Category Archives: BBG Kajian

Bedakan

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

“Ahlussunnah meninggalkan pendapat manusia untuk mengikuti sunnah.. Sedangkan Ahlul Bid’ah meninggalkan sunnah untuk mengikuti pendapat manusia..”

(Ash Showa’iq Al Mursalah)

Karena ahlussunnah mengagungkan dalil di atas pendapat siapapun..
Bukan karena tidak menghormati ulama..
Tapi karena demikianlah manhaj yang ditetapkan oleh salafush-sholih..

Sedangkan ahlul bid’ah berat mengikuti sunnah jika bertabrakan dengan pendapat ulama yang sesuai dengan keinginan mereka..

Ketika disampaikan dalil dalil tentang haramnya musik..
Mereka berkilah, “Tapi kata ulama anu boleh kok…”

Ketika dibawakan ayat dan hadits tentang perintah memelihara janggut..
Mereka berkata, “Tapi ulama anu mengatakan nggak begitu..”

Maka bergembiralah anda saat dalil lebih agung di dada dari semua pendapat manusia..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Jangan Salah Sangka..!

Banyak orang menyangka:
– Sedekah mengurangi harta..
– memaafkan kezaliman orang, menjadikan orang terlihat lemah, karena tidak mampu membalas.. dan
– merendah, menjadikan orang hina.

Padahal semuanya telah dibantah oleh Nabi kita -shollallahu ‘alaihi wasallam- dalam satu haditsnya:

مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ، إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

“Sedekah tidak akan mengurangi harta sama sekali.. Tidaklah Allah menambah untuk seorang hamba dari sikap memaafkan, melainkan kekuatan.. dan Tidaklah seseorang bersikap merendah (tawadhu’), melainkan Allah akan memuliakannya..” [HR. Muslim: 69].

Sungguh ini menunjukkan ke-mahakuasa-an Allah.. Dia bisa menjadikan sesuatu yang terlihat bertentangan menjadi sesuatu yang berhubungan sebab akibat.

Sedekah, Allah jadikan penyebab bertambahnya harta.. padahal harusnya harta menjadi berkurang karenanya.
Memaafkan, Allah jadikan penyebab kekuatan.. padahal harusnya menjadikan seseorang tampak lemah.
Merendah, Allah jadikan penyebab kemuliaan.. padahal harusnya menjadikan dirinya rendah.

Dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya, misalnya:
– Api mendatangkan dingin untuk Nabi Ibrahim.. [Al-Anbiya’: 69].
– Air mendatangkan api.. [At-Takwir: 6].
– Menjadikan api dari pohon yang hijau.. [Yasin: 80].
– Mendatangkan kehidupan dari kematian.. [Alu Imron: 27]
– Mendatangkan kematian dari kehidupan.. [Al-An’am: 95] .. dst.

Oleh karenanya, jangan dahulukan akal, ketika syariat mengatakan lain.. karena “Allah-lah yang tahu, sedangkan kalian tidak tahu..” [Al-Baqarah: 216].

Ditulis oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Mengapa..?

Mengapa seringkali seseorang berat menjalankan syariat Islam, padahal katanya Islam itu ajaran yang ringan dan sesuai dengan fitrah manusia..?!

=====

Ada beberapa jawaban untuk pertanyaan ini:

1. Sesuai dengan fitrah, tidak harus ringan, bisa jadi terasa berat tapi masih wajar.

misalnya: bekerja mencari nafkah, itu sesuai fitrah, tapi tidak harus ringan.. ada juga orang-orang yang harus berjuang keras dalam mencari nafkahnya. Sesuai dengan fitrah, maksudnya fitrah manusia bisa menerimanya dan tidak menentangnya.

2. Yang berat menjalankan syariat, biasanya orang-orang yang fitrahnya sudah berubah karena dirusak oleh setan. Seandainya masih lurus fitrahnya, tentu dia akan ringan menjalankan syariat.

Lihatlah anak kecil, ketika diminta menjalankan sebagian syariat, dia akan ringan menjalankannya.. begitu pula dengan orang dewasa yang fitrahnya masih lurus .. apalagi jika dia memiliki kesadaran bahwa dia sangat membutuhkan ibadahnya.

3. Bisa jadi seseorang sudah terbiasa menjalankan sesuatu yang ringan tapi salah, dan itu dianggap baik-baik saja.

Orang yang seperti ini bila dituntut menjalankan syariat yang lebih berat dari kebiasaannya, tentu akan merasa berat, karena sudah terbiasa dengan yang ringan.

4. Keberatan menjalankan syariat juga sering dipengaruhi oleh lingkungan yang tidak baik. apalagi bila lingkungan sekitar memusuhinya saat menjalankan syariat.

Jadi bukan syariatnya yang berat, tapi karena lingkungan yang buruk, dia berat menjalankan syariat.

5. Kejahilan terhadap syariat Islam.

Dan ini efeknya sangat banyak.. bisa jadi sebenarnya bukan bagian syariat, dia anggap bagian syariat, padahal berat untuk dilakukan.. bisa jadi sebenarnya bukan wajib, dia anggap wajib.. bisa jadi sebenarnya ada banyak solusinya, dia tidak tahu.. bisa jadi sebenarnya boleh, dia anggap tidak boleh.. dst.

Wallahu a’lam.

Ditulis oleh,
Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Kabar Gembira Bagi Mereka Yang Terasing

Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

طوبى للغرباء” قيل: ومن الغرباء؟ قال: “ناس صالحون قليل في ناس سوء كثير من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم”.

“Thuba bagi orang orang yang terasing..”
Beliau ditanya, “Siapakah mereka..?”
Beliau bersabda, “Manusia yang sholeh yang sedikit jumlahnya di tengah tengah manusia banyak yang buruk..” (HR Ahmad)

Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

طوبى شجرة في الجنة مسيرة مائة عام ثياب أهل الجنة تخرج من أكمامها

“Thuba adalah sebuah pohon di surga, jaraknya 100 tahun. Pakaian penduduk surga berasal darinya..” (HR Ibnu Hibban)

Janganlah engkau bersedih saat terasing dan diasingkan karena berpegang kepada sunnah..
Jangan merasa kesepian dengan sedikitnya orang yang meniti jalan kebenaran..

Sabarlah.. dan kuatkan kesabaran..
Hingga bertemu dengan nabi yang amat kita cintai..
Di telaganya kelak..

Penulis, 
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

 

Pesan Terbaik

(pesan terbaik yang kubaca hari ini)

Jangan kabarkan kepada orang-orang, berapa hapalan Qur’an-mu.

Jangan pula engkau kabarkan kepada mereka, bahwa engkau telah me-mutqin-kan 1 juz, atau telah menghapal 1 hizb, atau telah memurojaah 10 juz.

Biarkan mereka melihat Qur’an itu ada pada dirimu .. di perkataanmu yang baik, akalmu yang berbobot, kemuliaan pada anggota badan dan hatimu.. di semangatmu berbuat baik kepada orang lain, kebijaksanaanmu, dan ketenanganmu dalam bersikap.

Jangan sampai tujuanmu agar disebut sebagai orang yang telah hapal Alqur’an .. tapi berusahalah agar menjadi orang yang berakhlak dengan Alqur’an.

(diterjemahkan dari pesan tertulis dalam bahasa Arab)

Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Hidup Adalah Menanam

Seorang mukmin akan senantiasa menanam berbagai kebaikan dalam hidupnya, tak perduli mana satu dari kebaikan yang dia semai di dunia kan berbuah balasan terbaik di akhirat kelak.

Hidup seorang mukmin bagaikan petani yang berusaha menyemai benih di ladang yang telah disterilkan dari berbagai gulma dan hama, di tanah yang telah dibajak.

Ia tak pernah tau mana satu dari sekian ribu benih yang ditanam, yang akan tumbuh membesar, berbuah dan menghasilkan panen raya. Ia tak peduli bilamana diantara sekian benih tersebut akan ada yang tak tumbuh, mengering dan mati, yang dibenaknya adalah bekerja maksimal menyempurnakan ikhtiar dan bertawakkal pada Sang Penciptanya.

Dunia ini adalah ladangmu sobat, tanamilah ia dengan benih kebaikan sebanyak yang kau mampu, terus beramal dan jangan pernah berhenti kecuali kematian yang menghentikanmu, sebab engkau tak tau mana satu dari apa yang kau upayakan itu kan menjadi penyelamatmu di negeri akhirat.

Bagaikan gulma dan hama perusak tanah dan tanaman, maka perusak amal hingga akhirnya tertolak itu amatlah banyaknya, ada riya, ada ujub,ada sombong, ada perasaan telah berjasa atas Islam dan agama, ada keinginan untuk menjadi orang terkenal dan populer, viral di dunia maya, yang semuanya adalah gulma hati.

Ada pula kesyirikan, bid’ah dalam beribadah, khurafat dan takhayul yang semua merupakan hama bagi hati.

Ya subhanallah… alangkah banyaknya penawar dari ramuan Alqur’an dan Sunnah yang dapat membasmi gulma dan hati di atas, sekiranya kita mau berobat dengannya.

Namun obat tersebut tak mampu dibeli dengan dinar dan dirham, dia hanya kan dapat dibayar tunai di taman-taman syurga, majlis ilmu dan dihadapan para ulama.

Namun adakah yang mau mengambil penawar tersebut..?

Wallahul musta’an.

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Fairuz Ahmad Ridwan MA, حفظه الله تعالى

Betapa Kuatnya Ilmu Agama Tersebar Di Zaman Itu..!

Suatu ketika Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi (w 476 H) ingin meninggalkan kota Baghdad, maka lewatlah beliau di sebuah jalanan kota itu.

Tiba-tiba ada seorang kuli pembawa sayuran mengatakan kepada temannya: “Pendapat Sahabat Ibnu ‘Abbas dalam masalah Istitsna’ itu tidak benar, karena kalau itu benar, tentunya Allah ta’ala tidak akan mengatakan kepada Nabi Ayyub -‘alaihissalam-:

وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِهِ وَلَا تَحْنَثْ

‘Ambillah dengan tanganmu seikat rumput (alang-alang), lalu pukullah dengan itu, dan janganlah kamu melanggar sumpah..’ [QS. Shad: 44].

Akan tetapi harusnya Allah cukup mengatakan kepadanya: ‘lakukanlah istitsna’ (ucapan InsyaAllah)..! Sehingga dia tidak perlu melakukan cara seperti itu untuk menunaikan sumpahnya..”

Melihat pemandangan itu, Imam Abu Ishaq mengatakan kepada dirinya: “Negeri yang kuli pembawa sayurannya saja bisa membantah perkataan Sahabat Ibnu ‘Abbas, tidak pantas engkau keluar meninggalkannya..” [Al-Bahrul Muhith Liz Zarkasyi 4/382].

—–

Bisa dibayangkan, kalau kulinya saja seperti itu, bagaimana dengan para ulamanya..!

Diterjemahkan oleh,
Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Janganlah Engkau Bersedih

Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

طوبى للغرباء” قيل: ومن الغرباء؟ قال: “ناس صالحون قليل في ناس سوء كثير من يعصيهم أكثر ممن يطيعهم”.

“Thuba bagi orang orang yang terasing.
Beliau ditanya, “Siapakah mereka..?”
Beliau bersabda, “Manusia yang shalih yang sedikit jumlahnya di tengah tengah manusia banyak yang buruk..”
(HR Ahmad)

Nabi Shallallaahu ‘alaihi Wasallam juga bersabda:

طوبى شجرة في الجنة مسيرة مائة عام ثياب أهل الجنة تخرج من أكمامها

“Thuba adalah sebuah pohon di surga, jaraknya 100 tahun. Pakaian penduduk surga berasal darinya..”
(HR Ibnu Hibban)

Janganlah engkau bersedih saat terasing dan diasingkan karena berpegang kepada sunnah…
Jangan merasa kesepian dengan sedikitnya orang yang meniti jalan kebenaran…

Sabarlah..
Dan kuatkan kesabaran…
Hingga bertemu dengan Nabi yang amat kita cintai..
Di telaganya kelak…

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Beberapa Jam Saja Untuk Membersihkan Dosa Selama 1 Tahun

Nabi shollallahu ‘alayhi wa sallam ditanya mengenai keistimewaan puasa ’Asyuro (10 Al Muharrom)..?

Beliau menjawab, ”Puasa ’Asyuro akan menghapus dosa setahun yang lalu..” (HR. Muslim 1162)

Sebuah penawaran yang sangat menarik bagi kita yang berlumur dosa.. 1 tahun adalah waktu yang cukup lama dalam menumpuk dosa-dosa kecil¹ dan dapat kita putihkan dengan puasa beberapa jam saja.

Tidak heran jika sebagian ulama-ulama klasik kita (seperti Ibnu ‘Abbas, Abu Ishaq, Az Zuhri) berusaha berpuasa di tanggal 10 Al Muharrom walaupun mereka sedang safar, bukan mewajibkan namun semangat untuk meraih ampunan dan keutamaan.²

Imam Az Zuhri -rahimahullah- ditanya:
“(Mengapa) Anda berpuasa ‘Asyuro saat safar sedangkan saat Ramadhan anda berbuka (tidak berpuasa) ketika safar..?”

Maka beliau menjawab:
“Sesungguhnya (mengganti puasa) Ramadhan itu memiliki hari-hari yang lain, sedangkan ‘Asyuro akan lewat begitu saja (yaitu tidak bisa tergantikan)..”³

¹ Syarah Muslim Nawawi 4/179, Al Furuu’ 3/83
² Lathooiful Ma’aarif 53, At Tamhid 7/215
³ Siyar A’laamin Nubala’ 5/342

Ditulis oleh,
Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى

Jadilah Seperti Cermin

Nabi Shollallaahu ‘alaihi Wasallam bersabda:

المؤمِنُ مرآةُ أخيهِ ، المؤمنُ أخو المؤمنِ يَكُفُّ عليهِ ضَيْعَتَه ويحوطُه مِن ورائِهِ

“Mukmin adalah cermin untuk saudaranya. Mukmin adalah saudara mukmin lainnya. Ia menjaga harta saudaranya dan menjaga kehormatannya dari belakangnya (saat gaib darinya)..” (HR Abu Dawud dan dihasankan oleh Syaikh Al Bani rohimahullah)

Itulah mukmin bagaikan cermin kepada saudaranya..

Bersikap jujur seadanya dan tidak bersikap pura pura di hadapannya..
Ia mengabarkan kepada saudaranya sesuai dengan kenyataannya..
Dan tidak membuka aib aibnya kepada orang lain..

Karena sebaik-baik teman adalah yang membenarkan kita saat benar..
Dan menasehati kita saat salah..
Bukan yang selalu mendukung kita baik benar maupun salah..

Ditulis oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى