Category Archives: BBG Kajian

KTT DO’A : Adab # 23 – Tidak Berdo’a Seperti Sajak…

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

KTT DO’A : Adab # 22 – Memakai Pakaian Yang Bagus

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

KTT DO’A : Adab # 21 – Berdo’a Di Tempat Yang Suci Dari Najis

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

Pahamilah Kaidah…

Syaikhul islam ibnu Taimiyah rahimahullah dalam kitab iqtidlo shirotil mustaqiim (2/615) ketika membahas tentang perayaan maulid Nabi berkata:

فإن هذا لم يفعله السلف، مع قيام المقتضي له وعدم المانع منه. ولو كان هذا خيراً محضًا، أو راجحاً لكان السلف – رضي الله عنهم أحق به منا، فإنهم كانوا أشد محبة لرسول الله – صلى الله عليه وسلم – وتعظيماًله منا، وهم على الخير أحرص.

Sesungguhnya ini tidak pernah dilakukan oleh salaf padahal pendorong (untuk merayakan) telah ada, dan penghalangnya tidak ada. Kalaulah ini kebaikan yang murni atau lebih banyak kebaikannya tentulah salaf yang lebih berhak (mendahuluinya) dari kita.
Karena mereka lebih mencintai Nabi dan lebih mengagungkan mereka dari kita. Dan mereka lebih semangat kepada kebaikan“.

Perhatikanlah ucapan syaikhul Islam ini. Beliau memberikan kaidah-kaidah yang agung dalam memahami perbuatan yang tidak dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya atau disebut dengan salaf.
Beberapa faidah yang bisa dipetik dari perkataan beliau:

PERTAMA
Sesuatu yang tidak diperbuat oleh salafushalih padahal pendorongnya ada di zaman itu, dan penghalangnya pun tidak ada. Maka perbuatan tersebut tidak boleh kita lakukan karena mereka meninggalkannya pasti karena itu tidak disyareatkan.
Contoh yang sedang dibahas oleh beliau adalah perayaan maulid. Perayaan tsb tidak pernah dilakukan oleh para shahabat, tabi’in, tabi’iuttabiin dan tidak juga imam madzhab yang empat. Padahal pendorong untuk merayakannya ada yaitu cinta kepada Nabi. dan penghalangnya juga tidak ada, dimana mereka mampu melakukannya tapi tidak melakukannya.

KEDUA:
Dapat dipahami dari perkataan beliau, bahwa jika Nabi dan para shahabat meninggalkan suatu perbuatan karena pendorongnya belum ada di zaman tersebut, maka jika pendorongnya muncul setelah zaman mereka dan mashalahatnya lebih besar maka perbuatan tersebut boleh dilakukan dan tidak dianggap bid’ah.
Contohnya adalah ilmu nahwu, ilmu shorof, ilmu hadits, ilmu ushul fiqih dsb tidak ada di zaman Nabi dan para shahabat karena pendorongnya belum muncul. Tapi ketika telah muncul di zaman belakangan yaitu banyak orang yang tidak faham bahasa arab, muncul perawi yang suka salah dan berdusta, maka ditulislah ilmu ilmu tersebut untuk membela alqur’an dan hadits.

KETIGA:
Demikian juga jika Nabi dan para shahabatnya tidak melakukan suatu perbuatan karena adanya penghalang di zaman itu. Maka ketika penghilang itu telah hilang dan mashalahatnya lebih besar maka boleh dilakukan dan tidak dianggap sebagai bid’ah.
Contohnya adalah pembukuan mushaf alqur’an. Di zaman nabi belum dibukukan karena masih ada penghalang yaitu wahyu yang terus turun. Setelah nabi wafat banyak penghafal alqur’an yang meninggal di medan perang sehingga dikhawatirkan alqur’an akan hilang. Maka dibukukanlah di zaman Abu Bakar radliyallahu anhu.

KEEMPAT:
Salafussalih adalah generasi yang paling utama. Mereka lebih mengetahui kebaikan, lebih faham tentang agama, lebih mencintai Nabi dari kita, dan lebih semangat kepada pelbagai kebaikan. Maka sepantasnya untuk kita merujuk mereka dalam memahami alqur’an dan hadits.

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Apa Yang Kau Ketahui Tentang Bid’ah..?

Bid’ah adalah setiap keyakinan, perkataan, perbuatan dalam rangka beribadah kepada Allah Ta’ala yang tidak ada dalil yang mendukung pensyari’atannya.

➡️ Bid’ah Itu Dalam Aqidah Dan Amaliyah

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَاٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

Sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan (bid’ah), dan setiap bid’ah adalah sesat” (HR. Muslim no. 867, hadits dari Jabir bin Abdillah).

Beliau bersabda akan sesatnya semua bid’ah, dan “tidak membedakan” antara bid’ah aqidah dan amaliyah dalam statusnya yang sama-sama sesat.

Imam Ibnu Rajab rahimahullah berkata :

Maka setiap orang yang mengada-adakan sesuatu yang baru, dan dia nisbatkan kepada agama padahal tidak ada dasarnya di dalam agama, maka dia sesat. Agama ini berlepas diri darinya, baik itu dalam masalah aqidah atau amal atau ucapan yang zhahir maupun yang bathin” (Jaami’ul Ulum wal Hikam hal 128)

➡️ Siapakah Ahlul Bid’ah itu ?

Imam Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

Madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah adalah madzhab yang terdahulu dan telah terkenal sebelum Allah menciptakan Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi’i dan Ahmad. Ia adalah madzhab para sahabat yang diterima dari Nabi mereka. Barangsiapa yang menyelisihi (madzhab tersebut), maka ia adalah AHLUL BID’AH menurut (kesepakatan) Ahlussunnah wal Jama’ah” (Minhajus Sunnah II/482 dengan tahqiq Muhammad Rasyad Salim).

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata :

Maka setiap orang yang melakukan ibadah dengan sesuatu yang tidak disyariatkan Allah, atau dengan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan al-Khulafaa’ ar-Rasyidun, maka ia adalah seorang mubtadi’ (AHLUL BID’AH), baik ibadah yang dilakukannya itu berkaitan dengan asma Allah dan sifat-Nya, atau berkaitan dengan hukum dan syariat-Nya” (Majmu’ Fatawa wa Rasail II/291 no. 346)

➡️ Apakah Orang Yang Jatuh ke Dalam Kebid’ahan, Maka Langsung Dapat Disebut Ahlul Bid’ah ?

Syaikh al-Albani rahimahullah berkata :

Tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kebid’ahan maka (dengan serta merta) kebid’ahan jatuh atasnya (sehingga ia menjadi ahlul bid’ah), dan tidak setiap orang yang jatuh ke dalam kekufuran maka (dengan serta merta) kekufuran jatuh atasnya (sehingga ia menjadi kafir)”

Syaikh Utsaimin rahimahullah berkata :

Maka wajib bagi kita untuk tenang dan tidak tergesa-gesa. Kita tidak berkata kepada seseorang yang datang dengan membawa satu bid’ah dari ribuan sunnah bahwa dia adalah seorang ahlul bid’ah” (Syarah Hadits Arba’in, hadits ke 28).

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullah berkata :

Jika seseorang berbuat bid’ah karena tidak paham, maka ia dimaafkan karena ketidak-tahuannya itu, dan tidak dihukumi sebagai mubtadi’ (ahlul bid’ah), namun perbuatannya (tetap) disebut sebagai perbuatan bid’ah” (Muntaqa Fatawaa al-Fauzan II/181, Asy-Syamilah)

Syaikh Ali Hasan al-Halabi hafizhahullah berkata :

Adapun pelaku bid’ah ini kadang-kadang berasal dari seorang mujtahid, maka dalam ijtihad seperti ini (kalau hasil ijtihadnya salah), pelakunya tidak dapat dikatakan sebagai ahlul bid’ah.

Dan kadang-kadang pelaku bid’ah ini berasal dari orang bodoh, maka (karena kebodohannya) hukum sebagai ahlul bid’ah ditiadakan darinya, meskipun ia berdosa karena ia telah melalaikan (dirinya) dalam menuntut ilmu, kecuali jika Allah berkehendak (yang lain).

Boleh jadi juga terdapat beberapa kendala yang menghalangi orang yang terperosok dalam jurang bid’ah menjadi ahlul bid’ah.

Adapun orang yang terus menerus dalam bid’ahnya padahal telah nampak kebenaran baginya, karena ia mengikuti nenek moyang dan berjalan di belakang tradisi dan budaya, maka orang seperti ini sangat layak untuk dicap sebagai AHLUL BID’AH, karena ingkar dan berpaling dari kebenaran” (Ilmu Ushul Bida’ hal 209 – 210).

Maka pelaku bid’ah dalam aqidah dan amaliyah bisa disebut sebagai Ahlul Bid’ah dan bukan Ahlus Sunnah wal Jama’ah jika termasuk dalam pengertian di atas.

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

KTT DO’A : Adab # 20 – Suci Dari Najis dan Hadats…

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah iniIkuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

Allah Ada Di Hati..??

Sebagian orang berkata, Allah itu berada di hati..

Karena ada hadits: qolbu Mukmin baitullah…
Hati Mukmin itu adalah rumah Allah..

Padahal hadits itu TIDAK ADA ASALNYA..
Dusta atas nama Rasulullah..

Bahkan keyakinan itu lebih kufur dari Nasrani..
Karena Nashrani hanya mengkhususkan pada Yesus saja..

Sedangkan ia menjadikannya pada hati setiap muslim..

Allah bersemayam di atas Arasy-Nya..

Di atas langit ke tujuh sana..
Namun Allah tidak butuh kepada Arasy..

Karena Allah tidak serupa dengan makhluk-Nya..
Tanyakan kepada fitrah mu..
Ketika berdo’a Kemana hatimu menghadap..

Tanyakan kepada dirimu..
Ketika Rasulullah mi’raj, dimana beliau bertemu Allah..
Kalaulah Allah berada di hati..
Atau di mana-mana..
Tidak perlu beliau mi’raj ke langit ke tujuh sana..

Di malam lailatul qodar..
Allah menurunkan Al Qur’an..
Turun itu dari atas ke bawah..
Kalaulah Allah berada di hati atau dimana mana..
Tentu tidak perlu disifati turun..
Namun..
Ketika akal manusia telah lemah..
Ia mengingkari bersemayamnya Allah di atas Arasy..

Karena berkonsekuensi Allah membutuhkan tempat katanya..
Itu karena ia mengira bahwa bersemayamnya Allah sama dengan bersemayamnya makhluk..

Makhluk bila bersemayam ia butuh kepada tempat bersemayam..

Padahal Allah tidak serupa dengan Makhluk-Nya..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

da060414-1444

Fakta Sejarah Tentang Keyakinan Bahwa Allah Berada di Atas Arsy…

Imam Syafi’i (wafat 204 H) dan guru senior beliau Imam Malik (wafat 179 H), meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy.

Begitu pula Imam Abu Hanifah (wafat 150 H), Imam Ahmad (wafat 241 H), dan para Imam Ahlussunnah lainnya, semoga Allah merahmati mereka semua.

=====

Inilah fakta sejarah yang tidak mungkin dipungkiri oleh siapapun yang jujur dan obyektif.

Imam Syafi’i -rahimahullah- pernah mengatakan:

Makna firman Allah dalam kitab-Nya: MAN FIS SAMAA’ adalah: Dzat yang berada di atas langit, di atas Arsy, sebagaimana Dia firmankan: ‘Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy’ (QS. Thaha: 5) … Maka, Allah itu di atas Arsy sebagaimana Dia kabarkan sendiri, tanpa perlu mempersoalkan bagaimananya … ‘Tidak ada sesuatu pun yang sama dengan-Nya, Dia maha mendengar lagi maha melihat‘ (QS. Asy-Syuro: 42)”.

[lihat: Manaqibusy Syafi’i lil Baihaqi 1/397-398].

Perhatikanlah bagaimana Imam Syafi’i -rahimahullah- mengumpulkan dua ayat di atas… itu menunjukkan bahwa dua ayat itu saling melengkapi, dan tidak boleh dipertentangkan.

Kesimpulan dari dua ayat itu menurut Imam Syafi’i -rahimahullah- adalah, bahwa “Allah tidak sama dengan makhluk dalam keberadaan-Nya di atas Arsy“.

Inilah pemahaman yang harus kita teladani, bukan malah mempertentangkan dua ayat tersebut, dan mengatakan: karena Allah tidak sama dengan makhluk, maka Allah tidak berada di atas Arsy.

Inilah yang menjadikan Imam Syafi’i -rahimahullah- mengatakan: “tanpa mempersoalkan bagaimananya”, karena mempersoalkan hal itu akan menggiring seseorang untuk mempertentangkan dua ayat tersebut, lalu menafikan keberadaan Allah di atas Arsy-Nya.

Ini pula yang menjadikan Imam Malik -rahimahullah- membid’ahkan pertanyaan tentang ‘bagaimana’ keberadaan Allah di atas Arsy-Nya. [Lihat: Al-Asma was Sifat lil Baihaqi 2/360].

Karena memang hal itu tidak pernah dipersoalkan oleh para sahabat -radhiallahu anhum-, dan kita juga tidak akan tahu jawabannya bagaimanapun kita mengusahakannya… karena itu hal gaib, dan kita tidak boleh mengatakan satu huruf pun tentang itu, kecuali dari sumber yang maksum.

Contoh mudahnya: kita tahu ada kurma di surga… kita juga tahu bahwa nikmat di surga tidak sama dengan nikmat yang ada di dunia… Bolehkah kita mempersoalkan ‘BAGAIMANA‘ hakikat kurma itu ? Lalu setelah itu, kita mentakwilnya atau menafikannya ?… tentu tidak boleh.

Kita akan tetap mengatakan: bahwa ada kurma di surga, walaupun kita tidak tahu perincian detilnya, tapi yang jelas kurma itu jauh lebih baik dan lebih enak dari kurma yang ada di dunia.

Seperti inilah para ulama salaf memahami semua kabar ghaib, baik tentang Allah -jalla wa’ala-, malaikat, nikmat dan siksa kubur, timbangan amal, shirat, surga, neraka, dan hal-hal ghaib lainnya… karena mereka-reka hal itu tanpa sumber yang maksum akan menjatuhkan seseorang pada kesalahan.

Imam Abu Hanifah -rahimahullah- juga meyakini bahwa Allah berada di atas Arsy, beliau mengatakan:

Orang yang tidak mengikrarkan bahwa Allah di atas Arsy, maka dia telah kufur, karena Allah ta’ala berfirman (yang artinya): ‘Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy‘ (QS. Thaha: 5), dan Arsy-Nya di atas langit yang tujuh“. [Lihat: Kitabul ‘Arsy lidz Dzahabi 2/178].

Lihatlah bagaimana kerasnya pengingkaran beliau dalam masalah ini, karena beliau hidup di zaman yang tergolong masih awal dalam sejarah Islam, beliau lahir tahun 80 H, masih ada beberapa sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- yang hidup ketika itu, sehingga kesesatan dalam bidang akidah ketika itu masih tergolong sedikit… wajar bila ‘mengingkari keberadaan Allah di atas Arsy’ dianggap kufur ketika itu.

Adapun Imam Ahmad bin Hambal -rahimahullah-, maka beliau juga sama dengan imam-imam ahlussunnah sebelumnya dalam meyakini keberadaan Allah di atas Arsy-Nya.

Dalam bantahannya kepada kelompok Jahmiyah, beliau mengatakan: “Mengapa kalian mengingkari bahwa Allah berada di atas Arsy, padahal Dia sendiri telah mengatakan: ‘Allah yang Maha Pengasih itu berada di atas Arsy’ (QS. Thaha: 5)”. [lihat: Arradd alaz Zanadiqah, hal 287].

Beliau juga dengan tegas mengatakan: “Dia berada di atas Arsy, tapi pengetahuan-Nya meliputi apapun yang ada di bawah Arsy, tidak ada satupun tempat yang luput dari pengetahuan-Nya“. [Lihat: Arrad alaz Zanadiqah, hal 293].

Bahkan, inilah akidahnya seluruh ulama Ahlussunnah di masa awal-awal Islam, Imam Ibnu Abdil Barr -rahimahullah- (wafat 463 H) mengatakan:

Ahlussunnah telah ber-ijma’ (sepakat), dalam mengikrarkan dan mengimani semua sifat-sifat Allah yang datang dalam Alqur’an dan Assunnah.

Mereka memaknai sifat-sifat itu dengan makna hakiki, bukan dengan makna majazi, dan mereka tidak mem-bagaimana-kan satupun dari sifat-sifat itu. Mereka juga tidak membatasi Allah dengan sifat yang terbatas.

Adapun para ahli bid’ah, Jahmiyah, Mu’tazilah, dan Khawarij: mereka semua mengingkari sifat-sifat itu, mereka tidak memaknainya dengan makna hakiki, bahkan beranggapan bahwa orang yang mengikrarkan sifat-sifat itu sebagai ‘MUSYABBIH‘ (orang yang menyerupakan Allah dengan makhluk). Sebaliknya, mereka di mata orang-orang yang menetapkan sifat-sifat itu adalah orang-orang yang meniadakan sesembahannya.

Dan kebenaran ada di pihak mereka yang mengatakan dengan apa yang dikatakan oleh Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, merekalah para imam (ahlussunnah wal) jama’ah, walhamdulillah”. [Lihat: Attamhid libni Abdil Barr 7/145].

Jadi, jika Anda merasa asing di zaman akhir ini, karena berpegang teguh dengan akidah ini, maka tidak perlu bersedih, karena sebenarnya Anda telah bersama seluruh ulama ahlussunnah waljama’ah di zaman awal Islam.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

KTT DO’A : Adab # 19 – Menyebut Nama Allah Di Akhir D’oa

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

KTT DO’A : Adab # 18 – DO’A Yang Mudah Namun Sarat Isinya

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV