Category Archives: BBG Kajian

Nyaris Tidak Ada Seorangpun Yang Selamat Dari Hasad…

Ada yang bertanya kepada Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullah: “Wahai Abu Sa’id, apakah seorang mukmin bisa bersikap hasad ?

Beliau menjawab : “Betapa kalian telah melupakan anak-anak Ya’qub, yaitu ketika mereka hasad terhadap Yusuf…

Namun, sebesar apapun hasad yang ada di hatimu..
maka ia tidak akan membahayakanmu selama lisanmu tidak mengucapkannya dan tanganmu tidak menurutinya

Syaikhul Islam pun mengomentari perkataan tersebut, seraya berkata :
Maksudnya hasad adalah salah satu penyakit hati yang senantiasa ada dan hanya sedikit orang yang selamat darinya. Karena itulah dikatakan,

“Tidaklah jasad itu bersih dari sifat hasad. Hanya saja orang-orang yang hina menampakkannya, sedangkan orang yang mulia selalu berupaya menyembunyikannya.

Ya Allah…sucikanlah qolbu hamba-Mu ini dari segala penyakit hati..!!

Aamiiin…

Ustadz Djazuli Ruhan Basyir Lc, حفظه الله تعالى

da170714-0646

Sungguh Betapa Mengherankan…

Berapa kali aku mencela orang-orang yang dijauhi oleh Allah, tapi celaan itu ternyata tidak bermanfaat…

Betapa sering aku menyeru kepada orang-orang yang tuli dan lalai, tapi ternyata seruan itu tidak terdengar…

Betapa seringnya aku berbicara pada hatimu dan aku sangat ingin engkau mendengarkannya…

Wahai orang yang beku air matanya yang tidak pernah bisa menangis karena takut kepada Allah…

Kenapa hatimu dan jasadmu telah engkau gunakan untuk mencintai dunia yang fana…

Kenapa engkau pun selalu saja menampakkan maksiatmu kepada Allah dan kepada makhluk-Nya…

Kenapa engkau selalu melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan oleh-Nya…

Ketahuilah, salah satu tanda dari kesesatan itu ialah hati yang tidak mau tunduk kepada Allah…

Wahai orang yang lalai…

Hitunglah kerugianmu selama ini dengan mengumpulkan yang haram-haram…

Segeralah tinggalkan itu semua…

Jangan sampai engkau masih berada di kebun kelalaian ketika datang panggilan kematian dari-Nya secara tiba-tiba…

Hingga engkau pun berangkat dalam memenuhi panggilan itu dengan cara yang mengenaskan…

Siapa saja yang memperbanyak dosanya, berarti sungguh ia telah memperbanyak penyesalan…

Abu Al-Fadhl Jabrail bin Manshur berkata :

Sampai kapan engkau larut dalam kelalaian ?
Sepertinya engkau menganggap remeh akibat penundaan siksa. Masa santai dan muda telah berlalu, sementara engkau tidak meraih keridhoan dari Tuhanmu ? Sekarang, yang tersisa adalah masa-masa hina dan malas serta engkau tidak mendapatkan manfaat apa-apa…!” (Al-Bidayah wan Nihayah XIII hal 126).

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata :

Sungguh sangat mengherankan sekali keadaan kebanyakan manusia, waktu terus berlalu dan umurpun habis, namun hatinya masih tetap tertutup dari Allah dan kehidupan akhirat. Dia keluar dari dunia sebagaimana dia memasukinya, dia tidak mencicipi sesuatu yang paling nikmat darinya. Dia hidup seperti hidupnya hewan, dan dia berpindah seperti pindahnya orang-orang yang pailit. Sehingga dia menjadi orang yang hidupnya lemah, matinya menyedihkan, dan kembalinya (ke akhirat) adalah kerugian dan penyesalan” (Thoriqul Hijrotain hal 385)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Tidak akan masuk Neraka seseorang yang menangis karena merasa TAKUT KEPADA ALLAH……” (HR. At-Tirmidzi no.1633)

Mengapa seseorang malu untuk menangis karena takut kepada Allah Ta’ala…

Apakah karena keras dan hitamnya hati dari maksiat yang begitu sering dilakukan…

Apakah hatinya telah terkunci…?

Apakah hatinya sudah lebih keras dari pada batu…?

Hendaklah seseorang itu menangis karena ia tidak dapat menangis…

Ia takut akan dosa-dosanya yang tidak terhitung banyaknya…

Ia takut akan su’ul khatimah…

Ia takut akan adzab kubur…

Ia takut Allah akan menolak amal-amal yang telah ia lakukan…

Ia takut tidak dikumpulkan bersama dengan orang-orang yang ia cintai di akhirat kelak…

Ia takut nantinya ia dan keluarganya akan dimasukkan ke dalam Neraka Jahannam…

Ia takut tidak mendapat rahmat dan pertolongan Allah…

Ia takut tidak mendapatkan keselamatan dan ampunan Allah…

Ia takut…! Ia takut…! Ia takut…!

Oh…betapa keringnya mata dari air mata yang mengalir…

Oh…betapa jauhnya hati dari rasa takut kepada Allah…

Oh…betapa malunya diri yang selalu dipandang oleh Allah sedang bermaksiat kepada-Nya…

Oh…betapa sedikitnya ibadah dan doa yang dipersembahkan kepada Allah dalam keadaan ikhlas…

Ya Allah, jadikanlah rasa takut kepada-Mu merupakan sesuatu yang paling kami takuti…

Ya Allah, lindungilah kami dari kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena takut kepada-Mu…

Wahai Rabb, lindungilah kami dari kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena mengharap ampunan dan rahmat-Mu…

Ya Allah, lindungilah kedua mata kami yang tidak pernah menangis karena bertaubat kepada-Mu…

Ya Allah, gantikan air mata kami yang menetes karena-Mu dengan air penyejuk yang akan menyejukkan kami dari panasnya api Neraka…

Ustadz Najmi Umar Bakkar, حفظه الله تعالى

Tidakkah Anda Menghadirkan NIAT Ini…

Diantara LADANG AMAL paling menguntungkan adalah NIAT… Oleh karenanya, harusnya Anda sangat memperhatikannya.

Dengan cerdas mengatur niat, amal yang terlihat sepele, menjadi sangat agung pahalanya… Dengan niat pula, amal berat akan menjadi ringan dan Anda bisa IKHLAS, TULUS melakukannya.

Misalnya ketika Anda berangkat kerja, pernahkah Anda menghadirkan niat bahwa kerja tersebut untuk mencarikan nafkah anak dan keluarga ?

Ketika Anda membelikan kebutuhan anak atau keluarga, pernahkan Anda menghadirkan niat bahwa barang itu untuk menafkahi anak dan keluarga ?

Penulis yakin, sangat banyak kesempatan pahala ini Anda lewatkan pada hari-hari yang telah berlalu… Oleh karenanya, janganlah melewatkannya lagi, perbaikilah diri, dan cerdaslah dalam mengatur niat Anda.

Mungkin ada yang bertanya: “Mengapa harus menghadirkan niat ?!”.

Jawablah: Karena Nabi tercinta kita -shollallohu alaihi wasallam- telah mengajak kita melakukannya demikian, beliau telah bersabda:

Jika seseorang menafkahi keluarganya, dan dia MENGHARAPKAN PAHALA darinya, maka itu menjadi amal sedekah baginya“. [HR. Bukhori:55].

Beliau juga mengatakan kepada Sa’d bin Abi Waqqosh -rodhiallohu anhu-:

Sungguh tidaklah kamu memberikan nafkah karena MENGHARAPKAN WAJAH ALLAH, melainkan kamu akan mendapatkan pahala darinya, hingga sesuatu yang kau masukkan ke mulut isterimu“. [HR. Bukhori: 56].

TERAPKAN DALAM KEHIDUPAN ANDA, semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tambahan :
Nabi shallallahu ’alaihi wasallam bersabda:

Setiap orang akan berada di bawah naungan sedekahnya hingga diputuskan hukum antara manusia.”

Yazid berkata, “Abul Khair tidak pernah melewati satu haripun melainkan ia bersedekah dengan sesuatu walaupun hanya dengan sebuah kue ka’kah atau lainnya.”

(HR Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh Al Bani rohimahullah).

da130315

Kini Radio, HP, TV, Bisa Bersuara, Besok Tangan Anda

Sobat, saat ini anda menikmati kemajuan tekhnologi, sehingga benda mati bisa bersuara, TV, Komputer, HP, Radio dan lainnya, bahkan di pengadilan, peralatan itu bisa bersaksi merugikan anda.

Tahukah anda bahwa semua itu sejatinya peringatan keras bagi anda, bahwa besok tangan, kaki, kulit anda juga akan berbicara menceritakan semua ulah dan perilaku anda, sedangkan lisan anda akan dibungkam.

Allah berfirman:

(الْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلَىٰ أَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَا أَيْدِيهِمْ وَتَشْهَدُ أَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ)

“Pada hari ini Kami bungkam mulut mereka sedangkan tangan mereka bercerita kepada Kami dan kaki mereka bersaksi tentang apa-apa yang telah mereka lakukan..” [Surat Ya-Sin 65]

Sudahkah anda menyadari akan hal ini dan mempersiapkan diri untuk menjalaninya besok ?

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Dahulu Semangat Menuntut Ilmu Sangat Tinggi, Namun Semangat Itu Kini Menurun Setelah Mengalami Ujian Hidup

Ketika baru mengenal sunnah dahulu, semangat belajar menuntut ilmu sangat tinggi, namun semangat tersebut kini menurun setelah mengalami berbagai fitnah dan ujian hidup. Apa yang harus dilakukan agar bisa mengembalikan semangat tersebut?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc, حفظه الله تعالى  berikut ini:

 

da 140914-2200

Agar Do’a Anda Mustajab…

Ada seseorang bertanya kepada Ibrohim bin Adham rohimahullah:

Allah ta’ala berfirman (yang artinya): “Berdo’alah kalian kepada-Ku, niscaya Aku ijabahi do’a kalian” [QS. Ghofir: 60]. Lalu mengapa kita biasa berdo’a, tapi do’a kita tidak diijabahi ?

Ibrohim pun mengatakan: Karena lima hal.

Dia bertanya lagi: Apakah lima hal itu?

Ibrohim menjawab:

1. Kalian telah mengenal Allah, tapi kalian tidak tunaikan hak-Nya.

2. Kalian telah membaca AlQur’an, tapi kalian tidak amalkan isinya.

3. Kalian mengaku cinta Rasul -shollallohu ‘alaihi wasallam-, tapi kalian tinggalkan tuntunannya.

4. Kalian katakan: ‘kami melaknat Iblis’, tapi kalian mengikutinya.

5. Kalian tinggalkan aib kalian, tapi kalian permasalahkan aib orang lain.

[Kitab: Jami’ bayanil Ilmi wa Fadhlih 1/689].

———-

Subhanallah… Ini beliau katakan di zamannya, dan beliau meninggal tahun 161 H / 778 M… Bagaimana bila beliau hidup di zaman ini.

Semoga pesan beliau ini bisa menjadi pelecut bagi kita untuk terus memperbaiki diri.

Terutama pesan beliau dalam hal menunaikan hak Allah, yaitu men-TAUHID-kannya, dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى 

da040315-2347

Muhammadiyah Temanku, NU Bapakku, Al Irsyad Pondokku, Dan Arab Tempat Kuliahku…

Itulah sejarah dan riwayat hidupku, terlahir di tengah keluarga NU, hidup berdampingan dengan saudara-saudara kaum NU, mengenyam pendidikan di salah satu lembaga pendidikan Al Irsyad, dan kuliah di negri Arab, dan kini menjadi salah satu dosen tidak tetap di salah satu kampus Muhammadiyah.

Sobat! Kalau anda hanya mau berinteraksi dengan orang yang serupa dan sewarna dengan anda, maka di dunia ini hanya ada 1 yang seperti anda, yaitu anda sendiri, alias silahkan hidup dt tengah belantara sana.

Namun bila anda menyadari bahwa anda memiliki tanggung jawab (karena anda berilmu) untuk bahu membahu dalam kebaikan dan memerangi kemungkaran, maka anda akan berinteraksi dengan siapapun, dalam rangka mengajarkan kebaikan dan mengingkari kemungkaran. Sebagaimana anda juga punya kewajiban untuk belajar kabaikan dan mengikis kemungkaran atau kekurangan yang pasti ada dalam diri anda.

Yang benar disempurnakan, dan yang salah dibenahi, semuanya dengan cara yang lembut, bijak, dan tentunya harus ikhlas mengharap imbalan hanya dari Allah bukan dari siapapun dan tiada kepentingan apapun selain pahala dari-Nya.

Orang Yahudi saja wajib anda dakwahi, apalagi orang-orang yang jelas jelas dengan bangga mengaku sebagai orang Islam.

Anda tidak akan dapat hidup dengan nyaman bila mengabaikan prinsip ini, sampaipun di dalam rumah sendiri di tengah tengah karib kerabat sendiri.

Kalau anda berkata: banyak dari mereka memiliki kesalahan. Maka ketahuilah bahwa itulah tantangan dakwah, sebagaimana dahulu para sahabat ketika mendakwahi kaumnya, dari mereka ada yang kafir, yahudi, nasrani dan musyrik. Namun demikian, mereka tetap berinteraksi dan berdakwah, hingga akhirnya Islam menjadi jaya.

Anda diganggu, atau diusik, atau dimusuhi, maka itulah dinamika dakwah, yang harus anda hadapi, bukan dihindari. Rasul-pun dahulu dimusuhi, dimaki, dibenci, disakiti, tapi beliau tegar dan terus berdakwah, hingga tegak hujjah atas mereka. Yang semula bodoh menjadi berilmu, yang semula lupa jadi ingat, yang semua benci menjadi cinta, yang semula terbelenggu oleh nafsu dan bisikan setan, menjadi sadar, semua berkat kebesaran jiwa dan keuletan beliau, tentunya setelah mendapat izin dari Allah Ta’ala.

Setiap orang Islam asalnya adalah saudara anda, karena itu bila anda merasa mereka berbuat salah, maka kasihanilah mereka dengan cara mendakwahi, menasehati, mendoakan hidayah untuk mereka.

Namun bila anda merasa mereka berbuat baik, maka dukunglah. Demikian pesan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada kita:

( انصر أخاك ظالما أو مظلوما ) . فقال رجل يا رسول الله أنصره إذا كان مظلوما أفرأيت إذا كان ظالما كيف أنصره ؟ قال ( تحجزه أو تمنعه من الظلم فإن ذلك نصره ) 

Tolonglah saudaramu, ia sedang berbuat zhalim ataupun ia sedang dizhalimi. Spontan seorang lelaki bertanya: Wahai Rasulullah, aku menolongnya di saat ia dizhalimi, lalau bagaimana caranya aku menolongnya di saat ia berbuat zhalim? Beliau menjawab: Engkau menghalanginya atau mencegahnya dari perbuatan zhalimnya, itulah bentuk pertolongan kepadanya.” (Bukhari)

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

Sebaiknya Jangan Sibuk Memvonis Pelakunya…

Sebaiknya jangan sibuk memvonis pelakunya.. Tapi jelaskan hukum perbuatannya dengan obyektif dan berdasarkan dalil yang sahih.

=====

Ini diantara faedah ilmiah yang penulis dapatkan dari Syeikh Tarhib Addausari -hafizhahullah-.

Dalam banyak situasi, hal ini akan mendatangkan maslahat yang lebih besar, baik bagi pemberi nasihat, maupun bagi yang diberi nasihat.. karena memvonis pelaku tidak akan mengubah hakikat sesuatu atau pelakunya, padahal itu akan menyempitkan pintu hati pendengar untuk menerima nasihat kita.

Misalnya: ketika ditanya tentang orang yang suka berzina, mabuk-mabukan, judi, dst.. maka sebaiknya jangan sibukkan diri dengan memvonis bahwa dia itu fasik, penjahat, mujrim, dan vonis-vonis lainnya.. tapi katakan kepada dia, bahwa apa yang dia lakukan adalah dosa besar, ancaman-ancamannya berat, dan meninggalkan itu semua saat ada godaan akan berpahala besar.

Contoh lainnya, ketika ada sekelompok orang melakukan suatu perbuatan yang menyelisihi manhaj salaf, maka sebaiknya jangan sibukkan diri untuk memvonis mereka itu ahli bid’ah, atau khawarij, atau murjiah, atau talafi, atau vonis-vonis lainnya, meskipun pada hakekatnya bisa jadi vonis itu benar… tapi hal itu biasanya bermudharat lebih besar, apalagi di zaman kita sekarang ini.. sedikit orang yang adil dan obyektif menyikapi ucapan orang lain.

Sebaiknya, cukupkan diri kita dengan menjelaskan kesalahan yang dilakukan orang tersebut, dan sebutkan dalilnya dari Al Qur’an, Assunnah, dan dalil-dalil lainnya, sebagaimana dipahami oleh para ulama salaf.

Jika ada yang mengatakan: “Sama saja ah, hidayah itu kan milik Allah.. dengan cara ini pun akan banyak yang tidak mau membuka hatinya“.

Kita katakan: Jika dengan cara ini saja demikian, apalagi bila kita tidak menerapkannya, tentu akan semakin sedikit orang yang mau mendengar dan membuka hatinya.. Kebenaran itu berat, maka harusnya ada usaha dari kita untuk meringankannya, diantaranya dengan memperbaiki cara menyampaikan kebenaran itu, wallahu a’lam.

Silahkan dishare… semoga bermanfaat.

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى