Category Archives: Rochmad Supriyadi

Bagaimana Setelah Romadhon ?

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Tidak diragukan lagi setiap orang yang berpuasa dan menghidupkan malam Romadhon pasti berharap dan memanjatkan doa agar semua amal shalehnya diterima dan mendapat pahala.

Diterimanya amal memiliki ciri-ciri dan sifat yang dapat diharapkan, diantaranya:

** Menjumpai dirinya terdapat kebaikan dan istiqomah dalam ketaatan setelah sepeninggal bulan Romadhon dan lebih baik dari sebelum-sebelumnya.

** Senantiasa mementingkan ibadah, dengan suka dan cita, menjaga amalan-amalan faridhoh atau kewajiban, seperti senantiasa menjaga sholat lima waktu di masjid dengan tetap berjamaah, cinta kema’rufan, mengamalkan dan mengajaknya, membenci munkar, menjauhi dan melarangnya.

Adapun jika seseorang tersebut setelah bulan Romadhon keadaannya sama seperti sebelumnya, bahkan lebih buruk, terus menerus dalam kubangan dosa dan kesesatan, malas dalam menjalankan kewajiban, tertawan dalam jeratan maksiat, maka semacam ini adalah alamat kesengsaraan dan tidak menggapai keuntungan. Ia tidak mampu menggunakan kesempatan emas yang sangat berharga dikarenakan tidak meminta kepada Allah magfiroh dan menjalani sebab-sebab magfiroh di bulan nan penuh keridhoan.
Maka alangkah meruginya ia dan betapa besar musibah yang ia tanggung.

Romadhon yang penuh berkah merupakan musim untuk membiasakan diri menjalankan ketaatan dan berjuang dalam ibadah dan berlomba dalam kebaikan. Dan sangatlah mengecewakan bagi seorang muslim meninggalkan ibadah selepas perginya bulan Romadhon, yang mana ia tak kenal ibadah kecuali di bulan itu saja, dan seperti mereka itu pantas untuk dikatakan:

* Wahai orang yang kenal kepada Allah di bulan Romadhon, kenapa kalian lupa terhadap Tuhan sepeninggal Romadhon ?!

* Wahai orang-orang yang mengetahui Allah memfardhukan sholat lima waktu di bulan Romadhon, kenapa kalian berubah setelah Romadhon pergi ?!

* Wahai orang-orang yang sadar bahwa Allah mengharamkan maksiat di bulan Romadhon, kenapa kalian berpura-pura lupa setelah Romadhon?!

* Wahai orang-orang yang sadar disana ada neraka dan surga di bulan Romadhon, apa sebabnya kalian berpura-pura tidak ingat setelah Romadhon?!

Maka alangkah mengherankan manusia-manusia tidak kenal agama kecuali di bulan puasa saja. Dan sebagian salaf mencela orang semacam ini seraya berkata, “Celaka suatu kaum yang tidak kenal Allah kecuali di bulan Romadhon saja”.

Sesungguhnya yang menjadi Tuhan baik di bulan Romadhon, Syawal, atau Sya’ban hakikatnya sama. Sebaiknya seorang muslim menjalankan ibadah, menjauhi maksiat adalah di setiap waktu.

Allah Ta’ala memerintahkan para hamba dalam firman-Nya: “Dan beribadahlah kalian kepada Tuhanmu hingga datang pada kalian Yakin”. (QS Al Hijr: 99). Yaitu, terus meneruslah beribadah dan berinabah kepada Allah diseluruh kehidupanmu hingga ajal menjemputmu. Karena kehidupan manusia semata-mata milik Allah dan Allah menghendaki kalian agar menghabiskan umur dalam ketaatan.

Allah berfirman: “Katakanlah, ‘Sesungguhnya sholatku, berkorbanku, hidupku, matiku hanyalah milik Allah Robb Semesta Alam”. (QS. Al an’am: 162). Allah Ta’ala berfirman,”Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kalian kepada Allah dan jangan sekali-kali mati kecuali kalian islam berserah diri”. (QS Al Imron: 102).

Berkata Ibnu Katsir, “Yaitu jagalah diri kalian di atas ajaran islam di waktu sehat kalian agar ketika wafat kalian tetap dalam kondisi islam, sesungguhnya Allah akan membalas sesuai apa yang ada padanya. Dan barangsiapa hidup dalam keadaan tertentu, pasti ia mati dalam keadaan tersebut, dan barangsiapa mati dalam keadaan tertentu, ia akan dibangkitkan padanya, maka kita berlindung dari menyelisihi islam.”

Diantara doa yang mencakup segala kebaikan adalah ucapan Nabi Yusuf ‘alaihissalam, “Wahai Allah, Engkau adalah pelindungku di dunia dan akhirat, wafatkan aku dalam keadaan islam dan pertemukan aku dengan orang-orang shalih”. (QS. Yusuf: 101).

Sesungguhnya tiada kebaikan dan ketentraman di dunia dan akhirat kecuali dengan cara istiqomah terhadap agama dan syariatnya, bahkan baiknya perkara dunia tergantung pada baiknya urusan agama. Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berdoa, “Ya Allah, perbaiki untukku perkara Agamaku, yang menjadi tonggak segala urusanku, dan perbaikilah urusan duniaku, yang menjadi ladang kehidupanku, dan dan perbaikilah perkara akhirotku yang menjadi tempat kembaliku, jadikanlah dunia sebagai bekal bagiku disetiap kebaikan, dan jadikan matiku peristirahatan dari segala keburukan”. (HR Muslim).

Maka barang siapa berkehendak hidup dengan kenyamanan di seluruh sisa umurnya wajib baginya agar berpegang teguh dengan islam dan iman, menjauh dari syirik, kufur, bid’ah dan maksiat. Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan Tuhanku adalah Allah kemudian ia istiqomah, maka para malaikat turun menghampirinya seraya berkata, ‘Janganlah kalian takut dan bersedih, bergembiralah dengan surga yang dijanjikan untuk kalian. Kami adalah kekasih kalian di dunia dan di akhirat,….”. (QS Fushilat: 30-33).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam berpesan, “Barangsiapa menginginkan agar dijauhkan dari neraka dan dimasukkan surga, maka hendaknya di saat kematian menjemputnya, ia dalam keadaan beriman kepada Allah dan hari akhir, dan memperlakukan manusia dengan apa yang ia sukai untuk dirinya diperlakukan”. (HR.muslim).

Kita memohon agar dihidupkan istiqomah diatas islam, dan diwafatkan dalam keadaan iman, dan diberi istiqomah dalam kebenaran dan petunjuk hingga kita diwafatkan.

~ disarikan dari tulisan Syaikh Abdurrozaq hafidzahullah di www.al-badr. net ~

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Bersyukur

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Bersyukur adalah memberikan pujian kepada yang memberikan karunia nikmat dari suatu kebajikan.

Syukurnya seorang hamba berkisar pada tiga rukun, yaitu :

** Mengakui pemberian nikmat secara bathin,
** Menyebut-nyebut puji dan syukur secara dhohir,
** Menggunakan nya pada jalan keta’atan.

Dengan ini kita simpulkan, bersyukur berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Hati mengakui akan adanya nikmat, lisan senantiasa memuja dan memuji, anggota badan menggunakan nikmat tersebut di jalan keta’atan.

Allah سبحانه وتعالى kaitkan syukur dengan iman dalam firman Nya, “Allah tidak akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman. Dan Allah Maha Mensyukuri lagi Maha mengetahui.” QS An-Nisa’ 147.

Allah khabarkan bahwa hamba yang bersyukur merekalah orang-orang yang khusus diberikan karunia kenikmatan, sebagaimana firman Nya, “Demikianlah Kami menguji sebagian mereka dengan sebagian yang lain, agar mereka berkata,” Orang orang semacam inikah diantara kita yang diberi anugrah olih Allah ? “, Maka Allah berkata ” Bukankah Allah lebih mengetahui tentang hamba-hamba Nya yang bersyukur kepada Nya ?”. QS Al-An’am 53.

Allah membagi manusia ada dua jenis :
** Bersyukur dan
** Kafir

Sebagaimana firman Nya, “Sungguh, Kami telah menunjukkan kepada manusia jalan yang lurus, akan tetapi diantara mereka ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.” QS Al-Insan 3.

Dan Allah memberikan ancaman kepada mereka yang kafir, Allah berfirman ,” Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengumandangkan ” Sungguh jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan tambah nikmat kepadamu, tapi bila kalian kufur dan mengingkari nikmat-Ku, maka pastilah adzabKu amat sangat keras “. QS Ibrahim 7.

Perangai Penduduk Neraka

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;

Neraka merupakan ciptaan Allah yang diperuntukkan bagi iblis dan bala tentaranya dari para jin dan manusia.

Seseorang dapat terjerumus dalam neraka dikarenakan mengikuti bujukan syaitan dan hawa nafsu, karena neraka dipenuhi dengan hal hal yang terlihat indah dan menarik.
Diantara perbuatan yang dapat mengantarkan ke dalam neraka sangat banyak, antara lain sebagai berikut ;

» Perbuatan kemusyrikan mengeluarkan pelakunya dari iman, baik itu berbuat syirik dalam rububiyah Allah, `uluhiyah, maupun dalam asma` dan sifat. Maka barang siapa yang menjadikan sekutu dan tandingan bagi Allah sungguh ia telah berbuat syirik besar yang mengakibatkan pelakunya kekal di dalam neraka.

Allah Ta`ala berfirman,”Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun”. (QS. Al Ma`idah: 72).

» Perbuatan kufur kepada Allah Ta`ala, malaikat, kitab-kitab, para rasul, hari akhir, maupun kufur terhadap takdir. Allah Ta`ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara (keimanan kepada) Allah dan rasul-rasul-Nya, dengan mengatakan: “Kami beriman kepada yang sebahagian dan kami kafir terhadap sebahagian (yang lain)”, serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (tengah) di antara yang demikian (iman atau kafir). Merekalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir itu siksaan yang menghinakan”. (QS. An Nisaa`: 150-151).

Allah Ta`ala berfirman, “Sesungguhnya Allah melaknati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka). Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong”. (QS. Al Ahzab: 64~65).

⌣̊┈»̶·̵̭̌✽✽·̵̭̌«̶┈⌣̊

Perangai Penduduk Surga

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

hamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;

Surga merupakan tempat yang kekal abadi yang penuh kenikmatan, untuk menggapai nya disana terdapat amalan amalan sholeh yang menuntun kedalam surga.

Allah Ta`ala berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.  Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui “.(QS Ali Imran 133/135).

Diantara perangai ahli surga adalah:

» Bertakwa, yaitu senantiasa menjauhkan diri dari siksa neraka dengan menjalankan ketaatan hanya mengharapkan pahala Allah Ta`ala semata, dan menjauhi larangan di karenakan takut akan siksa Allah Ta`ala.

» Menginfakkan harta dalam keadaan lapang dan sempit, baik zakat wajib, sodakoh, di jalan Allah dan jalan kebaikan, tidak terjerembab kepada cinta harta sehingga ia terjauhkan dari sifat kikir dan bakhil.

» Menahan amarah, sehingga tidak berbuat melampaui batas dan berbuat aniaya terhadap orang lain.

» Memberikan maaf kepada orang lain atas kedzaliman dan perbuatan aniaya, sehingga tidak memiliki dendam, walaupun sesungguhnya ia mampu untuk menuntut balasan.

» Jikalau berbuat keburukan dan aniaya, ia segera ingat Allah dan meminta ampunan kepada Nya.

» Tidak terus menerus dalam kubangan dosa, yaitu tidak mengulang ulang perbuatan dosa, ia sadar dan tau bahwa perbuatan yang ia lakukan adalah keburukan, sehingga timbul rasa penyesalan dan berniat untuk tidak melakukan kembali.

Didalam ayat yang lain Allah Ta`ala mensifati perangai ahli surga yaitu dalam firman Nya, ” Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman. (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. Dan  orang-orang yang memelihara sembahyangnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi.  (yakni) yang akan mewarisi surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.  (QS Al Mukminun 1/11).

Didalam ayat mulia ini Allah terangkan para penghuni surga, mereka adalah :

° Orang yang beriman, yaitu iman kepada Allah, malaikat, kitab, Rosul, hari akhir dan iman kepada takdir.

° Orang yang khusyu dalam mengerjakan sholat, tenang dan memahami isi bacaan sholat dan menyadari bahwa ia sedang berhadapan dengan Allah Ta`ala.

° Orang yang berpaling dari perbuatan sia sia, yaitu segala perbuatan yang tidak memiliki manfaat dan kebaikan.

° Orang yang senantiasa menunaikan zakat hingga mensucikan hati dan hartanya.

° Orang yang senantiasa menjaga kemaluan dari perbuatan zina dan liwath, termasuk di dalamnya larangan melakukan onani.

° Orang yang senantiasa menjaga amanah, baik amat berbentuk ucapan, perbuatan, dan barang yang di amanatkan kepada nya.

° Orang yang senantiasa menjaga sholat, mengerjakan dengan baik dan tepat waktu dan memenuhi syarat wajib, rukun, dan sunnah sunnah nya.

Dan didalam hadits banyak dijumpai amalan dan perangai ahli surga, diantaranya:

* Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Barangsiapa yang berjalan menyusuri jalan jalan ilmu, niscaya Allah akan mudah kan jalan menuju surga “.(HR Muslim).

* Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Barangsiapa yang membangun satu rumah Allah (masjid) maka niscaya Allah bangun kan rumah di surga “.(HR Bukhari dan Muslim).

* Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Tidaklah seorang muslim menjalankan sholat tathowu` bukan sholat wajib, setiap hari dua belas rakaat untuk Allah, niscaya Allah bangun kan untuk nya rumah di surga “.(HR Muslim).

* Suatu hari Nabi sallallahu alaihi wa sallam ditanya tentang perbuatan yang paling banyak menghantarkan kedalaman surga, maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, ” Takwa kepada Allah dan akhlak mulia “.(HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).

Semoga Allah memberikan taufik dan kemudahan dalam beramal sholeh, dan kita dikaruniai ikhlas dan mutabaah, dan semoga kita di berikan ampunan atas segala dosa dan di golongkan sebagai penduduk surga.

Surga Dan Sifatnya

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

lhamdulillah, was sholatu was salamu `ala Rosulillah, wa ba`du;

Allah Ta`ala berfirman, “Perumpamaan surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi orang-orang yang bertakwa”. (QS Ar Ra`d: 35).

Allah Ta`ala berfirman, “(Apakah) perumpamaan (penghuni) jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tiada berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamar yang lezat rasanya bagi peminumnya dan sungai-sungai dari madu yang disaring; dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka”. (QS Muhammad: 15).

Allah Ta`ala berfirman, “Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan: “Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu”. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya”. (QS Al Baqarah: 25).

Allah Ta`ala berfirman, “Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutra. Di dalamnya mereka duduk bertelakan di atas dipan, mereka tidak merasakan di dalamnya (teriknya) matahari dan tidak pula dingin yang bersangatan. Dan naungan (pohon-pohon surga itu) dekat di atas mereka dan buahnya dimudahkan memetiknya semudah-mudahnya. Dan diedarkan kepada mereka bejana-bejana dari perak dan piala-piala yang bening laksana kaca.
(yaitu) kaca-kaca (yang terbuat) dari perak yang telah diukur mereka dengan sebaik-baiknya. Di dalam surga itu mereka diberi minum segelas (minuman) yang campurannya adalah jahe. (Yang didatangkan dari) sebuah mata air surga yang dinamakan salsabil. Dan mereka dikelilingi oleh pelayan-pelayan muda yang tetap muda. Apabila kamu melihat mereka, kamu akan mengira mereka, mutiara yang bertaburan.
Dan apabila kamu melihat di sana (surga), niscaya kamu akan melihat berbagai macam kenikmatan dan kerajaan yang besar. Mereka memakai pakaian sutera halus yang hijau dan sutera tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. Sesungguhnya ini adalah balasan untukmu, dan usahamu adalah disyukuri (diberi balasan)”. (QS Al Insan: 12-22).

Allah Ta`ala berfirman, “Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. Masuklah kamu ke dalam surga, kamu dan isteri-isteri kamu digembirakan”. Diedarkan kepada mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di dalamnya”. Dan itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu kerjakan. Di dalam surga itu ada buah-buahan yang banyak untukmu yang sebahagiannya kamu makan”. (QS Az Zukhruf: 68-73).

Dari Abu Hurairah radiyallahu‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang pertama kali masuk Surga laksana bulan di malam pertama. Orang yang masuk setelah mereka laksana bintang yang sangat terang di langit yang cerah. Mereka tidak buang air kecil, tidak buang air besar, tidak beringus, dan tidak meludah. Sisir mereka terbuat dari emas. Keringat mereka adalah minyak kesturi. Tempat BUKHUR (PEWANGI RUANGAN DAN TUBUH) mereka adalah batang kayu gaharu. Isteri-isteri merreka semuanya adalah bidadari,bentuk tubuh mereka semuanya sama yaitu seperti bentuk tubuh bapak mereka Adam: tingginya enam puluh hasta di langit”. (HR Bukhari dan Muslim).

Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ”Berangkat pagi-pagi atau siang hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Sungguh tempat satu hasta kalian di Surga lebih baik daripada dunia dan seisinya. Kalaulah seorang wanita penduduk Surga menampakkan dirinya kepada penduduk dunia, niscaya dia akan menerangi antara keduanya dan bumi akan penuh dengan wewangian. Sungguh, penutup kepalanya lebih baik daripada dunia dan seisinya”. (HR Bukhari).

Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi bersabda: “Aku masuk ke Surga, ternyata di sana ada sungai yang di pinggirnya ada kemah-kemah yang terbuat dari mutiara. Maka aku memukulkan tanganku ke air yang mengalir itu, ternyata airnya adalah minyak kesturi yang sangat harum, lalu akau bertanya: “Apa ini, Wahai Jibril?” Jibril menjawab: “Ini adalh kautsar yang diberikan Allah kepadamu.” (Shahiihul Jaami’ no.3260).

Dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu berkata, bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ”Di Surga ada sebuah pasar yang diadakan hanya pada hari Jum’at. Maka ketika itu angin berhembus dari utara kemudian menerpa wajah-wajah mereka hingga menjadikannya semakin indah, merekapun kembali kepada isteri-isteri mereka dalam keadaan yang semakin bagus dan tampan, maka isteri-isteri mereka berkata: ‘Demi Allah, kalian semakin bagus dan tampan setelah meninggalkan kami.’Mereka juga berkata: ‘Kalian juga semakin bagus dan cantik setekah kami tinggalkan”. (HR Muslim).

Dari Shuhaib bin Sinan ia berkata, bahawa Rasulullah bersabda : “Bila penduduk Surga telah masuk Surga dan penduduk Neraka telah masuk Neraka, maka ada yang berseru: “Wahai penduduk Surga, sesungguhnya kalian memiliki janji di sisi Allah yang ingin Dia tunaikan kepada kalian”, maka mereka bertanya: “Apakah itu?”.bukankah Allah telah memberatkan timbangan amal kebaikan kami, memasukkan kami ke Surga dan menyelamatkan kami dari Neraka?’ Maka disingkaplah tirai, merekapun melihat kepada Allah. Demi Allah, Allah tidak pernah memberikan sesuatu yang paling mereka cintai dan yang paling menyejukkan pandangan mereka dai pada melihat-Nya.” (Shahiihul Jaami’ no.535).

Dari al-Mughirah bin Syu’bah ia berkata, bahwa Rasulullah bersabda: “Musa bertanya kepada Rabbnya: ‘Siapa penduduk Surga yang paling rendah tingkatannya?’ Allah menjawab: ‘Seseorang yang datang setelah seluruh penduduk Surga masuk ke Surga.’ Maka dikatakan kepadanya : ‘Masuklah ke dalam Surga.’ Orang itu berkata : ‘Bagaimana caranya,Wahai Rabbku? semuanya telah menempati tempatnya dan mengambil bagiannya’ maka dikatakan kepadanya : ‘Apakah kamu rela bila memiliki kerajaan seperti milik seorang raja di dunia?’ Orang itu menjawab : ‘Tentu..aku rela wahai Rabbku.’ Allah berkata kepadanya : ‘Inilah bagianmu dan yang semisalnya, semisalnya dan semisalnya lagi. Pada yang kelima kalinya dia berkata :‘Tentu..aku rela wahai Rabbku.’ Selanjutnya Allah berkata : ‘Ini adalh bagianmu dan sepuluh kali lipatnya. Bagimu pula segala apa yang diingini oleh jiwamu dan yang menyenangkan pandanganmu.’ Maka dia berkata : ‘Aku rela wahai Rabbku, siapa yang paling tinggi derajatnya?’ Mereka orang-orang yang aku pilih. Aku menanam kemuliaan mereka dengan tangan-Ku sendiri dan Aku tutup dengannya. Kenikmatan itu tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia.” (HR. Muslim).

Semoga Allah Ta`ala menjadi kan kita tergolong kelompok yang dibebaskan dari api neraka serta di masukkan kedalam surga-Nya yang kekal abadi.

Lailatul Qadr

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu `ala Rosulillah, wa ba`du;

Di akhir bulan ramadhan ini Allah Ta`ala memulihkan dengan malam yang penuh berkah yaitu malam Lailatul Qadar, yang dikhususkan untuk umat ini.

Allah Ta`ala berfirman, “Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul. sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Ad Dukhon: 3-6).

Allah Ta`ala telah memberikan sifat pada malam Lailatul Qadar dengan malam yang penuh berkah dikarenakan banyaknya kebaikan dan keutamaan, dan diantara keberkahan malam itu adalah diturunkannya Al Qur`an, dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, yaitu merinci dari Lauhil Mahfudz, perkara-perkara yang Allah tetapkan pada setahun dari segala rizki, umur, kebaikan, keburukan, dan segala urusan yang telah di putuskan Allah Ta`ala.

Allah Ta`ala berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. (QS Al Qadr: 1-5).

Arti dari Al Qodr adalah kemuliaan, keagungan, dan bermakna takdir dan keputusan, dikarenakan malam itu adalah malam yang penuh berkah dan kemuliaan yang Allah putuskan perkara-perkara setahun.

Malam Lailatul Qadar merupakan malam kesejahteraan bagi orang yang beriman dikarenakan banyaknya yang dibebaskan dari ancaman siksa neraka hingga selamat darinya.

Dan Lailatul Qadar berakhir dengan terbitnya fajar sebagai mana itu merupakan tanda bergantinya malam dengan siang hari.

Keutamaan 10 Hari Akhir Bulan Ramadhan

Ustadz Rochmad Supriyadi, Lc, حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;

Segera menghampiri kita sepuluh hari terakhir bulan ramadhan ini, di dalam nya terdapat banyak keutamaan dan kekhususan, di antara nya :

» Bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam lebih bersemangat dan bersungguh sungguh dalam ibadah dan beramal.

Ummul Mukminin A`isyah radhiyallahu`anha berkata, ” Sesungguhnya Nabi sallallahu alaihi wa sallam tatkala memasuki sepuluh hari terakhir bulan ramadhan bersungguh sungguh dalam ibadah tidak seperti di hari lain nya “.(HR Muslim).

Dalam riwayat lain beliau radhiyallahu`anha berkata, ” Dahulu Nabi sallallahu alaihi wa sallam apa bila memasuki sepuluh hari terakhir bulan ramadhan beliau mengencangkan ikat pinggang nya dan menghidupkan malam nya serta membangun kan keluarga nya “. (HR Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain beliau radhiyallahu`anha berkata, ” Dahulu Nabi sallallahu alaihi wa sallam pada malam dua puluh hari pertama mengerjakan sholat dan tidur untuk beristirahat, akan tetapi jikalau memasuki sepuluh hari terakhir bulan ramadhan beliau begadang dan mengencangkan ikat pinggang nya “. (HR Ahmad).

Dalam hadits diatas menunjukkan keutamaan sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, karena Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersungguh sungguh tidak seperti hari hari bisa, beliau meningkatkan amalan ibadah dari sholat, tilawah, dzikir, doa, sedekah dan sebagainya, serta mengencangkan ikat pinggang nya yaitu menjauhi istri istri nya.
Nabi sallallahu alaihi wa sallam menghidupkan malam malam nya untuk ibadah baik ibadah hati, lisan, anggota badan dalam rangka menggapai malam lailatul Qadar, yang barang siapa beribadah malam nya dengan penuh keimanan dan mengharapkan pahala niscaya akan diampuni dosa dosa nya yang terdahulu.

A`isyah radhiyallahu`anha berkata,” Aku tidak pernah melihat Nabi sallallahu alaihi wa sallam menghidupkan malam nya hingga subuh kecuali hanya di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan “. (HR Muslim).

» Di antara keutamaan sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam membangun kan keluarga nya untuk ibadah sholat dan dzikir dalam rangka menggunakan kesempatan yang penuh berkah ini, yang hanya sesaat dalam setahun, maka suatu kebahagiaan bagi yang diberikan taufiq pada malam tersebut.

Sebagai manusia melewatkan malam malam tersebut hanya dengan sia sia, ini merupakan bentuk keburukan dan keteledoran yang sepantasnya di hindari oleh setiap muslim.

» Di antara keutamaan sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam melakukan ibadah i`tikaf yaitu menggunakan waktu khusus untuk ibadah dan berbuat ketaatan.
Diriwayatkan dari sahabat Abu Said Al Hudriy radhiyallahu`anhu, bahwasanya Rasulullah sallallahu alaihi wa sallam mengerjakan i`tikaf di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, dan bersabda, ” Barangsiapa diantara kalian yang berkehendak untuk beri`tikaf maka beri`tikaf lah “. (HR Muslim).

Dari Ummul Mukminin A`isyah radhiyallahu`anha berkata, ” Dahulu Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengerjakan i`tikaf di sepuluh hari terakhir bulan ramadhan pada setiap tahunnya hingga beliau wafat, kemudian para istri istri Nabi melakukan i`tikaf sepeninggal beliau sallallahu alaihi wa sallam “.(HR Bukhari dan Muslim).

Tujuan melakukan ibadah i`tikaf yaitu agar dapat berkonsentrasi mengerjakan ketaatan di dalam masjid dalam rangka menggapai keutamaan malam lailatul Qadar dengan aneka ibadah seperti sholat, tilawah, dzikir, doa, serta menjauhi perkara yang tidak membawa manfaat dari urusan dunia.

Semoga Allah Ta`ala memberikan taufik untuk mengerjakan ketaatan, dan diberikan khusnul khotimah kepada kita, serta di berikan ampunan atas segala dosa dosa kita dan orang yang telah mendahului kita.

Perang Badar

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu `ala Rosulillah, wa ba`du;

Dalam bulan yang suci penuh berkah ini Allah Ta`ala telah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin dalam pertempuran Badr Kubro melawan musuh kafir dari kalangan musyrikin, yang kemudian dikenal dengan yaumul furqon, dimana Allah Ta`ala telah memisahkan antara kebenaran dan kebathilan, menolong Rasul-Nya dan kaum mukminin, dan menghinakan kafir musyrikin, dan peperangan tersebut terjadi pada bulan Ramadhan tahun kedua hijrah.

Sebab terjadinya peperangan ini dikarenakan Rosulullah sallallahu `alaihi wa sallam mendengar kabar bahwa Abu Sufyan beserta kafilah dagang perjalanan pulang dari negeri Syam menuju Makkah, maka Nabi sallallahu `alaihi wa sallam mengajak para sahabat untuk menghadang dan merampas kafilah tersebut, karena tidak ada perjanjian dan perdamaian antara mereka, dan sebelumnya telah dikeluarkan dari rumah dan tempat kelahiran serta merampas harta harta kaum muslimin dan memerangi dakwah islam.

Maka Nabi beserta para sahabat yang berjumlah 313 bermaksud untuk menghadang kafilah bukan bertujuan perang, akan tetapi Allah Ta`ala berkehendak lain, kaum muslimin dipertemukan dengan pasukan perang Quraish.
Dikarenakan Abu Sufyan mengetahui rencana kaum muslimin sehingga meminta bantuan kepada Quraish agar mendatangkan pasukan perang dan rombongan kafilah berputar arah berjalan menyusuri tepian pantai sehingga tidak bertemu dengan kaum muslimin.

Adapun kafir quraish mempersiapkan pasukan sekitar seribu kekuatan dengan seratus penunggang kuda dan tujuh ratus penunggang onta.

Tatkala rombongan kafilah selamat dari penghadangan kaum muslimin, Abu Sufyan memerintahkan agar pasukan perang kembali dan mengurungkan niat untuk memberikan pengamanan. Akan tetapi abu jahal enggan untuk kembali, dan bertekad menuju Badr dan melakukan tiga aksi, menyembelih onta, berpesta bersama pasukan perang dan minum arak, agar seluruh bangsa arab mengetahui kekuatan Quraish dan senantiasa ditakuti.

Nabi sallallahu `alaihi wa sallam mengetahui keberadaan pasukan perang Quraish dan bermusyawarah dengan para sahabat, “Allah Ta`ala telah menjanjikan antara dua pilihan kelompok, antara kafilah dagang atau pasukan perang !?”. Kemudian seorang sahabat Miqdad Bin Al-Aswad lalu berdiri dan berkata : “Ya Rasulullah, teruskanlah apa yang Allah telah perintahkan padamu, Maka kita senantiasa bersamamu. Demi Allah, kita tidak akan berkata kepadamu seperti perkataan kaum Bani Israil kepada Nabi Musa pada zaman dahulu, “Pergilah engkau bersama Tuhanmu, maka berperanglah engkau berdua.  Kita sesungguhnya akan duduk termenung saja”.  Akan tetapi kita berkata kepadamu, Wahai Rasulullah, sekarang “Pergilah engkau bersama Tuhanmu Dan berperanglah, kita sesungguhnya bersertamu ikut berperang.  Demi Allah, jikalau engkau berjalan dengan kita sampai ke desa Barkul Ghamad, niscaya kita berjuang bersamamu, Kita akan berperang bersamamu dari sebelah kanan dan kiri, depan dan belakang”.
Ketika itu Rasulullah juga ingin kepastian dari kaum Anshar.  Melihat keadaan itu, Sa’ad Bin Muaz lalu berdiri dan berkata dengan kata-kata yang memberi keyakinan pada Rasulullah sama seperti kaum Muhajirin. Di ikuti pula oleh seluruh Ansor.

Setelah mendengar ungkapan para sahabat, bercahayalah muka Nabi seraya tertampak kegirangannya.  Pada saat itu juga Allah menurunkan wahyunya yang tercatat di Surah Al-Anfal ayat 5-7:
“Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dan rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya.
Mereka membantahmu tentang kebenaran sesudah nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu). Dan (ingatlah), ketika Allah menjanjikan kepadamu bahwa salah satu dari dua golongan (yang kamu hadapi) adalah untukmu, sedang kamu menginginkan bahwa yang tidak mempunyai kekekuatan senjatalah yang untukmu, dan Allah menghendaki untuk membenarkan yang benar dengan ayat-ayat-Nya dan memusnahkan orang-orang kafir”.
     
Setelah itu, Nabi sallallahu `alaihi wa sallam bersabda pada seluruh sahabat, “Berjalanlah kamu dan bergiranglah kerana sesungguhnya Allah telah memberi janji kepadaku salah satu daripada dua golongan (yaitu Al-Ier dan An-Nafier).  Demi Allah, sungguh aku seakan-akan sekarang ini melihat tempat kebinasaan kaum Quraisy”.
Mendengar perintah Rasulullah yang sedemikian itu, segenap kaum muslimin melakukan perjalanan dengan tulus ikhlas dan berangkatlah mereka menuju ke tempat yang dituju oleh Nabi.
Maka tatkala sampai pada suatu tempat maka Nabi sallallahu `alaihi wa sallam berhenti, kemudian sahabat Khobab ibnu Mundzir bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah ini wahyu yang telah di perintahkan atau ini hanya sekedar pendapat yang dapat diubah dan dimusyawarahkan?” Maka Nabi mengatakan bahwa ini hanya sebuah gagasan. Maka Khobab menyarankan agar lebih mendekati sumur Badr.

Kemudian pada malam harinya turun hujan sangat lebat hingga dipihak Quraish menjadikan tempat mereka berlumpur sehingga menyebabkan sulit untuk melakukan persiapan perang. Adapun bagi muslimin menjadikan pasir-pasir memadat hingga mengokohkan kaki-kaki mereka.
Di malam itu Rasulullah tidak henti-henti memanjatkan do’a kepada Allah memohon pertolongan. Untuk menebalkan iman tentaranya dan meneguhkan semangat barisannya, Rasulullah menghadapkan mukanya kepada sahabat sambil memohon kepada Allah, “Ya Allah, kaum quraish telah datang dengan kesombongannya, mereka mendustakan-Mu dan Rasul-Mu, Ya Allah pertolongan-Mu yang telah Engkau janjikan, berikanlah kepada kami kemenangan, sekiranya kami terkalahkan niscaya Engkau tidak lagi diibadahi”.

Diriwayatkan di waktu itu, Nabi berulang-ulang memohon kepada Allah sehingga Abu Bakar yang senantiasa berada disisinya telah memegang selendang dan bahu Nabi sambil berkata bahwa Allah akan mengabulkan permintaannya sebagai mana yang telah Allah janjikan.

Allah Ta`ala menurunkan ayat-Nya, “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka. (Ketentuan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka menentang Allah dan Rasul-Nya; dan barangsiapa menentang Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya Allah amat keras siksaan-Nya. Itulah (hukum dunia yang ditimpakan atasmu), maka rasakanlah hukuman itu. Sesungguhnya bagi orang-orang yang kafir itu ada (lagi) azab neraka”. (QS Al Anfal: 12-14).

Selanjutnya, sebagai kebiasaan bangsa Arab, sebelum berperang maka diantara pahlawan-pahlawannya lebih dulu bertanding dan beradu kekuatan dengan pahlawan musuh. Dipihak kaum Quraisy, tiga pahlawan yang keluar adalah, Utbah Bin Rabi’ah, Syaibah Bin Rabi’ah dan Walid Bin Utbah.  Dan dari tentera Islam ialah, Auf bin Al-Harits, Mu’adz bin Harts dan Abdullah bin Rawahah. Mereka bertiga adalah dari kaum Anshar.

Tetapi kerana kesombongan kaum Quraisy yang merasakan bangsanya lebih baik, tidak mau menerima kaum Anshar, dan meminta Rasulullah mengeluarkan tiga orang pahlawan dari kaum Quraish sendiri. Maka Rasulullah mengeluarkan, Hamzah Bin Abdul Muthalib, Ali Bin Abi Thalib dan ‘Ubadah Bin Al-Harits. Mereka berenam beradu tenaga sehingga akhirnya tentera Quraisy jatuh ketiga-tiganya dan tentera Islam hanya ‘Ubaidah Bin Al-Harits yang syahid. 

Kemudian bertemulah dua pasukan perang saling bertempur dengan sengit, sedangkan Nabi sallallahu `alaihi wa sallam ditemani Abu Bakar dan Saad ibnu Muadz, memberikan semangat kepada para sahabat seraya berkata, “Demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidaklah seorang pun yang berperang di hari ini kemudian terbunuh dengan sabar dan tidak meninggalkan medan pertempuran kecuali ia akan mendapatkan surga”.

Nabi sallallahu alaihi wa sallam mengambil segenggam tanah dan menebarkannya kearah pasukan musuh hingga mengenai mata mata mereka sementara perang berkecamuk berpuluh-puluh tentara musyrikin menghembuskan nafasnya, melayang jiwanya meninggalkan badannya bergelimpangan di atas tanah bermandikan darah.

Rasulullah pula tidak henti-henti memanjatkan do’a pada Allah memohon kemenangan kaum muslimin.

Pasukan musuh Quraish porak poranda dan sebanyak 70 orang kaum Quraish terbunuh dan 70 yang lain tertawan.  sementara menimpa kaum muslimin 14 sahabat syahid (6 dari Muhajirin dan 8 dari Anshar). Umat Islam mendapat kemenangan dari sebab keteguhan dan ketabahan hati mereka. Bangkai-bangkai kaum musyrikin dilempar dan dikuburkan di dalam sebuah sumur di Badr.

Nabi sallallahu `alaihi wa sallam menghampiri sumur tersebut seraya berkata dengan lantang memanggil nama nama mereka, “Wahai fulan ibnu fulan, bagaimana sekiranya kalian taat kepada Allah dan Rasul Nya?? Bukankah sekarang kalian merasakan janji Allah kepada kalian adalah benar adanya??”, maka umar bertanya, “Bukankah mereka telah mati wahai Rasulullah?”, maka Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Demi yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sungguh mereka lebih mendengar dari pada kalian!!”.

Rasulullah kemudian bermusyawarah dengan para sahabat tentang nasib tawanan Badar.  Maka umar menyatakan agar dibunuh, kerana mereka telah ingkar dengan Allah dan mengusir kaum Muhajirin dari Makkah.

Abu Bakar mengisyaratkan agar menerima tebusan dengan harapan mudah-mudahan mereka akan insaf dan tertarik dengan Islam.  Setelah berbincang, mereka akhirnya mengambil keputusan untuk melepaskan mereka dengan mengenakan tebusan sekadar yang sepatutnya melihat keadaan masing-masing. Antara 4000 dirham dan 1000 dirham.  Bagi yang miskin tetapi memiliki pengetahuan membaca dan menulis maka diperintahkan supaya mengajar sepuluh orang anak-anak dari kaum muslimin. Mereka semua dibebaskan apabila tebusan telah dibayar atau kanak-kanak itu telah pandai. Dan sebagian diberikan hukuman mati dikarenakan gangguannya pada kaum muslimin sangat banyak dan dahsyat.

Pelajaran yang kita petik dari peperangan ini adalah kemenangan kelompok yang sedikit melawan musuh kafir yang jumlahnya berlipat, kemenangan tersebut diraih karena tegar di atas agama dan berjuang untuk Islam, maka jikalau kita menghendaki suatu kemenangan dan kejayaan sepantasnya kita berpegang teguh dengan agama islam nan suci ini.

Semoga Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin diseluruh penjuru dunia dan menjadikan kita bersatu di atas agama islam yang murni dan menyatukan hati-hati kaum muslimin untuk meninggikan kalimat Allah sehingga tetap berjaya.

Penerima Zakat

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu `ala Rosulillah, wa ba`du;

Allah Ta`ala berfirman, “Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yuang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (QS At Taubah: 60).

Di dalam ayat mulia ini Allah Ta`ala jelaskan tentang orang-orang yang berhak menerima zakat yang sesuai ketentuan dan keputusan yang penuh dengan hikmah dan keadilan serta rahmat-Nya.

» Yang pertama dan kedua, mereka adalah kaum fakir dan miskin yaitu yang tidak memiliki kecukupan dirinya beserta keluarganya, maka diberikan zakat yang mencukupi kebutuhan makanannya selama satu tahun. Demikian pula dengan orang yang memiliki penghasilan tetapi tidak mencukupi untuk keluarganya, maka ia diberikan zakat agar mencukupi kebutuhan makanannya, karena semacam ini tergolong orang yang memiliki hajat.

Adapun orang yang mampu maka tidak dibolehkan untuk menerima zakat, jikalau ia meminta maka hendaknya ia dinasehati agar tidak meminta sesuatu yang tidak halal baginya. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meminta minta manusia dalam rangka memperbanyak harta maka sesungguhnya ia adalah meminta bara api neraka”. (HR muslim).

» Yang ketiga, adalah Amil, yaitu seseorang yang diberikan tugas oleh pemerintah atau penguasa untuk menarik zakat dan menyimpannya serta membagikannya, maka ia diberikan setimpal dengan tugasnya, adapun para perwakilan penyaluran zakat perorangan maupun individu maka ia tidak berhak untuk menerima zakat, jikalau melihat maslahat maka diusahakan dari luar zakat.

» Yang keempat, mualaf, yaitu orang yang lemah iman ataupun orang yang dikhawatirkan keburukan dan kejahatannya,

maka mereka diberikan zakat sesuai dengan masalah yang ada.

» Yang kelima, budak dan Muslim yang tertawan dan tersandra, maka diberikan zakat hingga dapat membebaskan diri.

» Yang keenam, orang yang terlilit hutang, maka ia diberikan zakat agar terbebas dari hutangnya, demikian pula orang yang sedang menanggung beban dalam suatu pertikaian dan perselisihan, seperti beban jaminan dalam perdamaian antara kelompok yang bertikai.

» Yang ketujuh, Fi Sabilillah, yaitu jihad di jalan Allah Ta`ala yang bertujuan menegakkan kalimat Allah, bukan fanatik kelompok atau golongan atau bangsa. maka mereka diberikan zakat untuk kebutuhan perang dari perbekalan makan dan senjata hingga kalimat Allah menjadi berkibar.

Yang kedelapan, Ibnu Sabil, yaitu seseorang musafir yang kehabisan perbekalan, maka diberikan zakat hingga mencukupi kebutuhannya dan kembali ke asalnya.

Tidak boleh zakat diberikan kepada orang kafir non muslim, kecuali jika dalam keadaan ta`lif kulub (mualaf), demikian pula tidak boleh memberikan zakat kepada orang kaya kecuali jika ia sebagai amil atau sebagai mujahidin yang berperang di jalan Allah.

Tidak boleh memberikan zakat kepada orang yang menjadi tanggungjawab nafkahnya, seperti tamunya, istrinya, orang tuanya, kerabat yang menjadi tanggungjawabnya.

Adapun seseorang yang bukan merupakan tanggung jawabnya maka dibolehkan, seperti seorang istri memberikan zakat kepada suaminya, kepada kerabat yang bukan tanggung jawabnya.

Semoga Allah memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita semua dan melipatgandakan zakat, sedekah, serta amalan sholeh kita di bulan suci ini.

Zakat

Ust. Rochmad Supriyadi, Lc حفظه الله تعالى

Alhamdulillah, was sholatu was salamu ala Rosulillah, wa ba`du;

Zakat merupakan salah satu rukun Islam yang menjadi pondasi agama serta sebagai pendamping ibadah sholat.

Allah Ta`ala telah fardhukan di dalam kitab-Nya, “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus”. (QS Al Bayyinah: 5).

Allah Ta`ala berfirman, “Maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al Muzzammil: 20).

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Dibangun agama islam di atas lima perkara, mengesakan Allah Ta`ala, menegakkan sholat, menunaikan zakat, mengerjakan puasa bulan ramadhan, dan melakukan ibadah haji”.(HR Bukhari dan Muslim).

Para ulama telah berijma` tentang fardhunya zakat, dan barang siapa yang mengingkarinya maka ia telah kafir keluar dari ajaran islam.
Zakat adalah wajib untuk di tunaikan dalam empat jenis:

1. Sesuatu yang tumbuh dari bumi yang bersifat biji-bijian yang merupakan makanan pokok yang dapat disimpan dan tahan lama seperti, gandum, jagung, beras, kurma, zabib dan sebagainya.
Tidak wajib pada buah-buahan juga sayuran.

Allah Ta`ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, nafkahkanlah (di jalan allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk-buruk lalu kamu menafkahkan daripadanya, padahal kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memincingkan mata terhadapnya.

Dan ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji”. (QS Al Baqarah: 267).

Allah Ta`ala berfirman, “Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”. (QS Al An am: 141).

Batasan ukuran mengeluarkan zakat jikalau telah melebihi nisob zakat yaitu 5 wasak.
Sedangkan satu wasak adalah seberat timbangan yang di pikulkan pada hewan onta, yaitu kurang lebih totalnya adalah 612 kilogram.

~ Sedangkan zakat yang harus ditunaikan adalah 10 persennya jikalau usaha pengairannya tidak melakukan biaya, hanya bersandar pada pengairan hujan atau sungai yang tidak mengeluarkan biaya.
~ Jikalau pengairan menggunakan biaya maka zakatnya adalah 5 persennya.

2. Zakat hewan ternak semisal onta, sapi, kambing yang diternak dan dikembangbiakan dengan digembala. Batasan minimal nisob hewan onta adalah 5 ekor, sapi 30 ekor, kambing 40 ekor.

3. Emas dan perak. Baik yang berbentuk lempengan atau diolah berbentuk cincin atau gelang atau kalung dan sebagainya. Allah Ta`ala berfirman, “Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih”. (QS Al Taubah: 34).

~ Batasan minimal nisob emas adalah 20 dinar yang setara dengan 80 gram.
~ Adapun perak nisobnya adalah 200 dirham setara dengan 595 gram.
Sedangkan zakat yang wajib di keluarkan adalah dua setengah persennya.

4. Barang dagangan dari berbagai bentuk, dan ini merupakan zakat yang paling luas cakupannya, masuk didalamnya jenis apapun yang diperjualbelikan, karena yang diinginkan adalah semata-mata keuntungannya.

Syarat dalam zakat jenis ini adalah: » Memilikinya dengan cara yang sah.
» Diniatkan untuk perdagangan.
» Telah sampai pada nisob emas atau perak.
» Telah berjalan selama satu tahun.

Adapun barang barang yang di gunakan untuk kebutuhan keseharian seperti rumah, mobil, pakaian dan sebagainya maka tidak wajib untuk dikeluarkan zakatnya.

Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah seorang muslim yang memiliki budak dan kuda tunggangannya untuk dituntut sedekah”. (HR Bukhari dan Muslim).

Semoga Allah Ta`ala memberikan kemudahan dalam menunaikan zakat harta yang kita miliki, dan diberikan keberkahan dan manfaat yang berlipat, sesungguhnya Allah Ta`ala adalah Dzat Yang Maha Hikmah lagi Bijaksana.