Category Archives: BBG Kajian

HUKUM MENGHADIRI UNDANGAN NON MUSLIM DAN MENGKONSUMSI HIDANGAN MAKANAN MEREKA

Tanya:
السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Ada pertanyaan member Majlis Hadits Akhwat 7:

Ustaz mau nanya.. Apa hukumnya kita memenuhi undangan di rumah teman yang non muslim. … Dan apa boleh kita memakan makanan yg disiapkan.. Terima kasih jawabannya.
وَ ​جَزَاكُمْ اللّهُ خَيْرًا

Jawab:
وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ
Bismillah. Jika undangan tsb utk makan2 atau acara mubah dan tidak terdapat kemungkaran di dalamnya, maka hukum menghadiri n memenuhi undangannya adalah BOLEH.

Demikian pula jika makanan atau minuman yg dihidangkan utk para tamu undangan berasal dr yg Halal, maka hukum mengkonsumsinya HALAL.

Adapun jika hidangan itu berupa hewan sembelihan, maka kita harus melihat terlebih dahulu jenis non muslim yg mengundang kita. Jika non muslim tsb termasuk Ahli Kitab (yakni penganut agama Yahudi dan Nasrani) maka hukum asal mengkonsumsinya adalah HALAL. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
(Al-Yauma Uhilla Lakumuth-Thoyyibaat, wa Tho’aamulladziina Uutul Kitaaba Hillul-Lakum wa Tho’aamukum Hillul-Lahum)

Artinya: “Pada hari ini telah dihalalkan (oleh Allah) untuk kalian apa sj yg baik. Dan makanan Ahli Kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian jg halal bagi mereka.” (QS. Al-Maidah).

Dan jg berdasarkan hadits yg menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam pernah menerima n memakan hadiah (pemberian) masakan daging dari seorang wanita Yahudi yg termasuk tetangga beliau bersama sebagian sahabat beliau.

Adapun jika non muslim tsb trmasuk penganut agama kemusyrikan spt Hindu, Budha, Konghuchu, Shinto, dsb, maka hukum mengkonsumsi daging hewan sembelihan mereka adalah HARAM. Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala:
(Wa La’kuluu Mimmaa Lam Yudzkarismullahi ‘alaihi)

Artinya: “Dan janganlah kalian makan (daging sembelihan) yg tidak disebutkan nama Allah (ketika menyembelihnya).”

Dan jg berdasarkan firman-Nya:
(Hurrimat ‘Alaikumul Maitatu wad-Damu wa Lahmul Khinziiri wa Maa Uhilla Bihi Lighoirillah)

Artinya: “Telah diharamkan (oleh Allah) utk kalian (mengkonsumsi) bangkai, darah, daging babi, dan hewan apa sj yg disembelih utk selain Allah.”

Demikian jawaban yg dapat kami sampaikan. Smg mudah dipahami n menjadi ilmu yg bermanfaat. Wallahu a’lam bish-showab. Wabillahi at-Taufiq. (Jakarta, 8 September 2013).

Jurus Jitu Mendidik Anak

Ust. Kholid Syamhudi, حفظه الله

Syeikh Abdurrahman bin Naashir as-Sa’di -Rahimahullah- pernah berkata:

“Mengenal hukum-hukum syariat secara benar akan menambah kecerdasan akal dan menumbuhkan kepintaran;

Karena makna-makna syariat adalah makna pengertian terbaik dan etikanya adalah etika terluhur. Juga karena (kaedah) balasan sesuai jenis amal.

Sehingga sebagaimana ia menggunakan akalnya untuk berfikir tentang Rabb nya dan berfikir tentang tanda-tanda kebesaran yang Allah mengajaknya untuk memikirkannya, maka diapun menambahkannya dari sisi itu”.

(Taisiral-Karimirrahman Fi Tafsir Kalaamil Mannaan  dari al-Majmu’ al-Kaamilah LiMu’allafaat as-Sa’di bag. Tafsir , 5/449-450).

» Baca juga :
Jurus Jitu Mendidik Anak KLIK
http://m.klikuk.com/jurus-jitu-mendidik-anak/

Dahulukan Yang Kanan Jika Ingin Berkah

•Ingin berkah ? Dahulukan yang kanan•

Syariat datang untuk memperbaiki akhlak manusia. Oleh karena itu, Allah mengutus manusia yang paling mulia akhlaqnya untuk menjadi suri tauladan. Beliau adalah Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam.

Perbuatan yang menyelisihi akhlak yang beliau ajarkan tidak layak disebut sebagai akhlak yang mulia.

Laki-laki yang bersalaman dengan wanita bukan mahram dengan alasan supaya tidak terkesan sombong, bukanlah akhlak yang mulia.

Demikian pula seseorang yang makan dan minum dengan tangan kiri supaya dikatakan gaul, juga bukan akhlak mulia. Karena diantara ajaran beliau adalah mendahulukan yang kanan untuk hal-hal yang mulia.

Simak penjelasan Ust Abu Ya’la Kurnaedi,Lc.

klik http://www.salamdakwah.com/videos-detail/mendahulukan-yang-kanan.html

SUATU KEBAHAGIAAN YANG SANGAT BESAR BISA MEMBAHAGIAKAN KEDUA ORANG TUA, TERUTAMA IBU…..!

Saudara-saudariku diantara akhlak yang sangat menonjol dari orang-orang yang berpegang diatas manhaj Ahlussunnah ialah:
Sangat perhatiannya mereka dan perbuatan baik mereka kepada kedua orang tuanya, terutama kepada ibunya….

Perhatikanlah riwayat berikut ini:

عن أبي مرة، مولى أم هانئ بنت أبي طالب: أنه ركب مع أبي هريرة إلى أرضه ب (العتيق) فإذا دخل أرضه صاح بأعلى صوته: عليك السلام ورحمة الله وبركته يا أمتاه! تقول: و عليك السلام ورحمة الله و بركته: يقول:
رحمكِ اللهُ؛ ربَّيْتِني صغيرًا

فتقول: يا بُنيّ! وأنتَ فجزاكَ اللهُ خيرًا، ورضي عنك؛ كما بَرَرْتَني كبيرًا

Dari Abu Murrah maula Ummu Hani’ binti abu Thalib:
Bahwasanya ia berkendara bersama Abu Hurairah ke kampung halamannya di Al-‘Aqiiq.
Ketika ia sampai di rumahnya ia berkata dengan mengeraskan suaranya: Alaikissalam warahmatullahi wabarakatuh wahai ibuku.”
Lalu ibunya berkata : wa’alaikassalam warohmatullohi wabarakatuh.
Ia berkata (bersyukur kepada ibunya) : Rahimakillah (semoga ALLAH merahmatimu wahai ibuku), yang mana engkau telah merawatku ketika aku masih kecil.
Maka ibunya berkata : Wahai anakku wa anta fajazakallahu khairan, semoga ALLAH meridhaimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku saat engkau sudah besar(Dewasa).
[HR. al-Bukhori dalam al-Adabul Mufrod no. 15, syaikh al-Albani rahimahullah berkata: sanadnya hasan dalam shohih al-Adabul Mufrod no. 11]

ما شاء اللّهِ

Sangat dekat sekali hubungan seorang anak kepada ibunya…begitu indahnya….
Yang mana pada zaman kita saat ini banyak kaum muslimin yang menyia-nyiakan ibunya! Tidak pernah mengunjunginya!

Semoga ALLAH memberikan kemudahan kepada kita, agar kita bisa berbakti kepada kedua orang tua kita.
Dan semoga ALLAH menjaga keduanya.
Kemudian kita memohon kepada ALLAH agar menjadikan keturunan kita anak-anak kita, menjadi anak yang shaleh dan sholehah serta menjadi penyejuk pandangan mata bagi kedua orang tuanya.

Akhukum Ahmad Ferry Nasution

Macam-Macam Ro’yu Yang Terpuji

1. Ro’yu para shahabat.
Imam Asy Syafi’iy dalam risalah baghdadiyah yang diriwayatkan oleh Al Hasan bin Muhamad Az Za’faroni berkata:
“…mereka di atas kita pada setiap ilmu, ijtihad, waro’, akal, dan istinbath. Ro’yu mereka lebih terpuji utk kita dan lebih layak kita ikuti dari ro’yu kita sendiri..”.

2. Ro’yu yang menjelaskan dalil dengan penjelasan yang benar dan gamblang.
Abdullah bin Al Mubarok berkata, “Ambillah atsar sebagai sandaran, dan ambil ro’yu yang menjelaskan hadits (dengan benar). Inilah pemahaman yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang Ia kehendaki.”

3. Ro’yu yang menjadi kesepakatan para ulama.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerima kesepakatan mimpi para shahabat, beliau bersabda:
أرى رؤياكم قد تواطات في السبع الأواخر فمن كان منكم متحريها فليتحرها في السبع الأواخر
“Aku melihat mimpi kalian telah bersepakat di tujuh malam terakhir. Siapa yang mau mencari malam lailatul qodar, hendaklah ia cari di tujuh malam terakhir.” (HR Bukhari dan Muslim).
Lihatlah, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menerima kesepakatan mimpi para shahabat. Maka kesepakatan umat ini terpelihara dari kesalahan.

4. Ro’yu setelah melihat alqur’an, hadits, dan ro’yu shahabat. Bila tidak menemukan nash, maka berijtihad dengan dengan melihat yang lebih dekat kepada kitabullah dan sunnah Rasul-Nya serta fatawa para shahabat.

(I’lamul muwaqi’in hal 61-64. Tahqiq Raid bin Sabri).

KERINDUAN ORANG-ORANG YANG BAIK, KEPADA TEMPAT YANG PALING BAIK

Surga…dia adalah harapan/tujuan yg sangat tinggi yg senantiasa diusahakan agar dapat diraih oleh kaum mukminin sepanjang zaman.

Surga…adalah yang menjadi penggerak jiwa-jiwa para salafus shaleh untuk mencontohkan pengorbanan mereka yg sangat tinggi untuk meraihnya.

Surga…adalah tujuan seorang mukmin yg paling mulia, yg senantiasa selalu diamati oleh pandangan-pandangan yg menyejukkan. Dan yg membuat segenap jiwa yang merindukannya menjadi tergesa-gesa disetiap tempat, waktu & keadaan untuk meraihnya.

Surga..adalah harapan yang paling agung bagi seorang mukmin. Masuk kedalamnya & hidup didalamnya merupakan cita-cita serta angan-angan yg senantiasa menghantui hati seorang mukmin sepanjang kehidupannya didunia yang fana ini!

Surga… membuat seseorang untuk bersegera bertaubat dari segala dosa dan ma’siyat lalu merekapun bersegera untuk berbuat kebajikan, kebenaran dari setiap amal-amal perbuatannya.

Wahai saudara-saudariku…

Walaupun terkadang jalan menujunya dipenuhi duri-duri kehidupan, dipenuhi dengan mara bahaya, ujian yg sgt berat, kesusahan, kesedihan atau sesuatu yang terkadang kita berat/sulit untuk meninggalkan bahkan terkadang perlu dilalui dengan pengorbanan jiwa /kematian dalam menempuhnya.

Akhirnya kita memohon kepada ALLAH, agar memasukkan diri-diri kita kedalam surga.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
” فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ، وَأَعْلَى الْجَنَّةِ…..

“Apabila kalian memohon kepada Allah, maka mohonlah surga Firdaus, karena ia adalah surga yg terletak paling tengah & paling tinggi”
[HR al-Bukhari: 2790]

Panjatkanlah doa-doa Anda di sepanjang hari, terutama di sepertiga malam terakhir atau ditempat/waktu diijabahkannya doa.

Semoga Allah mengumpulkan kita di Surga Firdaus.

Akhukum Ahmad Ferry Nasution.

– – – – – •(*)•- – – – –

Krisis Ikhlash

Berkata Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu:
“Krisis ikhlas benar-benar akan melanda umat Islam..

Bila ulama yang takut kepada Allah sudah semakin langka..

Kian banyak para penceramah yang terang-terangan mematok tarif pada setiap dakwahnya..

Serta merebaknya pejabat yang tidak amanah..

Atsar riwayat Ad-Darimi dengan sanad yg sahih

 Ditulis oleh Ustadz Jazuli, Lc حفظه الله تعالى

BACA INI, JIKA INGIN TENANG DALAM URUSAN REZEKI

Ibnu Qayyim Al Jauziyyah (ulama Islam abad ke 8 H) rahimahullah berkata:
“Fokuskan benakmu untuk beban (ibadah) yg telah diperintahkan kepadamu, dan jangan sibukkan ia dg sesuatu yg telah dijamin untukmu, karena sesungguhnya rezeki dan kematian adalah dua hal yg bergandengan dan bergantungan.”

“Selama kematian masih tersisa, maka selama itu rezeki akan menghampiri”
“Dan jika (Allah) dengan hikmah-Nya, menutup untukmu sebuah jalan, maka Allah dengan rahmat-Nya, akan membuka untukmu jalan lain yg lebih bermanfaat bagimu darinya.”

Perhatikanlah keadaan janin…
Datang kepadanya makanannya yaitu berupa darah, melalui satu jalan yaitu pusar, ketika keluar dari perut ibunya dan terputus jalan (makanan) itu.

Maka (Allah) bukakan baginya dua jalan dan dialirkan untuknya rezeki yang lebih baik dan lebih lezat dari yang pertama, yaitu berupa susu yang murni dan cocok (untuk diminum), lalu, jika telah sempurna masa penyusuan dan terputus dua jalan dengan disapih, maka (Allah) membukakan empat jalan yang lain, yang lebih sempurna darinya, yaitu dua makanan dan dua minuman, dua makanan berasal dari hewan dan tumbuhan, dua minuman berasal dari air dan susu serta apa saja yang digandengkan kepada keduanya dari hal-hal yang bermanfaat dan lezat.

Dan jika ia mati, terputus darinya jalan yang empat ini, akan tetapi Allah Yang Maha Suci, jika ia berbahagia, akan (Allah) bukakan untuknya delapan jalan, yaitu pintu-pintu surga yang berjumlah delapan, ia akan masuk surga dari mana saja yang ia kehendaki.”

Jadi demikiankah…
Allah Yang Maha Suci, tidaklah Dia menahan sesuatu dari hamba-Nya yang beriman, berupa perkara dunia, melainkan Dia akan memberikan kepadanya yang lebih utama dan lebih bermanfaat darinya.”
lihat kitab Al Fawaid, hal: 59.

SILAHKAN BACA SELENGKAPNYA DI:
http://dakwahsunnah.com/artikel/keluarga-muslim/333-baca-ini,-jika-ingin-tenang-dalam-urusan-rezeki

By Ust.Ahmad Zainuddin,Lc

Macam-Macam Ro’yu

Ro’yu ada tiga macam: ro’yu yang terpuji, ro’yu yang tercela dan ro’yu yang masih samar apakah ia haq atau batil.

Salaf terdahulu menggunakan ro’yu yang terpuji dan membuang ro’yu yang tercela.

Adapun ro’yu yang masih samar, mereka
gunakan ketika amat dibutuhkan.
Namun mereka tidak memaksakan orang lain mengamalkannya, tidak pula melarang untuk menyelisihinya. Mereka tidak menganggap orang yang menyelisihinya telah menyelisihi agama. Ro’yu yang seperti ini diberikan pilihan antara menerima atau menolak.

(I’laamul muwaqqi’iin hal. 53 tahqiq 3aid bin Sabri).

Komentar:
Ro’yu yang ketiga ini adalah masalah ijtihadiyah yang tidak ada nash yang menunjukkannya.
Para ulama mengeluarkan kesungguhan mereka untuk berijtihad, namun tidak memaksakan orang lain mengamalkannya.
Coba perhatikan di zaman ini, banyak perselisihan yang berakibat saling menyahdzir ternyata dalam masalah ijtihadiyah semata. Seperti masalah menerima bantuan dari yayasan yang dianggap hizbiy. Atau masalah menyikapi sebagian ahlul bid’ah.

Allahul Musta’an.