Category Archives: BBG Kajian

Akibat Dari Suka Mentertawakan Dan Mengejek Orang Lain

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Siapa yang mentertawakan orang maka ia akan ditertawakan lagi dan siapa yang mengejek perbuatan saudaranya maka biasanya ia jatuh kepada perbuatan tersebut..”

(Al Furuusiyah hal 446)

Seorang mukmin tidak pernah mentertawakan siapapun..
Namun ia mendo’akan hidayah dan kebaikan..

Tapi terkadang saat kita benci pada seseorang..
Kita suka menertawakan kesalahannya..

Akibatnya, Allah jerumuskan kita kepada kesalahan yang sama..
Sebagai balasan yang setimpal..

✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jangan Lakukan

Hudzaifah rodhiyallahu ‘anhu berkata,

كل عبادة لا يتعبدها أصحاب محمد فلا تتعبدواها؛ فإن الأول لم يدع للآخر مقالاً، فاتقوا الله يا معشر القراء، وخذوا طريق من كان قبلكم

“Semua ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh para shahabat Muhammad shollallaahu ‘alayhi wasallam jangan kalian lakukan. Karena generasi pertama tidak meninggalkan maqol untuk generasi setelahnya. Maka bertaqwalah kalian kepada Allah dan ambillah jalan orang orang sebelum kalian.”

(Dikeluarkan oleh Ibnul Wadhoh dalam kitab Al Bida’, Ibnul Mubarok dalam kitab Az Zuhd)

Ini lah kaidah penting untuk kita perhatikan..
Karena para sahabat tidak pernah bertabarruk dengan kuburan..

Tidak juga menganggap bahwa berdo’a dikuburan itu mustajab..
Mereka tidak pernah tawassul dengan mayat..
Dan semua riwayat dari mereka yang menyebutkan itu adalah riwayat riwayat yang lemah dan palsu..

✍
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Tidak Sama Nilai Sholawatnya

Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhohullahu Ta’ala menjelaskan,

Allah Ta’ala berfirman,

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bersholawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya..” (QS. Al-Ahzab: 56)

Sholawat yang diperintahkan kepada para hamba untuk diucapkan kepada Nabi yang mulia shollallaahu ‘alayhi wa sallam ini :

Pertama : Merupakan bentuk peneladanan dari seorang hamba kepada Robb semesta alam serta para malaikat-Nya yang mulia.

Kedua : Merupakan bentuk pembalasan jasa bagi Nabi yang mulia shollallaahu ‘alayhi wa sallam atas hak-hak beliau terhadap umatnya ‘alayhis sholaatu was salaam.

Ketiga : Setiap orang akan mendapatkan bagian dan kebaikan dari sholawatnya kepada Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam sesuai dengan kadar peneladanannya terhadap beliau ‘alaihis sholaatu was salaam, (serta) pengetahuannya tentang petunjuk, akhlak, serta sifat-sifat beliau.

Oleh karena itu, Imam Ibnul Qoyyim rohimahullaahu ta’ala memberikan peringatan berharga mengenai hal ini.

📌 Beliau menjelaskan bahwa sholawat seseorang kepada Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam akan semakin sempurna (bila diucapkan) oleh orang yang dikaruniai bashiiroh (pandangan mata hati) oleh Allah terhadap :
– petunjuk,
– akhlak, dan
– sifat-sifat Nabi shollallaahu ‘alayhi wa sallam.

(Sholawat yang mereka ucapkan) jauh lebih agung nilainya daripada sholawat orang yang tidak memiliki pengetahuan (yang mendalam) tentang hal tersebut..”

Ahlul Qur’an

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah berkata,

Jangan biarkan fokus utama Anda saat membaca Al-Qur’an adalah, “Kapan saya akan menyelesaikan surah ini..?”

Sebaliknya, hendaknya fokus Anda saat membaca Al-Qur’an adalah :

● Kapan saya akan mendapat petunjuk dari Al-Qur’an..?

● Kapan saya akan mengambil manfaat dari Al-Qur’an..?

● Kapan saya akan menjadi bagian dari Ahlul Qur’an (orang-orang Al-Qur’an)—yaitu orang-orang pilihan Allah dan hamba-hamba istimewa-Nya..?

Dan Ahlul Qur’an itu bukanlah sekadar orang-orang yang menghafalnya tanpa pemahaman, atau yang sekadar membacanya tanpa perenungan.

📌 Melainkan, Ahlul Qur’an adalah mereka yang memahami firman Allah dan mengamalkan firman-Nya.

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada mereka, mereka membacanya sebagaimana mestinya (sebenarnya membaca), mereka itulah yang beriman kepadanya..” (QS. Al-Baqarah: 121)

Mengenai kalimat “membacanya sebagaimana mestinya..”, Ibnu Abbas rodhiyallahu ‘anhumaa dan banyak mufasir lainnya menjelaskan bahwa maknanya adalah, mereka mengikutinya dengan sebenar-benarnya pengikutan.

Inilah arti dari “membacanya sebagaimana mestinya..”, yaitu mengikutinya dan mengamalkannya dengan sungguh-sungguh. Dengan inilah seseorang menjadi bagian dari Ahlul Qur’an melalui kitab yang agung ini.

Oleh karena itu, tilawah Al-Qur’an —Subhanallah— apabila disertai dengan perenungan, maka akan mendatangkan petunjuk (hidayah).

“Dan aku diperintahkan untuk membaca Al-Qur’an. Maka barang siapa mendapat petunjuk, sesungguhnya dia mendapat petunjuk untuk kebaikan dirinya sendiri..” (QS. An-Naml: 92)

Membaca Al-Qur’an adalah pintu gerbang yang sangat besar menuju petunjuk, namun syaratnya harus disertai dengan :
– perenungan (taramul),
– penghayatan (tadabur),
– serta pemahaman yang mendalam atas firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tanda Tanda Orang Yang Banyak Mengingat Allah

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah mengatakan,

“Kapankah seorang hamba termasuk orang orang yang banyak mengingat Allah (banyak berdzikir)..?

Para ulama menyebutkan dalam hal ini bahwa STANDAR MINIMAL untuk mencapai hal tersebut adalah seorang Muslim senantiasa merutinkan dzikir dzikir yang terikat waktu dan kondisi (dzikir muqoyyad) :
● Pada awal siang (pagi hari) dan akhir siang (sore hari)
● Ketika akan tidur
● Di dalam dan setelah sholat
● Saat masuk dan keluar rumah
● Saat hendak makan
● Dan dzikir dzikir lainnya yang telah dijelaskan oleh para ulama serta dikumpulkan dalam kitab-kitab dzikir atau yang dikenal dengan amalan sehari semalam.

Disertai pula perhatian pada waktu waktu lainnya dengan menggerakkan lidah untuk berdzikir kepada Allah Tabaaroka wa Ta’ala, sehingga lidahmu senantiasa basah dengan mengingat Allah.

📌 Jika seorang hamba :
– memiliki sifat ini,
– senantiasa merutinkannya, dan
– menghadirkan hatinya sebisa dan semampunya,

maka dengan ini ia termasuk orang orang yang banyak mengingat Allah Jalla wa ‘Alaa.

Perhatikanlah perintah dalam ayat yang penuh berkah dari Surah Al-Ahzab ini, Allah Ta’ala berfirman, “Wahai orang orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, DZIKIR YANG SEBANYAK-BANYAKNYA..”

Perhatikan di sini, perintahnya bukan sekadar berdzikir, melainkan :
● perintah untuk banyak berdzikir kepada Allah Tabaaroka wa Ta’ala.

Allah berfirman selanjutnya, “Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang..”

Di dalam (ayat ini) terdapat penegasan dan ajakan untuk memperhatikan dzikir pada dua ujung :
– setelah sholat shubuh dan
– di sore hari sebelum matahari terbenam.

Ini adalah dua waktu yang sangat utama.

Kemudian setelah itu, Allah menyebutkan balasan/pahala yang akan diperoleh bagi orang yang banyak berdzikir kepada Allah Tabaaroka wa Ta’ala. Dia berfirman, “Dialah yang memberi sholawat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya..”

Sholawat Allah kepada hamba-Nya adalah pujian-Nya bagi mereka di hadapan para malaikat-Nya di tempat yang tinggi. Ini adalah salah satu buah dari perhatian seorang Muslim terhadap dzikir kepada Allah.

Jika seorang Muslim banyak mengingat Robbnya, maka Allah Ta’ala akan mengingatnya di tempat yang tinggi. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta’ala, “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu..”

Dan dalam Hadis Qudsi, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barangsiapa mengingat-Ku dalam dirinya, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Dan barangsiapa mengingat-Ku di tengah keramaian/majelis, Aku akan mengingatnya di tengah majelis yang lebih baik dari mereka..”

Ini adalah buah yang sangat agung dari berdzikir, yaitu Allah Jalla wa ‘Alaa bersholawat kepadamu (mengingatmu di tempat yang tinggi) dan para malaikat bersholawat kepadamu. Sholawat para malaikat kepada orang orang beriman adalah do’a mereka untuk kebaikan, ampunan, dan rahmat bagi hamba tersebut.

Allah berfirman, “Dialah yang memberi sholawat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang orang yang beriman..”

======

KUMPULAN DO’A & DZIKIR yang bisa diamalkan setiap saat .. terutama di waktu waktu mustajab

https://bbg-alilmu.com/archives/73456

Tentang Maulid

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullahu Ta’ala menjelaskan,

“Orang-orang yang merayakan Maulid, mereka berkata, Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda, ‘Barangsiapa yang memulai sunnah yang baik (Sunnah Hasanah) dalam Islam..’

Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, Umar, Utsman, dan Ali -rodhiyallohu ‘anhum- .. Di manakah mereka dari sunnah yang baik ini..?! Yang kalian klaim bahwa itu adalah hal yang baik .. di manakah mereka (apakah mereka merayakannya)..?!

Padahal mereka adalah orang orang yang paling besar rasa cintanya dan paling semangat terhadap kebaikan dibanding kita. Paling besar rasa cintanya kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam dan paling semangat terhadap kebaikan dibanding kita.

Orang orang yang merayakan Maulid, begitu pula orang-orang yang tidak merayakannya, semuanya sepakat bahwa perayaan Maulid ini tidak ada pada zaman para sahabat. Tidak pernah ada pada zaman para sahabat.

Dan semuanya sepakat bahwa para sahabat itu lebih baik dari kita dalam hal ilmu, amal, dan ibadah.

Jika hal itu tidak ada pada zaman mereka -berdasarkan kesepakatan orang yang merayakannya maupun yang tidak merayakannya—dan para sahabat lebih baik serta lebih utama dari kita dalam hal ilmu dan amal -ini semua diakui oleh orang yang merayakan maupun yang tidak merayakan-..

Apakah tidak cukup bagi kita apa (amal baik) yang telah mencukupi Abu Bakar, Umar, Ali, Utsman, dan seluruh sahabat..?!

Mereka berkata, ‘Kami ingin mengungkapkan kegembiraan kami atas kelahiran beliau shollallahu ‘alayhi wasallam..’

– apakah engkau lebih semangat terhadap kegembiraan ini melebihi Abu Bakar..?!

– apakah engkau mengira bahwa engkau bisa mencapai rasa cinta yang lebih besar dari cintanya Abu Bakar..?! Atau kebaikan yang lebih besar dari kebaikannya, atau ilmu yang lebih besar dari ilmunya..?!

Yang mana Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam telah bersabda tentang beliau, bahwa beliau (Abu Bakar) adalah orang yang paling terdepan menuju kebaikan, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam. tidaklah ada suatu amalan kebaikan melainkan Abu Bakar telah mendahuluinya.

Maulid ini, jika itu adalah kebaikan, niscaya Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu telah mendahului kita melakukannya, karena beliau adalah orang yang selalu terdepan dalam setiap kebaikan.

Kalian mengatakan itu adalah sunnah yang baik (Sunnah Hasanah), sedangkan Abu Bakar tidak melakukannya, Umar tidak, Utsman tidak, dan Ali pun tidak. Maka ini adalah bid’ah yang sesat .. Perayaan Maulid ini adalah bid’ah yang sesat.

Hadits tersebut memiliki bagian lain yang juga mencakup perkara Maulid ini, yaitu sabda beliau, ‘dan barangsiapa yang memulai sunnah yang buruk dalam Islam..’

Di sinilah perayaan Maulid itu masuk, ‘barang siapa yang memulai sunnah yang buruk dalam Islam..’ .. di sinilah posisi perayaan Maulid tersebut..”

Kewajiban Menyampaikan Dakwah

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya),

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya..” (Qs. Al-Qasas: 56)

📌 Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani rohimahullah menjelaskan,

“Kita tidak dibebani kewajiban untuk memasukkan hidayah ke dalam hati manusia yang kita ajak kepada kebenaran .. melainkan kita hanya dibebani kewajiban untuk menyampaikan dakwah..”

(Silsilah al-Huda wan-Nuur no. 730)

Jangan Lewatkan Waktu Berdo’a Pada Jum’at Sore

Syaikh ‘Abdurrazzaq al-Badr hafizhohullahu Ta’ala menjelaskan,

“Dan waktu terakhir setelah ‘Ashar pada hari Jum’at — yaitu rentang waktu setelah ‘Ashar hingga terbenamnya matahari — dahulu sebagian ulama salaf, apabila mereka telah selesai melaksanakan sholat ‘Ashar pada hari Jum’at, mereka tetap berdiam di tempat sholatnya hingga waktu Maghrib.

Mereka berusaha mengejar dan mencari kesempatan di waktu tersebut (waktu dikabulkannya do’a). Mereka tidak keluar meninggalkan masjid agar tidak tersibukkan oleh berbagai urusan, pekerjaan, atau kepentingan duniawi, sehingga tidak terlewat kesempatan yang sangat berharga ini, yaitu waktu yang sangat diharapkan dikabulkannya do’a..”

Pintu Sedekah Sangatlah Luas

Syaikh Abdurrozzaq al-Badr hafizhohullah menjelaskan,

“Pintu sedekah itu sangat luas.

Bahkan disebutkan dalam sebagian hadits, hingga sesuap makanan yang ditaruh seseorang di mulut istrinya, ketika ia mencandainya dan bersenang-senang dengannya, lalu ia menyuapkan makanan ke mulut istrinya..

Niscaya hal itu dicatat baginya dalam timbangan kebaikannya sebagai sedekah dan pahala yang diberi balasan di sisi Allah.

Maka karunia Allah Subhanahu wa Ta’aala itu sangat luas.

Setiap pergerakan dan aktivitas manusia, jika ia niatkan karena mengharap pahala di sisi Allah, maka jadilah ia bergerak dalam sedekah-sedekah yang tak terbatas dan tak terhitung, serta pahala pahala yang tak terhitung banyaknya.

Oleh karena itu, hendaknya bagi seseorang —dan hal ini sudah pernah kita ingatkan sebelumnya— hendaknya bagi seseorang untuk mengharapkan pahala (ihtisab) di sisi Allah Subhanahu wa Ta’aala atas :

● Nafkah yang ia keluarkan untuk dirinya sendiri, baik pada makanan maupun minumannya.

● Nafkah yang ia keluarkan untuk anaknya.

● Nafkah yang ia keluarkan untuk istrinya.

● Ia mengharapkan pahala saat bercanda/bersenda gurau dengan anaknya dan saat mendidik mereka.

● Ia mengharapkan pahala saat bercanda dengan keluarganya.

Semua perbuatan yang baik, thoyyib (bagus), bermanfaat, dan berguna.. semuanya..

Jika ia niatkan mengharap pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’aala, maka akan dicatat baginya sebagai sedekah yang diberi balasan pahala di sisi Allah Tabaraka wa Ta’ala..”