Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 33) bisa di baca di SINI
Kemudian… diantara perkara yang memalingkan seseorang dari kebenaran, dan ini adalah yang terakhir, yaitu…
حيل أهل البطل
⚉ Makarnya orang-orang ahlul bathil.
Karena orang-orang yang ahlul bathil pasti akan melakukan makar dengan berbagai macam cara untuk menghalang-halangi manusia dari kebenaran
Diantaranya adalah :
1. Mereka akan berusaha menjelek-jelekkan kebenaran dan orang yang berusaha berpegang kepada kebenaran
Dimana mereka menamai orang-orang yang berpegangan kepada kebenaran dengan nama-nama yang membuat manusia lari. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Adz Dzaariat : 52
“Demikianlah, tidaklah datang seorang Rosul kepada orang-orang sebelum mereka, kecuali mereka berkata Rosul itu penyihir atau gila”
Di zaman ini juga mereka menamai dengan nama-nama yang agar manusia lari, dengan nama RADIKAL atau nama WAHABI atau nama-nama yang lainnya.
2. Memperlihatkan kebathilan bagaikan sebagai sebuah kebenaran.
Dengan cara apa ?.. dengan kata-kata yang indah. Karena… mereka berusaha membela kebatilan mereka, dan mencari berbagai macam alasan, bahkan terkadang mereka mencari dalil yang pemahamannya di paksakan agar manusia menerima kebathilannya tersebut.
Bahkan terkadang mereka akan berusaha untuk mengesankan kepada manusia bahwa ini adalah perkara yang di ikhtilafkan ulama, padahal tidak demikian
3. Bermudah-mudahan dengan berdusta.
Seperti yang dilakukan orang orang rofidhoh, sebagian orang orang sufi, mereka mudah bahkan menghalalkan dusta agar dapat membela pendapat mereka.
⚉ Kata Syaikhul Islam dalam kitab Daarut ta’aru bi Nakl jilid 7 hal. 168 “Bahkan mereka menggunakan kedustaan, kebid’ahan dan kezholiman untuk membela kebathilan mereka tersebut”.
Kita lihat sendiri dizaman ini… orang-orang yang membela kebathilan berusaha berdusta dengan mengada-adakan tuduhan, berdusta dengan membuat-buat dalil atau menyebarkan perkara yang hadits-hadits palsu dan lainya.
4. Menuduh orang yang menyelisihi mereka, bahwa mereka itu kurang pemahamannya.
Orang-orang yang berpegang pada kebenaran dituduh… katanya pemahamannya kurang, (kurang dalam pikniklah dan lainnya). Dan mereka dengan cara seperti itu mengelabui orang-orang awam, padahal mereka sendiri memahami dalil-dalil itu dengan sangat dangkal. Tapi dengan cara seperti itu mereka berusaha untuk menggambarkan seakan-akan bahwa merekalah diatas kebenaran.
5. Menggunakan kata-kata yang sifatnya global.
Yang tentunya mengandung kebenaran dan kebathilan, sehingga dengan kata-kata yang global seperti ini membingungkan orang-orang awam, bahkan juga sebagian penuntut ilmu.
Maka dari itulah kewajiban kita menghadapi mereka dengan cara meminta perincian apa yang dimaksud dengan ucapan mereka tersebut.
6. Mengklaim adanya ijma’ dalam perkara yang mereka pegang (padahal tidak ada ijma’ sama sekali).
Makanya Imam Ahmad dahulu berkata, “Siapa yang mengatakan adanya ijma’ dalam masalah ini maka ia telah berdusta”, Karena adanya sebagain ahli bathil mengklaim adanya ijma’.
7. Berpegang kepada nash-nash yang telah dihapus, demikian pula pendapat-pendapat yang pelakunya sendiri telah rujuk darinya.
8. Menyembunyikan kebenaran
Sehingga dengan cara seperti itu dia ingin memperlihatkan bahwa orang-orang yang menyelisihi mereka itulah diatas kebathilan, padahal ketika dibukakan semua dalil-dalilnya tampaklah kelemahan pendapat mereka.
Inilah pembahasan terakhir dari kitab Showarif ‘Anil Haq ini, in-syaa Allah akan diganti dengan kitab yang lainnya.
.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
Dari pembahasan Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA – Wajib Mengikuti Imam dan Haram Mendahuluinya… bisa di baca di SINI
Dari Nafi’ bahwasanya Ibnu Umar pernah adzan untuk sholat disuatu malam yang sangat dingin dan angin yang kencang, kemudian Ibnu Umar berkata, ‘hendaklah kalian sholat dirumah kalian masing masing’, kemudian beliau (Ibnu Umar) berkata, ‘sesungguhnya Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam memerintahkan muadzzin apabila malam sangat dingin dan hujan untuk mengucapkan ‘ala shollu firrihaal’ (artinya: hendaklah kalian sholat dirumah kalian masing masing.)” [HR Bukhari dan Muslim]
Namun para ulama berbeda pendapat dimana tempat mengucapkan ‘ala shollu firrihaal…
⚉ Sebagian ulama mengatakan bahwa ucapan ini menggantikan kata-kata ‘hayya ‘alassholaah…’
Kenapa ? Karena apabila kita ucapkan ‘hayya ‘alassholaah’ juga (mari kita sholat) tentu bertabrakan dengan kata-kata sholatlah dirumah rumah kalian, karena yang pertama memanggil untuk sholat tapi kemudian malah disuruh sholat dirumah masing masing.
Jadi kata mereka ‘ala shollu firrihaal itu menggantikan hayya ‘alassholah. Ini yang dirojihkan Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari’
⚉ Sementara sebagian ulama mengatakan ucapan ‘ala sholu firrihaaldiucapkan setelah azdan.
Kenapa ? Supaya tidak merubah ucapan-ucapan adzan. Sehingga adzan tidak berubah kata-katanya. Ini pendapat yang dirojihkan oleh banyak mazhab Syafi’iyah.
⚉ Mana yang lebih kuat ?
Wallahua’lam saya lebih condong pada pendapat yang pertama yang dirojihkan oleh Al Hafidz Ibnu Hajar al Asqolani rohimahullah.
Dari Abdullah bin al Harits rohimahullah anak paman Muhammad bin Sirin ia berkata, Ibnu Abbas berkata kepada muadzzin dihari yang hujan, ‘kalau kamu sudah mengucapkan
اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَّسُوْلُ اللهِ
jangan kamu ucapkan hayya ‘alassholah , tapi ucapkan ‘shollu fii buyuutikum’ (sholatlah dirumah rumah kalian)’, maka seakan akan orang orang mengingkari ucapan Ibnu Abbas. Maka Ibnu Abbas berkata, ‘yang melakukan ini adalah orang yang lebih baik dariku (Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam) dan sesungguhnya sholat Jum’at itu kewajiban tetapi aku tidak suka untuk memberatkan kalian sehingga kalian berjalan ditanah yang becek dan itu menyulitkan kalian’. [HR Imam Bukhari dalam shahihnya]
Hadits ini Ibnu Abbas mengatakan bahwa ‘shollu fiibuyuutikum’ atau ‘ala shollu firrihal itu menggantikan ‘hayya ‘alassholaah’. Dan ini yang dirojihkan oleh Ibnu Hajar.
2⃣ SAKIT
Disebutkan dalam hadits Itban bin Malik bahwasanya beliau karena buta tidak bisa ke masjid dimusim hujan karena antara masjid dengan rumah beliau ada lembah yang apabila musim hujan maka banjir. Dan beliau juga seorang yang buta.
3⃣ MAKANAN HADIR
Karena Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, menyuruh untuk mendahulukan makanan.
“Apabila telah dihidangkan makanan malam sementara qomat sholat sudah dikumandangkan mulailah dengan makan malam.” [HR Bukhari dan Muslim]
Namun kata para ulama ini bagi mereka yang lapar. Adapun bagi yang tidak lapar, maka yang lebih utama adalah sholat terlebih dahulu. Karena maksud Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam menyuruh makan dahulu supaya tidak terganggu ke khusyuan kita.
4⃣ MENAHAN BUANG AIR KECIL dan BUANG AIR BESAR.
Sebagaimana hadits A’isyah ia berkata, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,
“Tidak ada sholat (tidak sempurna sholat) dalam keadaan makanan telah dihadirkan, tidak pula ketika dia menahan buang air kecil dan buang air besar.” [HR Imam Muslim dalam shahihnya]
.
. Wallahu a’lam 🌻
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى
.
. Dari Kitab Fiqih Mausu’ah Muyassaroh, yang ditulis oleh Syaikh Hussain Al Uwaisyah, حفظه الله تعالى
. ARTIKEL TERKAIT Pembahasan Fiqih Mausu’ah Muyassaroh… Menahan Kencing Ketika Sholat, Apakah SAH Sholatnya…?
Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 32) bisa di baca di SINI
Diantara perkara yang menghalangi seseorang dari kebenaran…
إغفال المشاورة
⚉ Tidak bermusyawaroh dengan para ahli ilmu [orang-orang yang ahli dalam keilmuan]
⚉ Kata Beliau (Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman), “musyawaroh bagi orang-orang yang berakal sangat bermanfaat, dan itu merupakan
من أسباب سداد الرأي و إصابته
..sebab kelurusan pikiran”
⚉ Sebagian Ulama berkata :
من حقَّ العاقل أن يضيف إلَى رأيه آراء العلماء
“Diantara haq orang yang berakal adalah ia menambahkan kepada ro’yunya, yaitu ro’yu para Ulama,” lalu ia kumpulkan dengan ro’yunya orang-orang yang bijak, sehingga ia betul-betul terbimbing.
Adapun kalau ro’yunya hanya sendirian saja
رُبَّما رلَّ
“bisa jadi terpeleset”
و العقل الفر د رُبَّما ضل
“Dan akal yang bersendirian bisa jadi tersesat.”
⚉ Abulhasan Almawardiy berkata dalam kitab Durorus suluuk hlm 75
وتكثر من استشار ة ذوي الألبا، لاسيمافِي الأمر الجليل
“Hendaklah perbanyak bermusyawaroh dengan orang-orang yang kuat ilmunya, terutama dalam perkara-perkara yang besar.
فإن لكلَّ عقل ذخيرة من الصواب، ومسكنًا من التد بير
Karena setiap akal pasti ada sesuatu dari kebenaran, maka dengan kita bermusyawaroh dengan mereka, kita mendapatkan bimbingan.”
⚉ Ibnul Qayyim berkata dalam kitab ’ilamul Muwaqqi’in jilid 1 hlm 84
ولِهذا كان من سداد الرأي وإصابته أن يكون شورى بين أهله، ولا ينفر د به واحد
“Oleh karena itulah.. termasuk kelurusan akal pikiran dan kebenarannya, itu dengan cara bermusyawaroh dengan para ahlinya, jangan sendirian.”
Dizaman sekarang.. terkadang seorang penuntut ilmu tidak mau bermusyawaroh dengan para ahli ilmu yang telah kokoh keilmuannya, terlebih ketika ia hendak mengambil ilmu dari seorang Ustadz, lalu kemudian dengan percaya dirinya dia berkata “Ambil baiknya buang buruknya”. Sehingga ia melalaikan musyawaroh dan bertanya kepada ahlinya, bahkan terkadang akibat dia menganggap bahwa para ahli ilmu itu merasa paling benar sendiri, lalu kemudian dia meninggalkan untuk bermusyawaroh dengan mereka.
Maka inilah sebab seseorang akan tersesat dan terhalang dari kebenaran.
⚉ Ini dia Ibnu ‘Abbas, Beliau berkata, sebagaimana disebutkan oleh Imam Adzahabiy dalam Kitab Siyar a’lamin nubala jilid 3 hlm 344
إن كنت لأسأل عن الأمر الواحد ثلاثين من أصحاب النَّبِي. ﷺ
“Sungguh dahulu aku bertanya kepada 30 sahabat dalam satu permasalahan,”
Para Sahabat, para Ulama, Ibnu Abbas sampai bertanya kepada 30 sahabat yang tentunya mereka para Ulama yang kokoh dalam ilmunya, bening hatinya dan aqidahnya.
Maka jangan merasa bahwa kita ini telah mempunyai keilmuan yang kuat, sehingga kita lalai dari bermusyawaroh dengan orang-orang yàng berilmu.
⚉ Syaikh Abdurrahman Asa’diy berkata juga dalam kitab Taysiir Allatiifilmanan hlm 150
والفكر والمشاورة أكبر الأسباب ﻹصابة الصواب، والسلامة من التبعة، ومن الندم الصادر من العجلة، ومن عدم استدراك الفارط
“Berfikir dan bermusyawaroh.. sebab terbesar untuk mendapatkan kebenaran, dan selamat dari kesalahan, juga selamat dari penyesalan akibat dari ketergesa-gesaan.”
Nah ini, Subhaanallah, saudaraku… 👉🏼 Kewajiban kita adalah berusaha untuk tidak memutuskan sendiri dengan pikiran sendiri, tapi bermusyawarohlah dengan orang yang ahlinya.
.
. Wallahu a’lam 🌴
.
. Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
. Dari kitab yang berjudul “Showarif ‘Anil Haq“, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
. Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page : https://t.me/aqidah_dan_manhaj https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Tajassus : mencari-cari kesalahan
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.
Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :
Dari pembahasan Kitab Roudhotul Uqola wa Nuz-hatul Fudhola (Tamannya Orang-Orang Yang Berakal dan Tamasya-nya Orang-Orang Yang Mempunyai Keutamaan) karya Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban al Busty rohimahullah.