Category Archives: Mutiara Salaf

Diantara Hikmah Dirahasiakannya Akhir Dari Kehidupan Seorang Hamba

Al-Imam Ibnul Mulaqqin rohimahullah menjelaskan,

وفي تغييب الله عن عباده خواتم أعمالهم، حكمة بالغة، وتدبير لطيف، وذلك أنه لو علم أحد خاتمة عمله، لدخل الإعجاب والكسل من علم أنه يختم له بالإيمان، ومن علم أنه يختم له بالكفر يزداد غيًّا وطغيانًا وكفرًا؛ فاستأثر الله بعلم ذلك؛ ليكون العباد بين خوف ورجاء، فلا يعجب المطيع لله بعمله، ولا ييأس العاصي من رحمته؛ ليقع الكل تحت الذل والخضوع لله تعالى والافتقار إليه.

Dan pada rahasia Allah tentang bagaimana hamba menutup umurnya, terdapat hikmah yang mendalam dan ketetapan yang lembut.

Yang demikian karena jikalau seorang hamba mengetahui bagaimana akhir umurnya kelak, maka sifat ujub (berbangga diri) dan malas akan masuk ke dalam hatinya, karena dia tahu bahwa akhir hidupnya di atas keimanan (sehingga ia akan sombong dan malas dari ibadah).

Dan begitu pun jika dia tahu bahwa ia akan menutup usianya dengan kekufuran, maka akan semakin bertambah kesesatan, kedurhakaan, dan kekafirannya.

Oleh karena itu, Allah menyimpan pengetahuan tentang akhir amal hamba hamba-Nya, agar mereka tetap dalam keadaan takut dan berharap.

Sehingga orang yang taat tidak akan sombong dengan amalnya .. dan seorang pendosa tidak akan putus asa dari rahmat-Nya.

Agar semua hamba tetap dalam keadaan tunduk dan patuh kepada Allah ta’ala, serta mengakui kelemahan dan ketergantungan mereka kepada-Nya.

(At-Taudhih lis Syarhil Jaami’ as-Shohih – 29/550)

Sikap Memaafkan Yang Dicintai Allah

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah berkata,

العفو الذي يحبه الله هو الذي فيه إصلاح لأن الله اشترط ذلك في العفو فقال(فمن عفا وأصلح فأجره على الله)أي كان عفوه مشتملاً على الإصلاح.

Sikap memaafkan yang dicintai oleh Allah adalah memaafkan yang disertai dengan ishlah (memperbaiki hubungan).

Karena Allah mensyaratkan hal itu dalam firman-Nya yang artinya: ‘Siapa yang memaafkan dan ishlah (memperbaiki hubungan) maka kepada Allah pahalanya..’ Artinya memaafkannya disertai dengan memperbaiki hubungan.

(Syarah Kitab Tauhid 2/278)

Adab Menjaga Ucapan

Al Imam Ibnul Qoyyim rohimahullah menjelaskan bagaimana seharusnya seorang muslim menjaga kata-katanya. Beliau rohimahullah berkata,

Menjaganya, berarti :
– tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak bermanfaat,
– tidak berbicara melainkan dengan sesuatu yang ia harapkan keuntungan dan faedah darinya.

Jika ia hendak berkata-kata, ia amati :
– apakah kata-kata itu ada manfaat dan faedahnya atau tidak..? Jika tidak, maka hendaknya ia menahannya.

Jika ia mendapati ada manfaatnya, ia amati lagi :
– apakah ada kata-kata yang lebih memberi keuntungan dari yang akan dikatakannya..? Maka hendaklah ia tidak melewatkannya.

(Ad Daa wa Ad Dawaa’ hal. 225)

Mengapa Kita Harus Terus Bersholawat Untuk Rosulullah Shollallahu ‘Alayhi Wasallam..?

As-Sakhowi -rohimahullah- mengatakan,

“مِن أوجَبِ شُعَبِ الإيمان: الصلاةُ على النَّبِي ﷺ؛ مَحَبَّةً له، وأداءً لِحَقِّه، وَتَوْقِيراً له وتعظيماً. وَالمُوَاظَبَةُ عليها مِن باب أداءِ شُكْرِهِ ﷺ؛ وَشُكْرُهُ وَاجِبٌ، لِمَا عَظُمَ مِنْهُ مِنَ الإنعام، فإنَّهُ سبب نجاتِنا من الجَحِيم، ودخولِنا في دار النَّعِيم”.

Diantara cabang iman yang paling wajib adalah bersholawat kepada Nabi shollallahu ‘alayhi wasallam, sebagai :
– bentuk cinta kepada beliau,
– menunaikan hak beliau,
– serta penghormatan dan pengagungan terhadap beliau.

Senantiasa bersholawat untuk beliau merupakan bentuk rasa syukur kepada beliau shollallahu ‘alayhi wasallam, dan bersyukur kepada beliau adalah kewajiban, karena begitu besarnya kebaikan yang beliau berikan. Beliaulah sebab selamatnya kita dari neraka, dan masuknya kita ke dalam (surga) negeri kenikmatan.

(Al-Qoulul Badi’ – hal 84)


Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Segala Sesuatu Akan Ada Akibatnya

Luqman Al-Hakim pernah berkata kepada putranya,

يا بنيّ، مَن رَحِمَ يُرْحَم، ومَن يصمِت يسلَم، ومَن يفعلِ الخير يَغْنَم، ومَن يَفْعَلِ الشَّرَّ يأثم، ومَن لَم يملك لسانه يندم

Wahai putraku,

– barangsiapa yang menyayangi, maka ia akan disayangi,
– barangsiapa yang diam, maka ia akan selamat,
– barangsiapa yang melakukan kebaikan, maka ia akan beruntung,
– barangsiapa melakukan keburukan, maka ia berdosa, dan
– barangsiapa yang tidak menjaga lisannya, maka ia akan menyesal.

(Bahru ad-Dumu’, hlm. 152)

Diantara Kunci Kunci Kebaikan

Abdullah bin Mas’ud rodhiyallahu ‘anhu berkata,

‏ارض بما قسم الله لك تكن أغنى الناس،
أد ما افترض الله عليك تكن أعبد الناس،
اجتنب ما حرم الله عليك تكن من أورع الناس.

– ridholah dengan pembagian dari Allah untukmu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling berkecukupan.

– kerjakan apa yang Allah wajibkan atasmu, niscaya engkau akan menjadi orang yang paling baik ibadahnya.

– jauhilah apa yang Allah haramkan atasmu, niscaya engkau menjadi orang yang paling waro’

( Az-Zuhd, karya Abu Dawud, no. 139 )

Melupakan Kekeliruan Orang Lain

Al Imam Ibnul Jauzi rohimahullah berkata,

“ما يزال التغافل عن الزلات من أرقى شيم الكرام، فإن الناس مجبولون على الزلات والأخطاء

Senantiasa melupakan kekeliruan merupakan perangai tertinggi orang yang mulia. Karena manusia memang difitrahkan bisa tergelincir dan keliru.

فإن إهتم المرء بكل زلة وخطيئة
تعب وأتعب غيره

Maka jika seseorang selalu menyibukkan diri dengan ketergelinciran dan kekeliruan (orang lain), ia akan capek sendiri dan menyusahkan orang lain.

والعاقل الذكي من لا يدقق في كل صغيرة وكبيرة مع أهله وأحبابه وأصحابه وجيرانه

Maka orang yang berakal dan cerdas adalah orang yang tidak meneliti setiap (kekeliruan) yang kecil dan yang besar pada :
– keluarganya,
– orang-orang yang ia cintai,
– para sahabatnya dan tetangganya.

Itu sebabnya, Imam Ahmad bin Hambal rohimahullah berkata,

تسعة أعشار حسن الخلق في التغافل “.

Sembilan per-sepuluh akhlak yang baik ada dalam melupakan kekeliruan saudaranya.

(Tahdzib al-Kamal – 19/370)

Untaian Nasehat

Al Fudhail bin Iyaadh rohimahullahu ta’ala berkata,

 تزينت للناس ، وتصنعت لهم ، وتهيأت لهم ، ولم تزل ترائي حتى عرفوك ، فقالوا : رجل صالح ، فقضوا لك الحوائج ، ووسعوا لك في المجلس وعظموك ، خيبة لك ، ما أسوأ حالك إن كان هذا شأنك !

 إن قدرت أن لا تعرف فافعل ، وما عليك أن لا تعرف ، وما عليك إن لم يثن عليك ، وما عليك أن تكون مذموما عند الناس إذا كنت عند الله محمودا.

– engkau berhias untuk mendapat pujian dari manusia,
– engkau bersandiwara untuk mereka,
– engkau mempersiapkan diri untuk mereka,
– engkau selalu berbuat riya sampai akhirnya engkau terkenal dikalangan mereka.

sampai akhirnya mereka pun mengatakan, ‘ini adalah seorang yang sholeh..’, sehingga mereka pun :
– memenuhi semua kebutuhanmu,
– melapangkan tempat duduk untukmu, dan
– mereka mengagungkan dirimu.

maka celaka engkau..!! Sungguh buruk sekali dirimu bila demikian keadaannya.

bila engkau mampu untuk tidak dikenal maka lakukanlah..!!

– tiada dosa bagimu bila engkau tidak terkenal,
– tiada dosa bagimu bila engkau tidak dipuji, dan
– tiada dosa bagimu bila engkau dicela oleh manusia namun engkau terpuji disisi Allah.

(At-Tawwabiin – Ibnu Qudamah -7)

Hakikat Cinta Karena Allah

Al Imam Sufyan ats-Tsauri rohimahullah berkata,

“إذ أحببت الرجل في الله، ثم أحدث في الإسلام فلم تبغضه عليه فلم تحبه في الله”

Apabila engkau mencintai seseorang karena Allah ‘azza wa jalla, lantas dia melakukan kebid’ahan dalam Islam dan ternyata engkau tidak membencinya karena (bid’ahnya itu) sesungguhnya engkau tidak mencintainya karena Allah ‘azza wa jalla.

(Al Hilyah – 7/34)

Jangan Putus Asa Dan Jangan Tertipu

Abu Bakar Ash-Shiddiq -rodhiyallahu ‘anhu- berkata,

Sungguh Allah bisa mengampuni dosa-dosa besar, maka jangan sampai kalian putus asa karenanya.

Sebaliknya Allah bisa mengadzab seseorang karena dosa-dosa kecil, maka jangan sampai kalian tertipu dengannya.

(Syarh Al Bukhori Li Ibn Al Batthol – 19/267)


Ustadz Dr. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى