Category Archives: BBG Kajian

Hati Yang Ridho Dengan Takdir

Syaikh Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Seorang insan apabila ridho dengan takdir maka ia akan beristirahat dari kesedihan..”

(Syarah Al Arba’in Annawawiyah)

Tidak ridho kepada takdir hanya akan menimbulkan kesedihan..
Hatipun menjadi galau..
Lalu berburuk sangka kepada Allah..
Dan menjauh dari-Nya..

Berbeda saat hati ridho dengan takdir..
Maka ia akan merasa tentram dan tenang..
Ia yakin bahwa itu semua kebaikan untuk dirinya..

✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Orang Yang Menghargai Waktu

Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“Aku menyaksikan banyak orang yang tidak mengenal makna kehidupan.
– Ada orang yang kebanyakan waktunya duduk di pinggir jalan melihat orang berlalu lalang.
– Diantara mereka ada yang sibuk bermain catur.
– Ada juga yang habis waktunya membicarakan penguasa dan harga barang yang mahal.

Maka aku sadar bahwa orang yang menghargai waktu hanya orang yang diberi oleh Allah taufik dan ilham..”

(Shoidul Khothir hal 24)

Ada yang habis waktunya untuk main game..
Ada yang habis waktunya untuk menonton film..
Ada yang habis waktunya untuk traveling..
Ada yang habis waktunya untuk hobi..
Seakan tujuan hidup di dunia untuk itu semua..

Sungguh bahagia orang menghabiskan waktunya dalam ketaatan..

✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Karakter Yang Buruk

Sufyan bin ‘Uyainah rohimahullah berkata,

“Diantara manusia ada orang yang apabila mendengar darimu 50 faedah, ia tidak ingat satu pun darinya. Namun, jika engkau melakukan satu kesalahan, ia akan mengingatnya dan menyebutkannya di majelis majelis..”

(Al ‘Uzlah – Al Khathabi)

Demikianlah karakter kaum yang buruk..
Hanya mengingat kesalahan walaupun sedikit dan membesar besarkannya..
Dan mengubur banyak kebaikan dan melupakannya..

Bagaikan wanita yang suaminya banyak berbuat baik kepadanya..
Namun hanya karena melihat sebuah kesalahan ia berkata, “Aku tak pernah melihatmu berbuat baik..”

✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Berburuk Sangka Kepada Allah Ta’ala

Imam Asy Syafi’i rohimahullah ditanya,

“Bagaimana bentuk buruk sangka kepada Allah..?” Beliau berkata, “Yaitu waswas selalu khawatir ditimpa musibah dan takut nikmatnya hilang .. semua itu bentuk su’uzhon kepada Ar Rohmaan Ar Rohiim..”

​Takut akan masa depan bukanlah sifat orang yang bertawakal kepada Allah..

Kewajiban hamba adalah menyerahkan urusannya kepada Allah..

Dan yakin bahwa Allah tidak akan menyia nyiakan hamba-Nya yang bertaqwa..

✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Dua Rukun Tawakal

Orang yang faham makna tawakal tidak perlu bertanya tentang ikhtiar karena rukun tawakal ada dua yaitu :

– ikhtiar, dan
– bersandar kepada Allah ‘Azza wajalla

Tawakkal tanpa ikhtiar bukanlah tawakal tapi malas..

Ikhtiar namun hati tidak bersandar kepada Allah Ta’ala adalah syirik..

Dan tawakal adalah ibadah yang sangat agung..
Diantara sifat orang yang masuk surga tanpa hisab dan adzab adalah hanya bertawakal kepada Allah ‘Azza wajalla..

Bukan kepada skill dan kemampuan diri..
Bukan kepada wali atau Nabi..
Bukan kepada pemimpin negara..

Namun kepada Allah ‘Azza wajalla penguasa alam semesta..

✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Akibat Dari Suka Mentertawakan Dan Mengejek Orang Lain

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Siapa yang mentertawakan orang maka ia akan ditertawakan lagi dan siapa yang mengejek perbuatan saudaranya maka biasanya ia jatuh kepada perbuatan tersebut..”

(Al Furuusiyah hal 446)

Seorang mukmin tidak pernah mentertawakan siapapun..
Namun ia mendo’akan hidayah dan kebaikan..

Tapi terkadang saat kita benci pada seseorang..
Kita suka menertawakan kesalahannya..

Akibatnya, Allah jerumuskan kita kepada kesalahan yang sama..
Sebagai balasan yang setimpal..

✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jangan Lakukan

Hudzaifah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

كل عبادة لا يتعبدها أصحاب محمد فلا تتعبدواها؛ فإن الأول لم يدع للآخر مقالاً، فاتقوا الله يا معشر القراء، وخذوا طريق من كان قبلكم

“Semua ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh para shahabat Muhammad shollallaahu ‘alayhi wasallam jangan kalian lakukan. Karena generasi pertama tidak meninggalkan maqol untuk generasi setelahnya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan ambillah jalan orang orang sebelum kalian.”

(Dikeluarkan oleh Ibnul Wadhoh dalam kitab Al Bida’, Ibnul Mubarok dalam kitab Az Zuhd)

Ini lah kaidah penting untuk kita perhatikan..
Karena para sahabat tidak pernah bertabarruk dengan kuburan..

Tidak juga menganggap bahwa berdo’a dikuburan itu mustajab..
Mereka tidak pernah tawassul dengan mayat..
Dan semua riwayat dari mereka yang menyebutkan itu adalah riwayat riwayat yang lemah dan palsu..

✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tidak Sama Nilai Sholawatnya

Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhohullahu Ta’ala menjelaskan,

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya..” (QS. Al-Ahzab: 56)

Sholawat yang diperintahkan kepada para hamba untuk diucapkan kepada Nabi yang mulia shollallaahu ‘alayhi wa sallam ini :

Pertama : Merupakan bentuk peneladanan dari seorang hamba kepada Robb semesta alam serta para malaikat-Nya yang mulia.

Kedua : Merupakan bentuk pembalasan jasa bagi Nabi yang mulia shollallaahu ‘alayhi wa sallam atas hak-hak beliau terhadap umatnya ‘alayhis sholaatu was salaam.

Ketiga : Setiap orang akan mendapatkan bagian dan kebaikan dari sholawatnya kepada Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam sesuai dengan kadar peneladanannya terhadap beliau ‘alaihis sholaatu was salaam, (serta) pengetahuannya tentang petunjuk, akhlak, serta sifat-sifat beliau.

Oleh karena itu, Imam Ibnul Qoyyim rohimahullaahu ta’ala memberikan peringatan berharga mengenai hal ini.

📌 Beliau menjelaskan bahwa sholawat seseorang kepada Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam akan semakin sempurna (bila diucapkan) oleh orang yang dikaruniai bashiiroh (pandangan mata hati) oleh Allah terhadap :
– petunjuk,
– akhlak, dan
– sifat-sifat Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam.

(Sholawat yang mereka ucapkan) jauh lebih agung nilainya daripada sholawat orang yang tidak memiliki pengetahuan (yang mendalam) tentang hal tersebut..”

Ahlul Qur’an

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah berkata,

Jangan biarkan fokus utama Anda saat membaca Al-Qur’an adalah, “Kapan saya akan menyelesaikan surah ini..?”

Sebaliknya, hendaknya fokus Anda saat membaca Al-Qur’an adalah :

● Kapan saya akan mendapat petunjuk dari Al-Qur’an..?

● Kapan saya akan mengambil manfaat dari Al-Qur’an..?

● Kapan saya akan menjadi bagian dari Ahlul Qur’an (orang-orang Al-Qur’an)—yaitu orang-orang pilihan Allah dan hamba-hamba istimewa-Nya..?

Dan Ahlul Qur’an itu bukanlah sekadar orang-orang yang menghafalnya tanpa pemahaman, atau yang sekadar membacanya tanpa perenungan.

📌 Melainkan, Ahlul Qur’an adalah mereka yang memahami firman Allah dan mengamalkan firman-Nya.

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka, mereka membacanya sebagaimana mestinya (sebenarnya membaca), mereka itulah yang beriman kepadanya..” (QS. Al-Baqarah: 121)

Mengenai kalimat “membacanya sebagaimana mestinya..”, Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa dan banyak mufasir lainnya menjelaskan bahwa maknanya adalah, mereka mengikutinya dengan sebenar-benarnya pengikutan.

Inilah arti dari “membacanya sebagaimana mestinya..”, yaitu mengikutinya dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Dengan inilah seseorang menjadi bagian dari Ahlul Qur’an melalui kitab yang agung ini.

Oleh karena itu, tilawah Al-Qur’an —Subhanallah— apabila disertai dengan perenungan, maka akan mendatangkan petunjuk (hidayah).

“Dan aku diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an. Maka barang siapa mendapat petunjuk, sesungguhnya dia mendapat petunjuk untuk kebaikan dirinya sendiri..” (QS. An-Naml: 92)

Membaca Al-Qur’an adalah pintu gerbang yang sangat besar menuju petunjuk, namun syaratnya harus disertai dengan :
– perenungan (taramul),
– penghayatan (tadabur),
– serta pemahaman yang mendalam atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tanda Tanda Orang Yang Banyak Mengingat Allah

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah mengatakan,

“Kapankah seorang hamba termasuk orang orang yang banyak mengingat Allah (banyak berdzikir)..?

Para ulama menyebutkan dalam hal ini bahwa STANDAR MINIMAL untuk mencapai hal tersebut adalah seorang Muslim senantiasa merutinkan dzikir dzikir yang terikat waktu dan kondisi (dzikir muqoyyad) :
● Pada awal siang (pagi hari) dan akhir siang (sore hari)
● Ketika akan tidur
● Di dalam dan setelah sholat
● Saat masuk dan keluar rumah
● Saat hendak makan
● Dan dzikir dzikir lainnya yang telah dijelaskan oleh para ulama serta dikumpulkan dalam kitab-kitab dzikir atau yang dikenal dengan amalan sehari semalam.

Disertai pula perhatian pada waktu waktu lainnya dengan menggerakkan lidah untuk berdzikir kepada Allah Tabaaroka wa Ta’ala, sehingga lidahmu senantiasa basah dengan mengingat Allah.

📌 Jika seorang hamba :
– memiliki sifat ini,
– senantiasa merutinkannya, dan
– menghadirkan hatinya sebisa dan semampunya,

maka dengan ini ia termasuk orang orang yang banyak mengingat Allah Jalla wa ‘Alaa.

Perhatikanlah perintah dalam ayat yang penuh berkah dari Surah Al-Ahzab ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, DZIKIR YANG SEBANYAK-BANYAKNYA..”

Perhatikan di sini, perintahnya bukan sekadar berdzikir, melainkan :
● perintah untuk banyak berdzikir kepada Allah Tabaaroka wa Ta’ala.

Allah berfirman selanjutnya, “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang..”

Di dalam (ayat ini) terdapat penegasan dan ajakan untuk memperhatikan dzikir pada dua ujung :
– setelah sholat shubuh dan
– di sore hari sebelum matahari terbenam.

Ini adalah dua waktu yang sangat utama.

Kemudian setelah itu, Allah menyebutkan balasan/pahala yang akan diperoleh bagi orang yang banyak berdzikir kepada Allah Tabaaroka wa Ta’ala. Dia berfirman, “Dialah yang memberi sholawat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya..”

Sholawat Allah kepada hamba-Nya adalah pujian-Nya bagi mereka di hadapan para malaikat-Nya di tempat yang tinggi. Ini adalah salah satu buah dari perhatian seorang Muslim terhadap dzikir kepada Allah.

Jika seorang Muslim banyak mengingat Robbnya, maka Allah Ta’ala akan mengingatnya di tempat yang tinggi. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala, “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu..”

Dan dalam Hadis Qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barangsiapa mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa mengingat-Ku di tengah keramaian/majelis, Aku akan mengingatnya di tengah majelis yang lebih baik dari mereka..”

Ini adalah buah yang sangat agung dari berdzikir, yaitu Allah Jalla wa ‘Alaa bersholawat kepadamu (mengingatmu di tempat yang tinggi) dan para malaikat bersholawat kepadamu. Sholawat para malaikat kepada orang orang beriman adalah do’a mereka untuk kebaikan, ampunan, dan rahmat bagi hamba tersebut.

Allah berfirman, “Dialah yang memberi sholawat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang orang yang beriman..”

======

KUMPULAN DO’A & DZIKIR yang bisa diamalkan setiap saat .. terutama di waktu waktu mustajab

https://bbg-alilmu.com/archives/73456