Category Archives: BBG Kajian

Ayat-Ayat MANHAJ… # 2

Silahkan baca Ayat-Ayat MANHAJ # 1  DI SINI

Surat Annisaa ayat 140

Allah Ta’ala berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.”

Ayat ini walaupun sebabnya khusus untuk kaum kafirin, namun lafadz umum. Dan kaidah mengatakan, “Yang dianggap itu keumuman lafadznya bukan kekhususan sebabnya.”

Imam Ath Thobari rahimahullah dalam tafsirnya berkata:

وفي هذه الآية، الدلالة الواضحة على النهي عن مجالسة أهل الباطل من كل نوع، من المبتدعة والفسَقة، عند خوضهم في باطلهم. وبنحو ذلك كان جماعة من الأئمة الماضين يقولون

Dalam ayat ini terdapat dalil yang jelas akan larangan duduk di majelis ahli batil dari semua jenisnya baik ahli bid’ah dan orang orang fasiq ketika mereka sedang berbicara dalam kebatilannya. Dan kepada pendapat ini jamaah ulama terdahulu berpendapat..
Lalu beliaupun mengebutkannya.”

Imam Al Baghowi dalam tafsirnya membawakan perkataan ibnu Abbas:

دخل في هذه الآية كل محدث في الدين، وكل مبتدع إلى يوم القيامة

Masuk dalam ayat ini semua orang uang mengada-ada dalam agama dan setiap orang yang membuat bid’ah sampai hari kiamat.” (Tafsir Al Baghowi 1/491).

ibnu Abbas juga berkata:

لا تجالس أهل الأهواء فإن مجالستهم ممرضة للقلب

“Jangan duduk di majelis ahli hawa, karena duduk di majelis mereka menimbulkan penyakit hati.” (Dikeluarkan oleh ibnu Bathoh dalam Al ibanah 2/438).

Maka berhati hatilah saudaraku, dari duduk di majelis ahli hawa dengan alasan mencari ilmu kepada siapa saja. karena mencari ilmu wajib kepada orang yang telah mumpuni dan aqidahnya lurus sebagaimana sabda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

إِن مِنْ أشراطِ السَّاعة أنْ يُلْتَمَسَ العلمُ عِنْدَ الأصاغِرِا

Sesungguhnya diantara tanda hari kiamat adalah ilmu dicari dari para ASHOGIER.” (HR ibnul Mubarok dalam kitab Az Zuhud).

Abu Shalih bertanya kepada ibnul Mubarok, “Siapakah ASHOGIER itu ?” Beliau menjawab: “Yaitu ahli bid’ah.”
Sebagian ulama menafsirkan juga bahwa ASHOGIER itu orang orang yang dangkal ilmunya. Dan kedua tafsir tersebut tidak bertentangan, karena ahli bid’ah itu dangkal ilmunya. Jika kuat tentu ia akan meninggalkan kebid’ahannya.

Banyak kita lihat sebagian ikhwah yang tadinya duduk di majelis sunnah lalu kemudian berubah dan meninggalkannya karena tidak memperdulikan ayat, hadits dan nasehat para ulama. 

Allahul Musta’an

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Ayat-Ayat MANHAJ… # 1

Surat Al An’am ayat 153

Allah Ta’ala berfirman:

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Dan sesungguhnya inilah jalanku yang lurus maka ikutilah. Dan janganlah kamu mengikuti jalan jalan lainnya, niscaya ia akan memecah belahmu dari jala-Nya. Itulah yang Dia wasiatkan kepadamu agar kamu bertaqwa.”

Perhatikanlah ayat ini. Allah memerintahkan untuk mengikuti jalannya dan melarang mengikuti jalan jalan lainnya. Imam Mujahid menjelaskan bahwa yang dimaksud jalan jalan lainnya adalah bid’ah dan syubhat.

Lalu Allah menyebutkan akibatnya yaitu bahwa jalan jalan tersebut akan memecah belah kalian dari jalanNya.

Imam Ath Thobari dalam tafsirnya berkata:

فيشتّت بكم، إن اتبعتم السبل المحدثة التي ليست لله بسبل ولا طرق ولا أديان, اتباعُكم إياها =” عن سبيله “, يعني: عن طريقه ودينه الذي شرعه لكم وارتضاه

Maka akan mencerai beraikan kamu jika mengikuti jalan jalan yang diada adakan yang sama sekali bukan jalan Allah bukan pula agamaNya.
Mencerai beraikan kamu dari jalanNya yaitu tata cara dan agamaNya yang Allah syari’atkan dan ridloi.

Ayat ini menunjukkan bahwa hakekat perpecahan itu bukanlah karena tidak mengikuti kebanyakan manusia, akan tetapi berpecah belah dari jalan Allah.

Oleh karena ibnu Mas’ud berkata:

الجماعة ما وافق الحق ولو كنت وحدك

Aljama’ah itu adalah yang sesuai dengan kebenaran walaupun kamu sendirian.” (Dikeluarkan oleh Al Laalikaai dalam syarah i’tiqod ahlissunnah dengan sanad yang shahih).

Imam Al Auza’iy berkata:

عليك بآثار من سلف وإن رفضك الناس، وإياك وآراء الرجال وإن زخرفوه بالقول.

Hendaklah kamu mengikuti jejak salaf walaupun manusia menolakmu. Jauhi olehmu pendapat pendapat manusia walaupun dihiasi dengan kata kata yang indah“. (Dikeluarkan oleh Al Aajurry dalam kitab Asy Syari’ah dengan sanad yang shahih).

Imam ibnu Qayyim rahimahullah berkata:

اعلم أن الإجماع والحجة والسواد الأعظم هو العالم صاحب الحق، وإن كان وحده، وإن خالفه أهل الأرض، فإذا ظفرت برجل واحد من أولي العلم، طالب للدليل، محكم له، متبع للحق حيث كان وأين كان، ومع من كان، زالت الوحشة

Ketahuilah bahwa ijma, hujjah, dan assawadul a’dzom itu adalah ulama yang berpegang kepada kebenaran walaupun ia sendirian, walaupun ia diselisihi oleh penduduk bumi.
Jika kamu mendapatkan seorang ulama penuntut dalil dan mapan padanya dan selalu mengikuti kebenaran kapan saja dan dimana saja dan bersama siapapun, maka hilanglah kesendirianmu.”
(I’laamul Muwaqi’in 3/398)

Bersambung… Silahkan baca Ayat-Ayat MANHAJ # 2  DI SINI

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Sudahkah Selalu Mengingat Dosa…?

Shalih bin Hassan berkata : “Suatu ketika, al-Hasan al-Bashri berpuasa, lalu kami datang kepadanya dengan membawa makanan saat maghrib tiba

Ketika Shalih bin Hassan berada di dekat al-Hasan al-Bashri, Shalih bin Hassan berkata, Aku bacakan ayat ini kepada al-Hasan al-Bashri : “Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan Neraka yang menyala-nyala. Dan (ada) makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih” (QS. Al-Muzammil [73]: 12-13).

Al-Hasan al-Bashri tidak menjamah makanan yang dibawa untuknya. Ia berkata : “Bawa ke sana makanan ini !Kami pun mengambil makanan itu. Ia meneruskan puasanya sampai esok paginya.

Ketika ia ingin berbuka puasa, ia ingat ayat tadi, lalu berbuat seperti kemarin. Pada hari ke-3, anaknya pergi kepada Tsabit al-Bunani, Yahya al-Buka’ dan beberapa rekan al-Hasan al-Bashri, lalu berkata :

Tolong temui ayahku, sebab ia tidak makan makanan sedikit pun sejak 3 hari yang lalu. Setiap kali aku menghidangkan makanan untuk berbuka puasa, ia ingat ayat ini : “Sesungguhnya di sisi Kami ada belenggu-belenggu (yang berat) dan Neraka yang menyala-nyala. Dan (ada) makanan yang menyumbat di kerongkongan dan adzab yang pedih” (QS. Al-Muzammil [73]: 12-13).

Lalu teman-teman al-Hasan al-Bashri datang menemui al-Hasan al-Bashri dan lama berada di tempatnya, hingga akhirnya menyuapinya dengan seteguk tepung” (Az-Zuhd hal 284 oleh Imam Ahmad).

Subhanallah, rupanya ia takut akan dosa yang pernah ia lakukan dan ‎tidak pernah melupakannya, sehingga selalu tertanam di hati rasa takut akan adzab Allah…

Hasan al-Bashri rahimahullah berkata :

إن الرجل يذنب الذنب فما ينساه، وما يزال متخوفا منه حتى يدخل الجنة

Sesungguhnya ada orang yang berdosa kemudian tidak melupakannya, dan selalu merasa takut (kepada Allah karenanya) hingga ia pun masuk Surga” (Az-Zuhd no. 338 oleh Imam Ahmad).

Seseorang yang dosanya sedikit, maka mereka pun tahu dari dosa manakah datangnya suatu musibah…

Muhammad bin Sirin rahimahullah pernah mendapat musibah, maka ia pun berkata : “Ini adalah pembalasan atas dosaku yang kutunggu selama 40 tahun

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

“Salah seorang generasi salaf telah mengevaluasi dirinya sejak usia baligh, ternyata kesalahannya tidak lebih dari 36 kesalahan. Kemudian ia mohon ampun kepada Allah sebanyak 100.000 kali untuk setiap kesalahan, shalat 1000 raka’at untuk setiap kesalahan, dan khatam (membaca al-Qur’an) satu kali dalam setiap ruku’. Kendati demikian, ia berkata : “Aku tetap khawatir kekuatan Allah menyiksaku karena kesalahan tersebut, dan penerimaan taubatku dalam bahaya” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal 539)

اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُبِكَ مِنَ الذُّنُوْبِ الَّتِيْ تُحِلُّ النِّقَم

Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari dosa-dosa yang akan dibalas dengan siksaan…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Kebahagiaan Yang Hakiki…

Berjuta jiwa melalang buana…
Mencari kebahagiaan di pucuk-pucuk dunia…
Membuang harta, merebut tahta, berburu wanita…
Namun kiranya mereka terlupa, bahwa kebahagiaan itu berada di dalam dada…

Pusat kebahagiaan itu terletak di hati…
Apabila hati telah dipenuhi dengan cahaya keimanan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan bahagia di dunia dan di akhirat…

Kenapa…?

Karena hati manusia berada di tangan Allah…
Dan hanya Allah yang bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki…

Ketahuilah…

Hati yang telah mengenal Allah dengan sebenar-benar pengenalan, akan menjadikannya mencintai Allah melebihi segalanya, dan memiliki rasa takut kepada siksa-Nya, serta selalu mengharap rahmat-Nya…

Ketika itu ia akan selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, hatinya akan lembut, dan air matanya pun akan bercucuran, karena dirinya selalu disibukkan oleh dosa-dosanya…

Perilakunya…
jauh dari hawa nafsu dan pengaruh syaitan…
jauh dari fitnah syahwat dan syubhat…
jauh dari kesyirikan dan kebid’ahan…
jauh dari dosa-dosa besar maupun kecil…
jauh dari menjual agamanya untuk mencari keuntungan dunia yang sedikit…

Bagi orang yang beriman, kebahagiaan yang amat mereka dambakan adalah kehidupan di akhirat yang lebih baik dan abadi…

Karena mereka tahu dunia tempat yang penuh bencana dan fitnah, kehidupan sementara, sedikit, menipu, dan tidak ada kebahagiaan yang hakiki…

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman :

“…Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui” (QS. Al-Ankabut [29]: 64)

Yahya bin Mu’adz rahimahullah berkata :

Tiadalah urusan manusia di dunia ini, meskipun berumur panjang, kecuali seperti satu nafas dalam lambung kehidupan Surga. Siapa yang menyia-nyiakan satu nafas yang dengannya ia bisa hidup selamanya, sungguh ia termasuk orang yang rugi…

Syumaith bin ‘Ajlaan rahimahullah berkata :

“Barangsiapa menjadikan kematian dihadapan kedua matanya, dia tidak akan peduli dengan kesempitan dunia dan kelapangannya” (Shifatush Shofwah III/342)

Ibnul Jauzi rahimahullah berkata :

Hasrat seorang mukmin hendaknya selalu menyatu dan lengket dengan kehidupan akhirat pada seluruh hidupnya, hingga seperti sedang hidup di dalamnya…

Dan hasrat kepadanya itu begitu menguasai mereka, sehingga segala yang ada di dunia ini akan menggerakkannya untuk selalu ingat kepada akhirat…

Jika melihat kegelapan…
ia akan teringat bagaimana gelapnya alam kubur…
Jika melihat orang yang disakiti…
ia lalu membayangkan bagaimana siksa di akhirat…

Jika mendengar suara mengerikan…
ia terbayang tiupan sangkakala pada hari Kiamat…
Jika melihat orang yang tidur…
ia pun akan terbayang akan kematian…

Baginya tiada berarti rasa sakit, ujian, hilangnya kekasih, ancaman maut, serta perjuangan menepis segala penghalang yang menghadang di jalannya…

Bukankah bagi orang yang menginginkan kesembuhan dari suatu penyakit, maka ia tidak akan memperdulikan betapa pun pahitnya obat yang harus ia minum…?

Lalu ia juga mengandaikan dirinya masuk Neraka dan mendapatkan siksa, maka hidupnya akan terasa berat, dan kerisauan hatinya selalu membayangi setiap langkahnya…

Inilah hasrat seorang mukmin yang selalu terkait dengan itu semua, dan itulah yang selalu menyibukkannya…

Saudaraku, sudahkah seperti itu keadaanmu…?

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Dua Hal Yang Tak Dapat Dipisahkan…

HIDAYAH dan KEBAHAGIAAN adalah dua hal yang saling beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Sedang KESENGSARAAN adalah pasangannya KESESATAN yang tidak bisa terpisah darinya.

Maka kapan ada hidayah; di situ ada kebahagiaan, dan kapan ada kesesatan; di situ ada kesengsaraan.

Orang yang dulunya jauh dari Allah dan jauh dari keta’atan kepada-Nya, kemudian dia menjadi istiqomah; dia akan dapatkan dalam hatinya sebuah KELEZATAN yang dahulu hilang, RASA MANIS yang dahulu tidak ada, dan RASA HIDUP yang dahulu tidak dia rasakan.

Dan benarlah Allah dalam firman-Nya (yang artinya): “Maka, barangsiapa yang mengikuti PETUNJUK-Ku; dia TIDAK AKAN sesat dan tidak pula celaka. Sedang barangsiapa berpaling dari mengingat-Ku; pasti dia akan merasakan penghidupan yang sempit“. [Thoha: 124].

Oleh: Syeikh Abdurrozzaq Alu Badr, حفظه الله تعالى,. http://al-badr.net/muqolat/2648

******

Anda mencari kebahagiaan ?.. Ikutilah petunjuk-Nya.. !!

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

da030714-1643

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-12

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-11) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 12 🌼

Bahwasanya mereka meyakini bai’at syar’iyyah itu tidak boleh KECUALI kepada seorang imam yang muslim yang di bai’at oleh AHLUL HALI WAL’ AQDI.

Adapun kaum muslimin mengikuti mereka. Dan yang di maksud dengan AHLUL HALI WAL’ AQDI yaitu sebuah badan yang berisi para ulama yang ditunjuk oleh imam sebelumnya.
Mereka diangkat oleh imam sebelumnya untuk mengangkat imam setelahnya.

Dan penting kita pahami dulu tentang bai’at menurut ahlussunnah waljamama’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah dalam kitab Minhajus Sunnah Jilid 1 halaman 527, berkata:
Maksud yang di inginkan dari kepemimpinan (Imamah) itu hanyalah bisa terhasilkan dengan kekuasaan (Sulthan) dan Qudroh (kemampuan). Apabila ia di bai’at dengan sebuah bai’at yang terhasilkan dengannya Al qudroh yaitu kemampuan untuk menjalankan siyasah syar’iyyah dan kekuasaan, jadilah ia seorang imam.”

artinya:
Bahwa yang berhak di bai’at itu adalah mereka yang mempunyai 2 syarat ini:

Yang PERTAMA adalah Alqudroh (KEMAMPUAN).
Kemampuan apa?
Yaitu untuk menegakkan siyasah syar’iyyah.

Yang KE-DUA : Sulthan (KEKUASAAN).
Ini menunjukkan bahwa bai’at itu hanya kepada mereka.

Adapun seperti di Indonesia, sebagian kelompok-kelompok membai’at kelompoknya, imam kelompoknya, tidak terpenuhi syarat tersebut.
Mereka tidak punya Qudroh tidak pula mempunyai kekuasaan apa-apa.

Kata Syaikhul Islam…. kita lanjutkan…
…”Oleh karena itu para ulama Salaf terdahulu berkata:
Siapa yang memiliki Qudroh (kemampuan) dan Sulthan (kekuasaan) yang ia bisa melakukan maksud tujuan kepemimpinan. maka ia dianggap sebagai Ulil Amri yang Allah perintahkan untuk mena’ati mereka selama tidak memerintahkan kepada maksiat.”

Jadi hakikat Imam atau pemimpin Ulil Amri itu adalah kerajaan dan kekuasaan.
Maksud kerajaan di sini artinya dia pemilik negara/ pemegang negara.

Dan kerajaan itu, tidak menjadi raja kecuali dengan hanya sebatas kesepakatan 1 orang atau 2 orang atau 4 orang.
Kecuali kalau kesepakatan 2,3 atau 4 ini di sepakati oleh seluruhnya selain mereka.
Sehingga dengan seperti itupun dia menjadi seorang raja yang berkuasa di suatu negara.

Demikian pula setiap perintah yang membutuhkan kepada bantuan tidak akan terhasilkan kecuali dengan yang menghasilkan sesuatu yang bisa membantu dia.
Maksud beliau bahwa artinya :
👉🏼 KEKUASAAN dan QUDROH inilah syarat seseorang itu boleh di bai’at.

Adapun kalau dia tidak punya kekuasaan dan tidak punya kemampuan, maka ini jelas bai’at-bai’at yang bathil seperti yang kita lihat di zaman sekarang ini yang merupakan bai’at-bai’at yang tidak sesuai dengan syari’at.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN — Kaidah KE-11

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

KAIDAH SEBELUMNYA (KE-10) bisa di baca di SINI

=======

🌼 Kaidah yang ke 11 🌼

Bahwa Ahlus Su’nnah wal Jama’ah waljama’ah mempunyai keyakinan, sebab yang paling besar terjadinya perpecahan itu FANATIKNYA sebagian kaum muslimin kepada kelompok atau jama’ah tertentu atau individu tertentu selain Rasulullah dan para sahabatnya, ini adalah merupakan sebab terbesar TERJADINYA PERPECAHAN.

Seseorang fanatik kepada kelompoknya atau Ustadznya atau organisasainya dan yang lainnya, bukan kepada kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman [QS Al-An’am: 159]

‎إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ ۚ

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agama mereka dan mereka menjadi kelompok-kelompok kamu tidak termasuk mereka sedikitpun juga

Berkata Ibnu Katsir :
Ayat ini umum, buat orang yang memecah belah agama Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyelisihiNya.”

Allah juga berfirman [QS Ar-Rum: 31-32]

‎وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

‎مِنَ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا ۖ

Janganlah kalian seperti orang-orang musyrikin. Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka, dan mereka berkelompok-kelompok
Setiap kelompok merasa gembira , berbangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Kata Ibnu Katsir:
Umat Islam berpecah belah sesama mereka, menjadi berkelompok-kelompok. Semuanya sesat kecuali satu, yaitu Ahlus Sunnah wal Jama’ah.
Yang berpegang kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Dan juga berpegang kepada apa yang di pegang oleh generasi pertama dari kalangan sahabat dan Tabi’in dan para Ulama kaum Muslimin.”

Maka di sini Allah juga menyebutkan tentang sebab perpecahan itu.

Allah berfirman: [QS Ar-Rum: 32]

‎ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

Setiap kelompok bergembira atau berbangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Ketika setiap orang itu lebih membanggakan kelompoknya atau yayasannya atau organisasinya atau ustadznya… pasti pecah.

Seperti yang kita lihat di zaman sekarang, ketika seseorang sedang ngefans kepada seorang ustadz, maka membabi buta dia mengikuti ustadz tersebut.
Ketika ada ustadz lain yang mengkritik, bisa jadi yang mengkritiknya itu benar, maka di sikapi dengan sinis, seakan-akan ustadznya itu tidak boleh salah. Seakan-akan orang yang mengkritiknya itu sesat ataupun yang lainnya.

Kalau mengkritiknya itu tanpa bukti, tanpa hujjah atau sebatas tuduhan, kita wajib membela ustadz kita.
Tapi kalau ternyata kritikannya di atas kebenaran, maka kata Syaikhul Islam:
siapa yang membela ustadznya padahal dia dalam keadaan diatas kesalahan dan di atas kebathilan yang jelas, maka dia telah berhukum dengan hukum jahiliyah.”

Maka dari itu ya akhwat islam, saudaraku…. kita mengikuti kajian sunnah itu bukan untuk berfanatik kepada ustadz-ustadz tertentu atau kelompok tertentu atau kepada yayasan tertentu….Tidak.

👉🏼  FANATIK kita HANYA KEPADA ALLAH dan RASUL-NYA.

Pernah dikatakan kepada Ibnu Abbas:
Kamu ikut Ali atau ikut Utsman ?”
Kata Ibnu Abbas: “Aku mengikuti Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam.

Itulah ya akhwat Islam, fanatik kita hanya kepada Allah dan RasulNya.

Wallahu a’lam 🌴

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.

Dari buku yang berjudul “Al Ishbaah Fii Bayani Manhajis Salaf Tarbiyati wal Ishlah“, tentang Manhaj Salaf Dalam Masalah Tarbiyah dan Perbaikan, ditulis oleh Syaikh Al Ubailaan حفظه الله تعالى.

Silahkan bergabung di Telegram Channel : https://t.me/aqidah_dan_manhaj

Artikel TERKAIT :
DAFTAR LENGKAP PEMBAHASAN – Al Ishbaah – Manhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN