Category Archives: BBG Kajian

Kaidah Ushul Fiqih Ke-27 : Ibadah Yang Mempunyai Beberapa Bentuk, Hendaknya…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-26) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 27 🍀

👉🏼   Ibadah yang mempunyai beberapa bentuk, hendaknya kita lakukan terkadang ini dan terkadang itu.

Ada beberapa ibadah yang mempunyai beberapa bentuk atau macam yang berasal dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
⚉    Contohnya do’a istiftah, bacaan ruku dan sujud, bacaan sholawat dan sebagainya.

Maka agar terpelihara semuanya, kita tidak melanggengkan satu bacaan, tapi kita baca terkadang ini dan terkadang itu.
Namun tidak disyariatkan membaca seluruhnya dalam satu sholat.
Kecuali bila ada dalil yang menunjukkan boleh membaca seluruhnya dalam satu waktu seperti do’a pagi dan petang.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:

https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Jika Kamu Tidak Mempedulikannya Tak Akan Membahayakanmu…

Syaikh Abdurrahman Assa’diy rahimahullah berkata:

ومن الأمور النافعة أن تعرف أن أذية الناس لك وخصوصاً في الأقوال السيئة، لا تضرك بل تضرهم، إلا إن أشغلت نفسك في الاهتمام بها، وسوغت لها أن تملك مشاعرك، فعند ذلك تضرك كما ضرتهم، فإن أنت لم تضع لها بالاً لم تضرك شيئاً.

“Diantara perkara yang bermanfa’at adalah kamu hendaknya mengetahui bahwa perbuatan buruk orang lain kepadamu terutama kata-kata yang menyakitkan sama sekali tidak membahayakanmu. Justru malah membahayakan mereka. Kecuali jika kamu sibuk memperhatikannya. Dan perasaanmu terbawa oleh cercaan tersebut. Di saat itu ia akan membahayakanmu sebagaimana membahayakan mereka. Tapi jika kamu tidak mempedulikannya tak akan membahayakanmu.”

(Al wasail al mufidah hal. 30)

Diterjemahkan oleh:
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Bagian Dari Kesabaran…

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah berkata,

“Tiga perkara yang merupakan bagian dari kesabaran:

1. Engkau tidak menceritakan musibah yang tengah menimpamu
2. Tidak pula sakit yang engkau derita
3. Serta tidak merekomendasikan dirimu sendiri.

(Mawa’izh Al-Imam Sufyan Ats-Tsauri, hal. 81)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Tanda Kebesaran Cinta…

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah mengatakan:

“Tanda kebenaran cinta itu ialah apabila seseorang dihadapkan kepadanya dua perkara, salah satunya dicintai Allah dan Rasul-Nya sementara di dalam dirinya tidak ada keinginan (nafsu) untuk itu, sedangkan perkara yang lain adalah sesuatu yang disukai dan diinginkan oleh nafsunya akan tetapi hal itu akan menghilangkan atau mengurangi perkara yang dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Apabila ternyata dia lebih memprioritaskan apa yang diinginkan oleh nafsunya di atas apa yang dicintai Allah ini berarti dia telah berbuat zalim dan meninggalkan kewajiban yang seharusnya dilakukannya.”

(Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 332)

Courtesy of Mutiara Risalah Islam

Kaidah Ushul Fiqih Ke-26 : Perbedaan Hukum Perintah Terkait Pelakunya Atau Perbuatannya…

Pembahasan ini merujuk kepada kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-25) bisa di baca di SINI

=======

🍀 Kaidah yang ke 26 🍀

👉🏼   Perintah apabila yang dimaksud darinya pelakunya, maka perintah itu hukumnya FARDHU ‘AIN  (*).
.
👉🏼   Dan apabila yang dimaksud perbuatannya, maka perintah itu hukumnya FARDHU KIFAYAH  (**).

Ini adalah kaidah untuk membedakan antara perintah yang bersifat fardhu ‘ain dan perintah yang bersifat fardhu kifayah.

Bila yang dimaksud adalah pelakunya maka fardhu ‘ain.
⚉    contohnya perintah untuk sholat, zakat, puasa, haji, dan sebagainya.

Bila yang dimaksud perbuatannya maka fardhu kifayah.
⚉    contohnya adalah adzan, bila ada satu orang adzan, maka itu sudah terhasilkan. Maka itu mencukupi.
⚉    contohnya lagi menyelenggarakan pengurusan jenazah. tidak wajib setiap orang mengurus jenazah.
.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
.
(*) Fardhu ‘ain (kewajiban perorangan). Fardhu ain artinya kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap individu Muslim yang telah memenuhi sarat dan tidak bisa di wakili / di ganti orang lain, misalnya shalat lima waktu, hijab, zakat, puasa dan pergi haji ke Mekkah sekali seumur hidup.

.
(**) Fardhu Kifayah. Fardhu kifayah artinya kewajiban yang dibebankan pada seluruh ummat. Seseorang tidak diwajibkan melaksanakan suatu tugas jika ada cukup orang dalam kelompok masyarakat telah memenuhinya. Contohnya adalah adzan, bila ada satu orang adzan, maka itu sudah terhasilkan. Maka itu mencukupi. Contohnya lagi menyelenggarakan pengurusan jenazah, tidak wajib setiap orang mengurus jenazah.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page:
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih
https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
.
KAIDAH USHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP

Ada Apa Dengan UJUB…

Perbanyak ucapan LAA HAWLA WALAA QUWWATA ILLA BILLAH…
.
Kalimat “laa hawla wa laa quwwata illa billah” adalah kalimat yang berisi penyerahan diri dalam segala urusan kepada Allah Ta’ala. HAMBA TIDAKLAH BISA BERBUAT APA-APA DAN TIDAK BISA MENOLAK SESUATU, JUGA TIDAK BISA MEMILIKI SESUATU SELAIN KEHENDAK ALLAH.
.
Ada ulama yang menafsirkan kalimat tersebut, “Tidak ada kuasa bagi hamba untuk menolak kejelekan dan tidak ada kekuatan untuk meraih kebaikan selain dengan kuasa Allah.
.
Ulama lain menafsirkan, “Tidak ada usaha, kekuatan dan upaya selain dengan kehendak Allah.”
.
Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

لا حول عن معصية الله إلا بعصمته، ولا قوة على طاعته إلا بمعونته

Tidak ada daya untuk menghindarkan diri dari maksiat selain dengan perlindugan dari Allah. Tidak ada kekuatan untuk melaksanakan ketaatan selain dengan pertolongan Allah.”
.
Imam Nawawi menyebutkan berbagai tafsiran di atas dalam Syarh Shahih Muslim dan beliau katakan, “Semua tafsiran tersebut hampir sama maknanya.”
.
(Syarh Shahih Muslim, 17: 26-27)
.
Semoga lisan ini selalu diberi taufik oleh Allah untuk selalu basah dengan dzikir kepada Allah.
.
Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal,  حفظه الله تعالى

Sekedar Renungan…

Allah ta’ala berfirman yang artinya:
Kalau bukan karena Kami mengokohkan (hati)mu..
Tentu kamu akan condong kepada mereka.”
(Al Israa: 74).

Bila itu untuk Nabi..
Bagaimana dengan kita..
Ketika Allah memilih kita untuk menapaki hidayah-Nya..
Itu bukan karena kita punya kelebihan atau karena
kataatan..

Namun karena rahmat Allah yang menyapa..
Semoga kita tidak tertipu dengan
banyaknya amal ibadah..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da161013-0617

Hukum Penyebutan “ALMARHUM”…

Simak penjelasan Ustadz Abdullah Taslim MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

ARTIKEL TERKAIT
Ada Apa Dengan Penyebutan “AL-MARHUM” Bagi Orang Yang Telah Meninggal..?

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Alternatif Pilihan Ibadah Bagi Mereka Yang Tak Berpuasa..


.
Yuuk… Ini juga bisa sebagai alternatif plihan ibadah bagi wanita muslimah yang sedang menjalani siklus bulanan/haidh, ini kesempatan besar untuk tetap mendapatkan pahala puasa…
.
Alhamdulillah.. Allah mudahkan segala sesuatunya.. sekarang ini bisa telpon restoran dan melakukan pemesanan dan pembayaran, dan minta mereka untuk antar makanan tersebut ke tempat tujuan tanpa anda harus pergi ke luar rumah.. YUK PESAN SEKARANG… karena waktu Maghrib tak lama lagi akan tiba, in-syaa Allah..
.
Bagaimana bila belum ada cukup dana untuk membelikan makanan buka puasa ?…
.
Jangan kawatir.. sebarkan saja tulisan ini disertai niat dalam hati, semoga ada diantara mereka yang menerima pesan ini dan tergerak untuk mengamalkannya, maka andapun, in-syaa Allah, akan mendapatkan pahala yang serupa dengannya.. ini sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits dari sahabat Uqbah bin ‘Amr bin Tsa’labah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

.من دَلَّ على خيرٍ فله مثلُ أجرِ فاعلِه.

Barangsiapa yang menunjuki kepada kebaikan maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya” (HR. Muslim no. 1893).

Bangunlah Dari Mimpimu Wahai Si Pemalas..!!!

Al-Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata :

بقَدْرِ الكدِّ تُكتَسَبُ المَعَــالي ….ومَنْ طَلبَ العُلا سَهِـرَ اللّيالي

Ketinggian diraih berdasarkan ukuran kerja keras…
Barang siapa yang ingin meraih puncak maka dia akan begadang

ومَنْ رامَ العُلى مِن ْغَيرِ كَـدٍّ …..أضَاعَ العُمرَ في طَـلَبِ المُحَالِ

Barang siapa yang mengharapkan ketinggian/kemuliaan tanpa rasa letih…
Maka sesungguhnya ia hanya menghabiskan usianya untuk meraih sesuatu yang mustahil…

تَرُومُ العِــزَّ ثم تَنامُ لَيـلاً …..يَغُوصُ البَحْرَ مَن طَلَبَ اللآلي

Engkau mengharapkan kejayaan lantas di malam hari hanya tidur aja ?? Orang yang yang mencari mutiara harus menyelam di lautan…

Diantara kita ada yang berangan-angan dan berkata :
Saya ingin bisa menjadi dermawan seperti si fulan…“,
Saya ingin bisa menghafalkan al-Qur’an seperti si fulan…“,
Saya ingin berilmu seperti syaikh/ustadz fulan…“,
Saya ingin berhasil seperti si fulan…

Akan tetapi jika hanya berkata dan berangan-angan tanpa usaha maka anak kecil berusia 3 atau 4 tahun pun bisa…, kalau hanya mimpi siapapun bisa.

Tapi yang tidak semuanya bisa adalah mewujudkan angan-angan dengan usaha maksimal serta semangat tinggi !!!, tentunya setelah disertai do’a kepada-Nya dan taufiq dari-Nya…

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى