifat untuk seseorang dengan sifat yang tidak pantas dia sandang, karena dalam tindakan itu ada nilai dustanya.”

[Sy. Utsaimin -rohimahulloh- dalam Syarah Akidah Ahlussunnah wal jama’ah, hal: 432-433].

——–

Lihatlah di sekitar Anda, dengan mudah orang memanggil orang lain dengan panggilan ustadz, kyai, wali, dst.. Semoga kita bisa lebih hati-hati dalam hal ini.

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Patokan Dalam Meluruskan Shaf Shalat

Pertanyaan: Apakah berbaris dan meluruskan shaf di dalam shalat itu dengan mata kaki ataukah dengan ujung-ujung jari..?

Jawaban: Meluruskan shaf itu (patokannya) dengan mata kaki bukan dengan jari-jari kaki, karena mata kaki itulah tumpuan badan; karena dia di bawah betis, dan betis itu tumpuan paha, lalu paha itu tumpuan badan.

Adapun jari-jemari kaki, bisa jadi kaki seseorang panjang, sehingga jari-jemarinya lebih menjorok ke depan daripada jari-jemari orang yang di depannya. Sebaliknya bisa jadi jari-jemarinya pendek. Dan perbedaan ini tidak menjadi masalah (bila yang menjadi patokan dalam meluruskan shaf adalah mata kaki).

Meluruskan shaf itu bukan dengan jari jemari kaki, tapi dengan mata kaki, saya ulang-ulang hal ini, karena saya melihat banyak orang menjadikan patokan dalam meluruskan shaf adalah ujung jari-jemarinya, dan ini adalah kesalahan.

[Majmu’ Fatawa Syeikh Utsaimin 13/54]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA,  حفظه الله تعالى

Yang Seharusnya Kita Lakukan Ketika Orang Dekat Kita Sedang Marah

Ibnul Jauzi -rohimahulloh- mengatakan:

“Jika kau melihat temanmu marah dan mulai mengatakan sesuatu yang tidak pantas, maka hendaknya jangan kau pedulikan sama sekali perkataannya… karena keadaannya itu seperti keadaannya orang yang sedang mabuk, dia tidak tahu apa yang sedang terjadi.

Tapi sabarlah ketika itu, jangan kau layani dia, karena setan telah mengalahkannya, tabi’atnya bergolak, dan akalnya sudah tertutupi.

Oleh karena itu ketika kamu melayaninya, atau bereaksi melawannya; kamu seperti orang waras yang melayani orang gila, atau seperti orang sadar yang memaki orang pingsan, sehingga kamu yang pantas dicela.

Tapi lihatlah dia dengan mata kasih sayang… dan ketahuilah bahwa bila dia sadar, pasti akan menyesali apa yang terjadi, dan mengakui jasamu dalam kesabaranmu… setidaknya kamu terima perlakuannya ketika dia marah hingga dia tenang.

Keadaan ini hendaknya diperhatikan oleh seorang ANAK ketika orang tuanya marah, begitu pula seorang ISTERI ketika suaminya marah, hendaknya dia membiarkannya puas dengan apa yang dikatakannya dan tidak melayaninya, maka dia akan kembali sendiri dengan rasa menyesal dan meminta maaf.

Ketika keadaan marah dan perkataannya dilawan, tentu permusuhan akan semakin jadi, dan saat dia sadar akan melakukan tindakan yang melampui tindakannya saat sedang ‘mabuk’.

Tapi, kebanyakan orang mengambil selain langkah ini; ketika mereka melihat orang marah, mereka melawan perkataan dan perbuatannya, padahal ini bukan tindakan yang tepat, namun tindakan yang tepat adalah apa yang kusebutkan tadi, dan tidaklah ada yang memahami hal ini, melainkan mereka yang berilmu.

[Kitab Shoidul Khothir, hal: 296].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Isro’ dan Mi’roj, Adakah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam Dan Para Sahabat Beliau Merayakannya…?!

Sy. Utsaimin rahimahullah mengatakan:
Adapun malam 27 Rajab, memang orang-orang menganggap bahwa itu malam diangkatnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk menghadap Allah azza wajall.

Namun data ini tidak valid secara historis, dan semua yang tidak valid itu batil, dan apapun yang dibangun di atas kebatilan adalah batil.

Kemudian, seandainya kita katakan data itu valid, maka tetap saja tidak boleh (bagi siapapun) membuat-buat syiar perayaan atau bentuk ibadah apapun di malam itu, karena hal itu tidak pernah datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam.

Jika hal tersebut (perayaan dan ritual ibadah) tidak pernah datang dari beliau sebagai pelaku peristiwa isro’ mi’roj, dan tidak pernah datang pula dari para sahabat beliau, yang mereka adalah orang-orang terdekat beliau, dan orang-orang yang paling semangat mengikuti sunnah dan syariat beliau, maka bagaimana dibolehkan bagi kita membuat-buat sesuatu yang tidak pernah dilakukan di zaman beliau dan para sahabat beliau?!
[Fatawa Nurun Alad Darb 1/582].

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى

Ingat .. Engkau Hanya Seorang HAMBA

1. Seringkali kita menginginkan sesuatu, namun kita tidak berhasil meraihnya, padahal sudah banyak berkorban dan banting tulang dalam mengusahakannya.

Wajar jika kecewa, tapi jangan larut di dalamnya, sadarlah bahwa kita hanya seorang hamba.. Allah-lah Raja, penentu segalanya.. Mungkin Raja ingin agar kita ingat, tidak sombong dan durhaka.

2. Kita juga sering merasa telah banyak berdo’a, tapi mengapa tidak diijabah, padahal Dia sangat pemurah, dan hal itu juga sangat mudah bagi-Nya.

Ingatlah bahwa Anda seorang hamba.. Keputusan bukan di tangan Anda.. Kedepankan husnuzhon (berbaik sangka)..
* mungkin Allah ingin agar engkau banyak berdo’a, sehingga banyak mendapat pahala..
* mungkin nikmat yang kau harapkan belum pantas engkau dapatkan..
* mungkin sikonnya belum tepat bagimu..
* mungkin nikmat itu menimbulkan mudhorot yang lebih besar bagimu.. dan masih banyak kemungkinan lainnya..

Teruslah berdo’a, dan yakinlah bahwa Dia pasti nanti mengabulkannya.. Tanamkan keyakinan, bahwa Allah tidaklah menangguhkannya melainkan untuk kebaikanmu.

3. Sering pula lewat di benak kita.. Mengapa si fulan mendapatkan nikmat itu, padahal aku lebih berhak mendapatkannya

Ingatlah bahwa Anda seorang hamba.. dunia ini bukan milik Anda, sehingga tidak mungkin selalu sesuai harapan.. Ingatkan diri, bahwa semua itu karunia dari Allah, Dia bebas memberikannya kepada pilihan-Nya.. dan Dia yang Maha Tahu siapa yang lebih pantas menerima karunia itu.

Jika semua yang kita harapkan harus tercapai, lalu apa bedanya surga dengan dunia.. Tidak ingatkah engkau, bahwa dunia ini adalah tempat hukuman leluhurmu Adam ‘alayhissalam, bahwa dunia ini penjara bagi seorang mukmin, bahwa dunia ini tempat ujian dan cobaan.

Oleh karena itu, jalanilah hidup dengan hati tenang dan lapang.. teruslah berusaha sebaik mungkin.. dan nikmatilah proses usahamu dan rasa lelahmu.. Allah sangat mampu menjadikan nikmatmu pada proses usahamu mencapai tujuan.

Dan harapkanlah pahala dari setiap gerak langkahmu.. Agar engkau tidak merasa rugi, karena di sisi Allah tidak akan ada yang sia-sia.. Bahkan pahala di akherat, pasti akan lebih membahagiakan kita nantinya.

Di dunia, kita hanya sebentar dan sementara.. Dunia hanyalah proses yang engkau jalani menuju akheratmu.. Waktu akan terus berjalan membawamu menuju akhir kehidupan.. Jangan terlena dengan dunia, carilah celah untuk memanfaatkannya dalam beribadah kepada-Nya.

Ya Allah.. karuniakanlah kepada kami kehidupan yang berkah dan kematian yang husnul khotimah..

Dítulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Diantara Tanda MUNAFIK = Memilih Pemimpin KAFIR

** Jangan gitu dong, halus dikitlah… siapa yang bilang seperti itu ?

## Mohon maaf, saya hanya menyampaikan FIRMAN ALLAH, bukan perkataan manusia. Dia telah berfirman:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا (*) الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

“Berilah kabar gembira kepada orang-orang MUNAFIK, bahwa bagi mereka adzab yang pedih.

Yaitu: mereka yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin, meninggalkan kaum mukminin.

Apakah mereka menginginkan kemuliaan di sisi orang-orang kafir itu?! Maka sungguh seluruh kemuliaan itu milik Allah”. [Annisa: 138-139].

** Ngaco kamu… Itu paling penafsiranmu saja!!

## Kalau ga percaya, silahkan baca tafsirnya Imamnya para ahli tafsir At-Thabari (9/813), begitu tafsir Al-Baghowi (2/300), dan tafsir Fathul Qodir (1/606).

** O.. berarti memang seperti itu ya.. makasih ya, udah diingatkan…

Musyaffa’ Ad Dariny,  حفظه الله تعالى