Category Archives: BBG Kajian

Dua Perkara Penting Untuk Dipahami Ketika Berdo’a

Bedakan antara berdo’a agar diberikan sesuatu dengan SEGERA, dengan sikap TERGESA-GESA dalam do’a.

=======

a. Berdo’a agar diberikan sesuatu dengan segera dibolehkan, karena disebutkan dalam do’a Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- ketika meminta hujan (istisqo’):

اللهم اسقنا غيثا مغيثا، مريئا مريعا، نافعا غير ضار، عاجلا غير آجل

Ya Allah, turunkanlah kepada kami hujan yang memberikan pertolongan, hujan yang baik dan menyuburkan, hujan yang membawa manfaat dan tidak membawa mudorot; yang Engkau SEGERAKAN datangnya dan tidak Engkau tunda (HR. Abu Dawud 1169, shohih)

Ini dibolehkan karena masuk dalam sikap berharap akan kemurahan Allah ta’ala, dan itu bukan termasuk sikap tergesa-gesa dalam do’a yang dicela.

b. Adapun tergesa-gesa dalam do’a yang tercela adalah merasa :
– do’a lambat dikabulkan,
– tidak senang kepada Allah (atas belum dikabulkannya do’a),
– meragukan kemurahan dan kedermawanan-Nya, serta
– mengeluh karena keinginan belum terwujud.

Dan Allah ‘Azza wa Jalla tidak meridhoi hati hamba-Nya yang beriman kepada-Nya menjadi sempit dan berputus asa karena hal itu.

Nabi -shollallahu ‘alaihi wasallam- telah bersabda,

لا يزَالُ يُسْتَجَابُ لِلعَبْدِ مَا لَم يدعُ بإِثمٍ، أَوْ قَطِيعةِ رَحِمٍ، مَا لَمْ يَسْتعْجِلْ قِيلَ: يَا رسُولَ اللَّهِ مَا الاسْتِعْجَالُ؟ قَالَ: يَقُولُ: قَدْ دعَوْتُ، وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَم أَرَ يَسْتَجِيبُ لي، فَيَسْتَحْسِرُ عِنْد ذَلِكَ، ويَدَعُ الدُّعَاءَ

“Do’a seorang hamba akan senantiasa dikabulkan, asalkan ia tidak berdo’a untuk suatu dosa atau untuk memutuskan hubungan kekerabatan, selama ia tidak tergesa-gesa..”

Ada yang bertanya: “Wahai Rosulullah, apa itu tergesa-gesa..?”

Beliau menjawab: “Yaitu ia mengatakan, ‘Aku sudah berdo’a dan berdo’a, namun aku tidak melihat (do’aku) dikabulkan..’ Maka ia pun merasa lemah (putus harapan) karenanya dan meninggalkan do’a..” (HR. Muslim 2735).

Semoga bisa dipahami dengan baik dan Allah berkahi, amin.


Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

=======
ARTIKEL TERKAIT

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A

Kepo

Ada orang Arab badui bertanya kepada Imam Asy Sya’biy rohimahullah, ‘apakah Iblis punya istri..?’

(Asy Sya’biy) : ‘punya..’

(Arab badui) : ‘mana dalilnya..?’

(Asy Sya’biy) : yaitu firman Allah, ‘apakah kamu menjadikan iblis dan keturunannya sebagai tandingan selain-Ku..?’ (Al Kahfi: 50)

(Arab badui) : ‘siapa nama istrinya..?’

(Asy Sya’bi) : ‘aku tidak menghadiri pernikahannya..’

(Siyar A’laam Nubala 4/312)


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Screenshot

Apakah Kalimat Yang Diucapkan Saat Marah Bisa Menjadi Do’a..?

simak audio penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini :

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

لَا تَدْعُوْا عَلَى أَنْفًسِكُمْ ، وَلَا تَدْعًوْا عَلَى أَوْلَادِكُمْ ، وَلَا تَدْعُوْا عَلَى خَدَمِكُمْ ، وَلَا تَدْعُوْا عَلَى أَمْوَالِكُمْ ، لَا تُوَافِقُوْا مِنَ اللهِ سَاعَةَ نَيْلٍ فِيْهَا عَطَاءٌ فَيُسْتَجَابَ لَكُمْ

– janganlah mendo’akan kejelekan bagi diri kalian,
– janganlah kalian mendo’akan kejelekan kepada anak-anak,
– janganlah mendo’akan kejelekan kepada pembantu kalian,
– janganlah pula mendo’akan kejelekan kepada harta-harta kalian.

Bisa jadi tatkala do’a kejelekan itu diucapkan, saat itu merupakan waktu dikabulkannya do’a oleh Allah.

(HR. Muslim no. 3009 dari sahabat mulia Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu)

Kedudukan Amalan “Mengajarkan Ilmu” Kepada Orang Lain

Sebagian orang enggan mengajarkan ilmu agama yang Allah titipkan kepadanya .. macem macem alasannya :
– aku bukan siapa siapa,
– belum pantas,
– dapat apa,
– dapat berapa,
– kecewa dengan manusia,
dan masih banyak lagi alasan lainnya.

Sungguh, alasan alasan itu hanya merugikan dirinya saja .. karena ilmu agama tidaklah membutuhkan dirinya, dia yang sangat membutuhkan pahala menyebarkan ilmu agama.

Lihatlah bagaimana kedudukan amalan mengajarkan ilmu agama ini di mata ulama besar dari generasi salaf Abdullah bin al Mubarak -rohimahullah-:

قيل لعبد الله بن المبارك : لو قيل لك لم يبق من عمرك إلا يوم، ما كنت صانعا؟ قال: كنت أعلم الناس

Abdullah bin al-Mubarak pernah ditanya, ‘Seandainya dikatakan kepadamu bahwa umurmu tinggal satu hari saja, apa yang akan engkau lakukan..?’

Beliau menjawab, ‘Aku akan mengajarkan ilmu kepada manusia..’

[Al-Madkhal Ilas Sunanil Kubra, hal: 473]

Kalau bukan karena besarnya pahala mengajarkan ilmu, tentu beliau tidak akan mengatakan seperti itu.

Ingat, mengajarkan ilmu tidak harus ada banyak ilmu dulu .. Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam telah bersabda (yang artinya): “sampaikan dariku walaupun hanya satu ayat..” [HR. Al Bukhari 3461].

Semoga Allah mudahkan bagi kita, dan Allah berkahi amalan kita, amin.


Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Masih Ulang Tahun..?

Ulang tahun .. disamping tidak pernah dicontohkan oleh para Nabi dan manusia manusia terbaik di ummat ini, kebahagiaan di dalamnya sangat tidak selaras dengan keadaan manusia yang sedih bila mendekati kematiannya.

Makna ini telah disinggung dalam bait syair berikut ini:

إنا لنفرح بالأيام نقطعُها 🔘 وكلُّ يومٍ مضى يُدني من الأجل
فاعمل لنفسكَ قبلَ الموتِ مُجتهدًا 🔘 فإنما الربحُ والخُسران في العملِ

sungguh kita bergembira dengan hari hari yang kita lalui..
padahal sebenarnya setiap hari yang berlalu mendekatkan kita kepada kematian..

maka bersungguh-sungguh lah dalam beramal untuk dirimu sebelum matimu..
karena sesungguhnya untung rugi yang sebenarnya hanyalah pada amalan..

Semoga Allah selalu menjaga kita dalam kebaikan .. dan mewafatkan dalam keadaan husnul khotimah, aamiin


Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mengapa Kita Harus Terus Bersholawat Untuk Rosulullah Shollallahu ‘Alayhi Wasallam..?

As-Sakhowi -rohimahullah- mengatakan,

“مِن أوجَبِ شُعَبِ الإيمان: الصلاةُ على النَّبِي ﷺ؛ مَحَبَّةً له، وأداءً لِحَقِّه، وَتَوْقِيراً له وتعظيماً. وَالمُوَاظَبَةُ عليها مِن باب أداءِ شُكْرِهِ ﷺ؛ وَشُكْرُهُ وَاجِبٌ، لِمَا عَظُمَ مِنْهُ مِنَ الإنعام، فإنَّهُ سبب نجاتِنا من الجَحِيم، ودخولِنا في دار النَّعِيم”.

Diantara cabang iman yang paling wajib adalah bersholawat kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, sebagai :
– bentuk cinta kepada beliau,
– menunaikan hak beliau,
– serta penghormatan dan pengagungan terhadap beliau.

Senantiasa bersholawat untuk beliau merupakan bentuk rasa syukur kepada beliau shollallahu ‘alayhi wasallam, dan bersyukur kepada beliau adalah kewajiban, karena begitu besarnya kebaikan yang beliau berikan. Beliaulah sebab selamatnya kita dari neraka, dan masuknya kita ke dalam (surga) negeri kenikmatan.

(Al-Qoulul Badi’ – hal 84)


Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bersahabatlah Dengannya

Ibnu Rojab rohimahullah berkata,

“Bersahabatlah dengan yang akan menemanimu..

Demi Allah yang beristiwa di atas ‘Arsy, tidak ada yang akan menemanimu di kuburmu kecuali satu teman saja yaitu amal sholehmu..

Maka perbaikilah persahabatanmu dengannya di dunia .. niscaya ia akan menjadi teman baikmu di dalam kubur..”

(Latho-if Al Ma’arif – 99)


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Berpikirlah Dengan Cerdas

Allah Ta’ala berfirman,

۞ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ (١٥)

“Wahai manusia! Kamulah yang memerlukan Allah; dan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu), dan Maha Terpuji..” (Qs Faatir ayat 15)

Jika kamu tinggalkan sholat..
Akan ada orang yang menegakkannya..

Jika kamu tinggalkan ketaatan..
Akan ada orang yang mentaati-Nya..

Allah tidak membutuhkan ketaatan kita..
Dan Allah pun tidak dirugikan oleh kemaksiatan kita..
Ketaatan itu untuk keuntungan kita sendiri..
Dan kerugian maksiat pun untuk diri kita sendiri..

Maka camkanlah..
Dan berpikirlah dengan cerdas kemana kita akan pergi..


Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى