Category Archives: Mutiara Salaf

Tiga Tanda Orang Yang Hasad

Wahb bin Munabbih rohimahullah mengatakan,

للحاسد ثلاث علامات:
• يغتاب إذا غاب المحسود،
• يتملق إذا شهد،
• ويشمت بالمصيبة.

Orang yang hasad memiliki tiga tanda :

1. Melakukan ghibah saat (orang yang di hasad) tidak berada di hadapannya,

2. Memuji (orang yang di hasad) saat berada di hadapannya,

3. Merasa gembira dengan musibah (yang menimpa orang yang di hasad)

(Hilyatul Auliya juz 4, hlm. 47)

Jangan Membuang Sampah Di Jalanan

Dari Abu Hurairah rodhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّٰـهِ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كُلُّ سُلَامَـى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيْهِ الشَّمْسُ : تَعْدِلُ بَيْنَ اثْنَيْنِ صَدَقَةٌ ، وَتُعِيْنُ الرَّجُلَ فِـيْ دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا ، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ ، وَبِكُلِّ خُطْوَةٍ تَـمْشِيْهَا إِلَـى الصَّلاَةِ صَدَقَةٌ ، وَتُـمِيْطُ اْلأَذَىٰ عَنِ الطَّرِيْقِ صَدَقَةٌ. (رَوَاهُ الْـبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

Setiap persendian manusia wajib bersedekah pada setiap hari di mana matahari terbit di dalamnya :

– engkau berlaku adil kepada dua orang (yang bertikai/berselisih) adalah sedekah,

– engkau membantu seseorang naik ke atas hewan tunggangannya atau engkau menaikkan barang bawaannya ke atas hewan tunggangannya adalah sedekah,

– ucapan yang baik adalah sedekah,

– setiap langkah yang engkau jalankan menuju (ke masjid) untuk sholat adalah sedekah, dan

– engkau menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah.

(HR. Al Bukhari dan Muslim)

● Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah berkata,

“Apabila menyingkirkan gangguan dari jalan merupakan sebuah sedekah, maka membuat gangguan di jalan merupakan suatu perbuatan buruk (berdosa) .. Ini termasuk mereka yang membuang sampah di jalanan..”

(Syarah Riyadhus Sholihiin 3/37)

Memuji Allah Tatkala Ditimpa Musibah

Syuraih al-Qodhi rohimahullahu ta’ala berkata,

Sesungguhnya aku tertimpa satu musibah, maka aku memuji Allah atas musibah tersebut sebanyak empat kali.

– Pertama, aku memuji Allah karena musibah tersebut tidak terjadi yang lebih besar dari keadaannya.

– Kedua, aku memuji Allah karena telah menganugerahkan kepadaku kesabaran atas musibah.

– Ketiga, aku memuji Allah karena telah memberi taufiq kepadaku untuk sadar bahwa segala masalah dan persoalan akan dikembalikan kepada-Nya.

– Keempat, aku memuji Allah karena tidak menjadikan musibah tersebut ada pada urusan agamaku.

(Siyar A’lamin Nubalaa 4/105)

Batal Pahalanya Akibat Balas Dendam

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

إن العبد ليشتد فرحه يوم القيامة بما له قِبَل الناس من الحقوق في المال والنفس والعرض، فالعاقل يعد هذا ذخرا ليوم الفقر والفاقة. ولا يبطله بالانتقام الذي لا يجدي عليه شيئا.

“Seorang hamba akan sangat gembira pada hari kiamat karena ia mendapat pahala dari manusia yang telah menzholimi harta, jiwa dan kehormatannya.

Maka orang yang berakal akan menjadikannya sebagai simpanan untuk hari yang amat butuh, dan tidak membatalkannya dengan cara balas dendam yang tidak ada manfaat untuk dirinya..”

(Madaarijussaalikin 3/2227)

Jadi kamu tidak rugi saat dicibir atau dibully..
Justru dia yang rugi..

Kecuali jika kamu baper dan membalas dendam..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Meraih Ridho Allah

Allah Ta’ala berfirman,

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍۙ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًاۗ ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ ۝١٠٠

“Orang orang yang terdahulu lagi yang pertama tama (masuk Islam) dari orang orang Muhajirin dan Anshor dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridho kepada mereka dan mereka ridho kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar..“

(Qs At Taubah/9:100)

Tentang penafsiran ayat di atas, Imam Ibnu Katsir rohimahullah berkata,

“(Kalimat) ‘orang orang yang mengikuti mereka dengan kebaikan’, (maksudnya) ialah orang orang yang mengikuti jejak (petunjuk) mereka (para sahabat) yang baik, dan sifat sifat mereka yang terpuji, serta selalu mendo’akan kebaikan bagi mereka secara diam diam maupun terang-terangan..”

(Tafsir Ibnu Katsir – 4/432)

Ringkasnya, Allah ‘Azza wa Jalla memberikan jaminan keridhoan-Nya bagi orang orang yang mengikuti petunjuk para sahabat rodhiyallahu ‘anhum secara keseluruhan dalam memahami dan mengamalkan agama ini, baik dalam :

– aqidah (keyakinan),
– ibadah,
– tingkah laku,
– bergaul,
– bersikap,
– berdakwah, dan
– semua sisi lainnya dalam beragama.

Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam,

“Sesungguhnya Bani Israil terpecah menjadi 72 golongan. Sedangkan ummatku terpecah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu..” Para sahabat bertanya, “Siapa golongan yang selamat itu wahai Rosulullah..?” Beliau bersabda, “Yaitu yang mengikuti pemahamanku dan pemahaman sahabatku..”

(HR. At Tirmidzi no. 2641)

Keutamaan Sikap Sabar Dan Memaafkan

Ibnu Hibban al-Busti rohimahullahu ta’ala berkata,

أجلُّ النَّاسِ مَرتبةً مَنْ صَدَّ الجَهلَ بالحِلْمِ، وما الفَضلُ إلّا لِمَنْ يُحسِنُ إلى مَن أساءَ إليه، فأمّا مُجازاةُ الإحسانِ إحساناً؛ فهو المُسَاواةُ في الأخلاقِ

Manusia yang paling mulia kedudukannya adalah yang membalas sikap jahil (kebodohan) orang lain dengan sikap ‘hilm’ (sabar dan memaafkan).

Tidak ada keutamaan (yang lebih besar) kecuali bagi orang yang berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadanya.

Adapun membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan, maka perbuatan ini nilainya sama pada akhlak mulia.

( Raudhotul ‘Uqola – hal. 169 )

Jiwa Yang Mulia

Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

النفوس الشريفة لا ترضى من الأشياء إلا بأعلاها وأفضلها وأحمدها عاقبة، والنفوس الدنيئة تحوم حول الدناءات وتقع عليها كما يقع الذباب على الأقذار، فالنفس الشريفة العلية لا ترضى بالظلم ولا بالفواحش، والنفس الحقيرة والخسيسة بالضد من ذلك

“Jiwa yang mulia tidak ridho kecuali kepada sesuatu yang mulia, paling utama dan terpuji.

Sedangkan jiwa yang rendah selalu berkutat di sekitar perkara yang rendah. Sebagaimana lalat yang suka hinggap pada kotoran.

Jiwa yang mulia tidak tidak ridho kepada kezholiman dan perbuatan keji.

Sedangkan jiwa yang buruk dan rendah sebaliknya..” (Al Fawaid hal. 178)

Bila kita ingin mengetahui bagaimana jiwa kita..
Maka lihatlah kepada apa keinginan kita..

Jika selalu menginginkan kebaikan, ketaatan dan taqwa..
Maka itulah jiwa yang mulia..

Namun jika lebih menyukai maksiat, zholim dan perbuatan jelek..
Maka itulah keadaan jiwa kita..

✏️
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Seburuk Buruk Manusia

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah berkata,

فإن الكريم لا يعامل بالإساءة من أحسن إليه. وإنما يفعل هذا لئام الناس. فليمنعه مشهد إحسان الله ونعمته عن معصيته حياء منه أن يكون خير الله وإنعامه نازلا إليه، ومخالفاته ومعاصيه وقبائحه صاعدة إلى ربه. فملك ينزل بهذا وملك يعرج بهذا، فأقبح بها من مقابلة!

Sesungguhnya orang yang mulia tidak akan membalas Dzat yang telah berbuat baik kepadanya dengan keburukan .. yang melakukan hal itu hanyalah seburuk buruk manusia.

Oleh sebab itu, merenungi kebaikan dan nikmat Allah akan menghalangi dirinya dari bermaksiat kepada-Nya. Dia malu jika kebaikan dan nikmat Allah turun kepadanya, namun di saat yang sama pelanggaran, kemaksiatan, dan keburukannya naik ke hadapan Robbnya.

Renungkanlah.. ketika malaikat turun kepadanya dengan membawa nikmat-nikmat untuknya, lalu malaikat lain naik dengan membawa dosa-dosanya .. betapa buruknya balasan yang dia berikan.

(‘Uddatush Shobirin, hlm.102 )

Meninggalkan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar Adalah Tipu Daya Setan

Al-Imam al-Hasan al-Bashri rohimahullahu ta’ala berkata,

إن فلاناً لا يعظ ويقول: أخاف أن أقول ما لا أفعل؟!

Sesungguhnya ada seseorang yang enggan memberi nasihat seraya beralasan, “Aku takut menyampaikan apa yang tidak aku lakukan..”

فقال الحسن: وَأَيُّنَا يفعل ما يقول، ود الشيطان أنه ظفر بهذا فلم يأمر أحد بمعروف ولم ينه عن منكر.

Maka beliau menjawab, “Siapakah dari kita yang mampu melakukan semua yang dia ucapkan..?!

Sungguh, setan itu sangatlah berharap agar ia dapat mengalahkan manusia dari hal tersebut, sehingga pada akhirnya, mereka tidak lagi mengajak orang lain kepada kebajikan dan tidak melarang dari yang mungkar.

(Latho’if Al-Ma’arif hal. 55)

Balasan Bagi Orang Yang Bersholawat

● Dari Abdullah bin Amr rodhiyallahu ‘anhumaa, Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam bersabda,

فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

”Sesungguhnya siapa saja yang bersholawat kepadaku sekali, maka Allah akan bersholawat kepadanya sepuluh kali..” (HR. Muslim no.384)

===

● Asy-Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-‘Utsaimin rohimahullah mengatakan,

من حق النبي صلى الله عليه وسلم أن تكثر من الصلاة والسلام عليه، وهو ليس بحاجة إلى صلاتك وسلامك، لكنك أنت بحاجة إلى أجر هذه الصلاة والسلام؛ لأنك إذا صليت على الرسول صلى الله عليه وسلم مرة واحدة صلى الله عليك بها عشراً.

Termasuk hak Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam adalah engkau memperbanyak ucapan sholawat dan salam kepada beliau.

Dan bukanlah maknanya bahwa Beliau itu membutuhkan sholawat dan salam dari engkau, namun engkaulah yang membutuhkan pahala dari ucapan sholawat dan salam kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam, karena sesungguhnya bila engkau bersholawat kepada Rosulullah shollallahu ‘alayhi wasallam satu kali, niscaya Allah akan membalas sholawat untukmu sepuluh kali.

(Syarah Riyadhus Sholihin – 5/175)

===

● Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

إِذا أَرَادَ اللَّه بِعَبْدِهِ خيرا يسر لِسَانه للصَّلَاة على مُحَمَّد ﷺ وَإِذا أَرَادَ بِعَبْدِهِ شرا حبس لِسَانه عَن الصَّلَاة على مُحَمَّد ﷺ.

Jika Allah menginginkan kebaikan untuk hamba-Nya, maka Dia akan meringankan lisan hamba tersebut untuk bersholawat kepada Nabi Muhammad shollallahu ‘alayhi wasallam. Sebaliknya, jika Allah menginginkan keburukan bagi hamba-Nya, maka Dia akan menahan lisan hamba tersebut dari bersholawat.

(Bustanul Wa‘izhin, hlm. 300)

===
Makna sholawat Allah kepada hamba-Nya adalah pujian dan sanjungan Allah kepada hamba tersebut di hadapan para malaikat yang mulia yang berada di sisi-Nya ..

Bayangkan, Robb yang menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya .. Robb yang memiliki dan menguasai hari pembalasan memuji dan menyanjung anda sebanyak 10 kali di hadapan para malaikat yang mulia yang berada di sisi-Nya untuk setiap SATU KALI sholawat yang anda ucapkan .. bagaimana bila anda ber-sholawat sebanyak 10 kali, atau 20 kali, atau 100 kali atau lebih banyak lagi .. subhaanallah.