Category Archives: Ramadhan

Berapa Kali Membaca Do’a Istiftah Dalam Sholat Tarawih..?

Jawab:
Membaca doa istiftah saat tarawih tidak cukup hanya sekali di rakaat pertama, namun hendaknya dibaca setiap setelah takbiratul ihram (rakaat ke 3, ke 5 dan seterusnya) karena setiap 2 rakaat dalam shalat tarawih adalah shalat yang berdiri sendiri, terpisah dan tidak menyatu dengan yang sebelumnya.

Dijawab oleh salah satu pakar fiqh abad ini, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin -rahimahullah- dalam Jalasat Ramadhaniyyah 20/25 dengan perubahan redaksi.

Saudaraku,
Kita bisa membaca doa istiftah yang singkat seperti:

الحمد لله حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه

ALHAMDULILLAAH HAMDAN KATSIIRON THOYYIBAN MUBAAROKAN FIIH
(HR. Muslim)

(Sebagaimana faidah yang kami dapatkan dari Syeikh bin Baz -rahimahullah- tentang istiftah dalam shalat sunnah)

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc,  حفظه الله تعالى

Katanya Setan Dibelenggu – Mengapa Masih Ada Saja Yang Bermaksiat..?!

Dibelenggunya setan di bulan Ramadhan adalah hakekat yang telah disabdakan oleh Nabi -shollallohu alaihi wasallam-. [Lihat riwayat sahihnya di Sunan Annasa’i: 2106, Musnad Ahmad: 7148].

Adapun mengapa masih ada orang yang bermaksiat, maka ada beberapa jawaban, diantaranya:

a. Meskipun setan telah dibelenggu, tapi pada asalnya manusia memiliki nafsu syahwat, ini tidaklah hilang dengan dibelenggunya setan di bulan Ramadhan, hanya saja pengaruhnya akan semakin lemah.

b. Sebagian ulama, mengkhususkan belenggu itu hanya pada setan-setan kelas kakapnya saja, sehingga setan-setan kroconya tidak demikian, mereka mengambil pengkhususan ini dari riwayat Imam Nasa’i dalam Sunannya: 2106.

c. Sebagian ulama memberikan jawaban, bahwa belenggu tersebut tidak melumpuhkan setan secara total dalam mengganggu manusia, namun melemahkannya.

Tingkat lemahnya setan dalam menggoda manusia, sangat tergantung pada kualitas puasa orang tersebut, semakin tinggi kualitas puasanya; semakin kuat belenggunya dan semakin lemah godaannya.. semakin rendah kualitas puasanya; semakin lemah pula belenggunya dan semakin kuat godaannya.

Tapi karena dia tetap terbelenggu di bulan Ramadhan; sehingga godaannya di bulan itu lebih lemah daripada godaannya di bulan lainnya.

[Semua jawaban ini disebutkan oleh Alhafizh Ibn hajar -rahimahullah- dalam Fathul Bari 4/114… Adapun Ibnu Taimiyah -rahimahullah-, beliau dalam Majmu’ Fatawa 25/246, hanya menyebutkan jawaban ketiga saja].

Silahkan dishare… semoga bermanfaat…

Ustadz DR. Musyaffa’ Ad Dariny MA, حفظه الله تعالى

Ngapain Sih Pakai Puasa Segala..?

Anda pernah menjalani operasi ? Atau paling tidak anda memiliki saudara yang pernah menjalaninya?

Bila pernah, coba diingat kembali kenangan yang pernah anda lalui itu. Mungkin saja dokter yang menangani anda, meminta anda agar berpuasa selama beberapa jam, bahkan kadang kala anda harus berpuasa sampai 8 jam lamanya.
Nah, apakah ketika anda menjalani puasa 8 jam itu terbetik di hati anda harapan mendapat pahala dari Allah, walau hanya sedikit ? Atau mungkin juga pahala dari dokter yang menangani anda ?

Apa yang membedakan puasa itu dengan puasa yang sedang anda amalkan sekarang ini? Puasa yang sedang anda amalkan di bulan ini, begitu besar pahalanya:

(الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ) رواه مسلم

Shalat lima waktu, shalat jum’at hingga shalat jum’at selanjutnya, dan puasa bulan ramadhan hingga puasa bulan Ramadhan selanjutnya adalah penghapus dosa-dosa yang terjadi diantaranya, selama pelakunya menghindari dosa-dosa besar.” Riwayat Muslim

Bila demikian, apa yang menjadikan puasa di bulan ini memiliki keutamaan yang begitu besar, Sedangkan puasa yang diperintahkan oleh pak dokter, tidak ?
Coba anda renungkan, apa perbedaan antara keduanya ?
Saya yakin, spontan anda akan berkata: Sangat besar perbedaannya. Tapi coba anda mulai menuliskan perbedaan itu di secarik kertas, ada berapa perbedaankah yang berhasil anda tuliskan ?

Ketahuilah saudaraku! semakin banyak jumlah perbedaan yang berhasil anda tuliskan, berarti semakin besar pula pemahaman anda tentang puasa Ramadhan. Dan semakin besar pengetahuan anda semakin besar pula pahala yang –insya Allah- berhasil anda dapatkan darinya.

Sebaliknya, semakin sedikit perbedaan yang berhasil anda sebutkan, maka itu indikasi bahwa pahala puasa anda juga sedikit.

(رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ صِيَامِهِ الْجُوعُ وَالْعَطَشُ) رواه أحمد وحسنه الألباني

Mungkin saja orang yang berpuasa, dari puasanya itu hanya mendapatkan rasa lapar dan haus saja.” Riwayat Ahmad, dan dinyatakan sebagai hadits hasan oleh Al Albani.

Saudaraku! Apakah anda rela bila perjuangan anda bangun pagi makan sahur, selanjutnya menahan lapar dan haus hingga terbenam matahari, sia-sia begitu saja ? Bukan pahala yang anda dapatkan, akan tetapi yang anda dapatkan hanyalah derita lapar dan haus belaka.
Anda tidak ingin petaka itu menimpa anda? Anda ingin tahu kiatnya ?

Temukan jawabannya pada ucapan Abu Bakar bin Abdillah Al Muzani berikut:

مَا فَضَلَ أَبُو بَكْرٍ رضي الله عنه النَّاسَ بِكَثْرَةِ صِيَامٍ وِلاَ صَلاَةٍ، وَلَكِنْ بِشَيْءٍ وَقَرَ فِي صَدْرِهِ

Tidaklah Abu Bakar radhiallahu ‘anhu berhasil mengungguli orang lain dikarenakan ia lebih banyak berpuasa dan shalat, akan tetapi ia mengungguli mereka dengan sesuatu yang tertanam di dalam dadanya.”

Inilah jawabannya! Isi hati beliaulah yang menjadikannya berhasil mengungguli seluruh umat Islam.
Beliau tidak pernah berpuasa di bulan ramadhan lebih dari satu bulan, dan dalam satu hari juga shalat fardhu yang beliau lakukan hanya lima waktu dan demikian juga lainnya.
Yang membedakan beliau dari lainnya ialah niatnya. Beliau berpuasa sama dengan kita, akan tetapi niat puasa beliau jauh lebih baik dari niat puasa kita.

Sekedar menggambarkan perincian niat para ulama’ maka berikut saya sebutkan beberapa jenis-jenis niat dalam suatu amalan:

1. Niat menjalankan ibadah kepada Allah dengan berpuasa di bulan Ramadhan, dan ini adalah niat yang paling utama dan paling mendasar. Tanpa niat ini amalan anda tidak akan diterima Allah, dan tidak bernilaikan ibadah, bahkan bisa saja puasa anda berubah menjadi amal kemaksiatan.

(قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ مَنْ عَمِلَ عَمَلاً أَشْرَكَ فِيهِ مَعِى غَيْرِى تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ) رواه مسلم

Allah Yang Maha Suci lagi Maha Tinggi berfirman: Aku adalah Dzat Yang paling tidak membutuhkan kepada persekutuan, karenanya barang siapa yang mengamalkan suatu amalan sedangkan padanya ia menyekutukan Aku dengan selain Aku, niscaya Aku meninggalkannya bersama sekutunya itu.” Riwayat Muslim

Niat inilah yang membedakan antara anda sebagai seorang yang beragama islam dengan orang-orang kafir, atau musyrik.
Walaupun niat jenis ini adalah niat yang paling mendasar dan pokok, akan tetapi niat inilah yang paling sering kita lalaikan.
Sudahkah anda senantiasa menghadirkan niat jenis pertama ini dalam ibadah puasa anda?

2. Niat meneladani Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah puasanya, atau yang sering disebut dengan ittiba’.
Coba sekarang anda membayangkan, seakan-akan anda
sedang mengamati gerak-gerik dan etika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam selama menjalankan puasa Ramadhan, seakan-akan anda hidup bersama beliau. Apakah perasaan anda kala itu sama dengan perasaan pada hari-hari sebelumnya ?

Niat semacam ini adalah niat kedua yang paling mendasar agar puasa anda bernilai ibadah dan mendatangkan puasa. Walau demikian, ternyata niat semacam ini sering kali terlupakan, bukankah demikian saudaraku ?
Apalah artinya puasa anda bila ternyata anda berpuasa hanya sekedar mengikuti kebiasaan dan perilaku orang lain ?! Berpuasa hanya mengikuti perilaku masyarakat tidaklah ada gunanya di sisi Allah.
Apa yang selama ini anda lakukan, yaitu hanyut dengan perilaku masyarakat tanpa menyadari teladan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam ibadah puasa menjadikan puasa anda tidak bernilai ibadah, Sikap anda itu hanyalah menjadikan puasa anda bernilai tradisi belaka.

عِبَادَاتُ أَهْلِ الغَفْلَةِ عَادَاتٌ

Amal ibadah orang-orang yang lalai hanyalah bernilaikan adat istiadat.”

Dan perilaku seperti inilah yang dimaksudkan dalam hadits tanya jawab malaikat Mungkar dan Nakir di alam kubur:

(مَا كُنْتَ تَقُولُ فِى هَذَا الرَّجُلِ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم؟ فَيَقُولُ: لاَ أَدْرِى، كُنْتُ أَقُولُ مَا يَقُولُ النَّاسُ. فَيُقَالُ: لاَ دَرَيْتَ وَلاَ تَلَيْتَ. ثُمَّ يُضْرَبُ بِمِطْرَقَةٍ مِنْ حَدِيدٍ ضَرْبَةً بَيْنَ أُذُنَيْهِ، فَيَصِيحُ صَيْحَةً يَسْمَعُهَا مَنْ يَلِيهِ إِلاَّ الثَّقَلَيْن) رواه البخاري

Apa yang dahulu engkau katakan/yakini tentang orang ini, yaitu Muhammad ? Si mayitpun menjawab: Aku tidak tahu, dahulu aku hanya membeo dengan apa yang diyakini oleh masyarakat banyak. Maka dikatakan kepadanya: Engkau tidak tahu dan juga tidak pernah membaca ? Selanjutnya ia dipukul dengan palu dari besi tepat di tengah-tengah antara ke dua telinganya, sehingga menjadikannya kesakitan dan menjerit dengan jeritan yang dapat didengarkan oleh seluruh yang ada di sekitarnya selain jin dan manusia. Riwayat Bukhary.
Apakah anda rela tergolong ke dalam orang-orang yang dikisahkan dalam hadits ini ? Tentu tidak.

3. Niat menjalankan kewajiban atau rukun Islam. Niat inilah yang biasanya disebut-sebut oleh para da’i dan penceramah pada setiap bulan ramadhan. Niat jenis ini hanya berfungsi sebagai syarat sah atau tidaknya puasa anda. Niat ini hanya bertujuan menggugurkan kewajiban belaka, akan tetapi niat ini, bila tidak disertai oleh kedua niat di atas, tidak cukup untuk mendatangkan pahala di sisi Allah.

4. Niat mendahulukan keridhaan Allah daripada kesenangan pribadi.
Betapa tidak, ketika anda berpuasa, anda meninggalkan berbagai hal yang anda cintai, makan, minum, bergaul dengna istri, semuanya anda tinggalkan karena mendahulukan perintah Allah. Semua hal yang anda cintai itu, dengan hati yang tulus anda tinggalkan hanya karena mencari keridhaan Allah semata.

(يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِى) متفق عليه

Orang yang berpuasa meninggalkan makanan, minuman, dan syahwatnya hanya karena Aku. Muttafaqun ‘alaih

Bila anda telah kuasa mendahulukan keridhaan Allah dibanding nafsu anda, maka itulah sejatinya takwa. Dengan senantiasa mendahulukan ridha Allah dibanding seruan nafsu, maka anda sedikit demi sedikit dapat merasakan manisnya iman.

(ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلاَوَةَ الإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا ، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَ يُحِبُّهُ إِلاَّ لِلَّهِ ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِى الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ) متفق عليه

Tiga hal, barang siapa yang ketiganya ada pada dirinya, niscaya ia akan mendapatkan/merasakan manisnya keimanan (ketiga hal itu ialah):
– Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai dibanding selain keduanya, dan
– ia mencintai seseorang, tidaklah ia mencintainya melainkan karena Allah, dan
– ia membenci untuk kembali kepada kekufuran setelah ia diselamatkan Allah darinya, bagaikan kebenciannya bila hendak dicampakkan ke dalam api. (Muttafaqun ‘alaih).

Niat ini adalah niat yang sangat tinggi, dan mungkin saja untuk saat ini, niat ini terasa begitu berat untuk kita miliki. Tidak heran, bila kita senantiasa merasa tidak sabar untuk segera berbuka puasa, dan bahkan sekedar matahari terbenam, balas dendam dan pelampiasan diri segera kita lancarkan. Makan dan minum sebanyak-banyaknya, sampai terasa susah untuk berdiri ? Bukankah demikian ?

5. Sebagai upaya membangun benteng pelindung dari sengatan api neraka.
Pada kesempatan yang lalu saya telah menyebutkan bahwa diantara manfaat dan tujuan ibadah puasa ialah menebus benteng atau perisai yang dapat melindungi diri anda dari sengatan panas api neraka.

(الصِّيَامُ جُنَّةٌ ، فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَجْهَلْ ، وَإِنِ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ ، مَرَّتَيْنِ) رواه البخاري

Puasa adalah perisai, maka orang yang sedang berpuasa hendaknya tidak berkata-kata keji dan berperilaku layaknya orang-orang bodoh (semisal berteriak-teriak-pen). Dan bila ada seseorang yang memerangi atau mencacinya, hendaknya ia membela diri dengan berkata: sesungguhnya aku sedang berpuasa, 2 kali“. Riwayat Bukhari

Dan pada riwayat lain Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

(مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا) متفق عليه

Barang siapa yang berpuasa satu hari di jalan Allah, niscaya Allah akan menjauhkan dirinya dari api neraka sejauh perjalanan 70 tahun.” Muttafaqun ‘alaih

Pernahkah, harapan semacam ini terbetik dalam hati anda selama anda menjalankan ibadah puasa?
Dan masih banyak lagi niat dan harapan yang seyogyanya anda miliki, agar puasa anda semakin sempurna dan pahala yang anda perolehpun semakin besar.

Apa yang saya paparkan di sini hanyalah sekedar upaya saya mengingatkan anda untuk lebih banyak mengkaji berbagai rahasia dan hikmah yang tersimpan di balik ibadah puasa anda.
Semoga Allah Ta’ala senantiasa melimpahkan kerahmatan dan ilmu yang bermanfaat kepada anda, sehingga anda berhasil menggapai kedudukan yang tinggi di sisi Allah. Amiin

Wallahu a’alam bisshawab.

Ustadz DR. Muhammad Arifin Badri MA, حفظه الله تعالى

da280517-0702

Hal Yang Sering Dilalaikan Oleh Para Wanita Muslimah Yang Sedang Haidh Saat Ramadhan

Simak penjelasan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى berikut ini :

ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Ada Apa Dengan Witir Di Rumah Dan Tidak Bersama Imam Tarawih Di Masjid

Simak penjelasan Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini:

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Kajian ‘Meet and Greet Ramadhan’ 100615
da170615

Amalan Berpahala SEDEKAH : Keutamaan Memperpanjang Tempo Hutang

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

ARTIKEL TERKAIT
Apa Maksud Kalimat ‘Sedekah Dengan Tangan Kanan Sedangkan Tangan Kirinya Tidak Mengetahuinya…’
DO’A Hindari Kemalasan, Kesedihan, Hutang, dll…
Antara Memperpanjang Tempo Pelunasan dan Menghapus Hutang, Mana Yang Lebih Utama..?
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Tentang DUA Bentuk Witir 3 Roka’at – Manakah Yang Lebih Utama..?

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى berikut ini : (tunggu hingga audio player muncul dibawah ini) :

ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan…

Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Pahala Besar Bagi Yang Membaca 100 Ayat Al Qur’an Di Malam Hari

Simak penjelasan Ustadz Abu Yahya Badrusalam, Lc حفظه الله تعالى  berikut ini :

Dari Tamim Ad Dary rodhiyalahu ‘anhu berkata: “Rosulullah shollallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membaca 100 ayat pada suatu malam dituliskan baginya pahala sholat sepanjang malam.” (HR. Ahmad dan di shohihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6468).

Ketika membacanya di dalam sholat-sholat sunnah malam Tahajud dan Witir, maka kita perhatikan jumlah ayat-ayat yang kita baca agar bisa meraih apa yang dijanjikan dalam hadits.

Contohnya :  membaca QS asy-Syams/91 (15 ayat) di roka’at pertama, lalu membaca QS Adh Dhuha/93 (11 ayat) di roka’at kedua, lalu salam, dengan demikian telah dibaca sedikitnya 26 ayat di sesi pertama.

Lalu lanjut sholat tahajjud 2 roka’at lagi dengan membaca surat-surat lainnya seperti QS al-Buruuj/85 (22 ayat) di roka’at pertama, lalu membaca QS al-Qodr/97 (5 ayat) di roka’at kedua, lalu salam, dengan demikian telah dibaca sedikitnya 27 ayat di sesi kedua. Total sesi 1 dan 2 sudah 26 + 27 = 53 ayat..

dan begitu seterusnya, sehingga total minimal 100 ayat, wallahu a’lam

Bagi para wanita yang sholat di kamarnya/rumahnya, termasuk sholat tarawih saat Ramadhan, dimana sholat tarawih adalah termasuk sholat malam, maka jangan lewatkan kesempatan ini. Wallahu a’lam.
.
ARTIKEL TERKAIT
Tanya-Jawab Seputar Ramadhan
.
Ikuti terus channel :
https://t.me/bbg_alilmu
https://t.me/aqidah_dan_manhaj
https://t.me/kaidah_ushul_fiqih

Sholat Tahajjud Berjama’ah Setelah Tarawih

PERTANYAAN

Ustadz, sebagian teman bila telah masuk sepuluh akhir ramadlan mereka lebih memilih sholat di waktu dini hari dan tidak sholat taraweh di awal malam. apakah ini dibenarkan..?

JAWAB

Perbuatan seperti ini tidak sesuai perbuatan salafush shalih.

Syaikh Sholeh Fauzan hafizhohullah pernah ditanya tentang ini. beliau berkata :

 أما صلاة التراويح، فإنها سنة مؤكدة، وفعلها بعد صلاة العشاء وراتبتها مباشرة، هذا هو الذي عليه عمل المسلمين.
أما تأخيرها كما يقول السائل إلى وقت آخر، ثم يأتون إلى المسجد ويصلون التراويح؛ فهذا خلاف ما كان عليه العمل، والفقهاء يذكرون أنها تُفعل بعد صلاة العشاء وراتبتها، فلو أنهم أخروها؛ لا نقول أن هذا محرم، ولكنه خلاف ما كان عليه العمل، وهي تفعل أول الليل، هذا هو الذي عليه العمل.

“Adapun sholat tarawih, itu sunnah muakkadah (hukumnya) .. Sholat tarawih dilaksanakan langsung setelah sholat isya dan rawatibnya. Itulah yang diamalkan kaum muslimin (salaf).

Adapun mengakhirkannya (tarawih)-seperti yang dikatakan penanya- kepada waktu yang lain. Kemudian mereka datang (lagi) ke masjid untuk sholat tarawih, maka ini menyelisihi amalan (salaf)..”

(Al Muntaqo min Fatawa Syaikh Fauzan 3/76)

Bahkan syaikh Al Albani rahimahullah menganggap sholat tahajjud di waktu dini hari secara berjama’ah termasuk perkara bid’ah. beliau berkata:

ﺻﻼﺓ ﺍﻟﺘﻬﺠﺪ ﺍﻟﺘﻲ ﺗﻘﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺎﺟﺪ ﺑﻌﺪ ﻣﻨﺘﺼﻒ ﺍﻟﻠﻴﻞ، ﺑﺪﻋﺔ ﻻ ﺃﺻﻞ ﻟﻬﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﺸﺮﻉ، ﺇﺫ ﻟﻢ ﻳﻔﻌﻠﻬﺎ ﺍﻟﺮﺳﻮﻝ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺼﻼﺓ ﻭﺍﻟﺴﻼﻡ ـ ﻓﻲ ﺟﻤﺎﻋﺔ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ ـ ﻭﻣﺎ ﻓﻌﻠﻬﺎ ﺃﺣﺪ ﻣﻦ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻩ، ﻭﻻ ﺃﺑﻨﺎﺀ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻣﻦ ﺑﻌﺪﻫﻢ ﻭﻻ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻮﻥ ﻭﻻ ﻣﻦ ﺗﺒﻌﻬﻢ .

ﻭﺇﻧﻤﺎ ﺍﺑﺘﺪﺃﻫﺎ ﺍﻟﺸﻴﺦ ﻋﺒﺪﺍﻟﻠﻪ ﺍﻟﺨﻠﻴﻔﻲ، ﺭﺣﻤﻪ ﺍﻟﻠﻪ ﻗﺒﻞ ﻧﺤﻮ ﺧﻤﺴﻴﻦ ﻋﺎﻣﺎ ﻓﻲ ﺍﻟﻤﺴﺠﺪ الحرام…

“Sholat tahajjud (berjama’ah) yang didirikan di masjid masjid setelah lewat pertengahan malam adalah bid’ah yang tidak ada asalnya dalam syariat.

Karena tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam secara berjama’ah di masjid. Tidak pula para shahabat, tidak pula anak anak shahabat setelah mereka, tidak pula para tabi’in dan tabiuttabiin.

Yang pertama kali memulai adalah syaikh Abdullah Al Kholifi sekitar 50 tahun yang lalu di masjidil harom..”

(Silsilatul Hudaa Wannuur)

Dijawab oleh,
Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى

Susah Dan Suka Ngantuk Saat Tarawih dan Qiyaamul Lail…?

Terlebih lagi jika kita suka ketiduran di 10 malam terbaik di bulan suci, padahal stamina sudah dijaga dan berbagai vitamin plus kopi pahit telah diminum.

Simak testimoni dan tips para ahli ibadah papan atas:

Sufyan Ats Tsauri menyatakan:
Aku tidak berhasil mengerjakan qiyamul lail selama 5 bulan disebabkan dosa yang aku lakukan.”
(Hilyatul Auliya’ 7/17)

Ada seseorang yang curhat kepada Hasan Al Bashri bahwa dia tidak pernah berhasil mengerjakan qiyamul lail, maka beliau berkata:
Dosa-dosamulah yang menghalangimu.”
(Shifatus Shafwah 3/235)

Saudaraku,
Salah satu tips agar kita sukses mengerjakan tarawih dan qiyamul lail adalah menjaga diri dari dosa dan segera beristigfar saat khilaf dan lalai.

Apa yang anda lakukan di siang hari menentukan ibadah anda di malam hari.

Ustadz Muhammad Nuzul Dzikri Lc, حفظه الله تعالى