Images

Mengucapkan In-syaa Allah Tapi Dianggap Munafik..?

Al-Imam al-Auza’i rohimahullah berkata :

    الوعد بقول : إن شاء الله ، مع إضمار عدم الفعل نفاق.

“Termasuk kemunafikan, seseorang berjanji dengan mengucapkan in-syaa Allah, padahal dibalik ucapan itu ia sendiri tidak mau memenuhinya.

[Jami’ul Ulum wal Hikam, 2/482]

Ustadz DR. Sufyan Baswedan MA, حفظه الله تعالى

MUTIARA SALAF : Menceritakan Semua Yang Dilihat

Kholid bin Ma’dan rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang menceritakan kepada orang-orang semua yang dia lihat dengan kedua pasang matanya, atau apapun yang dia dengar dengan kedua pasang telinganya, atau apa saja yang dipungut oleh kedua tangannya, maka dia termasuk orang-orang yang menyukai   tersebarnya kekejian di tengah-tengah kaum  yang beriman.”

“Sesungguhnya orang-orang yang suka sekali supaya tersebar berita-berita keji dalam kalangan orang-orang yang beriman, me­reka akan mendapat azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Allahlah yang Maha Tahu dan kamu semua tidaklah menge­tahui” (QS. an-Nuur: 19).”

[Min Kitab az-Zuhd li Ibni Abi Hatim, Hal. 71)]

Kholid bin Ma’dan rohimahullah adalah seorang Ulama yang wafat pada tahun 104 Hijriyah.

ARTIKEL TERKAIT
Mutiara Salaf – KOMPILASI ARTIKEL

Semoga Tiga Hal Ini Ada Pada Diri Kita…

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rohimahullah berkata,

“Hendaknya seorang mukmin mendapati tiga hal ini
dari Anda :
⚉  jika Anda tidak bisa memberi manfaat kepadanya,
janganlah memberinya mudhorot;

⚉  jika Anda tidak mampu membuatnya gembira,
janganlah membuatnya sedih; dan

⚉  jika Anda tidak memberi pujian kepadanya,
janganlah mencelanya.”

[Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, Ibnu Rojab al-Hanbali,
hlm. 456]

Amal Yang Paling Berat Ada Tiga…

Imam asy-Syafi’i rohimahullah berkata,

“Amal yang paling berat ada tiga,

⚉  dermawan ketika kondisi serba sedikit,

⚉  bersikap waro’ atau menjauhi keharaman
tatkala bersendirian, dan

⚉  mengucapkan kebenaran di hadapan orang
yang diharapkan dan ditakuti.” 

[Al-Fawa’id wa al-Akhbar wa al-Hikayat, Hal. 133]

Imam asy-Syafi’i rohimahullah wafat di tahun 204 Hijriyah. Beliau adalah seorang Ulama besar, pendiri dan pemrakasa madzhab Syafi’i yang merupakan madzhab yang banyak dianut di bumi pertiwi nusantara ini.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad bin Idris bin Al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syaafi’ bin As-Saaib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yaziid bin Haasyim bin Al-Muthollib bin ‘Abdi Manaaf, sehingga nasab beliau bermuara kepada Abdu Manaaf kakek buyut Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Al-Muthollib adalah saudaranya Hasyim ayahnya Abdul Muthholib kakek Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam. Dan kepada Syafi’ bin As-Saaib penisbatan Al-Imam Asy-Syafi’i rohimahullah (lihat Siyar A’laam An-Nubalaa 10/5-6 dan Tobaqoot Asy-Syaafi’iyah Al-Kubro 2/71-72)

 

Semestinya…

Sebagian orang bijak mengatakan,

“Semestinya bagi orang yang berakal untuk
senantiasa memperhatikan wajahnya di
depan cermin.

Apabila wajahnya bagus maka janganlah dia
perburuk dengan perbuatan jelek.

Dan apabila wajahnya jelek maka janganlah dia 
mengumpulkan dua kejelekan di dalam dirinya.”

(Al-Muntakhob min Kitab az-Zuhd wa ar-Roqoo’iq
Hal. 105)

 

Orang Yang Beristighfar Namun Dimurkai Allah…

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rohimahullah berkata,

“Betapa banyak orang yang beristighfar namun
dimurkai. Dan betapa banyak orang yang diam
namun dirahmati.”

Kemudian beliau menjelaskan, “Orang ini
beristighfar akan tetapi hatinya diliputi
kefajiran atau dosa. Adapun orang itu diam,
namun hatinya senantiasa berdzikir.”

[Al-Muntakhob min Kitab az-Zuhd wa ar-Roqoo’iq,
karya al-Khothib al-Baghdadi, Hal. 69]

Bagi Para Penuntut Ilmu…

Abu Abdillah ar-Rudzabari rohimahullah berkata,

“Barangsiapa yang berangkat menimba ilmu sementara yang dia inginkan semata-mata ilmu,
maka ilmunya tidak akan bermanfaat baginya.

Dan yang berangkat menimba ilmu dalam rangka mengamalkan ilmu, niscaya ilmu yang sedikit pun akan bermanfaat baginya.

[Al-Muntakhab min Kitab az-Zuhd wa ar-Roqoo’iq, karya al-Khathib al-Baghdadi, Hal. 71]

Wahai Manusia…

Yahya bin Mu’adz ar-Razi rohimahullah berkata,

“Wahai manusia… engkau mencari dunia dalam
keadaan engkau bersungguh-sungguh untuk
mendapatkannya dan engkau mencari akhirat dalam keadaan seperti orang yang tidak membutuhkannya (malas-malasan).

Padahal dunia sudah mencukupimu walaupun engkau tidak mencarinya. Sedangkan akhirat hanya didapatkan dengan usaha yang sungguh-sungguh dalam mencarinya. Maka pahamilah keadaanmu”

[ad-Dunya Zhillun Zail, hlm.31]

Seberapa Jauh Keyakinan Kita Kepada Allah…

Saat ujian itulah terlihat seberapa jauh keyakinan
kita kepada Allah.

Orang yang kurang yakin, akan gagal dan ia pun
berburuk sangka kepada Allah.
Sedangkan orang yang yakin, ia dapat menghadapi
ujian dengan kuat walaupun tidak mendapat jalan
keluar dan pertolongan.

karena ia yakin…
bahwa ketentuan Allah itulah yang terbaik..

Ustadz Abu Yahya Badrusalam Lc, حفظه الله تعالى.