Category Archives: Kajian Audio

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-25

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 24) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 25 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah…

Penghalang yang selanjutnya, yang ke 25, yaitu…

⚉  Meyakini dulu baru kemudian mencari dalil.

Kewajiban seorang muslim adalah berusaha untuk :
* Berkeyakinan sesuai dengan keyakinan apa yang diyakini oleh Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam
* Tidak berkata sampai Allah dan Rosul-Nya telah memerintahkannya

Sebagaimana Allah berfirman [QS Al- Hujuraat: 1]

‎يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تُقَدِّمُوا بَيْنَ يَدَيِ اللَّهِ وَرَسُولِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendahului Allah dan Rosul-Nya”

👉🏼   Artinya, jangan kalian mendahului Allah dan Rosul-Nya dengan keyakinan, dengan ucapan, dengan perbuatan. Artinya jangan kita meyakini dulu sesuatu yang tidak pernah Allah dan Rosul-Nya tetapkan, atau jangan dulu mengucapkan, padahal Allah dan Rosul-Nya tidak pernah mengucapkan.

Demikian seorang muslim berkewajiban.. yaitu mencari dalil dulu, baru kemudian baru meyakininya.

Berbeda halnya dengan orang-orang ahli bid’ah

⚉  Imam Asy Syatibiy rohimahullah dalam kitab Al I’tishom (1/134), berkata :

ولذلك سُمَّي أهل البد ع: أهل الأهواء؛ لأنَّهم اتَّبعوا أهو اءهم فلم يأ خذوا الأدلَّة الشر عية مأخذ الافتقار إليها والتعو يل عليها

“Oleh karena itulah mereka disebut dengan ahli bid’ah dan mereka disebutkan juga ahli hawa,

Dan ahli bid’ah itu, kata beliau disebut dengan ahlil hawa, Kenapa?

karena mereka sebetulnya mengikuti hawa nafsu mereka, dan mereka tidak menjadikan dalil itu sebagai sandaran,

بل قدَّموا أهو اءهم

akan tetapi mereka mendahulukan hawa nafsu mereka dahulu,

واعتمدوا على آرائهم

dan mereka bersandar kepada pendapat-pendapat yang mereka pandang baik,

ثُمَّ جعلوا الأدلة الشر عية منظورًا فيها من وراء ذلك

Kemudian baru mereka mencari dalil untuk membenarkan pendapat dan keinginan mereka tersebut”

Lihat Imam Asy Syatibiy rohimahullah menyebutkan bahwa diantara ciri ahli bid’ah itu meyakini dulu, berpendapat dulu dengan pendapat dia yang dianggap itu benar, kemudian baru cari-cari dalil.. sehingga dalil itu sebetulnya bukan sandaran tapi sebatas perisai saja.

Beliau juga berkata dalam kitab Al I’tishom juga:

المبتد ع جعل الهوى أوَّل مطالبه، و أخذ الأدلَّة بالتَّبع

“Para ahli bid’ah itu menjadikan hawa nafsu sebagai barang pertama cariannya, baru kemudian mencari dalil untuk membenarkannya”

👉🏼   Ini sikap yang tidak dibenarkan bagi siapapun seorang muslim karena apalagi dalam masalah-masalah agama, karena agama ini milik Allah, tidak boleh kita berkata atau berbuat sampai ada dasarnya dari Allah dan Rasul-Nya. Itulah sifat pencari kebenaran.

Maka orang yang mencari-cari dalil untuk membenarkan pendapat… itu tanda dia pengikut hawa nafsu.
Sedangkan pengikut kebenaran, kalau ternyata pendapatnya tidak sesuai dengan dalil, dia akan rujuk kepada dalil.

⚉  Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah dalam  Minhajussunnah (5/170)

فمبتدعة أهل العلم والكلام طابوا العلم بِما التدعو ه، و لَمْ يتَّبعوا العلم المشروع، ويعملوا به

“Para ahli bid’ah, yang padahal mereka bisa dikategorikan berilmu, mereka suka mencari ilmu atau mencari dalil untuk membenarkan kebid’ahan mereka, dan mereka tidak ittiba’ kepada ilmu yang disyari’atkan, tidak pula mereka mengamalkannya.”

Artinya mereka sebatas berusaha mencari-cari dalil yang sesuai dengan keinginannya saja. Kalau mereka mendapatkan dalil dari Alqur’an dan Hadits, mereka tafsirkan sendiri dengan pendapat yang mereka pandang itu adalah sebagai sebuah kebenaran.

Ini kebiasaan yang harus kita tinggalkan… yang tidak boleh kita lakukan.

.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-24

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 23) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 24 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah..

Diantara perkara yang menghalangi dari kebenaran…

نفور النفس

⚉  Kondisi jiwa yang sedang tidak baik.
Seperti sedang emosi banget berupa kemarahan atau kesedihan yang sangat.

Maka ini semua adalah kondisi yang menyebabkan seringkali seseorang tidak bisa menerima kebenaran.

⚉  Kata Al Imam Ibnul Qayyim rohimahullah

و معلوم أن الر أي لا يتحقق إلاَّ مع اعتدال المزاج

“Bahwa pendapat/pikiran yang baik itu tidak mungkin terealisasi kecuali dalam keadaan tenang kejiwaannya.”

⚉  Kata Ibnu Aqiil rohimahullah dalam kitab Alwadhih fii ‘ushuul fiqh (1/528)

وإذا نفر ت النفوس؛ عميت القلو ب

“Kalau jiwa itu sedang bergejolak, biasanya hati itu akan tertutup”

و خَمدت الخو اطر

“Pikiranpun jadi gelap”

و انسدَّت أبو اب الفو ائد

“Dan tertutup pintu-pintu faidah”

Maka ketika seseorang misalnya sangat marah sekali, seringkali ketika disaat marah itu dia berbicara dengan kebathilan.

⚉  Kata Ibnul Qayyim rohimahullah dalam kitab ‘Ighotsatul lahfaan (1/29)

و لَما كان أكثر الخلق إنَّما يتكلم بالحق فِي ر ضاه

“Kebanyakan manusia berbicara dengan kebenaran itu di saat ia ridho.”

فإذا غضب أخر جه غضبه إلَى البطل

“Kalau ia marah maka kemarahan itu membuat ia berpendapat dengan pendapat yang bathil”… karena kemarahannya tersebut.

Oleh karena itulah riwayat Ibnu Rojab, bahwa “mengucapkan kalimat yang haq di saat ridho maupun di saat marah adalah perkara yang sangat berat sekali.”
Makanya Allah memuji orang yang mema’afkan disaat dia marah.

Allah berfirman [QS Asy-Syura: 37]

وَإِذَا مَا غَضِبُوا۟ هُمْ يَغْفِرُونَ

“Dan apabila mereka marah, merekapun memaafkan.”

Oleh karena itulah… kondisi emosi yang tidak menentu ini seringkali menyebabkan seseorang itu terkadang salah ucap.
Contoh misalnya tentang kisah orang yang kata Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, ketika Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam menyebutkan bahwa Allah itu lebih gembira dari seseorang yang berada di padang pasir yang membawa unta yang penuh dengan makanan dan minuman, lalu untanya pergi entah kemana, dia berusaha mencarinya tidak bertemu, lalu ia pun berbaring di bawah pohon bersiap untuk meninggal, namun ketika ia membuka matanya, ternyata untanya berada disisinya. Lalu ia berkata dengan sangking gembiranya, “Ya Allah, Engkau hambaku aku Tuhanmu”.
Ia salah, karena sanking gembiranya.

Kegembiraan yang sangat terkadang menyebabkan ucapannya saja salah. Bagaimana kalau itu ‘kemarahan yang sangat’ atau ‘kesedihan yang sangat.’

👉🏼   Oleh karena itulah orang yang jiwanya masih labil dan tidak stabil, mudah sekali emosi, akan sulit sekali untuk menerima pendapat yang benar, terlebih dimasa yang penuh dengan fitnah.

Kata penulis buku ini: “Para pemuda (orang-orang yang masih muda) itu biasanya paling mudah jiwanya itu terpancing emosinya.” Sehingga apa yang terjadi ? “Sehingga orang-orang seperti ini justru menjadi penyulut fitnah” karena jiwanya yang masih labil seperti itu dan sangat mudah untuk tersulut fitnah.

Beda dengan orang-orang yang telah kokoh keilmuannya, telah stabil, usianya biasanya tidak mudah diombang-ambing oleh emosi.

👉🏼   Maka dari itulah kenapa ‘jidal’ (debat) itu tidak di perbolehkan dalam agama, karena seringkali menimbulkan kemarahan, ego dan yang lainnya.
Di saat seseorang itu marah/egonya sedang tinggi, seringkali ia menolak kebenaran.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-23

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 22) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 23 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah..

Kemudian diantara penghalang-penghalang dari kebenaran yaitu…

كثرة أهل الباطل

⚉  Banyaknya orang-orang yang berpegang kepada kebathilan.

Kata beliau:

‎إذا رأى الر جل كثر ة القائلين بقول، أو المنتحلين لِمذهب؛ فإنَّ ذلك يَحمله على متابعتهم

“Seseorang apabila melihat banyaknya pengikut kebathilan, itu membuat dia mengikuti kebathilan mereka, karena manusia itu bagaikan sekumpulan burung yang saling mengikuti satu sama lainnya.”

Dan kalau kita perhatikan, orang-orang terdahulu yang menolak dakwah para Nabi pun, mereka berhujjah dengan banyaknya orang-orang yang mengikuti kebathilan. Seperti Fir’aun berkata [QS Thoha:51]

‎قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُونِ الْأُولَىٰ

“Lalu bagaimana dengan generasi-generasi terdahulu.”

Artinya bagaimana dengan nenek-nenek moyang dahulu, yang mereka jumlahnya banyak dan diatas keyakinan yang diyakini oleh Fir’aun tersebut, sehingga dia menganggap bahwa ia diatas kebenaran.

⚉  Maka Ibnu Qayyim rohimahullah berkata dalam Miftah Daaris Sa’adah (1/147), kata beliau:

وإيَّاك أن تغترَّ بِما يغترُّ به الجا هلو ن

“Jangan sampai kamu tertipu dengan apa yang menipu orang-orang bodoh”

فإنَّهم يقو لو ن

“Karena mereka berkata…”

لو كان هؤ لاء على حقَّ لَمْ يكو نوا أقلَّ الناس عددًا

“Kalaulah mereka diatas kebenaran tentu tidak akan menjadi orang yang paling sedikit jumlahnya.”

Ini ucapan orang-orang bodoh.

⚉  Ibnu Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata:

‎لا يكن أحد كم إمَّعة

“Janganlah seseorang menjadi imma’ah”

Ia berkata, “Aku bersama kebanyakan orang, tapi hendaklah ia mengokohkan dirinya diatas iman, walaupun orang-orang kufur”.

Allah dalam Alqur’an mencela jumlah terbanyak.
Allah berfirman [QS Al-An’am : 116]

‎وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Jika kamu mena’ati kebanyakan manusia dimuka bumi ini, mereka akan menyesatkan kamu dari jalan Allah”

Allah mengatakan jika kamu mengikuti kebanyakan manusia, berarti kebanyakan manusia diatas kesesatan.
Itu menunjukkan bahwa jumlah terbanyak bukan hujjah, yang menunjukkan akan kebenaran.

⚉  Berkata Al Muwaffaq Abu Muhammad Almaqdisi:

ومن العجب أن أهل البد ع يستدلون على كو نِهم أهل الحق بكثر تِهم، و كثر ة أموالِهم، وجاههم، و ظهورهم

“Diantara perkara yang mengharamkan ahli bid’ah berdalil bahwa mereka diatas kebenaran itu dengan banyaknya jumlah mereka, banyaknya harta dan kedudukan mereka dan mereka mengatakan bahwa orang yang berpegang kepada sunnah itu bathil karena sedikitnya jumlah mereka.”

Padahal Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam mengabarkan bahwa ummatnya di akhir zaman atau orang-orang yang berpegang kepada kebenaran di akhir zaman, justru mereka sedikit.

Rasulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda

بدأ اﻹسلام غريبًا، وسيعود غريبًا

“Islam di mulai dalam keadaan terasing dan akan kembali menjadi terasing.”

👉🏼   Maka dari itu orang yang mencari kebenaran janganlah menjadikan parameter mengukur kebenaran itu dengan banyak atau sedikitnya pengikut, tapi jadikan parameternya adalah sesuaikah dengan dalil Alqur’an dan hadits sesuai dengan pemahaman salafush-sholeh atau tidak ?!
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Hukum Mengucapkan Selamat Atas Hari Raya Non-Muslim…

Simak penjelasan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

da1612162217

Syirik Tidak Kenal Nabi dan Orang Sholeh – Dalil Ke-SEPULUH…

Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-SEMBILAN bisa disimak di SINI

=====================

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

🌿 DALIL KE-SEPULUH (TERAKHIR) 🌿

Dari Abdullah bin Mas’ud rodhiallahu ‘anhu dia berkata: ‘Aku pernah menjenguk Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam ketika sakit, sepertinya beliau sedang merasakan rasa sakit yang parah.’ Maka aku berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، إِنَّكَ لَتُوعَكُ وَعْكًا شَدِيدًا؟ قَالَ: «أَجَلْ، إِنِّي أُوعَكُ كَمَا يُوعَكُ رَجُلاَنِ مِنْكُمْ» قُلْتُ: ذَلِكَ أَنَّ لَكَ أَجْرَيْنِ؟ قَالَ: «أَجَلْ، ذَلِكَ كَذَلِك

‘Sepertinya anda sedang merasakan rasa sakit yang amat berat’, Nabi shollallahu ‘alaihi wasallam menjawab, ‘iya benar, aku sakit sebagimana rasa sakit dua orang kalian (dua kali lipat)’, aku berkata, ‘oleh karena itukah anda mendapatkan pahala dua kali lipat.’ Beliau menjawab, ‘Benar, karena hal itu’.

[HR. Al-Bukhari no. 5648 dan Muslim no. 2571]

Ikuti terus Telegram channel :

https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Syirik Tidak Kenal Nabi dan Orang Sholeh – Dalil Ke-SEMBILAN…

Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-DELAPAN bisa disimak di SINI

Dalil berikutnya, yaitu DALIL KE-SEPULUH bisa disimak di SINI
=====================

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

🌿 DALIL KE-SEMBILAN 🌿

“Dari Abu Hurairah Rodhiyallahu ‘anhu, dia berkata: “Ketika turun firman Allah {Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat} –QS asy Syua’roo/26 ayat 214- Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam berdiri dan berkata 

’Wahai orang-orang Quraisy –atau kalimat semacamnya- belilah diri-diri kamu, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai Bani Abdu Manaf, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap kamu sedikitpun. Wahai ‘Abbas bin Abdul Muththolib, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadap-mu sedikitpun. Wahai Shofiyyah bibi Rosulullah, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun. Wahai Fatimah putri Muhammad, mintalah dari hartaku yang engkau kehendaki, aku tidak dapat menolak (siksaan) dari Allah terhadapmu sedikitpun’.”

[HR Bukhari, no. 2753; Muslim, no. 206; dan lainnya]

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

HAL-HAL Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN – Penghalang Ke-22

Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
PEMBAHASAN SEBELUMNYA (Penghalang yang ke 21) bisa di baca di SINI

=======

🌿 Penghalang yang ke 22 🌿

Alhamdulillah.. wash-sholaatu was-salaamu ‘alaa Rosulillah..

Penghalang berikutnya, yaitu…

⚉  Tidak mau melihat pendapat orang yang berseberangan dengannya, tidak mau melihat argumen-argumennya dan hujjah-hujjahnya. [عدم النظر في أقوال المخالفين]

Maksudnya ketika seseorang itu tumbuh diatas keyakinan yang bathil, seringkali mereka menganggap bahwa keyakinan yang mereka yakini dari kecil itulah sebuah kebenaran yang tidak boleh ditolak dan tidak mau untuk mencari dalil dan hujjah apakah memang yang diyakini itu sebagai suatu yang haq atau tidak.

Bahkan terkadang mereka, karena sudah menganggap bahwa apa yang diyakini dari kecil itu adalah sesuatu yang haq, mereka akan membela mati-matian dan menganggap dalil-dalil orang yang bertabrakan dengannya itu sebagai dalil yang mereka anggap lemah atau harus di takwil, atau mereka akan berusaha untuk menolaknya dengan berbagai macam cara.

⚉  Berkata Athoohir bin ‘Asyuur rohimahullah dalam kitab Attahriir wattanwir (24/ 277)

وهذا شأن دعاة ا ضلال والبطل

“Dan ini merupakan kebiasaan para da’i kesesatan dan kebathilan”

‎أن يُكمُّوا أفواه الناطقين بالحق والحجة

“Mereka berusaha supaya menutup mulut orang-orang yang berkata dengan kebenaran dan hujjah”

بِما يستطيعون من تَخويف وتسو يل

“Dengan apa yang mereka mampu dengan cara di takut-takuti atau dengan cara diancam.”

Dan berbagai macam cara supaya para da’i pada kebenaran itu diam, tidak berbicara tentang kebenaran, karena mereka khawatir sekali.

Maksudnya karena para ahli bathil itu takut sekali orang-orang terpengaruh oleh kebenaran yang dibawa oleh seorang da’i… mereka berusaha sekuat tenaga untuk memberikan ancaman atau menakut-nakuti atau yang lainnya, yang terpenting bagaimana supaya si da’i ini diam dan mereka akan berusaha sekuat tenaga untuk mempertahankan keyakinan mereka yang bathil itu dengan berbagai macam cara, diantaranya mencari-cari hujjah/dalil yang sesuai dengannya.

Walaupun dalil tersebut dalil yang lemah bahkan terkadang mereka berani membuat-buat kisah, cerita ataupun perkataan Ulama atau perkataan Sahabat, dan ternyata tidak ada sama sekali sanadnya.
Dan itu dalam rangka untuk membela kebathilan mereka dan menghalang-halangi manusia dari kebalikannya.

Oleh karena itulah… kalau kita melihat orang-orang musyrikin quraisy pun demikian.

Ketika Abu Bakar rodhiyallahu ‘anhu, misalnya, beliau sholat dihadapan orang-orang sehingga banyak orang yang mendengarkan Alqur’an dan akhirnya masuk Islam, maka mereka berkata,

مُر أبا بكر فليعبد ربَّه فِي دار ه

“Suruh itu Abu Bakar supaya beribadah di rumahnya saja, gak usah baca di depan orang”.
Kenapa?
Karena takut kata mereka

فإنا نَخشى أن يفتن نساءنا وأبناءنا

“Kami takut istri-istri dan anak-anak kami itu terfitnah”
(Dikeluarkan oleh Bukhori dalam kitab Manaaqub ‘Anshor)

⚉  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah berkata (kitab Al ‘Iymaan halaman 32):

من الناس من لا يعر ف مذاهب أهل العلم، وقد نشأ على قول لا يعر ف غيره

“Diantara manusia ada yang tidak pernah mengenal pendapat-pendapat para Ulama, dimana ia tumbuh hanya diatas pendapat yang ia tidak mengetahui pendapat yang lainnya”

Maksud Beliau bahwa… ada orang yang dari kecil ia tumbuh diatas satu pendapat saja, sehingga akhirnya ia menganggap bahwa pendapat itulah sebagai sebuah kebenaran yang tidak boleh ditolak.

Ketika ada yang menyampaikan sesuatu yang bertabrakan atau baru ia dengar dan ternyata bertentangan dengan apa yang ia yakini selama ini, dia langsung menuduhnya sebagai sebuah kebathilan tanpa melihat hujjah dan argumentasinya.
Sebagaimana kita lihat di zaman ini.
.
Wallahu a’lam 🌴
.
.
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.
.
Dari kitab yang berjudul Showarif ‘Anil Haq, tentang Hal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari Kebenaran, ditulis oleh Syaikh Hamd bin Ibrohim Al Utsman, حفظه الله تعالى.
.
Silahkan bergabung di Telegram Channel dan Facebook Page :
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://www.facebook.com/aqidah.dan.manhaj/

Artikel TERKAIT :
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Showarif ‘Anil HaqHal-Hal Yang Bisa Memalingkan Seseorang Dari KEBENARAN
⚉   PEMBAHASAN LENGKAP – Al IshbaahManhaj SALAF Dalam Masalah TARBIYAH dan PERBAIKAN

Syirik Tidak Kenal Nabi dan Orang Sholeh – Dalil Ke-DELAPAN…

Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-TUJUH bisa disimak di SINI

Dalil berikutnya, yaitu DALIL KE-SEMBILAN bisa disimak di SINI
=====================

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

🌿 DALIL KE-DELAPAN 🌿

Dari Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhumaa, bahwa ia pernah mendengar Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa sallam, ketika mengangkat kepalanya dari ruku’ di roka’at yang terakhir dketika sholat Shubuh, beliau mengucapkan: ‘Allaahummal ‘an fulaanan wa fulaanan wa fulaanan (Wahai Allah laknatlah Si Fulan, Si Fulan, dan Si Fulan)’, setelah beliau mengatakan Sami’allahu liman hamidah Robbanaa walakal hamdu,’ 

Kemudian Allah menurunkan ayat (yang artinya): ‘Sama sekali soal (mereka) itu bukan menjadi urusanmu, apakah Allah akan menerima taubat mereka, atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zholim’ (QS Ali Imran/3:128).

[HR. Bukhari, no. 4069]

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Syirik Tidak Kenal Nabi dan Orang Sholeh – Dalil Ke-TUJUH…

Dalil sebelumnya, yaitu DALIL KE-ENAM bisa disimak di SINI

Dalil berikutnya, yaitu DALIL KE-DELAPAN bisa disimak di SINI
=====================

Simak penjelasan Ustadz Mizan Qudsiyah MA, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

🌿 DALIL KE-TUJUH 🌿

Dari Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, bahwa gigi geraham Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pecah ketika perang Uhud, dan kepala beliau juga terluka hingga mengalirkan darah, beliau lalu bersabda: “Bagaimana mungkin suatu kaum akan beruntung, sedangkan mereka melukai nabinya dan mematahkan gigi gerahamnya.”

Oleh karena itu beliau memohon kepada Allah untuk mengutuk mereka, lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan ayat: ‘Kamu tidak memiliki wewenang apa-apa terhadap urusan mereka…’ (Qs. Ali Imran: 128).

[HR. Bukhari, no. 4068; Muslim, no. 1791]

Ikuti terus Telegram channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih