👉🏼 Pendapat seorang shahabat apabila tidak diselisihi oleh shahabat lainnya adalah hujjah atas pendapat yang kuat.
Shahabat yang dimaksud di sini adalah para shahabat ahli ijtihad seperti kholifah yang empat, ibnu Mas’ud, ibnu ‘Abbas, ibnu ‘Umar dan lain lain, rodhiyallahu ‘anhum.
⚉ Apabila pendapat mereka tidak diselisihi oleh shahabat lain terlebih bila pendapat tersebut masyhur di kalangan mereka, maka pendapat tersebuf adalah hujjah.
Karena mereka adalah generasi yang paling dalam ilmunya, paling bening hatinya dan paling jauh dari hawa nafsu.
Al Qur’an turun dengan bahasa mereka, dan mereka melihat langsung praktek dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mendengar langsung penjelasan dari beliau shallallahu ‘alaihi wasallam.
⚉ Apabila pendapat shahabat itu diselisihi oleh shahabat lain yang juga ahli ijtihad, maka kita lihat mana yang paling dekat kepada Al Quran dan hadits. Dan memberi udzur kepada yang salah.
.
. Wallahu a’lam 🌴
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab “Syarah Mandzumah Ushul Fiqih“, yang ditulis oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al’Utsaimin, رحمه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page: https://t.me/kaidah_ushul_fiqih https://www.facebook.com/kaidah.ushul.fiqih/
. KAIDAHUSHUL FIQIH – Daftar Isi LENGKAP
.
. YANG TIDAK BERPUASA HARI INI… AYO.. INI ADA KESEMPATAN MERAIH PAHALA ORANG YANG BERPUASA, DI SALAH SATU HARI DI MANA PINTU-PINTU SURGA DIBUKA, ORANG-ORANG MUKMIN DIAMPUNI, DAN AMAL-AMAL MANUSIA DIPERIKSA DIHADAPAN ALLAH…
. HADITS PERTAMA :
. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
. “PINTU-PINTU SURGA DI BUKA PADA HARI SENIN DAN KAMIS. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun AKAN DIAMPUNI DOSA-DOSANYA, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. Lalu dikatakan, “Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai, Tundalah pengampunan terhadap kedua orang ini sampai keduanya berdamai.”
. [ HR. Muslim – IV/1987 – Kitabul Birr wal Aadaab ]
. Yuk baikan bila masih ada permusuhan dengan orang lain, agar kita tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang yang Allah tunda pengampunan dosa-dosanya.
. HADITS KEDUA :
. Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda :
. “AMAL-AMAL MANUSIA DIPERIKSA SETIAP HARI SENIN DAN KAMIS, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.”
. [ HR. at-Tirmidzi dan lainnya ]
. #puasa #buka #makanan #pahala.
“Semalam aku amati, kudapati ruangan terasa hangat dan api penghangat ruangan menyala. Sedangkan aku berada di dipan sambil santai. Aku sedang berfikir tentang tema yang akan kutulis. Lampu ada di sampingku, telepon di dekatku, anak-anakku sedang menulis, adapun ibu mereka sedang menenun kain wol.
Kami telah makan dan minum, dan radio mengeluarkan suara lirih, semuanya dalam ketenangan.
Tidak ada yang aku keluhkan dan tidak ada pula yang aku meminta tambahannya. Maka lisanku berucap “Alhamdulillah…“, kulepaskan dari lubuk hatiku
Lalu akupun merenung… aku mendapati bahwasanya “Alhamdulillah” bukanlah sebuah kata yang sekedar diucapkan oleh lisan, meskipun diulang-ulang seribu kali.., akan tetapi “Alhamdulillah” atas kenikmatan-kenikmatan adalah sampainya aliran kenikmatan tersebut kepada orang yang membutuhkannya.
《 من علامات العِلْم النافع؛ أنه يدل صاحبه عَلَى الهرب من الدُّنْيَا، وأعظمها الرياسة والشهرة والمدح.
وإن صاحب العِلْم النافع لا يدعي العِلْم ولا يفخر به عَلَى أحد، ولا ينسب غيره إِلَى الجهل إلا من خالف السنة وأهلها 》.
مجموع الرسائل ج٣ ص١٣
AlHafidz ibnu Rojab rahimahullah berkata:
“Tanda ilmu yang bermanfa’at adalah yang menjadikan pelakunya lari dari (tertipu oleh) dunia, terutama dari kedudukan, ketenaran, dan pujian. Pemilik ilmu yang bermanfa’at tidak pernah menganggap (dalam) ilmunya dan tidak juga berbangga dengan keilmuannya di atas orang lain. Ia tidak pernah menganggap bodoh orang lain kecuali bila menyimpang dari sunnah.
Jawab :
Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan :
“….Na’am, kurban yang dilakukan tetap diterima (sah)… NAMUN YANG MELANGGAR TERKENA DOSA. Sedangkan persepsi orang awam yang menganggap kurbannya jadi tidak sah jika ada yang mencukur rambut kepala, memotong kuku atau mencabut bulu badannya pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah, maka ini adalah anggapan yang tidak benar. Karena sebenarnya tidak ada kaitan antara sahnya kurban dengan mencabut ketiga hal tadi….” (Syarhul Mumthi’, 7: 533)
TANYA :
Bolehkah satu kurban untuk satu keluarga..?
JAWAB :
Syekh Abdulmuhsin Al-‘Abbad, حفظه الله تعالى menjelaskan bahwa hal itu boleh dilakukan. Misal seekor kambing atau sapi di kurbankan dengan niat untuk satu kekuarga.
Akan tetapi dengan catatan, keluarga tersebut satu dapur; artinya kebutuhan makannya berasal dari dapur yang sama, tidak sendiri-sendiri. Adapun bila sudah punya dapur sendiri-sendiri, maka masing-masing dibebani untuk berqurban sendiri-sendiri.
Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. KAIDAH SEBELUMNYA (KE-47) bisa di baca di SINI
=======
🌼 Kaidah yang ke 48 🌼
⚉ Merupakan Manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah yaitu bergaul, bermuamalah dengan akhlaq, kejujuran, penuh amanah dan nasehat.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman [QS An Nisaa : 81]
“Mereka orang-orang munafik itu berkata: kami taat, apabila mereka keluar dari sisimu, diantara mereka ada yang tidak jujur, artinya mengucapkan apa yang tidak ada pada hati mereka. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala mencatat apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka tersebut, maka berpalinglah dari mereka dan bertawakallah kepada Allah dan cukuplah Allah sebagai wakil.”
Berkata orang-orang kepada Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, sesungguhnya kami masuk kepada penguasa kami dan kami mengucapkan kepada mereka tidak sesuai dengan apa yang ada di hati kami, ketika kami keluar dari sisi penguasa. Artinya ketika ketemu dengan penguasa Ucapannya A tapi keluar dari mereka ucapannya B.
Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa mengatakan kami dahulu menganggap itu adalah sikap munafik [dikeluarkan oleh Imam Bukhori].
Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah: “Seorang mukmin apabila berada diantara orang-orang kafir dan orang-orang yang jahat, sementara ia tidak mampu untuk menjihadi mereka dengan tangannya karena dia tidak mampu, tapi apabila ia mampu ia dengan menjihadi mereka dengan lisannya, dan jika tidak mampu juga maka dengan hatinya dan ia tidak pernah berdusta dan mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak ada dalam hatinya atau ia memperlihatkan agamanya, atau ia menyembunyikan agamanya.”
Namun bukan berarti dia menyesuai agama mereka, akan tetapi sama halnya dengan mukmin di zaman Fir’aun dan istri Fir’aun yang tidak menyetujui agamanya Fir’aun. Namun mereka tidak berdusta, tidak juga mengucapkan dengan lisannya apa yang tidak ada di hatinya. Bahkan mereka menyembunyikan imannya karena takut. Dan menyembunyikan agama itu sesuatu yang lain. Beda dengan memperlihatkan agama yang bathil, karena itu perkara yang berbeda.
👉🏼 Maka dari itu Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak membolehkan, memperlihatkan ucapan yang bathil atau kekufuran. Kecuali kalau dipaksa, dimana di bolehkan berucap kekufuran, karena terpaksa. Karena waktu itu Ammar bin Yasir rodhiyallahu ‘anhumaa dipaksa, disiksa akhirnya terpaksa ia mengucapkannya, maka Allah mema’afkannya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala membedakan antara munafik dan orang yang di paksa. Sementara ahli bid’ah jenis mereka sama dengan orang-orang munafiqin, seperti halnya orang syi’ah. Mereka berbicara didepan Ahlussunnah tidak sesuai dengan apa yang ada dihati mereka. Di depan ahlussunnah berbicaranya “A” tapi dibelakang mereka bicaranya “B”.
Demikian pula keadaan ahli bid’ah yang lainnya, mereka itu terkadang bermuka dua. Kata beliau ( Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى ): “Adapun orang-orang rafidhoh, orang syi’ah, ia tidaklah bergaul dengan seseorang terutama dari kalangan Ahlussunnah, kecuali pasti menggunakan sikap nifaq (kemunafikan), karena agama mereka rusak. Mereka menganggap dusta itu halal.” Mereka menganggap dusta itu bahkan bagian dari agama mereka, sehingga dusta itu menjadi syi’ar mereka. Itulah orang-orang syi’ah dan rafidhoh.
👉🏼 Maka sungguh sangat aneh orang-orang yang percaya kepada orang-orang syi’ah rofidhoh. Karena mereka adalah kaum yang menghalalkan dusta, terutama terhadap Ahlussunnah wal Jama’ah.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel :https://t.me/aqidah_dan_manhaj
.
. Alhamdulillah alladzi bi-ni’matihi tatimmush-shoolihaat… . Jika dengan membaca dzikir di (gambar) sebelum tidur, lalu dosa-dosa kita diampuni meski sebanyak buih di lautan, maka MASIHKAH KITA TIDAK MENGAMALKANNYA ? . LAA ILAAHA ILLALLAAH, WAHDAHU LAA SYARIIKALAH, LAHUL MULKU, WALAHUL HAMDU, WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QODIIR, LAA HAWLA WA LAA QUWWATA ILLAA BILLAAHIL-’ALIYYIL ‘AZHIIM, SUBHAANALLAH, WAL HAMDULILLAAH, WA LAA ILAAHA ILLALLAAH, WALLAAHU AKBAR . Dari Abu Mas’ud Uqbah bin Amir Al Anshari radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,