Category Archives: BBG Kajian

KTT DO’A : Adab # 17 – Dibolehkan Bertawassul Dengan TIGA Hal Ini

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

Untukmu Saudaraku Yang Lalai…

Cahaya Sunnah, [03.03.17 10:49]
◾️ Untukmu Saudaraku Yang Lalai… ◾️

Wahai saudaraku…engkau
Begitu semangatnya mengikuti berita…

Begitu seriusnya mencari data dan informasi terbaru darinya…

Begitu antusiasnya memberikan komentar terhadapnya…

Begitu pedulinya akan peristiwa yang berlangsung hanya sehari, seminggu dst…

Tapi…

Apakah sebegitu semangatnya, seriusnya, antusiasnya, perhatian dan pedulinya dirimu dengan agamamu dan kehidupan hakiki di akhirat yang pasti abadi…?

Kenapa masalah yang sehari bisa mengalahkan masalah kehidupan akhirat yang kekal dan tidak akan pernah mati…?

Kenapa ketika ada hal-hal yang berkaitan dengan akhirat, ganjaran, kebaikan, kematian dll engkau tidak seperti itu sikapnya…?

Apakah sudah ada benih-benih kemunafikan yang tidak disadari…?

Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Nifaq (munafik) adalah engkau berbicara tentang Islam tetapi engkau tidak mengamalkan ajarannya dalam kehidupan” (Hilyatul Auliyaa’ I/182).

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata :

“Wahai jiwa yang miskin, engkau selalu berbuat jelek, tapi menyangka telah berbuat baik…!

Engkau bodoh tapi menyangka dirimu berilmu…!

Engkau bakhil tapi menyangka dirimu dermawan…!

Ajalmu telah dekat tapi angan-anganmu masih jauh…!

Engkau telah berbuat zalim, tapi menyangka engkaulah yang terzhalimi…!

Engkau memakan harta yang haram, tapi menganggap dirimu wara’…!

Engkau telah menuntut ilmu demi meraup keuntungan dunia, tapi engkau katakan menuntutnya karena Allah ‘Azza wa Jalla……” (Siyar A’lamin Nubalaa’ VIII/440).

Ingatlah…

Kehidupan dunia hanyalah sebentar dan tidak lama… Janganlah masalah yang paling penting yaitu akhirat ternyata di abaikan begitu saja sehingga hilanglah begitu banyak kebaikan…

Cobalah tanyakan kepada diri sendiri…

Berapa banyakkah kebaikan yang telah dilakukan…?

Berapa banyakkah khatam membaca al-Qur’an…?

Sudahkah shalat dengan penuh khusyu’…?

Sudahkah beribadah niatnya selalu karena Allah…?

Sudahkah bertambah iman…?
Sudahkah bertambah ilmu…?
Sudahkah bertambah amal…?
Sudahkah bertambah semangat…?

Seberapa seringkah menghadiri majelis ta’lim…?
Seberapa banyakkah yang dipahami dari al-Qur’an dan as-Sunnah dengan pemahaman yang benar…?
Seberapa besarkah rasa takut kepada Allah Ta’ala…?
Seberapa banyakkah mengingat kematian…?

Kenapa seseorang membenci kematian…?

Karena ia telah memakmurkan dunia dan menghancurkan akhiratnya. Maka ia benci keluar dari kemakmuran menuju kehancuran…..!

Wahai saudaraku…

Kita tidak sedang berada di dunia yang kekal…

Kita telah diizinkan untuk pergi, maka bersiaplah karena perjalanannya sebentar lagi berangkat…

Beruntunglah orang yang takut ketika di dunia dan betapa buruk orang yang dosanya masih tersisa sepeninggalnya…

Perhatikanlah, sebagai apa nanti bila sudah berdiri di hadapan Allah Ta’ala…

Lalu Dia meminta pertanggungjawaban terhadap nikmat yang diberikan, bagaimanakah kita mempergunakannya…

Dia tidak akan menerima alasan mengelak atau pun permohonan maaf karena kesalahannya…

Orang-orang yang baik akan kembali kepada Allah seperti perantau yang kembali kepada keluarganya…

Sedangkan orang yang penuh dengan dosa dan maksiat akan datang seperti budak yang kabur, lalu dia diseret kepada majikannya dengan keras…

Allah Ta’ala berfirman :

“Maka bagaimana pendapatmu jika Kami berikan kepada mereka kenikmatan hidup bertahun-tahun kemudian datang kepada mereka adzab yang telah diancamkan kepada mereka, niscaya tidak berguna bagi mereka kenikmatan yang mereka rasakan” (QS. Asy-Syu’ara [26] : 205 – 207)

Seburuk-buruk hamba adalah hamba yang diciptakan untuk beribadah, namun syahwat malah menghalanginya untuk beribadah…

Seburuk-buruk hamba adalah hamba yang diciptakan untuk masa yang akan datang, namun masa yang sekarang menghalanginya dari masa yang akan datang…

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar

join ↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [12.03.17 17:21]
◾️ Ternyata Keshalihan Bisa Diturunkan… ◾️

Allah Ta’ala berfirman :

“Dan berikanlah keshalihan kepadaku (dengan juga memberikan keshalihan itu) kepada anak cucuku” (QS. Al-Ahqaf [46]: 15)

“Wahai Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku termasuk orang yang tetap mendirikan shalat, wahai Rabb kami, perkenankanlah doaku” (QS. Ibrahim [14]: 40)

Imam al-Bukhari rahimahullah, diantara sebab beliau menjadi anak yang shalih adalah karena keshalihan ayahnya yaitu Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim…

Ahmad bin Hafsh berkata :

“Aku masuk menemui Abul Hasan Isma’il bin Ibrahim tatkala ia hendak meninggal. Maka beliau berkata : “Aku tidak mengetahui di seluruh hartaku ada satu dirham yang aku peroleh dengan syubhat” (Taariikh ath-Thabari 19/239 dan Tabaqaat asy-Syaafi’iyyah al-Kubra II/213).

Allah Ta’ala berfirman :

“Adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang “ayahnya adalah seorang yang shalih”, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu…” (QS. Al-Kahfi [18]: 82)

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah berkata :

“Dikatakan bahwa ayah (yang tersebutkan dalam ayat di atas) adalah ayah/kakek ke-7, dan dikatakan juga kakek yang ke-10. Dan apapun pendapatnya (kakek ke-7 atau ke-10), maka ayat ini merupakan dalil bahwasanya seseorang yang shalih akan dijaga keturunannya” (Al-Bidaayah wan-Nihaayah 1/348).

Lihatlah bagaimana Allah menjaga sampai keturunan yang ke-7 karena keshalihan seseorang…

Sa’iid bin Jubair rahimahullah berkata :

“Sungguh aku menambah shalatku karena putraku ini”
Berkata Hisyam : “Yaitu karena berharap agar Allah menjaga putranya” (Tahdziibul Kamaal X/366 dan Hilyatul Auliyaa’ IV/279)

Umar bin ‘Abdil ‘Aziz rahimahullah berkata :

“Setiap mukmin yang meninggal dunia (di mana ia terus memperhatikan kewajiban pada Allah), maka Allah akan senantiasa menjaga anak dan keturunannya setelah itu” (Jami’ al-‘Ulum wal Hikam 1/467)

Sekarang coba renungkan, apakah sudah termasuk orang-orang yang shalih…? Banyak beribadah…? Selalu menjaga diri untuk tidak memakan dan membeli dari harta yang syubhat…?

Maka janganlah seseorang heran jika mendapati anak-anaknya keras kepala dan bandel, masih lalai dengan shalat, tidak mau diajak shalat ke masjid, sulit untuk menghafal al-Qur’an, tidak mau diajak ke taklim, tidak mau menutupi aurat dll…

“Bisa Jadi” sebabnya adalah orang tua itu sendiri yang tidak shalih, durhaka kepada orang tuanya serta memakan atau menggunakan harta haram, sehingga dampaknya kepada anak-anaknya…

Anak yang tumbuh dari makanan yang haram kelak menjadi orang yang tidak peduli akan rambu-rambu halal dan haram dalam agamanya, lalu bagaimana mungkin orang tua akan mendapatkan anak yang shalih…?

Akan tetapi pada asalnya insya Allah jika seorang ayah atau ibu itu shalih dan shalihah, maka Allah Ta’ala pun akan menjaga anak-anaknya…

Wahai Saudaraku…

Inginkah anakmu menjadi shalih dan shalihah…?

Taat kepada Allah dan Rasul-Nya, serta berbakti kepada kedua orang tuanya…?

Dan jika engkau menginginkannya…

Lalu sudahkah engkau shalih sebagai orang tua…?

Allah Ta’ala berfirman :

“…Sesungguhnya orang-orang yang merugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat…” (QS. Az-Zumar [39]: 15)

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar

join ↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [22.03.17 19:52]
◾️ Curahan Hati Untuk Istriku… ◾️

Maafkan aku wahai istriku…
Sudah berapa kali kubuat kau bersedih…
Sudah berapa kali hatimu kulukai…
Sudah berapa kali nasihatmu kutepis…
Sudah berapa kali teguranmu kutolak…
Sudah berapa kali tingkahku memberi luka…
Sudah seringkali aku berlaku kasar padamu…

Maafkan aku wahai istriku…
atas segala salah dan khilafku…
lahir dan batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, atas ucapan dan janji yang tak terpenuhi…

Maafkan aku wahai istriku…
jika yang ada pada diriku membuatmu kecewa…
jika yang kuperbuat sangat menyakiti hatimu…
aku hanyalah seorang lelaki biasa…
seorang suami yang lemah…
seorang suami yang banyak salah…

Tapi…

Yakinlah aku mencintaimu karena Allah…
aku sayang padamu wahai istriku…
engkau harta yang tak ternilai bagiku…

Wahai Istriku…
seandainya dirimu merasa pernah berbuat salah padaku, apapun itu, aku sudah ridho memaafkan semuanya, lahir dan batin…

Wahai Istriku…
aku kini menyadari bahwa hatimu begitu mulia…
mudah-mudahan ini kesadaran yang belum terlambat, hanya karena kebodohanku saja, serta hawa nafsu, sehingga aku menzhalimi dirimu…

Ya Allah, hanya Engkau yang mengetahui semua kebaikannya, maka berilah balasan yang baik dan berlipat atas segala kebaikannya…

Bila ia berbuat dosa, itu adalah juga dosa hamba…
karena kejahilan hamba yang tidak bisa mengemban amanah memimpin rumah tangga…

Ya Allah, ampunilah kami, sayangilah kami, tutuplah aib-aib kami, serta jagalah dan lindungilah keluarga kami, sungguh Engkaulah sebaik-baik pelindung…

Ya Allah, jadikan istriku termasuk istri yang shalihah dan semakin shalihah, serta izinkan hamba-Mu ini untuk bisa membahagiakannya sampai sisa umur yang telah Engkau tentukan…

Ya Allah, jadikanlah “ISTRIKU SURGAKU”, sebaik-baik kesenangan dunia, dan masukkanlah kami ke dalam Surga Firdaus yang Engkau janjikan sebagai rahmat-Mu…

Aamiin…

(dinukil dari buku “50 Kiat Agar Cinta Suami Kepada Istri Semakin Dahsyat”, hal 102-104)

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar

join ↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [25.03.17 20:41]
[ Photo ]

Menafikan Allah Di Atas Arsy-Nya Bukan Akidah Ahlussunnah Waljama’ah…

MENAFIKAN ALLAH DI ATAS ARSY-NYA, BUKAN AKIDAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH… karena itu bertentangan dengan Alqur’an, Assunnah, Ijma’ Sahabat, dan fitrah alami manusia.

Apapun retorika yang dipakai… dan siapapun yang menjadi rujukan… jika itu menyelisihi Alqur’an, Assunnah, dan Ijma’ para sahabat = maka tetap saja harus ditinggalkan, karena itu kebatilan.

Sudah sangat tegas Allah berfirman (yang artinya):
Allah yang maha penyayang itu berada di atas Arsy” [QS. Thaha: 5].

Peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang sangat masyhur, juga sangat tegas menjelaskan bahwa Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- akhirnya di bawa ke atas menghadap Allah, untuk menerima syariat shalat lima waktu.
Dan ketika itu beliau melewati langit pertama hingga langit ketujuh, kemudian naik lagi hingga menemui Rabbnya -subhanahu wa ta’ala.. ini jelas menunjukkan bahwa Allah berada di atas makhluk-Nya, tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya.

Sahabat Ibnu Mas’ud -radhiallahu anhu- juga berkata:
Jarak antara langit dunia dengan langit setelahnya adalah jarak perjalanan 500 tahun, jarak antara setiap dua langitnya adalah 500 tahun, jarak antara langit ketujuh dengan Alkursi adalah 500 tahun, jarak antara Al-kursi dengan air adalah 500 tahun, dan Arsy di atas air itu, dan Allah -jalla dzikruhu- di atas Arsy, tapi Dia mengetahui apapun yang antum lakukan“.
[HR. At-Thabarani dalam Al-Mu’jamul Kabir: 8987, sanadnya hasan].

Bahkan Ibnu Abdil Barr -rohimahulloh- (wafat 463 H) telah mengatakan, bahwa seluruh ulama dari generasi Sahabat dan Tabi’in mengatakan bahwa Allah itu di atas Arsy. [Lihat: Attamhid 7/138-139].

Jika Anda masih sulit menerima keterangan ini, cobalah merenung saat Anda berdo’a, mengapa tangan Anda menengadah ke atas ? Mengapa juga hati Anda menghadap ke atas ? bisakah Anda mengingkari fitrah ini.

Dan masih banyak lagi, dalil-dalil yang menunjukkan bahwa Allah berada di atas, berada di atas Arsy-Nya… TIDAK SEPANTASNYA ORANG YANG MENGAKU BERAKIDAH AHLUSSUNNAH WALJAMA’AH MENOLAK KETERANGAN INI, HANYA KARENA AKALNYA TIDAK MAMPU MEMAHAMINYA DENGAN BAIK DENGAN BAIK dan dengan tetap mensucikan Allah dari menyerupai makhluk-Nya.

Harusnya kita menerima kabar langit yang bersanad shahih tersebut dengan apa adanya, memaknainya sesuai dengan kemuliaan dan keagungan Allah ta’ala, dengan tanpa mentakwilnya, atau menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya.

Seringkali orang menolak nash syariat, karena adanya kaidah yang dia anggap bertentangan dengan nash tersebut, contoh mudahnya: sebagian orang menolak ketentuan hukum waris dalam Alqur’an, karena membedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan, hal itu dia anggap bertentangan dengan kaidah keadilan Allah.

Padahal sebenarnya “KEADILAN” itu tidak harus berarti persamaan, tapi keadilan adalah memberikan sesuatu sesuai dengan keadaan dan kebutuhan masing-masing. Tentunya kebutuhan anak laki-laki jauh lebih banyak daripada kebutuhan anak perempuan.
(Anak laki-laki saat menikah harus memberikan mahar, sedang yang perempuan malah mendapatkan mahar… saat sudah menikah, anak laki-laki harus menafkahi isterinya, sedang anak perempuan, malah mendapatkan nafkah dari suaminya… saat ada yang terjatuh dalam pembunuhan secara tidak sengaja, saudara laki-laki harus menanggung diyat-nya, sedang yang perempuan tidak).

Hal ini juga terjadi dalam bab sifat-sifat Allah, sebagian orang menolak kabar tentang sebagian sifat Allah, karena dalam pandangan dia, hal itu tidak sesuai dengan kaidah bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya.

Padahal kriteria “TIDAK MENYERUPAI MAKHLUK” itu tidak berarti harus menafikan atau mentakwil sifat tersebut, tapi bisa juga dengan menetapkan sifat itu sesuai kemuliaan dan keagungan Allah, yang sangat jauh berbeda dengan makhluk-Nya… Dan inilah yang harusnya diambil oleh seorang hamba yang menjunjung tinggi Firman Allah dan Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Ibnul Qoyyim -rahimahullah- telah menyebutkan perkataan yang pantas ditorehkan dengan tinta emas dalam hal ini, beliau mengatakan:
Adapun kita membuat suatu kaidah, dan kita katakan itulah hukum asalnya, kemudian kita menolak Assunnah (Hadits) karena alasan menyelisihi kaidah itu, maka demi Allah (ini tidak boleh sama sekali), sungguh merusak SERIBU kaidah yang tidak dibuat Allah dan Rasul-Nya lebih wajib bagi kita, daripada menolak SATU hadits“. [I’lamul Muwaqqi’in 2/252].

Dan jauh sebelum itu, Imam Syafi’i -rahimahullah- telah mengatakan:
Tidak boleh ada qiyas, bila sudah ada khabar“. [Ar-Risalah, hal: 599].. dan itu berarti: “Tidak boleh ada ijtihad, bila sudah ada nash yang menjelaskan”, karena qiyas dan ijtihad menurut beliau adalah dua kata yang satu makna. [Ar-Risalah, hal 477].

Sehingga bila sudah ada nash yang menjelaskan tentang dimana keberadaan Allah dan sifat-sifat Allah lainnya, maka tunduklah kepada nash-nash itu, dan buanglah semua ijtihad kita.. lalu nafikan semua konsekuensi batil yang berasal dari kepala kita yang lemah ini.

Karena nash yang haq, pasti punya konsekuensi yang haq, dan itulah yang harusnya diambil.

Bila Anda menemukan konsekuensi yang batil dari nash yang haq, maka yakinlah bahwa konsekuensi yang batil itu pasti dari akal Anda yang lemah, dan itulah yang harus Anda buang.

Nash yang haq tidak mungkin menunjukkan kebatilan bila dipahami dengan baik dan lurus.

Inilah manhaj ulama salaf kita, manhaj ahlussunnah waljama’ah dalam bab sifat-sifat Allah ta’ala. wallahu a’lam.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

KTT DO’A : Adab # 16 – Beriman Bahwa Manfa’at dan Mudhorot Hanya Dari Allah

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

KTT DO’A : Adab (12-13) # 14 – Berusaha Mengambil Martabat Yang Paling Sempurna Dalam Ber-DO’A

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

Kegaduhan Itu Dari Mana Bermula..?

Jawabannya, biasanya datang dari orang yang ilmunya masih setengah-setengah, belum matang.

Imam Syaukani -rahimahullah- menukil perkataan seorang ulama di zamannya, “Ali bin Qaasim Hanasy” (wafat 1219 H):

“Manusia itu terbagi menjadi tiga tingkatan:

PERTAMA : Tingkatan atas, yaitu tingkatan para ulama besar, mereka adalah orang-orang yang mengetahui mana yang benar dan mana yang batil, meski mereka berbeda pendapat, tapi hal itu tidak menimbulkan fitnah (kegaduhan), karena mereka saling memahami antara satu dengan yang lainnya.

KEDUA : Tingkatan bawah, yaitu tingkatan orang-orang awam, yang masih di atas fitrahnya, mereka tidak benci kebenaran, mereka adalah pengikut orang-orang yang menjadi panutannya. Apabila panutannya benar, maka mereka pun demikian. Apabila panutannya dalam kebatilan, maka mereka juga seperti itu.

KETIGA : Tingkatan tengah, inilah tempat munculnya keburukan dan sumber fitnah dalam agama. Mereka ini tidak belajar ilmu dengan mendalam hingga sampai pada tingkatan pertama, mereka juga tidak meninggalkan ilmu hingga turun ke tingkatan bawah.

Mereka ini jika melihat orang yang berada di ‘tingkatan atas‘ mengatakan perkataan yang tidak mereka ketahui, perkataan yang menyelisihi apa yang mereka yakini, yang sebabnya adalah kekurangan mereka (dalam mendalami ilmu); mereka akan lepaskan panah-panah celaan, dan mereka menganggap perkataan (ulama) itu sangat buruk.

Di sisi lain, mereka juga merusak fitrah orang-orang yang berada di tingkatan bawah dari menerima kebenaran, dengan penjelasan-penjelasan batil yang menyesatkan.

Maka, ketika itulah fitnah-fitnah dalam agama ini muncul dengan kuat”.

Setelah menyebutkan perkataan ini, Imam Syaukani -rahimahullah- mengatakan: “Sungguh benar apa yang dia katakan, dan siapapun yang merenungi hal ini, ia akan mendapatinya seperti itu“.

[Sumber: Al-Badrut Thaali’, hal 511].

——-

Jika demikian adanya, maka harusnya setiap dari kita memahami posisi masing-masing, dan hendaknya setiap dari kita menjaga diri dan lisan, agar jangan sampai menzalimi orang lain.

Ingatlah selalu sabda Nabi -shallallahu alaihi wasallam-: “Seorang muslim (sejati) adalah orang yang kaum muslimin selamat dari (keburukan) tangan dan lisan dia“. [HR. Bukhari: 10, dan Muslim: 64].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

KTT DO’A : Adab # 11 – Yakin Bahwa Do’a Akan Di Kabulkan Oleh Allah

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channelhttps://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A…

Courtesy of Safdah TV

Karena Apa Air Matamu Menangis..?

Cahaya Sunnah, [22.01.17 12:10]
◾️ KARENA APA AIR MATAMU MENANGIS ? ◾️

Menangis merupakan bukti yang menunjukkan ketakwaan hati, ketinggian jiwa, kesucian sanubari dan kelembutan perasaan…

Menangis karena Allah terjadi manakala seorang hamba melihat kelalaian pada dirinya atau merasa takut akan kesudahannya yang buruk…

Menangis manakala hamba yang bersangkutan ingat kepada Rabbnya dan takut akan dosa-dosa yang telah dilakukannya…

Abu Sa’id berkata : “Pada suatu hari, aku melihat Manshur bin Zadzan berwudhu. Usai berwudhu, kedua matanya mengucurkan air mata. Ia menangis terus hingga suaranya semakin keras. Aku berkata kepadanya : “Ada apa denganmu, semoga Allah merahmatimu”. Manshur bin Zadzan berkata : “Adakah sesuatu yang lebih besar dari urusanku ? Aku ingin berdiri di depan Dzat yang tidak tidur dan mengantuk. Tapi aku khawatir Dia memalingkan muka dariku”. Demi Allah, aku menangis karena perkataannya itu” (Shifatus Shafwah II/12).

Muhammad bin Naahiah berkata : “Aku shalat shubuh bermakmum di belakang al-Fudhail, dia membaca surat al-Haqqah. Ketika tiba pada bacaan : “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya” (QS. Al-Haqqah [69]: 30). Al-Fudhail tidak bisa membendung tangisannya” (Siyar A’laam an-Nubalaa’ VIII/444).

Dari Ali bin Zaid, dia berkata : “Suatu malam al-Hasan ada di rumah kami. Pada tengah malam dia menangis. “Wahai Abu Sa’id, semalam engkau telah membuat keluargaku menangis semua”, kataku. Dia berkata : “Wahai Ali, sesungguhnya aku berkata kepada diriku sendiri : “Wahai Hasan, boleh jadi Allah melihatmu karena sebagian musibah yang menimpamu, lalu Dia berfirman : “Berbuatlah sesukamu, karena Aku tidak menerima sedikit pun dari amalmu” (Az-Zuhd no.1608 oleh Imam Ahmad).

Wahai Saudaraku, air mata apakah yang selalu menetes dari mata ini…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut dan harap kepada Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena sangat rindu ingin bertemu dengan Rasulullah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena dosa-dosa dan maksiat yang telah dilakukan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut orang tua nantinya diazab Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena takut akan su’ul khatimah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan alam kubur…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan nasib di akhirat kelak…?

Pernahkah air mata ini menetes karena memikirkan Surga dan Neraka Allah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya hilang pahala akhirat…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya waktu yang terbuang sia-sia…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diketahui…?

Pernahkah air mata ini menetes karena banyaknya ilmu yang belum diamalkan…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya harta dikeluarkan untuk sedekah…?

Pernahkah air mata ini menetes karena jarangnya hadir di majelis taklim…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat tahajjud di malam hari…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat dua raka’at sebelum shubuh…?

Pernahkah air mata ini menetes karena kehilangan shalat berjamaah di masjid…?

Pernahkah air mata ini menetes karena melihat penderitaan kaum muslimin di tempat lain…?

Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata : “Menangislah kalian…karena sesungguhnya para penghuni Neraka itu menangis padahal tidak ada yang merasa kasihan dengan tangisan mereka, maka menangislah sekarang…karena tangisan kalian saat ini masih dikasihani” (Az-Zuhd no.1101 oleh Imam Ahmad).

Wahai Saudaraku…
Menangislah sebelum menyesal, sebab perjalanan sangatlah jauh dan bekal hanya sedikit…
datangilah majelis tangis…
majelis yang mengingatkan akan negeri akhirat…
majelis yang dapat menyuburkan iman dan taqwa…
majelis yang didalamnya dibacakan ayat-ayat Allah… majelis yang dibacakan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam…yang semua itu menyebabkan air matamu berlinang dan hati ini tunduk, bergetar serta takut kepada Allah ‘Azza wa Jalla…

✍️ Ust Najmi Umar Bakkar

join↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [30.01.17 17:21]
◾️ Ringkasan 12 Adab Bagi Penuntut Ilmu ◾️

(01). Hendaknya kepergian dan duduknya seorang penuntut ilmu ke majelis ilmu itu ikhlas hanya karena Allah, tanpa riya’ dan keinginan dipuji orang lain.

(02). Hendaknya berdo’a kepada Allah Ta’ala sebelum dimulainya majelis ilmu agar ilmunya berkah, yaitu ditambahkan ilmunya, diberi pemahaman dan dimudahkan Allah dalam mengamalkannya.

(03). Bersegera datang ke majelis ilmu dan tidak terlambat, seyogyanya seorang penuntut ilmu datang terlebih dahulu sebelum ustadznya.

(04). Jika majelis ilmu ada di masjid, maka sebelum duduk hendaknya shalat sunnah tahiyatul masjid.

(05). Ucapkanlah salam saat memasuki suatu majelis.

(06). Jika bercampur antara jamaah wanita dan pria di suatu majelis ilmu, maka hendaknya diberi pembatas atau hijab di antara mereka untuk menghindari fitnah. Atau bisa juga dengan cara mengadakan majelis ilmu di tempat tertentu khusus untuk para wanita saja.

(07). Tidak menyuruh orang lain berdiri, pindah atau menggeser tempat duduknya.

(08). Tidak meletakkan tangan kiri ke belakang.

(09). Mendekat ke ustadz saat ia memberi nasehat.

(10). Mencatat ilmu agar tidak mudah hilang.

(11). Tenang, tidak berbicara, tidak bersenda gurau ataupun berbantah-bantahan yang sia-sia, tidak sibuk sendiri dengan banyak bergerak, menolah-noleh ke belakang atau ke kiri dan kanan, hendaknya mata tertuju kepada ustadz dalam majelis ilmu.

من لا يكرمُ العلمَ لا يكرمه العلمُ
“Barangsiapa yang tidak memuliakan ilmu, maka ilmu pun tidak akan menjadikannya mulia”

Jika seorang murid berakhlak buruk kepada ustadznya maka akan menimbulkan dampak yang buruk pula, seperti hilangnya berkah dari ilmu yang di dapat, tidak dapat mengamalkan ilmunya atau tidak dapat menyebarkan ilmunya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
خيركم اسلاما احاسنكم اخلاقا اذا فقهوا
“Sebaik-baik kalian Islamnya adalah yang paling baik akhlaknya jika mereka menuntut ilmu” (HR. Ahmad no.10329, lihat Shahiihul Jaami’ ash-Shaghiir no.3312, hadits dari Abu Hurairah).

Usamah bin Syariik radhiyallahu ‘anhu berkata :

“Kami duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam seakan-akan ada burung di atas kepala kami, tidak ada seorang pun dari kami yang berbicara…” (HR. Ath-Thabrani dan Ibnu Hibban, lihat Shahiihut Targhib wat Tarhiib no. 2652)

Imam asy-Syafi’i rahimahullah berkata :

“Aku membalik lembaran halaman di hadapan Malik dengan pelan, karena segan kepadanya agar ia tidak mendengar suaranya”

Ar-Rabi’ bin Sulaiman rahimahullah berkata :
مَا وَاللَّهِ اجْتَرَأْتُ أَنْ أَشْرَبَ الْمَاءَ وَالشَّافِعِيُّ يَنْظُرُ إِلَيَّ هَيْبَةً لَهُ
“Demi Allah, aku tidak berani meminum air dalam keadaan asy-Syafi’i melihatku karena segan kepadanya”

Janganlah datang ke majelis ilmu hanya sekedar mendengarkan sambil bersantai-santai, tidak serius dan banyak menguap. Ada yang sambil bermain HP, duduk bersandar, tidur, memotret, menjulurkan kaki, memberikan komentar saat ustadz sedang menjelaskan, ada juga yang sambil makan, minum, mengecap permen dan bahkan ada yang niatnya sekedar ngumpul-ngumpul, kopdar, ingin ketemu ustadznya atau tujuannya hanya berdagang saja

Janganlah mengangkat suara saat firman Allah Ta’ala dan hadits Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam dibacakan, sehingga berakibat terhapusnya amalan (lihat QS. 7 : 204 dan QS. 49 : 2)

Imam adz-Dzahabi rahimahullah menyampaikan kisah Ahmad bin Sinan, ketika beliau berkata :

“Tidak ada yang berbicara di majelis ‘Abdurrahman bin Mahdi, tidak ada pensil yang diraut, tidak ada seorangpun yang tersenyum, dan tidak ada seorangpun yang berdiri, seolah-olah di atas kepala mereka ada burung atau seolah-olah mereka sedang shalat. Jika ia melihat salah seorang di antara mereka tersenyum atau bercakap-cakap, maka dia memakai sandalnya lalu keluar” (Siyar A’laamin Nubalaa’ IX/201-202)

(12). Membaca do’a penutup majelis.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ

✍️ Ust Najmi Umar Bakkar

join↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [08.02.17 20:48]
◾️ Oh…Alangkah Besarnya Penyesalan… ◾️

Bagaimana mata kan terpejam, kalau ia terbelalak diam, di mana seharusnya ia sangat awam, di Surga atau Neraka ia berdiam…

Seseorang masìh memungkinkan untuk berbuat durhaka atau taat kepada Allah selama hayat masih di kandung badan…

Keleluasaan yang ia minta, sebaliknya akan menjadi keterkungkungan yang ia terima…

Lalu di manakah letak nikmatnya kedurhakaan seseorang dan dimana jerih payah ketaatannya…?

Seseorang yang telah tergoda oleh nafsu syahwat, ia akan begitu cepat menghampirinya dan tidak pernah berpikir tentang apa akibat yang akan ditimbulkannya kelak…

Berapa banyak sudah penyesalan yang telah ia teguk di dalam menjalani sisa-sisa hidupnya…?

Berapa besar kehinaan yang harus ia tanggung setelah kematiannya…?

Dan siksa yang tidak bisa dihindarkan datangnya, yaitu mempertanggungjawabkan atas semua perbuatannya dihadapan Allah…

Dan itu semua disebabkan oleh kenikmatan yang sesaat, yang terasa bagaikan sebuah kilat…

Alangkah mengkhawatirkan bagi orang yang meyakini sebuah perintah, akan tetapi setelah itu melupakannya…

Juga bagi orang yang telah melihat dengan mata kepala sendiri bahaya yang akan tersimpan di balik suatu persoalan, akan tetapi kemudian menutup mata darinya…

Sebesar-besar hukuman adalah apabila si terhukum tidak merasa dirinya sedang dihukum…

Ketahuilah…

Derajat yang tinggi di sisi Allah tidak akan diraih kecuali setelah bersungguh-sungguh…

Sungguh-sungguh tidak akan ada kecuali setelah adanya rasa takut…

Rasa takut tidak akan ada kecuali setelah adanya keyakinan…

Keyakinan tidak akan ada kecuali setelah adanya ilmu…

Ilmu tidak akan ada kecuali setelah belajar…

Belajar sulit dilakukan jika tanpa adanya niat, tekad dan semangat yang kuat…

Manfaatkanlah waktu dan ketahuilah perbuatan apa saja yang mengiringi malam dan siangmu yang telah berlalu…

Perbaharuilah taubat setiap waktu, dan jadikanlah umurmu dalam tiga waktu : waktu untuk ilmu, waktu untuk beramal dan waktu untuk memenuhi hak dan kewajibanmu…

Ambillah pelajaran dari orang-orang yang telah lalu, dan pikirkanlah tempat kembalinya dua kelompok di hadapan Allah. Satu kelompok di dalam Surga dengan ridha-Nya dan satu kelompok berada di Neraka dengan murka-Nya…

Kesenangannya Iblis bukan menjerumuskanmu dalam berbagai kemaksiatan, akan tetapi cita-citanya agar engkau masuk bersamanya ke tempat yang dia akan memasukinya, yaitu Neraka Jahannam…

Hindarilah maksiat hati yaitu menganggap sedikitnya rezeki, menganggap remeh nikmat Allah, lalai dari Allah, menganggap remeh bencana agama, menganggap besar dunia dan bersedih hati karena dunia yang telah meninggalkannya…

Dosa itu mewariskan kelalaian…
Kelalaian mewariskan kekerasan hati…
Kekerasan hati mewariskan jauh dari Allah…
Jauh dari Allah mewariskan Neraka…

Umur manusia hanyalah hitungan hari…
Manusia akan mendapatkan kebahagiaan jika ia menghibahkan dirinya untuk Allah ‘Azza wa Jalla…

Ingatlah suatu hari, dimana penyesalan tidaklah berguna lagi…

ٌيَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْتُ فِي جَنْبِ اللَّهِ…
“…Alangkah besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah…” (QS. Az-Zumar [39]: 56)

يَقُولُ يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي
“Dia mengatakan : “Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu mengerjakan (amal shalih) untuk hidupku ini” (QS. Al-Fajr [89]: 24)

قَالُوا يَا حَسْرَتَنَا عَلَىٰ مَا فَرَّطْنَا فِيهَا…
“…Mereka berkata : Sungguh betapa menyesalnya kami atas apa yang kami sia-siakan dahulu di dunia…” (QS. Al-An’aam [6]: 31)

يَوْمَ تُقَلَّبُ وُجُوهُهُمْ فِي النَّارِ يَقُولُونَ يَا لَيْتَنَا أَطَعْنَا اللَّهَ وَأَطَعْنَا الرَّسُولَا
“Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikkan dalam Neraka, mereka berkata : “Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul” (QS. Al-Ahzab [33]: 66)

Semoga Allah selalu memberikan taufiq bagi para pengikut kebenaran, dan semoga menjadikan kita termasuk bagian dari mereka…

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar

join ↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [22.03.17 19:52]
◾️ Curahan Hati Untuk Istriku… ◾️

Maafkan aku wahai istriku…
Sudah berapa kali kubuat kau bersedih…
Sudah berapa kali hatimu kulukai…
Sudah berapa kali nasihatmu kutepis…
Sudah berapa kali teguranmu kutolak…
Sudah berapa kali tingkahku memberi luka…
Sudah seringkali aku berlaku kasar padamu…

Maafkan aku wahai istriku…
atas segala salah dan khilafku…
lahir dan batin, yang tampak maupun yang tersembunyi, atas ucapan dan janji yang tak terpenuhi…

Maafkan aku wahai istriku…
jika yang ada pada diriku membuatmu kecewa…
jika yang kuperbuat sangat menyakiti hatimu…
aku hanyalah seorang lelaki biasa…
seorang suami yang lemah…
seorang suami yang banyak salah…

Tapi…

Yakinlah aku mencintaimu karena Allah…
aku sayang padamu wahai istriku…
engkau harta yang tak ternilai bagiku…

Wahai Istriku…
seandainya dirimu merasa pernah berbuat salah padaku, apapun itu, aku sudah ridho memaafkan semuanya, lahir dan batin…

Wahai Istriku…
aku kini menyadari bahwa hatimu begitu mulia…
mudah-mudahan ini kesadaran yang belum terlambat, hanya karena kebodohanku saja, serta hawa nafsu, sehingga aku menzhalimi dirimu…

Ya Allah, hanya Engkau yang mengetahui semua kebaikannya, maka berilah balasan yang baik dan berlipat atas segala kebaikannya…

Bila ia berbuat dosa, itu adalah juga dosa hamba…
karena kejahilan hamba yang tidak bisa mengemban amanah memimpin rumah tangga…

Ya Allah, ampunilah kami, sayangilah kami, tutuplah aib-aib kami, serta jagalah dan lindungilah keluarga kami, sungguh Engkaulah sebaik-baik pelindung…

Ya Allah, jadikan istriku termasuk istri yang shalihah dan semakin shalihah, serta izinkan hamba-Mu ini untuk bisa membahagiakannya sampai sisa umur yang telah Engkau tentukan…

Ya Allah, jadikanlah “ISTRIKU SURGAKU”, sebaik-baik kesenangan dunia, dan masukkanlah kami ke dalam Surga Firdaus yang Engkau janjikan sebagai rahmat-Mu…

Aamiin…

(dinukil dari buku “50 Kiat Agar Cinta Suami Kepada Istri Semakin Dahsyat”, hal 102-104)

✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar

join ↪️https://telegram.me/najmiumar

Cahaya Sunnah, [25.03.17 20:41]
[ Photo ]

KTT DO’A : Adab # 10 – Awali Do’a Dengan Memuji Allah dan Ber-Sholawat Baik Di Luar Maupun Dalam Sholat

Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A. Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

(tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) : Ikuti terus channel : https://telegram.me/bbg_alilmu

Simak artikel terkait dalam Daftar berikut ini (KLIK Link dibawah ini) :

DAFTAR KOMPLIT Artikel Kupas Tuntas Tentang (KTT) DO’A

Courtesy of Safdah TV