Category Archives: BBG Kajian

Bersegeralah Dalam Melakukan Kebaikan

Seandainya untuk melakukan kebaikan, istri Firaun harus menunggu runtuhnya kerajaan Firaun atau berubahnya keadaan Firaun, tentu dia tidak pantas mendapatkan taufiq untuk berdo’a:

رَبِّ ٱبۡنِ لِی عِندَكَ بَیۡتࣰا فِی ٱلۡجَنَّةِ

“Wahai Rabb-ku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu rumah di Surga..” [QS. At-Tahrim: 11].

Orang-orang yang berjuang melakukan perbaikan, mereka tidak memilih zaman hidupnya, tapi mereka tahu bagaimana memenuhi lembaran-lembaran kehidupannya..

Buatlah kemuliaanmu di sisi Allah, dan bangunlah istanamu di akherat untuk selamanya..!

Sungguh Dzat yang memilihkan zaman hidup untukmu, tentu Dia juga memberikanmu potensi-potensi yang bisa menjadikanmu kuat dan istimewa..

[Pesan terbaik yang kubaca hari ini]

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kaidah Untuk Menjawab Syubhat Amalan Bid’ah

Kaidah untuk menjawab syubhat: “tidak semua yang ditinggalkan Nabi dan para Sahabat, tidak boleh dilakukan..”

=====

Diantara syubhat yang seringkali diulang-ulang untuk membolehkan amalan bid’ah adalah: “Tidak semua yang ditinggalkan Nabi dan para Sahabat, maka harus ditinggalkan di zaman ini.. Sehingga tidak semua ibadah yang ditinggalkan Beliau dan para Sahabat, maka harus ditinggalkan di zaman ini..” misalnya:

1. Kita tidak harus meninggalkan naik mobil dan yang semisalnya .. padahal beliau dan para Sahabat tidak pernah naik mobil.

2. Kita tidak harus meninggalkan mikrofon untuk adzan .. padahal di zaman Beliau dan para Sahabat, tidak pernah ada yang adzan pakai mikrofon.

3. Kita tidak harus meninggalkan shalat Tarawih berjama’ah di masjid hingga akhir Ramadhan .. padahal di zaman Beliau tidak pernah ada Tarawih berjama’ah di masjid dari awal sampai akhir Ramadhan.

4. Kita tidak harus meninggalkan belajar bahasa Arab agar bisa memahami Ayat Allah dan Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

SANGGAHAN:
Memang tidak semua yang ditinggalkan Nabi dan para Sahabat harus ditinggalkan di zaman ini .. Tapi semua amalan yang memenuhi EMPAT SYARAT berikut ini, maka harus kita tinggalkan di zaman ini:

1. Dia merupakan amalan ibadah.
Jika bukan ibadah, maka pada asalnya boleh dilakukan.. makanya naik mobil dan sejenisnya boleh dan tidak harus kita ditinggalkan di zaman setelahnya.

2. Dimampui oleh Nabi dan para Sahabat.
Bila tidak dimampui oleh Beliau dan para Sahabat, maka tidak harus ditinggalkan di zaman setelahnya.. makanya menggunakan mikrofon dibolehkan, karena tidak ada yang bisa adzan menggunakan mikrofon di zaman itu.

3. Tidak ada penghalang untuk melakukannya di zaman Nabi.
Bila ada penghalang untuk melakukannya di zaman Beliau, maka tidak harus ditinggalkan ketika penghalangnya sudah hilang.
Makanya, kita tidak harus meninggalkan shalat Tarawih di masjid secara berjama’ah dari awal Ramadhan hingga akhir ramadhan .. karena dahulu Beliau tinggalkan itu disebabkan adanya penghalang, yaitu kekhawatiran Allah mewajibkannya, padahal beliau tidak ingin memberatkan umatnya.. dan setelah Beliau wafat, kekhawatiran itu sudah tidak ada lagi.

4. Ada kebutuhan / dorongan untuk melakukannya di zaman Nabi dan para Sahabat.
Jika tidak ada kebutuhan / dorongan untuk melakukannya di zaman Beliau dan para Sahabat, padahal setelah itu ada kebutuhan / dorongan untuk melakukannya, maka tidak harus ditinggalkan.
Makanya, kita tidak harus meninggalkan belajar Bahasa Arab, karena Beliau dan para Sahabat tidak perlu belajar Bahasa Arab, karena itu bahasa mereka sendiri.


Intinya:
Bila 4 syarat di atas ada pada suatu amalan.. dan ternyata tidak dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan para Sahabat, maka berarti amalan itu harus ditinggalkan, dan bila dilakukan jadinya bid’ah.

Sebaliknya bila salah satu dari empat syarat ini tidak terpenuhi, maka amalan itu tidak harus ditinggalkan, kecuali ada dalil lain yang menunjukkan tidak bolehnya, wallahu a’lam.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Bukti Cinta Yang Sebenarnya

“Jangan sampai kebencian kepada suatu kaum, menjadikan kalian berbuat tidak adil (zalim) kepada mereka..!” [QS. Al-Maidah: 8]

=====

Sehingga janganlah menuduh orang yang tidak ikut “Maulid Nabi”, dengan tuduhan “pasti tidak cinta Nabi” -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Karena seringkali alasan dia tidak ikut “Maulid Nabi” adalah karena “cinta yang sangat tinggi” kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Mungkin ada yang heran, mengapa karena “cinta Nabi”, seseorang malah meninggalkan “maulid Nabi”..?

Jawabannya:

Karena menurut dia bukti cinta yang sebenarnya adalah “mengikuti apapun yang dikatakan oleh orang yang dia cintai..”

Ketika dia sangat mencintai Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam- .. dan dia tahu beliau mengatakan “Jauilah perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah)..”, dia juga tahu hadits: “Perkara paling buruk dalam agama adalah perkara-perkara baru dalam agama (bid’ah)” .. kemudian dia melihat bahwa ritual maulid itu bid’ah, karena tidak pernah dilakukan, baik oleh Nabi, para sahabat, para tabiin, maupun para tabi’ut tabiin .. maka konsekuensinya dia akan meninggalkan “Maulid Nabi” .. bukan karena dia tidak “cinta Nabi”, justru dia tinggalkan itu, karena dia “sangat mencintai beliau” -shallallahu ‘alaihi wasallam-.

Oleh karenanya, jangan zalimi saudaramu dengan tuduhan “tidak cinta kepada Nabi” shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan dia sangat sadar akan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

لا يؤمن أحدكم حتى أكون أحب إليه من والده وولده والناس أجمعين

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, sehingga aku lebih dia cintai melebih orang tuanya, anaknya, dan manusia semuanya..” [HR. Bukhari dan Muslim].

Kenyataannya setiap muslim yang ikhlas, dia pasti mencintai Nabi -shallallahu alaihi wasallam-, hanya saja bentuk cintanya bisa berbeda sesuai dengan latar belakang ilmu masing-masing.

Jangan sampai “maulidmu” menjadikanmu menzalimi saudaramu..!

Ingat sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wasallam-: “Sungguh kezaliman akan mendatangkan banyak kegelapan kepadamu di hari kiamat nanti..!” [HR. Bukhari dan Muslim].

Silahkan dishare, semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz DR Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Tingginya Rasa Takut Kepada Allah Ta’ala

Gambaran betapa tingginya rasa takut kepada Allah ta’ala .. padahal keadaan agamanya sangat istimewa.
=====

Diceritakan oleh Imam Bukhari -rahimahullah-:

“Suatu ketika Hammad bin Salamah menjenguk Sufyan Ats-Tsauri (seorang ulama besar ahli hadits dari generasi tabi’ut tabi’in, wafat 97 H) saat beliau sakit..

Maka Sufyan Ats-Tsauri mengatakan: “Wahai Abu Salamah (kun-yah Hammad), apakah Allah MAU MENGAMPUNI orang sepertiku..?”

Maka Hammad mengatakan: “Demi Allah, jika aku diminta memilih antara dihisab oleh Allah dengan dihisab oleh kedua orangtuaku, tentu aku memilih dihisab oleh Allah daripada dihisab oleh kedua orang tuaku, karena Allah ta’ala lebih sayang kepadaku daripada kedua orang tuaku..!” [Hilyatul Auliya’ 6/251]

—————————-

Pelajaran berharga dari kisah ini:

1. Sebaik apapun agama kita, kita harus tetap takut kepada Allah.

2. Takut kepada Allah adalah tanda baiknya seseorang.

3. Pentingnya teman yang shalih dan manfaatnya yang sangat besar bagi kita.

4. Pentingnya menyeimbangkan antara khauf (rasa takut) dan roja’ (rasa harap) kepada Allah.

5. Bila kita melihat teman kita dominan rasa takutnya, maka ingatkan dia kepada kasih sayang Allah yang sangat besar kepada hamba-Nya.

Wallahu a’lam.

Silahkan dishare .. semoga bermanfaat dan Allah berkahi.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Membuka Wajah Mayat Saat Dikuburkan

Membuka wajah mayat saat dikuburkan.

Syaikh Masyhur bin Hasan hafidzahullahu berkata:
“Sebagian orang melakukan hal itu pada mayat dan berhujjah dengan atsar-atsar yang sharih tapi tidak shahih..”

Seperti:
Atsar tabi’in Adh Dhohak yang berwasiat agar wajahnya dibuka. (Dikeluarkan oleh ibnu abi Syaibah dalam Mushonnaf no 11795) Namun sanadnya lemah karena ada perawi yang lemah yang bernama Juwaibir.

Juga berhujjah dengan riwayat Ibnu ‘Umar yang berkata, “Apabila kalian menurunkan aku ke liang lahat maka tempelkan pipiku ke tanah..” Namun atsar ini tidak ditemukan sanadnya. Kalaupun misalnya shahih akan tetapi tidak sharih menunjukkan membuka wajah.

(Al Qoulul Mubin fii Munkarotil Janaiz hal. 460-461)

Lajnah Daaimah ditanya tentang hukum membuka wajah mayat saat dikuburkan. Mereka menjawab:

لا نعلم دليلا يدل على كشف وجه الميت في القبر، بل ظاهر الأدلة الشرعية يدل على أنه لا يكشف؛ ذكرا كان أو أنثى؛ لأن الأصل تغطية الوجه كسائر بدنه، إلا أن يكون الرجل محرما فلا يغطى

“Kami tidak mengetahui adanya dalil membuka wajah mayat di kubur. Justeru lahiriyah dalil dalil syariat menunjukkan tidak dibuka baik laki laki maupun wanita. Karena pada asalnya adalah ditutup wajahnya sebagaimana badannya. Kecuali orang yang sedang berihram maka tidak boleh ditutup..”

(Fatwa Lajnah Daaimah)

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

Kesombongan Yang Besar Tapi Dibungkus Agama

Kita sadari atau tidak, kesombongan banyak ditampakkan oleh sebagian orang kepada kita .. tapi karena dibungkus agama, ia tidak terlihat sebagai kesombongan, dan mudah menyebar di tengah-tengah masyarakat, wallahul musta’an.

Dan berikut ini adalah sebagian contohnya:

1. Mengaku shalat jumatnya di depan ka’bah .. padahal tinggalnya di negara kita.

2. Mengaku bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam saat sadar.

3. Mengaku bertemu atau bersalaman dengan Nabi Khadhir (biasanya disebut Khidir).

4. Mengaku dikasih pesan atau hadits istimewa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

5. Mengaku selalu diawasi dan diperhatikan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

6. Mengaku didatangi atau diziarahi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam .. mirip dengan ini, mengaku acaranya dihadiri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

7. Mengaku dibawa naik ke Sidrotul Muntaha dan bertemu Allah.

8. Mengaku sudah sebagai wali, atau rela disebut sebagai wali.

9. Memerintahkan muridnya untuk menyebut namanya bila sedang dalam masalah, niscaya beres masalahnya.

10. Menjamin semua muridnya masuk surga.

11. Mengaku yang menyelisihinya pasti celaka.

12. Mengaku nanti bisa menggandeng seseorang masuk surga.

13. Mengaku mendapatkan ilham atau bisikan dari Allah.

14. Menjamin semua yang mengikuti ormasnya masuk surga .. ketika ditanya oleh malaikat di kubur, jawab saja: “aku pengikut ormas itu..!”

15. Mengaku kalau pengurus masjid bukan dari ormasnya, maka akan salah semua..!

16. Mengaku mendapat tongkat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dan masih banyak lagi yang lainnya .. Sungguh kesombongan yang terlihat oleh orang awam, karena dibungkus oleh agama.
Padahal kesombongan sangatlah dimurkai oleh Allah, sampai-sampai Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam menyabdakan: “Tidak masuk surga, orang yang di hatinya ada kesombongan, meski hanya sekecil dzarrah (semut merah yang sangat kecil)..”

Saudaraku seiman, waspadalah terhadap kesombongan, semoga Allah jauhkan kita semua darinya, amin.

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

 

Dakwah Pasang Tarif..?

Da’i ibarat lentera yang menerangi ummat jalan menuju Allah dan negeri akhirat. Betapa pentingnya peran mereka di masyarakat, bila mereka lurus maka akan lurus pulalah masyarakat, namun bila mereka bengkok, bagaimana pula akan meluruskan masyarakat.

Da’i yang lurus adalah da’i yang mengikuti jejak para Rasul dalam mendakwahi kaumnya, ikhlas dalam berdakwah, tidak pernah meminta upah, apalagi mematok upah puluhan juta hingga miliaran rupiah yang memberatkan ummat.

Allah memberikan pada kita panduan untuk mengikuti siapa sebenarnya da’i yang di atas hidayah/petunjuk dan dijadikan panutan dalam dakwah, agar kita tidak tersesat mengikuti figur-figur da’i yang mencari dunia dengan menjual ayat Allah dengan harga yang murah.

Standar da’i yang lurus dalam Alqur’an adalah da’i yang tidak pernah meminta upah dalam dakwahnya, apalagi mematok harus sekian dan sekian baru mau menyampaikan dakwahnya.

Allah berfirman:

اتَّبِعُوا مَن لَّا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُم مُّهْتَدُونَ (يس :٢١)

“Ikutilah petunjuk orang-orang yang tidak pernah meminta dari kalian upah dan mereka adalah orang-orang yang mendapat hidayah..”

Allah juga berfirman:

يَا قَوْمِ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ أَجْرًا ۖ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى الَّذِي فَطَرَنِي ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ [هود : 51]

Nabi Hud berkata, “duhai kaumku aku tidak meminta dari kalian upah, sesungguhnya upahku hanyalah ku harap dari Allah yang menciptakanku, tidakkah kalian berfikir..?”

Masih mau mendatangkan da’i mata duitan yang membandrol dakwahnya layaknya seperti barang dagangan..? apa yang diharap ummat dari da’i semacam ini..? Allahul musta’an.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

ref : https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=4511525955560873&id=100001105385773

Periksalah Sebab Pertemanan Kita

Allah Ta’ala berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ

“Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa..” (Az-Zukhruf – 67)

Imam Ibnu Katsir rohimahullah menafsirkan:

كل صداقة وصحابة لغير الله فإنها تنقلب يوم القيامة عداوة إلا ما كان لله ، عز وجل ، فإنه دائم بدوامه

“Setiap pertemanan dan persahabatan bukan karena Allah akan berubah menjadi permusuhan pada hari kiamat.. kecuali pertemanan karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia akan kekal..” (Tafsir Ibnu Katsir)

Maka periksalah pertemanan kita selama ini..
Apakah karena Allah..?
Atau karena kepentingan dunia..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Nasihat Bagi Wanita

Syaikh Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Setiap wanita harus mengingat saat ia akan berbaring diatas kerandanya yang dipikul oleh manusia menuju negeri pembalasan..

Setiap wanita harus mengingat ketika ia sendirian di dalam kuburnya..

Setiap wanita harus mengingat ketika ia dibangkitkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak berpakaian dan tidak bersandal..”

[ Fatawaa Su’al ‘Alal Haatif : 1/202 ]

Diterjemahkan oleh,
Ustadz Mashun Lc, حفظه الله تعالى
Assunnah Lombok

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Dimanakah Kita..?

Setan akan berusaha bagaimana supaya si hamba lupa kepada kehidupan akhirat.

Oleh karena itu sebagian ulama ketika menafsirkan firman Allah tentang janji iblis –la‘anahullah-. Dimana iblis berkata:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ ‎﴿١٦﴾‏ ثُمَّ لَآتِيَنَّهُم مِّن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَن شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ ‎﴿١٧﴾

“Iblis berkata, ‘Karena Engkau telah menyesatkan diriku, aku akan menggoda hamba-hambaMu dari jalanMu yang lurus. Kemudian aku akan datangi mereka dari arah depannya, belakangnya, kanan dan kirinya. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur..’ ” (QS. Al-A’rof: 16-17)

Sebagian ulama mengatakan makna “dari arah depannya”  yaitu dijadikan ia cinta dunia dan lupa kepada kehidupan akhiratnya. Sehingga kemudian ia pun tidak bersiap untuk akhirat dan kematiannya. Ia terkena godaan iblis la‘anahullah.

Maka dimanakah kita, saudaraku..?

Akankah terus habis waktu kita hanya untuk memikirkan dunia..? Kapankah kita mau mengingat Allah dan kehidupan akhirat..? Belumkah saatnya kita kembali kepada Allah..? Allah mengatakan:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ…

“Belumkah saatnya untuk orang-orang yang beriman agar hati mereka menjadi khusyuk dengan mengingat Allah ‘Azza wa Jalla..?” (QS. Al-Hadid: 16)

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

ref : https://www.radiorodja.com/50797-khutbah-jumat-mengingat-kehidupan-akhirat/