Category Archives: BBG Kajian

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-27

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-26) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 27 🌼

.
⚉ Mereka mewaspadai tata cara ahli bid’ah yang menuduh para ulama yang mengikuti manhaj salaf, dengan tuduhan bahwa mereka itu radikal

Maka kita waspadai tata cara seperti itu, karena itulah tata cara ahli bid’ah agar manusia lari dari kebenaran.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat Al Israa : 73

‎وَإِنْ كَادُوا لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتَفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا

Dan mereka hampir-hampir memfitnahmu dari apa yang telah kami wahyukan kepada engkau agar kamu mengada-ada atas kami selain itu.”

‎ۖ وَإِذًا لَاتَّخَذُوكَ خَلِيلًا

Jika kamu lakukan itu mereka akan menjadikanmu sebagai kekasih

Artinya mereka berusaha terus memberikan tuduhan-tuduhan yang bermacam-macam kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak membawa kebenaran, agar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sesuai dengan keinginan mereka dengan berbagai macam cara dan tuduhan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata:
Apa yang kalian sebutkan berupa ucapan yang lemah lembut dan berbicara yang lebih baik dan kalian tahu bahwa aku lebih manusia yang paling banyak menggunakan kelembutan.”

Akan tetapi kata beliau segala sesuatu pada tempatnya.
Sementara Allah dan Rasulnya memerintahkan kita bersikap keras terhadap orang yang bersikap zolim dan memusuhi Alqur’an dan Sunnah.
Dan kitapun juga sikapi dengan yang sama.
Kita di perintahkan untuk mengajak bicara mereka dengan sikap yang lebih baik jika mereka berbuat seperti itu.

Allah berfirman dalam surat Al-Munafiqun : 8

‎وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ

Milik Allahlah kemuliaan (‘izzah) dan juga milik rasul-Nya dan milik kaum mukminin

Allah juga berfirman dalam surat Al -Mujadila : 20

‎إِنَّ الَّذِينَ يُحَادُّونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَٰئِكَ فِي الْأَذَلِّينَ

Sesungguhnya orang-orang yang menentang Allah dan RasulNya mereka itu orang-orang yang berada dalam kerendahan.

Dan hendaklah kita ketahui, kata beliau; “Bahwa tidak boleh kita mengharapkan keridhoan makhluk hal ini.”
Mau mencerca, mau gimana…”terserah”.
Karena…

1⃣  Bahwa mengharapkan ridha mahluk itu tidak mungkin.

Imam Asy-Syafi’i berkata:

‎رِضَا النَّاسِ غَايَةٌ لاَ تُدْرَكُ

Keridhaan manusia itu tujuan yang tidak mungkin dicapai.
Hendaklah kamu berpegang kepada yang membenahi dirimu
Pegang Ia dan tinggalkan selain itu.”
Dan jangan kamu merasa risih dengan ledekan-ledekan manusia kepadamu.

2⃣  Bahwa kita diperintahkan untuk mengharap dan mencari ridha Allah dan rasul-Nya.

Allah berfirman dalam surat At-Tauba : 62

‎وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ

Allah dan rasul-Nya lebih berhak, mereka cari ridho-Nya.

👉🏼 Maka kewajiban adalah takut kepada Allah daripada kepada manusia.

👉🏼 Kewajiban kita adalah jangan sampai kita hanya karena takut kepada manusia kemudian kita tinggalkan yang di perintahkan oleh Allah dan rasulNya.

👉🏼 Maka kita berusaha untuk membantah para ahli bid’ah itu dengan hujjah-hijjah yang kuat agar manusia memahami dan mengetahui tentang hakikatnya, sehingga pada waktu itu kita telah membela kebenaran dan ini termasuk jihad yang besar.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Membaca Al-Qur’an Dari HP Apakah Disyaratkan BERSUCI..?

IslamQA

TANYA

Pada sebagian hp terdapat program Al-Qur’an dan dapat di buka Al-Qur’an pada waktu kapan saja lewat layar Hp. Apakah diharuskan bersuci sebelum membacanya dari hp..?

 

 JAWAB

Alhamdulillah

Hp yang di dalamnya terdapat Al-Qur’an, baik tulisan maupun rekaman, TIDAK SAMA dengan hukum mushaf. Maka dibolehkan menyentuhnya tanpa bersuci. Dibolehkan masuk kamar mandi dengannya.

Hal itu karena tulisan Al-Qur’an di Hp tidak seperti tulisan dalam mushaf. Ia adalah gelombang yang ditampakkan kemudian akan hilang, bukan huruf yang tetap. Sementara pada hp terdapat terdapat (program) Al-Qur’an dan (program) lainnya.

Syeikh Abdurrahman bin Nasir Al-Barrak ditanya, “Apa hukum membaca AL-Qur’an dari perangkat hp tanpa bersuci..?”

Maka beliau hafizhahullah menjawabnya, “Segala pujian hanya milik Allah saja, shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Nabi yang tidak ada setelahnya. Amma ba’du,

Telah diketahui bahwa membaca Al-Qur’an dengan hafalan tidak disyaratkan bersuci dari hadats kecil bahkan dari hadats akbar. Akan tetapi bersuci ketika membaca Al-Qur’an meskipun dari hafalan itu lebih utama. Karena ia adalah kalamullah yang  di antara penghormatannya adalah  tidak membacanya melainkan dalam kondisi suci. Sementara membacanya dari mushaf, maka disyaratkan bersuci ketika menyentuhnya secara umum. Berdasarkan hadits yang terkenal, “Tidak diperkenankan menyentuh Al-Qur’an kecuali dalam kondisi bersuci” dan berdasarkan atsar yang ada dari para shahabat dan para tabiin. Ini termasuk pendapat mayoritas ahli ilmu, yaitu diharamkan menyentuh mushaf bagi orang yang berhadats, baik untuk membaca atau yang lainnya.

Dari sini jelas bahwa bahwa hp dan peralatan semisalnya yang didalamnya direkam Al-Qur’an tidak seperti hukumnya mushaf.

Karena huruf Al-Qur’an yang terdapat di peralatan ini berbeda dengan keberadaan huruf di mushaf. Maka sifat yang dibacanya tidak ada, yang ada adalah sifat gelombang yang terdiri dari huruf dengan gambarnya ketika diminta. Maka akan terlihat di layar dan akan hilang ketika dipindah ke yang lainnya.  Maka dari itu, dibolehkan menyentuh hp atau kaset yanag didalamnya ada rekaman dan dibolehkan membaca darinya, meskipun tanpa bersuci. Wallahu’alam

Syaikh Sholeh Al-Fauzan hafizahullah ditanya,

“Saya selalu berupaya untuk dapat membaca Al-Qur’an. Biasanya saya lebih awal berada di Masjid, bersamaku Hp terbaru yang didalamnya ada program Al-Qur’an penuh (tigapuluh juz). Pada sebagian waktu, saya tidak dalam kondisi bersuci, maka saya membacanya secukupnya pada sebagian juz. Apakah diharuskan bersuci ketika membaca (AL-Qur’an) dari Hp..?

Beliau menjawab, “Ini termasuk kemewahan yang mulai tampak pada orang-orang. Mushaf Alhamdulillah telah tersedia cukup di masjid-masjid dengan cetakan yang lux. Tidak perlu membaca dari hp.  Akan tetapi kalau hal ini terjadi, maka menurut kami, hal itu tidak sama dengan hukum mushaf. Karena mushaf tidak dibolehkan menyentuhnya kecuali dalam kondisi suci. Sebagaimana dalam hadits,

لا يمس القرآن إلا طاهر

“Tidak dibolehkan menyentuh Al-Qur’an melainkan dalam kondisi suci..”

Sedangkan hp tidak dapat dinamakan sebagai mushaf.

Bacaan Al-Qur’an dari hp memudahkan bagi wanita haid, dan bagi orang yang kesulitan membawa mushaf bersamanya. Atau di tempat yang sulit untuk berwudu karena tidak disyaratkan bersuci dalam menyentuhnya seperti (yang telah dijelaskan) tadi..”

Ref : http://islamqa.info/id/106961

Bolehkah Membaca Surat Al Kahfi Dengan Cara Diangsur..?

PERTANYAAN:

Mohon maaf Ustadz ingin bertanya, apakah boleh membaca Surat Al Kahfi sebagian di malam Jum’at dan sisanya di pagi atau siang hari Jum’at dikarenakan ada halangan untuk membacanya sekaligus selesai ?

Semoga Allah senantiasa menjaga antum dan keluarga dalam kebaikan dan kesehatan… Aamiin

JAWABAN:

Boleh, tidak harus satu majelis.. waktu dimulai dari malam Jum’at sampai (sebelum masuk waktu-adm) Maghrib hari Jum’at. Wallahu a’lam

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Lisanmu Adalah Pintu Hatimu…

Sobat! Bila hatimu dipenuhi dengan wewangian, niscaya dari lisanmu akan terpancar kata kata yang semerbak wangi sehingga memikat hati setiap orang yang mendengarnya

Namun bila hatimu memendam kebencian, atau telah digerogoti belatung kesombongan, niscaya yang tersebar oleh lisanmu adalah aroma busuk kata kata keji, tuduhan, dan permusuhan walau anda mengaku sedang memancarkan aroma kasturi.

Ingat sobat, saudaramu memiliki hidung sendiri sendiri, mereka mencium dengan hidungnya sendiri bukan dengan hidung anda.

Mereka mencerna ucapan anda dengan nalarnya sendiri bukan dengan nalar anda yang bisa jadi telah dipenuhi oleh rasa percaya diri yang kelewat batas.

Sobat! karena itu biasakan untuk mendengar komentar dan penilaian orang lain, walau terasa pedas, pahit dan menyakitkan. Biasanya penciuman mereka lebih tajam dibanding penciuman anda sendiri. Mata mereka lebih tajam melihat kesalahan anda dibanding penglihatan mata anda sendiri.

Selamat mencoba, semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Sejarah Kelam Dari Sikap Fanatisme…

Contoh nyata dalam sejarah adanya praktek hizbiyah antara murid bukan antara pengikut organisasi.

Pada tahun 489 H di daerah Khurasan terjadi kekacauan antara pengikut Mazhab Syafi’i dengan pengikut Mazhab Hanafi.

Biangnya adalah karena ada seorang tokoh penganut Mazhab Hanafi yang bernama : Mansur bin Muhammad As Sam’any yang semula bermazhab Hanafi secara terang-terangan mendeklarasikan perpindahan mazhab, dari Hanafi kepada Syafi’i. Deklarasi ini disampaikan secara terbuka dihadapan tokoh tokoh dari kedua mazhab.

Deklarasi beliau ini memancing ketegangan yang sangat parah antara penganut dua mazhab.

Pada tahun 573 H para penganut mazhab Hambali melarang penguburan seorang Khatib Masjid Jami’ Al Mansur yang bernama Muhammad bin Abdullah di pekuburan Imam Ahmad bin Hambal, hanya karena dia seorang penganut mazhab Syafi’i dan bukan Hambali

SIkap para penganut mazhab Hambali ini memancing ketegangan antara penganut dua mazhab.

Pada tahun 560 H, terjadi pertumpahan darah selama 8 hari, antara penganut mazhab Syafi’i dengan penganut mazhab lain di kota Asbahan

Pada tahun 582 H, kembali terjadi ketegangan antara penganut mazhab Hanafi dengan penganut mazhab Syafi’i di kota Asbahan, yang mengakibatkan tejadinya pertumpahan darah, penjarahan dan berbagai kerusakan lainnya.

Dan masih banyak sejarah kelam dari sikap sikap fanatisme antara sesama ummat Islam.

Kesimpulannya, fanatisme itu adalah sikap dan perilaku bukan produk atau merek atau label. Jadi walaupun anda tidak bermerek dan tidak berlabel, namun sikap dan perilaku anda ekstrim, dan dalil anda hanya “pokoknya” atau “yang penting” atau “bondo nekad“, maka itulah fanatisme atau ashobiyah.

La antara hidung mancung dengan hidung pesek saja terjadi fanatisme, antara kulit putih dengan kulit hitam juga terjadi fanatisme, kok kini ada upaya sadar mengalihkan isu atau menyempitkan pemahaman.

Di saat Haji Wada’ Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mendeklarasikan perang terhadap fanatisme, terhadap segala sesuatu (eh kala itu belum ada organisasi) termasuk terhadap aspek “mancung dan pesek, putih dan hitam,“.

Simak deklarasi beliau berikut ini:

وعن أبي نضرة قال: «حدثني من سمع خطبة النبي صلى الله عليه وسلم في وسط أيام التشريق فقال: ” يا أيها الناس، إن ربكم واحد وأباكم واحد، ألا لا فضل لعربي على عجمي، ولا لعجمي على عربي، ولا أسود على أحمر، ولا أحمر على أسود إلا بالتقوى، أبلغت؟ “. قالوا: بلغ رسول الله صلى الله عليه وسلم.

Abu Nadhrah telah menceritakan kepadaku orang yang mendengar langsung khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditengah-tengah hari tasyriq, beliau bersabda: “Wahai sekalian manusia! Rabb kalian satu, dan ayah kalian satu (maksudnya Nabi Adam). Ingatlah. Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan bagi orang ajam atas orang Arab, tidak ada kelebihan bagi orang berkulit putih kemerahan atas orang berkulit hitam legam, bagi orang berkulit hitam legam atas orang berkulit putih kemerahan kecuali dengan ketakwaan. Apa aku sudah menyampaikan ?” mereka menjawab: Iya, benar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyampaikan.” (Ahmad dan lainnya)

Semoga mencerahkan, dan tidak ada lagi upaya sadar atau tidak sadar untuk mendangkalkan arti fanatisme atau ashobiyah atau hizbiyah.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Dua Bid’ah Di Saat Nishfu Sya’ban…

Ada dua bid’ah yang biasa dilakukan sebagian kalangan pada malam nishfu sya’ban, aku sebutkan agar kita mewaspadainya.

1. Sholat Nishfu Sya’ban, Membaca Yasin dan Do’a

Tata caranya sebagai berikut: “Melakukan sholat maghrib dua rakaat, rakaat pertama membaca Al-Fatihah dansuratal-Kafirun, sedangkan rakaat kedua membaca al-Fatihah dansuratal-Ikhlas. Setelah salam, membaca surat Yasin sebanyak tiga kali, bacaan pertama dengan niat minta panjang umur untuk ibadah kepada Allah, bacaan kedua dengan niat minta rizki yang baik serta halal sebagai bekal ibadah kepada Allah, bacaan ketiga dengan niat ditetapkan iman. Setelah itu membaca doa nisfhfu sya’ban yang awalnya adalah sebagai berikut:

اللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ, وَلاَ يَمُنُّ عَلَيْكَ يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ…إلخ

Ya Allah, Wahai Dzat Yang memiliki kenikmatan, tidak ada yang memberi nikmat kepadamu wahai Dzat Yang Memiliki kemulian…dst [142]

Kami katakan: Tidak ragu bahwa tata cara ibadah seperti adalah kebid’ahan (perkara yang baru) dalam agama, padahal Rasulullah telah bersabda

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya dari kami, maka ia tertolak. [143]

Amalan ini tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para sahabatnya. Imam Nawawi berkata: Shalat Rajab dan Sya’ban, keduanya merupakan bid’ah yang jelek dan kemungkaran yang tercela. Janganlah tertipu dengan disebutkannya hal itu dalam kitab Quuthul Qulub dan Ihya’ Ulumuddin”. [144]

Az-Zabidi juga berkata dalam Syarh Ihya’: Sholat ini masyhur dalam kitab orang-orang belakang dari kalangan Shufiyyah. Saya tidak menjumpai landasan yang shohih dari sunnah tentang sholat dan doa tersebut, kecuali amalan sebagian masayikh.Para sahabat kami mengatakan: Dibenci berkumpul untuk menghidupkan malam ini di masjid atau selainnya.”

An-Najm al-Ghoithi berkata tentang sifat menghidupkam malam nishfu sya’ban secara berjama’ah: Hal itu diingkari oleh kebanyakan ulama dari ahli Hijaz seperti Atho’, Ibnu Abi Mulaikah dan para fuqoha’ Madinah serta para sahabat Imam Malik, mereka mengatakan: “Semua itu adalah bid’ah, tidak ada dalilnya dari Nabi dan para sahabatnya”.

Adapun doa nishfu sya’ban di atas, itu juga tidak ada asalnya sebagaimana ditegaskan oleh az-Zabidi. Penulis kitab “Asnal Matholib” juga mengatakan bahwa itu adalah buatan sebagian orang, dikatakan bahwa pembuatnya adalah al-Buuni [145]“.

Wahai hamba Allah, suatu ibadah yang tidak ada dalam Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah serta amalan para sahabat, bagaimana kalian melakukannya?! Padahal para sahabat mengatakan: “Semua ibadah yang tidak dilakukan oleh para sahabat Nabi, maka janganlah kalian melakukannya”. [146]

2. Mengadakan Perayaan Malam Nishfu Sya’ban

Sudah menjadi kebiasaan manusia pada zaman sekarang untuk mengadakan malam nishfu sya’ban sebagaimana lazimnya perayaan-perayaan resmi dan kenegeraan lainnya. Perayaan ini sama dengan perayaan-perayaan lainnya yang tidak ada asalnya dalam syari’at. Anehnya, media-media begitu perhatian mengambil andil dalam melariskannya!!

Aduhai, kalau sekiranya mereka mengikuti agama Allah dan menegakkan syari’at Allah serta berhukum dengan Al-Qur’an dan sunnah, tentu itu lebih baik bagi mereka, daripada melariskan hal-hal yang jauh dari agama. Wallahul Musta’an.

Lebih menyedihkan lagi, kita sering lihat adanya orang-orang yang dianggap berilmu dan para lulusan universitas Islam ikut hadir dalam perayaan-perayaan bid’ah ini dan tidak mengingkarinya dengan alasan untuk kemaslahatan dakwah (!). Sungguh hal ini adalah suatu kemunkaran dari beberapa segi:

1. Diam dari kemunkaran, karena mereka akan mendengarkan beberapa penyimpangan dan celaan, sindiran atau bahkan penyesatan terhadap orang-orang yang tidak merayakannya.

2. Menguatkan kebatilan dan memperbanyak jumlah ahli kebatilan

3. Akan dijadikan alasan orang-orang awam, sehingga tatkala diingkari dia mengatakan: “Si fulan aja ikut hadir kok”.[147]

Ustadz Abu Ubaidah As Sidawi, حفظه الله تعالى

===============================

Footnote:

142. Disalin dari kitab yang berbahasa Arab pegon Majmu’ Syarif hal. 100-101, cetMaktabah Dahlan,Indonesia.

[143] HR. Muslim: 1718.

[144] Al-Majmu’ Syarh Muhadzab 4/56.

[145] Dia adalah Ahmad bin Ali al-Buni, penulis kitab khurafat dan sihir “Syamsul Ma’arif Kubro”, sekalipun orang-orang kita menyebutnya dengan “kitab lmu hikmah”!!. Lihat tentang kitab tersebut dalam Kutub Hadzara Minha Ulama, Masyhur Hasan Salman 1/124, 143, Fatawa Islamiyyah 3/365, Majalah Al Furqon edisi 12/Th. V hal. 51

[146] As-Sunan wal Mubtada’at Muhammad Abdus Salam hal. 166. Lihat pula Fatawa Syaikh Muhammad Syaltut hal. 103-104, al-Bida’ wal Muhdatsat hal. 587, Fatawa Lajnah Daimah no. 2222, Bida’ wa Akhtho‘ Ahmad as-Sulami hal. 358-359, Fatawa Mu’ashiroh al-Qordhowi 1/379-383.

[147] Taslih Suj’an bi Hukmil Ihtifal bi Lailat Nishfi min Sya’ban , Abdullah al-Maqthiri2/21, Ahadits Muntasyirah Laa Tatsbutu

 

da110517-1649

 

Sedihkah Anda..?

Hati kita sering sangat sedih tatkala terluput atau kehilangan perkara dunia…,
bahkan terkadang hanya karena perkara dunia yang bernilai sedikit…,
namun seringkah kita tidak bersedih tatkala terluput atau lalai dari beramal akhirat..??
Bukankah dunia fana dan akhirat abadi..?

Sungguh diantara kita ada yang jika terlambat sholat berjama’ah maka ia santai saja sama sekali tidak bersedih…

Ibnul Qoyyim berkata :

واللهِ لَوْ أَنَّ الْقُلُوْبَ سَلِيْمَةٌ لَتَقَطَّعَتْ أَسَفًا مِنَ الْحِرْمَانِ

Demi Allah kalau seandainya hati kita itu bersih maka akan terasa tercabik-cabik tatkala kita terhalangi dari suatu kebaikan

Sungguh benar perkataan Ibnul Qoyyim, kalau seandainya hati kita bersih tentunya kita akan sangat bersedih tatkala ketinggalah sholat berjama’ah…
bahkan tercabik-cabik…,
akan tetapi…???!!

Yaa Allah bersihkanlah hati kami ini…

Ustadz DR. Firanda Andirja MA, حفظه الله تعالى

Masa Lalu

Syaikh Ali Musthafa Thantawi rohimahullah berkata :

“Banyak orang yang menangisi masa lalunya dan rindu untuk kembali ke masa-masa itu.

Tapi mengapa kita tidak berfikir untuk
memperbaiki hari ini sebelum ia menjadi masa lalu..”

(Risalah Ma’a An Naas)

=============
Secepat malam beranjak pagi, secepat itu pula waktu kita akan menjadi masa lalu…

 

Beda Batasan Aurat Wanita Muslimah Yang Boleh Terlihat Oleh Muslimah Lainnya dan non-Muslimah…

Simak penjelasan Ustadz Ahmad Zainuddin Al Banjary, Lc حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Rahasia Mengapa Seringkali Orang Miskin Lebih Bahagia…

Yahya bin Mu’adz -rohimahulloh- mengatakan:

Orang-orang fakir itu menjadi lebih bahagia dari orang-orang kaya karena mereka dalam kekangan Allah, seandainya mereka dilepaskan dari kepungan kefakiran, tentunya kamu dapati sedikit dari mereka yang teguh dalam dzikirnya.

[Hilyatul Aulia 10/63].

———–

Karena kebahagiaan hati itu dengan berdzikir…
bukan dengan harta…
sayang, banyak pula orang miskin yang ingin mendapatkan kebahagiaan dengan cara orang kaya, yakni dengan harta…
padahal cara membahagiakan dirinya sangat dekat dengannya dan sangat mudah dilakukannya…
basahilah lisan dengan berdzikir, dan penuhilah hati dengan bersyukur.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da210215-1254