Category Archives: BBG Kajian

Merasa Khawatir Amalnya Tidak Diterima

Allah Ta’ala berfirman:

وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ* أُوْلَئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

“Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka, mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya..”

(Al Mukminun 60-61)

‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rosulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam, “Apakah yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang yang mencuri dan minum arak..?”

Beliau bersabda,

لا يا بنت الصديق ولكنهم الذين يصومون ويصلون ويتصدقون وهم يخافون أن لا يقبل منهم.

“Bukan wahai anak Ash Shiddiq.. akan tetapi mereka adalah orang orang yang berpuasa, sholat, dan bersedekah. Namun mereka merasa khawatir amalnya tidak diterima..”

(HR Attirmidzi dan Ibnu Majah dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

Khawatir tidak diterima bukan karena berburuk sangka kepada Allah.. namun karena merasa ia belum melaksanakan ibadah dengan sebaik-baiknya..

Lalu kekhawatiran tersebut membangkitkan kesungguhan tuk terus memperbaiki ibadahnya..

Penulis,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Kumpulan HADITS

Bolehkah Mengucapkan Salam Kepada Muslimah Yang Non Mahram..?

Salam merupakan syariat yang sangat mulia, sangat besar pahalanya, dan sangat besar pengaruh baiknya.

Namun demikian, dalam keadaan tertentu bisa jadi membuka pintu fitnah (godaan), misalnya bila diucapkan kepada akhwat non mahram. Oleh karena itu, kita membutuhkan penjelasan dari para ulama bagaimana menyikapi hal ini, agar maslahat syariat Salam tidak dimanfaatkan setan untuk membuka fitnah.

Jawabannya ada pada nukilan Imam Nawawi -rohimahullah- dari Imam Abu Sa’d Al-Mutawalli -rohimahullah- berikut ini:

وإن كانت أجنبية، فإن كانت جميلة يخاف الافتتان بها لم ‏يسلم الرجل عليها، ولو سلم لم يجز لها رد الجواب، ولم تسلم هي عليه ابتداء، فإن سلمت ‏لم تستحق جوابًا، فإن أجابها، كره له.
وإن كانت عجوزًا لا يفتتن بها جاز أن تسلم على ‏الرجل، وعلى الرجل رد السلام عليها.
وإذا كانت النساء جمعًا فيسلم عليهن الرجل، أو ‏كان الرجال جمعًا كثيرًا فسلموا على المرأة الواحدة جاز، إذا لم يخف عليه، ولا عليهن، ولا ‏عليها، ولا عليهم فتنة.

“Apabila dia adalah wanita ajnabiyah (non mahram), maka :

(a) Apabila dia cantik, dan laki-lakinya khawatir terfitnah dengannya, maka yang laki-laki tidak boleh mengucapkan salam kepada dia. Bila yang laki-laki mengucapkan salam kepadanya, maka dia tidak boleh menjawabnya.

Dia juga tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada laki-laki itu.. apabila dia mengucapkan salam, maka salamnya tidak harus dijawab. Apabila laki-laki itu menjawabnya, maka hukumnya makruh.

(b) Apabila wanita itu sudah tua, dan tidak mendatangkan fitnah, maka dia boleh mengucapkan salam kepada laki-laki, dan yang laki-laki wajib menjawab salamnya.

(c) Apabila wanitanya banyak dan bersama-sama, lalu laki-lakinya mengucapkan salam kepada mereka.. atau apabila laki-lakinya banyak dan bersama-sama, dan mereka mengucapkan salam kepada satu wanita.. maka boleh, bila tidak khawatir mendatangkan fitnah kepada laki-laki yang satu, atau wanita yang banyak, atau wanita yang satu, atau laki-laki yang banyak..”

[Al-Adzkar, hal 402]

—–

Lihatlah, bagaimana Islam sangat memperhatikan masalah fitnah ini.. agar pintu fitnah ini benar-benar tertutup rapat dan tidak menjerumuskan manusia ke dalam jurang kehinaan dan kebinasaan.

Inti penjelasan di atas adalah bahwa Salam pada asalnya disunnahkan, kecuali apabila menimbulkan fitnah, wallahu a’lam.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Amal Sholih Adalah Bangunan Dan Tauhid Adalah Pondasinya

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

مَن أراد علوَّ بنيانه، فعليه بتوثيق أساسه وإحكامه، وشدة الاعتناء به…
فالأعمال والدرجات بنيان، وأساسها الإيمان، ومتى كان الأساس وثيقًا حمَل البنيان واعتلى عليه، وإذا تهدَّم شيءٌ مِن البنيان سهُل تداركه، وإذا كان الأساس غيرَ وثيق لم يرتفع البنيان ولم يثبت، وإذا تهدَّم شيءٌ مِن الأساس سقط البنيان أو كاد.
فالعارف همته تصحيح الأساس وإحكامه، والجاهل يرفع في البناء مِن غير أساس، فلا يلبَثُ بنيانه أن يسقط

“Siapa yang ingin meninggikan bangunannya hendaklah ia mengokohkan pondasinya dan benar benar memperhatikannya..
Amal adalah bangunan sedangkan pondasinya adalah keimanan.. apabila pondasi kuat maka ia akan kuat menahan bangunan.. apabila bangunan rusak mudah untuk diperbaiki.

Sedangkan apabila pondasi yang rusak maka bangunan akan segera roboh..

Orang yang berilmu, keinginannya adalah mengokohkan pondasi.. sedangkan orang yang tak berilmu sibuk membangun bangunan tanpa memperhatikan pondasi.. maka tak lama bangunan itu roboh..”

[Al Fawaid hal. 204]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Teruslah Berjuang Dan Berkarya

Kita merasa sakit dan bersedih saat mengetahui dan melihat sendiri betapa banyaknya kebatilan.. Tapi, banyak memikirkan hal itu akan membunuh semangat dan mendatangkan putus asa.

Allah Ta’ala berfirman:

فَإِنَّ ٱللَّهَ یُضِلُّ مَن یَشَاۤءُ وَیَهۡدِی مَن یَشَاۤءُۖ فَلَا تَذۡهَبۡ نَفۡسُكَ عَلَیۡهِمۡ حَسَرَ ٰ⁠تٍۚ

“Karena sesungguhnya Allah akan menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan akan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Maka jangan sampai engkau biarkan dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka..” [Fathir 8]

Maka, harusnya kita terus beramal dan berkarya apapun keadaannya..! Adapun hasilnya, itu kembali kepada Allah semata.

Mari terus berkarya memperjuangkan Agama Allah ta’ala.. karena Allah ta’ala.. dan dengan cahaya dari Allah ta’ala.. semoga Allah memberkahi usaha kita, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ingin Diakui

Terkadang…
Kita merasa sebagai pelopor dakwah..
Saat dakwah telah berkembang kita merasa bahwa ini hasil usaha kita.. Lalu merasa panas saat ada yang menyaingi..
Kitapun mengungkit kepada manusia bahwa kitalah pelopornya..
Tidakkah sadar bahwa semua itu pemberian Allah Azza wajalla…

Cukuplah Allah saja yang memberi pahala..
Kita tidak membutuhkan pengakuan manusia..
Dan Allahpun tidak membutuhkan amalan kita..
Allah pasti membela agama ini walaupun tanpa kita…

Mungkin…
Di awal kita berdakwah, kita ikhlas berharap pahala Allah semata..
Namun keikhlasan itu diuji saat hasil dakwah mulai terlihat..
Lalu muncul pegiat dakwah lainnya yang ingin turut berkiprah..
Orang yang ikhlas.. Ia akan gembira ketika melihat ada pegiat dakwah lain yang turut membantu dakwah…

Namun..
Setan sering membuat kita lalai..

Allahul Musta’an..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Merugi Tanpa Islam

Islam tidak memerlukan Anda.. bahkan Anda akan benar-benar merugi dan celaka tanpa Islam..!

Tentang Islam tidak memerlukan Anda, renungkan firman-Nya:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ مَن یَرۡتَدَّ مِنكُمۡ عَن دِینِهِۦ فَسَوۡفَ یَأۡتِی ٱللَّهُ بِقَوۡمࣲ یُحِبُّهُمۡ وَیُحِبُّونَهُۥۤ أَذِلَّةٍ عَلَى ٱلۡمُؤۡمِنِینَ أَعِزَّةٍ عَلَى ٱلۡكَـٰفِرِینَ یُجَـٰهِدُونَ فِی سَبِیلِ ٱللَّهِ وَلَا یَخَافُونَ لَوۡمَةَ لَاۤئمࣲۚ ذَ ٰ⁠لِكَ فَضۡلُ ٱللَّهِ یُؤۡتِیهِ مَن یَشَاۤءُۚ وَٱللَّهُ وَ ٰ⁠سِعٌ عَلِیمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman..! Bila ada dari kalian yang murtad dari agamanya, maka (sebagai gantinya) Allah akan datangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, mereka berlemah lembut terhadap orang-orang yang beriman, tetapi bersikap keras terhadap orang-orang kafir, mereka berjihad di jalan Allah, dan tidak takut kepada celaan siapa pun..” [Al-Ma’idah 54].

Adapun tentang Anda akan benar-benar merugi dan celaka tanpa Islam, maka renungkan firman-Nya:

فَمَن شَاۤءَ فَلۡیُؤۡمِن وَمَن شَاۤءَ فَلۡیَكۡفُرۡۚ إِنَّاۤ أَعۡتَدۡنَا لِلظَّـٰلِمِینَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمۡ سُرَادِقُهَاۚ وَإِن یَسۡتَغِیثُوا۟ یُغَاثُوا۟ بِمَاۤءࣲ كَٱلۡمُهۡلِ یَشۡوِی ٱلۡوُجُوهَۚ بِئۡسَ ٱلشَّرَابُ وَسَاۤءَتۡ مُرۡتَفَقًا

“Barangsiapa menghendaki (beriman), silahkan dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir), silahkan dia kafir. Sungguh Kami telah siapkan api neraka bagi orang-orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta (minuman), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek..” [Al-Kahfi 29].

Penulis,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bolehkah Mengatakan Si Fulan “Wali”..?

Syeikh Al-‘Utsaimin -rohimahullah- mengatakan,

“Semua kaum muslimin wajib menimbang amalan seseorang yang mengaku sebagai Wali dengan apa yang ada dalam Al-Kitab dan As-Sunnah. Apabila sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, maka diharapkan dia (benar) Wali Allah.. adapun bila menyelisihi Al-Kitab dan As-Sunnah, maka (jelas) dia bukan Wali Allah.

Allah telah menyebutkan timbangan yang adil untuk mengetahui Wali-Nya, yaitu dalam firman-Nya,

ألا إن أولياء الله لا خوفٌ عليهم ولا هم يحزنون ♡ الذين آمنوا وكانوا يتقون

“Ingatlah, sesungguhnya para Wali Allah, tidak ada ketakutan sedikit pun atas mereka, dan mereka juga tidak akan bersedih, yaitu mereka yang beriman dan bertaqwa..” [Yunus: 62-63]

Maka siapa pun yang beriman dan bertaqwa, berarti dia Wali Allah. Sebaliknya siapa pun yang tidak demikian, maka dia bukan Wali Allah..

Meski demikian, kita tidak boleh memastikan orang tertentu sebagai Wali, tapi kita boleh mengatakan secara umum, “siapa saja yang beriman dan bertaqwa, maka dia adalah Wali Allah..”

[Fatawa Muhimmah, hal 83-84]
—–
Mengapa tidak boleh menilai orang lain sebagai Wali..?

Karena Allah ta’ala telah berfirman:

فَلَا تُزَكُّوۤا۟ أَنفُسَكُمۡۖ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰۤ

“Jangan sampai kalian memuji diri kalian, (karena) Dia-lah yang lebih tahu siapakah orang yang (benar-benar) bertaqwa..” [An-Najm 32]

Ya, kalau memuji diri sendiri saja tidak boleh, padahal yang lebih tahu tentang seseorang adalah dirinya sendiri .. apalagi memuji orang lain (person tertentu) sebagai Wali..!

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

MUTIARA SALAF : Mengetahui Kadar Agama Seseorang

Syaikh ‘Abdurrohman As Sa’di rohimahullah berkata,

“Termasuk kesalahan yang berat adalah langsung menerima perkataan sebagian orang yang memburuk burukkan orang lain, lalu membangun cinta dan benci serta pujian dan celaan di atasnya.

Berapa banyak kesalahan yang terjadi yang berakibat kepada penyesalan.. berapa banyak berita yang disebarkan oleh manusia ternyata tidak demikian kenyataannya..

Kewajiban orang yang berakal adalah memeriksa, berhati-hati dan tidak tergesa-gesa.. dengan inilah dapat diketahui kadar agama, kedewasaan dan akal seseorang..”

(Ar Riyadh An Nadhirah hal 209 dinukil dari Kutaib Husnuzhon Binnas – karya Abdul Malik Ramadhani)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Balasan Bagi Mereka Yang Beramal Di Hari-Hari Kesabaran

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wa sallam bersabda,

إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْر ، الصَّبْرُ فِيهِ مِثْلُ قَبْضٍ عَلَى الْجَمْرِ ، لِلْعَامِلِ فِيهِمْ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِهِ ، – وَزَادَنِي غَيْرُهُ – قَالَوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْهُمْ ؟! قَالَ : أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ

“Sesungguhnya di belakang kalian nanti akan ada hari-hari kesabaran.. orang yang bersabar padanya seperti memegang bara api.. orang yang beramal mendapatkan seperti pahala 50 orang yang beramal seperti yang ia amalkan..”

Mereka berkata, “Wahai Rosulullah, pahala 50 orang di antara mereka..?”
Beliau menjawab, “Pahala 50 orang dari kalian..”

(HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi dan dishohihkan oleh Syaikh al-Albani)

Demikianlah sunnatullah..
Jalan menuju surga itu tak seindah yang dibayangkan..
Ia penuh ujian dan cobaan..

Namun.. jalan itu menjadi indah bila disertai kesabaran dan berharap ridha Allah semata..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jika Engkau Ingin Selamat

Ambil akidahmu dari Alquran dan Hadits yang shahih dan pahami keduanya sesuai pemahaman Sahabat.. bukan dari orang yang pandai DEBAT dan beretorika.

=====
Imam Malik -rahimahullah- pernah mengatakan:

كُلَّمَا جَاءَنَا رَجُلٌ أَجْدَلُ مِنْ رَجُلٍ أَرَدْنَا أَنْ نَرُدَّ مَا جَاءَ بِهِ جِبْرِيلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“(Apakah) setiap kali datang kepada kita orang yang lebih pandai berdebat daripada orang lain, kita hendak menolak sesuatu yang dibawa oleh malaikat Jibril kepada Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-..?!” [Dzammul kalami wa ahlihi 5/68].

Beliau juga pernah mengatakan:

كُلَّمَا جَاءَنَا رَجُلٌ أَجْدَلُ مِنْ رَجُلٍ تَرَكْنَا مَا نَحْنُ عَلَيْهِ، إِذًا لَا نزَال فِي طَلَبِ الدِّينِ

“(Apakah) setiap kali datang kepada kita orang yang lebih pandai berdebat, kita tinggalkan keyakinan kita..?! Jika demikian, berarti kita akan selamanya dalam pencarian agama..!” [Dzammul kalami wa ahlihi 5/69].

Saudaraku.. Jika engkau ingin selamat, maka ikutilah akidahnya para sahabat Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-, sebagaimana dahulu beliau sabdakan tentang ajaran golongan yang selamat:

مَا أَنَا عَلَيْهِ وأصحابي

“Ajaran yang aku dan para sahabatku ada di atasnya..” [HR. Attirmidzi 2631, dan yang lainnya, dihasankan oleh Al-Albani].

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى