Category Archives: Musyaffa’ Ad Dariny

Hati Yang Bening

Suatu ibadah yang sangat bernilai di sisi Allah, tapi sedikit wujudnya di tengah-tengah manusia… Dialah “hati yang bening”.

Sebagian dari mereka ada yang mengatakan, “Setiap kali aku melewati rumah seorang muslim yang megah, aku mendo’akannya agar diberkahi..”

Sebagian lagi berkata, “Setiapkali kulihat kenikmatan pada seorang Muslim (mobil, proyek, pabrik, istri sholihah, keturunan yang baik), aku mendo’akan: “Ya Allah, jadikanlah kenikmatan itu penolong baginya untuk taat kepada-Mu dan berikanlah keberkahan kepadanya..”

Ada juga dari mereka yang mengatakan, “Setiapkali kulihat seorang Muslim berjalan bersama istrinya, aku berdo’a kepada Allah, semoga Dia menyatukan hati keduanya di atas ketaatan kepada Allah..”

Ada lagi yang mengatakan, “Setiapkali aku berpapasan dengan pelaku maksiat, kudo’akan dia agar mendapat hidayah..”

Yang lain lagi mengatakan, “Aku selalu berdo’a semoga Allah memberikan hidayah kepada hati manusia seluruhnya, sehingga leher mereka terbebas (dari neraka), begitu pula wajah mereka diharamkan dari api neraka..”

Yang lainnya lagi mengatakan: “Setiapkali hendak tidur, aku berdo’a: ‘Ya Robb-ku, siapapun dari kaum Muslimin yang berbuat zholim kepadaku, sungguh aku telah memaafkannya, oleh karena itu, maafkanlah dia, karena diriku terlalu hina untuk menjadi sebab disiksanya seorang muslim di neraka..”

Itulah hati-hati yang bening. Alangkah perlunya kita kepada hati-hati yang seperti itu..

Ya Allah, jangan halangi kami untuk memiliki hati seperti ini, karena hati yang jernih adalah penyebab kami masuk surga..

Suatu malam, Hasan Bashri rohimahullah berdo’a, “Ya Allah, maafkanlah siapa saja yang men-zholimiku”… dan ia terus memperbanyak do’a itu..!

Maka ada seseorang yang bertanya kepadanya, “Wahai Abu Sai’d… Sungguh, malam ini aku mendengar engkau berdo’a untuk kebaikan orang yang men-zholimimu, sehingga aku berangan-angan, andai saja aku termasuk orang yang men-zholimimu, maka apakah yang membuatmu melakukannya..?

Beliau menjawab: “Firman Allah (yang artinya):

“Barangsiapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya kembali kepada Allah..” [Q.S. Asy-Syuuro: 40]

[Kitab Syarah Shohih Bukhori, karya Ibnu Baththol, 6/575-576]

Sungguh, itulah hati yang dijadikan sholih dan dibina oleh para pendidik dan para guru dengan berlandaskan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Maka, selamat atas surga yang didapatkan oleh mereka..

Janganlah engkau bersedih meratapi kebaikanmu. Sebab jika di dunia ini tidak ada yang menghargainya, yakinlah bahwa di langit ada yang memberkahinya..

Hidup kita ini bagai bunga mawar. Padanya terdapat keindahan yang membuat kita bahagia, namun padanya juga terdapat duri yang menyakiti kita..

Apapun yang ditakdirkan menjadi milikmu akan mendatangimu walaupun engkau lemah..!

Sebaliknya apapun yang tidak ditakdirkan menjadi milikmu, engkau tidak akan dapat meraihnya, bagaimanapun kekuatanmu..!

Segala puji bagi Allah atas segala nikmat, karunia, dan kebaikan-Nya. Semoga Allah menjadikan hari-harimu bahagia dengan segala kebaikan dan keberkahan..

[Terjemahan dari status berbahasa arab].

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Musyaffa Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى.

Obat Ampuh Bagi Yang Malas Muroja’ah Hapalan Alqur’annya

Bagi Anda yang sudah hapal Alqur’an, baik hapal semuanya atau SEBAGIANNYA.. Mungkin ada yang malas muroja’ah atau menjaga hapalannya.. Jika rasa malas itu menghinggapi Anda, maka ingatlah sabda Nabi -shollallohu alaihi wasallam-:

“Bahwa nanti (di surga) dikatakan kepada orang yang mempunyai (hapalan) Qur’an “Bacalah, dan naiklah..!

Bacalah secara tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil ketika di dunia.

Karena tingkatanmu (di surga) adalah di akhir ayat yang bisa engkau baca..” [HR. Abu Dawud: 1464, derajat: hasan shohih].

———

Bagi yang hapalan Qur’an nya sedikit, maka giatlah dalam menambah hapalan.. dan bagi yang sudah hapal semuanya, maka giatlah dalam menjaga hapalannya.. karena itu akan menjadi penentu tingkatan Anda di surga kelak.

Semoga Allah memberikan taufiq kepada kita semua, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Utarakanlah RASA CINTA Anda Kepada Orang Yang Anda Nasehati…

Ustadz Musyaffa Ad Dariny, حفظه الله تعالى

Utarakanlah RASA CINTA Anda kepada orang yang Anda nasehati… karena itu akan lebih memudahkan hatinya terbuka menerima nasehat Anda.

======

Cobalah Anda renungkan hadits mulia yang sangat inspiratif berikut ini, Nabi -shollallohu alaihi wasallam- suatu hari memegang tangan Mu’adz dan mengatakan:

“Wahai Mu’adz, demi Allah sungguh aku benar-benar mencintaimu, demi Allah sungguh aku benar-benar mencintaimu”… kemudian beliau mengatakan: “Aku BERWASIAT kepada wahai Mu’adz, janganlah engkau sekali-kali meninggalkan di penghujung setiap sholat untuk mengucapkan:

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, bantulah aku dalam berdzikir mengingatMu, mensyukuriMu, dan membaikkan ibadah kepadaMu”. [HR. Abu Dawud: 1522, dishahihkan oleh Syaikh Albani].

Subhanallah… cobalah Anda renungkan beberapa hal berikut ini:

1. Beliau adalah seorang Nabi dan Rosul -shollallohu alaihi wasallam-, namun tidak gengsi untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada sahabatnya Mu’adz.

2. Beliau memberikan penegasan dalam ungkapan cinta tersebut dengan empat penegasan, yaitu: dengan sumpah “demi Allah”, “sesungguhnya aku”, “benar-benar”, dan beliau mengulangi 3 kalimat itu sebanyak dua kali… Ini menunjukkan bahwa beliau tidak main-main dalam mengungkapkan kecintaannya kepada sahabatnya tersebut.

3. Bayangkanlah bagaimana usaha beliau menyampaikan kebaikan kepada Sahabat Mu’adz, beliau memegang tangannya tanda keakraban, menyatakan kecintaannya kepadanya dengan sungguh-sungguh, dan memilih kata “berwasiat” untuk mengungkapkan makna berpesan, agar pengaruhnya lebih mengena dan menancap di hati Sahabat Mu’adz.

Oleh karenanya, hendaknya para da’i yang mengajak kepada Allah juga meneladani ini, sehingga dakwahnya mudah diterima, atau bahkan mereka tertawan hatinya untuk menerima dakwah Sunnah yang dibawa… wallohu a’lam.

Semoga bermanfaat…

 

Ambillah Pelajaran Dari Perjalanan Hidup Ini

Saat umurku 4 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat..”

Saat umurku 6 th: “Ayahku tahu semua orang..”

Saat umurku 10 th: “Ayahku istimewa, tapi cepet marah..”

Saat umurku 12 th: “Ayahku dulu penyayang, ketika aku masih kecil..”

Saat umurku 14 th: “Ayahku mulai lebih sensitif..”

Saat umurku 16 th: “Ayahku tidak mungkin mengikuti zaman ini..”

Saat umurku 18 th: “Ayahku seiring berjalannya waktu akan menjadi lebih susah..”

Saat umurku 20 th: “Sulit sekali aku memaafkan ayahku, aku heran bagaimana ibuku bisa tahan hidup dengannya..”

Saat umurku 25 th: “Ayahku menentang semua yang ingin ku lakukan..”

Saat umurku 30 th: “Susah sekali aku setuju dengan ayah, mungkin saja kakekku dulu capek ketika ayahku muda..

Saat umurku 40 th: “Ayahku telah mendidikku dalam kehidupan ini dengan banyak aturan, dan aku harus melakukan hal yang sama..”

Saat umurku 45 th: “Aku bingung, bagaimana ayahku dulu mampu mendidik kami semua..?”

Saat umurku 50 th: “Memang susah mengatur anak-anak, bagaimana capeknya ayahku dulu dalam mendidik kita dan menjaga kita..?”

Saat umurku 55 th: “Ayahku dulu punya pandangan yang jauh, dan telah merencanakan banyak hal untuk kita, ayah memang orang yang istimewa dan penyayang..”

Saat umurku 60 th: “Ayahku adalah orang yang paling hebat..”

Lingkaran perjalanan ini menghabiskan waktu 56 tahun untuk kembali ke titik semula di umur 4 th, saat ku katakan “Ayahku adalah orang yang paling hebat..”

====================

Maka hendaklah kita berbakti kepada orangtua kita sebelum kesempatan itu hilang, dan hendaklah kita berdo’a kepada Allah agar menjadikan anak-anak kita lebih baik dalam bermu’amalah dengan kita melebihi mu’amalah kita dengan orangtua kita.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya):
“Tuhanmu telah memerintahkan agar kalian jangan menyembah selain Dia, dan hendaklah kalian berbuat baik pada ibu bapak dengan sebaik-baiknya..

Jika salah seorang dari keduanya atau kedua-duanya telah sampai usia lanjut di sisimu, maka janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah”, dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia..

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang, dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, sayangilah keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil..” [Al-Isro’: 23-24].

Ini adalah risalah dari seseorang yang telah menjalani semua perjalanan hidup di atas, maka aku senang meringkasnya untuk diambil ibrah dan pelajaran.

Ya Allah ampunilah kami dan orangtua kami serta siapapun yang berjasa kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami semua Surga Firdaus-Mu..

Ditulis oleh,
Ustadz  Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

RAHASIAKANLAH Rencana Anda

Rahasiakanlah rencana Anda, agar anda sukses dalam menggapainya.

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah bersabda:

استعينوا على إنجاح الحوائج بالكتمان ، فإن كل ذي نعمة محسود

“Bantulah KESUKSESAN hajat-hajat kalian dengan MERAHASIAKANNYA, karena setiap orang yang memiliki nikmat itu akan menjadi sasaran HASAD orang lain..” [Silsilah Shohihah: 1453]

Oleh karena itulah, seringkali rencana kita gagal atau mengalami banyak hambatan ketika beritanya mulai tersebar.

Wallahu a’lam..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Indahnya Tabir Allah Yang Menyelimuti Dirimu

Pujian manusia kepadamu, menunjukkan betapa indahnya tabir Allah yang menyelimuti dirimu.

Seandainya mereka tahu hakekat dirimu, tentu banyak dari mereka yang menyesal dengan pujiannya kepadamu.

Ingatlah selalu,

Pujian manusia tidak akan mengangkat sedikitpun derajatmu di mata Allah.. sebagaimana celaan mereka sama sekali tidak akan menurunkan kedudukanmu di sisi-Nya.

Baik pujian maupun celaan tidak akan mengubah hakekat dirimu.. Oleh karenanya, janganlah terkecoh dengan pujian manusia.. dan jangan pula terganggu dengan celaan mereka.

Bila seseorang telah menerapkan pola pikir ini, maka ikhlas akan sangat mudah terwujud di hatinya..

Sungguh hanya Allah yang dapat mendatangkan manfaat dan mudhorot, maka harusnya hanya kepadaNya kita menghadap dan mengharap.

Semoga bermanfaat..

Ditulis oleh,
Ustadz Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى